Quotes

“karena kekuatannya, kemampuannya untuk menenggelamkan realitas, menyederhanakan berbagai isu, dan ini yang mebahayakan, dan mempengaruhi berbagai peristiwa, media bagaikan iblis zaman ini, ada di mana-mana dan berkuasa; sebab dan akibat zeitgeist zaman posmodernis”.

Akbar S. Ahmed

Iklan
Dipublikasi di Penulis, Tokoh | Tag , , | Meninggalkan komentar

Beban Tas Anak Sekolah

Hasil gambar untuk anak sd bawa tas besar

Ini hanya ilustrasi

Sering saya mengantar anak pergi ke Sekolah (Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar). Jika dilihat tas anak-anak sekolah terlalu besar dan berat. Ukuran tasnya besar tidak proporsional dengan tubuhnya yang kecil dan bebannya berat.

Hal itu tentu harus diperhatikan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, misal Malaysia dan Singapura. Di dua negara itu beban Tas anak-anak sekolah dibatasi dan disesuaikan dengan ukuran tubuh dan kekuatannya.

Ada yang mengatakan bahwa beban berat pada anak akan menghambat pertumbuhan tubuhnya. Ini tentu sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu harus dicarikan solusi untuk jangka panjang atas persoalan itu.

29-7-2019

 

Dipublikasi di Indonesia, Pendidikan | Tag , , , , , | 2 Komentar

Quotes

“Masa lampau, masa sekarang dan masa depan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan . Mengenal masa lampau adalah suatu langkah untuk menentukan diagnosis yang tepat  masa sekarang serta mengatur masa yang akan datang. Sama halnya dengan pengetahuan seorang dokter mengenai masa lampau penyakit penderitanya, yakni langkah paling baik untuk membuat diagnosis serta cara pengobatannya.”

Dr. M Husain Haekal, penulis Sejarah Hidup Muhammad Saw ( Hayaatu Muhammad).

Dipublikasi di Belajar Sejarah | Tag , | 2 Komentar

Quotes

 “Jika tidak ada agama Islam di Indonesia ini, niscaya akan lenyaplah kebangsaan Indonesia dari kepulauan ini, karena derasnya arus paham kebaratan. Memang kebangsaan Indonesia akan tetap juga di Indonesia, akan tetapi kebangsaan itu tidak asli lagi”.

Dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, pada kongres PUSA di Kutaraja KH A Wachid Hasyim mengutip Douwes Dekker (Dr. Setia Budi)

Dipublikasi di Belajar Sejarah, Indonesia | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah

Perpustakaan Medayu Agung dibentuk dari kenangan dan pengalaman pribadi sang pemilik, Oei Hiem Hwie, demi membangun sejarah yang lebih besar.

Sumber: Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah

Dipublikasi di Belajar Sejarah, Indonesia, sejarah | Meninggalkan komentar

Bangsa Indonesia

 

 

2015-12-06 17.07.58

Karya Muchtar Lubis

Buku ini karya Muchtar Lubis dari bahan ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta pada tanggal 30 Januari 1978.

Siapa bangsa Indonesia? Dalam sejarah bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa pedagang dan pelaut. Jalur perdagangan di masa kuno antara kawasan Asia dan Asia Tengah bahkan sampai Eropa. Disinggung oleh Marco Polo, bahwa ada tiga jalur perdagangan, jalur utara menyusuri Laut Hitam di Asia, sampai Bizantum dan Asia Minor, lalu jalur tengah yang menyeberangi sungai Eufrat mencapai kota-kota di Siria, dan jalur selatan yang mencapai Mesir melaui Laut Merah dan Sungai Nil, Bukhara, Samarkan, Bactra, Smirna, Petra, Antiok, dan Loyang (Tiongkok), sebagai kota yang terkenal dalam perdagangan internasional masa itu.

Peran bangsa Indonesia dalam perdagangan internasional itu muncul bukan hanya dari inisiatif sendiri, namun juga ada pengaruh dari perkembangan di kawasan Asia.

Ketika jalur daratan antara Asia dengan Asia Tengah dan Eropa terganggu karena perang mereka mengikuti jalur perdagangan melalui lautan. Aktivitas orang Indonesia dalam pelayaran dan perdagangan menyeberangi Samudra Hindia sampai pantai timur Afrika.

Mereka berlayar dengan perahu cadik. Barang dagangan yang penting yang dibawa oleh perahu layar Indonesia ke Madagaskar dan timur Afrika, diantaranya kayu manis.

Mereka berlayar ribuan mil jauhnya, menghadang gelombang, topan, badai dan berbagai bahaya lain. Alangkah pemberaninya mereka, besar semangat dan jiwa mereka. Mereka adalah manusia Indonesia yang perkasa dan berjiwa besar dan tak kalah dengan bangsa lain, semisal orang Viking, yang menyeberang lautan Atlantik hingga Amerika Utara.

Pada masa lalu itu, zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buda hingga Islam, berbagai hasil alam Indonesia telah menjadi perhatian bagi para pedagang asing. Diantaranya, rempah-rempah, kapur barus, bahan obat-obatan, jenis-jenis kayu, seperti gaharu.

Sampai kemudian datang para pedagang asing dari Eropa, yang dimulai Portugis, aktivitas perdagangan Indonesia dapat mengimbangi mereka. Dengan teknologi persenjataan dan teknik pertempuran yang mereka bawa perlahan-lahan mereka menggeser peranan orang Indonesia dalam pelayaran dan perdagangan Nusantara. Lebih-lebih ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis dan kemudian direbut Belanda, dan terus silih berganti menambah kemunduran perniagaan dan pelayaran orang Indonesia.

Dengan datangnya para pendatang asing orang Indonesia tidak tinggal diam. Diantara manusia besar Indonesia masa lalu, Trunojoyo, Surapati, yang semula menjadi perwira VOC lalu berbalik melwan Belanda, kemudian ia mendirikan kerajaan di Pasuruan (abad 17), Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong, Ptitimura, Imam Bonjol dan banyak lagi.

Kemudian di zaman perjuangan nasional kita, banyak tokoh pejuang Indonesia yang ditangkap dan dibung kolonialis Belanda ke Boven Digul dan pulau-pulau lain di wilayah Nusantara. Mereka berjuang tanpa lelah hingga akhirnya berhasil mencapai kemerdekaan 1945. Namun setelah mencapai kemerdekaan, generasi kaum nasionalis yang semula memiliki jiwa besar dan semangat juang segera nilai-nilai itu melemah dan mengerdil. Lebih-lebih ketika mereka berkuasa. Semangat yang melemah dan mengerdil itu akibat tamak pada kekuasaan dan nafsu menumpuk kekayaan. Sumber-sumber kerapuhan watak dan kerusakan jiwa generasi kaum nasionalis dapat dicari rujukannya dalam sejarah masa lampau bangsa kita.

Paska Orde Lama giliran kekuasaan baru. Di zaman baru banyak peraturan yang belum dijalankan dan masyarakat menjadi resah sebab kehidupan demikian susah. Menanggapi semua keresahan masyarakat itu penguasa perlu menghadapi dengan jiwa besar dan pikiran yang lapang. Perlu dipahami, perkembangan yang terjadi dalam masyarakat kita juga bagian dari perkembangan umat manusia di seluruh dunia.

Di Asia Tenggara banyak negara yang telah melangkah lebih maju di negara kita, berkaitan dengan sumber daya manusia, tersedianya lapangan kerja, keadilan hukum, kemmakmuran yang adil dan merata. Itulah ancaman terhadap Pancasila dan UUD 1945, jika kita belum mampu melaksanakannya secara baik dan jujur.

Di wilayah yang lebih luas lagi, yakni di negara-negara industri maju. Di negara-negara itu telah terjadi proses peralihan dari masa perindustrian ke masa setelah perindustrian (post-industrialism). Ciri dari masa ini diantaranya majunya peranan pengetahuan dan informasi yang menggunakan komputer untuk mengumpulkan, menyimpan, mengirim, memilih kembali dan memakai pengetahuan. Untuk kebutuhan itu membutuhkan tenaga manusia yang handal.

Di sisi lain, negara-negara industri seperti Amerika masyarakatnya sangat konsumtif. Mereka hidup sangat boros. Penduduk Amerika yang jumlahnya enam persen dari jumlah penduduk dunia menghabiskan lebih dari separuh bahan mentah yang dipergunakan seluruh dunia tiap tahunnya. Ditambah biaya untuk binatang peliharaan mereka. Sementara penduduk di belahan dunia lain, seperti Indonesia sangat kekurangan dan miskin, dibiarkan menonton pertunjukkan kemewahan gaya hidup mereka sampai kiamat?

Kembali ke masalah yang terjadi di Indonesia. “…kita memerlukan manusia-manusia berjiwa besar untuk dapat memahami dan mencari jalan keluar dari pelbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Kita harus dapat merasakan, bahwa keresahan, kritik, dan hasrat-hasrat yang dicetuskan mahasiswa di seluruh Indonesia dewasa ini didorong oleh kenyataan-kenyataan sebenarnya. Berdosalah kita semua jika kita menutup mata, pikiran dan hati kita terhadap kenyataan-kenyataan hidup di tanah air kita.” (h. 36)

Di negara kita ini, terutama berkaitan dengan kebijakan ekonomi sangat jauh dari berorientasi kepada rakyat. Sebab yang diberlakukan sistem ekonomi kapitalis yang memberi peluang kepada kaum pemodal kuat untuk lebih kuat dan besar, sementara rakyat banyak semakin terpinggirkan.

Di akhir tulisannya Muchtar Lubis mengatakan, “Persoalan hakiki yang dihadapi bangsa kita sekarang ialah seluruh hari depan bangsa kita”.

Lalu lanjutnya, alangkah baik jika bangsa kita mengurangi ketergantungan pada pinjaman-pinjaman luar negeri dari tahun ke tahun. “Tidakkah telah tiba waktunya kita belajar mengelola sumber-sumber manusia, sumber-sumber alam, dan sumber-sumber keuangan kita lebih efisien, lebih hemat dan lebih tepat mengenai sasaran-sasaran? ”

 Nusantara, 12-12-2015
Dipublikasi di Humaniora, Indonesia | Tag , , , , , | 1 Komentar

Neokolonialisme, Mentalitas dan Masa Depan Bangsa

Bung Karno pernah melontarkan istilah neokolonialisme dahulu dan  agaknya masih relevan dengan keadaan Indonesia saat ini. Ia mengatakan itu karena penjajahan yang ia alami bersama kawan-kawannya terlihat secara fisik, perang dengan senjata dan diakhiri dengan diplomasi mudah dikenali. Mereka yang tampil dalam diplomasi telah terdidik dalam bahasa dan cara berpikir kaum penjajah sehingga mereka bisa keluar menjadi pemenang.

Namun, zaman setelah merdeka dan ketika Bung Karno tak lagi berkuasa negara ini jatuh ke tangan belum jelas berjuang pun secara diplomasi. Hasil perjuangan Bung Karno dan kawan-kawan lenyap begitu saja. Inilah keadaan ketika Indonesia jatuh ke dalam cengkraman neokolonialisme. Model penjajahan ini yang dikendalikan adalah mentalitas kaum pribumi.

Bung Karno paham, apapun bentuknya penjajahan itu tujuannya satu, menguasai baik fisik maupun jiwanya. Itu artinya manusianya dan kekayaan alamnya. Oleh karena itu ketika Bung Karno dijebloskan ke penjara oleh kolonial Belanda di Bandung ia mampu melawan dengan pikiran yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan itu sekaligus sebagai pembelaan di depan sidang pengadilan, “Indonesia Menggugat”, (baca Cindy Adam).

Ia membuktikan, bahwa fisik dapat saja dipenjara namun pikiran tak bisa dibunuh. Itulah jiwa seorang pejuang. Perjuangan fisik adalah refleksi dari kekuatan jiwa untuk berontak melawan penindasan kaum kolonial. Ketika fisik telah terbebas, ia mengingatkan, jangan sampai mentalitas kaum pribumi dikuasai mereka.

Merdeka pada awalnya adalah suatu ide dalam pikiran yang kemudian digaungkan untuk menjadi kesadaran bersama.

(Asvi W Adam, 2010, h. 54)

Mentalitas Pejabat


Ketika Indonesia terlahir perjuangan harus dilanjutkan. Siapapun ia ketika menjadi pemimpin atau pejabat ia harus memiliki kesadaran sejarah, bahwa bangsa ini terbentuk melalui proses yang panjang. Indonesia sebagai negara muncul bukan hadiah dari bangsa-bangsa asing yang menjajah dulu. Tetapi ia lahir dari perjuangan dan kesepakatan bersama untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Sejarah dari semua bangsa di dunia pada dasarnya adalah perjuangan untuk menjadi manusia merdeka. Begitu juga dengan bangsa Indonesia terbentuk dari usaha untuk mmbebaskan diri dari cengkraman kaum penjajah. Sebagai kaum terjajah harus tunduk, menjadi budak dan menuruti keinginan kaum penjajah. Tenaga dieksploitasi untuk kepentingan mereka dan kekayaan alam juga dikuras untuk kemakmuran negara para penjajah. Sementara kehidupan kaum terjajah sebagai masyarakat kelas dua sangat miskin dan memilukan. (Robert van Niel,2003)

Kemiskinan itu adalah bukan sesuatu yang alami namun diciptakan oleh kaum kolonial. Bagi seorang pribumi yang memiliki jiwa pejuang tentu ia tidak akan menerima keadaan itu, tidak tinggal diam dan ia berpikir bagaimana membebaskan masyarakatnya dari cengkraman kaum penindas. Tapi mereka yang berjiwa budak bukan justru melawan malah untuk ikut menikmati keadaan itu dengan bergabung dengan kaum penjajah, tak perlu susah berjuang dan yang penting dapat menikmati kesenangan.

Bagi kita saat ini kaum pribumi yang telah berjuang membebaskan masyarakatnya dari kekuasaan kaum kolonial kita memberi hormat dengan sebutan pahlawan, namun bagaimana dengan mereka yang menggabungkan diri dengan para penjajah? Atau sebaliknya dari kaum kolonial tetapi ia berbalik membela perjuangan kaum pribumi, seperti Douwes Dekker? Tentu kita mengapresiasi apa yang telah dilakukan Douwes Dekker terhadap bangsa ini dan tidak melihat darimana ia berasal. Ia orang Belanda yang memiliki poin sebagai pahlawan. (Subagio Sastroardoyo, 1983)

Jika saat ini muncul seorang pahlawan, itu artinya bukan pahlawan berjuang dengan senjata, tapi ia yang mampu membebaskan bangsa ini dari cengkraman kekuasaan asing yang menjadikan bangsa ini miskin. Mengapa kekuasaan asing mampu mencengkram bangsa ini? Sebab masih banyak mentalitas pejabat yang belum terbebaskan, atau pikiran merdeka dengan gampang memberikan kewenangan kepada asing untuk menguras habis (merampok) kekayaan alam, dari Aceh sampai Papua. Mereka menganggap orang asing dari ras kulit putih lebih unggul, sehingga kaum pribumi perlu diajari dan dibimbing.

Mereka percaya bahwa kaum pribumi tak rasional dan pemalas. Padahal itu mitos yang ditebarkan oleh kaum kolonial agar mereka bisa mempertahankan penjajahan! (baca, SH Alatas, Mitos Pribumi Malas,1988)

Masa Depan Kesejahteraan Rakyat
Bangsa Indonesia harus bangga bahwa mereka bukan bangsa yang malas dan bodoh, sebab mereka mampu mengusir kaum penjajah dan meraih kemerdekaan. Tinggallah bagaimana bangsa ini menata masa depan.

Masa depan bangsa ini bergantung kepada pemimpinnya. Ia ibarat nahkoda yang membawa para penumpangnya melaju ke masa depan. Jika di depan ada badai atau rintangan apakah ia akan diam saja atau akan mengarahkan laju kapal ke arah yang benar, sehingga tidak oleng dan karam. Jika ia seorang pemimpin yang amanah tentu ia akan mengajak kaum cendikia yang memiliki visi yang sama untuk membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik, terciptanya keadilan dan kesejahteraan.

Keadilan dan kesejahteraan itulah yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini (founding fathers) yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Untuk memastikan cita-cita para pendiri bangsa yang juga menjadi harapan rakyat Indonesia itu terwujud pemimpin harus berusaha membuang rintangan yang menghadang dan ingin membelokan cita-cita itu. Jika rintangan itu telah dihalau maka tinggallah bangsa ini mengonsolidasi diri untuk menjadi bangsa adil dan sejahtera. Jika kendala dari luar dan dari dalam diri belum dihilangkan akan sulit bagi bangsa ini mencapai cita-cita itu.

Cita -cita tersebut akan tercapai dengan kekuatan bersatu bangsa ini sehingga mampu menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera. Sejatinya kaum kolonial baru (neokolonialisme)  sama saja dengan kolonial klasik selalu mencari celah bagaimana mengadu domba antarpribumi dan kemudian menguasainya (devide et impera).

Nusantara, 31 Oktober 2015
Anak bangsa

Dipublikasi di Belajar Sejarah, Indonesia | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar