lessons from history

“Masa sebelum kita juga memerlukan perhatian khusus. Al-Qur’an memberikan pertimbangan khusus pada sejarah dan penuh dengan ayat-ayat terkait sejarah. Namun, sejarah yang dituturkan dalam Al-Qur’an tidaklah seperti yang kita ketahui, yaitu berupa analisis kronologis dan mendetail tentang peristiwa dan tokoh, kisah mendalam tentang masa-masa silam yang baik dan buruk. Sebaliknya, Al-Qur’an menggunakan sejarah sebagai panduan bagi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi manusia pada masa depan. Al-Qur’an selalu menekankan pada pelajaran yang bisa ditarik dari kisah-kisah sejarah. Ayat indah pendek berikut ini di awal surat al-fajr  (Fajar) menjadi satu contoh bagus:

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad atau Iram, yang memiliki bangunan tinggi yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir’aun yang kuat dan perkasa? Semuanya berbuat banyak kerusakan di negeri mereka. Karena itu, Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS al-fajr: 6-14)

Surat ini berlanjut membandingkan sejarah dengan sifat manusia. Tema utamanya adalah bagaimana kezaliman, keserakahan, dan cinta harta menghancurkan manusia, tempat-tempat, kebudayaan, dan peradaban.”  

Ziauddin Sardar

5-8-2022

(lessons from history
This letter continues to compare history with human nature. The main theme is how tyranny, greed, and love of wealth destroy people, places, cultures, and civilizations.)
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Einstein

I would teach peace rather than war. I would inculcate love rather than hate.

(Saya akan mengajarkan perdamaian daripada perang. Saya akan menanamkan cinta daripada kebencian.)

2-6-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Ketika ibumu melahirkanmu,

Engkau menangis menjerit,

sementara orang-orang di sekelilingmu,

tertawa bahagia…

Maka berusahalah untuk dirimu,

ketika ajal menjemput,

di saat orang-orang di sekelilingmu,

menangis sedih,

Ruhmu tersenyum gembira…”

Ali bin Abi Thalib, ra

15-4-2022

"When your mother gave birth to you,
You cry scream,
while the people around you,
happy laugh...
So try for yourself
when death comes,
when the people around you,
sad cry,
Your spirit smiles happily…”
Dipublikasi di Kata-Kata Bijak | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Tentang Perspektif Sejarah

“Bagi Barat, sejarah secara umum berarti suatu perjalanan dan evolusi dari berbagai masyarakat yang diberi lebel ‘primitif’ menuju masyarakat terindustrialisasi, urbanisasi, dan ‘canggih’. Berbagai gelombang dan siklus mungkin menunda, namun tidak menghentikan gerak langkah sejarah. Karenanya sejarah merupakan kemenangan individual, titik puncak pencapaian manusia untuk menguasai lingkungan mereka. Kesadaran akan suatu perjalanan, perkembangan dan perbaikan merupakan suatu bagian integral dari cara pandang ini.

…perspektif muslim terhadap sejarah berakar pada masa-masa awal Islam. Pada suatu pandangan ini terdapat iman. Pada masa awal-awal Islam, muslim percaya dengan sepenuh keimanan dan keyakinan; mereka begitu bersemangat untuk menyebarkan kalimat-kalimat Tuhan, dan Tuhan memberikan kepada mereka kemenangan-kemenangan yang jarang tandingannya di dalam sejarah. Sejarah bagi Muslim adalah upaya untuk hidup dengan nilai-nilai Islam semaksimal mungkin. Upaya inilah yang menciptakan berbagai ritme dan tegangan pada sejarah  dan masyarakat Muslim; ia juga menyebabkan kebangkitan dan keruntuhan berbagai dinasti. Sejarah karenanya merupakan sebuah beban dan kadang-kadang sumber inspirasi. Tetapi karena sejarah tidak pernah jauh dari kehidupan Muslim, ia memungkinkan Muslim menanggung kegagalan-kegagalan nasib. Sejarah memungkinkan mekanisme optimisme yang inheren; sebab jika ada kegagalan di waktu sekarang maka pasti—pada saat Muslim kembali hidup berdasarkan nilai-nilai Islam—akan ada kemenangan esok hari”. Akbar S Ahmed

14-4-2022

(Various waves and cycles may delay, but do not stop the march of history. Hence history is the triumph of the individual, the culmination of man's attainment of mastery of their environment.
History allows for an inherently optimistic mechanism; because if there is failure today then surely—when Muslims return to living based on Islamic values—there will be victory tomorrow.)
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Andalusia, Dulu dan Kini

al hambra/ pb

Hati nurani yang suci menangis, dirundung rasa sedih,

seperti orang yang dilanda cinta, menangisi kepergian sang kekasih

Menangisi rumah-rumah yang kering dari siraman kedamaian Islam,

sementara kekafiran tumbuh dengan subur

Masjid-masjid yang megah dan anggun berubah menjadi gereja-gereja tua yang kosong,

kecuali hanya lonceng dan lambang salib sebagai tuannya

Mihrab-mihrab pun, benda mati yang tak bergerak, turut menangis,

demikian juga mimbar-mimbar, yang hanya berupa bongkahan kayu,

meratap dan merindukannya     (Abul Biqai al-Barmadi)

Negeri itu yang kemudian dinamakan Andalusia dimasuki oleh bangsa Arab di bawah pimpinan Musa ibn Nushair dan sahayanya Thariq ibn Ziyad dengan pasukannya tahun 711 M. Thariq ibn Ziyad yang kemudian dijadikan nama selat, Gibraltar. Kedatangannya ini bukanlah invasi langsung tapi atas permintaan dari satu faksi pangeran Kristen yang saling berperang. Wilayah Spanyol selatan dalam kekacauan di bawah pemerintahan Visigothik. Bangsa Arab menyebutnya al-Andalus, nama yang diberikan kepada kaum Vandal, yang bermukim di kawasan tersebut.

Ketika dinasti Abbasiyah merebut Damaskus kekuasaan Umayah ambruk, salah satu  keluarga Umayah ada yang melarikan diri, Abdurrahman I (Abdurrahman ad-Dakhil). Ia masuk ke Andalusia dan mendirikan suatu dinasti yang berpusat di Cordoba. Ia tidak memakai sebutan khalifah tapi gelar amir. Ia menata kekuasaanya dengan tertib dan maju. Dari amir-amir Bani Umayah ada tiga nama yang mempunyai kemiripan nama di antaranya, Abdurrahman I yang bergelar ad-Dakhil (yang masuk), Abdurrahman II yang bergelar al-Ausath (yang pertengahan), dan Abdurrahman III yang bergelar an-Nashir (yang membela). Pada saat Abdurrahman III mendengar bahwa penguasa Bani Abbas yang bergelar al-Muqtadir mati dibunuh ia mengumumkan dan menyebut dengan Amirul Mu’minin. Di masa pemerintahan Abdurahman III (912-961 M) Cordoba menjadi kota paling gemilang di Eropa. Ia membangun peradaban sehingga negeri Andalusia menjadi pusat kebudayaan, kesusastraan dan ilmu pengetahuan. Juga dari sana muncul banyak filosof  dan terkenal namanya. (Hamka, h. 221)

“Jika kita mendefinisikan suatu masyarakat beradab sebagai masyarakat yang menganjurkan toleransi agama dan etnis, debat bebas, perpustakaan dan universitas, tempat-tempat mandi umum dan taman, puisi dan arsitektur, maka Spanyol Muslim merupakan contoh yang baik. Ambil contoh perpustakaan, selalu menjadi indeks peradaban yang bermanfaat. Perpustakaan pemerintah Cordoba di abad kesepuluh berisi 400.000 volume—konon, lebih banyak dari jumlah semua koleksi perpustakaan di seluruh Eropa pada waktu itu.” (Akbar, h. 107)

Pada abad itu London dan Paris adalah kota-kota kecil. Tidak ada seni, sastra  atau debat yang dikenal di kawasan Eropa.

Dalam sejarahnya Andalusia melalui periode pemerintahan, yang dipimpin di antaranya: pemerintahan Umawiyah sampai tahun 138 H, periode Bani Umayyah tahun 316 H, periode khilafah tahun 422 H, dan periode Thawaa’if (golongan suku atau bangsa) sampai tahun 479 H.

Sepeninggal Abdurrahman III, beberapa pemerintahan berlalu, di masa pemerintahan al-Mansur, Perdana menteri Hisyam II (961-976 M) menaklukkan seluruh semenanjung Iberia.

Setelah melewati waktu beberapa abad dan silih bergantinya pemerintahan serta terjadi konflik di dalamnya, maka kesatuan umat terpecah-pecah. Dalam keadaan seperti itu musuh dari luar, terutama dari utara, dengan mudah mengambil wilayah Muslim sedikit demi sedikit.

Pada masa ini ada pejuang terkenal Rodrigo Diaz, yang dikenal dengan El Cid, yang berarti “tuan”, berasal dari bahasa Arab as-sayyid. Ia berjuang di pihak Kristen; bergabung dengan tentara Muslim; di lain waktu membantu Muslim memerangi pesaingnya; dan membantu kerajaan Kristen juga memerangi pesaingnya. Terakhir, ia menjadi penguasa Valensia yang menjadi tempat bagi Kristen dan Muslim secara damai hingga akhir hayatnya.(Bauer, h. 711-729)

Akhirnya Granada jatuh pada tahun 1492 M, dan para pendeta Kristen memberikan kepada orang-orang Muslim dan Yahudi pilihan, berpindah agama (menjadi Kristen) atau meninggalkan tanah itu. Sebenarnya, pilihan pertama pun tidak aman yang pada akhirnya mereka akan dibunuh juga, dibakar di atas bara api. Berbagai macam siksaan mengerikan dilaksanakan oleh pihak gereja terhadap kaum Muslim.

Usaha para pendeta untuk mengeluarkan orang-orang Muslim (murtad) dari agamanya ternyata tidaklah mudah, sehingga pemerintah dan gereja memutuskan untuk mengkristenkan mereka dengan cara paksa, dengan kekuasaan dan penindasan. Pilihan itu diputuskan oleh Isabella dari Castilla dan Ferdinand dari Aragon. Wilayah itu dibersihkan dari nama dan sebutan “muslimin”, kecuali dengan nama kristen baru atau Moorish. (Himayah, h. 9)

Oleh karena itu orang-orang Muslim menyembunyikan keislaman mereka (taqiyyah), juga mereka melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Para ulama berupaya mengajarkan dan menanamkan ajaran Islam kepada mereka. Buku-buku ditulis dengan bahasa lokal menggunakan huruf Arab.

Di saat pemerintahan terakhir jatuh, sebenarnya kaum Muslim masih mengadakan perlawanan, namun jumlah dan kekuatan mereka tak seimbang dengan musuh, yang akhirnya mereka kalah. Juga mereka berusaha meminta bantuan penguasa Maroko, Afrika Utara dan kerajaan Utmani, tapi tidak ada yang menanggapi.

Dikatakan, jumlah warga Moorish dari tahun 1609 M- 1614 M yang terusir dari Spanyol sekitar 327 ribu jiwa, 195 ribu dari Aragon dan 132 ribu jiwa dari Castilla. Mengenai jumlah ini memang para sejarawan berselisih pendapat,  namun tidak jauh dari jumlah itu.

Tanah-tanah dan harta benda yang mereka tinggalkan dibagi-bagikan, untuk pihak gereja dan para pembesar pemerintahan. Pada abad ke-18 dan ke-19 tanah-tanah tersebut dibagi-bagikan kepada Prancis dan Inggris, sehingga tinggal sedikit tanah Andalusia yang tersisa di tangan pemiliknya. (Himayah, h. 22)

Andalusia Kini

Adalah Prof. Valas Anfanty sebagai guru ruhani dan pemikir bagi kebangkitan Andalusia modern. Ia lahir pada tahun 1885 M. Pada tahun 1920 ia menemukan sebuah buku tentang raja terakhir Sevilla, Mu’tamid bin Ibad. Lalu pada tahun 1923 M ia berziarah ke makamnya di wilayah Agmat, Maroko, melalui proses yang berliku dan ia memeluk Islam di sana.

Sejak ia memeluk Islam ia memiliki berbagai aktivitas dan pemikiran-pemikiran berani dan cerdas tentang masa depan Andalusia. Ia mengatakan, “Tujuan kita adalah membebaskan warga Andalusia, jiwa, dan ekonominya”. Ia terus berjuang untuk kebebasan warga Andalusia. Dalam bukunya “Fondasi-fondasi Andalusia” (Asasiyat al-Andalus) ia menulis, “Untuk menghidupkan Andalusia kembali kita harus memperhatikan dasar-dasar dan tujuan  sebagai berikut:

1. dasar keislaman yang mutlak;

2. tujuan pandangan ruhani;

3. tujuan ekonomi; dan

4. tujuan politik.”

Kemudian ia merinci dasar dan tujuan itu secara detail. Oleh karena hal itu pada tahun 1936 M ia dieksekusi hukuman mati oleh pemerintah Spanyol.

Setelah melewati masa kediktarotan Franko, lalu tahun 1980 M Andalusia menerima kebebasannya. Para pemuda banyak yang mencari identitas dirinya melalui sejarah Andalusia. Antonio Medine Miller pada tahun 1981 M memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdurrahman Medine. Ia diikuti rekan-rekannya, dan para pemuda satu persatu mengikuti jejak mereka. Aktivitas keislaman mereka semakin berkembang. (ibid., h. 51)

Setelah Peristiwa Itu

Ketika nabi Muhammad Saw menang atas kaum Quraisy Makkah (fathul Makkah), mereka semua tidak ditahan atau diperlakukan tidak manusiawi dan apalagi dibantai juga tidak dipaksa memeluk Islam, tapi mereka dimaafkan, bebas. Hal itu menjadi teladan bagi para panglima di kemudian hari. Begitu juga Salahuddin al-Ayubi ketika menang atas kaum Kristen tidak memperlakukan musuh yang sudah kalah dengan semena-mena.

Tapi berbeda jika kaum Muslim yang kalah dalam perang. Meraka menjadi tawanan, disiksa atau dibantai dengan sadis.

“Dan kekejaman-kekejaman yang tak terpikirkan, penghancuran dan penghinaan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan salib yang ‘suci-suci’ itu pada negeri-negeri Islam, mereka menaklukkannya dan sesudah itu mereka kalah, timbullah bibit-bibit beracun dari permusuhan panjang yang mulai saat itu memahitkan hubungan antara Timur dan Barat.”

Di pihak kaum Muslimin selalu ada harapan ikhlas untuk toleransi dan respek.’ Ketika Harun al-Rasyid mengirimkan dutanya kepada Kaisar Karel, terutama ia terdorong oleh hasrat ini, bukan ingin mengambil keuntungan material dari persahabatan dengan orang-orang Frank. Pada masa itu Eropa terlalu primitif dalam kulturnya untuk dapat menilai kesempatan ini secara penuh, tetapi jelas mereka tidak memperlihatkan rasa tak suka.”

“Tetapi, kemudian, secara tiba-tiba, peperangan salib muncul di cakrawala dan menghancurkan hubungan antara Islam dan Barat. Bukan kerena hal itu lumrah sebagai akibat peperangan: demikian banyak peperangan antara bangsa-bangsa, yang kemudian dilupakan dalam perjalanan sejarah umat manusia, dan sekian banyak permusuhan telah berubah menjadi persaudaraan. Tetapi, setan yang muncul dari peperangan salib tidak terbatas pada gemerincing pedang; setan itu pertama dan terutama berupa setan intelektual. ‘Kejahatan itu berupa peracunan pikiran Barat terhadap dunia Islam melalui penyalahtafsiran yang dilakukan dengan sengaja, yang ditempa oleh gereja terhadap ajaran-ajaran Islam.’ (Asad, h. 49)

Cibinong, 4-4-2022

Sumber:

Ahmad Mahmud Himayah, Kebangkitan Islam di Andalusia, (Jakarta, GIP, 2004), terj.

Akbar S. Ahmed, Living Islam, (Bdng, Mizan, 1997), terj.

Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta, GIP, 2016)

Susan Wise Bauer, Sej. Dunia Abad Pertengahan, (Jakarta, Elex, 2019), terj.

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Penulis 100 Tokoh

wk

Penulis buku seratus tokoh yang mempengaruhi dunia, Michael Hart, dalam pengantar bukunya memberikan beberapa alasan mengapa seorang tokoh dimasukkan dalam entri biografi bukunya. Ia membuat pertanyaan, “Dari sekian milyar manusia yang pernah lahir di dunia, siapa di antara mereka yang punya pengaruh terhadap jalannya sejarah?”

Jawaban dari pertanyaan itu adalah bukunya. Di antara alasannya, yang berpengaruh dan pengaruh itu masih bertahan hingga kini, tokoh itu baik atau pun jahat. Secara individu ia mempunyai peran penting terhadap perubahan. Penulis dalam buku itu menempatkan nabi Muhammad Saw dalam urutan pertama sebab ia memiliki pengaruh pribadi lebih besar dalam membina tersebernya Islam dari pada nabi Isa. Nabi Muhammad Saw berperan lebih penting dalam menyebarkan dan bertanggung jawab terhadap agama Islam dan juga termasuk terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Nabi Muhammad bukan hanya sebagai pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi, yang pengaruh kepemimpinan politiknya mampu mendorong terhadap gerak penaklukkan yang dilakukan bangsa Arab. Nabi Isa walaupun memiliki pengaruh luas dan penganut lebih banyak dibanding Islam, tapi ia bukanlah tokoh yang berperan langsung menyebarkan agama Nasrani, yang justru berperan langsung adalah Paulus. Nabi Isa meletakkan dasar-dasar pokok etika kekristenan, sedangkan Paulus merupakan penganjur agar orang-orang memeluk agama Nasrani.

Sahabat nabi Muhammad saw yang termasuk dalam buku itu adalah Umar bin Khattab, walaupun pada awal kehidupannya sebagai musuh Nabi Saw, tapi setelah menjadi Muslim ia menjadi pembela Islam yang gigih. Di samping itu Umar juga banyak membebaskan wilayah-wilayah yang dikuasai Romawi dan Persia.

Penulis membandingkan, satu-satunya kemiripan luasnya penaklukkan yang sebanding dengan bangsa Arab adalah yang dilakukan Jengis Khan pada abad ke-13, tapi itu tidak bertahan lama dan kini satu-satunya daerah yang diduduki bangsa Mongol wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.

Tapi penulis tidak membandingkan dengan luasnya kolonialisme yang dilakukan Eropa terhadap Asia, Afrika dan Pasifik. Dampak kerusakannya hingga kini masih membekas, baik terhadap alam, lingkungan maupun budaya. Tentu di sana ada tokoh kunci yang menggerakkan itu semua.

Keterangan ini berdasar buku terjemahan bahasa Indonesia (Terj. Mahbub Junaedi) dari karya Michael Hart. Dalam bahasa Inggris Muhammad Saw ditulis sebagai penulis al-Qur’an (autor). Tentu saja Hart menulis 100 tokoh itu berdasar sudut pandang pribadinya, seperti sebagian alasan yang telah disebutkan di atas.

Banyak juga beberapa penulis yang menulis mengenai tokoh berdasarkan kriteria tertentu, misalnya pahlawan, ilmuwan, sastrawan, sufi dan filosof, tokoh agama dan sebagainya. Juga ada yang menulis buku khusus sastrawan berdasar urutan kelahiran, atau sesuai abjad, dan sebagainya. Tapi kebanyakan tulisan itu relatif tidak mempertimbangkan alasan pengaruhnya, luas atau tidak.

31-3-2022

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , | 2 Komentar

Dunia dan Pemimpin

“Apabila para pemegang kepemimpinan dunia itu cacat agama dan latar belakang kependidikannya, maka aspek-aspek kepribadian pemimpin  yang cacat itu akan membawa dampak yang negatif pula pada peradaban kemanusiaan secara luas. Cacat dalam kepribadian pemimpin akan meluas dalam pelbagai bentuk dan beragam motif. Apabila dunia ini di bawah hegemoni bangsa-bangsa manusia yang hanya percaya pada aspek materi dalam diri manusia, hanya berorientasi pada pemenuhan kesenangan dan kepuasan jasmani, bangsa-bangsa yang hanya bekerja untuk kehidupan dunia semata, dan tidak beriman pada adanya kehidupan lain sesudah mati, maka dengan demikian, perangai, falsafah hidup dan kecenderungan bangsa-bangsa penguasa itu akan mempengaruhi bentuk dan karakter peradaban dunia.” Abul Hasan Ali Nadwi

(If the holders of world leadership are religiously disabled and have educational backgrounds, then the personality aspects of these flawed leaders will also have a negative impact on human civilization at large.)

19-3-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes about Future

“Sesungguhnyalah keberhasilan kita dalam menangani masalah-masalah masa kini akan menuntun kepada masalah-masalah baru pada masa mendatang.”       Ziauddin Sardar

(Indeed, our success in dealing with the problems of the present will lead to new problems in the future.)

14-3-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Piagam Madinah

Piagam Madinah ini riwayat dari Ibn Hisyam diriwayatkan dari Ibn Ishaq tanpa adanya beberapa bagian ke dalam beberapa pasal. Yang melakukan pembagian ini agar mudah dipahami sebagai dokumen politik agar jelas makna dan nilainya, adalah Dr. Muhammad Humaidillah al-Haidar Abadi al-Hindi.

Piagam ini adalah hasil musyawarah antara Rasulullah Saw dengan para sahabat dan ketika mereka bersepakat, maka Nabi Muhammad Saw mendiktekan redaksinya kepada Ali ibn Abi Thalib. Ali adalah penulis dan saksi yang adil yang tidak mungkin mengganti atau mengubah redaksi. Dia orang yang bisa dipercaya, sehingga dipercaya semua orang.

Piagam ini ditulis dalam beberapa tahap dan karena itu para peneliti menyebutnya beberapa dokumen.

Bismillahirrahmanirrahim

(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

  1. Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah Saw di kalangan kaum mukminin dan kaum Muslimin (yang berasal) Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.
  2. Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia lain.
  3. Kaum muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara kaum mukminin.
    1. Bani ‘Auf sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    2. Bani Sa’idah sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    3. Bani al-Haris sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    4. Bani Jusyam sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    5. Bani Najjar sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    6. Bani Amr ibn ‘Auf sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    7. Bani al-Nabit sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
    8. Bani al-‘Aws sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara kaum mukminin.
  4. Sesungguhnya mukminin tidak membiarkan orang yang berat menaggung utang di antara mereka tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.
  5. Seorang mukmin tidak boleh membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan darinya.
  6. Orang-orang mukmin yang takwa harus menentang orang yang di antara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara dzalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan kaum mukminin.
  7. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.
  8. Seorang mukmin tidak boleh membunuh mukmin lainnya lantara membunuh orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang mukmin.
  9. Jaminan Allah satu dan jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat.
  10. Sesungguhnya kaum mukminin itu saling membantu, tidak tergantung kepada golongan lain.
  11. Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (kaum mukmin) tidak terdhalimi dan ditentang olehnya.
  12. Perdamaian kaum mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mikmin lainnya di dalam satu pererangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.
  13. Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu-membahu satu sama lain.
  14. Kaum mukminin itu membalas pembunuh lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang mukmin dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.

Piagam Madinah ini ditulis di rumah Ummu Ummi Sulaim binti Milham (ibu Anas) yang menjadi tempat berkumpul kaum Muslimin dengan Rasulullah Saw.

1-3-2022

Sumber:

-Prof. Husain Mu’nis

-Dr. M Said Ramadhan al-Buthi

Dipublikasi di Politik, sejarah | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Para ahli sejarah dan sejarawan belum mampu mengungkapkan rahasia di balik keberhasilan baginda Nabi Muhammad Saw yang sangat gemilang dan spektakuler dalam mentransformasikan Arab Jahiliyah menjadi basis peradaban yang maju di bidang sosial, politik, ekonomi dan militer hanya dalam kurun 25 tahun. Apakah rahasia keberhasilan itu terletak pada posisinya sebagai Nabi? Tetapi, Tuhan sejak awal menyatakan dengan tegas bahwa Muhammad adalah manusia biasa yang sengaja diutus untuk diteladani, (QS 18: 110, QS 33: 21). Bukan malaikat, jin, bukan pula manusia setengah dewa melainkan manusia biasa yang menerima wahyu. Sudah pasti bahwa ajaran-ajaran yang dibawanya sebagaimana yang diabadikan dalam Kitab Suci al-Qur’an merupakan salah satu faktor penentu keberhasilannya. Namun tidak bisa pula dinafikan personality dan kepribadiannya yang begitu sempurna menurut perspektif nilai-nilai kemanusiaan.”

Dr. Muhammad Nursamad Kamba

22-2-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | Meninggalkan komentar