John L Esposito

“Socrates menantang pemikiran orang-orang Athena pada zaman klasik dan Konfusius berusaha membawa visi baru tentang masyarakat kepada “Bangsa Berperang” Cina. Konsep dan visi Luther mengubah Kekristenan Barat, dan perpaduan intelektualisme dan aktivisme Lenin mengubah sejarah dunia di abad dua puluh. Sepanjang sejarah, pemikir-pemikir yang terlibat dalam urusan kewarganegaraan dan politik pada zamannya sebagai kaum intelektual aktivis mencoba berperan dalam transformasi masyarakat mereka. Di akhir abad dua puluh, sejumlah intelektual di masyarakat Muslim juga berperan demikian. Mereka mempertanyakan institusi dan mentalitas yang ada dan berusaha untuk menciptakan beberapa alternatif.”   John L Esposito

11-11-2022

Throughout history, thinkers who were involved in civic and political affairs in their time as activist intellectuals tried to play a role in the transformation of their society.
Iklan
Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Maulana al-Maududi dan Perjuangannya

Maulana al-Maududi/ wk

Sebagai seorang pemikir yang berkaitan dengan kebangkitan Islam al-Maududi telah banyak menulis sekitar 138 judul buku dalam berbagai tema politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya, serta berbagai aktivitas lainnya. Buku-bukunya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan pemikirannya memiliki pengaruh luas, melampaui Asia Selatan.

Abul A’la al-Maududi lahir di Aurangabad, India Selatan pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Ia lahir dalam keluarga tokoh Muslim India Utara (syarif) dari Delhi yang bermukim di Deccan. Keluarga ini adalah keturunan wali sufi besar tarekat Chisthi yang membantu menanamkan benih Islam di wilayah India. Keluarga ini pernah mengabdi kepada pemerintahan Bahadur Syah Zafar, penguasa terakhir dinasti Moghul. Kedekatannya dengan penguasa Muslim membuat mereka menolak pemerintah Inggris. Ayahnya bernama Sayyid Ahmad Hassan masuk sekolah tinggi di Aligarh sebentar dan ia kemudian menyelesaikan studi hukum di Allahabad. Ia mendidik anak-anaknya dalam sistem pendidikan klasik, belajar bahasa Arab, Persia dan Urdu. Di usia empat belas tahun Maududi sudah menerjemahkan karya al-Marah jadidah ke dalam bahasa Urdu.

Pada usia sebelas tahun ia baru mendapatkan pelajaran sains. Ketika usia enam belas tahun ayahnya meninggal dan ia berhenti dari sekolah formalnya. Setelah itu, ia terus berusaha belajar sendiri untuk memenuhi minat intelektualnya. Ia semula tertarik pada masalah politik. Ia menulis berberapa esai tentang nasionalisme. Tahun 1918 ia bergabung dengan saudaranya, Abul Khair, di Bajnur, untuk memulai karir dalam bidang jurnalistik

Kemudian mereka berdua pindah ke Delhi. Di kota itu ia berkenalan dengan arus intelektual dalam komunitas Muslim, tahu pandangan modernis dan ikut dalam gerakan kemerdekaan. Tahun 1919 ia pindah ke Jabalpur untuk bekerja pada mingguan Taj yang pro-Kongres. Ia aktif dalam gerakan Khilafah. Ketika mingguan itu ditutup ia kembali ke Delhi. Lalu ia bekenalan dengan Muhammad Ali dan mereka berdua menerbitkan koran Hamdard. Tak lama kemudia ia bergabung dengan gerakan Hijrah yang mendorong kaum Muslim India meninggalkan British India.

Tahun 1921 Maududi berkenalan dengan pimpinan Masyarakat Ulama India (Jami’ati ‘Ulama Hind) Maulana Kifayatullah dan Ahmad Sa’id. Ia diundang untuk menjadi editor koran mereka, Muslim, hingga tahun 1924 koran Muslim diganti menjadi Al-Jami’at. Dari sinilah ia menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum Muslim dan ia lebih aktif dalam persoalan agamanya. Maududi mulai menulis masalah yang menjadi perhatian kaum Muslim India.

Di kota Delhi ia mulai belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Juga hubungannya dengan Jami’at memungkinkan ia mendapat pendidikan agama secara formal. Tahun 1926 ia menerima sertifikat pendidikan agama dan ulama. Tapi Maududi tak mau menerima statusnya sebagai alim.

Dengan runtuhnya gerakan Khilafah tahun 1924 ia melepaskan pandangan nasionalismenya, tak percaya pada Partai Kongres dan ia meninggalkan Jami’at dan berpisah jalan dengan penasehat Doebaninya.

Tahun 1925 terjadi kasus, seorang Muslim membunuh Swami Shradhanand, pemimpin kebangkitan Hindu yang yang menganjurkan kasta rendah yang masuk Islam agar kembali ke  Hindu. Swami secara terang-terangan meremehkan keyakinan kaum Muslim. Hal itu memancing kemarahan kaum Muslim. Kematiannya menimbulkan kritik dari media massa, bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi tidak tinggal diam. Kemudian ia menulis buku al-Jihad fil Islam, perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam.

Tahun 1928 Maududi pindah ke Heyderabad. Ia banyak menulis dan menerjemahkan buku tafsir dan filsafat dari bahasa Arab. Ia menulis Risalah-i Diniyah, yang kemudian diterjemahkan sebagai Toward Understanding Islam.

Tahun 1932 Maududi menerbitkan Tarjumun Al-Qur’an, sebuah jurnal yang berisi pandangan-pandangannya selama empat puluh tahun. Ia tidak puas hanya dengan tulisan dan tak berpengaruh pada peristiwa politik yang mengalami perubahan cepat dalam sejarah India periode itu. Untuk itu ia tahun 1938 pindah ke Punjab untuk memimpin Dar al-Islam, suatu proyek pendidikan yang semula digagas oleh Dr. Muhammad Iqbal (w 1938 M), di Pathankot, sebuah dusun kecil di Punjab. Dar al-Islam diharapkan melahirkan pembaruan Islam besar di India. Ia sibuk dengan politik dan tidak memperhatikan proyek Dar al_Islam. Tahun 1939 ia pindah ke Lahore untuk melakukan aktivitas politik yang langsung. Ia bersama sejumlah aktivis Muslim dan ulama muda pada 26 Agustus 1941 mendirikan Jama’t-I Islami (Partai Islam). Setelah partai ini berdiri segera pindah ke Pathankot dan mulai berkembang cepat dan berpengaruh dalam berbagai peristiwa di India.

Ketika India pecah Jam’at-i pecah juga, Maududi bersama seluruh anggotanya memilih Pakistan yang berdiri tahun 1947. Sejak saat itu karir politik dan intelektual Maududi berkaitan erat dengan perubahan perkembangan Jama’at-i. Beberapa kali berseberangan dengan pemerintah dan beberapa kali pula ia ditangkap dan dipenjarakan. Pernah dijatuhi hukuman mati, lalu menjadi hukuman seumur hidup dan akhirnya bebas. Selama dalam aktivitas politiknya ia banyak menulis, artikel, ulasan, risalah pendek dan buku. Juga ia melakukan gerakan anti-Ahmadiyah.  Di antaranya, hasil ceramahnya di radio diterjemahkan oleh Khurshid Ahmad dengan judul Islamic Way of Life;  karya besarnya Tafhim Al-Qur’an (Memahami Al-Qur’an) yang ditulisnya sejak tahun 1941 sampai 1972, terjemahan dan ulasan al-Qur’an, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris; tentang politik al-Khilafah wal Mulk dan Islamic Law and Constitution, dan lainnya.

Tahun 1960-1962 Maududi  menjawab koresponden Maryam Jameelah yang akhirnya Maryam pindah dari New York ke Pakistan. Abul A’la Maududi meninggal di New York pada 22 September 1979 dan dimakamkan di Lahore.

Teori Politik al-Maududi

Asas terpenting dalam Islam adalah tauhid, dan seluruh nabi serta rasul Allah mempunyai tugas pokok untuk mengajarkan tauhid (keesaan Tuhan) kepada seluruh umat manusia. Ajaran tauhid memiliki implikasi mengubah tata sosial, tata politik, dan tata ekonomi.

Di zaman modern fenomena Fir’aun dan Namrud masih tetap dapat kita amati secara jelas. Banyak penguasa negara yang bertingkah dan bersikap seperti Fir’aun dan Namrud, yang merasa paling benar sendiri dan menuntut ketaatan rakyat secara total tanpa syarat (reserve).

