Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah

Perpustakaan Medayu Agung dibentuk dari kenangan dan pengalaman pribadi sang pemilik, Oei Hiem Hwie, demi membangun sejarah yang lebih besar.

Sumber: Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah

Dipublikasi di Belajar Sejarah, Indonesia, sejarah | Meninggalkan komentar

Bangsa Indonesia

 

 

2015-12-06 17.07.58

Karya Muchtar Lubis

Buku ini karya Muchtar Lubis dari bahan ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta pada tanggal 30 Januari 1978.

Siapa bangsa Indonesia? Dalam sejarah bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa pedagang dan pelaut. Jalur perdagangan di masa kuno antara kawasan Asia dan Asia Tengah bahkan sampai Eropa. Disinggung oleh Marco Polo, bahwa ada tiga jalur perdagangan, jalur utara menyusuri Laut Hitam di Asia, sampai Bizantum dan Asia Minor, lalu jalur tengah yang menyeberangi sungai Eufrat mencapai kota-kota di Siria, dan jalur selatan yang mencapai Mesir melaui Laut Merah dan Sungai Nil, Bukhara, Samarkan, Bactra, Smirna, Petra, Antiok, dan Loyang (Tiongkok), sebagai kota yang terkenal dalam perdagangan internasional masa itu.

Peran bangsa Indonesia dalam perdagangan internasional itu muncul bukan hanya dari inisiatif sendiri, namun juga ada pengaruh dari perkembangan di kawasan Asia.

Ketika jalur daratan antara Asia dengan Asia Tengah dan Eropa terganggu karena perang mereka mengikuti jalur perdagangan melalui lautan. Aktivitas orang Indonesia dalam pelayaran dan perdagangan menyeberangi Samudra Hindia sampai pantai timur Afrika.

Mereka berlayar dengan perahu cadik. Barang dagangan yang penting yang dibawa oleh perahu layar Indonesia ke Madagaskar dan timur Afrika, diantaranya kayu manis.

Mereka berlayar ribuan mil jauhnya, menghadang gelombang, topan, badai dan berbagai bahaya lain. Alangkah pemberaninya mereka, besar semangat dan jiwa mereka. Mereka adalah manusia Indonesia yang perkasa dan berjiwa besar dan tak kalah dengan bangsa lain, semisal orang Viking, yang menyeberang lautan Atlantik hingga Amerika Utara.

Pada masa lalu itu, zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buda hingga Islam, berbagai hasil alam Indonesia telah menjadi perhatian bagi para pedagang asing. Diantaranya, rempah-rempah, kapur barus, bahan obat-obatan, jenis-jenis kayu, seperti gaharu.

Sampai kemudian datang para pedagang asing dari Eropa, yang dimulai Portugis, aktivitas perdagangan Indonesia dapat mengimbangi mereka. Dengan teknologi persenjataan dan teknik pertempuran yang mereka bawa perlahan-lahan mereka menggeser peranan orang Indonesia dalam pelayaran dan perdagangan Nusantara. Lebih-lebih ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis dan kemudian direbut Belanda, dan terus silih berganti menambah kemunduran perniagaan dan pelayaran orang Indonesia.

Dengan datangnya para pendatang asing orang Indonesia tidak tinggal diam. Diantara manusia besar Indonesia masa lalu, Trunojoyo, Surapati, yang semula menjadi perwira VOC lalu berbalik melwan Belanda, kemudian ia mendirikan kerajaan di Pasuruan (abad 17), Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong, Ptitimura, Imam Bonjol dan banyak lagi.

Kemudian di zaman perjuangan nasional kita, banyak tokoh pejuang Indonesia yang ditangkap dan dibung kolonialis Belanda ke Boven Digul dan pulau-pulau lain di wilayah Nusantara. Mereka berjuang tanpa lelah hingga akhirnya berhasil mencapai kemerdekaan 1945. Namun setelah mencapai kemerdekaan, generasi kaum nasionalis yang semula memiliki jiwa besar dan semangat juang segera nilai-nilai itu melemah dan mengerdil. Lebih-lebih ketika mereka berkuasa. Semangat yang melemah dan mengerdil itu akibat tamak pada kekuasaan dan nafsu menumpuk kekayaan. Sumber-sumber kerapuhan watak dan kerusakan jiwa generasi kaum nasionalis dapat dicari rujukannya dalam sejarah masa lampau bangsa kita.

Paska Orde Lama giliran kekuasaan baru. Di zaman baru banyak peraturan yang belum dijalankan dan masyarakat menjadi resah sebab kehidupan demikian susah. Menanggapi semua keresahan masyarakat itu penguasa perlu menghadapi dengan jiwa besar dan pikiran yang lapang. Perlu dipahami, perkembangan yang terjadi dalam masyarakat kita juga bagian dari perkembangan umat manusia di seluruh dunia.

Di Asia Tenggara banyak negara yang telah melangkah lebih maju di negara kita, berkaitan dengan sumber daya manusia, tersedianya lapangan kerja, keadilan hukum, kemmakmuran yang adil dan merata. Itulah ancaman terhadap Pancasila dan UUD 1945, jika kita belum mampu melaksanakannya secara baik dan jujur.

Di wilayah yang lebih luas lagi, yakni di negara-negara industri maju. Di negara-negara itu telah terjadi proses peralihan dari masa perindustrian ke masa setelah perindustrian (post-industrialism). Ciri dari masa ini diantaranya majunya peranan pengetahuan dan informasi yang menggunakan komputer untuk mengumpulkan, menyimpan, mengirim, memilih kembali dan memakai pengetahuan. Untuk kebutuhan itu membutuhkan tenaga manusia yang handal.

Di sisi lain, negara-negara industri seperti Amerika masyarakatnya sangat konsumtif. Mereka hidup sangat boros. Penduduk Amerika yang jumlahnya enam persen dari jumlah penduduk dunia menghabiskan lebih dari separuh bahan mentah yang dipergunakan seluruh dunia tiap tahunnya. Ditambah biaya untuk binatang peliharaan mereka. Sementara penduduk di belahan dunia lain, seperti Indonesia sangat kekurangan dan miskin, dibiarkan menonton pertunjukkan kemewahan gaya hidup mereka sampai kiamat?

Kembali ke masalah yang terjadi di Indonesia. “…kita memerlukan manusia-manusia berjiwa besar untuk dapat memahami dan mencari jalan keluar dari pelbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Kita harus dapat merasakan, bahwa keresahan, kritik, dan hasrat-hasrat yang dicetuskan mahasiswa di seluruh Indonesia dewasa ini didorong oleh kenyataan-kenyataan sebenarnya. Berdosalah kita semua jika kita menutup mata, pikiran dan hati kita terhadap kenyataan-kenyataan hidup di tanah air kita.” (h. 36)

Di negara kita ini, terutama berkaitan dengan kebijakan ekonomi sangat jauh dari berorientasi kepada rakyat. Sebab yang diberlakukan sistem ekonomi kapitalis yang memberi peluang kepada kaum pemodal kuat untuk lebih kuat dan besar, sementara rakyat banyak semakin terpinggirkan.

Di akhir tulisannya Muchtar Lubis mengatakan, “Persoalan hakiki yang dihadapi bangsa kita sekarang ialah seluruh hari depan bangsa kita”.

Lalu lanjutnya, alangkah baik jika bangsa kita mengurangi ketergantungan pada pinjaman-pinjaman luar negeri dari tahun ke tahun. “Tidakkah telah tiba waktunya kita belajar mengelola sumber-sumber manusia, sumber-sumber alam, dan sumber-sumber keuangan kita lebih efisien, lebih hemat dan lebih tepat mengenai sasaran-sasaran? ”

 Nusantara, 12-12-2015
Dipublikasi di Humaniora, Indonesia | Tag , , , | 1 Komentar

Neokolonialisme, Mentalitas dan Masa Depan Bangsa

Bung Karno pernah melontarkan istilah neokolonialisme dahulu dan  agaknya masih relevan dengan keadaan Indonesia saat ini. Ia mengatakan itu karena penjajahan yang ia alami bersama kawan-kawannya terlihat secara fisik, perang dengan senjata dan diakhiri dengan diplomasi mudah dikenali. Mereka yang tampil dalam diplomasi telah terdidik dalam bahasa dan cara berpikir kaum penjajah sehingga mereka bisa keluar menjadi pemenang.

Namun, zaman setelah merdeka dan ketika Bung Karno tak lagi berkuasa negara ini jatuh ke tangan belum jelas berjuang pun secara diplomasi. Hasil perjuangan Bung Karno dan kawan-kawan lenyap begitu saja. Inilah keadaan ketika Indonesia jatuh ke dalam cengkraman neokolonialisme. Model penjajahan ini yang dikendalikan adalah mentalitas kaum pribumi.

Bung Karno paham, apapun bentuknya penjajahan itu tujuannya satu, menguasai baik fisik maupun jiwanya. Itu artinya manusianya dan kekayaan alamnya. Oleh karena itu ketika Bung Karno dijebloskan ke penjara oleh kolonial Belanda di Bandung ia mampu melawan dengan pikiran yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan itu sekaligus sebagai pembelaan di depan sidang pengadilan, “Indonesia Menggugat”, (baca Cindy Adam).

Ia membuktikan, bahwa fisik dapat saja dipenjara namun pikiran tak bisa dibunuh. Itulah jiwa seorang pejuang. Perjuangan fisik adalah refleksi dari kekuatan jiwa untuk berontak melawan penindasan kaum kolonial. Ketika fisik telah terbebas, ia mengingatkan, jangan sampai mentalitas kaum pribumi dikuasai mereka.

Merdeka pada awalnya adalah suatu ide dalam pikiran yang kemudian digaungkan untuk menjadi kesadaran bersama. (Asvi W Adam, 2010, h. 54)

Mentalitas Pejabat


Ketika Indonesia terlahir perjuangan harus dilanjutkan. Siapapun ia ketika menjadi pemimpin atau pejabat ia harus memiliki kesadaran sejarah, bahwa bangsa ini terbentuk melalui proses yang panjang. Indonesia sebagai negara muncul bukan hadiah dari bangsa-bangsa asing yang menjajah dulu. Tetapi ia lahir dari perjuangan dan kesepakatan bersama untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Sejarah dari semua bangsa di dunia pada dasarnya adalah perjuangan untuk menjadi manusia merdeka. Begitu juga dengan bangsa Indonesia terbentuk dari usaha untuk mmbebaskan diri dari cengkraman kaum penjajah. Sebagai kaum terjajah harus tunduk, menjadi budak dan menuruti keinginan kaum penjajah. Tenaga dieksploitasi untuk kepentingan mereka dan kekayaan alam juga dikuras untuk kemakmuran negara para penjajah. Sementara kehidupan kaum terjajah sebagai masyarakat kelas dua sangat miskin dan memilukan. (Robert van Niel,2003)

Kemiskinan itu adalah bukan sesuatu yang alami namun diciptakan oleh kaum kolonial. Bagi seorang pribumi yang memiliki jiwa pejuang tentu ia tidak akan menerima keadaan itu, tidak tinggal diam dan ia berpikir bagaimana membebaskan masyarakatnya dari cengkraman kaum penindas. Tapi mereka yang berjiwa budak bukan justru melawan malah untuk ikut menikmati keadaan itu dengan bergabung dengan kaum penjajah, tak perlu susah berjuang dan yang penting dapat menikmati kesenangan.

Bagi kita saat ini kaum pribumi yang telah berjuang membebaskan masyarakatnya dari kekuasaan kaum kolonial kita memberi hormat dengan sebutan pahlawan, namun bagaimana dengan mereka yang menggabungkan diri dengan para penjajah? Atau sebaliknya dari kaum kolonial tetapi ia berbalik membela perjuangan kaum pribumi, seperti Douwes Dekker? Tentu kita mengapresiasi apa yang telah dilakukan Douwes Dekker terhadap bangsa ini dan tidak melihat darimana ia berasal. Ia orang Belanda yang memiliki poin sebagai pahlawan. (Subagio Sastroardoyo, 1983)

Jika saat ini muncul seorang pahlawan, itu artinya bukan pahlawan berjuang dengan senjata, tapi ia yang mampu membebaskan bangsa ini dari cengkraman kekuasaan asing yang menjadikan bangsa ini miskin. Mengapa kekuasaan asing mampu mencengkram bangsa ini? Sebab masih banyak mentalitas pejabat yang belum terbebaskan, atau pikiran merdeka dengan gampang memberikan kewenangan kepada asing untuk menguras habis (merampok) kekayaan alam, dari Aceh sampai Papua. Mereka menganggap orang asing dari ras kulit putih lebih unggul, sehingga kaum pribumi perlu diajari dan dibimbing.

Mereka percaya bahwa kaum pribumi tak rasional dan pemalas. Padahal itu mitos yang ditebarkan oleh kaum kolonial agar mereka bisa mempertahankan penjajahan! (baca, SH Alatas, Mitos Pribumi Malas,1988)

Masa Depan Kesejahteraan Rakyat
Bangsa Indonesia harus bangga bahwa mereka bukan bangsa yang malas dan bodoh, sebab mereka mampu mengusir kaum penjajah dan meraih kemerdekaan. Tinggallah bagaimana bangsa ini menata masa depan.

Masa depan bangsa ini bergantung kepada pemimpinnya. Ia ibarat nahkoda yang membawa para penumpangnya melaju ke masa depan. Jika di depan ada badai atau rintangan apakah ia akan diam saja atau akan mengarahkan laju kapal ke arah yang benar, sehingga tidak oleng dan karam. Jika ia seorang pemimpin yang amanah tentu ia akan mengajak kaum cendikia yang memiliki visi yang sama untuk membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik, terciptanya keadilan dan kesejahteraan.

Keadilan dan kesejahteraan itulah yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini (founding fathers) yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Untuk memastikan cita-cita para pendiri bangsa yang juga menjadi harapan rakyat Indonesia itu terwujud pemimpin harus berusaha membuang rintangan yang menghadang dan ingin membelokan cita-cita itu. Jika rintangan itu telah dihalau maka tinggallah bangsa ini mengonsolidasi diri untuk menjadi bangsa adil dan sejahtera. Jika kendala dari luar dan dari dalam diri belum dihilangkan akan sulit bagi bangsa ini mencapai cita-cita itu.

Cita -cita tersebut akan tercapai dengan kekuatan bersatu bangsa ini sehingga mampu menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera. Sejatinya kaum kolonial baru (neokolonialisme)  sama saja dengan kolonial klasik selalu mencari celah bagaimana mengadu domba antarpribumi dan kemudian menguasainya (devide et impera).

Nusantara, 31 Oktober 2015
Anak bangsa

Dipublikasi di Belajar Sejarah, Indonesia | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kongres Nasional Sarekat Islam Pertama Sebagai Partai Nasional

Menurut Mohammad Roem, bahwa Sarekat Islam awal didirikan oleh H Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905. Di tempat lain pun banyak orang ingin mendirikan perkumpulan itu dengan maksud dan tujuan yang sama. SI didirikan pada tahun itu, namun sebagai organisasi berbadan hukum (rechtspersoon) baru diberikan izin oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1912. Itu pun hanya untuk Sarekat Islam lokal atau setempat. Tahun 1914 disahkan Central Sarekat Islam sebagai organisasi nasional.1 Juga AN Firdaus menulis, bahwa dari fakta sejarah Sarikat Islam lahir (16 Oktober) tahun 1905, sedangkan Budi Utomo (20 Mei) tahun 1908, jadi dilihat dari waktu yang lebih dulu adalah SI. SI bersifat nasional dan anti pemerintah kolonial Belanda, namun Budi Utomo tidak, dan BU menjalin hubungan dengannya.

Oleh karena baru diberi izin tahun 1912 maka dalam banyak buku sejarah ditulis tahun 1912 bukan sebagai organisasi nasional pertama.2

Kongres diadakan di alun-alun Bandung pada 17-24 Juni 2016. Kongres ini dinamakan Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam. Kongres ini dihadiri 80 utusan dari berbagai wilayah Hindia Belanda, yakni Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali dan Sulawesi. Peristiwa ini diberitakan juga dalam majalah yang diterbitkan Sarekat Islam yaitu majalah ”Bendera Islam”.

Yang utama dari kongres itu adalah pidato HOS Tjokoaminoto. Roem menuliskan pidatonya berdasarkan laporan G.A.J. Hazeu, Pejabat Penasehat dari Kantor Urusan Bumiputra (Waarnemend Adviseur voor Inlandsche Zaken). Beberapa penggalan pidatonya yaitu:

“Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita, atau sebagian besar dari bangsa kita. Kita cinta tanah air, dimana kita dilahirkan, dan kita cinta pemerintah yang melindungi kita. Karena itu, kita tidak takut untuk minta perhatian atas segala sesuatu, yang kita anggap baik, dan menuntut apa saja, yang dapat memperbaiki bangsa kita, tanah air kita dan pemerintah kita.
Untuk mencapai tujuan dan untuk memudahkan cara kerja kita, demi pelaksanaan rencana raksasa itu, maka perlulah, dan kita harap dengan sangat agar diadakan peraturan, yang memberi kita penduduk bumiputra hak untuk ikut serta dalammengadakan bermacam-macam peraturan, yang sekarang sedang kita pikirkan. Tidak boleh terjadi lagi, bahwa dibuat perundang-undngan untuk kita, bahwa kita diperintah tanpa kita, dan tanpa mengikut-sertakan kita.

Meskipun jiwa dan keinginan yang besar, kita tidak pernah bermimpi tentang datangnya Ratu Adil, atau kejadian yang bukan-bukan, yang kenyataannya memang tidak akan terjadi . akan tetapi kita akan terus mengharapkan dengan ikhlas dan jujur datangnya status berdiri sendiri bagi Hindia belanda, atau paling sedikit Dewan Jajahan, agar kita dapat ikut berbicara dalam urusan pemerintahan. Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan “pemerintahan sendiri”. Dengan sendirinya kita tidak takut untuk memakai perkataan itu karena ada undang-undang (wet) yang harus dibaca oleh tiap-tiap penduduk, yang juga mempergunakan perkataan “pemerintahan sendiri”, yaitu Undang-undang 23 Juli 1903, tentang “Desentralisasi dari Pemerintah Hindia Belanda, yang memuat keputusan Sri Ratu Wilhemina, dimana Sri Ratu memandang perlu, agar tiap-tiap karesidenan atau bagian-bagian daerah membuka kemungkinan untuk mencapai ”pemerintahan sendiri”.

Tidak dapat diragukan, bahwa Ratu kita adalah bijaksana. Semakin lama, semakin bertambah kesadaran orang, baik di Nederland maupun di Hindia, bahwa “pemerintahan sendiri” adalah perlu. Lebih lama lebih dirasakan, bahwa tidak patut lagi Hindia diperintah oleh Nederland, seperti tuan tanah mengurus persil-persilnya. Tidak patut lagi memandang Hindia sebagai sapi perahan, yang hanya mendapat makan karena susunya. Tidak pantas lagi untuk memandang negeri ini sebagai tempat untuk didatangi dengan maksud mencari untung, dan sekarang juga sudah tidak patut lagi, bahwa penduduknya, terutama putra buminya, tidak punya hak untukikut bicara dalam urusan pemerintahan, yang mengatur nasibnya.

Segala puji kepada Allah. Tuhan maha Adil. Tuhan mendengarkan keinginan hamba-Nya. Ratu kita dan Pemerintah bijaksana. Perubahan besar pasal 111 R.R., yang melarang mengadakan rapat-rapat politik sudah dicabut, dan meskipun belum sama sekali dikubur, tetapi tidak dijalankan lagi. Meskipun mengadakan kongres jatuh di bawah pasal 111 tersebut, kita berbesar hati, bahwa Pemerintah dan Pemerintah daerah di Bandung memberi izin untuk mengadakan rapat-rapat ini.

Kita menyadari dan benar-benar mengerti, bahwa mengadakan “Pemerintahan sendiri” adalah satu hal yang sangat sulit, dan bagi kita hal itu laksana suatu impian. Akan tetapi bukan impian dalam waktu tidur, tetapi harapan yang tertentu, yang dapat dilaksanakan, jika kita berusaha dengan segala kekuatan yang ada pada kita, dan dengan memakai segala daya upaya melalui jalan yang benar dan menurut hukum

Kita sama sekali tidak berteriak: “Persetan Pemerintah Kita malah berseru: “Dengan Pemerintah, bersama dengan Pemerintah dan untuk membantu Pemerintah menuju ke arah yang benar”. Tujuan kita ialah bersatunya Hindia dan Nederland, dan untuk menjadi warga negara “Negara Hindia”, yang mempunyai pemerintahan sendiri.”

Lalu pada bagian penutup pidatonya Tjokroaminoto berkata:
“Kongres yang terhormat, bangsaku dan kawan-kawan separtai yang saya cintai. Maka perlu sekali kita bekerja keras. Meskipun Pemerintah yang maju (progressip) mampu dan tentu bersedia, meniddik anak buahnya, dan membangkitkan eneji anak buahnya, agar mereka semakin maju dalam kehidupannya, hak-hak dan kebebasan politik baru diberikan kepada satu rakyat, kalau rakyat itu meminta sendiri dengan memksa, jarang sekali terjadi bahwa hak dan kebebasan semacam itu diberikan sebagai hadiah oleh sesuatu pemerintah. Di bawah pemerintah yang tiranik dan dzalim hak-hak dan kebebasan itu dicapai dengan revolusi sedang dari suatu Pemerintah yang bijaksana dengan evolusi, gerakan yang patut. Kita mengharap, bahwa gerakan evolusi ini senantiasa akan berlangsung di bawah naiungan sang tiga warna. Tetapi bagaimanapun juga “rakyat harus bekerja untuk menentukan nasib sendiri”. 3

G.A.J. Hazeu selaku Pejabat Penasehat Kantor Urusan Pribumi mengirim surat kepada G.G van Limburg Stirum, yang cuplikannya sebagai berikut: “Tidak terbukti dengan jelas melainkan di Kongres ini bahwa berkenaan dengan cara bagaimana Hindia diperintah, zaman sudah berubah dan kebijaksanaan harus diubah. Rakyat sekarang menuntut agar ikut serta mengatur urusan negaranya. Bahwa bumiputra tidak lagi seperti seperempat atau setengah manusia, melainkan menuntut agar dipandang dan diperlakukan sebagai warga negara yang merdeka dan penuh”. 4

Depok, 10 Mei 2015
Lu’ay

Sumber

1. Dalam Tiga Peristiwa Bersejarah, (Jakarta: Sinar Budaya, 1971), h.10; juga AN Firdaus, Syarikat Islam Bukan Budi Utomo, (Jakarta: Gatayasa, 1997) “Oleh karena itu hari kebangkitan Nasional yang semula dilangsungkan setiap 20 Mei harus diubah menjadi tanggal 16 Oktober, sesuai dengan hari lahirnya Syarikat Islam pada 16 Oktober (tahun 1905).”
2. Sejarah Umat Islam, h.193 juga APE Korver, Sarekat Islam, (Jakarta: Grafiti, 1985)
3. Roem, h.14-16
4. Ibid., 18

Dipublikasi di Belajar Sejarah | Tag , , , , , | 2 Komentar

Agus Salim, Manusia Bebas Merdeka

Agus Salim lahir 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Sumatra Barat – wafat 4 November 1954 di Jakarta. Ia mendapat pendidikan Belanda dan juga dari ayahnya, Sutan Salim. Ia tamat HBS tahun 1898. Setamat HBS ia bekerja pada konsulat Belanda di Jedah, antara tahun 1906-1911. Ketika di kota itulah ia belajar bahasa Arab dan mempelajari Islam secara mendalam.

Agus Salim bukan saja seorang orator, namun ia juga penulis yang penanya tajam. Pada tahun 1925 ia ditawari untuk menjadi pemimpin Hindia Baru, dan ia menerima dengan syarat, bahwa ia menulis penuh kebebasan. Ia bertugas mengisi tajuk rencana dan mimbar Jum’at. Namun, setelah beberapa lama kemudian, karena kritik-kritiknya yang tajam kepada pemerintah Belanda tidak sejalan dengan pemiliknya. Mereka meminta kepada Agus Salim untuk mengurangi kritiknya. Dengan permintaan itu, ia langsung meletakkan jabatan sebagai pemimpin redaktur harian itu.

Ia mendidik anak-anaknya sendiri. Anak-anaknya tidak disekolahkan di sekolah formal seperti anak-anak seusianya. Anak-anaknya mendapatkan pelajaran bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, Prancis dsb. Mereka dari kecil sudah mampu berbicara bahasa itu.

Ia menuasai banyak bahasa dan luas wawasan keilmuwannya sehingga dalam diskusi ia menguasai masalah. Ia pernah menjadi dosen tamu di Universitas Cornell, AS. Ketika Salim dan Ngo diundang ke kediaman Prof. G Kahin ia sudah asyik berdebat dengan Ngo Dinh Diem, Vietnam (menjadi PM negerinya) dalam bahasa Prancis dan membuat Ngo hanya menjadi pendengar. (Adam, h.8)

Dalam berpolitik Agus Salim mempunyai pendirian non-kooperatif. Begitupun dengan kebudayaan Barat. Ketika ia pada tahun 1925 diminta menjadi penasehat Jong Islamiten Bond (JIB) oleh Samsulrijal. Ia melontarkan pikirannya bahwa umat Islam tidak boleh mengikuti kebudayaan Barat. Ia ingin umat Islam mampu melepaskan diri dari pengaruh budaya Barat. Agar umat Islam berpegang teguh pada ajaran Islam, sehingga mampu berdiri tegak dan menjadi tuan di negeri sendiri.

Indonesia, 5 Mei 2015

Sumber

1. Taufik Abdullah dkk., Manusia Dalam Kemelut Sejarah, (Jakarta: LP3ES, 1994).

2. Asvi Warman Adam, Membongkar Manipulasi Sejarah, 2009

100 tahun Agus Salim, dll

Dipublikasi di Belajar Sejarah | Tag , , , , , | 2 Komentar

Rahmah El Yunusiyyah

Image result for rahmah el yunusiyyah

Rahmah lahir pada 29 Desember 1900 di Padang Panjang – wafat 26 februari 1969 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Ia pendiri Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, yang muridnya tersebar di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan kepulauan Anambas.

Secara formal pendidikan awalnya tidak tinggi, namun ia belajar pada tokoh semisal Dr. HA Karim Amrullah, Syekh Abdul Hamid dan Syekh Zainuddin Labay dan ulama-ulama lainnya. Selanjutnya ia belajar sendiri.

Dengan tekad dan dasar pendidikan agama Islam yang kuat Rahmah berjuang untuk kaumnya. Ia bercita-cita mengangkat derajat kaum perempuan melalui pendidikan. Pada 1 November 1923 didirikanlah Madrasatu lil Banat atau yang dikenal dengan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Ia terus berjuang membina sekolah yang didirikannya. Ia fengan kaum penjajah memilih jalan non kooperatif, karena itu ia menolak bantuan dari pemerintah Belanda. Begitupun ketika zaman pendudukan Jepang ia menentang kehadiran Jepang.

Dalam bidang politik ia tidak mau melibatkan perguruan, sebab menurutnya bila itu dilakukan berbahaya bagi kelangsungan perguruan tersebut. Pilihan politik biarlah urusan masing-masing individu. Namun, ketika memasuki zaman revolusi kemerdekaan ia juga ikut dalam perjuangan.

Sekolah yang didirkannya mendapat perhatian dari dunia Islam, seperti dari Al-Azhar di Mesir. Pada tahun 1955 Rektor Al-Azhar mengunjungi perguruan ini, dan ia sangat tertarik dan kagum terhadap perjuangan Rahmah. Ia ingin mengambil model Perguruan Diniyah Putri untuk di Al-Azhar, yakni Kuliyatul Banat. Negara-negara lain di Timur Tengah pun tertarik untuk mencontoh perguruan itu. Dari dalam negeri juga perguruan ini mendapat perhatian dari pemerintah.

Atas perjuangan Rahmah El Yunusiyyah dalam pendidikan putri, maka pada tahun 1956 ia diundang ke Al-Azhar dan ia diberi gelar kehormatan Syeikhah. Ia yang pertama kali yang mendapat gelar itu dari kaum perempuan.

Depok, 22 April 2015

lu’ay

Sumber tulisan
Taufik Abdullah dkk., Manusia Dalam Kemelut Sejarah, (Jakarta: LP3ES, 1994)., dan sumber lain.

Dipublikasi di Belajar, Pendidikan | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Freeport Keruk Ribuan Triliun, RI Tak Berkutik

neokolonialisme atas Indonesia dikuras kekayaan alamnya tapi pemerintah diam saja dan rakyat melarat…

KabarNet.in

Jakarta – KabarNet: Freeport McMoran Indonesia telah melakukan kejahatan multidimensional. Kejahatan lingkungan, kejahatan kemanusiaan, kejahatan ekonomi, kejahatan hukum dan kejahatan politik dilakukan serentak oleh perusahaan pertambangan yang termasuk dalam kategori industri hitam ini.

Dalam berbagai kesempatan WALHI dan JATAM telah berulangkali meniup peluit peringatan agar Pemerintah Indonesia segera melakukan langkah kongkrit untuk menghentikan kejahatan serba aspek itu demi menegakkan kedaulatan ekonomi, hukum dan politik Indonesia. Namun hasilnya sebegitu jauh sungguh mengecewakan.

Lihat pos aslinya 2.339 kata lagi

Dipublikasi di Politik | Tag , | Meninggalkan komentar