Quotes

“Berpaling ke masa lalu merupakan salah satu strategi paling umum untuk menafsirkan masa kini. Yang menggerakkan sikap itu bukan hanya ketidaksetujuan mengenai apa yang terjadi di masa lalu dan seperti apa masa lalu itu, melainkan ketidakpastian tentang apakah masa lalu itu benar-benar telah lalu, selesai dan ditutup, atau apakah ia masih berlanjut, meskipun mungkin dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Masalah ini menimbulkan segala bentuk diskusi—mengenai pengaruh, mengenai penimpaan kesalahan dan penilaian, mengenai aktualitas-aktualitas masa kini dan prioritas-prioritas masa depan.”

Edward W Said

2-1-2021

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , | 2 Komentar

Jogya 1946

“Yogyakarta, atau yang popular dengan nama Jogya, memenuhi kebutuhan ini. Yogyakarta juga merupakan pusat Jawa. Keputusan telah diambil.”

”Dan begitulah, di malam gelap tanpa bulan tanggal 4 Januari 1946 kami membawa bayi Republik Indonesia ke ibukotanya yang baru, Yogyakarta.”

Bung Karno (h. 284)

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

Baca Buku, Pemecah Rasa Bosan Saat Social Distancing!

“Boredom is the root of all evil the despairing refusal to be oneself.”

Soren Kierkegaard

(Kebosanan adalah hasil ketidaksukaan kita terhadap diri sendiri)

“The life of the creative man is led, directed and controlled by boredom. Avoiding boredom is one of our most important purposes.”

Saul Steinberg

(Orang kreatif bekerja untuk menghindari bosan)

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag | 2 Komentar

Rayap

Trik Cegah Serangan Rayap Sejak Dini | Rumah dan Gaya Hidup | Rumah.com
rc

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ 

“And when We decreed for Solomon death, nothing indicated to the jinn his death except a creature of the earth eating his staff. But when he fell, it became clear to the jinn that if they had known the unseen, they would not have remained in humiliating punishment.” (Quran Surah Saba: 14)

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS Saba: 14)

5-9-2020

Dipublikasi di Rayap | Tag , , | Meninggalkan komentar

Prof. Mahmud Yunus

Prof. Mahmud Yunus: Penyusun Kurikulum PAI Sekolah Umum
bs

Ia lahir pada 10 Februarti 1899 di Sungayang, Tanah Datar, Minangkabau – meninggal di Jakarta 16 Januari 1982 . Ketika masih di kampung halaman ia belajar Al-Qur’an di bawah bimbingan Syeh M Thahir (Engku Gadang), dan belajar di sekolah desa dan meneruskan ke Madras School yang dibuka 4 November 1910. Dan tahun 1917  ia bersama teman-temannya mengajar di Madras School  dan menambah sistem belajar halaqah (belajar secara melingkar sekitar guru) di samping sistem madrasah dengan mengajarkan kitab-kitab mutakhir.

Pada bulan Maret 1923 ia menunaikan haji lewat Penang, Malaysia, dan ia melanjutkan belajar di  al-Azhar 1924 dan di Darul Ulum Ulya ,Cairo, sampai tahun 1930. Tahun itu juga setelah ia kembali ke Indonesia ia memperbarui sekolahnya dengan nama al-Jami’ah al-Islamiyah. Di samping di dunia pendidikan, ia juga pejuang yang mempertahankan Republik Indonesia.

Ia seorang tokoh yang berjasa memperjuangkan berdirinya PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri). Ia memperoleh Doktor honoraris causa dari IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tahun 1961 ia menjabat Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta.

Ia banyak menulis di antaranya: Tafsir Al-Qur’an (30 juz); Kamus ArabIndonesia; dan Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: ); sekitar 75 karya sudah ditulisnya.

Buku Sejarah Pendidikan Islam.. yang ia tulis membahas mengenai sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Bermula dari Sumatera Barat, Minangkabau, dimana Syekh Burhanuddin pada tahun 1646 M berjasa. Pada masa awal ini pendidikan Islam mengalami perkembangan dan penyempurnaan.

Pada tahun 1900-1908 M pendidikan Islam terus mengalami perubahan sistem, dari sistem lama ke sistem baru. Lalu setelah tahun itu lahirlah madrasah-madrasah dengan sistem modern, seperti Adabiah School, hingga pendidikan Islam di zaman pendudukan Jepang 1942-1945.

Pada zaman kemerdekaan pendidikan Islam mengalami perkembangan yang terus berlanjut hingga muncul universitas Darul Hikmah tahun 1953 M. Dari Sumatera Barat, ke Jambi, Aceh dan Sumatera Utara.

Penulis mengulas perkembangan pendidikan Islam di pulau Jawa, bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Jawa dengan penyebar utama Wali Songo, sampai zaman kerajaan-kerajaan Islam, munculnya organisasi masyarakat Islam hingga zaman revolusi kemerdekaan. Juga dibahas selain di Sumatera dan Jawa, perkembangan pendidikan Islam di Indonesia bagian timur.

Cibinong, 1-9-2020

Sumber

  1. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta)
  2. Hamka, Ayahku, (2018)
  3. Ensiklopedi Islam
Dipublikasi di Tokoh | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Laa Takhaf Wa Laa Tahzan

Oleh Muhammad Iqbal

Wahai kau yang dibelenggu rantai takut dan gelisah

Pelajarilah mutu kata Nabawi: “Laa Tahzan”

Jangan takut tak berketentuan

Jika adalah padamu Tuhan Yang Maha Kuasa

Lemparkanlah jauh-jauh segala takut dan bimbang

Lemparkanlah cita untung dan rugi

Kuatkan iman sekuat tenaga

Dan kesankanlah berkali-kali dalam jiwamu: “Laa Khaufu ‘Alaihim”

Tiada resah dan gentar pada mereka bagi zaman akan datang

Bila Musa pegi kepada Fir’aun

Hatinya membaja oleh mutu kata:

“Laa Takhaf, janganlah takut dan bimbang”

Siapa yang telah mempunyai semangat al-Musthafa

Melihat syirik dalam setiap denyut dan

luapan takut bimbang

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

Pin by Ginny inMA, ProgressiveVoices on PEOPLE: John Pilger ...
pint

John Pilger seorang wartawan, penulis dan pembuat film dokumenter. Ia banyak mengritik kebijakan luar negeri negara-negara industri dan termasuk Indonesia yang menyengsarakan rakyatnya, seperti dalam bentuk film dokumenter tentang tenaga kerja Indonesia, yang banyak bekerja di perusahan-perusahan asing dengan kesejahteraan yang minim.

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | 2 Komentar

Masyarakat Melayu-Indonesia dalam Sorotan Historis Prof. Naquib

Sufi World on Twitter: "To know how to put what knowledge in which ...
sw

Sifat sejarah, menurut orang,

Ibarat pentas bermain wayang;

Cerita lampau diurai dalang,

Pabila tamat segera diulang.

Jika demikian, mustahil pantang

Giliran Islam pula mendatang;

Lakonan lama indah gemilang,

Di layar dunia semula terbentang

Prof. Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai filosof, sejarawan, pendidik Malaysia yang banyak menulis buku. Ia juga mengusahakan berdirinya International Institut of Islamic Thought and Civilization (Institut Antarbangsa Pemikiran dan Tamaddun Muslim) pada 27 Februari 1987 di Malaysia.

Ia meneliti tentang masyarakat di kawasan Melayu-Indonesia sebelum dan setelah datangnya Islam. Dalam penelitiannya itu ia katakan telah ada gambaran umum bahwa agama yang dianut oleh masyarakat adalah Hindu dan Budha yang bercampur dengan agama anak negeri sendiri, yang telah ada sebelum kedua agama itu. Agama itu hanya dianut oleh kalangan raja-raja dan bangsawannya, sedangkan rakyat biasa tidak menghiraukan ajaran-ajaran agama itu.

Naquib sependapat dengan Van Leur yang mengatakan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia secara umum bukanlah masyarakat Hindu tetapi pada hakekatnya hanya golongan bangsawan yang menganut agama itu secara sungguh-sungguh. Itu pun golongan bangsawan tidak memahami betul ajaran-ajaran murni yang terpendam dalam filsafat Hindu, yang diambil hanya berkaitan tata-upacara dan mengagungkan dewa-dewa untuk kepentingan mereka sendiri bahwa mereka adalah penjelmaan dewa-dewa itu. Hal itu justru mengukuhkan kedudukan golongan raja dan bangsawan dalam puncak lapisan struktur masyarakat.

Filsafat agama Hindu tidak banyak mempengaruhi masyarakat Melayu-Indonesia, justru mereka lebih cenderung kepada hal-hal yang berkaitan dengan seni.

Mengenai peranan Islam di kawasan itu beberapa sarjana Belanda dan Inggris mencoba mengecilkan seperti Van Leur yang mengatakan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar dan peradaban yang luhur daripada yang telah ada. Hal itu dibantah oleh Prof. Naquib bahwa peninggalan berupa tugu dan candi dengan pahatan memang hasil peradaban seperti juga Acropolis Yunani, Persepolis Iran, dan Piramid Mesir, tapi itu tidak menyorotkan sinaran budi dan akal. “Dalam menilai peranan dan jejak Islam, ciri-ciri yang harus dicari oleh mereka bukan pada tugu dan candi , atau pada pahatan dan wayang—ciri-ciri yang mudah dipandang oleh mata jasmani—tetapi pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya memperlihatkan cara daya budi dan akal merangkum pemikiran.” kata Naquib.

Di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia tak dapat diingkari, kata Nquib, bahwa terdapat banyak sifat risalah-risalah Islam dahulu yang sebagaian besar isinya itu mengandung metafisika ilmu tasawuf yang telah mencapai nilai luhur dalam sejarah pemikiran. Risalah-risalah itu tidak dapat kita dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang terdapat di dalam sastra Melayu-Jawa dalam zaman Hindu-Budha yang hampir-hampir hampa dalam perbendaharaan akal. Jiwa masyarakat Melayu-Indonesia mulai berubah dengan adanya unsur-unsur itu mengalir dalam nadinya.

“Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat kita bayangkan sebagai semangat nan hebat yang menggerakkan proses merevolusikan pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia, memalingkan dari alam seni dan mitos yang khayali, yang sudah mulai gugur dari singgasananya, dan mematuhi serta menetapkannya pada alam akal dan budi yang menuntut cara hidup yang tertib dan teratur. Para penyebar agama Islam mendakwahkan kepercayaan ketuhanan yang Tunggal; yang kodrat-Nya terhukum pada hikmah-Nya; yang iradah-Nya berjalan selaras dengan Akal,” katanya.

Dalam proses sejarah kebudayaan Islam itu bahasa Melayu sebagai pengantar, bukan hanya dalam kesustraan epik dan roman , tetapi dalam pembicaraan filsafat. Dengan begitu menambah dan meninggikan perbendaharaan kata dan istilah-istilah serta tentu saja menjunjung bahasa Melayu ke peringkat bahasa sastra yang rasional dan akhirnya mampu menggantikan bahasa Jawa sebagai bahasa sastra Melayu-Indonesia.

Ia juga membedakan antara Islam dan agama-agama itu dilihat dari sejarahnya di kepulauan ini, dengan rumusan (disingkat) sebagai berikut:

1. Agama Hindu bukan agama Semitik yang berdasarkan ketuhanan yang tunggal, yang mempunyai semangat menyebarkan diri dengan daya tabligh.

2. Agama Hindu itu terkandung dalam perlambang yang estetik serta pembicaraannya ibarat bentuk rupa manusia dan tak diragukan lagi yang demikian itu karena pengaruh bahasanya  yang menjadi pengantar pembicaraannya.

3. Berlainan dengan Islam, agama Hindu dan Budha lahir dari intisari dan tempat asal yang sama.

4. Kunhi dzat (rahasia dzat Allah) semangat keagamaan Islam itu ialah kepercayaan ketuhanan yang tunggal dan ini terkandung dalam konsepsi tauhid.

5. Al-Qur’an sampai di kepulauan Melayu-Indonesia bersama dengan agama Islam.

6. Dapat disimpulkan bahwa Islam berbeda dengan agama Hindu dan Budha adalah suatu agama yang bersifat kebudayaan sastra yang saintifik.

Cibinong, 2-8-2020

Sumber:

Syed M Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung; Mzn, 1990)

————————————, Islam dan Sekularisme, (Bandung: Pustaka, 1981)

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , , | 1 Komentar

Quotes

“Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka

Oleh agama perjalanan bahagia itu telah diberi berakhir. Puncaknya yang penghabisan ialah kenal akan Tuhan, baik ma’rifat kepadaNya, baik taat kepadaNya dan baik sabar atas musibahNya, Tidak ada lagi hidup di atas itu!”

Hamka

(Tasauf Modern)

Dipublikasi di Kata-Kata Bijak | Tag , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Pendidikan terdiri atas bentuk khusus yang secara sengaja diberikan kepada ruhani manusia demi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sebab jika orang dibiarkan berbuat semaunya, maka pertumbuhannya tidak akan sesuai dengan tujuan-tujuan kehidupan sosial. Karena itulah kita mempersiapkan acuan-acuan tertentu untuk manusia. Dalam acuan itulah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan kita dan tuntutan zaman.”

Ali Syari’ati

Dipublikasi di Manusia | Tag , , , , | Meninggalkan komentar