Quotes

Pin by Ginny inMA, ProgressiveVoices on PEOPLE: John Pilger ...
pint
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Masyarakat Melayu-Indonesia dalam Sorotan Historis Prof. Naquib

Sufi World on Twitter: "To know how to put what knowledge in which ...
sw

Sifat sejarah, menurut orang,

Ibarat pentas bermain wayang;

Cerita lampau diurai dalang,

Pabila tamat segera diulang.

Jika demikian, mustahil pantang

Giliran Islam pula mendatang;

Lakonan lama indah gemilang,

Di layar dunia semula terbentang

Prof. Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai filosof, sejarawan, pendidik Malaysia yang banyak menulis buku. Ia juga mengusahakan berdirinya International Institut of Islamic Thought and Civilization (Institut Antarbangsa Pemikiran dan Tamaddun Muslim) pada 27 Februari 1987 di Malaysia.

Ia meneliti tentang masyarakat di kawasan Melayu-Indonesia sebelum dan setelah datangnya Islam. Dalam penelitiannya itu ia katakan telah ada gambaran umum bahwa agama yang dianut oleh masyarakat adalah Hindu dan Budha yang bercampur dengan agama anak negeri sendiri, yang telah ada sebelum kedua agama itu. Agama itu hanya dianut oleh kalangan raja-raja dan bangsawannya, sedangkan rakyat biasa tidak menghiraukan ajaran-ajaran agama itu.

Naquib sependapat dengan Van Leur yang mengatakan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia secara umum bukanlah masyarakat Hindu tetapi pada hakekatnya hanya golongan bangsawan yang menganut agama itu secara sungguh-sungguh. Itu pun golongan bangsawan tidak memahami betul ajaran-ajaran murni yang terpendam dalam filsafat Hindu, yang diambil hanya berkaitan tata-upacara dan mengagungkan dewa-dewa untuk kepentingan mereka sendiri bahwa mereka adalah penjelmaan dewa-dewa itu. Hal itu justru mengukuhkan kedudukan golongan raja dan bangsawan dalam puncak lapisan struktur masyarakat.

Filsafat agama Hindu tidak banyak mempengaruhi masyarakat Melayu-Indonesia, justru mereka lebih cenderung kepada hal-hal yang berkaitan dengan seni.

Mengenai peranan Islam di kawasan itu beberapa sarjana Belanda mencoba mengecilkan seperti Van Leur yang mengatakan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar dan peradaban yang luhur daripada yang telah ada. Hal itu dibantah oleh Prof. Naquib bahwa peninggalan berupa tugu dan candi dengan pahatan memang hasil peradaban seperti juga Acropolis Yunani, Persepolis Iran, dan Piramid Mesir, tapi itu tidak menyorotkan sinaran budi dan akal. “Dalam menilai peranan dan jejak Islam, ciri-ciri yang harus dicari oleh mereka bukan pada tugu dan candi , atau pada pahatan dan wayang—ciri-ciri yang mudah dipandang oleh mata jasmani—tetapi pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya memperlihatkan cara daya budi dan akal merangkum pemikiran.” kata Naquib.

Di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia tak dapat diingkari, kata Nquib, bahwa terdapat banyak sifat risalah-risalah Islam dahulu yang sebagaian besar isinya itu mengandung metafisika ilmu tasawuf yang telah mencapai nilai luhur dalam sejarah pemikiran. Risalah-risalah itu tidak dapat kita dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang terdapat di dalam sastra Melayu-Jawa dalam zaman Hindu-Budha yang hampir-hampir hampa dalam perbendaharaan akal. Jiwa masyarakat Melayu-Indonesia mulai berubah dengan adanya unsur-unsur itu mengalir dalam nadinya.

“Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat kita bayangkan sebagai semangat nan hebat yang menggerakkan proses merevolusikan pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia, memalingkan dari alam seni dan mitos yang khayali, yang sudah mulai gugur dari singgasananya, dan mematuhi serta menetapkannya pada alam akal dan budi yang menuntut cara hidup yang tertib dan teratur. Para penyebar agama Islam mendakwahkan kepercayaan ketuhanan yang Tunggal; yang kodrat-Nya terhukum pada hikmah-Nya; yang iradah-Nya berjalan selaras dengan Akal,” katanya.

Dalam proses sejarah kebudayaan Islam itu bahasa Melayu sebagai pengantar, bukan hanya dalam kesustraan epik dan roman , tetapi dalam pembicaraan filsafat. Dengan begitu menambah dan meninggikan perbendaharaan kata dan istilah-istilah serta tentu saja menjunjung bahasa Melayu ke peringkat bahasa sastra yang rasional dan akhirnya mampu menggantikan bahasa Jawa sebagai bahasa sastra Melayu-Indonesia.

Ia juga membedakan antara Islam dan agama-agama itu dilihat dari sejarahnya di kepulauan ini, dengan rumusan (disingkat) sebagai berikut:

1. Agama Hindu bukan agama Semitik yang berdasarkan ketuhanan yang tunggal, yang mempunyai semangat menyebarkan diri dengan daya tabligh.

2. Agama Hindu itu terkandung dalam perlambang yang estetik serta pembicaraannya ibarat bentuk rupa manusia dan tak diragukan lagi yang demikian itu karena pengaruh bahasanya  yang menjadi pengantar pembicaraannya.

3. Berlainan dengan Islam, agama Hindu dan Budha lahir dari intisari dan tempat asal yang sama.

4. Kunhi dzat (rahasia dzat Allah) semangat keagamaan Islam itu ialah kepercayaan ketuhanan yang tunggal dan ini terkandung dalam konsepsi tauhid.

5. Al-Qur’an sampai di kepulauan Melayu-Indonesia bersama dengan agama Islam.

6. Dapat disimpulkan bahwa Islam berbeda dengan agama Hindu dan Budha adalah suatu agama yang bersifat kebudayaan sastra yang saintifik.

Cibinong, 2-8-2020

Sumber:

Syed M Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung; Mzn, 1990)

————————————, Islam dan Sekularisme, (Bandung: Pustaka, 1981)

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , | 1 Komentar

Quotes

“Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka

Oleh agama perjalanan bahagia itu telah diberi berakhir. Puncaknya yang penghabisan ialah kenal akan Tuhan, baik ma’rifat kepadaNya, baik taat kepadaNya dan baik sabar atas musibahNya, Tidak ada lagi hidup di atas itu!”

Hamka

(Tasauf Modern)

Dipublikasi di Kata-Kata Bijak | Tag , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Pendidikan terdiri atas bentuk khusus yang secara sengaja diberikan kepada ruhani manusia demi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sebab jika orang dibiarkan berbuat semaunya, maka pertumbuhannya tidak akan sesuai dengan tujuan-tujuan kehidupan sosial. Karena itulah kita mempersiapkan acuan-acuan tertentu untuk manusia. Dalam acuan itulah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan kita dan tuntutan zaman.”

Ali Syari’ati

Dipublikasi di Manusia | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Penulis Indonesia, Royalti dan Pembacanya

Menjadi penulis di Indonesia tidaklah mudah. Berdasar pengalaman beberapa penulis Indonesia. Kesulitan itu menyangkut royalti yang adil dan mendapatkan pembaca yang lahap terhadap buku, dan banyak hal lainnya.

Menjadi penulis sebagai profesi dan sekaligus memiliki keahlian di bidang tertentu tidaklah mudah. Sebab, untuk menjadi penulis profesional artinya ia tidak mengerjakan pekerjaan lain selain menulis tentu saja di bidang yang dikuasainya, atau terkait dengan yang dikuasainya, mungkin bisa dikatakan mustahil. Oleh karena alasan itu menulis dijadikan pekerjaan ‘sampingan’ untuk mengisi waktu selain pekerjaan utama.

Banyak ahli di bidang ilmu tertentu, tapi ketika mereka menulis buku karyanya kurang dihargai. Bukan saja dari segi keuntungan /royalty, tapi juga ketika buku itu laku, di pasaran banyak karya edisi bajakannya dijual dengan bebas.

Soal royalty untuk penulis ini sangat serius. Dari hasil penjualan buku karyanya sendiri penulis hanya mendapatkan royalty sekitar 10-14 %, distributor 40 %, dan sisanya untuk biaya cetak dan penerbit. (Seperti pernah ditulis penulis buku terkenal) Apakah soal itu ada aturannya yang bisa ditaati oleh semua pihak?

Bahkan ada seorang profesor fisika menulis buku ajar hanya diberi royalty sangat sedikit oleh penerbit besar dari buku yang ia tulis.

Juga ada ketua tim penulis buku berjilid ketika buku itu direvisi nama ketuanya sudah hilang digantikan orang lain. Dengan begitu tentu royaltinya pun hilang. Padahal buku ensiklopedi edisi revisi itu dasarnya dari buku pertama.  

Atas semua problem itu, sepertinya, hal itu menjadi keengganan penulis Indonesia untuk semangat berkarya. Tentu untuk menulis sebuah buku utuh bukanlah perkara ringgan, sebab itu kerja intelektual yang membutuhkan konsentrasi. Butuh waktu, tenaga dan biaya.

Beberapa penulis agaknya menyiasatinya dengan menerbitkan sendiri bukunya. Dan, yang lainnya lebih tertarik menulis makalah untuk seminar atau kolom. Sekali seminar mendapat bayaran kontan. Juga, jika makalah terkumpul dapat dijadikan buku.

Hal itu agaknya berbeda dengan beberapa penulis di negara lain baik fiksi maupun non fiksi, sebut saja Mesir, Amerika atau Inggris atau lainnya. (Dari berbagai sumber)

Kini, zaman telah berubah, siapa mau menulis apa? Media telah tersedia. Tapi, apakah persoalan di atas sudah ada perubahan?…

Bogor, 20-5-2020

Dipublikasi di Buku, Penulis | Tag , , , , , , , , , | 2 Komentar

The Poets

The Poets in the Qur’an verse 224-227

224. As for poets, the erring follow them.

225. Hast thou not seen how they stray in every valley,

226. And how they say that which they do not?

227. Save those who believe and do good works, and remember Allah much, and vindicate themselves after they have been wronged. Those who do wrong will come to know by what a (great) reverse they will be overturned!

 

(The Meaning of the Glorious Koran by Muhammed Marmaduke Pickthall)

In Indonesia language;

Para Penyair (ٱلشُّعَرَآءُ)

وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ, أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِي كُلِّ وَادٖ يَهِيمُونَ, وَأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ, إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱنتَصَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَيَّ مُنقَلَبٖ يَنقَلِبُونَ

  1. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
  2. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,
  3. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?
  4. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (QS as-Syuara 224-227)

 

Bangsa Arab memiliki kepandaian dalam bahasa, cerita dan syair. Ketika zaman pra-Islam (Jahiliyah) banyak syair dilantunkan oleh masyarakat Arab dan bahkan dilombakan. Syair yang mereka lantunkan tanpa tujuan yang jelas dan sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Namun, ketika Al-Qur’an diturunkan  mereka tersentak kaget, sebab bahasa al-Quran keindahannya melebihi bahasa syair yang mereka gunakan.

Nabi Muhammad saw juga menyukai syair namun syair yang mengandung butir-butih hikmah, seperti dibacakan oleh Umayyah bin Abi as-Salt. (Sumber: Sejarah dan Tafsir Kem. Agama)

 

Cibinong, 4-5-2020

Dipublikasi di Penyair, Sastra | Tag , , , , | 4 Komentar

Al-Ayyam karya Taha Husein

photo1641_001

Al-Ayyam has translated into English, The Days. This book is story of his life. Taha Husein was a writer in Egypt.

“ …Jika engkau bertanya bagaimana ia berubah dari keadaan itu kepada keadaan ini saya tidak dapat menjawab. Disitu ada orang lain yang dapat menjawabnya, maka tanyalah kepadanya. Ia tentu akan memberi jawaban kepadamu!

Tahukah engkau siapa dia? Lihatlah kepadanya! Ia itu Malaikat yang menjaga pada tempat tidurmu, jika malam datang untuk menyambut malam dalam ketenangan dan tidur nyenyak. Ia menjaga di tempat tidurmu di waktu pagi untuk menyambut pagi hari dengan senang dan gembira. Bukankah engkau berhutang kepada Malaikat yang membuat engkau tenang di waktu malam dan gembira di waktu siang hari!

 Malaikat itu juga menjaga ayahmu ia mengubah yang tidak enak dengan yang enak, putus asa menjadi harapan, miskin menjadi kaya, penderitaan menjadi kebahagiaan dan kesucian.

Hutang ayahmu kepada Malaikat itu tidak lebih sedikit daripada hutangmu! Marilah kita saling tolong menolong wahai anakku untuk membayar kembali hutang itu, kamu berdua tentu akan mencapai apa yang kamu cita-citakan!”

_______

Cuplikan dari halaman terakhir terjemahn al-Ayyam oleh Prof. Tudjimah dengan judul Masa Muda di Mesir (Jakarta: Erlangga, 1967).

Al-Ayyam adalah kisah hidupnya sendiri yang ditulis berupa novel. Ia dikenal sebagai sastrawan pada zamannya di Mesir, terutama setelah ia pulang dari Perancis.  Ketika ia belajar disana ia bertemu dengan seorang wanita Prancis yang membantu membacakan naskah-naskah untuknya. Tahun 1917 akhirnya ia menikah dengannya dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

 

Cibinong, 14-4-2020

Dipublikasi di Sastra | Tag , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Ahmad Khatib, from Minangkabau to Makkah

Mengenal Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi – Perkara Hati

phati.com

Asal-usulnya

Ahmad Khatib lahir 6 Zulhijjah 1276 H/ 26 Mei 1860 M di Koto Gadang barat Bukitinggi, Sumatera Barat memiliki ayah bernama Abdullatif, yang bergelar Khatib Nagari. Ibunya bernama Limbak Urai dari Koto Tuo Balaigurah, Kec. Ampek Angkek Candung, sebelah timur Bukitinggi. Ia dibesarkan dalam keluarga terpandang dengan pendidikan agama dan adat yang kuat.

Masa Belajar dan Menjadi Guru

Ahmad Khatib mendapat pendidikan formal sekolah rendah pertama di sekolah rendah. Setelah tamat dari sekolah itu dalam usia yang masih muda ia diajak ayahnya berlayar ke Makkah untuk menunaikan haji tahun 1871 M. Di kota Makkah ia tidak hanya melaksanakan haji. Beliau mempelajari ilmu agama dan bahasa Arab dan ilmu-ilmu pendukungnya serta ilmu falaq, hisab dan aljabar. Ia belajar dari tahun 1287 H/1871 M sampai 1296 H/1879 M. Ia dikenal sebagai murid yang cerdas dan disenangi oleh guru-gurunya.

Di antara guru-gurunya di Makkah ialah, Sayyid Zayn al-Dakhlan, Syekh Bakr al-Syatta dan Syekh Yahya al-Qabli.

Tahun 1879 M juga ia menikah dengan Khadijah putri bangsawan Kurdi, Syekh Shalih al-Qurdi. Sejak tahun itu juga ia mulai mengajar di rumahnya. Murid-muridnya semula dari kalangan family saja. Di antara muridnya itu ada sepupunya, yang kemudian dikenal dengan Syekh Taher Jalaluddin yang berangkat ke Makkah tahun 1880 M.

Bukan hanya mengajar di rumah, lalu ia pun diizinkan untuk mengajar di Masjidil Haram. Hal itu bisa ia lakukan atas bantuan mertuanya yang kenal dengan Syarif Makkah. Dari sinilah ia mulai dikenal sebagai ulama yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau dan Nusantara.

Setelah lama menjadi guru dan mengabdi di kota Makkah ia meninggal dunia pada tanggal 9 Jumadil Awal 1334 H/14 Maret 1916 M di Makkah dan dimakamkan di sana. Hingga akhir hayatnya ia tetap mengabdi sebagai ulama di pusat pengajaran di kota Makkah.

Anak-anaknya banyak yang berprestasi. ‘ Abd al-Hamid, putra keempat, masuk di bidang politik. Pertama ia menjadi anggota parlemen Hijaz. Lalu ia diutus menjadi duta besar kerajaan Saudi Arabia di Pakistan, pada masa raja ‘Abd al- ‘Aziz al-Sa’udi. Ketika penyerahan kedaulatan dari Belanda ke pemerintah Indonesia pada tanggal 28 Desember 1949 ‘Abd al-Hamid al-Khatib diutus sebagai duta luar biasa oleh kerajaan Saudi Arabia untuk menghadiri upacara tersebut di Jakarta. Ia juga berpidato pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Istana Merdeka pada tanggal 3 Januari 1950.

Sebelum memasuki bidang politik ‘Abd al-Hamid Khatib telah dikenal sebagai ulama dan penulis dan menjadi guru di Masjidil Haram. (Akhria, h.50)

Murid-muridnya

Dalam beragama ia menganut madzhab Syafii sebagimana banyak dianut oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Ketika ia mengajar di Makkah ia memiliki banyak murid yang ikut menentukan sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Sebagian murid-muridnya setelah pulang ke daerah masing-masing memperjuangkan pemurnian Islam dan juga mereka menjadi tokoh pembaru.

Di antara murid-muridnya ialah, Syekh Muhammad Jamil Jambek, KH. Ahmad Dahlan (lahir 1868 M, Yogyakarta), Syekh Taher Jalaluddin (lahir 1869 M, Ampek),  Syekh Muhammad Thaib Umar (lahir 1874 M, Batu Sangkar), H. Abdullah Ahmad (lahir 1878 M, Padang Panjang), H. Abdul Karim Amrullah (ayah HAMKA)(lahir 1879 M, Maninjau, Sumatra Barat), Syekh Daud Rasyidi (lahir 1880 M, Agam), H. Abdul Latif Syakur (lahir 1881 M, Padang Panjang), Syekh Abbas Abdullah (lahir 1883 M, Padang Japang), Syekh Ibrahim Musa Parabek (lahir 1884 M, Parabek), Haji Agus Salim (lahir 1884 M, Koto Gadang), H. Muhammad Basyuni Imran (lahir 1885 M, Sambas, Kalimantan Barat), H. Abdulhalim (lahir 1887 M, Majalengka), dan masih banyak lagi. KH. Hasyim Asy’ari (lahir 1871 M, Jombang) juga pernah belajar fiqh madzhab Syafi’i kepadanya (Zuhairi, 2010).

Syekh Muhammad Jamil Jambek lahir tahun 1863 M dan meninggal 30 Des 1947 M di Bukittinggi. Ia aktif berceramah dan sesekali ia menulis. Pada tahun 1913 ia mendirikan organisasi sosial Tsamaratul Islam menerbitkan buku-buku kecil dan brosur yang berisi pelajaran agama untuk anggotanya. Ketika organisasi itu menjadi perusahaan ia tidak aktif lagi dan ia bersama Syekh Daud Rasyidi mendirikan Majelis Islam Tinggi.

Lalu muridnya KH Ahmad Dahlan lahir tahun 1868 M di Yogyakarta. Ayahnya KH Abu Bakar bin Kiai Ibrahim menjadi khatib di masjid Sultan Jogjakarta. Pada tahun 1890 M beliau berangkat ke Makkah. Ia belajar selama setahun. Lalu tahun 1913 ia pergi lagi untuk belajar selama dua tahun. Setelah kembali ke pulau Jawa ia aktif di bidang sosial keagamaan. Pertama ia membetulkan arah kiblat. Kemudian ia pada tanggal 18 November 1912 mendirikan Muhammadiyah. Semula Muhammadiyah berkiprah di bidang pendidikan lalu merambah ke bidang sosial. Tahun 1917 organisasi itu sudah tersebar di pulau Jawa dan tahun 1925 cabangnya sudah didirikan di Minangkabau atas inisiatif H Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Setelah Haji Rasul berkunjung ke pulau Jawa.

Karya-karyanya

Syekh Ahmad Khatib telah menulis buku sekitar 49 buah. Buku-bukunya selain diterbitkan di Indonesia juga di Syria, Turki dan Mesir. Di antaranya An-Nafahat, Al-Riyadh al-Wardiyyah, Rawdhah al-Husab fi ilmi al-Hisab (diterbitkan di Kairo) dan banyak lagi.

Bogor, 11-4-2020

Bukittinggi - Wikipedia

Bukitinggi/wikiphoto

Bahan Rujukan

Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib, (Jakarta: Panjimas, 1983)

Hamka, Ayahku, (Depok: GIP, 2019)

Ensiklopedi Islam, (1995) jid. 1

Dipublikasi di Riwayat hidup, Tokoh | Tag , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Ibn Khaldun dan Filsafat Sejarahnya

The Muqaddimah: An Introduction to History, in 3 Volumes by Ibn ...

Setelah Ibn Khaldun menulis karya besarnya (magnum opus) al-Muqaddimah selama beberapa abad belum diketahui pentingnya karya itu jika tidak diungkap di dunia Barat pada abad ke-17. Barthelmy d’Herbelot de Molainville pada tahun 1697 M menulis tentang Ibn Khaldun dalam Bibliotheque orientale dan menyertakan beberapa kutipan dari al-Muqaddimah. Namun, dalam tulisan itu terdapat kekeliruan dan tidak berhasil menyingkap pentingnya al-Muqaddimah. Walaupun begitu perhatiannya saja sebagai sesuatu yang patut dihargai. Lalu pada tahun 1806 M de Sacy menerbitkan  beberapa terjemahan dari al-Muqaddimah dan tahun 1816 M ia menerbitkan biografi lengkap Ibn Khaldun dan analisis tentang kitab itu dalam Biografie universale.

Tahun 1812 M Von Hammer dari Austria dan Schulz dari Jerman mengemukakan tentang pentingnya al-Muqaddimah. Kemudian tahun 1822 Hammer menulis tentang orisinalitas dan kedalaman pemikiran Ibn Khaldun dalam Journal Asiatique dan perlunya diterjemahkan al-Muqaddimah ke bahasa-bahasa Eropa.

Tahun 1824 Garcin de Sacy mempublikasikan beberapa terjemahan bab enam dari al-Muqaddimah dan tahun 1832 Jacob Graberg de Hemsoe menulis tentang pentingnya karya Ibn Khaldun sebagai sejarawan.

Pada tahun 1858 Quatremere, orientalis Prancis, mempublikasikan al-Muqaddimah dalam bahasa Arab di Paris. Ia menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis namun sebelum pekerjaannya selesai ia meninggal dunia dan kemudian dilanjutkan oleh De Slane. Tahun 1858 juga di Mesir diterbitkan untuk pertamakali al-Muqaddimah atas usaha Syekh Nashr al-Hurini. Cetakan ini menjadi pedoman cetakan-cetakan selanjutnya. Kemudian karya al-Muqaddiamah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

Setelah al-Muqaddimah berada di tangan para ilmuwan Barat terjadi perubahan pandangan di kalangan mereka mengenai pertumbuhan ilmu-ilmu sosial. Barat mendapati bahwa banyak pendapat ilmuwan modern mereka tentang ekonomi, filsafat hukum, filsafat politik, seperti Adam Smith, Montesquieu, Rousseau, yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Ibn Khaldun. (Zainab, h. 34)

Kitab al-Muqaddimah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh Prof. Tgk Ismail Yakub tahun 1982 (cetakan Libanon 1956) dari bahasa Arab dan kemudian Ahmadie Taha dari Arab dan dikomparasi dengan terjemahan Inggris karya Franz Rosenthal (1958).

Ibn Khaldūn | Muslim historian | Britannica

ebritanic

Asal-usulnya

‘Abd al-Rahman Abu Zaid Waliuddin ibn Khaldun yang dikenal dengan nama Ibn Khaldun lahir pada awal Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M di Tunis. Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut, Yaman, dan garis keturunannya berasal dari seorang sahabat Nabi Saw yang terkenal, Wa’il bin Hajar. Cucu Wa’il bernama Khalid ib ‘Utsman yang terkenal dengan nama Khaldun bersama kaum Muslimin memasuki Andalusia dan bertempat tinggal di Carmona. Keluarga Khaldun lalu pindah ke Sevilla. Ketika pihak Kristen menguasai kota itu keluarga Khaldun pindah ke Tunis.(Issawi, h.4; lihat juga Ensiklopedi, h. 158)

Keluarga Khaldun dikenal sebagai keluarga berpengetahuan luas dan menduduki jabatan-jabatan tinggi kenegaraan.

Karir

Setelah belajar kepada ayahnya sebagai guru pertama kemudian Ibnu Khaldun belajar ke berbagai guru di antaranya, Abu Abdillah Muhammad ibn al-Arabi al-Hashayiri, Abu a-Abbas Ahmad ibn al-Qushshar, Abu Abdillah Muhammad ibn Bahr, Abu Abdillah Muhammad al-Jiyani, Abu Abdillah Muhammad ibn Ibrahim al-Abili dan sebagainya.

Pengetahuan Ibn Khaldun luas bercorak ensiklopedis. Ia belajar hingga berusia duapuluh tahun. Setelah itu ia menerjunkan diri di kancah politik yang penuh pergolakan di wilayah Magrib. Dalam politik ia terlibat langsung  dan ia tak segan membela penguasa yang menang. Oleh karena pengalamannya itu ia memahami intrik-intrik dalam politik dan naik turunnya penguasa serta tumbuh, berkembang dan matinya sebuah negara. Setelah malang melintang di dunia politik ia lalu menarik diri (khalwah) di Qal’at Ibnu Salamah (Taughzut) di Aljazair sambil menuliskan karya dan pengalamannya.

Karyanya itu kemudian ia revisi ketika berada di Mesir, antara tahun 1382-1406. Di kota itu ia menjadi pendidik dan hakim. Ketika keluarganya akan menyusulnya ke Mesir dari Tunis namun kapal mereka tenggelam dalam perjalanan. Ibn Khaldun meninggal 17 Maret 1406 dimakamkan di pemakaman tarekat Sufi di Kairo, Mesir. (Vincent, h. 6)

Karya-karyanya

Ibn Khaldun menulis karya al-‘Ibar, yang terdiri dari tiga karya, yakni al-Ibar sendiri muqaddimah dan al-Ta’rif bi Ibn Khaldun yang awalnya hanya lampiran. Karya kedua kemudian menjadi karya tersendiri yang dikenal dengan al-Muqaddimah dan begitupun dengan al-Ta’rif yang berisi otobiografinya.

Ia memakai judul ‘ibar jamak dari ‘ibrah, yang dikatakan mengandung makna hikmah, pepatah atau suri teladan. Hikmah yang dapat diikhtisarkan dari sejarah atau masa lalu dan oleh karena itu ia tidak menggunakan kata “tarikh” (sejarah).

Selain tiga karya itu Ibn Khaldun juga menulis karya lain tapi karya-karya itu banyak yang hilang.

Filsafat Sejarahnya

Telah banyak sarjana melakukan studi atas karya Ibn Khaldun al-Muqaddimah. Mereka ada yang menerjemahkan karya itu dan membuat kajian untuk mengetahui pemikiran Ibn Khaldun. Setelah mereka melakukan kajian itu mereka menyimpulkan dari sudut pandang mereka bahwa Ibn Khaldun disebut sebagai perintis sosiologi atau “sebagai bapak ilmu sosial” (Ilyas dan Farid, h. 41), sejarawan dan filsafat sejarah dan lainnya. Memang karya Ibn Khaldun itu bersifat ensiklopedis.

Zainab mengatakan bahwa filsafat sejarah dalam pengertian sederhana “adalah tinjauan terhadap peristiwa-peristiwa historis secara filosofis untuk mengetahui faktor-faktor esensial yang mengendalikan perjalanan peristiwa-peristiwa historis itu, untuk kemudian mengikhtisarkan hukum-hukum umum yang tetap, yang mengarahkan perkembangan berbagai bangsa dan negara dalam berbagai masa dan generasi.” (h. 54)

Para pemikir berbeda pendapat mengenai batasan faktor utama yang mengendalikan perjalanan sejarah. Ada yang mengatakan faktor Allah, tokoh-tokoh pahlawan dan ada juga berkata ekonomi sebagai faktor utama yang menggerakkan sejarah. Dan bahkan ada yang menolak filsafat sejarah.

Filsafat sejarah sebagai cabang disiplin filsafat. Banyak pemikir dunia memandang Ibn Khaldun sebagai peletak dasar filsafat sejarah, di antaranya, yaitu Arnold Toynbee, sejarawan Inggris. Pendapat serupa dikemukakan oleh Robert Flint, Gaston Baouthol dan Carra de Vaux, orientalis Prancis,  juga Yves Lacoste. Pemikir Arab di antaranya yang berpendapat senada yakni Sathi’ al-Hushri, Muhammad Abdullah Enan, dan terakhir ‘Abd al-Raziq al-Makki dengan karyanya al-Fikr Falsafi ‘Inda Ibn Khaldun. Sementara Thaha Hussein menolak hal itu walau secara tidak sadar malah mengukuhkannya. (h. 56)

Ibn Khaldun dalam kitabnya itu tidak menggunakan istilah “filsafat sejarah” seperti saat ini tapi ia menyebutnya dengan “al-‘umran al-basyari”. “Al-‘umran al-basyari” diartikan sebagai masyarakat manusia. Dikatakan para peneliti bahwa yang dimaksud dengan al-‘umran adalah kebudayaan. Dengan mengacu Grand Larousse Encyclopedique bahwa tampak yang dikaji kebudayaan adalah filsafat sejarah. Dengan demikian al-‘umran yang bermakna kebudayaan tidak lain adalah ilmu yang mengkaji filsafat sejarah.

Dengan mengutip Muhsin Mahdi, Zainab menulis bahwa sejarah meneliti peristiwa-peristiwa historis secara lahiriahnya, sementara ilmu kebudayaan membahas watak dan sebab peristiwa-peristiwa itu. (h. 58)

Dengan pemikirannya itu Ibnu Khaldun telah melampaui zamannya. (Franz, h.66)

Cibinong, 3-4-2020

Sumber Rujukan

Ibn Khaldun, al-Muqaddimah (Jakarta: Cv Faizan, 1982), terj. Tgk. Ismail Yaqub dan Vincent Monteil, “Ibn Khaldun” dalam al-Muqaddimah, Ismail Yaqub

Charles Issawi, Filsafat Islam Tentang Sejarah, (Jakarta: Tintamas, 1976), terj. Mukti Ali

Ilyas Ba-Yunus dan Farid Ahmad, Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer,(Bdung: Mizan, 1997), terj.

Zainab al-Khudairi, Filsafat Sejarah Ibnu Khaldun, (Bandung: Pustaka, 1987), terj.

Franz Rosenthal, “Historiografi Islam” dalam Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo ed., Ilmu Sejarah dan Historiografi, (Jakarta: Gmedia, 1985)

Hafidz Dasuki, ed. Dkk., Ensiklopedi Islam, (van Hoeve, 1995), jld. 3

Dipublikasi di Humaniora, Sejarawan | Tag , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Quotes of Ibn Khaldun

Ibnu Khaldun - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

wiki photo

“Golongan yang kalah selalu berusaha meniru golongan yang menang dalam pakaian, tanda-tanda kebesaran, aqidah-kepercayaan dan lain-lain adat kebiasaan.”

Ibn Khaldun

 

Dipublikasi di Kata-Kata Bijak | Tag , , , | Meninggalkan komentar