AHMADIYAH DAN KOLONIALISME

Apa hubungan Ahmadiyah dengan kolonialisme? Antara kelompok ini dengan   Inggris mempunyai hubungan historis, ketika Inggris melakukan kolonisasi di India. Di masa kolonisasi itulah muncul Mirza Ghulam yang didukung Inggris membuat kelompok Ahmadiyah. Untuk mengetahui bagaimana hubungan Inggris dengan kelompok ini, kita dapat merunut asal-usul kemunculanya di India.

Pada abad ke-19 berkecamuk kolonialisme yang melibatkan negara-negara Eropa. Banyak negara di Asia, Afrika dan Latin yang menjadi negara jajahan. India salah satu jajahan Inggris. Di negeri ini yang mayoritas Hindu, terdapat umat Islam. Umat Islam sangat gigih melawan penjajah Inggris karena mereka mempunyai ruh jihad dan persatuan yang kuat. Karena itu, Inggris ingin mencerai-beraikan persatuan umat Islam, yaitu dengan cara mengadu domba — sebagaimana Belanda ketika menjajah Indonesia—agar umat Islam tidak melakukan perlawanan. Dimunculkanlah Mirza Ghulam sebagai nabi.

Awal Penyimpangan Ahmadiyah

Mirza Ghulam Ahmad atau Ghulam Ahmad bin Mirza Ghulam Murthada yang lahir sekitar tahun 1840 M di Qadhiyan, sebuah desa di Punjab India. Ia belajar bahasa Persia sedikit tentang Nahwu-Sharaf dan kedokteran, tapi mengidap penyakit sejak kecil, antara lain penyakit melancholy (semacam gila) dalam ensiklopedia Qadhiyaniah, yang tidak memungkinkannya melanjutkan belajar.

Pada masa mudanya ia diminta pergi oleh keluarganya guna menerima honor ketekunannya dari gaji pensiunnya, yang diberikan oleh Inggris. Lalu ia pergi ke luar Qadhiyan dengan ditemani “Imamuddin” yang mendorongnya untuk bersenang-senang menghabiskan uang itu. Temannya menghilang. Ia menghidari keluarganya lari ke Sialkot, sebuah kota yang terletak di Pakistan Barat. Di kota ini ia terpaksa bekerja sebagai pencatat di sebuah pengadilan tahun 1864 M.

Ia tinggalkan pekerjaannya, lalu bekerja bersama ayahnya dalam perkara-perkara pengadilan. Ia mulai memperdebatkan tentang Islam, dan ingin membuat sebuah buku untuk memprotes agama Islam. Selama di kota ini pula, ia berhubungan dengan seorang dari pembesar para penyimpang bernama al-Hakim Nuruddin Al-Buhairawi, yang lahir di Buhairah tahun 1841 M. Pada saat inilah al-Hakim mendorong Ghulam untuk mengaku nabi.

Tahun 1900 M seorang pengikut Ghulam di masjidnya, Abdul Karim yang menjadi imam dan dalam khutbahnya menyatakan, bahwa “Saya yakin bahwa engkau nabi dan rasul. Kalau saya salah, maka ingatkanlah saya”. Ia hadir, tapi tidak menolak perkataan pengikutnya itu. Itulah sekelumit jejak langkahnya dan mengenai keyakinannya.

Keyakinan Ghulam yang menyesatkan, di antaranya yaitu: 1) pintu kenabian senantiasa terbuka, 2) bahwa ia seorang nabi dan rasul yang diberi wahyu, 3) ia menipu dan mengutamakan dirinya terhadap sebagian rasul, 4) ia setingkat dengan anak Allah dan setingkat dengan singgasananya, dan banyak lagi yang lainnya.

Bagi umat Islam yang mempercayai nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi, menolak anggapan itu. Bila umat Islam mengingkari ini maka ia telah kafir. Dalam Al-Qur’an menyatakan, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” Firman Allah ini dikuatkan pula oleh beberapa hadits shahih. Dari sisi keimanan Islam apa yang dinyatakan Ahmadiyah adalah batal dan di luar ajaran Islam. (Baca juga Ali Mustafa Yakub, Islam Masa Kini, h. 95)

Hubungan Ahmadiyah dan Inggris

Pendiri Ahmadiyah berselingkuh dengan kolonilis Inggris ketika umat Islam menggelorakan jihad, kelompok Ahmadiyah malah membuangnya. (Ali Mustafa, h. 94) Bukti hubungannya dengan Inggris dapat kita baca dari tulisannya, yang menyatakan: “Aku telah menghabiskan umurku untuk membantu pemerintah Inggris dan menolongnya. Untuk melarang jihad dan wajib taat kepada penguasa Inggris aku telah mengarang buku-buku dan brosur-brosur yang kalau dihimpun seluruhnya akan memenuhi 50 lemari. Semua buku-buku ini telah disebarluaskan di negara-negara Arab, Mesir, Syiria, Kabul dan Romawi”. Dan di tempat lain ia berkata: “ Sejak masa mudaku — dan sekarang aku sudah mencapai 60 tahun—aku telah berjuang dengan lisan dan penaku untuk membelokkan hati kaum muslimin agar setia kepada pemerintah Inggris, memberi nasihat kepadanya dan kasih sayang kepadanya. Dan aku telah menghilangklan ide jihad yang dianut oleh orang-orang bodoh mereka, dan yang melarang mereka untuk setia kepada pemerintah ini”.

Dalam tulisannya yang lain ia berkata: “Aku percaya bahwa setiap bertambah dan semakin banyak pengikutku, maka semakin sedikit orang-orang yang mencintai jihad. Karena dengan iman bahwa aku ini Al-Masih atau Al-Mahdi orang yang mengingkari jihad”. Dan dalam tulisannya yang lain dikatakan: “Sebenarnya pemerintah Inggris itu surga bagi kita. Jama’ah Ahmadiyah senantiasa maju ke depan di bawah naungannya”. Banyak kata-kata yang dikutip dari berbagai buku Ghulam yang menunjukkan bahwa ia berselingkuh dengan kolonialis Inggris.

Dan juga Ghulam di India menjilat kaum Hindu. Kapada surat kabar India berbahasa Inggris Statesman yang banyak menyebarkan masalah ini Dr. Muhammad Iqbal mengatakan: “Bahwa Qadhiyaniyah itu merupakan usaha terorganisasi untuk membentuk kelompok baru atas dasar kenabian yang menandingi nabi Muhammad SAW”. Lalu untuk menjawab Pandit Jawaharlal Nehru yang bertanya-tanya: ”Mengapa orang-orang Islam gigih untuk memisahkan golongan Qadhiyani dari Islam padahal ia juga suatu golongan Islam yang besar?” Iqbal menjawab: “ Bahwa Qadhiyani ingin memahat (memotong) dari umat nabi Muhammad SAW. yang Arab itu suatu umat yang baru untuk nabi India”. Yang dilanjutkan dengan, “bahwa yang demikian itu lebih berbahaya bagi kehidupan sosial Islam di India daripada ideology Spinoza, seorang filosof Yahudi yang menyerang sistem ajaran Yahudi”.

Di harian yang sama ia berkata: “Bahwa aqidah Muhammad SAW. penutup para nabi adalah line of demarcation (garis pemisah) yang sangat teliti antara agama Islam dan agama-agama lain yang menyamai kaum muslimin dalam hal keyakinan tauhid dan menyetujui kenabian Nabi Muhammad SAW., tetapi mengatakan berlangsungnya wahyu dan kenabian seperti Barhami Samaj di India. Dengan garis pemisah ini manusia dapat menegaskan sesuatu golongan, apakah masih dalam hubungan Islam atau sudah terlepas dari Islam. Aku belum tahu dalam sejarah ada suatu golongan Islam yang berani melanggar garis ini”.  (Baca Inilah Qadhiyani  terj. Hadzihi Hia al-Qadhiyaniyyah, diterbitkan pemerintah Arab Saudi)

Jadi, dari hasil perselingkuhannya dengan penjajah Inggris, maka lahirlah apa yang kemudian dinamakan Ahmadiyah. Di sinilah terlihat hubungan historis, mengapa Inggris berkepentingan melindungi Ahmadiyah, karena kontribusinya pada kolonialisme Inggris di India.

Peran Pemerintah

Dalam harian nasional Republika, tanggal 25 Februari 2008 Prof. Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pemerintah Indonesia tidak ingin didikte oleh Barat. Di harian yang sama pula 29 Februari 2008 ia mengklarifikasi bahwa pemerintah dan kedutaan Barat tidak meminta, tapi dari kelompok Ahmadiyah di luar sebagai bentuk solidaritas. Pemerintah Indonesia harus terus berupaya menyelesaikan persoalan ini, dan tidak boleh goyah oleh intervensi apapun.

Peran pemerintah sangat diharapkan oleh umat Islam agar mempunyai ketegasan dalam menyikapi persoalan Ahmadiyah di Indonesia, yang berpusat di Kemang, kabupaten Bogor. Ahmadiyah, selama ini bagi umat Islam ibarat duri dalam daging. Ia mengaku Islam, namun berkeyakinan bahwa pendiri kelompok ini sebagai nabi. Bagi umat Islam hal ini adalah suatu kecacatan aqidah dan sangat mendasar bagi fondasi keimanan Islam.

Sejak awal kemunculannya kelompok ini memang tidak ingin menjadi umat yang lurus, namun sengaja dan secara sistematis mempunyai niat merusak tatanan Islam. Apapun alasannya, terutama bagi yang membela keyakinan yang demikian. Adalah tepat bila disarankan, sebagaimana dikatakan oleh Mentri Agama RI, agar kelompok ini membentuk suatu agama baru. Jangan lagi membawa-bawa Islam, sebab ajaran Islam secara ijma ulama telah baku.

Dilihat dari konsep dan praktek keagamaannya kelompok ini bukanlah ajaran Islam, tapi hanya mengatasnamakan Islam saja.

Mengenai fatwa atas ajaran kelompok ini tahun 1980-an telah dikeluarkan oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI), bahwa kelompok ini di luar Islam. Kemudian di Indonesia disusul fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat, dan juga MUI kabupaten Bogor tahun 2005 M.

Lalu, mereka membuat 12 kesepakatan. Apakah kesepakatan ini sebagai upaya tulus mereka, atau jangan -jangan hanya untuk berkelit dari protes umat Islam? Bila mereka dengan tulus menyatakan Islam, tak perlu dengan kesepakatan itu. Sebab, bagi umat Islam, cukup menyatakan diri Islam dengan syahadat: bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.  Dan Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi. Ini artinya, tidak ada lagi yang namanya Ahmadiyah. Beranikah mereka menyatakan demikian? Atau mereka akan mengikuti saran Menteri Agama RI M. Maftuh Basuni, sehingga umat Islam tidak perlu mempersoalkan keyakinan mereka lagi. Ataukah mereka akan tetap berlindung di balik ketiak Inggris, sebagaimana pada awal kemunculannya dahulu di India?

Atau diputuskan oleh pemerintah bahwa Ahmadiyah adalah kelompok kepercayaan  (agama) minoritas, sebagaimana sikap yang diambil oleh pemerintah Pakistan tanggal 7 September 1974, baik kelompok Qodiyan maupun Lahor disamakan. Dengan sikap tegas seperti itu maka persoalan ini tidak berlarut-larut. Wallahu a’lam bissawwab.

cd

Depok, 27 Februari 2008

luay-Peminat sejarah

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Ahmadiyah, Islam, Kolonialisme, sejarah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s