Rayap

Trik Cegah Serangan Rayap Sejak Dini | Rumah dan Gaya Hidup | Rumah.com
rc

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ 

“And when We decreed for Solomon death, nothing indicated to the jinn his death except a creature of the earth eating his staff. But when he fell, it became clear to the jinn that if they had known the unseen, they would not have remained in humiliating punishment.” (Quran Surah Saba: 14)

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS Saba: 14)

5-9-2020

Dipublikasi di Rayap | Tag , , | Meninggalkan komentar

Prof. Mahmud Yunus

Prof. Mahmud Yunus: Penyusun Kurikulum PAI Sekolah Umum
bs

Ia lahir pada 10 Februarti 1899 di Sungayang, Tanah Datar, Minangkabau – meninggal di Jakarta 16 Januari 1982 . Ketika masih di kampung halaman ia belajar Al-Qur’an di bawah bimbingan Syeh M Thahir (Engku Gadang), dan belajar di sekolah desa dan meneruskan ke Madras School yang dibuka 4 November 1910. Dan tahun 1917  ia bersama teman-temannya mengajar di Madras School  dan menambah sistem belajar halaqah (belajar secara melingkar sekitar guru) di samping sistem madrasah dengan mengajarkan kitab-kitab mutakhir.

Pada bulan Maret 1923 ia menunaikan haji lewat Penang, Malaysia, dan ia melanjutkan belajar di  al-Azhar 1924 dan di Darul Ulum Ulya ,Cairo, sampai tahun 1930. Tahun itu juga setelah ia kembali ke Indonesia ia memperbarui sekolahnya dengan nama al-Jami’ah al-Islamiyah. Di samping di dunia pendidikan, ia juga pejuang yang mempertahankan Republik Indonesia.

Ia seorang tokoh yang berjasa memperjuangkan berdirinya PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri). Ia memperoleh Doktor honoraris causa dari IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tahun 1961 ia menjabat Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta.

Ia banyak menulis di antaranya: Tafsir Al-Qur’an (30 juz); Kamus ArabIndonesia; dan Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: ); sekitar 75 karya sudah ditulisnya.

Buku Sejarah Pendidikan Islam.. yang ia tulis membahas mengenai sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Bermula dari Sumatera Barat, Minangkabau, dimana Syekh Burhanuddin pada tahun 1646 M berjasa. Pada masa awal ini pendidikan Islam mengalami perkembangan dan penyempurnaan.

Pada tahun 1900-1908 M pendidikan Islam terus mengalami perubahan sistem, dari sistem lama ke sistem baru. Lalu setelah tahun itu lahirlah madrasah-madrasah dengan sistem modern, seperti Adabiah School, hingga pendidikan Islam di zaman pendudukan Jepang 1942-1945.

Pada zaman kemerdekaan pendidikan Islam mengalami perkembangan yang terus berlanjut hingga muncul universitas Darul Hikmah tahun 1953 M. Dari Sumatera Barat, ke Jambi, Aceh dan Sumatera Utara.

Penulis mengulas perkembangan pendidikan Islam di pulau Jawa, bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Jawa dengan penyebar utama Wali Songo, sampai zaman kerajaan-kerajaan Islam, munculnya organisasi masyarakat Islam hingga zaman revolusi kemerdekaan. Juga dibahas selain di Sumatera dan Jawa, perkembangan pendidikan Islam di Indonesia bagian timur.

Cibinong, 1-9-2020

Sumber

  1. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta)
  2. Hamka, Ayahku, (2018)
  3. Ensiklopedi Islam
Dipublikasi di Tokoh | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Laa Takhaf Wa Laa Tahzan

Oleh Muhammad Iqbal

Wahai kau yang dibelenggu rantai takut dan gelisah

Pelajarilah mutu kata Nabawi: “Laa Tahzan”

Jangan takut tak berketentuan

Jika adalah padamu Tuhan Yang Maha Kuasa

Lemparkanlah jauh-jauh segala takut dan bimbang

Lemparkanlah cita untung dan rugi

Kuatkan iman sekuat tenaga

Dan kesankanlah berkali-kali dalam jiwamu: “Laa Khaufu ‘Alaihim”

Tiada resah dan gentar pada mereka bagi zaman akan datang

Bila Musa pegi kepada Fir’aun

Hatinya membaja oleh mutu kata:

“Laa Takhaf, janganlah takut dan bimbang”

Siapa yang telah mempunyai semangat al-Musthafa

Melihat syirik dalam setiap denyut dan

luapan takut bimbang

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

Pin by Ginny inMA, ProgressiveVoices on PEOPLE: John Pilger ...
pint

John Pilger seorang wartawan, penulis dan pembuat film dokumenter. Ia banyak mengritik kebijakan luar negeri negara-negara industri dan termasuk Indonesia yang menyengsarakan rakyatnya, seperti dalam bentuk film dokumenter tentang tenaga kerja Indonesia, yang banyak bekerja di perusahan-perusahan asing dengan kesejahteraan yang minim.

Dipublikasi di Kata-Kata | Tag , , , | 2 Komentar

Masyarakat Melayu-Indonesia dalam Sorotan Historis Prof. Naquib

Sufi World on Twitter: "To know how to put what knowledge in which ...
sw

Sifat sejarah, menurut orang,

Ibarat pentas bermain wayang;

Cerita lampau diurai dalang,

Pabila tamat segera diulang.

Jika demikian, mustahil pantang

Giliran Islam pula mendatang;

Lakonan lama indah gemilang,

Di layar dunia semula terbentang

Prof. Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai filosof, sejarawan, pendidik Malaysia yang banyak menulis buku. Ia juga mengusahakan berdirinya International Institut of Islamic Thought and Civilization (Institut Antarbangsa Pemikiran dan Tamaddun Muslim) pada 27 Februari 1987 di Malaysia.

Ia meneliti tentang masyarakat di kawasan Melayu-Indonesia sebelum dan setelah datangnya Islam. Dalam penelitiannya itu ia katakan telah ada gambaran umum bahwa agama yang dianut oleh masyarakat adalah Hindu dan Budha yang bercampur dengan agama anak negeri sendiri, yang telah ada sebelum kedua agama itu. Agama itu hanya dianut oleh kalangan raja-raja dan bangsawannya, sedangkan rakyat biasa tidak menghiraukan ajaran-ajaran agama itu.

Naquib sependapat dengan Van Leur yang mengatakan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia secara umum bukanlah masyarakat Hindu tetapi pada hakekatnya hanya golongan bangsawan yang menganut agama itu secara sungguh-sungguh. Itu pun golongan bangsawan tidak memahami betul ajaran-ajaran murni yang terpendam dalam filsafat Hindu, yang diambil hanya berkaitan tata-upacara dan mengagungkan dewa-dewa untuk kepentingan mereka sendiri bahwa mereka adalah penjelmaan dewa-dewa itu. Hal itu justru mengukuhkan kedudukan golongan raja dan bangsawan dalam puncak lapisan struktur masyarakat.

Filsafat agama Hindu tidak banyak mempengaruhi masyarakat Melayu-Indonesia, justru mereka lebih cenderung kepada hal-hal yang berkaitan dengan seni.

Mengenai peranan Islam di kawasan itu beberapa sarjana Belanda dan Inggris mencoba mengecilkan seperti Van Leur yang mengatakan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar dan peradaban yang luhur daripada yang telah ada. Hal itu dibantah oleh Prof. Naquib bahwa peninggalan berupa tugu dan candi dengan pahatan memang hasil peradaban seperti juga Acropolis Yunani, Persepolis Iran, dan Piramid Mesir, tapi itu tidak menyorotkan sinaran budi dan akal. “Dalam menilai peranan dan jejak Islam, ciri-ciri yang harus dicari oleh mereka bukan pada tugu dan candi , atau pada pahatan dan wayang—ciri-ciri yang mudah dipandang oleh mata jasmani—tetapi pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya memperlihatkan cara daya budi dan akal merangkum pemikiran.” kata Naquib.

Di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia tak dapat diingkari, kata Nquib, bahwa terdapat banyak sifat risalah-risalah Islam dahulu yang sebagaian besar isinya itu mengandung metafisika ilmu tasawuf yang telah mencapai nilai luhur dalam sejarah pemikiran. Risalah-risalah itu tidak dapat kita dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang terdapat di dalam sastra Melayu-Jawa dalam zaman Hindu-Budha yang hampir-hampir hampa dalam perbendaharaan akal. Jiwa masyarakat Melayu-Indonesia mulai berubah dengan adanya unsur-unsur itu mengalir dalam nadinya.

“Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat kita bayangkan sebagai semangat nan hebat yang menggerakkan proses merevolusikan pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia, memalingkan dari alam seni dan mitos yang khayali, yang sudah mulai gugur dari singgasananya, dan mematuhi serta menetapkannya pada alam akal dan budi yang menuntut cara hidup yang tertib dan teratur. Para penyebar agama Islam mendakwahkan kepercayaan ketuhanan yang Tunggal; yang kodrat-Nya terhukum pada hikmah-Nya; yang iradah-Nya berjalan selaras dengan Akal,” katanya.

Dalam proses sejarah kebudayaan Islam itu bahasa Melayu sebagai pengantar, bukan hanya dalam kesustraan epik dan roman , tetapi dalam pembicaraan filsafat. Dengan begitu menambah dan meninggikan perbendaharaan kata dan istilah-istilah serta tentu saja menjunjung bahasa Melayu ke peringkat bahasa sastra yang rasional dan akhirnya mampu menggantikan bahasa Jawa sebagai bahasa sastra Melayu-Indonesia.

Ia juga membedakan antara Islam dan agama-agama itu dilihat dari sejarahnya di kepulauan ini, dengan rumusan (disingkat) sebagai berikut:

1. Agama Hindu bukan agama Semitik yang berdasarkan ketuhanan yang tunggal, yang mempunyai semangat menyebarkan diri dengan daya tabligh.

2. Agama Hindu itu terkandung dalam perlambang yang estetik serta pembicaraannya ibarat bentuk rupa manusia dan tak diragukan lagi yang demikian itu karena pengaruh bahasanya  yang menjadi pengantar pembicaraannya.

3. Berlainan dengan Islam, agama Hindu dan Budha lahir dari intisari dan tempat asal yang sama.

4. Kunhi dzat (rahasia dzat Allah) semangat keagamaan Islam itu ialah kepercayaan ketuhanan yang tunggal dan ini terkandung dalam konsepsi tauhid.

5. Al-Qur’an sampai di kepulauan Melayu-Indonesia bersama dengan agama Islam.

6. Dapat disimpulkan bahwa Islam berbeda dengan agama Hindu dan Budha adalah suatu agama yang bersifat kebudayaan sastra yang saintifik.

Cibinong, 2-8-2020

Sumber:

Syed M Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung; Mzn, 1990)

————————————, Islam dan Sekularisme, (Bandung: Pustaka, 1981)

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , , , | 1 Komentar

Quotes

“Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka

Oleh agama perjalanan bahagia itu telah diberi berakhir. Puncaknya yang penghabisan ialah kenal akan Tuhan, baik ma’rifat kepadaNya, baik taat kepadaNya dan baik sabar atas musibahNya, Tidak ada lagi hidup di atas itu!”

Hamka

(Tasauf Modern)

Dipublikasi di Kata-Kata Bijak | Tag , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“Pendidikan terdiri atas bentuk khusus yang secara sengaja diberikan kepada ruhani manusia demi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sebab jika orang dibiarkan berbuat semaunya, maka pertumbuhannya tidak akan sesuai dengan tujuan-tujuan kehidupan sosial. Karena itulah kita mempersiapkan acuan-acuan tertentu untuk manusia. Dalam acuan itulah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan kita dan tuntutan zaman.”

Ali Syari’ati

Dipublikasi di Manusia | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Penulis Indonesia, Royalti dan Pembacanya

Menjadi penulis di Indonesia tidaklah mudah. Berdasar pengalaman beberapa penulis Indonesia. Kesulitan itu menyangkut royalti yang adil dan mendapatkan pembaca yang lahap terhadap buku, dan banyak hal lainnya.

Menjadi penulis sebagai profesi dan sekaligus memiliki keahlian di bidang tertentu tidaklah mudah. Sebab, untuk menjadi penulis profesional artinya ia tidak mengerjakan pekerjaan lain selain menulis tentu saja di bidang yang dikuasainya, atau terkait dengan yang dikuasainya, mungkin bisa dikatakan mustahil. Oleh karena alasan itu menulis dijadikan pekerjaan ‘sampingan’ untuk mengisi waktu selain pekerjaan utama.

Banyak ahli di bidang ilmu tertentu, tapi ketika mereka menulis buku karyanya kurang dihargai. Bukan saja dari segi keuntungan /royalty, tapi juga ketika buku itu laku, di pasaran banyak karya edisi bajakannya dijual dengan bebas.

Soal royalty untuk penulis ini sangat serius. Dari hasil penjualan buku karyanya sendiri penulis hanya mendapatkan royalty sekitar 10-14 %, distributor 40 %, dan sisanya untuk biaya cetak dan penerbit. (Seperti pernah ditulis penulis buku terkenal) Apakah soal itu ada aturannya yang bisa ditaati oleh semua pihak?

Bahkan ada seorang profesor fisika menulis buku ajar hanya diberi royalty sangat sedikit oleh penerbit besar dari buku yang ia tulis.

Juga ada ketua tim penulis buku berjilid ketika buku itu direvisi nama ketuanya sudah hilang digantikan orang lain. Dengan begitu tentu royaltinya pun hilang. Padahal buku ensiklopedi edisi revisi itu dasarnya dari buku pertama.  

Atas semua problem itu, sepertinya, hal itu menjadi keengganan penulis Indonesia untuk semangat berkarya. Tentu untuk menulis sebuah buku utuh bukanlah perkara ringgan, sebab itu kerja intelektual yang membutuhkan konsentrasi. Butuh waktu, tenaga dan biaya.

Beberapa penulis agaknya menyiasatinya dengan menerbitkan sendiri bukunya. Dan, yang lainnya lebih tertarik menulis makalah untuk seminar atau kolom. Sekali seminar mendapat bayaran kontan. Juga, jika makalah terkumpul dapat dijadikan buku.

Hal itu agaknya berbeda dengan beberapa penulis di negara lain baik fiksi maupun non fiksi, sebut saja Mesir, Amerika atau Inggris atau lainnya. (Dari berbagai sumber)

Kini, zaman telah berubah, siapa mau menulis apa? Media telah tersedia. Tapi, apakah persoalan di atas sudah ada perubahan?…

Bogor, 20-5-2020

Dipublikasi di Buku, Penulis | Tag , , , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

The Poets

The Poets in the Qur’an verse 224-227

224. As for poets, the erring follow them.

225. Hast thou not seen how they stray in every valley,

226. And how they say that which they do not?

227. Save those who believe and do good works, and remember Allah much, and vindicate themselves after they have been wronged. Those who do wrong will come to know by what a (great) reverse they will be overturned!

 

(The Meaning of the Glorious Koran by Muhammed Marmaduke Pickthall)

In Indonesia language;

Para Penyair (ٱلشُّعَرَآءُ)

وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ, أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِي كُلِّ وَادٖ يَهِيمُونَ, وَأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ, إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱنتَصَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَيَّ مُنقَلَبٖ يَنقَلِبُونَ

  1. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
  2. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah,
  3. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?
  4. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (QS as-Syuara 224-227)

 

Bangsa Arab memiliki kepandaian dalam bahasa, cerita dan syair. Ketika zaman pra-Islam (Jahiliyah) banyak syair dilantunkan oleh masyarakat Arab dan bahkan dilombakan. Syair yang mereka lantunkan tanpa tujuan yang jelas dan sering mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Namun, ketika Al-Qur’an diturunkan  mereka tersentak kaget, sebab bahasa al-Quran keindahannya melebihi bahasa syair yang mereka gunakan.

Nabi Muhammad saw juga menyukai syair namun syair yang mengandung butir-butih hikmah, seperti dibacakan oleh Umayyah bin Abi as-Salt. (Sumber: Sejarah dan Tafsir Kem. Agama)

 

Cibinong, 4-5-2020

Dipublikasi di Penyair, Sastra | Tag , , , , , , | 4 Komentar

Al-Ayyam karya Taha Husein

photo1641_001

Al-Ayyam has been translated into English, The Days. This book is the story of his life. Taha Husein was a writer in Egypt.

“ …Jika engkau bertanya bagaimana ia berubah dari keadaan itu kepada keadaan ini saya tidak dapat menjawab. Disitu ada orang lain yang dapat menjawabnya, maka tanyalah kepadanya. Ia tentu akan memberi jawaban kepadamu!

Tahukah engkau siapa dia? Lihatlah kepadanya! Ia itu Malaikat yang menjaga pada tempat tidurmu, jika malam datang untuk menyambut malam dalam ketenangan dan tidur nyenyak. Ia menjaga di tempat tidurmu di waktu pagi untuk menyambut pagi hari dengan senang dan gembira. Bukankah engkau berhutang kepada Malaikat yang membuat engkau tenang di waktu malam dan gembira di waktu siang hari!

 Malaikat itu juga menjaga ayahmu ia mengubah yang tidak enak dengan yang enak, putus asa menjadi harapan, miskin menjadi kaya, penderitaan menjadi kebahagiaan dan kesucian.

Hutang ayahmu kepada Malaikat itu tidak lebih sedikit daripada hutangmu! Marilah kita saling tolong menolong wahai anakku untuk membayar kembali hutang itu, kamu berdua tentu akan mencapai apa yang kamu cita-citakan!”

_______

Cuplikan dari halaman terakhir terjemahn al-Ayyam oleh Prof. Tudjimah dengan judul Masa Muda di Mesir (Jakarta: Erlangga, 1967).

Al-Ayyam adalah kisah hidupnya sendiri yang ditulis berupa novel. Ia dikenal sebagai sastrawan pada zamannya di Mesir, terutama setelah ia pulang dari Perancis.  Ketika ia belajar disana ia bertemu dengan seorang wanita Prancis yang membantu membacakan naskah-naskah untuknya. Tahun 1917 akhirnya ia menikah dengannya dan dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

Cibinong, 14-4-2020

Dipublikasi di Sastra | Tag , , , , , , , , | 2 Komentar