Maududi menyatakan, kedaulatan ada di tangan Tuhan, dan ‘bukan’ di tangan manusia.  Berbeda dengan teori demokrasi umumnya, yang mengatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Dalam kenyataannya, kata-kata “kedaulatan rakyat” seringkali menjadi kata-kata kosong karena partisipasi rakyat dalam kebanyakan negara demokrasi hanyalah dilakukan empat atau lima tahun sekali dalam bentuk pemilihan umum, sedangkan kendali pemerintahan sesungguhnya berada di tangan sekelompok kecil penguasa yang menentukan seluruh kebijakan negara.

Siapa pun yang sedikit mendalami praktek teori demokrasi akan menyadari bahwa yang sering berlaku adalah hukum besi oligarki, yakni bahwa sekelompok penguasa saling bekerjasama untuk menentukan berbagai kebijaksanaan  politik, sosial, ekonomi negara tanpa harus menanyakan bagaimana sesungguhnya aspirasi rakyat yang sebenarnya.

Beberapa prinsip menurut Maududi, pertama, tidak ada seseorang, sekelompok orang atau seluruh penduduk suatu negara dapat melakukan klaim atas kedaulatan. Hanya Allah yang memagang kedaulatan. Kedua, Tuhan adalah pencipta hukum yang sebenarnya, sehingga Dia sajalah yang berhak membuat legislasi secara mutlak. Ketiga, suatu pemerintahan yang menjalankan peraturan-peraturan dasar dari Tuhan sebagaimana diterangkan oleh nabiNya wajib memperoleh ketaatan rakyat.

Tujuan diselenggarakannya negara adalah, pertama, untuk menghilangkan terjadinya eksploitasi antarmanusia, antarkelompok dan antarkelas dalam masyarakat. Kedua, untuk memelihara kebebasan (ekonomi, politik, pendidikan dan agama) para warga negara dan melindungi seluruh warga negara dari invasi asing. Ketiga, untuk menegakkan sistem keadilan sosial yang seimbang sebagaimana dikehendaki al-Qur’an. Keempat, untuk memberantas setiap kejahatan (munkarat) dan mendorong setiap kebajikan. Kelima, menjadikan negara sebagai tempat tinggal yang teduh dan mengayomi bagi setiap warga negara dengan jalan memberlakukan hukum tanpa diskriminasi.

——–

Sumber : Ali Rahnema, ed.,(1995); Amien Rais pengantar pada Abul A’la Maududi, (1984); Surat-surat Maryam Jameelah, (1984).

5-11-2022

Dipublikasi di Riwayat hidup, sejarah | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quote Dr Sa’id Ramadhan al-Buti

Setiap orang yang bertaqlid dalam masalah tauhid,

keimanannya tidak terbebas dari keraguan.”

Dari sini dapat anda ketahui bahwa Islam datang untuk memerangi tradisi dan melarang masuk ke dalam jeratnya. Hal ini karena semua prinsip dan hukum Islam didasarkan pada akal dan logika yang sehat, sedangkan tradisi didasarkan pada dorongan ingin mengikuti semata tanpa ada unsur seleksi dan pemikiran. Kata tradisi dalam bahasa Arab berarti sejumlah kebiasaan yang diwarisi secara turun- temurun atau berlangsung karena faktor pergaulan dalam suatu lingkungan atau negeri, di mana taklid semata merupakan penopang utama bagi kehidupan dan kesinambungan tradisi tersebut.

Tradisi hanya merupakan arus perilaku yang manusia terbawa olehnya secara spontan karena semata-mata faktor peniruan dan taklid yang ada padanya.

Prinsip adalah garis yang harus mengatur perkembangan zaman, bukan sebaliknya.”  Dr M Sai’d Ramadhan al-Buti

3-10-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Dialog Rustam dan Ruba’i…

Dialog antara Rustam dan Ruba’i bin Amir terjadi dalam peristiwa perang al-Qadisiyah (Iraq). Rustam adalah komandan tentara Persia, sementara Ruba’i sebagai seorang prajurit biasa di jajaran tentara yang dipimpin Sa’ad bin Waqqash.

Rustam: “ Apa yang mendorong kalian memerangi kami dan masuk ke negeri kami?”

Ruba’i:  “Kami datang untuk mengeluarkan siapa saja dari penyembahan manusia kepada penyembahan Allah semata.”

Lalu dialog Rustam dengan Zuhra.

Zuhra: “Kami tidak datang menghampiri negerimu karena terpanggil oleh kekayaan duniawi. Tujuan dan kebesaran yang akan kami raih adalah akhirat. Apa yang anda nyatakan adalah benar dan sesuai dengan kehidupan masa jahiliyah kami. Namun tidak demikian halnya setelah Allah kirimkan kepada kami seorang Rasul yang menghimpun kami untuk mencapai keridhaan  Ilahi. Kami telah memenuhi panggilan Allah yang menjajikan kami kemenangan dan kemuliaan  (dunia akhirat) selama kami konsisten pada ajaran agamaNya”.

Rustam: “Apakah gerangan agama itu?”

Zuhra: “Dasar dan puncaknya adalah: kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusanNya. Kemudian menerima sepenuh hati segala ketentuanNya.

Rustam: ”Benar-benar mengagumkan. Kemudian apa lagi selain itu?”

Zuhra: “Membebaskan umat manusia dari segala bentuk perbudakan oleh sesama makhluk. Tiada yang patut disembah kecuali Allah.

Rustam: “Bagus, kemudian apa lagi?”

Zuhra:  “Umat manusia, tanpa kecuali, adalah putra putri Adam dan Hawa. Semuanya adalah saudara sekandung”.

Rustam: “Betapa itu amat menarik. Namun apa kelanjutannya, apabila saya dan rakyat Persia sudi mengikuti jejak kalian, memenuhi seruan yang kamu himbaukan? Apakah kamu akan pulang, angkat kaki dari negeri ini?!”

Zuhra:  “Benar. Demi Allah, itulah yang bakal terjadi…  dan kami tidak akan kembali ke Negeri anda seperti ini, kecuali dengan niat berniaga atau untuk kepentingan yang lain”.

——-

Sumber: M Sa’id Ramadhan al-Buti, (2006); Ma’rifah (42)

1-11-2022

Dipublikasi di Dialog | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

M Natsir, Jejak Langkahnya

M Natsir/ wk

Natsir yang lahir 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Solok, Sumatra Barat, ayahnya bernama Idris Sutan Saripado seorang pegawai kecil dan ibunya Khadijah. Ia semula masuk Sekolah Rakyat, dan ketika ia akan masuk HIS ditolak karena ayahnya hanya pegawai kecil, kemudian ia masuk HIS Adabiyah Padang dan pindah sekolah lain hingga tamat. Lalu ia masuk MULO. Setelah menamatkan MULO di Padang M Natsir lalu melanjutkan pendidikannya di AMS (algemene middlbare school), setingkat sekolah menengah, di Bandung, setelah sebelumnya mengajukan bea siswa diterima. Di kota Bandung ia tinggal di Gang Pakgade dekat Pasar Baru dan Babatan. Yang tinggal di gang itu bukan hanya Sunda, ada Palembang, Jawa dan Keling. Tak  ada orang Cina, mereka tinggal di sekitar Pecinan.

Di AMS Bandung ia mengambil jurusan bahasa-bahasa Barat, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis juga bahasa klasik Latin dan Yunani. Ia sering membaca di perpustakaan di kota itu. Setelah bertemu dengan Tuan Hassan ia belajar bahasa Arab lebih mendalam.

Fachoeddin al-Khairi mula-mula sering menghadiri pengajian Persatuan Islam dan sering berkunjung ke rumah Tuan Hassan.  Lalu Fachroeddin mengajak temannya, M Natsir ke rumah Tuan Hassan untuk bertanya dan berdiskusi soal-soal agama. Mereka berdua sekolah Belanda belajar bahasa Barat namun berminat untuk mempelajari agama Islam, berbeda dengan kebanyakan temannya. Juga M Natsir belajar bahasa Arab kepada Tuan Hassan.

Pada bulan Januari 1929 dalam rapat umum Jong Islamiten Bond (JIB) yang diadakan di sekolah Persatuan Islam, Fachroeddin al-Khairi terpilih sebagai ketua JIB cabang Bandung dan M Natsir sebagai wakilnya. JIB ini didirikan atas respon pemuda Islam terhadap organisasi pemuda yang ada dan atas saran Kiai Agus Salim, yang didirikan oleh Wiwoho, Sjamsuridjal dan kawan-kawan. Dengan aktivitasnya itu keduanya semakin sering datang ke kediaman Tuan Hassan.

Bulan Maret 1929 didirikan Komite oleh kaum Muslim untuk menentukan sikap yang berkaitan dengan berbagai cemoohan, serangan, tuduhan dan celaan dari orang-orang yang membenci Islam. Serangan kebencian itu dilakukan dengan lisan dan tulisan, melalui mimbar gereja, ceramah, pelajaran di sekolah atau tulisan-tulisan di koran, majalah dan buku-buku agar kaum pribumi membenci Islam dan umatnya. Untuk menanggapi mereka Komite menerbitkan Pembela Islam. Majalah Pembela Islam diterbitkan pertama kali pada bulan Oktober 1929. Majalah ini terbit sampai nomor 71.

Ketika M Natsir akhirnya lulus dari AMS Bandung ia mendapat bea siswa dan ia bisa melanjutkan pendikan ke Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Belanda, tapi ia lebih memilih untuk mengelola Pembela Islam. Tulisan-tulisannya tentang Islam banyak di muat di dalamnya, selain kolom Soal-Jawab A Hassan tentang masalah fiqh.

Setelah ia putuskan untuk tidak mengambil bea siswa ke perguruan tinggi, ia selanjutnya menjadi pendidik, dengan dibekali ilmu mendidik yang ketika itu baru dibuka. Ketika ia akan mengajar, semuanya harus disiapkan sendiri, gedung untuk kelas menyewa, meja bangku dan peralatan beli sendiri dan dibantu donatur. Di sela kesibukannya mengajar M Natsir mengelola majalah Pembela Islam hingga majalah itu berhenti penerbitannya.

Zaman setelah kemerdekaan ia pidato dalam Sidang Konstituante 12 November 1957 tentang hubungan Islam dan negara, yang isinya antara lain: “Sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap, hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam penghidupan kaum sekularis tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal: akhirat, Tuhan dan sebagainya …” (Herbert Feith & Lance Castles, ed.,1988)

Pada jilid pertama mengisahkan tentang M Natsir hingga menjelang kedatangan Jepang dan polemiknya dengan Soekarno. Dalam polemik dengan Bung Karno yang memuji langkah Turki yang dipimpin Kemal ia mengatakan Soekarno telah keliru tentang sekularisme. Ia langsung merujuk karya Ali Abdurrazik, yang ketika itu sudah diterbitkan, untuk menjawab Bung Karno, (Capita Selekta, hal. 429). Tulisan-tulisan lain M Natsir yang dimuat dalam Pandji Islam dan Pedoman Masjarakat kemudian dikumpulkan dalam buku Capita Selekta. Selain karya tulis yang dikumpulkan dalam Capita Selekta itu ia banyak menulis artikel dan buku, ada yang ditulis dalam bahasa Belanda.

Ajip Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi, (Jakarta, GP, 1990)

Cibinong, 23-10-2022

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Rakyat Adalah Sumber Kehidupan

karya WS Rendra



Rakyat adalah sumber kedaulatan
Kekuasaan tanpa rakyat
adalah benalu tanpa karisma

Rakyat adalah bumi
Politik dan kebudayaan adalah udara
Bumi tanpa udara adalah bumi tanpa kehidupan
Udara tanpa bumi
adalah angkasa hampa belaka

Wakil rakyat bukanlah abdi kekuasaan
Wakil rakyat adalah abdi para petani, para kuli,
Para nelayan dan para pekerja
dari seluruh lapisan kehidupan
Wakil rakyat
adalah wakil dari sumber kehidupan.


Anies Baswedan/ tj

Puisi WS Rendra itu dibaca Anies Baswedan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam pembukaan kegiatan kesenian. Anies memang dahulu ketika mahasiswa dikenal sebagai aktivis kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia biasa tampil di muka umum. Tentu mahasiswa mengenalnya terutama yang kuliah di Yogya saat itu. Ia adalah cucu dari AR Baswedan, yang aktif berjuang ketika zaman revolusi melawan kaum kolonial Belanda.

