Rakyat Adalah Sumber Kehidupan

karya WS Rendra



Rakyat adalah sumber kedaulatan
Kekuasaan tanpa rakyat
adalah benalu tanpa karisma

Rakyat adalah bumi
Politik dan kebudayaan adalah udara
Bumi tanpa udara adalah bumi tanpa kehidupan
Udara tanpa bumi
adalah angkasa hampa belaka

Wakil rakyat bukanlah abdi kekuasaan
Wakil rakyat adalah abdi para petani, para kuli,
Para nelayan dan para pekerja
dari seluruh lapisan kehidupan
Wakil rakyat
adalah wakil dari sumber kehidupan.

23-9-2022

Dipublikasi di bahasa | Tag , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Prof. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buti

wk

Muhammad Sa’id ibn Ramadhan Umar al-Buti lahir pada tahun 1929 di desa Jilika, Turki, yang terletak di Pulau Butan di Anatolia Barat. Daerah yang menderita kebodohan dan kebutuhan akan kebudayaan dan pengetahuan. Ia anak kedua dan satu-satunya anak lelaki. Ayahnya seorang sarjana Kurdi Mulla Ramadhan al-Buti. Semua leluhurnya keluarga petani dan juga ayahnya, yang telah mempelajari ilmu-ilmu Islam atas kemauan ayahnya dan membangunkan tradisi kesarjanaan keluarganya. Ibunya seorang yang saleh. Ia melanjutkan tradisi itu dan dilanjutkan oleh putranya Muhammad Taufik Ramadan al-Buti. Ibunya telah melahirkan tiga anak putri dan semuanya mati muda, yang kemudian membuatnya jatuh sakit dan ia wafat ketika al Buti umur 13 tahun. Ketika itu keluarganya telah pindah dan tinggal di Damaskus.

Pada tahun 1934 keluarganya melarikan diri dari Turki untuk menghindari langkah-langkah sekularisasi yang dilakukan Kemal Ataturk, yang dikatakan al-Buti sebagai ‘menghina Islam’. Di Damaskus ia memulai belajar agama, bahasa Arab dan matematika di sekolah swasta Suq al-Saruja, sebuah kota lama di dekatnya, dan kemudian ia pada usia 11 tahun mempelajari al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi saw di bawah bimbingan Syekh Hasan Habannakah dan Syekh al-Maradini di Masjid Jami’ Manjak di al-Midan. Ketika masjid itu diubah menjadi Institut Oriantasi Islam (Ma’had at Tawjih al-Islami) al-Buti mempelajari tafsir al-Qur’an, logika, retorika (pidato) dan prinsip-prinsip pokok hokum Islam (ushul fiqh) sampai tahun 1953. Namun waktu itu guru utamanya dan yang paing berpengaruh adalah ayahnya sendiri.

Ayahnya selalu membaca al-Qur’an, melakukan shalat tahajud, membaca dzikir dan wirid,  dan munajat, serta hidup wara dan zuhud. Ayahnya banyak melakukan ritual keagamaan meskipun ia rentan terhadap penyakit. Surat Yasin dibanyanya pagi dan petang; setiap Senin dan Selasa pagi setelah shalat subuh ayahnya mengajak keluarganya untuk bersama-sama berzikir membaca tahlil laa ilaha illa Allah dan Allah masing-masing seratus kali, wirid lainnya, shalawat dan doa. Al-Buti pun mengamalkannya hingga saat ini.

Pada tahun 1956 ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas al-Azhar dengan ijazah guru Syari’ah dan diploma pendidikan. Mula-mula ia menjadi guru Syari’ah di sekolah menengah pertama dan di Dar Muallimin Ibtidaiyah di Homs. Karir akademisnya dimulai pada tahun 1961 ketika ia menjadi asisten di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus yang baru didirikan. Pada tahun 1965 setelah al-Buti menyelesaikan gelar doktornya di Al-Azhar ia menjadi dosen dalam fiqh perbandingan dan studi agama di Universitas Damaskus. Ia juga menjabat Dekan Fakultas Syari’ah. Al-Buti adalah profesor di bidang hukum perbandingan pada Jurusan Fiqh dan Madzhab-madzhabnya.

Di Damaskus al-Buti juga menjalin silarurrahim dengan Syekh Mustafa as Siba’i yang ketika itu menjadi profesor hukum Islam di Universitas Damaskus. Ia tokoh Ikhwan Syria yang banyak menulis buku. Ia simpati terhadap gerakan Islam, namun ketika mereka melakukan tindakan kekerasan ia tidak setuju dan mengutuknya di televisi. Beberapa tahun kemudian ia semakin dekat dengan rezim Asad. Hal itu membuat kelompok gerakan Islam kecewa.

Yang banyak mempengaruhi perkembangan intelektualitasnya selain ayahnya, ialah gurunya Syekh Hasan Habannakah. Juga tokoh pemimpin spiritual Badi’ Zaman Sa’id Nursi sebagai aktivis politik dan agama yang beberapa kali ditangkap oleh pemerintahan Ottoman dan Republik. Al-Buti menerjemahkan otobiografinya dari bahasa Kurdi ke bahasa Arab dan ia menulis artikel tentang Sa’id Nursi.

Selain mengajar di Universitas Damaskus Syekh al-Buti banyak menulis buku dan berceramah di televise dan radio. Tentang ijtihad kaum modernis ia berpendapat, tidak bisa diterima gagasan bahwa setiap orang semestinya memiliki hak untuk melakukan ijtihadnya sendiri. Sebaliknya, proses ijtihad menuntut pengetahuan yang dalam atas semua sumber yang relevan dan kemampuan untuk menerapkan aturan-aturan yang berasal dari teks-teks otoritatif untuk keadaan-keadaan modern.

Karya tulisnya sangat beragam. Di antaranya, lebih dari dua puluh jilid risalahnya telah terbit, pamflet, ratusan petunjuk, kuliah, dan ceramah agama di masjid yang direkam tim pemuda Muslim. Judul buku Muhadarat fi Fiqh al-Muqarin; Fiqh Sirah Nabawiyah dan sebagainya.

Buku Fiqh Sirah Nabawiyah telah diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam buku Sirah Nabawiyah itu Syekh Al-Buti menulis: bahwa tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah bukan hanya untuk mengetahui berbagai peristiwa sejarah dan tidak sepatutnya kita mengagap itu termasuk kajian sejarah sebagaimana kajian tentang hidup seorang khalifah atau suatu suatu periode sejarah yang telah lalu. Tujuannya ialah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Sesudah ia dipahami secara kosepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Sirah Nabawiyah merupakan upaya penerapan yang bertujuan untuk memperjelas hakikat Islam secara utuh dalam keteladanannya yang tertinggi.

Juga ia mengeritik orientalis Gibb: “Kita tidak bisa menolak sama sekali pemikiran tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mukjizat al-Qur’an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para Nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaqnya, hanya kita harus menerima hipotesis bahwa Muhammad bukan Nabi.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaran-lontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.

Jika Anda memerlukan contohnya, bacalah buku Sistem Pemikiran Agama yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama HAR Gibb. Dalam buku ini, Anda dapat mencium fanatisme buta terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yang saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.

Sistem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiran-pemikiran transendental yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkannya kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan “kain” agama Islam. Ia juga tidak lupa dengan mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemuskilan besar. Dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan agama ini dalam sistem al-Qur’an. Itulah pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut. Jika And abaca bukunya dari awal sampai akhir, Anda tidak akan menemukan suatu argument pun yang dikemukakannya. Jika Anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, Anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, di gunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.

Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya, dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu, ia berkelit dengan mengatakan, “Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang terknadung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum Muslimin yang terlalu banyak untuk di sini. Akan tetapi, cukup saya sebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.

Gibb kemudian mengutip suatu nash dari kitab Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (1: 122). Tampaknya, dia menyangka tak seorang pun dari pembaca akan memerika teks kitab tersebut lalu dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb.

“Sesungguhnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainnya. Yang pertama kepada bani Israel. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali.” (Gibb, h. 58)

Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Isma’il untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu, dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi, tidak perlu mengubahnya atau menggantinya, bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Isma’il mewarisi ajaran bapak mereka (Isma’il)”  (Sirah Nabawiyah, h. 26-28)

“Mungkin Anda akan melihat suatu bangsa yang secara material berdiri tegar dalam puncak kemajuannya, padahal sistem sosial dan akhlaknya tidak benar, sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan dengan cepat menuju kehancurannya. Mungkin Anda tidak akan melihat dan merasakan “perjalanan yang cepat” ini karena pendeknya umur manusia dibandingkan dengan umur sejarah dan generasi. Perjalanan seperti ini hanya dapat dilihat oleh “mata sejarah” yang tidak pernah tidur, bukan oleh mata manusia yang picik dan terbatas.

…juga Anda akan melihat suatu bangsa yang tidak pernah segan-segan mengorbankan segala kekuatannya demi mempertahankan aqidah yang benar dan membangun sistem sosial yang sehat, tetapi tidak lama kemuadian bangsa pemilik aqidah yang benar dan sistem sosial yang sehat ini berhasil mengembalikan negerinya yang hilang dan harta kekayaannya yang dirampok, bahkan kekuatannya kembali jauh lebih kuat dari sebelumnya.” (Sirah Nabawiyah, h. 111)

Tentang politik ia menulis:

“Akan tetapi, janganlah Anda menamakan hal ini dengan istilah demokrasi dalam perilaku dan pemerintahan. Prinsip persamaan dan keadilan ini sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan demokrasi manapun karena sumber keadilan dan persamaan dalam Islam adalah ‘ubudiyah kepada Allah yang merupakan kewajiban seluruh manusia. Sementara itu, sumber demokrasi ialah pendapat mayoritas atau “mempertuhankan” pendapat mayoritas atas orang lain betapapun wujud dan pendapat tersebut.

Karena itu, syariat Islam tidak pernah memberikan hak istimewa kepada golongan atau orang tertentu betapapun motivasi dan sebabnya karena sifat ‘ubudiyah (kehambaan kepada Allah) telah meleburkan dan menghapuskan semua itu.” (Sirah Nabawiyah, 316)

Syekh al-Buti meninggal pada 21 Maret 2013 di masjid al-Iman Suriah ketika memberikan ceramah oleh serangan bom.

19-9-2022

________

Sumber: Dr. Muhammad Said Ramadan al-Buti (2006); John Cooper ed. dkk. (2006)

Dipublikasi di Belajar Sejarah, sejarah | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Rumi dan ayat-ayat-Nya

wk

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ

Do you not see that Allah is exalted by whomever is within the heavens and the earth and [by] the birds with wings spread [in flight]? Each [of them] has known his [means of] prayer and exalting [Him], and Allah is Knowing of what they do.” (QS An-Nuur: 41)

(Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.)

“Nabi Muhammad mengajarkan bahwa seluruh bumi adalah masjid, dan penyair mengungkapkan doa-doa kosmik. Seorang penyair suci yang terbesar, Jalaluddin Rumi (1207-1273 m) adalah pendiri kelompok ahli sufi yang menari, yang dengan tarian mereka yang berputar-putar menirukan putaran planet. Ia menulis:

Aku melihat air yang memancar dari sumbernya,

melihat cabang-cabang pepohonan yang menari seperti sekelompok sufi,

dan dedaunan yang memukul tangannya seperti para penyanyi.

_________

18-9-2022

Sumber: Roger Garaudy,(1984)

Dipublikasi di Estetika, Kata-Kata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Ibn Miskawaih

“Sejarah bukanlah cerita hiburan tentang  diri para raja, tetapi suatu pencerminan struktur politik ekonomi masyarakat pada masa-masa tertentu.  Ia merupakan rekaman naik turunnya peradaban, bangsa-bangsa dan negara-negara.

Untuk itu, ahli sejarah harus menjaga diri terhadap kecenderungan  umum mencampuradukkan kenyataan dan rakaan atau kejadian-kejadian palsu. Ia bukan saja harus faktual, tetapi juga harus kritis dalam mengumpulkan data.

Terlebih, ia mesti tidak hanya mengisi sejarahnya dengan gambaran-gambaran tentang kenyataan, tetapi juga pandangan-pandangan filosofis, menafsirkannya dalam lingkup “kepentingan manusiawi” dan akibat-akibat yang terjadi. Sebagaimana di dalam alam, di dalam sejarah pun tidak ada tempat bagi kebetulan.” Ibn Miskawaih

25-8-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Tukar Pikiran Warga Dunia

“Tukar pikiran yang terjadi selama seminar-seminar itu bukan semata-mata dari orang yang sedang mewakili Jakarta di hadapan Jepang, tapi ini percakapan sebagai sesama warga dunia yang saling belajar dan berbagi pengalaman. Kita adalah sesama warga dunia dan sama-sama punya tanggung jawab untuk menyiapkan masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya,” Anies Baswedan

15-8-2022

This was a conversation as fellow citizens of the world who learned from each other and shared experiences.
Dipublikasi di Dialog | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

lessons from history

“Masa sebelum kita juga memerlukan perhatian khusus. Al-Qur’an memberikan pertimbangan khusus pada sejarah dan penuh dengan ayat-ayat terkait sejarah. Namun, sejarah yang dituturkan dalam Al-Qur’an tidaklah seperti yang kita ketahui, yaitu berupa analisis kronologis dan mendetail tentang peristiwa dan tokoh, kisah mendalam tentang masa-masa silam yang baik dan buruk. Sebaliknya, Al-Qur’an menggunakan sejarah sebagai panduan bagi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi manusia pada masa depan. Al-Qur’an selalu menekankan pada pelajaran yang bisa ditarik dari kisah-kisah sejarah. Ayat indah pendek berikut ini di awal surat al-fajr  (Fajar) menjadi satu contoh bagus:

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad atau Iram, yang memiliki bangunan tinggi yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir’aun yang kuat dan perkasa? Semuanya berbuat banyak kerusakan di negeri mereka. Karena itu, Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS al-fajr: 6-14)

Surat ini berlanjut membandingkan sejarah dengan sifat manusia. Tema utamanya adalah bagaimana kezaliman, keserakahan, dan cinta harta menghancurkan manusia, tempat-tempat, kebudayaan, dan peradaban.”  

Ziauddin Sardar

5-8-2022

(lessons from history
This letter continues to compare history with human nature. The main theme is how tyranny, greed, and love of wealth destroy people, places, cultures, and civilizations.)
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , | 1 Komentar

Einstein

I would teach peace rather than war. I would inculcate love rather than hate.

(Saya akan mengajarkan perdamaian daripada perang. Saya akan menanamkan cinta daripada kebencian.)

2-6-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Ketika ibumu melahirkanmu,

Engkau menangis menjerit,

sementara orang-orang di sekelilingmu,

tertawa bahagia…

Maka berusahalah untuk dirimu,

ketika ajal menjemput,

di saat orang-orang di sekelilingmu,

menangis sedih,

Ruhmu tersenyum gembira…”

Ali bin Abi Thalib, ra

15-4-2022

"When your mother gave birth to you,
You cry scream,
while the people around you,
happy laugh...
So try for yourself
when death comes,
when the people around you,
sad cry,
Your spirit smiles happily…”
Dipublikasi di Kata-Kata Bijak | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Tentang Perspektif Sejarah

“Bagi Barat, sejarah secara umum berarti suatu perjalanan dan evolusi dari berbagai masyarakat yang diberi lebel ‘primitif’ menuju masyarakat terindustrialisasi, urbanisasi, dan ‘canggih’. Berbagai gelombang dan siklus mungkin menunda, namun tidak menghentikan gerak langkah sejarah. Karenanya sejarah merupakan kemenangan individual, titik puncak pencapaian manusia untuk menguasai lingkungan mereka. Kesadaran akan suatu perjalanan, perkembangan dan perbaikan merupakan suatu bagian integral dari cara pandang ini.

…perspektif muslim terhadap sejarah berakar pada masa-masa awal Islam. Pada suatu pandangan ini terdapat iman. Pada masa awal-awal Islam, muslim percaya dengan sepenuh keimanan dan keyakinan; mereka begitu bersemangat untuk menyebarkan kalimat-kalimat Tuhan, dan Tuhan memberikan kepada mereka kemenangan-kemenangan yang jarang tandingannya di dalam sejarah. Sejarah bagi Muslim adalah upaya untuk hidup dengan nilai-nilai Islam semaksimal mungkin. Upaya inilah yang menciptakan berbagai ritme dan tegangan pada sejarah  dan masyarakat Muslim; ia juga menyebabkan kebangkitan dan keruntuhan berbagai dinasti. Sejarah karenanya merupakan sebuah beban dan kadang-kadang sumber inspirasi. Tetapi karena sejarah tidak pernah jauh dari kehidupan Muslim, ia memungkinkan Muslim menanggung kegagalan-kegagalan nasib. Sejarah memungkinkan mekanisme optimisme yang inheren; sebab jika ada kegagalan di waktu sekarang maka pasti—pada saat Muslim kembali hidup berdasarkan nilai-nilai Islam—akan ada kemenangan esok hari”. Akbar S Ahmed

14-4-2022

(Various waves and cycles may delay, but do not stop the march of history. Hence history is the triumph of the individual, the culmination of man's attainment of mastery of their environment.
History allows for an inherently optimistic mechanism; because if there is failure today then surely—when Muslims return to living based on Islamic values—there will be victory tomorrow.)
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Andalusia, Dulu dan Kini

al hambra/ pb

Hati nurani yang suci menangis, dirundung rasa sedih,

seperti orang yang dilanda cinta, menangisi kepergian sang kekasih

Menangisi rumah-rumah yang kering dari siraman kedamaian Islam,

sementara kekafiran tumbuh dengan subur

Masjid-masjid yang megah dan anggun berubah menjadi gereja-gereja tua yang kosong,

kecuali hanya lonceng dan lambang salib sebagai tuannya

Mihrab-mihrab pun, benda mati yang tak bergerak, turut menangis,

demikian juga mimbar-mimbar, yang hanya berupa bongkahan kayu,

meratap dan merindukannya     (Abul Biqai al-Barmadi)

Negeri itu yang kemudian dinamakan Andalusia dimasuki oleh bangsa Arab di bawah pimpinan Musa ibn Nushair dan sahayanya Thariq ibn Ziyad dengan pasukannya tahun 711 M. Thariq ibn Ziyad yang kemudian dijadikan nama selat, Gibraltar. Kedatangannya ini bukanlah invasi langsung tapi atas permintaan dari satu faksi pangeran Kristen yang saling berperang. Wilayah Spanyol selatan dalam kekacauan di bawah pemerintahan Visigothik. Bangsa Arab menyebutnya al-Andalus, nama yang diberikan kepada kaum Vandal, yang bermukim di kawasan tersebut.

Ketika dinasti Abbasiyah merebut Damaskus kekuasaan Umayah ambruk, salah satu  keluarga Umayah ada yang melarikan diri, Abdurrahman I (Abdurrahman ad-Dakhil). Ia masuk ke Andalusia dan mendirikan suatu dinasti yang berpusat di Cordoba. Ia tidak memakai sebutan khalifah tapi gelar amir. Ia menata kekuasaanya dengan tertib dan maju. Dari amir-amir Bani Umayah ada tiga nama yang mempunyai kemiripan nama di antaranya, Abdurrahman I yang bergelar ad-Dakhil (yang masuk), Abdurrahman II yang bergelar al-Ausath (yang pertengahan), dan Abdurrahman III yang bergelar an-Nashir (yang membela). Pada saat Abdurrahman III mendengar bahwa penguasa Bani Abbas yang bergelar al-Muqtadir mati dibunuh ia mengumumkan dan menyebut dengan Amirul Mu’minin. Di masa pemerintahan Abdurahman III (912-961 M) Cordoba menjadi kota paling gemilang di Eropa. Ia membangun peradaban sehingga negeri Andalusia menjadi pusat kebudayaan, kesusastraan dan ilmu pengetahuan. Juga dari sana muncul banyak filosof  dan terkenal namanya. (Hamka, h. 221)

“Jika kita mendefinisikan suatu masyarakat beradab sebagai masyarakat yang menganjurkan toleransi agama dan etnis, debat bebas, perpustakaan dan universitas, tempat-tempat mandi umum dan taman, puisi dan arsitektur, maka Spanyol Muslim merupakan contoh yang baik. Ambil contoh perpustakaan, selalu menjadi indeks peradaban yang bermanfaat. Perpustakaan pemerintah Cordoba di abad kesepuluh berisi 400.000 volume—konon, lebih banyak dari jumlah semua koleksi perpustakaan di seluruh Eropa pada waktu itu.” (Akbar, h. 107)

Pada abad itu London dan Paris adalah kota-kota kecil. Tidak ada seni, sastra  atau debat yang dikenal di kawasan Eropa.

Dalam sejarahnya Andalusia melalui periode pemerintahan, yang dipimpin di antaranya: pemerintahan Umawiyah sampai tahun 138 H, periode Bani Umayyah tahun 316 H, periode khilafah tahun 422 H, dan periode Thawaa’if (golongan suku atau bangsa) sampai tahun 479 H.

Sepeninggal Abdurrahman III, beberapa pemerintahan berlalu, di masa pemerintahan al-Mansur, Perdana menteri Hisyam II (961-976 M) menaklukkan seluruh semenanjung Iberia.

Setelah melewati waktu beberapa abad dan silih bergantinya pemerintahan serta terjadi konflik di dalamnya, maka kesatuan umat terpecah-pecah. Dalam keadaan seperti itu musuh dari luar, terutama dari utara, dengan mudah mengambil wilayah Muslim sedikit demi sedikit.

Pada masa ini ada pejuang terkenal Rodrigo Diaz, yang dikenal dengan El Cid, yang berarti “tuan”, berasal dari bahasa Arab as-sayyid. Ia berjuang di pihak Kristen; bergabung dengan tentara Muslim; di lain waktu membantu Muslim memerangi pesaingnya; dan membantu kerajaan Kristen juga memerangi pesaingnya. Terakhir, ia menjadi penguasa Valensia yang menjadi tempat bagi Kristen dan Muslim secara damai hingga akhir hayatnya.(Bauer, h. 711-729)

Akhirnya Granada jatuh pada tahun 1492 M, dan para pendeta Kristen memberikan kepada orang-orang Muslim dan Yahudi pilihan, berpindah agama (menjadi Kristen) atau meninggalkan tanah itu. Sebenarnya, pilihan pertama pun tidak aman yang pada akhirnya mereka akan dibunuh juga, dibakar di atas bara api. Berbagai macam siksaan mengerikan dilaksanakan oleh pihak gereja terhadap kaum Muslim.

Usaha para pendeta untuk mengeluarkan orang-orang Muslim (murtad) dari agamanya ternyata tidaklah mudah, sehingga pemerintah dan gereja memutuskan untuk mengkristenkan mereka dengan cara paksa, dengan kekuasaan dan penindasan. Pilihan itu diputuskan oleh Isabella dari Castilla dan Ferdinand dari Aragon. Wilayah itu dibersihkan dari nama dan sebutan “muslimin”, kecuali dengan nama kristen baru atau Moorish. (Himayah, h. 9)

Oleh karena itu orang-orang Muslim menyembunyikan keislaman mereka (taqiyyah), juga mereka melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Para ulama berupaya mengajarkan dan menanamkan ajaran Islam kepada mereka. Buku-buku ditulis dengan bahasa lokal menggunakan huruf Arab.

Di saat pemerintahan terakhir jatuh, sebenarnya kaum Muslim masih mengadakan perlawanan, namun jumlah dan kekuatan mereka tak seimbang dengan musuh, yang akhirnya mereka kalah. Juga mereka berusaha meminta bantuan penguasa Maroko, Afrika Utara dan kerajaan Utmani, tapi tidak ada yang menanggapi.

Dikatakan, jumlah warga Moorish dari tahun 1609 M- 1614 M yang terusir dari Spanyol sekitar 327 ribu jiwa, 195 ribu dari Aragon dan 132 ribu jiwa dari Castilla. Mengenai jumlah ini memang para sejarawan berselisih pendapat,  namun tidak jauh dari jumlah itu.

Tanah-tanah dan harta benda yang mereka tinggalkan dibagi-bagikan, untuk pihak gereja dan para pembesar pemerintahan. Pada abad ke-18 dan ke-19 tanah-tanah tersebut dibagi-bagikan kepada Prancis dan Inggris, sehingga tinggal sedikit tanah Andalusia yang tersisa di tangan pemiliknya. (Himayah, h. 22)

Andalusia Kini

Adalah Prof. Valas Anfanty sebagai guru ruhani dan pemikir bagi kebangkitan Andalusia modern. Ia lahir pada tahun 1885 M. Pada tahun 1920 ia menemukan sebuah buku tentang raja terakhir Sevilla, Mu’tamid bin Ibad. Lalu pada tahun 1923 M ia berziarah ke makamnya di wilayah Agmat, Maroko, melalui proses yang berliku dan ia memeluk Islam di sana.

Sejak ia memeluk Islam ia memiliki berbagai aktivitas dan pemikiran-pemikiran berani dan cerdas tentang masa depan Andalusia. Ia mengatakan, “Tujuan kita adalah membebaskan warga Andalusia, jiwa, dan ekonominya”. Ia terus berjuang untuk kebebasan warga Andalusia. Dalam bukunya “Fondasi-fondasi Andalusia” (Asasiyat al-Andalus) ia menulis, “Untuk menghidupkan Andalusia kembali kita harus memperhatikan dasar-dasar dan tujuan  sebagai berikut:

1. dasar keislaman yang mutlak;

2. tujuan pandangan ruhani;

3. tujuan ekonomi; dan

4. tujuan politik.”

Kemudian ia merinci dasar dan tujuan itu secara detail. Oleh karena hal itu pada tahun 1936 M ia dieksekusi hukuman mati oleh pemerintah Spanyol.

Setelah melewati masa kediktarotan Franko, lalu tahun 1980 M Andalusia menerima kebebasannya. Para pemuda banyak yang mencari identitas dirinya melalui sejarah Andalusia. Antonio Medine Miller pada tahun 1981 M memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdurrahman Medine. Ia diikuti rekan-rekannya, dan para pemuda satu persatu mengikuti jejak mereka. Aktivitas keislaman mereka semakin berkembang. (ibid., h. 51)

Setelah Peristiwa Itu

Ketika nabi Muhammad Saw menang atas kaum Quraisy Makkah (fathul Makkah), mereka semua tidak ditahan atau diperlakukan tidak manusiawi dan apalagi dibantai juga tidak dipaksa memeluk Islam, tapi mereka dimaafkan, bebas. Hal itu menjadi teladan bagi para panglima di kemudian hari. Begitu juga Salahuddin al-Ayubi ketika menang atas kaum Kristen tidak memperlakukan musuh yang sudah kalah dengan semena-mena.

Tapi berbeda jika kaum Muslim yang kalah dalam perang. Meraka menjadi tawanan, disiksa atau dibantai dengan sadis.

“Dan kekejaman-kekejaman yang tak terpikirkan, penghancuran dan penghinaan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan salib yang ‘suci-suci’ itu pada negeri-negeri Islam, mereka menaklukkannya dan sesudah itu mereka kalah, timbullah bibit-bibit beracun dari permusuhan panjang yang mulai saat itu memahitkan hubungan antara Timur dan Barat.”

Di pihak kaum Muslimin selalu ada harapan ikhlas untuk toleransi dan respek.’ Ketika Harun al-Rasyid mengirimkan dutanya kepada Kaisar Karel, terutama ia terdorong oleh hasrat ini, bukan ingin mengambil keuntungan material dari persahabatan dengan orang-orang Frank. Pada masa itu Eropa terlalu primitif dalam kulturnya untuk dapat menilai kesempatan ini secara penuh, tetapi jelas mereka tidak memperlihatkan rasa tak suka.”

“Tetapi, kemudian, secara tiba-tiba, peperangan salib muncul di cakrawala dan menghancurkan hubungan antara Islam dan Barat. Bukan kerena hal itu lumrah sebagai akibat peperangan: demikian banyak peperangan antara bangsa-bangsa, yang kemudian dilupakan dalam perjalanan sejarah umat manusia, dan sekian banyak permusuhan telah berubah menjadi persaudaraan. Tetapi, setan yang muncul dari peperangan salib tidak terbatas pada gemerincing pedang; setan itu pertama dan terutama berupa setan intelektual. ‘Kejahatan itu berupa peracunan pikiran Barat terhadap dunia Islam melalui penyalahtafsiran yang dilakukan dengan sengaja, yang ditempa oleh gereja terhadap ajaran-ajaran Islam.’ (Asad, h. 49)

Cibinong, 4-4-2022

Sumber:

Ahmad Mahmud Himayah, Kebangkitan Islam di Andalusia, (Jakarta, GIP, 2004), terj.

Akbar S. Ahmed, Living Islam, (Bdng, Mizan, 1997), terj.

Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta, GIP, 2016)

Susan Wise Bauer, Sej. Dunia Abad Pertengahan, (Jakarta, Elex, 2019), terj.

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar