Pamplet Rendra

Sajak Sebatang Lisong

wr rendra/ hs

Mengisap lisong

melihat Indonesia Raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka.

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat 8 juta kanak-kanak

tanpa pendidikan.

Aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja-meja kekuasaan yang macet,

dan papantulis-papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang

tanpa pilihan

tanpa pohonan

tanpa dangau persinggahan

tanpa ada bayangan ujungnya.

……………………………..

Mengisap udara

yang disemprot deodorant

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya;

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiunan.

Dan di langit;

para teknokrat berkata:

bangsa kita adalah bangsa yang malas,

bahwa bangsa mesti dibangun;

mesti diup-grade,

disesuaikan dengan teknologi yang diimport.

Gunung-gunung menjulang.

Langit pesta warna di dalam senjakala.

Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,

terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,

dan  delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan

berkunang-kunang pandang matanya,

di bawah iklan berlampu neon.

Berjuta-juta harapan ibu dan bapa

menjadi gebalau suara yang kacau,

menjadi karang di bawah muka samudra.

………………………………………….

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.

Diktat-diktat hanya membeli metode,

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya,

keluar ke desa-desa,

mencatat sendiri semua gejala,

dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku.

Pamplet masa darurat.

Apakah artinya renda-renda kesenian

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir

bila terpisah dari masalah kehidupan.

Sumber: Rendra, Potret pembangunan …, (1996), dibuat pada 19 Agustus 1977.

Iklan
Dipublikasi di Indonesia | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

A Teeuw, Sejarah Sastra Indonesia, dan Karya Lainnya

Dalam pengukuhan Doctor Honoraris Causa pada 12 Juli 1975 di Universitas Indonesia A Teeuw mengatakan bahwa ia telah berguru kepada orang Indonesia, walaupun secara lahir tidak pernah menjadi gurunya. Yang pertama adalah W.J.S. Poerwadarminta ahli bidang leksikografi yang menjadi teman bekerja dalam perkamusan, dan kedua Prof. Sutan Takdir Alisjahbana yang menjadi pembimbingnya dalam taman bahasa dan sastra Indonesia ketika ia baru tiba di negeri ini. “Saya tidak akan melupakan persahabatan beliau yang membuka rumah, lemari buku dan hatinya bagi saya ketika persahabatan antara orang Indonesia dan Belanda bukanlah sesuatu yang sewajarnya,”kata A Teeuw (1983).

a teeuw/ bp

Andries Teeuw, lahir di Gorinchem, Belanda, pada tanggal 12 Agustus 1921. Setelah memperoleh gelar Doktor Sastra di Universitas Utrecht tahun 1946, dengan disertasi tentang naskah Jawa kuno berjudul  Bhomakawya, antara tahun 1947 dan 1951 ia bekerja sebagai pegawai bahasa pada Universitas Indonesia. Juga ia bersama W.J.S. Peorwadarminta menulis Indonesisch-Nederlands Woordenboek (1950); melakukan penelitian dialek bahasa Sasak di Pulau Lombok; mengajar sastra Indonesia modern, dan sastra Melayu klasik. Tahun 1951 ia kembali ke Belanda menjadi guru besar Ilmu Bahasa Umum di Universitas Utrecht sampai tahun 1955, dan menjadi guru besar bahasa dan sastra Indonesia/ Melayu di Universitas Leiden. Tahun 1975 mendapat gelar DHC dari Universitas Indonesia. Tahun 1977-1978 mengambil cuti belajar yang dihabiskannya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Karya-karyanya tentang sastra Indonesia telah banyak yang diterjemahkan dan diterbitkan berbagai penerbit di Indonesia.

Dalam bukunya A Teeuw katakan ia semula menulis dalam bahasa Belanda tentang sastra Indonesia modern, karena sudah terlalu lama, ia lalu memperbaiki dengan judul Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Kemudian buku ini diperluas lagi. Lalu KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) di Leiden agar buku itu ditulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena buku itu sudah ketinggalan zaman, maka ia susun kembali untuk diterbitkan menjadi Modern Indonesian Literature tahun 1967.

Satu dasawarsa kemudian buku itu diperbarui, terutama buku jilid kedua, yang berisi mengenai sastra lebih kurang tahun 1955 sampai 1978. Di Malaysia ada permintaan untuk menerbitkan buku itu dalam bahasa Malaysia tahun 1970 dengan judul Sastra Baru Indonesia. Buku edisi Malaysia itu kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia jilid 1. Bahasanya disesuaikan dengan bahasa Indonesia.

Sebagai sarjana sastra ia banyak menulis mengenai sastra, terutama mengenai sastra Indonesia. Namun, dua jilid bukunya merekam sejarah sastra Indonesia, jilid pertama termasuk tentang Pujangga Baru, sastra sebelum perang dan sastra sesudah perang, dan jilid kedua sejarah sastra Indonesia modern angkatan 45 tahun 1945 sampai angkatan 66 dan seterusnya. Pada setiap angkatan terdapat tokoh sastrawan dan genre sastranya.

A Teeuw memulai dengan membahas, kapan sastra Indonesia modern lahir. Sastra Indonesia modern lahir pada sekitar tahun 1920. Ketika itulah para pemuda Indonesia menyatakan perasaan dan ide yang berbeda dari masyarakat setempat sebelumnya yang tradisional dan mulai dalam bentuk sastra yang menyimpang dari bentuk-bentuk sastra Melayu, Jawa dan sastra lainnya yang lebih tua, baik lisan maupun tulisan. Tetapi, di bidang keruhanian dan kebudayaan garis pemisah samar, dan kita malah melihat seorang pelopor kesusastraan modern Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, yang pemikiran dan bahasanya kuat dipengaruhi asing (Barat) di Malaka dan Singapura di permulaan abad kesembilan belas. 

Ia katakan, tidak mungkin memisahkan antara kesusastraan sebelum perang di Indonesia dari perkembangan-perkembangan sesudah perang, sebagaimana menelaah peristiwa-peristiwa politik pada 17 Agustus 1945 dan sesudahnya tanpa tanpa memberikan perhatian terhadap perkembangan nasionalisme Indonesia tahun antara 1908 sampai 1945. Ciri khusus perkembangan kesusastraan ini sebagian sejalan dengan gerakan nasionalis, sekaligus mencerminkan dan menyuarakan berbagai masalah dan kejayaan gerakan ini. Ini tidak berarti setiap yang ditulis berhubungan langsung dengan perjuangan untuk memperoleh kebebasan politik. Oleh karena itu menelaah zaman ini secara keseluruhan dan memasukkan semua hasil penulisan sebelum perang sebagai bagian penting dari kesustraan Indonesia modern.

“Kriteria utama untuk mengannggap tahun 1920 sebagai titik permulaan bahwa ketika itulah untuk pertama kali ditulis kesusastraan yang ternyata harus diletakkan dalam satu rangka dasar yang bersifat Indonesia,”kata Teeuw. Ini bukan berarti pada mulanya bahwa Indonesia telah dilihat sebagai cita-cita politik yang jelas, atau bahwa konsep bahasa Indonesia, dalam perbandingan dengan bahasa-bahasa daerah, secara sadar ketika itu terwujud daalam pikiran para penulis itu. Tetapi ketika mereka mulai mencari cara untuk menyatakan perasaan dan ide mereka sebagai reaksi dan pengaruh Barat (Belanda) maka mulailah mereka menuju jalan ke arah konsep bahasa Indonesia.

Tahun 1908 Budi Utomo bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu, lalu Sarekat Islam 1911 gerakan massa yang modern dan yang pertama di Indonesia, lalu muncul Jong Java, dan Jong Sumatrnen Bond. Orang Sumatralah yang dididik di Jawa yang melakukan kegiatan sastra untuk menyatakan pikiran, perasaan dan cita-cita baru yang mengalir dalam diri mereka. Yang mula-mula adalah pemuda Sumatra, Muhammad Yamin. (A Teeuw, 1978)

Angkatan 45 tidak berumur panjang. Angkatan ini mulai surut tak lama setelah revolusi fisik berakhir tahun 1949. Beberapa penulis dari kelompok ini telah meninggal, atau oleh lain sebab, telah berhenti menulis. Ada beberapa yang masih menulis di bidang sastra dan seni secara umum, atau mengubah pandangan artistik mereka, sehingga karya-karya mereka tidak sejalan dengan pandangan-pandangan asasi Gelanggang dan humanisme universal.

Di antara angkatan ini yang paling menonjol adalah Chairil Anwar. Ia menjadi sumber ilham dan kekaguman, namun di sisi lain menjadi tonggak loncatan caci maki. Ia mati muda. Kawan-kawan seangkata dengannya, Ripai Avin tak bertahan lama dalam kepengarangannya, begitu juga Asrul Sani, sejak tahun 1950 tidak banyak menulis. Ia malah beralih pada kegiatan lain, drama dan film, dengan menulis skenario film, menyutradarai film, mementaskan lakon-lakon drama, dan mengajar seni drama dan lain-lain.

Kemudian para penulis prosa, seperti Achdiat K Mihardja setelah menulis Atheis tak banyak menghasilkan karya yang sebanding. Tersendat-sendat ia masih menerbitkan cerita pendek. Kemudian Idrus dan Achdiat kemudian ke luar negeri. Lalu Muchtar Lubis yang menulis novelnya berkaitan dengan situasi pasang surut politik Indonesia. Ia tampil sebagai juru cerita yang menarik tapi terkesan iseng, sebab ia lebih tampak seorang yang menaruh perhatian terhadap kondisi kehidupan umat manusia, seperti esainya tentang manusia Indonesia (1977).

Dua penulis lain, Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Simatupang. Pramoedya terhanyut pada pusaran ideologi yang tak sejalan dengan humanisme universal. Namun dalam pembuangannya di pulau Buru ia menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Sitor tampil sebagai penyair terkemuka setelah Chairil Anwar. Ia banyak terpengaruh eksistenslialisme . ia akhirnya melibatkan diri dalam perjuangan ideologi, sebagai pengagum dan pembela Soekarno. (A Teeuw, 1993)

Dalam teks pidato hari Ulang Tahun Balai Pustaka yang ke-64, 22 September tahun 1981, yang berjudul Khazanah Sastra Indonesia, Prof. A Teeuw menyinggung soal variasi dalam karya sastra.

“Dalam buku cetakan pun seringkali kita lihat variasi, yang terjadi karena beberapa hal, entah disengaja oleh penulis dalam cetakan yang berikut, entah diadakan oleh penyunting atau korektor, entah oleh badan sensor atau yang berkuasa, atau dengan tujuan penyesuaian untuk pendidikan dan seterusnya. Yang penting ialah karya sastra tidak terjamin mutlak kemantapan ujudnya—dan penelitian harus dan dapat memanfaatkan informasi yang terkandung dalam variasi bentuk untuk lebih baik mengerti arti dan fungsi sebuah karya walaupun hal itu tidak selalu mudah. Contoh yang sederhana saya ambil dari sejarah teks buku yang ikut mengharumkan nama Balai Pustaka, satu di antara bestsellernya, yaitu Siti Nurbaya, karangan Marah Rusli. Dalam edisi ke-12 yang sekarang beredar di pasaran buku Indonesia pada halaman pertama kita membaca tentang Siti Nurbaya dan Samsulbahri yang sama-sama menunggu kedatangan bendi ayahnya. Dalam deskripsi yang panjang lebar mengenai diri, wajah, pakaian Siti Nurbaya yang seperti biasa disajikan menurut konvensi roman jaman itu kita membaca antara lain bahwa rambutnya diikat dengan pita hitam dan bahwa dia memakai kaos kaki dan sepatu yang coklat warnanya. Data yang sama dapat kita baca mulai cetakan kelima atau barangkali sudah lebih awal. Tetapi dalam cetakan pertama buku itu (1922) dapat kita baca bahwa pita rambutnya berwarna merah dan bahwa kaos kaki dan sepatunya berwarna kuning. Saya memang agak terkejut oleh penemuan kecil ini  dan saya pernah bertama kepada Profesor Drewes, yang pada waktu edisi kelima diterbitkan menjadi Direktur Balai Pustaka, “siapa yang mengadakan perubahan semacam ini dalam buku Marah Rusli?”Menurut Profesor Drewes mungkin sekali tukang zet, atau seorang korektor atau sub-editor, yang menganggap tidak pantas lagi, tidak sesuai dengan mode waktu itu, bahwa seorang gadis memakai pita merah dalam rambutnya dan memakai kaos kaki dan sepatu kuning, sehingga dia menyesuaikannya dengan yang dianggap pantas.”(A Teeuw, 1993)

A Teeuw membahas mengenai karya pulau Buru dari Pramoedya Ananta Toer yang empat jilid, di antaranya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

es

Dalam penelitiannya tentang sejarah awal nasionalisme Indonesia ia menemukan tokoh Tirto Adhi Soerjo, sebagai nasionalis angkatan pertama yang kurang dikenal dalam penulisan sejarah nasional. Kisah Tirtolah yang mengilhami Pramoedya menulis roman tetralogi bersejarah.

Dalam buku jilid kesatu dan kedua latar belakang di daerah Jawa Timur pada akhir abad ke-19. Periode ini sebagai pendewasaan fisik dan mental, tokoh protagonisnya. Dalam dua jilid ini Pramoedya menggunakan imajinasi kreatif disebabkan kekurangan data sejarah mengenai masa muda tokoh. Sedangkan jilid ketiga dan keempat dengan latar belakang Betawi pada awal abad ke-20 tokoh utama memainkan peranan yang cukup penting.

Dikisahkan Minke adalah anak priayi tinggi. Pada masa kisah ini berlangsung menjadi anggota keluarga seperti itu memberi hak istimewa di tanah jajahan, asalkan ia dapat menyesuaikan diri dengan dua sistem itu. Pertama, bertingkah laku sesuai dengan norma priayi, dan kedua, tunduk pada kemauna penguasa kolonial yang memanfaatkan golongan priayi Jawa untuk mempertahankan kekuasaan dan kewibawaannya. Atas dasar itu anak priayi berhak masuk sekolah terbaik yang disediakan di wilayah koloni, dan juga karir terhormat menanti dalam jajaran pemerintahan.

Namun, Minke tidak mengikuti jalan itu, melalui pengalaman sedih dan pahit ia mencari alternatif, ia melawan, melakukan protes, dan menjadi sadar akan tanggung jawabnya terhadap bangsa, yang ia menjadi bagian dari padanya. Ia bersedia berkorban sesuai dengan pilihannya itu. Ia melalui jalan pelik ke penyadaran, di mana ia berusaha membebaskan diri dari belenggu rangkap, feodalisme dan kolonialisme.

Minke bermula menjadi murid H.B.S. di Surabaya. Ia satu-satunya anak pribumi di tengah anak-anak Belanda, yang situasinya bersifat rasialis. Ia terlibat hubungan cinta dengan Annelies. Secara cukup keras ia disadarkan dari rasa hormatnya terhadap ilmu pengetahuan Eropa dan hikmat sistem hukum Hindia Belanda, yang merampas istrinya. Lewat kakaknya Annalies, Robert dan Robert lainnya, sebagai orang Indo, ia menjadi paham bahwa ada jurang yang dlam bersifat rasial, antara masyarakat Indo biasa danorang Indonesia seperti dirinya.

Ia belajar menulis, yang mula-mula sukses, namun ia terbentur kenyataan pers kolonial. Setelah lama melawan akhirnya Minke memilih bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, menggantikan bahasa Belanda yang semula dibanggakannya. Melalui pertemuaannya dengan sorang Cina modernis ia mulai memahami perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan di negeri-negeri lain di Asia, dan harga yang harus dibayar untuk itu.

Dalam perjalanan ke pedesaan di Jawa Timur ia mendapat pengalaman dan membuka matanya tentang ketidakberdayaan petani Jawa berhadapan dengan kekuasaan ‘Gula’ dalam sistem feodal-kolonial.

Dalam perjalanan ke Betawi Minke mendapat indoktrinasi ideologi dari wartawan Belanda yang berhaluan kiri, tentang kekuasaan modal, tentang perjuangan kemerdekaan, dan perjuangan bangsa-bangsa lain. juga tentang perlunya didirikan organisasi modern dalam perjuangan itu. Setelah mengalami inisiasi panjang dan penuh kepedihan, Minke menjadi matang jiwanya untuk kenyataan Betawi abad kedua puluh, yang mulai dijejakinya.

Di Betawi Minke masuk menjadi pelajar STOVIA. Ia disndera enam bulan, ia dibuang ke Ambon pada tahun 1913. Tidak diketahui kapan ia akan kembali ke Jawa. Ia kemudian masih hidup beberapa waktu, menjadi miskin dan berpenyakit, sampai tanggal 7 Desember 1918 ia meninggal.

Setelah itu, kisahnya tidak diceritakan oleh Minke. “Seorang aku pencerita baru muncul. Ia mulai dengan uraian singkat tentang ancaman ganda yang dihadapi oleh Gubernemen Hindia pada tahun 1912: Tiongkok baru yang pada 1911 menjelmakan diri dengan revolusi Sun Yat Sen sebagai manifestasi nasionalisme Asia tak terbendung; dan gerakan nasional pribumi yang mulai dilancarkan oleh pengagum revolusi Tiongkok, seorang Raden Mas, siswa STOVIA: wartawan, penerbit, sekaligus pendiri dan pemula organisasi-organiasi nasionalis modern di Hindia Belanda.” (A Teeuw, 1997)

Cibinong, 2-12-2022

———-

Sumber:

A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta, Gmd, 1983)

———, Sastra Baru Indonesia 1, (Ende, N Indah1978)

———, Sastra Indonesia Modern 2, (Jakarta, P Jaya , 1989)

———, Khazanah Sastra Indonesia, (Jakarta, B Pustaka, 1993)

———, Citra Manusia Indonesia, (Jakarta, P Jaya, 1997)

Dipublikasi di Sastra | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Tragedi Amir Sjarifudin

amir sj/ wk

Setelah Kongres Pemuda II (1928) corak perjuangan pemuda dari kedaerahan berubah menjadi kebangsaaan. Angkatan 28 terdiri dari para pemuda pelajar, Perhimpunan Indonesia dari negeri Belanda, Studiclub dari Bandung, dan Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia dari Jakarta.

Kisah Amir Sjarifudin. Ia menjadi pelajar STOVIA. Amir aktif dalam diskusi dan pergerakan. Ia termasuk kelompok Indonesis Clubgebouw (IC), di Jalan Kramat 106 (sekarang Gedung Sumpah Pemuda) Jakarta. Mereka memiliki semangat dan kritis terhadap berbagai peristiwa di Indonesia dan di dunia. Juga mereka membicarakan dan memperdebatkan berbagai masalah, politik, budaya, masyarakat, kolonialisme Belanda, teori-teori politik, ideologi dan kehidupan sehari-hari. Ia masuk Gerindo yang dipimpin oleh Mr Sartono. Ia telah menjadi komunis pada tahun 1937.

Para pemimpin PKI melakukan kampanye di daerah Jawa Tengah. Para pemuda tak sabar, lalu mereka melakukan pemberontakan di Madiun. Muso dan Amir Sjarifudin menghadapi satu situasi yang harus dihadapi dan tidak dapat kembali. Sebab kaum komunis telah melakukan pemberontakan yang dimulai di Solo. Pasukan Siliwangi tak dapat memadamkannya.

Tanggal 15 September 1948 Presiden Sukarno menyatakan bahwa daerah Solo dan sekitarnya dalam keadaan perang, dan ia memerintahkan Kol. Gatot Subroto selaku Gubernur Militer untuk memimpin. Jend. Sudirman mengirim pasukan tambahan sebanyak 3 ribu orang dari divisi Siliwangi ke Solo untuk memperkuat Republik. Perang saudara sebangsa berkecamuk di Jawa Tengah. Pasukan PKI yang belum terlatih dapat dihancurkan. Sementara banyak rakyat yang menjadi korban keganasan PKI.

Menurut catatan penulis, Muso dan Amir Sjarifudin mengira rakyat membenci pemerintahan Sukarno-Hatta. Mereka mengira oposisi sebagai konfrontasi, padahal tidak. PNI dan Masjumi mempraktekan demokrasi.

Pada akhirnya 28 Oktober 1948 pasukan komunis di Madiun dapat dihancurkan. Amir Sjarifudin tenggelam bersamanya. 31 Oktober Muso tewas dalam pertempuran, dan Amir dan Suripno ditangkap. Kemudian mereka dihukum mati.

———-

Sumber: Abu Hanifah dalam Taufik Abdullah dkk., (Jkt: LP3ES, 1994).

21-11-2022

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

tugas penulis

“Pertanggungjawaban bukanlah tirani atau mencampuri urusan seni, tetapi menjadi tugas penulis untuk memenuhi harapan para pembaca dan latar belakangnya. Penulis yang tidak ingat akan resiko kewajiban moral akan berbuat sesuka hatinya dan tidak dapat diandalkan secara politik. Posisinya sebagai “orang dalam yang mempunya hak-hak istimewa”, dengan pengertian unik untuk menyelami masyarakatnya sendiri, telah memberi kepadanya wewenang dan kredibilitas yang tidak dipunyai oleh orang luar. Tetapi bahayanya, tulisannya mungkin akan diartikan sebagai suatu kebenaran. Misalnya, bila seorang wanita terkenal dengan kedudukan tinggi mengecam feminisme, maka ia dianggap mengetahui benar hal yang dikatakannya, karena ia juga wanita, maka wajarlah jika ia dipercaya.” Rana Kabbani (belajar sastra Inggris di Cambridge)

14-11-2022

Dipublikasi di Sastra | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

John L Esposito

“Socrates menantang pemikiran orang-orang Athena pada zaman klasik dan Konfusius berusaha membawa visi baru tentang masyarakat kepada “Bangsa Berperang” Cina. Konsep dan visi Luther mengubah Kekristenan Barat, dan perpaduan intelektualisme dan aktivisme Lenin mengubah sejarah dunia di abad dua puluh. Sepanjang sejarah, pemikir-pemikir yang terlibat dalam urusan kewarganegaraan dan politik pada zamannya sebagai kaum intelektual aktivis mencoba berperan dalam transformasi masyarakat mereka. Di akhir abad dua puluh, sejumlah intelektual di masyarakat Muslim juga berperan demikian. Mereka mempertanyakan institusi dan mentalitas yang ada dan berusaha untuk menciptakan beberapa alternatif.”   John L Esposito

11-11-2022

Throughout history, thinkers who were involved in civic and political affairs in their time as activist intellectuals tried to play a role in the transformation of their society.
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Maulana al-Maududi dan Perjuangannya

Maulana al-Maududi/ wk

Sebagai seorang pemikir yang berkaitan dengan kebangkitan Islam al-Maududi telah banyak menulis sekitar 138 judul buku dalam berbagai tema politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya, serta berbagai aktivitas lainnya. Buku-bukunya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan pemikirannya memiliki pengaruh luas, melampaui Asia Selatan.

Abul A’la al-Maududi lahir di Aurangabad, India Selatan pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Ia lahir dalam keluarga tokoh Muslim India Utara (syarif) dari Delhi yang bermukim di Deccan. Keluarga ini adalah keturunan wali sufi besar tarekat Chisthi yang membantu menanamkan benih Islam di wilayah India. Keluarga ini pernah mengabdi kepada pemerintahan Bahadur Syah Zafar, penguasa terakhir dinasti Moghul. Kedekatannya dengan penguasa Muslim membuat mereka menolak pemerintah Inggris. Ayahnya bernama Sayyid Ahmad Hassan masuk sekolah tinggi di Aligarh sebentar dan ia kemudian menyelesaikan studi hukum di Allahabad. Ia mendidik anak-anaknya dalam sistem pendidikan klasik, belajar bahasa Arab, Persia dan Urdu. Di usia empat belas tahun Maududi sudah menerjemahkan karya al-Marah jadidah ke dalam bahasa Urdu.

Pada usia sebelas tahun ia baru mendapatkan pelajaran sains. Ketika usia enam belas tahun ayahnya meninggal dan ia berhenti dari sekolah formalnya. Setelah itu, ia terus berusaha belajar sendiri untuk memenuhi minat intelektualnya. Ia semula tertarik pada masalah politik. Ia menulis berberapa esai tentang nasionalisme. Tahun 1918 ia bergabung dengan saudaranya, Abul Khair, di Bajnur, untuk memulai karir dalam bidang jurnalistik

Kemudian mereka berdua pindah ke Delhi. Di kota itu ia berkenalan dengan arus intelektual dalam komunitas Muslim, tahu pandangan modernis dan ikut dalam gerakan kemerdekaan. Tahun 1919 ia pindah ke Jabalpur untuk bekerja pada mingguan Taj yang pro-Kongres. Ia aktif dalam gerakan Khilafah. Ketika mingguan itu ditutup ia kembali ke Delhi. Lalu ia bekenalan dengan Muhammad Ali dan mereka berdua menerbitkan koran Hamdard. Tak lama kemudia ia bergabung dengan gerakan Hijrah yang mendorong kaum Muslim India meninggalkan British India.

Tahun 1921 Maududi berkenalan dengan pimpinan Masyarakat Ulama India (Jami’ati ‘Ulama Hind) Maulana Kifayatullah dan Ahmad Sa’id. Ia diundang untuk menjadi editor koran mereka, Muslim, hingga tahun 1924 koran Muslim diganti menjadi Al-Jami’at. Dari sinilah ia menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum Muslim dan ia lebih aktif dalam persoalan agamanya. Maududi mulai menulis masalah yang menjadi perhatian kaum Muslim India.

Di kota Delhi ia mulai belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Juga hubungannya dengan Jami’at memungkinkan ia mendapat pendidikan agama secara formal. Tahun 1926 ia menerima sertifikat pendidikan agama dan ulama. Tapi Maududi tak mau menerima statusnya sebagai alim.

Dengan runtuhnya gerakan Khilafah tahun 1924 ia melepaskan pandangan nasionalismenya, tak percaya pada Partai Kongres dan ia meninggalkan Jami’at dan berpisah jalan dengan penasehat Doebaninya.

Tahun 1925 terjadi kasus, seorang Muslim membunuh Swami Shradhanand, pemimpin kebangkitan Hindu yang yang menganjurkan kasta rendah yang masuk Islam agar kembali ke  Hindu. Swami secara terang-terangan meremehkan keyakinan kaum Muslim. Hal itu memancing kemarahan kaum Muslim. Kematiannya menimbulkan kritik dari media massa, bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi tidak tinggal diam. Kemudian ia menulis buku al-Jihad fil Islam, perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam.

Tahun 1928 Maududi pindah ke Heyderabad. Ia banyak menulis dan menerjemahkan buku tafsir dan filsafat dari bahasa Arab. Ia menulis Risalah-i Diniyah, yang kemudian diterjemahkan sebagai Toward Understanding Islam.

Tahun 1932 Maududi menerbitkan Tarjumun Al-Qur’an, sebuah jurnal yang berisi pandangan-pandangannya selama empat puluh tahun. Ia tidak puas hanya dengan tulisan dan tak berpengaruh pada peristiwa politik yang mengalami perubahan cepat dalam sejarah India periode itu. Untuk itu ia tahun 1938 pindah ke Punjab untuk memimpin Dar al-Islam, suatu proyek pendidikan yang semula digagas oleh Dr. Muhammad Iqbal (w 1938 M), di Pathankot, sebuah dusun kecil di Punjab. Dar al-Islam diharapkan melahirkan pembaruan Islam besar di India. Ia sibuk dengan politik dan tidak memperhatikan proyek Dar al_Islam. Tahun 1939 ia pindah ke Lahore untuk melakukan aktivitas politik yang langsung. Ia bersama sejumlah aktivis Muslim dan ulama muda pada 26 Agustus 1941 mendirikan Jama’t-I Islami (Partai Islam). Setelah partai ini berdiri segera pindah ke Pathankot dan mulai berkembang cepat dan berpengaruh dalam berbagai peristiwa di India.

Ketika India pecah Jam’at-i pecah juga, Maududi bersama seluruh anggotanya memilih Pakistan yang berdiri tahun 1947. Sejak saat itu karir politik dan intelektual Maududi berkaitan erat dengan perubahan perkembangan Jama’at-i. Beberapa kali berseberangan dengan pemerintah dan beberapa kali pula ia ditangkap dan dipenjarakan. Pernah dijatuhi hukuman mati, lalu menjadi hukuman seumur hidup dan akhirnya bebas. Selama dalam aktivitas politiknya ia banyak menulis, artikel, ulasan, risalah pendek dan buku. Juga ia melakukan gerakan anti-Ahmadiyah.  Di antaranya, hasil ceramahnya di radio diterjemahkan oleh Khurshid Ahmad dengan judul Islamic Way of Life;  karya besarnya Tafhim Al-Qur’an (Memahami Al-Qur’an) yang ditulisnya sejak tahun 1941 sampai 1972, terjemahan dan ulasan al-Qur’an, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris; tentang politik al-Khilafah wal Mulk dan Islamic Law and Constitution, dan lainnya.

Tahun 1960-1962 Maududi  menjawab koresponden Maryam Jameelah yang akhirnya Maryam pindah dari New York ke Pakistan. Abul A’la Maududi meninggal di New York pada 22 September 1979 dan dimakamkan di Lahore.

Teori Politik al-Maududi

Asas terpenting dalam Islam adalah tauhid, dan seluruh nabi serta rasul Allah mempunyai tugas pokok untuk mengajarkan tauhid (keesaan Tuhan) kepada seluruh umat manusia. Ajaran tauhid memiliki implikasi mengubah tata sosial, tata politik, dan tata ekonomi.

Di zaman modern fenomena Fir’aun dan Namrud masih tetap dapat kita amati secara jelas. Banyak penguasa negara yang bertingkah dan bersikap seperti Fir’aun dan Namrud, yang merasa paling benar sendiri dan menuntut ketaatan rakyat secara total tanpa syarat (reserve).

Maududi menyatakan, kedaulatan ada di tangan Tuhan, dan ‘bukan’ di tangan manusia.  Berbeda dengan teori demokrasi umumnya, yang mengatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dalam kenyataannya, kata-kata “kedaulatan rakyat” seringkali menjadi kata-kata kosong karena partisipasi rakyat dalam kebanyakan negara demokrasi hanyalah dilakukan empat atau lima tahun sekali dalam bentuk pemilihan umum, sedangkan kendali pemerintahan sesungguhnya berada di tangan sekelompok kecil penguasa yang menentukan seluruh kebijakan negara.

Siapa pun yang sedikit mendalami praktek teori demokrasi akan menyadari bahwa yang sering berlaku adalah hukum besi oligarki, yakni bahwa sekelompok penguasa saling bekerjasama untuk menentukan berbagai kebijaksanaan  politik, sosial, ekonomi negara tanpa harus menanyakan bagaimana sesungguhnya aspirasi rakyat yang sebenarnya.

Beberapa prinsip menurut Maududi, pertama, tidak ada seseorang, sekelompok orang atau seluruh penduduk suatu negara dapat melakukan klaim atas kedaulatan. Hanya Allah yang memagang kedaulatan. Kedua, Tuhan adalah pencipta hukum yang sebenarnya, sehingga Dia sajalah yang berhak membuat legislasi secara mutlak. Ketiga, suatu pemerintahan yang menjalankan peraturan-peraturan dasar dari Tuhan sebagaimana diterangkan oleh nabiNya wajib memperoleh ketaatan rakyat.

Tujuan diselenggarakannya negara adalah, pertama, untuk menghilangkan terjadinya eksploitasi antarmanusia, antarkelompok dan antarkelas dalam masyarakat. Kedua, untuk memelihara kebebasan (ekonomi, politik, pendidikan dan agama) para warga negara dan melindungi seluruh warga negara dari invasi asing. Ketiga, untuk menegakkan sistem keadilan sosial yang seimbang sebagaimana dikehendaki al-Qur’an. Keempat, untuk memberantas setiap kejahatan (munkarat) dan mendorong setiap kebajikan. Kelima, menjadikan negara sebagai tempat tinggal yang teduh dan mengayomi bagi setiap warga negara dengan jalan memberlakukan hukum tanpa diskriminasi.

——–

Sumber : Ali Rahnema, ed.,(1995); Amien Rais pengantar pada Abul A’la Maududi, (1984); Surat-surat Maryam Jameelah, (1984).

5-11-2022

Dipublikasi di Riwayat hidup, sejarah | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quote Dr Sa’id Ramadhan al-Buti

Setiap orang yang bertaqlid dalam masalah tauhid,

keimanannya tidak terbebas dari keraguan.”

Dari sini dapat anda ketahui bahwa Islam datang untuk memerangi tradisi dan melarang masuk ke dalam jeratnya. Hal ini karena semua prinsip dan hukum Islam didasarkan pada akal dan logika yang sehat, sedangkan tradisi didasarkan pada dorongan ingin mengikuti semata tanpa ada unsur seleksi dan pemikiran. Kata tradisi dalam bahasa Arab berarti sejumlah kebiasaan yang diwarisi secara turun- temurun atau berlangsung karena faktor pergaulan dalam suatu lingkungan atau negeri, di mana taklid semata merupakan penopang utama bagi kehidupan dan kesinambungan tradisi tersebut.

Tradisi hanya merupakan arus perilaku yang manusia terbawa olehnya secara spontan karena semata-mata faktor peniruan dan taklid yang ada padanya.

Prinsip adalah garis yang harus mengatur perkembangan zaman, bukan sebaliknya.”  Dr M Sai’d Ramadhan al-Buti

3-10-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Dialog Rustam dan Ruba’i…

Dialog antara Rustam dan Ruba’i bin Amir terjadi dalam peristiwa perang al-Qadisiyah (Iraq). Rustam adalah komandan tentara Persia, sementara Ruba’i sebagai seorang prajurit biasa di jajaran tentara yang dipimpin Sa’ad bin Waqqash.

Rustam: “ Apa yang mendorong kalian memerangi kami dan masuk ke negeri kami?”

Ruba’i:  “Kami datang untuk mengeluarkan siapa saja dari penyembahan manusia kepada penyembahan Allah semata.”

Lalu dialog Rustam dengan Zuhra.

Zuhra: “Kami tidak datang menghampiri negerimu karena terpanggil oleh kekayaan duniawi. Tujuan dan kebesaran yang akan kami raih adalah akhirat. Apa yang anda nyatakan adalah benar dan sesuai dengan kehidupan masa jahiliyah kami. Namun tidak demikian halnya setelah Allah kirimkan kepada kami seorang Rasul yang menghimpun kami untuk mencapai keridhaan  Ilahi. Kami telah memenuhi panggilan Allah yang menjajikan kami kemenangan dan kemuliaan  (dunia akhirat) selama kami konsisten pada ajaran agamaNya”.

Rustam: “Apakah gerangan agama itu?”

Zuhra: “Dasar dan puncaknya adalah: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusanNya. Kemudian menerima sepenuh hati segala ketentuanNya.

Rustam: ”Benar-benar mengagumkan. Kemudian apa lagi selain itu?”

Zuhra: “Membebaskan umat manusia dari segala bentuk perbudakan oleh sesama makhluk. Tiada yang patut disembah kecuali Allah.

Rustam: “Bagus, kemudian apa lagi?”

Zuhra:  “Umat manusia, tanpa kecuali, adalah putra putri Adam dan Hawa. Semuanya adalah saudara sekandung”.

Rustam: “Betapa itu amat menarik. Namun apa kelanjutannya, apabila saya dan rakyat Persia sudi mengikuti jejak kalian, memenuhi seruan yang kamu himbaukan? Apakah kamu akan pulang, angkat kaki dari negeri ini?!”

Zuhra:  “Benar. Demi Allah, itulah yang bakal terjadi…  dan kami tidak akan kembali ke Negeri anda seperti ini, kecuali dengan niat berniaga atau untuk kepentingan yang lain”.

——-

Sumber: M Sa’id Ramadhan al-Buti, (2006); Ma’rifah (42)

1-11-2022

Dipublikasi di Dialog | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

M Natsir, Jejak Langkahnya

M Natsir/ wk

Natsir yang lahir 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Solok, Sumatra Barat, ayahnya bernama Idris Sutan Saripado seorang pegawai kecil dan ibunya Khadijah. Ia semula masuk Sekolah Rakyat, dan ketika ia akan masuk HIS ditolak karena ayahnya hanya pegawai kecil, kemudian ia masuk HIS Adabiyah Padang dan pindah sekolah lain hingga tamat. Lalu ia masuk MULO. Setelah menamatkan MULO di Padang M Natsir lalu melanjutkan pendidikannya di AMS (algemene middlbare school), setingkat sekolah menengah, di Bandung, setelah sebelumnya mengajukan bea siswa diterima. Di kota Bandung ia tinggal di Gang Pakgade dekat Pasar Baru dan Babatan. Yang tinggal di gang itu bukan hanya Sunda, ada Palembang, Jawa dan Keling. Tak  ada orang Cina, mereka tinggal di sekitar Pecinan.

Di AMS Bandung ia mengambil jurusan bahasa-bahasa Barat, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis juga bahasa klasik Latin dan Yunani. Ia sering membaca di perpustakaan di kota itu. Setelah bertemu dengan Tuan Hassan ia belajar bahasa Arab lebih mendalam.

Fachoeddin al-Khairi mula-mula sering menghadiri pengajian Persatuan Islam dan sering berkunjung ke rumah Tuan Hassan.  Lalu Fachroeddin mengajak temannya, M Natsir ke rumah Tuan Hassan untuk bertanya dan berdiskusi soal-soal agama. Mereka berdua sekolah Belanda belajar bahasa Barat namun berminat untuk mempelajari agama Islam, berbeda dengan kebanyakan temannya. Juga M Natsir belajar bahasa Arab kepada Tuan Hassan.

Pada bulan Januari 1929 dalam rapat umum Jong Islamiten Bond (JIB) yang diadakan di sekolah Persatuan Islam, Fachroeddin al-Khairi terpilih sebagai ketua JIB cabang Bandung dan M Natsir sebagai wakilnya. JIB ini didirikan atas respon pemuda Islam terhadap organisasi pemuda yang ada dan atas saran Kiai Agus Salim, yang didirikan oleh Wiwoho, Sjamsuridjal dan kawan-kawan. Dengan aktivitasnya itu keduanya semakin sering datang ke kediaman Tuan Hassan.

Bulan Maret 1929 didirikan Komite oleh kaum Muslim untuk menentukan sikap yang berkaitan dengan berbagai cemoohan, serangan, tuduhan dan celaan dari orang-orang yang membenci Islam. Serangan kebencian itu dilakukan dengan lisan dan tulisan, melalui mimbar gereja, ceramah, pelajaran di sekolah atau tulisan-tulisan di koran, majalah dan buku-buku agar kaum pribumi membenci Islam dan umatnya. Untuk menanggapi mereka Komite menerbitkan Pembela Islam. Majalah Pembela Islam diterbitkan pertama kali pada bulan Oktober 1929. Majalah ini terbit sampai nomor 71.

Ketika M Natsir akhirnya lulus dari AMS Bandung ia mendapat bea siswa dan ia bisa melanjutkan pendikan ke Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Belanda, tapi ia lebih memilih untuk mengelola Pembela Islam. Tulisan-tulisannya tentang Islam banyak di muat di dalamnya, selain kolom Soal-Jawab A Hassan tentang masalah fiqh.

Setelah ia putuskan untuk tidak mengambil bea siswa ke perguruan tinggi, ia selanjutnya menjadi pendidik, dengan dibekali ilmu mendidik yang ketika itu baru dibuka. Ketika ia akan mengajar, semuanya harus disiapkan sendiri, gedung untuk kelas menyewa, meja bangku dan peralatan beli sendiri dan dibantu donatur. Di sela kesibukannya mengajar M Natsir mengelola majalah Pembela Islam hingga majalah itu berhenti penerbitannya.

Zaman setelah kemerdekaan ia pidato dalam Sidang Konstituante 12 November 1957 tentang hubungan Islam dan negara, yang isinya antara lain: “Sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap, hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam penghidupan kaum sekularis tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal: akhirat, Tuhan dan sebagainya …” (Herbert Feith & Lance Castles, ed.,1988)

Pada jilid pertama mengisahkan tentang M Natsir hingga menjelang kedatangan Jepang dan polemiknya dengan Soekarno. Dalam polemik dengan Bung Karno yang memuji langkah Turki yang dipimpin Kemal ia mengatakan Soekarno telah keliru tentang sekularisme. Ia langsung merujuk karya Ali Abdurrazik, yang ketika itu sudah diterbitkan, untuk menjawab Bung Karno, (Capita Selekta, hal. 429). Tulisan-tulisan lain M Natsir yang dimuat dalam Pandji Islam dan Pedoman Masjarakat kemudian dikumpulkan dalam buku Capita Selekta. Selain karya tulis yang dikumpulkan dalam Capita Selekta itu ia banyak menulis artikel dan buku, ada yang ditulis dalam bahasa Belanda.

Ajip Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi, (Jakarta, GP, 1990)

Cibinong, 23-10-2022

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Rakyat Adalah Sumber Kehidupan

karya WS Rendra



Rakyat adalah sumber kedaulatan
Kekuasaan tanpa rakyat
adalah benalu tanpa karisma

Rakyat adalah bumi
Politik dan kebudayaan adalah udara
Bumi tanpa udara adalah bumi tanpa kehidupan
Udara tanpa bumi
adalah angkasa hampa belaka

Wakil rakyat bukanlah abdi kekuasaan
Wakil rakyat adalah abdi para petani, para kuli,
Para nelayan dan para pekerja
dari seluruh lapisan kehidupan
Wakil rakyat
adalah wakil dari sumber kehidupan.


Anies Baswedan/ tj

Puisi WS Rendra itu dibaca Anies Baswedan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam pembukaan kegiatan kesenian. Anies memang dahulu ketika mahasiswa dikenal sebagai aktivis kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia biasa tampil di muka umum. Tentu mahasiswa mengenalnya terutama yang kuliah di Yogya saat itu. Ia adalah cucu dari AR Baswedan, yang aktif berjuang ketika zaman revolusi melawan kaum kolonial Belanda.

23-9-2022

Dipublikasi di bahasa | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar