Bahasa

edu

Manusia berkomunikasi dengan bahasa yang disepakati bersama. Semakin tua umur suatu bahasa maka semakin banyak kosa kata yang dimiliki dan bahasa yang lebih kemudian akan terpengaruh oleh bahasa yang lebih dulu ada, atau biasa disebut bahasa serapan atau kata serapan. Oleh karena itu semakin kaya suatu bangsa memiliki bahasa maka semakin tebal kamus bahasanya. Namun, setiap bangsa memiliki kekayaan bahasanya masing-masing sesuai lingukangan dan perkembangan budayaanya termasuk sejarahnya.

Ahli bahasa biasanya meneliti asal – usul suatu bahasa dan perkembangannya. Ada disebutkan rumpun bahasa. Sebut saja bahasa Arab. Bahasa ini biasa dipakai oleh masyarakat kawasan Arab, atau orang Barat dari posisi keberadaannya menyebut wilayah itu dengan Timur Tengah,. Pemakainya di antaranya negara Arab Saudi, Oman, Suriah, Yordania, Mesir dan sekitarnya. Dari segi sejarahnya antar kelompok bangsa di wilayah itu saling mempengaruhi dan menjadi rumpun bahasa, bahasa Arab termasuk rumpun Semit. Terdiri dari bahasa kesustraan, lisan dan tulisan. Dialek yang paling luas penggunaannya dialek Quraisy. Seperti juga bahasa Inggris dalam kawasan Eropa. Antara kosa kata Inggris dengan tetangganya ada kemiripan dari segi tulisan dan bunyi. Begitupun dengan bahasa Indonesia, yang pembentukannya lebih kemudian. Dalam bahasa Indonesia ada banyak kata serapan dari bahasa asing. Mana yang paling dominan itulah biasanya bahasa yang banyak digunakan.

Bangsa Indonesia memiliki bahasa nasional, yakni bahasa yang digunakan resmi semua warga, di samping puluhan bahkan ratusan bahasa daerah. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu lama. Mengapa Indonesia memiliki bahasa nasional relatif cepat? Sebab, ketika Belanda menjajah Indonesia kaum penjajah tidak mewajibkan bahasa penjajah yang dianggapnya kaum pribumi tidak layak menggunakan bahasa Belanda yang dikhususkan bagi kaum elit. Berbeda dengan penjajah Inggris, kaum pribuminya digalakkan menggunakan bahasa Inggris, di semua bekas jajahan Inggris bahasa Inggris digunakan dan ada yang menjadi bahasa nasional. Dengan begitu, maka bangsa Indonesia relatif cepat memiliki bahasa nasional setelah mencapai kemerdekaannya. Berbeda dengan beberapa negara lain.

Bahasa mengikuti sejarah perkembangan bangsanya. Semakin maju suatu bangsa maka perkembangan bahasanya pun akan semakin kaya, dan biasanya dalam bidang-bidang tertentu.

Orang yang memiliki kecerdasan dalam bahasa, akan mampu menguasai banyak bahasa, baik lisan maupun tulis, terutama jika peneliti atau penulis akan menggunakan referensi yang kaya.

11-9-2021

Sumber

Ensiklopedi Islam, (1994)

Dari berbagai sumber

Dipublikasi di bahasa | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

waiting for a train, not godot

Stasiun Lempuyangan, Yogya
Dipublikasi di perjananan | Tag , , , , | 2 Komentar

17 Agustus 1945

Sumber Moh. Hatta, Memoir, (1982)

Bung Karno dan Bung Hatta di Jalan Pegangsaan, Jakarta.

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , | 1 Komentar

Martin Lings, Menulis Sejarah Rasul

Martin Lings (Author of Muhammad)
gr

Martin Lings memiliki nama Muslim Abu Bakr Siraj Ad-Din. Lahir tanggal 24 Januari 1909 di Burnage, Lancashire, Inggris dan ia meninggal di Westerham, Kent County, Inggris pada 12 Mei 2005. Lings dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan. Mengikuti ayahnya ia menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat. Ketika keluarganya kembali ke Inggris ia didaftarkan di Clifton Collage, Bristol. Lalu ia melanjutkan pendidikannya di Magdalen College, Oxford. Ia belajar sastra Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932. Pada tahun 1935 ia memutuskan pergi ke Lithuania untuk menjadi pengajar di studi Anglo-Saxon dan Inggris Tengah di Universitas Kaunas. Setelah tahun 1952 ia meneruskan pendidikan pada School of Oriental and African Studies, London, hingga mencapai doktor. Tahun 1955 Lings bekerja sebagai asisten ahli naskah kuno dari kawasan Timur pada British Museum selama sekitar 20 tahun. Tahun 1973 ia merangkap bekerja di British Library, dan ia memfokuskan pada kaligrafi al-Qur’an.

Ketika tahun 1939 Lings datang ke Mesir mengunjungi sahabatnya yang mengajar di Universitas Kairo, Rene Guenon. Temannya itu sebagai asisten filsuf Prancis. Namun saat kunjungannnya itu temannya mengalami kecelakaan lalu lintas. Kemudian Lings diminta untuk mengisi posisi temannya itu, dan ia menerimanya.

Lalu, Lings mulai belajar bahasa Arab dan mempelajari Islam. Ia berkenalan dengan ajaran sufi Sadzaliyah dan setelah lama berhubungan dengannya ia menetapkan untuk masuk Islam. Sejak saat itulah ia menjadi pribadi yang baru dengan nama Abu Bakr Siraj Ad-Din. Setelah masuk Islam ia semakin dekat dengan Rene Guenon, yang lebih dulu memeluk Islam.

Ketika ia tinggal di Mesir ia menikah dengan Lesley Smalley. Keduanya tinggal di kamp pengungsi. Namun saat terjadi revolusi anti-Inggris oleh kaum nasionalis di Mesir, Lings memutuskan untuk kembali ke Inggris pada tahun 1952.

Islam, bagi Lings, tidak sekedar agama, namun juga sebagai petunjuk hidup umat manusia. Ia terkesan dengan Al-Qur’an dan pribadi Rasulullah Saw. Oleh karena kecintaannya itulah ia menulis tentang kehidupan Nabi Saw. Ia menulis berdasarkan sumber asli dan bukan dari tangan kedua. Bukunya berjudul Muhammad: His Life Based On the Earliest Sources (1983) yang telah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Ia menulis buku-buku lainnya, The Sacred Art of Shakespeare, A Sufi Saint of the Twenteth Century (Wali Sufi Abad Duapuluh), Religion in the Middle East, What is Sufism, dan lainnya.

Ia menulis sejarah hidup Nabi Muhammad Saw dengan penuh cinta. Sumber-sumber yang ia gunakan adalah sumber awal. Dari awal kehidupan Nabi hingga wafatnya ditulis dengan hidup dan mencerminkan kehidupan Rasul sebagai kekasih Allah.

Sejarah hidup Nabi yang ditulisnya tidak sekedar rententan peristiwa yang kering. Ia menulis dengan sepenuh hati sebagai Muslim, namun ia tidak kehilangan pijakannya dalam mengambil sumber. Ketika menuturkan suatu peristiwa ia menghadirkan argumentasi berdasar acuan yang jelas, juga berkaitan dengan sebab akibat dari suatu peristiwa. Ia mendasarkan tulisannya kepada karya klasik dari Ibn Ishaq, Ibn Sa’d dan al-Waqidi dan beberapa sumber lain juga kumpulan Hadits Nabi.

Berbeda hasilnya dengan penulis yang memiliki motif lain (niat), baik ia mampu mengakses sumber awal Islam dan apalagi jika hanya dari sumber kedua, tentu hasil akhirnya akan terlihat dengan gambaran yang kabur, negatif, buruk dan bahkan melecehkan.

Tentang hijrah ia menulis. “Nabi tiba di Madinah pada hari Senin, 27 September 622 M. berbagai kabar menyatakan bahwa penduduk Madinah sudah tidak sabar menunggu kedatangan beliau di sana. Maka, beliau tinggal di Quba hanya tiga hari penuh. Selama itu, beliau mendirikan sebuah masjid yang dibangun pertama kali dalam Islam. Pada hari Jumat pagi, beliau meninggalkan Quba. Pada siang harinya, beliau dan para sahabatnya berhenti di lembah Ranuna untuk shalat bersama Bani Salim dari suku Khazraj yang telah menunggunya. Ini adalah shalat Jumat pertama yang beliau lakukan di negeri yang mulai saat ini menjadi tanah airnya.”

“Selamat datang wahai Nabi Allah! Selamat datang wahai Nabi Allah!” begitulah luapan kegembiraan yang diserukan berulang-ulang oleh laki-laki dan perempuan, juga anak-anak yang berbaris di sepanjang jalan.” (h. 173)

Lings melukiskan bagaimana terjadinya beberapa perang, di antaranya perang Badar, mulai dari persiapan sampai kemenangan kaum Muslim. Nabi Saw tidak hanya mempersiapkan fisik pasukan tapi beliau juga berdoa untuk minta pertolongan-Nya. Sementara kaum Quraisy menyombongkan diri dengan jumlah pasukan yang banyak.

Cibinong, 11-8-2021

Sumber

Rep, 18 Januari 2010

Martin Lings, Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasar Sumber Klasik, (Jakarta: Serambi, 2016), terj

Dipublikasi di Penulis, Tokoh | Tag , , , , , | 1 Komentar

Edward W Said

“Selama abad kesembilan belas dan kedua puluh para orientalis menjadi kuantitas yang semakin serius karena pada masa itu batas-batas yang jauh dari geografi imajinatif maupun aktual semakin menciut, karena hubungan antara Timur-Eropa ditentukan oleh ekspansi Eropa yang tak dapat dibendung dalam mencari pasar, sumber-sumber alam dan daerah-daerah jajahan, dan akhirnya, karena orientalisme telah mencapai metamorposis dirinya dari suatu discourse intelektual menjadi suatu pranata jajahan. Bukti dari metamorposis ini telah tampak jelas dalam apa yang telah saya katakan tentang Napoleon, de Lesseps, Balfour, dan Cromer.” Edward W Said

2-8-2021

Dipublikasi di Kolonialisme | Tag , , , | 2 Komentar

Romusha

bnews

Setiap penjajah memperlakukan kaum pribumi dengan rendah dan kejam, pada zaman kolonial Belanda ada tanam paksa bagi orang Indonesia yang disebut cultuurstelsel, zaman penjajahan Inggris ada perbudakan dan pada masa pendudukan Jepang disebut romusha.

Romusha dalam bahasa Jepang berarti seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar. Namun dalam sejarah Indonesia kata itu memiliki pengertian khusus karena pengalaman orang-orang yang dipekerjakan selama pemerintahan militer Jepang mengalami kekejaman. Bagi orang Indonesia romusha berarti  seorang pekerja buruh kuli yang dimobilisasi untuk melakukan pekerjaan kasar di bawah kekuasaan penjajah Jepang.

Angkatan Darat ke-16 Jepang menaklukkan Belanda pada tanggal 8 maret 1942 dengan operasi selama seminggu dan kemudian memulai pemerintahan militernya. Jepang masuk pulau Jawa dengan kekuatan tentara sekitar 50.000 dan kemudian jumlah tentara itu berkurang hingga menjadi 10.000. Jumlah semula semakin berkurang, karena kelebihannya dikirim pada pertempuran di Pasifik Selatan. Jumlah seluruh orang Jepang yang ditempatkan di Jawa sekitar 20.000 lebih. Pulau Jawa dikuasai Angkatan Darat ke-16, Sumatra Angkatan Darat ke-25 dan Sulawesi oleh Angkatan Laut.

Untuk menopang pendudukan Jepang memberlakukan romusha, sering disebut juga sebagai “prajurit pekerja” atau “prajurit ekonomi”, di samping ada tentara sukarela dan heiho. Perekrutan romusha diawali dengan propaganda yang masif agar orang-orang tertarik. Pada mulanya banyak orang yang tertarik, tapi setelah banyak tahu perlakuan kejam militer Jepang banyak penduduk yang enggan dan takut. “Siapa berikutnya?”, inilah suara yang menakutkan.      

Pelaksana perekrutan romusha oleh para pemimpin di tingkat bawah mulai dari desa oleh kucho (kepala desa), terdapat juga rukun tetangga (tonarigumi) dan koperasi (kumiai), lalu diteruskan ke atas, hingga karesidenan. Rakyat berhadapan dengan para pemimpin itu dan hal itu menjadi sasaran kebencian orang-orang desa. Para pemimpin desa itu tidak berani menolak perintah, sebab mereka tahu kejamnya kenpeitai (polisi militer). Juga karena kebutuhan tenaga di berbagai wilayah semakin meningkat maka kaum pelajar pun direkrut menjadi romusha, walaupun sesungguhnya hanya untuk menarik minat lebih banyak orang.

Mereka yang direkrut pada umumnya kalangan petani di desa-desa yang kebanyakan buta huruf. Ada yang secara sukarela, tertipu atau ditipu, penculikan dan paksaan, tapi yang disebut sukarela itu sebenarnya ada intimidasi. Umur para pekerja mulai dari usia muda sampai usia tua. Mereka yang dipekerjakan ada yang di wilayah dekat sekitar karesidenan, di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi, Borneo dan di luar negeri di Singapura, Thailand dan Indocina. Ribuan orang diangkut dengan kereta api dan kapal laut untuk luar Jawa dan wilayah Asia Tenggara. Sebelum sampai tujuan banyak juga yang meninggal dalam perjalanan atau mati di kapal dibuang begitu saja ke laut.

Jumlah romusha keseluruhan sekitar 2,5 juta orang, tapi ketika Jepang menyerah pemerintah Indonesia mengatakan 4 jutaan. Ketika perang  usai romusha yang dikirim ke luar Jawa dan negeri tetangga banyak yang belum kembali. Sekitar 270 ribu orang yang di luar Jawa, yang kembali tidak kurang 70 ribu orang.

Pekerja romusha mengerjakan proyek pembangunan seperti jalan, membuat saluran air, lapangan terbang, juga di pabrik. Mereka dapat upah bulanan dan makan, dan dari upah itu disisihkan untuk keluarga di rumah, tapi banyak yang berkurang. Dari pekerja itu banyak yang meninggal karena terlalu capai, kelaparan dan kurang gizi serta terserang penyakit.

Banyak tenaga tersedot untuk romusha sehingga di desa-desa kekurangan tenaga untuk mengolah lahan pertanian. Akibatnya keluarga mereka di desa juga banyak yang menderita.

Eksploitasi kaum pribumi oleh pemerintah militer Jepang itu menimbulkan trauma pada masyarakat Indonesia yang mengalami saat itu, berdasar beberapa orang yang selamat dan memberikan kesaksian. Tenaga manusia dieksploitasi dan kekayaan alam dikuras untuk biaya perang pada masa pendudukan Jepang, seperti juga era sebelumnya. Ketika akhirnya Jepang menyerah, pos-pos di Asia Tenggara diduduki kembali oleh tentara Sekutu.

Cibinong, 17-7-2021

Sumber

Aiko Kurasawa, Mobilisasi dan Kontrol, (Jkt, Grasindo, 1993), terj. Hermawan Sulistiyo

Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Jkt, Serambi, 2004), terj.

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , , , | 1 Komentar

Syair Abul ‘Ala al Ma’arri

Al-Ma'arri - Wikipedia
wp

“Anda saksikan, apakah seorang manusia masih punya secuil kebanggaan setelah tragedi rusaknya jasad ragawi yang hancur lebur? Sebuah tragedi yang membuat gemetar seorang penyair Abul ‘Ala. Terdengarlah bacaan syair ditingkahi nyanyian burung. Ia mengatakan bahwa kepedihan pada saat kematian lebih dahsyat dibandingkan kegembiraan pada saat kelahiran:” (Aisyah Bintu Syati)

Dia berteriak, inilah kubur-kubur kami. Semuanya telah penuh. Manakah kuburan yang kembali sejak zaman dulu.

Ringankanlah bobot injakan kaki, karena aku tak mengira permukaan kulit bumi ini ternyata jasad-jasad manusia.

Alangkah malangnya nasib kami. Meski telah ada perjanjian, penghinaan pada nenek moyang terus terjadi.

Begitu banyak liang lahat yang menjadi kuburan berulang-ulang. Begitu banyak orang yang menertawakan pertentangan yang keras.

Orang mati dikubur di atas kuburan orang mati lainnya, sepanjang zaman dan selamanya. (Saqathuz -Zanadi)

Ketika yang hidup membalutkan kain kafan, maka hancurlah kain itu berikut pemakainya.

Dan kehidupan akan rusak. Ketika datang rahasia suatu masa, maka tiada lagi yang tertawa, dan tiada lagi yang bermuka masam.

Seorang yang terpenjara dalam kuburan sempit, tidak dapat membebaskan diri dari penjara itu.

Dia bertetangga dengan suatu kaum yang pandai memberi nasihat-nasihat, tapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat menggali kuburan sendiri. (al-Luzumiat)

Hai kuburan, setelah kematianku, apakah engkau mendengar panggilan dan suaraku? Hai bumi, engkau tidak mempunyai utang di sisimu, juga tidak punya kewajiban, dititipkan kepadamu harta benda dan engkau mengembalikannya dengan baik, tetapi terhadap karib kerabat engkau memakannya dengan rakus. Ah, andai engkau hanya makan harta benda saja, dan sebaliknya mengembalikan karib kerabat…

Dikatakan kepada bumi dengan lantang: “Hai bumi, terimalah kembali barang-barang gadaianmu dan tolaklah orang yang datang!” Dan bumi lebih memilih harta benda dan melupakan perjanjian serta menghilangkan rasa kesetiaan terhadap manusia, teman lama yang sangat setia.

“Hai keluarga besar kami yang shaleh, kami ini anggota masyarakat yang jahat.” Kami tidak memenuhi kewajiban yang harus kami bayarkan kepadamu. Sepeninggal kalian kami meminum minuman dingin. Kami tidur dengan pakaian tidur, tapi kini kami berselimut dinding dan berkalang tanah yang runtuh. Seandainya kami adalah orang-orang yang memelihara perjanjian niscaya kami dipelihara –setelah hidup bersama kalian di dunia—dari sambaran azab. (al-Fushul wal-Ghayat)

11-7-2021

Dipublikasi di Kata-Kata Bijak, Penyair | Tag , , , | 1 Komentar

Bertrand Russell

“Saya ingin sekali mengetahui, dapatkah filsafat memberi sesuatu alasan untuk mempertahankan sesuatu yang dinamakan kepercayaan agama, betapapun kaburnya. Salain itu, saya ingin meyakinkan diri saya bahwa sesuatu dapat diketahui dalam matematika murni, kalau tidak di tempat lain. Saya memikirkan soal-soal ini selama masa muda saya, dalam kesepian, dengan sedikit mungkin memakai bantuan buku-buku. Tentang agama, saya pertama menjadi tidak percaya akan kebebasan kehendak manusia, kebakaan, (immortality) dan akhirnya akan Tuhan. Tentang dasar-dasar matematika, saya tidak mendapatkan suatu kesimpulan pun. Meskipun saya cenderung kepada empirisme, saya tidak dapat mempercayai bahwa “dua kali dua sama dengan empat” diperoleh dari generalisasi induksi dari pengalaman, tetapi yang melampaui kesimpulan yang negatif murni ini”. Bertrand Russell

7-7-2021

Dipublikasi di filsafat | Tag , , | 2 Komentar

Adam as

(2:35) Then We said, “O Adam, you and your wife, both dwell in the Garden and eat to your hearts’ content where from you will, but do not go near this tree; otherwise you shall become transgressors” 

(2:36) After a time Satan tempted them with that tree to disobey. Our Command and brought them out of the state they were in, and We decreed, “Now, go down all of you from here; you are enemies of one another. Henceforth you shall dwell and provide for yourselves on the Earth for a specified period.”

(2:37) At that time Adam learnt appropriate words from his Lord and repented, and his Lord accepted his repentance, for He is very Relenting and very Merciful.

(al Qur’an Surah al-Baqarah 2: 35-37 translation from Tafheem al Maududi) 

5-7-2021

Dipublikasi di Manusia | Tag , , , | Meninggalkan komentar

If…

If I think than the darkness will disappear, If I’m angry the darkness will come to me, and If I am patient the happiness will be with me.

Jika aku berpikir maka kegelapan akan sirna, jika aku marah kegelapan akan menghampiriku dan jika aku bersabar kebahagiaan akan menyertaiku. Insya Allah

5-7-2021

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | 1 Komentar