Meminjam Buku

P_20200211_063318_1_1

Meminjam buku adalah hal yang sudah biasa bagi kalangan pelajar, mahasiswa atau siapapun yang ingin membuat karya tulis. Biasanya tempat untuk meminjam perpustakaan. Tapi ada juga, dilakukan pelajar atau mahasiswa meminjam buku kepada teman.

Jika teman itu koleksi bukunya banyak ia akan mencatat siapa yang meminjam, seperti pada umumnya perpustakaan.

Seringkali ada seorang teman pinjam buku kepada temannya tapi tidak mengembalikannya hingga mereka berpisah dari sekolah atau perguruan tinggi. Hal itu tentu pernah kita alami. Sangat kecewa tentu jika buku-buku itu sudah tidak terbit lagi atau menjadi barang langka.

Dikisahkan, ada sebuah pondok modern yang memiliki perpustakaan dengan administrasi yang baik, semua buku pinjaman tercatat, termasuk ketika santri lulus pulang ke rumah perpustakaan itu menyuratinya untuk mengembalikan buku pinjaman.

Diberitakan di media, ada buku yang sudah seabad tidak kembali, dan akhirnya buku itu dikembalikan ke perpustakaan. Tentu buku tidak bisa pulang sendiri ke rumahnya bukan?…

Mungkin ada banyak faktor seseorang tidak bisa mengembalikan pinjaman buku, tapi apapun faktor itu, pinjaman adalah pinjaman yang harus dikembalikan. Jika pinjaman itu hilang maka si peminjam harus menggantinya dan bukan lepas dari tanggung jawab.

Pinjaman adalah hutang yang harus dilunasi atau dikembalikan si peminjam. Ini acuan moralnya. Jika ia tidak mengembalikan maka hutang itu akan ditagih nanti. Jika ia mengembalikan pinjaman itu kepada pemiliknya hati menjadi ringan tak ada beban…

photo1575
Pusat Dok Sastra HB Jassin Taman Ismail Marzuki Jakarta (dok.pribadi)

Cibinong, 12-1-2020

Catatan:

Universitas atau pt kepada  mahasiswanya  mewajibkan meminta keterangan bebas pinjaman buku dari perpustakaan ketika akan lulus. Sesama teman biasanya hanya berdasar saling percaya…

Dipublikasi di Buku | Tag , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

Shopping Center 1992

Ketika itu temanku baru saja dari Yogya membawa buku Bumi Manusia, Sang Pemula karya Pram, Capita Selekta tulisan M Natsir serta buku-buku lain. Ia bercerita tentang kakanya yang belajar di Yogyakarta sekitar tahun 90-an. Aku jadi tertarik sekali dengan ceritanya itu. Aku sempat memoto copi buku Sang Pemula. Buku ini mengisahkan tentang Tirto Adisuryo sebagai wartawan yang juga menulis cerita pendek. Waktu itu buku-buku karya tahanan politik semacam itu dilarang beredar.

Ketika 1992 aku menginjakkan kaki di Yogya aku merasa senang. Suasana sebagai kota pelajar dan juga budaya begitu terasa. Banyak kajian, bedah buku, baca puisi dan juga pameran seni.

Tempat mencari buku paling populer di Yogya ada beberapa tempat, salah satunya pasar buku Shopping Center dekat perempatan kota, dekat ke Malioboro. Buku-buku baru dan bekas banyak dijual di sana, bahkan kliping koran pun banyak dijual. Hanya buku-buku terlarang sulit didapatkan. Mungkin stoknya habis. Atau mungkin disita aparat.

Jika kita membeli buku di pasar itu penjual memberikan diskon cukup besar. Tidak seperti toko buku umumnya. Waktu itu masih jarang buku-buku bajakan. Jika buku itu langka karena tidak terbit lagi biasanya para mahasiswa memperbanyak dengan memotocopi, baik untuk dijadikan rujukan karya tulis ataupun koleksi pribadi.

Untuk mencapai pasar buku Shopping Center waktu itu orang bisa menggunakan angkutan umum, sepeda, atau motor, melalui Jalan Adi Sucipto atau Timoho ke Kusumanegara (Jika tinggal di daerah dekat Jl Adi Sucipto-Timoho).

Depok, 7-1-2020

Tugu Yogya/wiki

Dipublikasi di kisah | Tag , , , , , , , , , | 3 Komentar

Puisi Iqbal

Kehidupan adalah gerak maju,

Hukum semacam inilah yang mengatur dunia,

Dalam perjalanan ini tak mungkin berhenti,

Tinggal diam berarti mati.

***

Hidup adalah abadi, selalu gemetar, selalu muda,

***

Satu-satunya yang tetap di dunia ialah perubahan.

 

Iqbal

 

Ia tulis puisi ini setelah melanglang buana di dunia Barat, ketika ia melanjutkan pendidikannya di Inggris dan kemudian di Jerman.

1-1-2020

Dipublikasi di puisi | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Manusia dalam Pandangan Iqbal

Sekilas Tentang Muhammad Iqbal

            Iqbal dilahirkan dari keturunan orang tua yang shaleh, yang bekerja untuk agama dan kehidupan. Muhammad Iqbal lahir pada 22 Februari 1873  M/ 24 Dzul Hijjah 1289 H di Sialkot, Punjab India (sebelum negara Pakistan lahir).

Ia memulai pendidikan pertamanya pada ayahnya, lalu ia belajar Al-Quran dan menghafalnya. Setelah itu Iqbal dibawa ayahnya belajar pada Mir Hasan. Seorang guru yang sastrawan dan menguasai bahasa Persia serta pandai bahasa Arab. Ia banyak memberi dorongan pada Iqbal. Karena Mir tahu akan kecerdasan dan daya imajinasi muridnya ia menyarankan kepada anak itu untuk menggubah sajak dalam bahasa Urdu.

Tahun 1897  ia menyelesaikan pendidikan BA. Terutama nilai bahasa Arab dan bahasa Inggris terbaik. Setelah itu atas saran gurunya Sir Thomas Arnold, Iqbal berangkat ke Eropa.  Tahun 1905 ia menuju Delhi lalu ke Bombay dan kemudian ia bertolak ke Inggris, dengan diantar oleh para sahabatnya. Namun, sebelum pergi ia menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Nizhamuddin Aulia.

Di Inggris ia masuk Universitas Cambidge untuk belajar filsafat di bawah bimbingan Dr. McTaggart. Dari universitas ini ia memperoleh gelar  di bidang filsafat moral. Lalu ia belajar di Universitas Munich, Jerman. Sebelum memasuki universitas Munich ia belajar bahasa Jerman. Kelak disertasinya mengenai metafisika Persia. Buku itu dihadiahkan kepada gurunya, Thomas Arnold, dan kemudian diterbitkan di London.[1]

Dari pengalaman belajar di Eropa ia menjadi semakin matang sebagai pemikir.[2]

Iqbal tentang Manusia

          Iqbal adalah seorang filosof yang juga penyair. Memang tidak mudah menentukan apakah ia sebagai penyair-filosof atau seorang filosof-penyair.  Dari sekian karyanya hanya dua yang termasuk murni karya filsafat, seperti dikatakan oleh Sharif.[3] Namun, faktanya dapat dikatakan bahwa setiap penyair atau pemikir besar mengekspresikan ide yang sama dalam banyak cara.[4]

          Amir Syakib Arselan menyatakan bahwa Iqbal adalah pemikir terbesar yang pernah dilahirkan Islam. Ia seorang filosof dan penyair, dan keduanya terpadu tak dapat dipisahkan.[5]

Iqbal banyak menuangkan pemikirannya dalam tulisan. Pemikirannya mengalami perkembangan, di suatu saat ia menjadi pengagum salah seorang pemikir seperti ibn Arabi, tetapi pada saat kemudian ia menolak pemikiran tokoh yang dikaguminya tersebut.[6]

          Ia memiliki banyak perhatian, sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisannya atau dalam syair-syairnya. Tulisan ini membatasi pada pemikiran Iqbal mengenai manusia. Pandangan Iqbal tentang manusia tertuang dalam karya Asrari Khudi dan dalam tulisan tentang pemikiran keagamaan. Walaupun ia banyak merambah keilmuan Barat modern, namun ia banyak menyerap inspirasi dari Al-Quran.

          Menurut Iqbal seklipun manusia diberi potensi untuk mengaktualisasikan dirinya dalam ruang dan waktu, namun mereka dengan pilihan bebasnya akan berujung pada jalan bercabang dua: iman dan kafir. Seperti dalam syairnya:

          Tanda seorang kafir ialah bahwa ia larut dalam cakrawala;

Tanda seorang mukmin ialah bahwa cakrawala larut dalam dirinya

 

Seorang muslim tidak akan pernah kehilangan arah dalam menghadapi persoalan kemanusiaan. Ia teguh bagai karang dengan dibimbing iman.[7]

          Tentang manusia ia menekankan pada kepribadian (personal) manusia yang unik, yang berbeda dengan malaikat, bahwa ia menjadi memiliki derajat yang mulia karena kesadarannya untuk berbuat. Namun, perbuatan yang disertai tujuan.[8] Dalam istilah Iqbal pribadi itu khudi atau ego.

          Ketika ia mengulas mengenai manusia ia menggunakan pendekatan psikologi dan juga filsafat. Ia menulis: “Pengalaman batin adalah ego yang sedang bekerja. Kita menghargai ego itu sendiri di dalam kemampuannya mempersepsikan, membuat pertimbangan dan berkemauan. Kehidupan ego adalah semacam tegangan yang disebabkan oleh menyerbunya ego ke dalam suatu lingkungan dan menyerbunya lingkungan ke dalam ego. Ego tidak berdiri di luar arena pertempuran itu. Ego hadir di dalamnya sebagai suatu tenaga yang memberi pimpinan dan ia dibentuk serta mendapat disiplin karena pengalamannya sendiri. Mengenai fungsi ego yang memberi arah itu dipaparkan dengan jelas oleh Al-Quran: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh: jawblah, ruh itu berada di bawah Amr (perintah) Tuhanku, dan pengetahuan yang diberikan kepada kalian hanya sedikit sekali”.(QS Al-Isra: 85)[9]

          Amr di atas, kata Iqbal, memiliki arti bahwa kodrat esensial jiwa bersifat ‘memimpin’. Karena ia bertolak dari tenaga Tuhan yang bersifat ‘memimpin’.[10] Pengalaman manusia hanyalah rentetan tindakan-tindakan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan, dan seluruhnya diikat oleh satu tujuan yang bersifat memimpin, katanya lebih lanjut.[11]

          Iqbal banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat, seperti Nietzsche, Bergson dll, dan juga para pemikir Muslim mulai ibn Arabi, Rumi dan Jili mengenai manusia sempurna atau insan kamil.  Namun, tentu saja ia tidak serta merta mengikuti pemikiran mereka secara tidak kritis. Malahan dari hasil pengembaraan intelektualnya yang luas ia memperoleh suatu sintesa baru, seperti manusia Iqbal sendiri.[12]

          Mengenai manusia sempurna atau insan kamil yang diidealkan oleh Iqbal, yang telah banyak diungkap oleh banyak pemikir, adalah manusia yang eksistensi spiritualnya mengacu pada dan dibimbing oleh Al-Quran. Ia seperti Muslim pada umumnya, namun ia memiliki pandangan yang luas dan setia pada kebenaran-kebenaran yang abadi. Ia hidup untuk tujuan yang abadi.[13]

          Berkaitan dengan pemikirannya. “Pada hakikatnya filsafat Iqbal adalah filsafat ego. Menurut pendapatnya ego itu merupakan suatu realitas yang terang benderang.”[14]

Catatan Akhir

        Dari pembahasan di atas kita dapat memberikan catatan, bahwa pemikiran Iqbal bertumpu pada, apa yang disebut dengan, ‘filsafat ego’. Manusia menjadi berharga karena perjuangannya. Ego manusia harus berjuang menggapai masa depan yang menjadi cita-citanya. Oleh karena itu ia menolak tasawuf yang bersifat pasif, tanpa melakukan apapun dalam realitas ruang dan waktu.

Depok, 29-4-2011/19

Lu’ay

Rujukan

[1]  Abdul Wahhab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, (Bandung: Pustaka, 2001), terj. h. 25
[2]  Khalifah Abdul Halim,”Muhammad Iqbal” dalam Dimensi Manusia Menurut Iqbal, (Surabaya: Usaha Nasional, tt.). terj. h.25
[3]  Iqbal as a Thinker, Essays by Eminent Scolars, (Lahore: S Ashraf, 1952), h. 107; lihat juga tulisan MM. Sharif, Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan, (Bandung: Mizan, 1984), terj. h. 26
[4]  Iqbal as.,h.131
[5]  SA. Vahid, “Iqbal seorang Pemikir” dalam Dimensi Manusia Menurut Iqbal, (Surabaya:   Usaha Nasional, tt.). terj. h. 31
[6]  M. Iqbal, Metafisika Persia, (Bandung: Mizan, 1990), terj. h. 14-15
[7]  A. Syafii Ma’arif. Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1993), h. 72
[8]  Ibid., 73
[9]  M. Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, (Jakarta: Tintamas, 191982). Terj. (Ali Audah, T Ismail, G Mohamad), h. 113; lihat juga Sir M Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Sh Ashraf, 1954), h. 103
[10]  Ibid., 113
[11]  Ibid., 114
[12]  John L Esposito (ed.), Dinamika Kebangunan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), terj.
[13] Abul Hasan Ali al-Husni al-Nadwi, Percikan Kegeniusan Muhammad Iqbal, (Bandung: Intergrita Press, 1984), trj. h.84-85
[14] SA. Vahid, “Iqbal seorang Pemikir” h. 31; baca juga Dr. M Iqbal Asrari Khudi, Rahasia-Rahasia Pribadi, (Jakarta: BBintang, 1976), uraian dan terjemahan Bahrum Rangkuti, h. 25
Dipublikasi di Tokoh | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Quotes

“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for exiting”.

 

“Hal yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya”. 

“Kita harus mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi, dan bukan mencari apa yang menurut kita sebaiknya terjadi”. 

 Albert Einstein

 

 

Dipublikasi di Tokoh | Tag , , | Meninggalkan komentar

Goger Garaudy tentang Timur (Orient) dan Barat (Occident)

Hasil gambar untuk roger garaudy

“Begitulah apa yang terjadi pada masa lalu sehingga jika Barat dan Timur tidak menginsapi sejarah mereka bersama, jika mereka tidak mampu memandang dirinya sebagai suatu bagian dari pihak lain, dan masing-masing menjadi bagian dari suatu kesatuan, maka dialog antara Islam dan Kristen, antara Timur dan Barat hanya akan merupakan dialog antara dua orang yang sakit.

Perang tidak pernah menyelesaikan permasalahan. Sebaliknya, perang menimbulkan permasalahan. Karena masalah-masalah itu didasarkan atas pemikiran -pemikiran yang keliru, maka dengan sendirinya masalah-masalah tersebut tak dapat dipecahkan. Adapun yang mengenai Islam, penyerbuan Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 telah menimbulkan problema hubungan antara modernisme dan tradisi, dengan cara yang sangat jelek.

Sudah menjadi anggapan umum dalam sejarah kita bahwa masuknya Napoleon ke Mesir menjadi permulaan dan renaissance-nya dunia Arab Islam; dalam Islam yang sudah berabad-abad bertekuk lutut di bawah kezaliman Turki yang telah memberlakukan pemikiran dan tindakan, telah terbuka suatu lubang, suatu perspektif pembaruan atau modernisme.

Dengan cara penyajian yang begini, telah terjadi suatu campur aduk yang fatal (yang akibatnya masih terasa sampai saat ini) antara modernisasi dan westernisasi, bukan saja modernisme berarti Barat, akan tetapi merupakan Barat dalam arti yang terjelek yaitu kekuasaan dan kekuatan militer.”

Roger Garaudy, filosof Prancis

Depok, 31-10-2019

Dipublikasi di Dialog | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Menggagas Paradigma Profetik Islam

Berawal dari diskusi mengenai teologi di Yogyakarta. Dalam diskusi itu terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai teologi. Kelompok satu memaknai dalam pengertian konvensional, yakni ilmu kalam dan yang lain teologi transformatif yakni memaknai teologi sebagai penafsiran terhadap realitas dalam perspektif ketuhanan. Perbedaan itu yang cukup tajam dan sulit dipertmukan. Untuk mengatasi kemacetan itu Kuntowijoyo mengganti istilah teologi dengan ilmu sosial, sehingga teologi transformatif menjadi ilmu sosial transformatif.

Juga pemicu lain adalah Kongres Psikologi Islam di Solo (2003).

Gagasan Kuntowijoyo terinspirasi oleh tokoh pemikir Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy, dan beberapa ilmuwan lain yang tidak disebutkan. Ia lalu mengumpulkan gagasan-gagasan yang masih berserak dan mempublikasikannya. Dikatakan oleh Ahimsa–Putra “Apa yang dilakukan oleh Kuntowijoyo adalah sebuah langkah awal untuk mewujudkan sebuah paradigm Islam dalam sebuah jagad ilmu pengetahuan, yang sampai saat ini umumnya menggunakan basis paradigma dari dunia Barat.” (Ahimsa, h. 4)

Menurut Kuntowijoyo ilmu sosial transformatif adalah ilmu sosial yang didasarkan pada hasil “elaborasi ajaran-ajaran agama ke dalam bentuk suatu teori sosial”. Sasaran utamanya adalah “rekayasa untuk transformasi sosial. Oleh karena itu, ruang lingkupnya bukan pada aspek-aspek yang normatif seperti pada teologi, tetapi pada aspek-aspek yang empiris, historis, dan temporal”.

Ilmu sosial transformatif tidak hanya menjelaskan fenomena sosial namun juga berupaya mentransformasikannya. Ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa? Terhadap beberapa pertanyaan ini ilmu sosial transformatif tidak memberikan penjelasan. Oleh karena itu Kuntowijoyo lalu mengusulkan adanya ilmu-ilmu sosial profetik, yaitu ilmu-ilmu sosial “yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Oleh karena itu ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tetapi mengubah demi cita-cita etik dan profetik tertentu.”

Lalu basis etik dan profetik yang mana yang Kuntowijoyo gunakan? Sebagai seorang muslim ia menengok kepada Islam. Selama ini ilmu pengetahuan telah kehilangan spiritualitas, sebab ilmu pengetahuan yang kita warisi dari Barat tanpa basis agama. Agama yang membicarakan hal gaib bukan lagi sebagai urusan ilmu pengetahuan (sains).

Jika acuannya agama Islam sumber utamanya adalah al-Qur’an. Kuntowijoyo mengatakan “kita perlu memahami al-Qur’an sebagai paradigma”, sebagaimana paradigmanya Kuhn. Lebih lanjut ia katakan, “Dalam pengertian ini, paradigma al-Qur’an berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh al-Qur’an pertama-tama dengan tujuan agar kita memiliki “hikmah” yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif al-Qur’an, baik pada level moral maupun pada level sosial. Akan tetapi, konstruksi pengetahuan ini juga memungkinkan kita untuk merumuskan desain besar mengenai sistem Islam, termasuk dalam hal ini sistem ilmu pengetahuannya. Jadi, di samping memberikan gambaran aksiologis, paradigma al-Qur’an juga dapat berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis…” (h. 6)

Berkaitan dengan itu Roger Garaudy, sebagaimana dikutip Kuntowijoyo mengatakan bahwa filsafat Barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan sebab hanya terombang-ambing antara dua kubu, idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat Barat (filsafat kritis} itu lahir dari pertanyaan: bagaimana pengetahuan itu dimungkinkan. Dia menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” Garaudy berpendapat bahwa filsafat Barat sudah “membunuh” Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar “umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam dengan mengakui wahyu.”

Lalu bagaimana unsur-unsur wahyu itu dimasukan ke dalam sistem ilmu pengetahuan profetik? Kuntowijoyo menguraikannya di antaranya: Wahyu: Basis Epistemologis dan Implikasinya; Etika: Humanisme – Teosentris; Tujuan: Humanisasi, Pembebasan, Transedensi.

Ahimsa–Putra menelaah secara kritis beberapa kelemahan gagasan mengenai ilmu sosial profetik yang ingin dibangun oleh Kuntowijoyo yakni terletak pada tidak adanya konsepsi yang jelas tentang paradigma. Kelemahan inilah yang ia coba atasi jika kita ingin melanjutkan langkah Kuntowijoyo dalam membangun ilmu sosial profetik.

Ia paparkan menganai Paradigma dan unsur-unsurnya; Basis epetemologis profetik Islam; ; Etos paradigm profetik; Model paradigma profetik dan Implikasi paradigma profetik.

Ahimsa–Putra berbeda padangan mengenai paradigma profetik dengan Kuntowijoyo walau tidak seluruhnya. Kuntowijoyo lebih menekankan pada pengembangan ilmu sosial profetik sedangkan Ahimsa pada paradigmanya. Ilmu pengetahuan lebih luas daripada paradigma  karena ilmu pengetahuan mencakup objek material (yang dipelajari) dan objek formal (perspektif, paradigma), sedangkan paradigma hanya mencakup objek formal saja.

Ia lebih lanjut mengatakan bahwa pertama inti ilmu pengetahuan adalah paradigma. Kedua, paradigma lebih luwes daripada ilmu pengetahuan karena sebuah paradigma dapat dibawa kepada cabang ilmu pengetahuan manapun, sedangkan ilmu pengetahuan tidak. Ketiga, meskipun para ilmuwan di Indonesia sudah biasa menggunakan konsep paradigma, tetapi menurut Ahimsa belum pernah ada diskusi yang serius mengenai apa yang dimaksud dengan paradigma, sehingga penggunaan konsep paradigm masih simpang siur.

Depok, 26-10-2019

Lu’ay

_____________________

Sumber:

Shri Ahimsa-Putra, Paradigma Profetik Islam, (Yogya: Gama Pres, 2018)

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, (Bdng: Mizan, 1991)

Dipublikasi di Humaniora | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Diskusi Tentang Iqbal

photo1576

Aula HB Jassin Jakarta (dok.pribadi)

“Muhammad Iqbal Pembangun Spiritual di Penjuru Dunia”

Di Gedung HB Jassin Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada 13 Sept 2019

Keynote speaker Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Abdul Salik Khan. Ia menguraikan mengenai biografi Iqbal dan perannya untuk berdirinya negara Pakistan.

Pembicara yang hadir Prof. Yunan Yusuf, Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) Dr. Masud M Nur dan Khan.

Dalam diskusi itu Prof. Yunan mengatakan bahwa syair-syair Iqbal bertumpu pada filsafat pribadi. Seperti dalam karyanya Asrari Khudi (Rahasia-rahasia Pribadi) yang diterjemahkan oleh Bahrum Rangkuti ke dalam bahasa Indonesia. Dikatakannya, khudi berasal dari huda.

Ia lama belajar dan tinggal di Barat, Inggris dan Jerman. Ia mempelajari kebudayaan Barat yang melahirkan kapitalisme dan komunisme. Melalui syair-syairnya ia kritik Barat. Ia tidak ingin kaum muslim mengikuti jalan yang ditempuh Barat.

Dr Masud mengatakan syair-syair dan puisi Iqbal  yang banyak dikenal di dunia Islam dan dunia umumnya banyak mengandung pesan spiritual.

Pembicara lain, Khan, mengungkapkan bahwa syair-syair Iqbal banyak dipelajari di banyak negara. Dalam suatu perkumpulan datang dari berbagai negara, Rusia, Cina dsb untuk membicarakan karya Iqbal.

Dalam karya-karyanya ia banyak terinspirasi al-Qur’an.

Dr Muhammad Iqbal penyair-filosof Pakistan-001

 

Bogor, 20-9-2019

Dipublikasi di diskusi | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Islam dan Kepemimpinan dalam Sejarah

Islam sebagai agama sudah disempurnakan sebagaimana dinyatakan dalam wahyu terakhir al-Quran. (Hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu… QS al-Ma idah: 3 )  Umatnya dituntut untuk mempelajarinya (fardhu ‘ain). Setiap Muslim wajib mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Sebab dalam Islam tidak ada dominasi pemahaman agama oleh kalangan tertentu. Siapapun bisa menjadi ahli agama (ulama) jika ia mau dan mampu mempelajarinya. Juga tidak ada struktur kekuasaan keagamaan. Semua sejajar, sederajat, mengenai kualitas iman dan taqwa hanya Allah yang Maha Tahu.

Islam yang dipraktekkan oleh nabi Muhammad Saw dan sahabat sangat ideal. Dalam arti, apa yang diwahyukan dipraktekan oleh Nabi Saw. Sahabat patuh mengikuti apa yang dilakukan Nabi Saw walau dalam beberapa hal kadang mengikuti pendapat (ijtihad) sahabat. Umat Islam setelah periode  jauh dari kehidupan Nabi Saw dan para sahabat semakin berkurang pemahaman terhadap agamanya dan juga pelaksanaannya.

Lebih-lebih di zaman sekarang yang jauh dari masa Nabi Saw. Oleh karena jarak yang demikian jauh sekitar 15 abad lalu maka pemahaman dan pelaksanaan agama umat semakin kurang dan jauh dari ideal. Inilah fakta yang harus disadari oleh orang saat ini.

Jika kita lihat sejarah. Ketika khalifah Utsman bin Affan terbunuh oleh sekelompok orang ekstrim dan naiknya Ali ra menjadi khalifah terjadi krisis politik. Krisis politik ini dampaknya sangat jauh, dan mencabik-cabik kedaulatan Islam yang masih baru.

Zaman sahabat Ali bin Abi Thalib ra ada orang-orang yang hapal Qur’an yang disebut qurra, yang hanya hapal, namun pemahamannya sangat kurang. Akibatnya mereka sangat ekstrim dalam menentang Ali. Mereka keluar barisan pendukung Ali, yang kemudian disebut kaum Khawarij. Di samping kaum Khawarij ada Muawiyah, ketika itu gubernur Syam, yang juga menentang Ali ra. Di sisi lain ada pendukung Ali ra yang disebut syiat. Muawiyah, walaupun dalam beberapa perang telah berjasa, namun ia termasuk kaum tulaqa. Kaum tulaqa ini adalah kaum kafir Quraisy yang setelah Makah dapat dibebaskan (fath) mereka semua bebas menentukan pilihan. Dan kemudian mereka masuk Islam karena sudah terjepit. Mereka masih terikat kepada tradisi Jahiliyah, masih fanatik kesukuan, yang pada masa selanjutnya mempengaruhi sejarah perkembangan Islam.

Di masa Muawiyah bin Abi Sufyan inilah kekuasaa diwariskan kepada anaknya, Yazid. Hingga akhirnya Ali ra terbunuh, maka dimulailah kepemimpinan dalam Islam berubah menjadi kerajaan atau dinasti, yang pergantiannya dilakukan secara turun temurun. Berbeda dengan masa sebelumnya, pergantian kepemimpinan melalui musyawarah (syura).

Depok, 29-8-2019

Rujukan

M Husain Haikal, Sej. Hidup Nabi Saw

Ali Audah, Ali bin Abi Thalib, (2005)

 

 

 

Dipublikasi di sejarah | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Quotes

“karena kekuatannya, kemampuannya untuk menenggelamkan realitas, menyederhanakan berbagai isu, dan ini yang mebahayakan, dan mempengaruhi berbagai peristiwa, media bagaikan iblis zaman ini, ada di mana-mana dan berkuasa; sebab dan akibat zeitgeist zaman posmodernis”.

Akbar S. Ahmed

Dipublikasi di Penulis, Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar