Tafsir Mimpi dalam Al-Qur’an

“Ilmu jiwa modern mengkaji mimpi dengan tafsir-tafsir yang oleh ahlinya dinamakan tafsir ilmiah tentang mimpi. Di kalangan mereka juga terjadi peristiwa mimpi berjumpa dengan para pemimpin yang telah meninggal dunia, sampai pada kerinduan yang mendalam yang tidak mungkin dapat dipenuhi melalui pemahaman dalam alam sadar dan kejelian indera. Bila mimpi terjadi atas usaha salah  seorang di antara kita dan nyata  visualisasinya serta benar-benar hadir dalam alam khayal, maka yang demikian itu, menurut ahli kejiwaan, merupakan usaha untuk menghindari peristiwa pedih karena berpisah dengan orang-orang yang dicintai; usaha untuk melepaskan diri dari kehidupan yang susah dan takut terhadap kepekaan rasa. Mereka menyimpulkan itu secara sederhana. Yakni mereka memandang dari balik ruang sempit itu untuk menemui orang-orang mati melalui mimpi, dan mimpi itu menggariskan pada perasaan oarng yang bermimpi suatu kesimpulan subyektif yang memerlukan penguraian, penyelesaian dan pemecahan.

Akan tetapi berbagai takwil dan contoh tentang mimpi di atas tidak lebih dari sekedar dugaan dan teori, yang boleh jadi dapat diubah dan dibetulkan, dan ada kemungkinan dilakukan analisis ulang.

Dalam kenyataan, saya tidak tahu apakah para ahli kejiwaan itu membedakan penggunaan kata أَحۡلَٰمِۢ  dan  رُّءۡيَا.  Atau mereka mengambil dari kamus Mu’jam yang menafsirkan kata halm dengan arti ru’ya. Seolah-olah kedua kata itu diperlakukan sebagai kata sinonim.

Kami memakai pendapat kalangan spesialis bahasa Arab ketika kami mengartikan kata ahlam, yaitu bayangan yang melintas dan cerita yang bercampur baur, yang berbeda dengan apa yang ditayangkan dalam ru’ya tentang sesuatu obyek, baik dari segi kualitas penampilannya, ketajaman gambarnya, kejelasan ceritanya maupun kehadirannya dalam hati. Ini bukan rumusan sembarangan dan sekedar kebetulan saja. Sebab bahasa Arab dengan cita-rasa yang tinggi, menggunakan fi’il (kata kerja) ra’a untuk ru’ya (melihat) dan ra’yu (pendapat), sama-sama diambil dari akar kata ru’yah. Saya perhatikan, pemakaian kata ru’yah dalam kasus mimpi menunjukkan kuat dan jelasnya objek yang dilihat, seolah-olah dilihat dengan menggunakan mata telanjang. Akan tetapi dalam penerapannya, pengerrtian kata yang bersumber dari satu kata kerja itu mengalami perkembangan. Yaitu, kata ru’yah untuk makna “melihat dengan mata”, kata ru’ya untuk “melihat dalam tidur”, dan kata ra’yu untuk “pemikiran dan pendapat.”

Tidak mengapa, di sini menyimpang sedikit dari topik pembicaraan. Saya telah menyusun tulisan tentang perbedaan pengertian antara kata al-ahlam dengan kata ru’ya menurut al-Qur’an.

Al-Qur’an yang agung tidak pernah memakai kata al-halm (mimpi) kecuali dengan bentuk jamak (al-ahlam) dan dirangkai langsung dengan kata adhghats (bohong). Hal itu menunjukkan adanya unsur-unsur yang campur aduk, kerancuan dan tumpeng tindih. Sedangkan kata ru’ya digunakan al-Qur’an selalu dalam bentuk mufrad (tunggal). Hal itu menunjukkan kejelasan dan kenyataan. Susunan redaksional ayat-ayat ru’ya seluruhnya jelas menunjukkan kebenaran ilham.

Bagi orang-orang terkemuka yang dimintai fatwa oleh Raja Mesir agar menakwilkan mimpinya – melihat tujuh ekor lembu yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sampi kurus, dan tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir lainnya kering – mimpi sang raja itu jelas dan nyata. Mimpi raja (yang dinyatakan dalam kata rukya) itu merupakan ilham yang benar, bukan sekedar mimpi yang dinyatakan dengan kata ahlam) bohong.

Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi”. Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.” (Yusuf: 43-44)

Di satu pihak, al-Qur’an menggunakan kata ru’ya untuk mimpi raja sebagai suatu peristiwa yang nyata dan jelas, tapi di pihak lain, al-Qur’an menggunakan kata ahlam untuk jawaban para pembesar dari kaumnya yang tidak mampu menangkap tabir mimpi raja yang sebenarnya.

Kata أَضۡغَٰثُ (mimpi-mimpi kosong) juga dipergunakan orang-orang musyrik Quraisy yang mengalami kesulitan dalam memahami  wahyu yang dibawakan Nabi Muhammad Saw dari Tuhannya.

Bahkan mereka berkata (pula): “(Al Quran itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagai-mana rasul-rasul yang telah lalu diutus”. (al-Anbiya: 5)

Dalam al-Qur’an kata rukya (mimpi), selain mimpi penguasa Mesir yang benar itu ada lima kata rukya lain, seluruhnya menggunakan bentuk mufrad (tunggal). Semua juga berbicara tentang mimpi yang benar. Disimpulkan, kata rukya terdapat di lima tempat, yang berbicara tentang mimpi para nabi. Mimpi yang benar itu terdapat pada:

Pertama, mimpi Yusuf yang diceritakan kepada bapaknya, Ya’kub, lalu Ya’kub berkata kepadanya:

“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”(QS Yusuf: 5)

 Kedua, pada lanjutan kisah mengenai mimpi Yusuf yang benar-benar terbukti:

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Yusuf: 100)

Ketiga, dalam ayat tentang tebusan yang terdapat dalam kisah Ibrahim:

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS as-Shaffat: 104-105)

Keempat, mimpi Muhammad yang disebut dalam surat al-Isra:

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS al-Isra: 60)

Kelima (terakhir) terdapat dalam surat al-Fath, ayat 27:

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (QS al_Fath: 27)

Dengan keterangan al-Qur’an yang mu’jiz di atas dan berdasarkan rahasia bahasa Arab yang berhasil kami ungkap, maka kami bedakan pengertian mimpi yang dinyatakan al-Qur’an dengan kata al-ahlam dan mimpi yang menggunakan kata ru’ya, justru ketika kamus-kamus bahasa kita terlanjur menganggap kedua kata tersebut sinonim. (Dr. Aisyah Bintu Syati, h. 167-170)

Iklan

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Islam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s