23-9-2022

Dipublikasi di bahasa | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Prof. M Sa’id Ramadhan al-Buti

wk

Muhammad Sa’id ibn Ramadhan Umar al-Buti lahir pada tahun 1929 di desa Jilika, Turki, yang terletak di Pulau Butan di Anatolia Barat. Daerah yang menderita kebodohan dan kebutuhan akan kebudayaan dan pengetahuan. Ia anak kedua dan satu-satunya anak lelaki. Ayahnya seorang sarjana Kurdi Mulla Ramadhan al-Buti. Semua leluhurnya keluarga petani dan juga ayahnya, yang telah mempelajari ilmu-ilmu Islam atas kemauan ayahnya dan membangunkan tradisi kesarjanaan keluarganya. Ibunya seorang yang saleh. Ia melanjutkan tradisi itu dan dilanjutkan oleh putranya Muhammad Taufik Ramadan al-Buti. Ibunya telah melahirkan tiga anak putri dan semuanya mati muda, yang kemudian membuatnya jatuh sakit dan ia wafat ketika al Buti umur 13 tahun. Ketika itu keluarganya telah pindah dan tinggal di Damaskus.

Pada tahun 1934 keluarganya melarikan diri dari Turki untuk menghindari langkah-langkah sekularisasi yang dilakukan Kemal Ataturk, yang dikatakan al-Buti sebagai ‘menghina Islam’. Di Damaskus ia memulai belajar agama, bahasa Arab dan matematika di sekolah swasta Suq al-Saruja, sebuah kota lama di dekatnya, dan kemudian ia pada usia 11 tahun mempelajari al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi saw di bawah bimbingan Syekh Hasan Habannakah dan Syekh al-Maradini di Masjid Jami’ Manjak di al-Midan. Ketika masjid itu diubah menjadi Institut Oriantasi Islam (Ma’had at Tawjih al-Islami) al-Buti mempelajari tafsir al-Qur’an, logika, retorika (pidato) dan prinsip-prinsip pokok hokum Islam (ushul fiqh) sampai tahun 1953. Namun waktu itu guru utamanya dan yang paing berpengaruh adalah ayahnya sendiri.

Ayahnya selalu membaca al-Qur’an, melakukan shalat tahajud, membaca dzikir dan wirid,  dan munajat, serta hidup wara dan zuhud. Ayahnya banyak melakukan ritual keagamaan meskipun ia rentan terhadap penyakit. Surat Yasin dibanyanya pagi dan petang; setiap Senin dan Selasa pagi setelah shalat subuh ayahnya mengajak keluarganya untuk bersama-sama berzikir membaca tahlil laa ilaha illa Allah dan Allah masing-masing seratus kali, wirid lainnya, shalawat dan doa. Al-Buti pun mengamalkannya hingga saat ini.

Pada tahun 1956 ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas al-Azhar dengan ijazah guru Syari’ah dan diploma pendidikan. Mula-mula ia menjadi guru Syari’ah di sekolah menengah pertama dan di Dar Muallimin Ibtidaiyah di Homs. Karir akademisnya dimulai pada tahun 1961 ketika ia menjadi asisten di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus yang baru didirikan. Pada tahun 1965 setelah al-Buti menyelesaikan gelar doktornya di Al-Azhar ia menjadi dosen dalam fiqh perbandingan dan studi agama di Universitas Damaskus. Ia juga menjabat Dekan Fakultas Syari’ah. Al-Buti adalah profesor di bidang hukum perbandingan pada Jurusan Fiqh dan Madzhab-madzhabnya.

Di Damaskus al-Buti juga menjalin silarurrahim dengan Syekh Mustafa as Siba’i yang ketika itu menjadi profesor hukum Islam di Universitas Damaskus. Ia tokoh Ikhwan Syria yang banyak menulis buku. Ia simpati terhadap gerakan Islam, namun ketika mereka melakukan tindakan kekerasan ia tidak setuju dan mengutuknya di televisi. Beberapa tahun kemudian ia semakin dekat dengan rezim Asad. Hal itu membuat kelompok gerakan Islam kecewa.

Yang banyak mempengaruhi perkembangan intelektualitasnya selain ayahnya, ialah gurunya Syekh Hasan Habannakah. Juga tokoh pemimpin spiritual Badi’ Zaman Sa’id Nursi sebagai aktivis politik dan agama yang beberapa kali ditangkap oleh pemerintahan Ottoman dan Republik. Al-Buti menerjemahkan otobiografinya dari bahasa Kurdi ke bahasa Arab dan ia menulis artikel tentang Sa’id Nursi.

Selain mengajar di Universitas Damaskus Syekh al-Buti banyak menulis buku dan berceramah di televise dan radio. Tentang ijtihad kaum modernis ia berpendapat, tidak bisa diterima gagasan bahwa setiap orang semestinya memiliki hak untuk melakukan ijtihadnya sendiri. Sebaliknya, proses ijtihad menuntut pengetahuan yang dalam atas semua sumber yang relevan dan kemampuan untuk menerapkan aturan-aturan yang berasal dari teks-teks otoritatif untuk keadaan-keadaan modern.

Karya tulisnya sangat beragam. Di antaranya, lebih dari dua puluh jilid risalahnya telah terbit, pamflet, ratusan petunjuk, kuliah, dan ceramah agama di masjid yang direkam tim pemuda Muslim. Judul buku Muhadarat fi Fiqh al-Muqarin; Fiqh Sirah Nabawiyah dan sebagainya.

Buku Fiqh Sirah Nabawiyah telah diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam buku Sirah Nabawiyah itu Syekh Al-Buti menulis: bahwa tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah bukan hanya untuk mengetahui berbagai peristiwa sejarah dan tidak sepatutnya kita mengagap itu termasuk kajian sejarah sebagaimana kajian tentang hidup seorang khalifah atau suatu suatu periode sejarah yang telah lalu. Tujuannya ialah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Sesudah ia dipahami secara kosepsional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Sirah Nabawiyah merupakan upaya penerapan yang bertujuan untuk memperjelas hakikat Islam secara utuh dalam keteladanannya yang tertinggi.

Juga ia mengeritik orientalis Gibb: “Kita tidak bisa menolak sama sekali pemikiran tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mukjizat al-Qur’an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para Nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaqnya, hanya kita harus menerima hipotesis bahwa Muhammad bukan Nabi.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaran-lontaran pemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.

Jika Anda memerlukan contohnya, bacalah buku Sistem Pemikiran Agama yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama HAR Gibb. Dalam buku ini, Anda dapat mencium fanatisme buta terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yang saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.

Sistem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan berbagai kepercayaan pemikiran-pemikiran transendental yang ada dalam diri bangsa Arab. Muhammad telah merenungkannya kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan “kain” agama Islam. Ia juga tidak lupa dengan mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemuskilan besar. Dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan agama ini dalam sistem al-Qur’an. Itulah pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut. Jika And abaca bukunya dari awal sampai akhir, Anda tidak akan menemukan suatu argument pun yang dikemukakannya. Jika Anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, Anda tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, di gunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.

Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya, dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu, ia berkelit dengan mengatakan, “Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang terknadung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum Muslimin yang terlalu banyak untuk di sini. Akan tetapi, cukup saya sebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.

Gibb kemudian mengutip suatu nash dari kitab Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (1: 122). Tampaknya, dia menyangka tak seorang pun dari pembaca akan memerika teks kitab tersebut lalu dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb.

“Sesungguhnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam diutus dalam suatu bi’tsah yang meliputi bi’tsah lainnya. Yang pertama kepada bani Israel. Bi’tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali.” (Gibb, h. 58)

Padahal teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Isma’il untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu, dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi, tidak perlu mengubahnya atau menggantinya, bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujjah atas mereka. Anak-anak keturunan Isma’il mewarisi ajaran bapak mereka (Isma’il)”  (Sirah Nabawiyah, h. 26-28)

Berkaitan sejarah:

“Mungkin Anda akan melihat suatu bangsa yang secara material berdiri tegar dalam puncak kemajuannya, padahal sistem sosial dan akhlaknya tidak benar, sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan dengan cepat menuju kehancurannya. Mungkin Anda tidak akan melihat dan merasakan “perjalanan yang cepat” ini karena pendeknya umur manusia dibandingkan dengan umur sejarah dan generasi. Perjalanan seperti ini hanya dapat dilihat oleh “mata sejarah” yang tidak pernah tidur, bukan oleh mata manusia yang picik dan terbatas.

…juga Anda akan melihat suatu bangsa yang tidak pernah segan-segan mengorbankan segala kekuatannya demi mempertahankan aqidah yang benar dan membangun sistem sosial yang sehat, tetapi tidak lama kemuadian bangsa pemilik aqidah yang benar dan sistem sosial yang sehat ini berhasil mengembalikan negerinya yang hilang dan harta kekayaannya yang dirampok, bahkan kekuatannya kembali jauh lebih kuat dari sebelumnya.” (Sirah Nabawiyah, h. 111)

Tentang politik ia menulis:

“Akan tetapi, janganlah Anda menamakan hal ini dengan istilah demokrasi dalam perilaku dan pemerintahan. Prinsip persamaan dan keadilan ini sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan demokrasi manapun karena sumber keadilan dan persamaan dalam Islam adalah ‘ubudiyah kepada Allah yang merupakan kewajiban seluruh manusia. Sementara itu, sumber demokrasi ialah pendapat mayoritas atau “mempertuhankan” pendapat mayoritas atas orang lain betapapun wujud dan pendapat tersebut.

Karena itu, syariat Islam tidak pernah memberikan hak istimewa kepada golongan atau orang tertentu betapapun motivasi dan sebabnya karena sifat ‘ubudiyah (kehambaan kepada Allah) telah meleburkan dan menghapuskan semua itu.” (Sirah Nabawiyah, 316)

Syekh al-Buti meninggal pada 21 Maret 2013 di masjid al-Iman Suriah ketika memberikan ceramah oleh serangan bom.

19-9-2022

________

Sumber: Dr. Muhammad Said Ramadan al-Buti (2006); John Cooper ed. dkk. (2006)

Dipublikasi di Belajar Sejarah, sejarah | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Rumi dan ayat-ayat-Nya

wk

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ

Do you not see that Allah is exalted by whomever is within the heavens and the earth and [by] the birds with wings spread [in flight]? Each [of them] has known his [means of] prayer and exalting [Him], and Allah is Knowing of what they do.” (QS An-Nuur: 41)

(Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.)

“Nabi Muhammad mengajarkan bahwa seluruh bumi adalah masjid, dan penyair mengungkapkan doa-doa kosmik. Seorang penyair suci yang terbesar, Jalaluddin Rumi (1207-1273 m) adalah pendiri kelompok ahli sufi yang menari, yang dengan tarian mereka yang berputar-putar menirukan putaran planet. Ia menulis:

Aku melihat air yang memancar dari sumbernya,

melihat cabang-cabang pepohonan yang menari seperti sekelompok sufi,

dan dedaunan yang memukul tangannya seperti para penyanyi.

_________

18-9-2022

Sumber: Roger Garaudy,(1984)

Dipublikasi di Estetika, Kata-Kata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Ibn Miskawaih

“Sejarah bukanlah cerita hiburan tentang  diri para raja, tetapi suatu pencerminan struktur politik ekonomi masyarakat pada masa-masa tertentu.  Ia merupakan rekaman naik turunnya peradaban, bangsa-bangsa dan negara-negara.

Untuk itu, ahli sejarah harus menjaga diri terhadap kecenderungan  umum mencampuradukkan kenyataan dan rakaan atau kejadian-kejadian palsu. Ia bukan saja harus faktual, tetapi juga harus kritis dalam mengumpulkan data.

Terlebih, ia mesti tidak hanya mengisi sejarahnya dengan gambaran-gambaran tentang kenyataan, tetapi juga pandangan-pandangan filosofis, menafsirkannya dalam lingkup “kepentingan manusiawi” dan akibat-akibat yang terjadi. Sebagaimana di dalam alam, di dalam sejarah pun tidak ada tempat bagi kebetulan.” Ibn Miskawaih

25-8-2022

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Tukar Pikiran Warga Dunia

vi

“Tukar pikiran yang terjadi selama seminar-seminar itu bukan semata-mata dari orang yang sedang mewakili Jakarta di hadapan Jepang, tapi ini percakapan sebagai sesama warga dunia yang saling belajar dan berbagi pengalaman. Kita adalah sesama warga dunia dan sama-sama punya tanggung jawab untuk menyiapkan masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya,” Anies Baswedan

15-8-2022

This was a conversation as fellow citizens of the world who learned from each other and shared experiences.
Dipublikasi di Dialog | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar