Penjual Koran Terakhir

 

photo1282

Gedung stasiun itu catnya  memudar. Di depan stasiun itu sudah tidak ada penjual koran. Beberapa waktu lalu masih ada setiap pagi. Berbagai macam koran tersedia dengan harga khusus. Ada beberapa orang yang membelinya. Tapi kini sepi. Juga lapak koran yang biasa menjual berbagai terbitan berita sudah menghilang dan digantikan oleh penjual telor ayam.

Di dalam gerbong kereta listrik jurusan Bogor-Jakarta beberapa waktu lalu masih terlihat penumpang membaca koran. Kini mereka memelototi layar telepon genggam.

Perangkat handphone sudah menggantikan koran. Dengan alat itu berita apapun bisa didapat, hampir semua.

Orang biasa menyebutnya media online. Teks beritanya pendek. Tentu, berbeda dengan koran cetak. Di koran cetak memberitakan peristiwa cukup panjang. Itu koran harian. Jika majalah lebih dari itu dengan investigasi mendalam.

Jika kita ingin membandingkan antara keduanya tentu ada kelebihan dan kekurangannnya.

Apapun yang menjadi pertimbangan selama memenuhi unsur berita 5 W + 1 H dapat kita terima. Itulah perubahan yang kadang tak kita sadari.

Seakan-akan waktu saat ini demikian cepat bergerak. Relatif. Bahkan kata orang, waktu dapat dilipat.

Bogor, 28-1-2020

Pembaca koran

Dipublikasi di Info, Media | Tag , , , , , | 1 Komentar

Perjuangan Keturunan Arab di Indonesia

Berbeda dengan orang asing lainnya seperti orang-orang Cina dan orang-orang Eropa, orang-orang turunan Arab sudah lama menetap dan dekat dengan orang-orang pribumi Indonesia. Bukan saja dekat dari segi agama juga mereka turunan dari ibu-ibu Indonesia dengan bahasa ibu mereka dan kadang tanpa mengetahui bahasa Arab.

Mereka banyak memiliki hubungan dengan penduduk pribumi Indonesia sebagai pedagang. Dengan orang-orang seagama mereka ikut berpartisipasi dalam kehidupan keagamaan pada kebanyakan orang-orang Indonesia. Di samping itu, mereka masih berminat untuk mengikuti perkembangan situasi di kawasan negeri Arab (untuk tidak menyebut ‘timur tengah’, sebab sebutan itu bagi mereka yang ada di Eropa barat) melalui berbagai pemberitaan, baik koran maupun majalah, seperti al Urwatul Wustqa.

Orang-orang keturunan Arab berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Untuk itu mereka mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada 5 Oktober tahun 1934 di Semarang. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, 1991)

Perkumpulan itu bergerak di bidang sosial dan agama. Namun, pada tahun 1937 dalam kongresnya PAI memasuki juga jalur politik. Organisasi itu mendukung cita-cita orang Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, sejajar dengan Belanda, dan menentukan nasib sendiri dalam hubungan Rijksverband Nederland.

Pada tahun 1939 PAI sudah tersebar di seluruh Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, Maluku dsb. Di mana terdapat kelompok keturunan Arab, di situ berdiri  PAI.

Pada tahun pertama berdirinya PAI dipimpin oleh AR. Baswedan. Dan untuk menghindari perpecahan dalam tubuh PAI, organisasi ini tidak menggunakan gelar “sayid”, dan sebagai ganti perkataan “saudara”. Yang menjadi dasar adalah bahwa orang Islam itu bersaudara. Juga sudah umum perkataan itu di kalangan pergerakan Indonesia.

Untuk menyebarkan ide-ide yang diusung PAI, seorang pemuka PAI di Surabaya Hoesin Bafaqih mendirikan majalah Aliran Baroe, yang sehaluan dengan majalah al-Manar yang terbit di Mesir. (Hamid al-Gadri, Islam dan Keturunan Arab, 1996)

Bogor, 20-1-2020

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Meminjam Buku

P_20200211_063318_1_1

Meminjam buku adalah hal yang sudah biasa bagi kalangan pelajar, mahasiswa atau siapapun yang ingin membuat karya tulis. Biasanya tempat untuk meminjam perpustakaan. Tapi ada juga, dilakukan pelajar atau mahasiswa meminjam buku kepada teman.

Jika teman itu koleksi bukunya banyak ia akan mencatat siapa yang meminjam, seperti pada umumnya perpustakaan.

Seringkali ada seorang teman pinjam buku kepada temannya tapi tidak mengembalikannya hingga mereka berpisah dari sekolah atau perguruan tinggi. Hal itu tentu pernah kita alami. Sangat kecewa tentu jika buku-buku itu sudah tidak terbit lagi atau menjadi barang langka.

Dikisahkan, ada sebuah pondok modern yang memiliki perpustakaan dengan administrasi yang baik, semua buku pinjaman tercatat, termasuk ketika santri lulus pulang ke rumah perpustakaan itu menyuratinya untuk mengembalikan buku pinjaman.

Diberitakan di media, ada buku yang sudah seabad tidak kembali, dan akhirnya buku itu dikembalikan ke perpustakaan. Tentu buku tidak bisa pulang sendiri ke rumahnya bukan?…

Mungkin ada banyak faktor seseorang tidak bisa mengembalikan pinjaman buku, tapi apapun faktor itu, pinjaman adalah pinjaman yang harus dikembalikan. Jika pinjaman itu hilang maka si peminjam harus menggantinya dan bukan lepas dari tanggung jawab.

Pinjaman adalah hutang yang harus dilunasi atau dikembalikan si peminjam. Ini acuan moralnya. Jika ia tidak mengembalikan maka hutang itu akan ditagih nanti. Jika ia mengembalikan pinjaman itu hati menjadi ringan tak ada beban…

photo1575
Pusat Dok Sastra HB Jassin Taman Ismail Marzuki Jakarta (dok.pribadi)

Cibinong, 12-1-2020

Catatan:

Universitas atau pt kepada  mahasiswanya  mewajibkan meminta keterangan bebas pinjaman buku dari perpustakaan ketika akan lulus. Sesama teman biasanya hanya berdasar saling percaya…

Dipublikasi di Buku | Tag , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

Shopping Center 1992

Ketika itu temanku baru saja dari Yogya membawa buku Bumi Manusia, Sang Pemula karya Pram, Capita Selekta tulisan M Natsir serta buku-buku lain. Ia bercerita tentang kakanya yang belajar di Yogyakarta sekitar tahun 90-an. Aku jadi tertarik sekali dengan ceritanya itu. Aku sempat memoto copi buku Sang Pemula. Buku ini mengisahkan tentang Tirto Adisuryo sebagai wartawan yang juga menulis cerita pendek. Waktu itu buku-buku karya tahanan politik semacam itu dilarang beredar.

Ketika 1992 aku menginjakkan kaki di Yogya aku merasa senang. Suasana sebagai kota pelajar dan juga budaya begitu terasa. Banyak kajian, bedah buku, baca puisi dan juga pameran seni.

Tempat mencari buku paling populer di Yogya ada beberapa tempat, salah satunya pasar buku Shopping Center dekat perempatan kota, dekat ke Malioboro. Buku-buku baru dan bekas banyak dijual di sana, bahkan kliping koran pun banyak dijual. Hanya buku-buku terlarang sulit didapatkan. Mungkin stoknya habis. Atau mungkin disita aparat.

Jika kita membeli buku di pasar itu penjual memberikan diskon cukup besar. Tidak seperti toko buku umumnya. Waktu itu masih jarang buku-buku bajakan. Jika buku itu langka karena tidak terbit lagi biasanya para mahasiswa memperbanyak dengan memotocopi, baik untuk dijadikan rujukan karya tulis ataupun koleksi pribadi.

Untuk mencapai pasar buku Shopping Center waktu itu orang bisa menggunakan angkutan umum, sepeda, atau motor, melalui Jalan Adi Sucipto atau Timoho ke Kusumanegara (Jika tinggal di daerah dekat Jl Adi Sucipto-Timoho).

Depok, 7-1-2020

Dipublikasi di kisah | Tag , , , , , , , , | 3 Komentar

Puisi Iqbal

Kehidupan adalah gerak maju,

Hukum semacam inilah yang mengatur dunia,

Dalam perjalanan ini tak mungkin berhenti,

Tinggal diam berarti mati.

***

Hidup adalah abadi, selalu gemetar, selalu muda,

***

Satu-satunya yang tetap di dunia ialah perubahan.

 

Iqbal

 

Ia tulis puisi ini setelah melanglang buana di dunia Barat, ketika ia melanjutkan pendidikannya di Inggris dan kemudian di Jerman.

1-1-2020

Dipublikasi di puisi | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Manusia dalam Pandangan Iqbal

Sekilas Tentang Muhammad Iqbal

            Iqbal dilahirkan dari keturunan orang tua yang shaleh, yang bekerja untuk agama dan kehidupan. Muhammad Iqbal lahir pada 22 Februari 1873  M/ 24 Dzul Hijjah 1289 H di Sialkot, Punjab India (sebelum negara Pakistan lahir).

Ia memulai pendidikan pertamanya pada ayahnya, lalu ia belajar Al-Quran dan menghafalnya. Setelah itu Iqbal dibawa ayahnya belajar pada Mir Hasan. Seorang guru yang sastrawan dan menguasai bahasa Persia serta pandai bahasa Arab. Ia banyak memberi dorongan pada Iqbal. Karena Mir tahu akan kecerdasan dan daya imajinasi muridnya ia menyarankan kepada anak itu untuk menggubah sajak dalam bahasa Urdu.

Tahun 1897  ia menyelesaikan pendidikan BA. Terutama nilai bahasa Arab dan bahasa Inggris terbaik. Setelah itu atas saran gurunya Sir Thomas Arnold, Iqbal berangkat ke Eropa.  Tahun 1905 ia menuju Delhi lalu ke Bombay dan kemudian ia bertolak ke Inggris, dengan diantar oleh para sahabatnya. Namun, sebelum pergi ia menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Nizhamuddin Aulia.

Di Inggris ia masuk Universitas Cambidge untuk belajar filsafat di bawah bimbingan Dr. McTaggart. Dari universitas ini ia memperoleh gelar  di bidang filsafat moral. Lalu ia belajar di Universitas Munich, Jerman. Sebelum memasuki universitas Munich ia belajar bahasa Jerman. Kelak disertasinya mengenai metafisika Persia. Buku itu dihadiahkan kepada gurunya, Thomas Arnold, dan kemudian diterbitkan di London.[1]

Dari pengalaman belajar di Eropa ia menjadi semakin matang sebagai pemikir.[2]

Iqbal tentang Manusia

          Iqbal adalah seorang filosof yang juga penyair. Memang tidak mudah menentukan apakah ia sebagai penyair-filosof atau seorang filosof-penyair.  Dari sekian karyanya hanya dua yang termasuk murni karya filsafat, seperti dikatakan oleh Sharif.[3] Namun, faktanya dapat dikatakan bahwa setiap penyair atau pemikir besar mengekspresikan ide yang sama dalam banyak cara.[4]

          Amir Syakib Arselan menyatakan bahwa Iqbal adalah pemikir terbesar yang pernah dilahirkan Islam. Ia seorang filosof dan penyair, dan keduanya terpadu tak dapat dipisahkan.[5]

Iqbal banyak menuangkan pemikirannya dalam tulisan. Pemikirannya mengalami perkembangan, di suatu saat ia menjadi pengagum salah seorang pemikir seperti ibn Arabi, tetapi pada saat kemudian ia menolak pemikiran tokoh yang dikaguminya tersebut.[6]

          Ia memiliki banyak perhatian, sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisannya atau dalam syair-syairnya. Tulisan ini membatasi pada pemikiran Iqbal mengenai manusia. Pandangan Iqbal tentang manusia tertuang dalam karya Asrari Khudi dan dalam tulisan tentang pemikiran keagamaan. Walaupun ia banyak merambah keilmuan Barat modern, namun ia banyak menyerap inspirasi dari Al-Quran.

          Menurut Iqbal seklipun manusia diberi potensi untuk mengaktualisasikan dirinya dalam ruang dan waktu, namun mereka dengan pilihan bebasnya akan berujung pada jalan bercabang dua: iman dan kafir. Seperti dalam syairnya:

          Tanda seorang kafir ialah bahwa ia larut dalam cakrawala;

Tanda seorang mukmin ialah bahwa cakrawala larut dalam dirinya

 

Seorang muslim tidak akan pernah kehilangan arah dalam menghadapi persoalan kemanusiaan. Ia teguh bagai karang dengan dibimbing iman.[7]

          Tentang manusia ia menekankan pada kepribadian (personal) manusia yang unik, yang berbeda dengan malaikat, bahwa ia menjadi memiliki derajat yang mulia karena kesadarannya untuk berbuat. Namun, perbuatan yang disertai tujuan.[8] Dalam istilah Iqbal pribadi itu khudi atau ego.

          Ketika ia mengulas mengenai manusia ia menggunakan pendekatan psikologi dan juga filsafat. Ia menulis: “Pengalaman batin adalah ego yang sedang bekerja. Kita menghargai ego itu sendiri di dalam kemampuannya mempersepsikan, membuat pertimbangan dan berkemauan. Kehidupan ego adalah semacam tegangan yang disebabkan oleh menyerbunya ego ke dalam suatu lingkungan dan menyerbunya lingkungan ke dalam ego. Ego tidak berdiri di luar arena pertempuran itu. Ego hadir di dalamnya sebagai suatu tenaga yang memberi pimpinan dan ia dibentuk serta mendapat disiplin karena pengalamannya sendiri. Mengenai fungsi ego yang memberi arah itu dipaparkan dengan jelas oleh Al-Quran: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh: jawblah, ruh itu berada di bawah Amr (perintah) Tuhanku, dan pengetahuan yang diberikan kepada kalian hanya sedikit sekali”.(QS Al-Isra: 85)[9]

          Amr di atas, kata Iqbal, memiliki arti bahwa kodrat esensial jiwa bersifat ‘memimpin’. Karena ia bertolak dari tenaga Tuhan yang bersifat ‘memimpin’.[10] Pengalaman manusia hanyalah rentetan tindakan-tindakan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan, dan seluruhnya diikat oleh satu tujuan yang bersifat memimpin, katanya lebih lanjut.[11]

          Iqbal banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat, seperti Nietzsche, Bergson dll, dan juga para pemikir Muslim mulai ibn Arabi, Rumi dan Jili mengenai manusia sempurna atau insan kamil.  Namun, tentu saja ia tidak serta merta mengikuti pemikiran mereka secara tidak kritis. Malahan dari hasil pengembaraan intelektualnya yang luas ia memperoleh suatu sintesa baru, seperti manusia Iqbal sendiri.[12]

          Mengenai manusia sempurna atau insan kamil yang diidealkan oleh Iqbal, yang telah banyak diungkap oleh banyak pemikir, adalah manusia yang eksistensi spiritualnya mengacu pada dan dibimbing oleh Al-Quran. Ia seperti Muslim pada umumnya, namun ia memiliki pandangan yang luas dan setia pada kebenaran-kebenaran yang abadi. Ia hidup untuk tujuan yang abadi.[13]

          Berkaitan dengan pemikirannya. “Pada hakikatnya filsafat Iqbal adalah filsafat ego. Menurut pendapatnya ego itu merupakan suatu realitas yang terang benderang.”[14]

Catatan Akhir

        Dari pembahasan di atas kita dapat memberikan catatan, bahwa pemikiran Iqbal bertumpu pada, apa yang disebut dengan, ‘filsafat ego’. Manusia menjadi berharga karena perjuangannya. Ego manusia harus berjuang menggapai masa depan yang menjadi cita-citanya. Oleh karena itu ia menolak tasawuf yang bersifat pasif, tanpa melakukan apapun dalam realitas ruang dan waktu.

Depok, 29-4-2011/19

Lu’ay

Rujukan

[1]  Abdul Wahhab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, (Bandung: Pustaka, 2001), terj. h. 25
[2]  Khalifah Abdul Halim,”Muhammad Iqbal” dalam Dimensi Manusia Menurut Iqbal, (Surabaya: Usaha Nasional, tt.). terj. h.25
[3]  Iqbal as a Thinker, Essays by Eminent Scolars, (Lahore: S Ashraf, 1952), h. 107; lihat juga tulisan MM. Sharif, Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan, (Bandung: Mizan, 1984), terj. h. 26
[4]  Iqbal as.,h.131
[5]  SA. Vahid, “Iqbal seorang Pemikir” dalam Dimensi Manusia Menurut Iqbal, (Surabaya:   Usaha Nasional, tt.). terj. h. 31
[6]  M. Iqbal, Metafisika Persia, (Bandung: Mizan, 1990), terj. h. 14-15
[7]  A. Syafii Ma’arif. Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1993), h. 72
[8]  Ibid., 73
[9]  M. Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, (Jakarta: Tintamas, 191982). Terj. (Ali Audah, T Ismail, G Mohamad), h. 113; lihat juga Sir M Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Sh Ashraf, 1954), h. 103
[10]  Ibid., 113
[11]  Ibid., 114
[12]  John L Esposito (ed.), Dinamika Kebangunan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), terj.
[13] Abul Hasan Ali al-Husni al-Nadwi, Percikan Kegeniusan Muhammad Iqbal, (Bandung: Intergrita Press, 1984), trj. h.84-85
[14] SA. Vahid, “Iqbal seorang Pemikir” h. 31; baca juga Dr. M Iqbal Asrari Khudi, Rahasia-Rahasia Pribadi, (Jakarta: BBintang, 1976), uraian dan terjemahan Bahrum Rangkuti, h. 25
Dipublikasi di Tokoh | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Quotes

“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for exiting”.

 

“Hal yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya”. 

“Kita harus mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi, dan bukan mencari apa yang menurut kita sebaiknya terjadi”. 

 Albert Einstein

 

 

Dipublikasi di Tokoh | Tag , | Meninggalkan komentar