Antropologi dan Kolonialisme (Orientalisme)

Akbar S Ahmed mengatakan bahwa, “Antropologi modern dilihat para pengritik Marxis dan Dunia Ketiga sebagai produk kolonialisme adalah benar sampai pada titik bahwa antropologi dan antropolog telah membantu pengusaha-pengusaha kolonial, baik langsung maupun tidak langsung”.1

Diungkapkannya lagi, penelitian etnologi dan perusahaan kolonial sejak awal bersama-sama mendarat di suatu wilayah. Sebagai misal, dalam ekspedisi Bonaparte ke Mesir membawa 150 ilmuwan dan para etnolog dengan catatan di tangan. Pertemuan pertama antara penjajah Eropa dan Asia atau Afrika yang dijajah telah meletakkan dasar-dasar metodologi untuk wilayah tersebut. Minat terhadap etnografi pada bangsa-bangsa yang dijajah mencapai titik puncaknya dalam penelitian pada masyarakat Afrika, Asia dan Oceania.2

Para ilmuwan yang kemudian disebut orientalis memberi kontribusi pada gambaran mengenai Oriental (Timur). Selama masa kolonial gambaran tersebut terakumulasi dalam pikiran Barat. Oriental (Timur) adalah tidak rasional, merusak akhlak, kekanak-kanakan, “berbeda”, namun sebaliknya, bangsa Eropa adalah rasional, matang, “normal”.3

Gambaran tersebut mempengaruhi antropologi. Dimulai dari periode kolonial menghasilkan beberapa materi mengenai enograpis yang infomatif tentang masyarakat “asli” dan “primitif”. Dikatakan asli dan primitif ini sebenarnya telah mengalami perubahan yang terus menerus dan panjang. Sebagai contoh, sebagian besar etnografi yang paling akurat dan informatif tentang masyarakat Pukhtun (Pakistan) berasal dari periode kolonial Inggris. Ia dimulai dari laporan seorang pejabat penjajah dan berakhir dengan penjajah yang sama. Sama seperti pejabat penjajah Robert Montagne adalah yang menulis tentang Berbers di Maroko.4

Namun, dikatakan Ahmed, bahwa tidak semua etnografi penjajah cacat, walaupun asumsi politiknya mengalami hal itu. Kadangkala pejabat kolonial yang memerintah kelompok-kelompok suku lebih memiliki simpati terhadap tugas mereka daripada pejabat-pejabat pribumi setelah penjajah menggantikan mereka. Mungkin, sebagaian dari pejabat penjajah adalah manusia yang mempunyai sensitivitas dan persepsi. Sebagai contoh, Maroko untuk Prancis, India untuk Inggris, Indonesia untuk Belanda, dsb, adalah sebagai “batu permata” di dalam mahkota kolonial. Bukan suatu kebetulan bahwa pejabat-pejabat itu ditugaskan di sana dan sebagian besar dari mereka membuktikan dirinya sebagai etnografer terbaik.

Sebuah studi mengenai hubungan mereka dengan sistem budaya yang menghasilkan mereka yang menarik perhatian pejabat kolonial yang memerintah berbagai kelompok suku akan diberi penghargaan. Ia menceritakan penjajah yang penuh kebajikan dan kelompok-kelompok suku yang buruk.

Karya antropologi adalah sering karya yang bersifat otobiografi. Banyak studi saat ini telah memberikan penjelasan, yaitu alasan psikologis mengapa “para Arabis” (ahli-ahli pelancong Eropa) memberi reaksi terhadap bangsa Arab, seperti yang mereka lakukan. Garis keturunan, pendidikan dan masa kanak-kanak mereka membantu membentuk reaksi mereka. Ada sesuatu pelajaran untuk disadari mengenai aspek-aspek dari kehidupan seorang antropolog. Kita barangkali akan mendapat gambaran yang luas jika kita mengetahui tentang hubungan antara pengarang dan subyeknya.

Hubungan mereka dengan Islam, yang akhirnya secara jelas menentukan bagaimana sikap mereka terhadap pemeluknya. Kita dapat membandingkan bahwa Doughty yang membenci Islam, yang baginya melambangkan sesuatu yang ketinggalan zaman dan korup. Namun, Blunt, yang hampir menjadi seorang Muslim karena ketertarikannya kepada Islam. Ada beberapa pejabat pemerintah didorong oleh kekuatan yang melekat cukup dalam di dalam keluarganya, berkaitan ingatan masa kanak-kanak dan psikogis.5

Para ahli dan pejabat pemerintah Eropa berpakaian, berbahasa dan menggunakan nama pribumi Muslim. Sebut saja, Burton menggunakan nama “Mirza Abdullah”, John Burckhardt memakai nama “Syaikh Ibrahim”, dan Snouck Hurgronje, pada tahun 1880 untuk meneliti perayaan Makkah, dengan nama samaran “Abd al-Ghaffar”.6 Meskipun begitu, mereka tidak beralih agama ke Islam. Dalam melaksanakan tugas mereka berperan ganda, sebagai pejabat (kolonial) dan peneliti sekaligus. Hasilnya nanti akan dimanfaatkan oleh pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap jajahanya.7

Mereka menciptakan dan memalsukan tentang kaum pribumi dan mereka membuat judul-judul besar dari tempat yang eksotis untuk pahlawan-pahlawan mereka: diantaranya, Edwardes dari Bannu, Gordon dari Khartoum, Robert Kandahar dan Lawrence dari Arab. “Mereka tidak hanya bajingan orientalis yang menghancurkan adat-istiadat penduduk asli (pribumi) dan menginjak-injak kebudayaan setempat. Gambarannya sesungguhnya jauh lebih kompleks”.8

Kebanyakan orientalis adalah rasis, dalam memandang kelompok-kelompok suku. Oleh karena itu mereka menganggap ras mereka lebih tinggi dan masyarakat pribumi yang menjadi subyek penelitian ditempatkan lebih rendah, atau dalam tulisan mereka melecehkan.

“Ilmu pengetahuan kolonial Eropa tidaklah salah secara politik. Tujuannya adalah memahami orang-orang terjajah dengan cara lebih baik dalam rangka menundukkan mereka secara efisien. Pengetahuan ini diterjemahkan ke dalam kebijakan pemerintahan. Contoh-contoh mental diberikan dari kolonial Prancis dan Inggris,” kata Ahmed.9

Usaha yang telah mereka laksanakan adalah mengidentipikasi dan memisahkan masyarakat pegunungan dari masyarakat dataran (Pakistan). Suku-suku pegunungan digambarkan sebagai orang-orang angkuh, jujur, bermurah hati, semua orang sederajat, tunduk dan patuh pada hukum kesukuan tradisional. Sementara, suku-suku dataran dilihat sebagai orang-orang bersikap merendahkan diri, tidak bisa dipercaya dan lebih rendah secara ras. Mereka menerapkan pengetahuan etnografi ke dalam realitas, pemerintahan Prancis di Afrika utara dan Inggris di wilayah India utara. Dengan pemerintahan yang terpisah, diharapkan akan terjadi perpecahan ideologis di dalam masyarakat itu. Namun strategi itu ternyata tidak dapat sepenuhnya berhasil.

Hal itu terbukti ketika terjadi perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, masyarakat pegunngan dan dataran saling bekerja sama. Kedua wilayah itu tidak menerima apa yang dilakukan pemerintah kolonial.

Gambaran itu, tanpa disadari, diikuti oleh para antropolog modern untuk memisahkan kelompok-kelompok Islam. Mereka memberi perbedaan dengan mengatakan, “yang baik” dari ”Muslim yang tidak baik”. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kelompok kesukuan dan nomaden memiliki “reputasi sebagai muslim yang jahat”.10

Sampai beberapa tahun kemudian, bahkan Perang Dunia II, hubungan antara kolonialisme dan antropolog akademis terus berlanjut, ketika banyak negara Islam bebas dari penjajahan. Tidaklah suatu kebetulan bahwa beberapa antropolog (Inggris atau Eropa lainnya) setelah perang, diketahui, adalah pejabat pemerintahan yang memegang jabatan penjajah di suatu wilayah (kerajaan).11

Antropolog Orientalis
Ahmed mengatakan bahwa, “orientalisme Edward W Said adalah sebuah dakwaan yang sangat kuat terhadap persoalan dan praktek yang dimilikinya. Dia menegaskan secara terus terang argumentasi yang bersifat rasial dan tendensius dari para orientalis. Bersamaan dengan itu, ia juga merupakan argumentasi yang penuh gairah dan diliputi kemarahan. Karena kekuatannya yang penuh gairah, menukik ke isi bumi, kelemahan-kelemahan yang paling sederhana sarjana orientalis ditinggalkan.”12

Lalu ia menunjukkan contoh, bahwa daripada Said menuduh Bernard Lewis sebagai orang yang kelelahan mental dan kehilangan moralitas, Ahmed sebagai antropolog, menunjukkan bahwa beberapa kelemahan konseptual dalam studinya. Kategorinya mengenai suku dan petani di dalam masyarakat salah total. Seringkali, kategori yang satu digunakan untuk yang lain, dan ini bagi antropolog, bukanlah kesalahan yang kecil.13

Lebih lanjut ia mengulas bahwa Lewis dalam melukiskan struktur dan organisasi sosial Arab menggunakan istilah yang tidak tepat. Lewis menulis, “Masyarakat Arab di permulaan Islam terdiri dari raja, feodalisme, budak, petani dan suku-suku.” Istilah “feodalisme”, ”budak”, dan ”petani” adalah perbendaharaan kata dari Eropa Abad Pertengahan (middle ages). Ia bertanya, dapatkah konsep itu diterapkan untuk masyarakat Arab dengan struktur kesukuan yang sangat maju (baik sebelum dan sesudah Islam). Kedua istilah “raja” dan ”feodalisme” sulit berdampingan. Konsep tersebut, ia katakan, tidak sesuai dengan waktu, tempat dan masyarakat.

“Bahkan sampai hari ini orientalisme dalam keadaan sakit setelah terlalu banyak meminum minuman keras sebelum terus menyakiti umat Islam dengan menggunakan istilah “Mohammadanism” untuk umat Islam”, kata Ahmed.14 Itu dilakukan oleh Gibb dan Grunebaum. Bahkan Kamus Oxford yang menjadi banyak rujukan masih menggunakan istilah “Mohammadanism”. Perlu diingat, bagi kaum Muslim, agama Islam bukanlah ajaran pembawanya, Nabi Muhammad saw, tapi itu adalah ajaran Tuhan (Allah). Muhammad Saw hanyalah seorang utusan-Nya yang bertugas menyampaikan ajaran itu kepada umat manusia, sehingga istilah itu tidak tepat.

Jika disebutkan semuanya, banyak sekali istilah-istilah orientalis yang melecehkan Islam yang ditulis dalam jumlah buku yang begitu banyak.15 Kebanyakan mereka adalah para akademisi di universitas dan adalah kemungkinan kecil jika, kesalahan itu tak disengaja, atau mungkin karena kebodohan? Akbar S Ahmed mengusulkan bahwa, “para sarjana Islam harus menyiapkan jawabannya. Jika tidak, kediaman mereka akan dianggap sebagai ketidak mampuan mereka untuk mempersiapkan jawaban yang tepat”.16 Beberapa yang dipuji Edward Said karena karyanya, di antaranya Clfford Geertz dan Rodinson. Geertz banyak meneliti tentang dunia  Indonesia dan Maroko. 17

Ia menggagas mengenai “Antopologi Islam”, untuk menjawab persoalan-persoalan antropologi yang kental dengan kolonialisme-orientalisme.18

Depok, 27-3-2014
Lu’ay

____________

1 Ke Arah Antropologi Islam, h. 44
2 Ibid.
3 Edward W Said, Orientalisme , h. 35 dan 77; juga Ahmed, Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, h. 73
4 Ke Arah …, h. 45
5 Ibid., h.47
6 Ia juga menulis tentang masyarakat Aceh, The Acehnese, 2 jld. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan INIS-Kemenag, Jakarta.
7 Ahmed, Citra Muslim, h. 152
8 Ke Arah.., h. 48
9 Ibid., h. 49
10 Ibid., h. 50
11 Ibid., h. 51
12 Ibid., h. 109
13 Ibid., h. 110; baca juga Orientalisme Edward W Said.
14 Ibid., h. 111
15 Said mengungkapkan buku-buku yang telah mereka tulis selama kurun lama, sejak awal kolonialisme hingga kini, sekitar 60.000 buah, seperti disingung Latifah Ibrahim Khadhar, 2005.
16 Akbar, Ibid., h. 113
17 Orientalisme, h. 430

18 Tulisan Akbar S Ahmed adalah dalam lingkup proyek Islamisasi ilmu pengetahuan gagasan Prof. Ismail Raji al-Faruqi. Namun, di tengah jalan upaya al-Faruqi terhenti, sebab ia dibunuh oleh kelompok tertentu, dalam suatu sumber mengarah ke Mossad. Lihat juga Ahmed, Citra Muslim, h. 232.

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di diskusi, Kolonialisme, orientalisme dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s