Quotes

“Mungkin Anda akan melihat suatu bangsa yang secara material berdiri tegar dalam puncak kemajuannya, padahal sistem sosial dan akhlaknya tidak benar, sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan dengan cepat menuju kehancurannya. Mungkin Anda tidak akan melihat dan merasakan “perjalanan yang cepat” ini karena pendeknya umur manusia dibandingkan dengan umur sejarah dan generasi. Perjalanan seperti ini hanya dapat dilihat oleh “mata sejarah” yang tidak pernah tidur, bukan oleh mata manusia yang picik dan terbatas.

…juga Anda akan melihat suatu bangsa yang tidak pernah segan-segan mengorbankan segala kekuatannya demi mempertahankan aqidah yang benar dan membangun sistem sosial yang sehat, tetapi tidak lama kemuadian bangsa pemilik aqidah yang benar dan sistem sosial yang sehat ini berhasil mengembalikan negerinya yang hilang dan harta kekayaannya yang dirampok, bahkan kekuatannya kembali jauh lebih kuat dari sebelumnya.”

Dr. M Sa’id Ramadhan Al-Buthy

8-6-2021

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Islam tidak memandang sejarah dalam konteks kemajuan dan kemunduran duniawi, tetapi kebajikan dan kebutuhan transendental. Kebenaran bersifat mutlak, ilahi dan abadi—bukan evolusioner atau buatan manusia, terikat oleh waktu, tempat dan situasi. Menurut konsepsi Al-Qur’an tentang sejarah, Adam, manusia pertama, benar-benar nabi Tuhan, seorang muslim penganut monoteisme yang paling tulen. Menurut interpretasi Darwin tentang sejarah, Adam adalah setengah kera, liar dan telanjang, hidup di gua persis binatang. Begitu kontras sehingga tidak perlu komentar.”

Maryam Jameelah

9-5-2021

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , | 1 Komentar

Quotes

Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving.

Einstein

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , | Meninggalkan komentar

Perang pada Masa Nabi Muhammad saw

ilustrasi /kh

Fight in the way of Allah against those who fight against you, but begin not hostilities. Lo! Allah loveth not aggressors. (QS al-Baqarah: 190)

Ketika nabi Muhammad saw di Makah pengikutnya masih terbatas hanya terdiri dari kalangan keluarga dekat dan beberapa budak yang dimerdekakan. Setelah nabi Muhammad saw melakukan hijrah dari Makah ke Madinah (semula Yatsrib) pemeluk Islam semakin bertambah, yang diawali dengan Perjanjian Aqabah I dan Aqabah II.

Selama di Makah sekitar 13 tahun dakwah Nabi saw selalu dihalang-halangi dan bahkan beliau mendapat ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy, sehingga penyiaran Nabi saw tidak banyak perkembangan. Namun setelah Nabi saw menerima perintah dan ia melakukan hijrah ke Madinah pengikutnya semakin bertambah. Penduduk Madinah terutama suku Khazraj dan Aus sudah mendengar mengenai berita Nabi saw. Mereka setelah memeluk Islam untuk selalu setia kepada Nabi Muhammad saw dan mereka menjamin keamanan dan mendukung perjuangan Nabi saw. (Ahmad Amin, h. 104)

Setelah Nabi Muhammad saw hijrah ternyata gangguan kaum Quraisy tidak juga berhenti dan bahkan semakin keras. (Al Mubaraqfuri, h. 137) Dalam situasi seperti itu Nabi saw belum melakukan perlawanan, sebab belum  ada perintah untuk perang.

Setelah perintah perang itu turun, seperti dalam Al-Quran di antaranya QS al-Hajj ayat 39, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”, QS al-Baqarah ayat 190, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”  Nabi saw memerintahkan kaum Muhajirin (para imigran) dan Anshar (para penolong) untuk melakukan persiapan perang melawan kaum Quraisy Makah. Perintah perang itu turun pada bulan Safar tahun 2 Hijriah/ 623 M. Perang pertama Nabi dan para sahabat dengan orang-orang Quraisy dan Bani Hamzah disebut Perang Waddan, namun tidak terjadi pertumpahan darah, karena pihak lawan melarikan diri. Setelah itu perang demi perang beruntun dimulai hingga perang terakhir yang disebut Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H. (Ali M Yakub, h. 78)

Perang yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad saw disebut qhazwah sedangkan perang yang tidak dipimpin langsung beliau disebut sariyah. Namun mengenai jumlah ghazwah dan sariyah para sejarawan Muslim berbeda pendapat. Sebab, di antara sahabat ada yang menghitung dua perang sebagai satu perang dan ada juga karena perbedaan istilah ghazwah dan sariyah. Ali mengatakan diambil jumlah kecilnya ghazwah Nabi mencapai dua puluh satu  (seperti riwayat Jabir bin Abdullah), sedangkan sariyah mencapai enam puluh kali.

Beberapa penulis sejarah hidup nabi Muhammad saw tidak mengisahkan semua perang pada masa beliau tapi hanya beberapa saja. Martin Lings melukiskan bagaimana terjadinya perang Badar, mulai dari persiapan sampai kemenangan kaum Muslim. Nabi saw tidak hanya mempersiapkan fisik pasukan tapi ia juga berdoa untuk minta pertolongan-Nya. Sementara kaum Quraisy menyombongkan diri dengan jumlah pasukan yang banyak. Pertolongan itu disebutkan dalam QS Al-Anfal: 9 (h.207)

Dengan mengutip Maududi, Ali menulis, “Islam tidak menggunakan istilah perang, tetapi menggantinya dengan istilah jihad. Hal itu karena perang selalu dikonotasikan untuk pertempuran yang terjadi antara sekelompok orang dengan kelompok yang lain, atau antara satu bangsa dengan bangsa yang lain, dimana motivasinya adalah ambisi-ambisi pribadi. Perang yang disyariatkan dalam Islam tidak termasuk dalam kategori ini. Karenanya, Islam menggunakan istilah jihad yang selalu dikaitkan dengan kata fi sabilillah. Apabila jihad dilandasi oleh ambisi-ambisi pribadi atau golongan, maka ia tidak dapat disebut jihad menurut terminologi Islam dan tidak akan diterima oleh Allah Swt.” (ibid., h. 95)

Lanjutnya dengan mengutip Prof. Said Ramdhan al-Buti, dalam perjalanan sejarahnya jihad pernah merupakan tindakan defensif. Namun, itu terjadi pada tahap awal ketika jihad belum diwajibkan dan setelah jihad diwajibkan kepada umat Islam hingga Nabi Muhammad saw wafat jihad masih menjadi suatu kewajiban.

Sepeninggal Nabi saw perjuangan dilanjutkan oleh para sahabatnya, sehingga agama Islam semakin tersiar luas melampaui kawasan Arab.

“Dan inilah kata-kata Al-Qur’an tentang nasib prajurit yang gugur dalam pertempuran di jalan Allah—yaitu dalam membela agama yang benar dan untuk membela orang-orang yang tertindas dan yang lemah, serta untuk memperbaiki yang salah.” (Picthall, h. 33)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya./ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar./ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”./ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-Baqarah: 154-157)

Wallahu ‘alam.

Cibinong, 7-4-2021

Sumber

Ahmad Amin, Fajar Islam, (tt), terj. Zaini Dahlan, MA.

Syafiurahman Al Mubaraqfuri, Sirah Nabawiyah, (Depok, GIP, 2020), terj.

Prof. Ali Mustafa Yakub, Sejarah Metode dan Dakwah Nabi, (Jakarta, P Firdaus, 2019)

Martin Lings, Muhammad Kisah Hidup berdasarkan Sumber Klasik, (Jkt, Serambi, 2016), terj.

Marmaduke Picthall, Perang dan Agama, (War and Religion) (Jakarta, YAPI, 1988), terj.

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , | 3 Komentar

Quotes

“Aceh itu terlalu banyak sumbangannya bagi republik ini. Rakyat Aceh menyumbangkan dua pesawat terbang. Orang Aceh bahkan memberi dana untuk Angkatan Perang, untuk pemerintah Republik Indonesia (RI), serta ongkos diplomasi kita bagi perwakilan Indonesia di luar negeri. Kenapa sih dalam negeri Pancasila, ini semua bisa terjadi, dan mengapa rakyat Aceh diperlakukan seperti itu? Itu ‘kan bangsa kita sendiri! Ini tindakan fasistis yang kejam dan biadab. Mana hati nurani itu? ”

Teuku Ibrahim Alfian (sejarawan)

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Suatu gambaran sejarah yang dibentuk sejarawan, bilamana oleh generasi yang berpengaruh diawetkan menjadi mumi, akan sangat membahayakan”.

W den Boer  

Dipublikasi di Kata-Kata, sejarah | Tag , , , , | 1 Komentar

Perjuangan Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)

Muhammad Rasul (H Abdul Karim Amrullah) bin Syekh Muhammad Amrullah (Haji Kisai) lahir 10 Februari 1879 M di Kepala Kabun, Jorong Betung Panjang, nagari Sungai Batang Maninjau dalam Luak Agam. Pada usia 10 tahun ia dibawa pamannya H Abdussamad belajar Al-Qur’an kepada dua guru Tuanku Haji Hud dan Tuanku Haji Fakih Samnun hingga tamat. Pada usia 13 tahun ia belajar nahwu dan sharaf kepada ayahnya sendiri. Lalu ia diantar ayahnya kepada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf di Sungai Rotan, Pariaman untuk belajar Minhajut al-Thalibin karya Imam Nawawi dan Tafsir Jalalain. (Ayahku, h. 60)

Selesai belajar di Sungai Rotan usianya menginjak 16 tahun Muhammad Rasul dikirim ayahnya ke Makah tahun 1894 M untuk belajar lebih lanjut yang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib. Juga ia belajar kepada guru-guru yang lain. Di kota Makah ia belajar selama 7 tahun. Setelah pulang ke tanah air beberapa lama kemudian ia diminta ayahnya mengantarkan adik-adiknya ke Makah. Ia sendiri di sana mengajar kecuali jika ada hal-hal sulit ia bertanya kepada gurunya, Syekh Ahmad Khatib. Istri dan anaknya meninggal di sana. Tahun 1906 M ia pulang ke kampung halaman. Sepulang dari Makah ia mulai mengajar dan berdatanganlah murid-murid belajar agama kepadanya. Tanggal 15 Februari 1908 M ayahnya meninggal. (h. 72)

Pengaruh gurunya, Syekh Ahmad Khatb, sangat kuat sehingga ia menjadi seorang yang revolusioner terhadap adat Minangkabau dan tarekat-tarekat yang ada di Sumatra Barat khususnya Tarekat Naqsabandiah. Sependirian dengan gurunya ia pun mencoba meluruskan praktek-praktek tarekat yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Oleh karena itu terjadilah pertentangan paham antara yang mempertahankan tarekat dimana ayahnya sebagai syekh dari tarekat Naqsabandiah dan yang menolak dari kalangan muda. Ia bergelar “Tuanku Syekh Nan Mudo”. Selain pengaruh gurunya para pemikir seperti Jamaluddin al-Afgani, Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rasyid Ridha juga membentuk pola pikirnya. (Ensiklopedi Islam, h. 16-17)

Pada tahun 1917 M Abdul Karim Amrullah pergi ke pulau Jawa pertama ia singgah di tanah Betawi bertemu dengan tokoh Minangkabau Datuk Tumenggung, lalu ke Bandung bertemu dengan Abdul Muis dan diteruskan ke Pekalongan bertemu muridnya Fakih Salih. Dari kota itu ia teruskan perjalanan ke Surabaya bertemu muridnya Fakih Hasyim. Selain itu ia menemui HOS Cokroaminoto. Cokroaminoto mengajak Abdul Karim untuk mengembangkan Serikat Islam (SI) di Sumatra Barat. Namun ia tidak menyatakan kesanggupan sebab ia tidak mengerti urusan politik, ia memahami agama dan hidupnya untuk agama. Di Surabaya ia sempat ke Madura. Setelah dari Surabaya ia kembali ke Jakarta namun ia singgah di Yogyakarta dan bertemu KH. Ahmad Dahlan.

Di Stasiun Tugu KH. Ahmad Dahlan sudah menunggu dan mengenalinya ketika ia datang. Selama di Yogyakarta mereka berbincang. Kiai Ahmad Dahlan mengatakan ia ingin membangkitkan Islam dengan cara baru dengan cara sekolah yang teratur. Juga ia minta izin untuk menerjemahkan tulisan-tulisan H Abdul Karim dalam al-Munir ke bahasa Jawa. Setelah pertemuan itu H Abdul Karim kemudian pulang ke Sumatra membawa semangat baru. Di Sumatra ia mendirikan Sumatra Thawalib pada Februari 1918 M yang diketuai Hasyim al-Husni. Semakin lama semakin luas pengaruh Sumatra Thawalib dari Sumatra sampai Malaysia. Namun, di Malaysia banyak yang menolak ajaran-ajarannya, sebagai kaum pembaru. (Lihat Taufik Abdullah, “Adat dan Islam”… dalam Ahmad Ibrahim, h. 193-211)

Murid-muridnnya di antaranya, Abdul Hamid Hakim, Zainuddin Labai el-Yunusi (1890-1924 M), H Abbas Datuk Tunaro, H Yusuf Amrullah, H Ahmad Rasyid Sutan Mansyur, Haji Datuk Batuah, H Jalaluddin Thaib, H Mukhtar Luthfi, Hasim el-Husni, Adam Balai-Balai, Rahmah el-Yunusiyah dan Rasuna Said dan sebagainya.

Syekh Abdul Karim Amrullah adalah pejuang yang gigih menegakkan kebenaran. Setelah Sumatra Thawalib berdiri ia pun kemudian memperjuangkan berdirinya persatuan guru-guru agama Islam tahun 1920 M. 

Ketika tahun 1924 M pergi ke Mesir Syekh Amrullah Ahmad dan Syekh Abdullah Ahmad mendapat gelar doktor kehormatan oleh sebuah panitia dan disaksikan utusan-utusan negara Islam. Mereka sempat bertemu pemimpin Mesir, Sa’ad Zaghlul Pasya memberi motivasi bahwa perjuangan umat Islam di Timur akan maju. (Ayahku, h. 187)

Ketika ia pulang dari pulau Jawa untuk yang kedua kalinya ia tertarik untuk mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1925 M. Ia mendukung gerakannya untuk terus berkembang di Sumatra, namun ia sendiri tidak ikut di dalamnya.

Tahun 1928 M Belanda ingin menerapkan guru ordonansi melalui utusannya Dr. de Vries dari kantor Adviseus Inlandsche Zaken ke Sumatra. Lalu para pemuka agama Islam se-Sumatra Barat berkumpul tanggal 18 Agustus 1928 M sepakat menolak peraturan guru ordonansi. Hal itu terjadi atas gagasan H Abdul Karim Amrullah.

Ia terus berjuang menyiarkan agama Islam. Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika ia ditanggkap penjajah Belanda tanggal 12 Januari 1941 M dan ia diasingkan ke Sukabumi. (Deliar Noer, h. 44)

Tidak lama kemudian Belanda diserang Jepang. Ia pun akhirnya bebas. Di zaman penjajahan Jepang ia dalam suatu rapat menolak untuk melakukan sei keirei (tunduk menghadap kekaisaran Jepang) dan ia membantah tulisan seorang ahli Jepang Wajah Semangat. Buku itu berisi pujian kepada kaisar Jepang dan dikatakan kaisar adalah “tuhan” yang kuasa, yang menganugerahi kehidupan bagi kepulauan Yamato, keturunan dari sang matahari bernama Ameterasu Omikami. Buku itu dibawa Kol. Hori kepada Syekh Karim Amrullah untuk diminta pertimbangan dan perbandingan dengan agama Islam.

Lalu Syekh Karim Amrulah menulis buku Hanya Islam. Yang isinya mengenai ajaran tauhid. Dikatakan bahwa Yang Maha Esa itu hanya milik Allah Swt. dan bukan yang lain. Di antaranya; pertama, Allah Maha Esa pada Dzatnya; kedua, Allah Maha Esa pada diri-Nya, tidak ada sesuatu yang lain sebagaimana Dzat-Nya; ketiga, Allah Maha Esa pada sifat-Nya tidak ada di luar Allah Swt yang menyamai sifat-Nya; keempat, Allah Maha Esa pada perbuatan-Nya, Maha Kuasa atas segala sesuatu; kelima, Allah Maha Esa dalam sifat ketuhanan dan sekali-kali tidak ada pertuhanan yang lain daripada-Nya.

