Prof. Sartono Peletak dasar Sejarah Perspektif Indonesia

Sartono Kartodirdjo, Lahir 15 Februari 1921 di Wonogiri, Jawa Tengah. Hilandsch Inlandsche School (HIS) di Wonogiri (1927-1934), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Solo, Sarjana Pertama Sejarah Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, UI (1956), Master of Art dari Yale University, Amerika Serikat (1964), dan doktor sejarah dari Universiteit Amsterdam, Holland, Belanda (1966), dengan disertasi berjudul “The Peasent’s Revolt of Banten in 1888: Its Condition, Cour and Sequel: A case study of social movements in Indonesia” . Ia menjadi guru besar Fakultas Sastra UI dan UGM; ahli riset senior pada Institute of South East Asian Studies (ISEAS), Singapura.

Beberapa karya tulisnya antara lain: Karya sejarah sosialnya Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta:P Jaya, 1984 ); Protest Movement in Rural Java (1973); Pemikiran dan Perkembangan Historiografi: Suatu Alternatif (Jakarta: Gramedia, 1982); Ratu Adil (Jakarta: SH, ); Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900; Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional; dan Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Grmdia, 1992), masih banyak karya tulis yang lainnya.

Ia adalah peletak dasar sejarah Indonesia dalam perspektif Indonesia, untuk mengubah pandangan sejarah colonialist- oriented. Sejarah model lama tersebut bercorak kolonialistik yang berperan utama adalah orang-orang Belanda, sementara pribumi hanya figuran. Oleh karena itu, agar bangsa ini memiliki kesadaran sejarah yang mengakar pada kekuatan bangsa sendiri, maka perlu ada suatu perspektif Indonesia. Pemikirannya itu terutama tertuang dalam bukunya yang berjudul Pemikiran dan Perkembangan Historiografi: Suatu Alternatif. Sementara karya sejarah sosialnya sendiri (dari disertasinya) dengan judul Pemberontakan Petani Banten 1888 jauh sebelum ia menuliskan buku tentang pemikiran dan metodologi sejarahnya.

Pemberontakan Cilegon

Sebelum pemberontakan meletus di Cilegon Haji Wasid melakukan kontak dengan H Tubagus Ismail dan para pemimpin pemberontak terkemuka lainnya. Mereka memutuskan bahwa pemberontakan harus dimulai di Cilegon pada hari Senin 9 Juli 1888, dan disusul serangan terhadap Serang. Setelah musyawarah terakhir dengan H Tubagus Ismail dan H Ishak di saneja pada malam hari Minggu, haji Wasid pergi ke utara untuk melakukan persiapan di distrik Bojonegoro. Pada dini hari mereka bergerak ke Cilegon. Mereka menyerang para pejabat Belanda serta para pembantunya yang pribumi.

Dari Serang Bupati, Kontrolir dan Letnan van der Star sebagai pimpinan pasukan menuju Cilegon untuk memadamkan pemberontakan. Sebelum sampai ke tempat tujuan di Toyomerto mereka bertemu dengan kaum pemberontak, setelah kaum pemberontak menolak menyerah akhirnya diserang pasukan dan beberapa kaum pemberontak tewas. Setelah penumpasan itu semangat kaum pemberontak melemah.

Namun, Haji Wasid masih bergerak dengan para pengikutnya, walau ada sebagian yang memisahkan diri, ke daerah selatan. Kemudian pasukan pemerintah kolonial terus mengejar mereka dan akhirnya terjadi pertempuran di Sumur. Kaum pemberontak mengalami kekalahan dan mereka tewas, di antaranya Haji Wasid, H Tubagus Ismail, H Abdulgani dan H Usman.

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Belajar Sejarah, Indonesia, Sejarawan dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Prof. Sartono Peletak dasar Sejarah Perspektif Indonesia

  1. aftinanurulhusna berkata:

    Seperti apa tepatnya perbedaan antara pandangan sejarah yang colonialist-oriented dengan yang perspektif pribumi? Ambil kasus pemberontakan Banten di atas..

  2. luaydpk berkata:

    Ya sejarah pemberontakan petani Banten itu adalah contoh sejarah perspektif Indonesia. Yang menjadi aktor utama adalah para petani, haji Wasid dkk, juga sebagai sejarah sosial. Jika sejarah colonialist-oriented, seperti juga dikatakan M Ali, sebelum kemerdekaan 1945, yang menjadi tokoh utama dalam sejarah adalah orang-orang Belanda, para Jendral. Bisa dibayangkan, di negerinya (Netherland) mereka, sebagai pahlawan. Jadi menurut mereka wajar menjajah bangsa pribumi, kulit berwarna dan sekaligus mendidiknya.
    Secara materi sejarah pra kemerdekaan saya belum baca, namun hanya kata Sartono dan M Ali dkk. Ok terima kasih

  3. sheenmeem berkata:

    Please give a translation of your posts, so that I can appreciate them.

    • luaydpk berkata:

      Prof. Sartono is the Indonesian historian that write the Indonesia history with social perspectif. His the founder it with his book “The Peasant’s revolt in Banten 1888: The social movement…”. That book writen with Indonesian Perspectif to change the colonial-oriented. Ok thanks

  4. zulfa17nov1999@gmail.com berkata:

    sejarawan di Indonesia yang masih hidup itu siapa aja kalau boleh tau?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s