Quotes

“Hal yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya”. 

“Kita harus mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi, dan bukan mencari apa yang menurut kita sebaiknya terjadi”. 

 Albert Einstein

 

 

Dipublikasi di Tokoh | Tag , | Meninggalkan komentar

Goger Garaudy tentang Timur (Orient) dan Barat (Occident)

Hasil gambar untuk roger garaudy

“Begitulah apa yang terjadi pada masa lalu sehingga jika Barat dan Timur tidak menginsapi sejarah mereka bersama, jika mereka tidak mampu memandang dirinya sebagai suatu bagian dari pihak lain, dan masing-masing menjadi bagian dari suatu kesatuan, maka dialog antara Islam dan Kristen, antara Timur dan Barat hanya akan merupakan dialog antara dua orang yang sakit.

Perang tidak pernah menyelesaikan permasalahan. Sebaliknya, perang menimbulkan permasalahan. Karena masalah-masalah itu didasarkan atas pemikiran -pemikiran yang keliru, maka dengan sendirinya masalah-masalah tersebut tak dapat dipecahkan. Adapun yang mengenai Islam, penyerbuan Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 telah menimbulkan problema hubungan antara modernisme dan tradisi, dengan cara yang sangat jelek.

Sudah menjadi anggapan umum dalam sejarah kita bahwa masuknya Napoleon ke Mesir menjadi permulaan dan renaissance-nya dunia Arab Islam; dalam Islam yang sudah berabad-abad bertekuk lutut di bawah kezaliman Turki yang telah memberlakukan pemikiran dan tindakan, telah terbuka suatu lubang, suatu perspektif pembaruan atau modernisme.

Dengan cara penyajian yang begini, telah terjadi suatu campur aduk yang fatal (yang akibatnya masih terasa sampai saat ini) antara modernisasi dan westernisasi, bukan saja modernisme berarti Barat, akan tetapi merupakan Barat dalam arti yang terjelek yaitu kekuasaan dan kekuatan militer.”

Roger Garaudy, filosof Prancis

Depok, 31-10-2019

Dipublikasi di Dialog | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Menggagas Paradigma Profetik Islam

Berawal dari diskusi mengenai teologi di Yogyakarta. Dalam diskusi itu terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai teologi. Kelompok satu memaknai dalam pengertian konvensional, yakni ilmu kalam dan yang lain teologi transformatif yakni memaknai teologi sebagai penafsiran terhadap realitas dalam perspektif ketuhanan. Perbedaan itu yang cukup tajam dan sulit dipertmukan. Untuk mengatasi kemacetan itu Kuntowijoyo mengganti istilah teologi dengan ilmu sosial, sehingga teologi transformatif menjadi ilmu sosial transformatif.

Juga pemicu lain adalah Kongres Psikologi Islam di Solo (2003).

Gagasan Kuntowijoyo terinspirasi oleh tokoh pemikir Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy, dan beberapa ilmuwan lain yang tidak disebutkan. Ia lalu mengumpulkan gagasan-gagasan yang masih berserak dan mempublikasikannya. Dikatakan oleh Ahimsa–Putra “Apa yang dilakukan oleh Kuntowijoyo adalah sebuah langkah awal untuk mewujudkan sebuah paradigm Islam dalam sebuah jagad ilmu pengetahuan, yang sampai saat ini umumnya menggunakan basis paradigma dari dunia Barat.” (Ahimsa, h. 4)

Menurut Kuntowijoyo ilmu sosial transformatif adalah ilmu sosial yang didasarkan pada hasil “elaborasi ajaran-ajaran agama ke dalam bentuk suatu teori sosial”. Sasaran utamanya adalah “rekayasa untuk transformasi sosial. Oleh karena itu, ruang lingkupnya bukan pada aspek-aspek yang normatif seperti pada teologi, tetapi pada aspek-aspek yang empiris, historis, dan temporal”.

Ilmu sosial transformatif tidak hanya menjelaskan fenomena sosial namun juga berupaya mentransformasikannya. Ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa? Terhadap beberapa pertanyaan ini ilmu sosial transformatif tidak memberikan penjelasan. Oleh karena itu Kuntowijoyo lalu mengusulkan adanya ilmu-ilmu sosial profetik, yaitu ilmu-ilmu sosial “yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Oleh karena itu ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tetapi mengubah demi cita-cita etik dan profetik tertentu.”

Lalu basis etik dan profetik yang mana yang Kuntowijoyo gunakan? Sebagai seorang muslim ia menengok kepada Islam. Selama ini ilmu pengetahuan telah kehilangan spiritualitas, sebab ilmu pengetahuan yang kita warisi dari Barat tanpa basis agama. Agama yang membicarakan hal gaib bukan lagi sebagai urusan ilmu pengetahuan (sains).

Jika acuannya agama Islam sumber utamanya adalah al-Qur’an. Kuntowijoyo mengatakan “kita perlu memahami al-Qur’an sebagai paradigma”, sebagaimana paradigmanya Kuhn. Lebih lanjut ia katakan, “Dalam pengertian ini, paradigma al-Qur’an berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh al-Qur’an pertama-tama dengan tujuan agar kita memiliki “hikmah” yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif al-Qur’an, baik pada level moral maupun pada level sosial. Akan tetapi, konstruksi pengetahuan ini juga memungkinkan kita untuk merumuskan desain besar mengenai sistem Islam, termasuk dalam hal ini sistem ilmu pengetahuannya. Jadi, di samping memberikan gambaran aksiologis, paradigma al-Qur’an juga dapat berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis…” (h. 6)

Berkaitan dengan itu Roger Garaudy, sebagaimana dikutip Kuntowijoyo mengatakan bahwa filsafat Barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan sebab hanya terombang-ambing antara dua kubu, idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat Barat (filsafat kritis} itu lahir dari pertanyaan: bagaimana pengetahuan itu dimungkinkan. Dia menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” Garaudy berpendapat bahwa filsafat Barat sudah “membunuh” Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar “umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam dengan mengakui wahyu.”

Lalu bagaimana unsur-unsur wahyu itu dimasukan ke dalam sistem ilmu pengetahuan profetik? Kuntowijoyo menguraikannya di antaranya: Wahyu: Basis Epistemologis dan Implikasinya; Etika: Humanisme – Teosentris; Tujuan: Humanisasi, Pembebasan, Transedensi.

Ahimsa–Putra menelaah secara kritis beberapa kelemahan gagasan mengenai ilmu sosial profetik yang ingin dibangun oleh Kuntowijoyo yakni terletak pada tidak adanya konsepsi yang jelas tentang paradigma. Kelemahan inilah yang ia coba atasi jika kita ingin melanjutkan langkah Kuntowijoyo dalam membangun ilmu sosial profetik.

Ia paparkan menganai Paradigma dan unsur-unsurnya; Basis epetemologis profetik Islam; ; Etos paradigm profetik; Model paradigma profetik dan Implikasi paradigma profetik.

Ahimsa–Putra berbeda padangan mengenai paradigma profetik dengan Kuntowijoyo walau tidak seluruhnya. Kuntowijoyo lebih menekankan pada pengembangan ilmu sosial profetik sedangkan Ahimsa pada paradigmanya. Ilmu pengetahuan lebih luas daripada paradigma  karena ilmu pengetahuan mencakup objek material (yang dipelajari) dan objek formal (perspektif, paradigma), sedangkan paradigma hanya mencakup objek formal saja.

Ia lebih lanjut mengatakan bahwa pertama inti ilmu pengetahuan adalah paradigma. Kedua, paradigma lebih luwes daripada ilmu pengetahuan karena sebuah paradigma dapat dibawa kepada cabang ilmu pengetahuan manapun, sedangkan ilmu pengetahuan tidak. Ketiga, meskipun para ilmuwan di Indonesia sudah biasa menggunakan konsep paradigma, tetapi menurut Ahimsa belum pernah ada diskusi yang serius mengenai apa yang dimaksud dengan paradigma, sehingga penggunaan konsep paradigm masih simpang siur.

Depok, 26-10-2019

Lu’ay

_____________________

Sumber:

Shri Ahimsa-Putra, Paradigma Profetik Islam, (Yogya: Gama Pres, 2018)

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, (Bdng: Mizan, 1991)

Dipublikasi di Humaniora | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Diskusi Tentang Iqbal

Dr Muhammad Iqbal penyair-filosof Pakistan-001

 

“Muhammad Iqbal Pembangun Spiritual di Penjuru Dunia”

Di Gedung HB Jassin Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada 13 Sept 2019

Keynote speaker Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Abdul Salik Khan. Ia menguraikan mengenai biografi Iqbal dan perannya untuk berdirinya negara Pakistan.

Pembicara yang hadir Prof. Yunan Yusuf, Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) Dr. Masud M Nur dan Khan.

Dalam diskusi itu Prof. Yunan mengatakan bahwa syair-syair Iqbal bertumpu pada filsafat pribadi. Seperti dalam karyanya Asrari Khudi (Rahasia-rahasia Pribadi) yang diterjemahkan oleh Bahrum Rangkuti ke dalam bahasa Indonesia. Dikatakannya, khudi berasal dari huda.

Ia lama belajar dan tinggal di Barat, Inggris dan Jerman. Ia mempelajari kebudayaan Barat yang melahirkan kapitalisme dan komunisme. Melalui syair-syairnya ia kritik Barat. Ia tidak ingin kaum muslim mengikuti jalan yang ditempuh Barat.

Dr Masud mengatakan syair-syair dan puisi Iqbal  yang banyak dikenal di dunia Islam dan dunia umumnya banyak mengandung pesan spiritual.

Pembicara lain, Khan, mengungkapkan bahwa syair-syair Iqbal banyak dipelajari di banyak negara. Dalam suatu perkumpulan datang dari berbagai negara, Rusia, Cina dsb untuk membicarakan karya Iqbal.

Dalam karya-karyanya ia banyak terinspirasi al-Qur’an.

 

Bogor, 20-9-2019

Dipublikasi di diskusi | Tag , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Islam dan Kepemimpinan dalam Sejarah

Islam sebagai agama sudah disempurnakan sebagaimana dinyatakan dalam wahyu terakhir al-Quran. (Hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu… )  Umatnya dituntut untuk mempelajarinya (fardhu ‘ain). Setiap Muslim wajib mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Sebab dalam Islam tidak ada dominasi pemahaman agama oleh kalangan tertentu. Siapapun bisa menjadi ahli agama (ulama) jika ia mau dan mampu mempelajarinya. Juga tidak ada struktur kekuasaan keagamaan. Semua sejajar, sederajat, mengenai kualitas iman dan taqwa hanya Allah yang Maha Tahu.

Islam yang dipraktekkan oleh nabi Muhammad Saw dan sahabat sangat ideal. Dalam arti, apa yang diwahyukan dipraktekan oleh Nabi Saw. Sahabat patuh mengikuti apa yang dilakukan Nabi Saw walau dalam beberapa hal kadang mengikuti pendapat (ijtihad) sahabat. Umat Islam setelah periode  jauh dari kehidupan Nabi Saw dan para sahabat semakin berkurang pemahaman terhadap agamanya dan juga pelaksanaannya.

Lebih-lebih di zaman sekarang yang jauh dari masa Nabi Saw. Oleh karena jarak yang demikian jauh sekitar 15 abad lalu maka pemahaman dan pelaksanaan agama umat semakin kurang dan jauh dari ideal. Inilah fakta yang harus disadari oleh orang saat ini.

Jika kita lihat sejarah. Ketika khalifah Utsman bin Affan terbunuh oleh sekelompok orang ekstrim dan naiknya Ali ra menjadi khalifah terjadi krisis politik. Krisis politik ini dampaknya sangat jauh, dan mencabik-cabik kedaulatan Islam yang masih baru.

Zaman sahabat Ali bin Abi Thalib ra ada orang-orang yang hapal Qur’an yang disebut qurra, yang hanya hapal, namun pemahamannya sangat kurang. Akibatnya mereka sangat ekstrim dalam menentang Ali. Mereka keluar barisan pendukung Ali, yang kemudian disebut kaum Khawarij. Di samping kaum Khawarij ada Muawiyah, ketika itu gubernur Syam, yang menentang Ali ra. juga. Di sisi lain ada pendukung Ali ra yang disebut syiat. Muawiyah, walaupun dalam beberapa perang telah berjasa, namun ia termasuk kaum tulaqa. Kaum tulaqa ini adalah kaum kafir Quraisy yang setelah Makah dapat dibebaskan (fath) mereka semua bebas menentukan pilihan. Dan kemudian mereka masuk Islam karena sudah terjepit. Mereka masih terikat kepada tradisi Jahiliyah, masih fanatik kesukuan, yang pada masa selanjutnya mempengaruhi sejarah perkembangan Islam.

Di masa Muawiyah bin Abi Sufyan inilah kekuasaa diwariskan kepada anaknya, Yazid. Hingga akhirnya Ali ra terbunuh, maka dimulailah kepemimpinan dalam Islam berubah menjadi kerajaan atau dinasti, yang pergantiannya dilakukan secara turun temurun. Berbeda dengan masa sebelumnya, pergantian kepemimpinan melalui musyawarah (syura).

Depok, 29-8-2019

Rujukan

M Husain Haikal, Sej. Hidup Nabi Saw

Ali Audah, Ali bin Abi Thalib, (2005)

 

 

 

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“karena kekuatannya, kemampuannya untuk menenggelamkan realitas, menyederhanakan berbagai isu, dan ini yang mebahayakan, dan mempengaruhi berbagai peristiwa, media bagaikan iblis zaman ini, ada di mana-mana dan berkuasa; sebab dan akibat zeitgeist zaman posmodernis”.

Akbar S. Ahmed

Dipublikasi di Penulis, Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Beban Tas Anak Sekolah

Hasil gambar untuk anak sd bawa tas besar

Ini hanya ilustrasi

Sering saya mengantar anak pergi ke Sekolah (Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar). Jika dilihat tas anak-anak sekolah terlalu besar dan berat. Ukuran tasnya besar tidak proporsional dengan tubuhnya yang kecil dan bebannya berat.

Hal itu tentu harus diperhatikan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, misal Malaysia dan Singapura. Di dua negara itu beban Tas anak-anak sekolah dibatasi dan disesuaikan dengan ukuran tubuh dan kekuatannya.

Ada yang mengatakan bahwa beban berat pada anak akan menghambat pertumbuhan tubuhnya. Ini tentu sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu harus dicarikan solusi untuk jangka panjang atas persoalan itu.

29-7-2019

 

Dipublikasi di Indonesia, Pendidikan | Tag , , , , , | 2 Komentar