 Selain mengajar dan berceramah ia pun menulis beberapa buku, di antaranya: Amdatul Anam fi ilmi al-Kalam (sifat 20) 1908, Qati’u Riqabil mulhidin (membantah tariqat Naqsabandiyah) 1910, Syamsul Hidayah (syair berisi nasihat dan tasawuf) 1912, Al-Qawulush Shahih (bantahan atas Ahmadiyah) 1923 dan banyak lagi. Setelah pulang dari Mesir ia tulis Cermin Terus (sanggahan amal Muhammadiyah) 1928, Annida 1929, Pelita 2 jilid 1930-31, Pedoman Guru (membela Muhammadiyah) 1930, Al-Faraid 1932, dan sebagainya.

“Seorang guru yang jujur haruslah berniat supaya muridnya lebih pintar daripada dia. Namun, seorang murid yang jujur harus mengakui pula siapa gurunya”.

H Abdul Karim Amrullah

Cibinong, 4-3-2021

Sumber:

Hamka, Ayahku, (Depok: GIP, 2019)

Ensiklopedi Islam, Hafidz Dasuki, Ed., (Jkt, 1995)

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942,(Jkt, LP3ES, 1991)

Taufik Abdullah, “Adat dan Islam:..”, dalam Ahmad Ibrahim Ed., dkk., Islam di Asia Tenggara, (Jkt, LP3ES, 1989), terj. AS Abadi

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sehelai Daun Gugur

wp

وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا

“Not a leaf falleth but He knoweth it. “ (QS al-An’am: 59)

(M Marmaduke Pickthall)

Daun memiliki peran penting bagi pohon. Bukan saja bagi pertumbuhan pohon itu sendiri namun juga mempunyai manfaat lainnya.

Jika pohon itu masih kuat maka daunnya lebat. Semakin tua pohon itu daunnya pun berkurang dan rontok. Di negeri yang memiliki lebih dari dua musim, pohon di musim gugur daun-daunnya akan menguning berguguran. Pohon terlihat meranggas seperti pohon mati. Namun akan terlihat indah bila dari seberang pohon itu ketika matahari terbit. Dan jika musim semi tiba akan muncul daun-daun baru dan segar. Juga akan terlihat indah ketika matahari baru terbit jika terlihat dari balik pohon itu.

Pohon menjadi indah karena memiliki daun. Daun-daun yang beraneka warna. Di daerah pegunungan atau di lembah.

Pohon yang daunnya rindang dapat berfungsi untuk berteduh orang-orang dari cahaya matahari baik itu di pinggir jalan atau di sebuah taman.

Semua itu terlihat biasa, sebab sering kita lihat dan menjadi pemandangan biasa.

Namun, yang luar biasa adalah mengapa daun-daun itu di seluruh bumi dari berbagai macam pohon berguguran ada yang sesuai dengan musimnya dan ada yang setiap saat ketika daun-daun itu menguning. Siapa yang mengatur itu semua? Ternyata Dia yang Maha Pengatur alam semesta.

Jika manusia berpikir, mustahil benda ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya dan ada benda bergerak sendiri tanpa ada yang menggerakkannya, maka alam semesta pun mustahil jika tercipta dengan sendirinya dan bergerak dengan sendirinya pula, termasuk penghuni di dalamnya.

Oleh sebab Ia yang menciptakannya, maka sehelai daun yang gugur pun Ia mengetahuinya.

Cibinong, 9-2-2021

Dipublikasi di Alam | Tag , , , , | 1 Komentar

Quotes

“Berpaling ke masa lalu merupakan salah satu strategi paling umum untuk menafsirkan masa kini. Yang menggerakkan sikap itu bukan hanya ketidaksetujuan mengenai apa yang terjadi di masa lalu dan seperti apa masa lalu itu, melainkan ketidakpastian tentang apakah masa lalu itu benar-benar telah lalu, selesai dan ditutup, atau apakah ia masih berlanjut, meskipun mungkin dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Masalah ini menimbulkan segala bentuk diskusi—mengenai pengaruh, mengenai penimpaan kesalahan dan penilaian, mengenai aktualitas-aktualitas masa kini dan prioritas-prioritas masa depan.”

Edward W Said

2-1-2021

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , | 9 Komentar

Jogya 1946

“Yogyakarta, atau yang popular dengan nama Jogya, memenuhi kebutuhan ini. Yogyakarta juga merupakan pusat Jawa. Keputusan telah diambil.”

”Dan begitulah, di malam gelap tanpa bulan tanggal 4 Januari 1946 kami membawa bayi Republik Indonesia ke ibukotanya yang baru, Yogyakarta.”

Bung Karno (h. 284)

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar