SEJARAH ISLAM INDONESIA (Suatu Ikhtisar)

Oleh: F Lu’ay

 

Dalam bukunya Asvi Warman Adam menulis bahwa “Istilah “pelurusan sejarah” sangat populer sejak berhentinya Soeharto menjadi presiden dan merosotnya kekuatan Orde Baru. Ada juga beberapa orang yang kurang setuju dengan istilah tersebut. Apakah sejarah bisa diluruskan, demikian pertanyaan mereka. Perdebatan ini tentu bersumber dari perbedaan pengertian tentang sejarah”. [1]

Selanjutnya ia mengatakan bahwa sejarah dibagi dua: Pertama, sejarah sebagai peristiwa yang dilakukan, dan kedua, sejarah sebagaimana diceritakan. Maka pelurusan sejarah menyangkut aspek sejarah sebagaimana yang diceritakan. Yang pertama memang tidak dapat direvisi, namun revisi pada yang kedua adalah suatu hal yang wajar.

Lebih lanjut ia menulis, “Jadi memang wajar bila sejarah itu mengalami revisi dan penulisan ulang dari waktu ke waktu. Tetapi pada rezim Orde Baru yang terjadi adalah sesuatu yang tidak normal. Sejarah dimanfaatkan untuk kepentingan politik penguasa dan rezim, contoh yang nyata adalah penjelasan sejarah Gerakan 30 September 1965 yang diizinkan hanya versi tunggal yang dilakukan oleh pemerintah. Di dalam buku putih yang dikeluarkan oleh Setneg,  dicantumkan secara tegas bahwa itu pemberontakan PKI”. [2]

Pembelokan sejarah oleh penguasa demi kepentingan kekuasaan adalah sesuatu yang tidak normal. Sejarah ditafsirkan tunggal hanya oleh penguasa. Oleh karena itu suatu argumen sulit diuji. Padahal dalam dunia keilmuan merevisi sesuatu yang lama karena ditemukannya bukti-bukti baru adalah suatu hal yang wajar. Sebab sejarawan dalam menulis sejarah dibatasi oleh bukti-bukti yang ada. Jika ditemukan bukti-bukti baru, maka sejarah dapat ditulis ulang.[3]

Namun berkaitan dengan sejarah umat Islam bagaimana dari sudut metodologis. “Fakta sederhana inilah masalah metodologis pertama yang harus dihadapi setiap kali usaha untuk menulis sejarah “umat Islam” di Indonesia akan dilakukan. Dimanakah batas antara “sejarah umat” dengan “sejarah nasional” harus ditentukan? Bukankah “sejarah nasional” itu tak lain dari sejarah yang dijalani oleh rakyat Indonesia? Dan, “mayoritas” itu adalah pengalaman historis dari mayoritas sebagian rakyat Indonesia?”[4]

Dikatakan lebih lanjut, “Jika bekas-bekas kultural-spiritual masih merupakan perdebatan, di kalangan para ahli, apalagi di antara para cultural ideologies (para pemikir ideologis kebudayaan) setidaknya Borobudur, Prambanan, Mendut dan lain-lain, bukanlah hal yang bisa dianggap tak ada. Jadi bagaimana? Kalau begitu, batas yang pertama yang bisa dipakai ialah dari sudut kronologi. Sejarah “umat Islam” baru bermula ketika bukti-bukti sejarah memperlihatkan telah terjadinya “perbenturan kultural”, antara Islam, yang datang dengan kebudayaan yang dominan pada waktu itu. Sejarah menjadi lebih jelas lagi, ketika kerajaan-kerajaan Islam telah berdiri dan para ulama serta pemikir Islam telah menulis dan membentuk tradisi baru.”[5]

Tulisan ini hanya sebagai ikhtisar kronologis dari sejarah umat Islam Indonesia.

 

1.                   Zaman Animisme-Dinamisme

Manusia pada dasarnya membutuhkan spiritualitas. Manusia yang kehidupannya masih sederhana membutuhkan hal itu. Manusia yang belum menerima berita tentang Sang Pencipta dan tentang ciptaannya mencoba melakukan ritual dengan menyembah benda-benda, baik benda hidup maupun benda mati. Mereka meyakini bahwa apa yang mereka sembah memiliki kekuatan dan berdampak pada kehidupan mereka.


2.                  Zaman Kerajaan Hindu-Budha

Di kepulauan Nusantara terdapat beberapa kerajaan besar dan kecil. Pada abad ke-14 dan ke-15 terdapat dua kerajaan besar, yakni Majapahit dan Malaka. Malaka yang sekarang menjadi Malaysia adalah sebagai negara tetangga Indonesia. Sumber-sumber mengenai kerajaan Majapahit secara detail sangat tidak jelas, namun terdapat pada prasasti-prasasti dan naskah-naskah Jawa kuno. Raja-raja kerajaan Hindu-Budha itu di antara penguasanya adalah; Kertajasa Jayawardhana (1294-1309 M), Jayanegara (1309-1328 M), Tribuana Wijayotungga Dewi (1328-1350 M), Rajasanagara (Hayam Wuruk) (1350-1389 M), Wikramawardhana (1389-1429 M), Suhita (1429-1447 M), Wijayaparakrama-wardhana (1447-1451 M), Rajasawardhana (1451-1453 M).[6]

Majapahit mengalami zaman keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Pada masa itulah ditulis naskah Desawardana. Kekuasaan Majapahit sangat luas dan kerajaan itu pun memiliki hubungan dengan kerajaan lain di kawasan, yang sekarang disebut Asia Tenggara bahkan sampai Cina.

Pada perkembangan berikutnya di dalam kerajaan itu terjadi berbagai perang saudara, perebutan kekuasaan dan pemberontakan. Itu semua melemahkan kekuasaan Majapahit. Akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang.[7] Pada awal abad ke-15 mulai muncul kerajaan Islam di Jawa, di antaranya Demak.

 

3.                   Masuknya Islam ke Indonesia

Dari mana masuknya Islam ke kepulauan Nusantara menjadi pertanyaan banyak peneliti sejarah Indonesia. Dari sekian banyak bukti sejarah menunjukan adanya kejelasan, baik berupa naskah maupun bukti arkeologis. Namun, bukti-bukti sejarah ini masih harus diperkuat dan diteliti lebih lanjut.[8]

Setelah meneliti pendapat yang dikemukakan para ahli Azra kembali ke sumber-sumber klasik. Ia menyimpulkan bahwa ada empat tema pokok berkaitan dengan hal itu, di antaranya: pertama, Islam dibawa langsung dari Arabia; kedua, diperkenalkan oleh para guru dan penyiar yang memang khusus melakukan penyebaran Islam; ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa; keempat, kebanyakan para penyebar Islam “profesional” ini datang ke Nusantara antara abad ke-12 dan ke-13.[9]

Liaw Yock Fang mengulas mengenai sejarah kesusastraan Melayu klasik. Sekian lama kebudayaan Hindu berkembang, kemudian alam Melayu memasuki zaman peralihan Hindu-Islam. Namun, untuk menentukan karya mana yang termasuk dalam zaman sastra peralihan, penulis sulit menentukan. Lalu katanya, sastra zaman peralihan adalah sastra yang lahir dari percampuran antara sastra berunsur Hindu dengan pengaruh dari Islam. Cirinya, yang semula dewa diganti dengan Allah Swt.[10]

   Dari zaman peralihan mulailah sastra Melayu menampakkan ciri Islam. Yang didahului oleh masuknya Islam ke Nusantara. Menurut laporan Marco Polo, bahwa telah ada pemeluk Islam di Perlak (Aceh). Maliku Saleh, raja Islam pertama Samudra Pasei mangkat menjelang tahun 1297. Perkembangan Islam di Nusantara berhubungan dengan perkembangan Islam di dunia. Gujarat tahun 1196 masuk wilayah Islam. Yang datang berdagang bukan hanya orang Hindu, tapi juga orang Islam. Tahun 1258 Bagdad runtuh oleh bangsa Mongol. Perdagangan darat beralih ke laut. Orang-orang Islam mulai berlayar ke wilayah Timur. Itulah sebabnya mengapa Islam pada abad ke-13 berkembang.[11]

   Pada masa Islam kesusastraan Melayu dipengaruhi oleh Islam. Sastra Islam Melayu adalah sastra orang Islam yang ditulis dalam bahasa Melayu, yang cirinya yaitu, pertama, terjemahan atau saduran dari bahasa Arab atau Persia, kedua, kebanyakan anonim (tanpa nama penulis dan waktu penulisannya).

Memperhatikan hal tersebut, bisa jadi benar bahwa Islam telah diperkenalkan pada abad pertama Hijri, seperti dikemukakan Thomas Arnold dan disepakati oleh banyak ahli Indonesia-Malaysia, namun perkembangan lebih lanjut dan terlihat nyata setelah abad ke-12. Setelah abad ke-12 sampai abad ke-16 proses islamisasi semakin pesat.[12]

 

4.                  Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam di Sumatra

a.                  Samudra Pasai

Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai. Adanya kerajaan ini diketahui melalui batu nisan dari Samudra Pasai. Dari batu nisan itu diketahui Malik al-Saleh, sebagai pendiri dan raja pertama, yang meninggal tahun tahun 1297 M/ 696 H. Di samping dari batu nisan informasi mengenai raja itu ditemukan dalam Hikayat Raja-raja, Hikayat Melayu dan hasil penelitian para sarjana Barat dan terutama Belanda.[13]

Pada abad ke-13 di kawasan Sumatera munculnya kerajaan Samudra Pasai sejalan dengan peranan kerajaan Sriwijaya yang menurun. Pada masa sebelumnya kerajaan itu memegang peranan penting di kawasan maritim.

Kerajaan Samudra Pasai pada masa itu, menurut berita dari Ibnu batutah, menjadi tempat studi Islam dan  berkumpulnya para ulama untuk membahas berbagai persoalan keagamaan dan keduaniaan. Dari segi ekonomi kerajaan Pasai bertumpu pada maritim, yakni perdagangan dan pelayaran, sebab tidak ada kawasan agraris. Aktivitas perdagangan dan pelayaran memungkinkan kerajaan memperoleh pendapatan pajak yang besar.

Di kerajaan samudra Pasai telah digunakan mata uang dirham sebagai alat tukar. Pada mata uang itu tertera nama-nama raja yang memimpin. Di antaranya, Malik al-Saleh memerintah sampai tahun 1207 M, Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M), Mahmud Malik al-Zahir (1326-1345 M), Manshur Malik al-Zahir (1345-1346 M), Ahmad Malik al-Zahir (1346-1383 M), Zain al-Abidin Malik al-Zahir (1383-1405 M), Nahrasiyah (1402-? M), Abu Zaid Malik al-Zahir (?-1455 M),  Mahmud Malik al-Zahir (1455-1477 M), Zain al-Abidin (1477-1500 M), Abdullah Malik al-Zahir (1501-1513 M), Zain al-Abidin (1513-1524 M) yang merupakan Sultan terakhir. [14]

b.                  Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh Darussalam dibangun oleh Ali Mughayatsyah ( wafat 1530 M). Pada masanya Aceh Darussalam mengalami kemajuan di bidang perdagangan, karena para pedagang muslim memindahkan aktivitasnya ke Aceh, setelah kota Malaka dikuasai oleh Portugis (1511 M). Jalur perdagangan pun berubah dari Selat Karimata ke Malaka berpindah melalui Selat Sunda menyusuri pantai Barat Sumatra dan terus ke Aceh[15].

Kesultanan Aceh dikembangkan oleh Sultan Iskandar Muda (1583-1636 M). Ia dinobatkan menjadi Sultan pada tahun 1607 M/1015 H. Ia membangun Aceh menjadi kerajaan yang besar. Aceh menjadi kota metropolitan dan banyak dikunjungi oleh para pedagang.[16] Ia memerintah dengan tangan besi. Tidakan untuk mengamankan kerajaan ialah menertibkan orang kaya.[17]

Para Sultan Aceh di antaranya, Ali Mughayat Syah (1530 M), Salah ud-Din (1530-1548 M), Alauddin Riayat Syah (1539-1571 M), Ali Riayat Syah (1571-1579 M), Sultan Muda (masih muda 1979 M), Sultan Sri Alam (1579 M), Zainal Abidin (1579 M). [18]

 

5.                   Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa

a.                  Demak

Kerajaan Islam pertama yang berdiri di Jawa bagian utara adalah Demak pada abad ke-15. Raden Patah menjadi raja pertama Demak.[19] Ia bergelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama. Dalam menjalankan pemerintahannya dan terutama berkaitan dengan pengembangan Islam ia dibantu para wali atau yang lebih dikenal dengan Wali Sanga.[20] Dari segi ekonomi kerajaan Demak memiliki sumber pendapatan dari hasil pertanian, terutama padi. Pemerintahan Raden Patah berlangsung sekitar abad ke-15 sampai awal abad ke-16.[21]

Raden Patah kemudian digantikan oleh anaknya Pati Unus, yang bergelar Pangeran Sabrang Lor, sekitar tahun 1507 M. Ia memiliki semangat perang yang tinggi. Ia menyerang Malaka yang dikuasai Portugis tahun 1511. Namun, antara tahun 1512-1513 M tentaranya mengalami kekalahan.[22] Lalu Pati Unus digantikan oleh Pangeran Trenggono, yang memerintah antara tahun 1524-1548 M.

Pada masa Trenggono agama Islam dikembangka ke luar daerah dan bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Dalam suatu penyerbuan ke daerah Blambangan ia terbunuh tahun 1546 M. Trenggono digantikan oleh adiknya Prawoto. Masa kekuasaannya tidak lama karena banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh adipati-adipati sekitar kerajaan Demak, dan Sunan Prawoto sendiri akhirnya dibunuh oleh Aria Penangsang dari Jipang tahun 1549 M. Dengan terbunuhnya Prawoto maka berakhirlah masa kerajaan Demak.

Setelah itu muncul kerajaan Pajang dibawah kekuasaan Jaka Tingkir, yang berhasil membunuh Aria Penangsang.[23] Akhir abad ke-16 kekuasaan politik beralih dari Pajang ke Mataram.

b.                  Mataram

Kerajaan Mataram pertama kali dibangun oleh Ki Pemanahan dan putranya. Ia dan putranya mendapatkan tanah dekat kali Progo itu sebagai hadiah atas kemenangan mengalahkan Aria Penangsang dari Raja Pajang. Senapati yang masih muda, ketika di Pajang, telah diberi nama dan gelar Senapati-ing-Alaga. Pada tahun 1584 ia segera memerdekakan tanah warisnya itu dan Senapati membangun tembok sekeliling istana.[24]

Selanjutnya Senapati Mataram itu melebarkan sayap kekuasaannya dengan menguasai vasal-vasal kerajaan Pajang. Baru pada akhir abad ke-16 raja yang sudah merdeka itu dapat menguasai daerah pedalaman dan sepanjang pantai utara Jawa.[25]

Pada tahun 1601 M raja pertama Mataram itu mangkat di Kajenar (sekarang wilayah Sragen).[26] Sepeninggal Senapati kerajaan dipimpin oleh putranya Mas Jolang yang bergelar Seda ing Krapyak (1601-1613 M). Pada masa pemerintahan Krapyak perluasan kekuasaan kerajaan dilanjutkan. Walaaupun begitu, perhatain utamanya adalah pembangunan kraton Mataram yang berpusat di Kota Gede.[27]

Terjadi berbagai pemberontakan di antaranya dilakukan oleh Pangeran Puger. Pemberontakan itu dapat dipadamkan pada tahun 1605 M dan Pangeran Puger diberi pengampunan. Lalu saudaranya juga akan melakukan pemberontakan,  namun ia dipanggil dan diasingkan. Krapyak wafat pada tahun 1631 M. Ia digantikan oleh putranya, yang berasal dari perkawinannya dengan putri dari Pajang. Putra tertua Krapyak tersebut bernama Mas Rangsang, yang kemudian dikenal dengan Sultan Agung.

Sultan Agung meluaskan pengaruhnya dengan mengirim pasukan militer ke wilayah Jawa Timur pada tahun 1614 dan 1615 M. Satu demi satu kerajaan di wilayah timur jatuh dalam kekuasaan Mataram. Hanya Surabaya yang masih belum tunduk. Namun pada tahun 1625 M setelah Mataram mengadakan blokade Surabaya akhirnya menyerah. Putra adipati Surabaya yang bernama Pangeran Pekik dikawinkan dengan putri Sultan Agung.[28]

Pada tahun antara 1628  dan 1629 Mataram dua kali melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia. VOC menjadi penghalang dalam persaingan kekuasaa. Usaha Mataram gagal, karena VOC berhasil membakar lumbung persediaan makanan pasukan Mataram di daerah Tegal.[29] Untuk melawan VOC lalu Mataram bekerjasama dengan Portugis. Kerjasama tersebut berhasil menggagalkan VOC dalam memusnahkan Jepara.

Sultan Agung sudah meluaskan kekuasaannya di Jawa sebagai penguasa Islam. Pada tahun 1641 M ia menerima gelar Sultan dari Syarif Makah, setelah lebih dulu Sultan Banten, Abdul Mufakir Abdul Kadir.  Selai memiliki perhatian terhadap bidang militer, ia pun menyuruh para pujangga Mataram untuk menulis Babad Tanah Jawi. Tahun 1646 M Sultan Agung mangkat dan dimakamkan di pemakaman Imogiri yang ia bangun tahun 1631 M. Kemudian ia digantikan oleh anaknya Amangkurat I.[30]

Selain kerajaan Islam Demak dan Mataram di Jawa Tengah dan beberapa kerajaan  di Jawa Timur, di Jawa Barat pun terdapat kerajaan Cirebon dan Banten.

c.                   Cirebon

Yang mendirikan kerajaan Cirebon adalah Syekh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Ia lahir pada tahun 1448 M dan wafat 1568 M. Sunan Gunung jati juga termasuk Wali Sanga. Oleh karena itu ia mendapat penghaormatan dari kerajaan lain, seperti Demak dan Pajang. Ia mengembangkan Islam ke daerah-daerah lain, seperti majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa dan Banten.[31]

Pada tahun 1527 M Faletehan menyerang Sunda Kelapa atas dorongan Cirebon dan Demak. Lalu raja ketiga Cirebon bernama Panembahan Ratu atau Pangeran Ratu. Kerajaan Cirebon pada masa pemerintahannya di bawah pengaruh Mataram. Tahun 1636 M Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram, sebagai penghormatan terhadap Sultan Agung.Tahun 1650 M Panembahan Ratu wafat, dan ia digantikan putranya yang bergelar Pangeran Girilaya. Pada masa mudanya ia bergaul dengan keluarga Mataram, sehingga ketika putranya masih kecil Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya dititipkan untuk belajar di keraton Mataram.[32]

Namun kemudian keutuhan Cirebon berakhir ketika Pangeran Girilaya wafat. Cirebon menjadi dua kesultanan, Kesultanan Kesepuluh dengan rajanya Pangeran Martawijaya ( Sultan Sepuh 1) dan Kesultanan Kanoman, dengan gelar Badruddin.

d.                  Banten

Pendiri kerajaan Banten adalah Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati pada tahun 1527 M. Pengurusan pemerintahan diserahkan kepada putranya Maulana Hasanuddin, sedangakn ia sendiri kembali ke Cirebon. Walaupun sejak tahun 1525 M ia telah memegang pemerintahan, namun baru dinobatkan sebagai sultan tahun 1552 M. Saat itu ia melepaskan kekuasaan atas Demak. [33]

Ia menikah dengan Ratu Nyawa putri Sultan Demak, Trenggana. Dari hasil pernikahannya lahir dua orang putra, Maulana Yusuf dan Pangeran Aria. Lalu yang bungsu dititipkan untuk dididik pada Ratu Kalinyamat di Jepara. Maulana Hasanuddin terus meluaskan agama Islam sampai ke Lampung. Pada tahun 1550 M ia wafat dan dimakamkan di sebelah barat masjid Agung Banten.  Lalu ia digantikan oleh putranya Maulana Yusuf. Ia melanjutkan menyebarkan Islam ke selatan Banten. Bahkan ia berhasil mengalahkan ibu kota Pajajaran di Pakuan tahun 1579 M. Tak lama kemudian tahun 1580 M Maulana Yusuf wafat.

Lalu pemerintahan dipegang sementara oleh Pangeran Aria Jepara. Oleh karena pura Maulana Yusuf, Maulana Muhammad masih kecil. Namun Pangeran Aria kurang disukai para bangsawan dan ulama kerajaan, karena membawa pengaruh dari pertentangan kepentingan raja Jawa Tengah. Oleh karena itu Pangeran Aria digeser  dan mereka membentuk dewan perwakilan yang terdiri dari Kadhi dan para bangsawan. Setelah dewasa Maulana Muhammad mengadakan ekpedisi ke Sumatra bagian selatan, namun ia tewas ketika memasuki wilayah Palembang. Ia digantikan oleh Pangeran Abdul Kadir, yang memerintah antara tahun 1596 M – 1651 M.[34]

Pada zaman pemerintahan Abdul Kadir awal masuknya VOC dengan pimpinan Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1596 M, dan disusul dengan ekspedisi yang lain.[35]

 

6.                  Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan, Maluku dan Sulawesi

a.                  Kerajaan Banjar

Raja Sukarama ketika menjelang ajalnya berwasiat, agar yang menggantikannya nanti adalah Raden Samudra. Keempat putranya tidak menerima, lebih-lebih Pangeran Tumenggung yang berambisi. Setelah Sukarama wafat jabatan raja dipegang anak tertua, Pangeran Mangkubumi. Sebab Raden Samudra masih kecil. Namun Pangeran Mangkubumi tidak  lama berkuasa, karena dibunuh pegawai istana. Tampillah Pangeran Tumenggung menjadi raja.

Pada saat itu Pangeran Samudra berkelana ke wilayah muara. Ia diasuh seorang patih bernama Patih Masih. Kemudian Pangeran Samudra menghimpun kekuatan. Oleh karena tidak seimbang, maka Pangeran meminta bantuan Demak. Demak menyanggupi asalkan ia memeluk Islam. Sultan Demak lalu mengirimkan pasukan ke Banjar. Pangeran Samudra dalam peperangan itu memperoleh kemenangan.

Sesuai dengan janjinya Pangeran Samudra memeluk Islam, dengan nama Sultan Suryanullah. Ia dinobatkan sebagai raja pertama kerajaan Islam Banjar pada tahun 1526 M.[36]

b.                  Maluku

Islam sampai di kepulauan Maluku pada sekitar akhir abad akhir ke-15. Raja muslim pertama Ternate adalah Zayn al-Abidin (1486-1500 M). Ia belajar Islam di Giri, dan ia membawa seorang penyebar Islam Bahalul. Saat Islam yang berkembang masih baru itu Portugis datang ke kepulauan ini pada tahun 1522 M. Portugis berharap Kristen berkembang di sana, namun usaha mereka mendapat hasil yang kecil.[37]

c.                   Sulawesi

   J Nooduyn mengungkap mengenai masuk dan berkembangnya Islam di Makassar, Sulawesi Selatan. Yang membawa Islam ke wilayah ini adalah para saudagar Muslim Melayu, yang menetap di Makassar dan tempat-tempat lainnya di Sulawesi Barat daya. Mengenai waktu datangnya Islam ke wilayah ini antara tahun 1603 sampai 1607 M. Pada tahun 1607 sudah diadakan shalat Jumat pertama. Pada tahun-tahun berikutnya Karang Tallo mengirimkan ekspedisi-ekspedisi terhadap kerajaan Bugis, di utara, dan mereka mengakui persenjataan Makassar, dan akibat itu mereka masuk agama Islam.[38]

   Kerajaan Goa-Tallo menjalin hubungan dengan Ternate. Agama Islam masuk ke kerajaan Goa-Tallo ketika datang Dato’ ri Bandang. Raja Alauddin (1591-1636 M) adalah raja pertama yang muslim tahun 1605 M.[39]

Pada masa Sultan Muhammad Said Tumenangari  Papambatunna memerintah kerajaan Gowa tahun 1639-1653. Ketika raja mangkat, ia mengamanatkan kepada anaknya yang dikenal dengan nama Sultan Hasanudin. Ia menjadi raja Gowa XVI. Ketika Hasanuddin naik tahta kerajaan Gowa dalam puncak kejayaan dan kebesarannya. Sultan Hasanudin dari kehidupan awal hingga ia menjadi raja Gowa XVI, berjuang melawan VOC, bertempur memperebutkan Benteng Sombaupu.[40]

Di wilayah Goa-Tallo terdapat tradisi bahwa hal baik harus disampaikan kepada yang lain. Oleh karena itu pesan Islam oleh raja disampaikan ke kerjaan lain, di antaranya Luwu, Bajo, Soppeng dan Bone.[41]

 

7.                   VOC dan Misionaris

Awal masuknya VOC (Vereerigde Oost Indische Compagnie) ke Nusantara di  pelabuhan Banten dengan pimpinan Cornelis de Houtman pada tahun 1596 M. Kapal-kapal dagang yang datang ke Nusantara dari berbagai kota Belanda terdiri dari empat angkatan. Mereka berlayar sampai ke Maluku untuk membeli rempah-rempah.  Mereka bersaing dengan Portugis dan bahkan sampai kontak senjata.[42]

Apa tujuan VOC ke Indonesia? Tujuan VOC berlayar untuk menguasai perdagangan di Indonesia. Kehadiran VOC mengancam kepentingan para pedagang pribumi. Hal itu membangkitkan perlawanan kaum pribumi, dan bertambah kuat perlawanan itu dengan adanya persatuan umat Islam. Sistem monopoli yang dilakukan pedagang Belanda tidak sesuai dengan sistem tradisional yang telah berlangsung di Nusantara, dan lebih-lebih mereka menggunakan cara paksaan dan bahkan kekerasan.[43]

Walaupun VOC sebagai perkumpulan yang bertujuan pada keuntungan perdagangan, namun pada tahun 1602 M VOC tidak lepas untuk melaksanakan misi Kristen dengan meniru cara Portugis dan Spanyol, yaitu kekerasan. Antara perluasan kolonialisme sejalan dengan misi Kristen. Misi Kristen sebagai faktor penting dalam penjajahan.[44]

Mataram pernah ingin menghancurkan VOC di Batavia, namun tidak berhasil. Di antara sebab tidak berhasilnya yakni lumbung padi untuk persediaan makanan para prajurit dihancurkan VOC di Tegal. Usaha itu dilakukan Mataram untuk melenyapkan pesaing dalam perdagangan (baca tentang Mataram).

 

8.                  Pemerintah Hindia Belanda dan Misionaris

Setelah VOC mengalami kebangkrutan karena berbagai persoalan di dalam organisasi dan juga pengaruh dari luar, maka akhirnya VOC bubar pada abad ke-18 M. Kemudian Indonesia memasuki masa penjajahan dengan pemerintah jajahan Hindia Belanda.[45]

Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijaksanaan politik berbeda pada masa tertentu, di antaranya politik Islam pada masa kolonialisme. Untuk mempertahankan kekuasaannya pemerintah Hindia Belanda melakukan berbagai cara, di antaranya ide politik Islam dari tokoh kolonialis-orientalis Snouck Hurgronje.[46] Ia banyak meneliti tentang penduduk pribumi dan setelah ia mendapatkan data serta berpengalaman di Timur Tengah, ia memberikan nasehat-nasehat terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Yang semula penjajah selalu berdasar rasa takut dan tidak ikut campur dalam melihat Islam. Dengan penerapan Politik Islam di mana  Snouck Hurgronje sebagai peletak dasar, maka pemerintah Hindia Belanda memiliki pola bagaimana menangani Islam. Terhadap urusan ibadah pemerintah kolonial bersikap netral, namun dalam masalah politik umat Islam harus dijaga dan dijauhkan. Para penasehat bekerja di Kantoor voor Inlandsche zaken yang bertugas memberikan nasehat kepada Gubernur Jenderal urusan pribumi.[47]

Mengenai sejarah tanam paksa di pulau Jawa, yang diberlakukan pemerintah Hindia Belanda dari tahun 1830 sampai 1870. Kegiatan tentang Sistem Tanam Paksa oleh van Niel ini memperlihatkan bahwa “pulau Jawa dapat menghasilkan beberapa komoditas pertanian tertentu dengan cara-cara cukup murah untuk bisa bersaing di pasar dunia”.[48] Hal itu menjadi daya tarik untuk penanaman modal bagi para pengusaha di Jawa dan luar Jawa. Tetapi, bagi pengusaha yang berpangkalan di pulau Jawa yang paling menyadari dan mengenal cara yang diapakai oleh pemerintah sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan modal.

Pertumbuhan modal di bidang pertanian di pulau Jawa berasal dari para pengusaha yang bekerjasama dengan para pegawai sipil dan dan kantor-kantor perwakilan dagang. Jalan yang mereka rintis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 berkembang menjadi sebuah jalan penanaman modal yang lebih luas. Langkah tersebut dimungkinkan berkembang berkaitan dengan adanya tenaga kerja murah dan ekonomi pedesaan.[49]Sistem tanam paksa ini, kata penulis, membawa pengaruh terhadap perkembangan ekonomi Jawa pada masa selanjutnya, dan lebih jauh memungkinkan Jawa terlibat ke dalam sistem ekonomi pasar.

Kebijakan politik Islam Hindia Belanda bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan di Indonesia dan ketika itu untuk menaklukan Aceh, sebab bangsa Aceh adalah bangsa yang teguh mempertahankan wilayah dari penjajah asing. Dengan pendekatan politik Islam Hindia Belanda akhirnya Aceh dapat ditaklukan. Namun, walaupun begitu Aceh masih mampu melawan kaum penjajah secara sporadis.[50]

Setelah berbagai kejadian dan persaingan diplomatik, maka pada tahun 1873 Batavia melancarkan agresinya ke Aceh, sebagai negara yang berdaulat di pulau Sumatra bagian utara. Pada agresi pertama Aceh dapat mempertahankan diri dengan menyeru “tiada Tuhan selain Allah”. Namun, dalam agresi kedua 1874 Belanda di bawah pimpinan Jend. Van Swieten berhasil merebut dalam (kraton) dan menghancurkan masjid Kotapraja.

Pada perang tahap awal itu Jend. van Swieten sudah mengumumkan bahwa kerajaan Aceh telah ditaklukan. Penulis mencatat, “setelah itu perang, yang bermula sebagai konflik antara dua negara yang berdaulat ini  -yang satu “negara kolonial” dan yang lain “negara tradisional”- memasuki situasi konflik bersenjata yang hampir tanpa henti”.[51]

Perang Aceh tersebut memperkuat tradisi penentangan yang keras terhadap kolonialisme Barat, yang disebut oleh bangsa Aceh sebagai “kaphe’ ” (kafir).

Pemerintah kolonial Belanda dalam melaksanakan kebijakannya tidak berkonsentrasi pada aspek militer, namun juga pada aspek yang lain di antaranya misi Kristen. Banyak tokoh mereka yang tampil menjadi pendukung misionarisme. Namun berapapun besarnya tenaga yang mereka keluarkan untuk misi ternyata mereka hanya mendapatkan hasil yang sedikit.[52] Karel mengungkap bagaimana persepsi kolonial Belanda terhadap umat Islam Indonesia, kebijakan para tokoh kolonial, dan sepak terjang para misionaris Kristen serta reaksi Indonesia atas kedatangan Kristen. Hubungan yang kelam antara Islam dan Kristen tercatat dalam lembaran sejarah.[53]

Berbeda dengan anggapan umum Guillot mencatat bahwa masuk dan berkembangnya ajaran Kristen di Indonesia hasil usaha para zending bersama kehadiran VOC. Penulis ternyata membuktikan berbeda dari anggapan itu. Ia dengan meneliti kasus kelompok Sadrach memperlihatkan bahwa keberhasilan kristenisasi di Jawa pada abad ke-19 hasil aktivitas orang-orang pribumi sendiri. Sadrachlah tokoh kunci dalam usaha tersebut.[54]

Pada tahun 1889 jemaahnya mencapai sekitar tiga ribu orang di desa Kedu. Sadrach berbeda jalan dengan zanding. Dalam ajarannya ia melakukan penyesuaian ajaran Kristen dengan tradisi Jawa.[55]

Banyak aspek yang dimasuki oleh pemerintah kolonial Belanda dalam masyarakat  pribumi, di antaranya politik, kebudayaan, agama, pendidikan dan sebagainya, sehingga sedikit banyaknya mempengaruhi kehidupan masyarakat pribumi selanjutnya. Kekuasaan Belanda di Indonesia pernah diselingi oleh penjajah Inggris, yang ketika itu gubernur jenderalnya Raffles pada awal abad ke-19 M. Kemudian Belanda melanjutkan kembali kolonialismenya.

Belanda menyerah kepada Jepang pada bulan Maret 1942. Itulah masa akhir dari kekuasaanh Belanda di Indonesia. Proses keruntuhannya terlihat ketika pada tahun 1920 sampai 1940-an muncul berbagai gerakan nasionalisme Indonesia modern. Munculnya Jepang di Indonesia menambah cepatnya proses kehancuran kekuasaan penjajah Belanda di Indonesia.[56]  Juga proses tersebut terjadi oleh  berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik faktor dalam negeri maupun faktor yang terjadi di dunia internasional, dan tidak luput pula situasi politik di negeri Belanda.

Alfian dalam Perang di Jalan Allah membuktikan bahwa Indonesia dijajah selama tiga setengah abad hanyalah mitos. Sebab Aceh adalah sebuah negara berdaulat yang kemudian ditaklukan oleh Belanda tahun 1912. Jika dihitung dari masa ditaklukannya Aceh sampai kemerdekaan, maka Indonesia tidak dijajah selama tiga setengah abad.

Dengan demikian jika selama ini ada yang meyakini bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun, maka itu hanyalah mitos yang tidak dapat dipertahankan lagi. Sebab ketika Cornelis de Hotman mendarat di Nusantara (Banten) mereka tidak langsung menjajah dengan menaklukan kerajan-kerajaan yang merdeka saat itu.[57]

 

Berbagai Gerakan Protes

   Mula-mula Belanda membuka kantor dagang di Banten dan di berbagai kerajaan lainnya. Namun ketika Belanda telah memiliki kekuatan untuk menghadapi kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, Belanda melakukan ekspansi politik terhadap kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Belanda menggunakan politik devide et impera, memecah belah dan menguasai, dan Belanda berhasil menaklukkan satu persatu kerajaan di wilayah Nusantara. Untuk selanjutnya kerajaan-kerajaan itu dijadikan bawahan pemerintahan Hindia Belanda.[58]

Lebih jauh bahkan Belanda ikut campur dalam menentukan masalah kenegaraan, mulai dari penggantian tahta, soal kebijakan politik hingga pada pengangkatan pejabat masing-masing. Situasi semacam ini menyebabkan penguasa tradisional semakin tergantung kepada kekuasaan Belanda. Pemerintah Hindia Belanda sengaja tidak menghancurkan kerajaan-kerajaan tradisional agar kerajaan-kerajaan itu dapat digunakan sebagai alat eksploitasi terhadap masyarakat.[59] Dengan perpanjangan tangan itu mereka mampu menjangkau wilayah yang luas.

Dominasi  politik dan ekonomi yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial  telah menghancurkan struktur tradisional, namun juga mendesak kalangan sosial pribumi ke dalam peran yang kurang menentukan. Kondisi demikian menimbulkan kegoncangan tata nilai dalam masyarakat tradisional dan menumbuhkan berbagai gerakan protes. Gerakan protes ini dilakukan oleh masyarakat dengan para pemuka agama atau ulama. Dalam gerakan protes ini, jihad ditafsirkan sebagai kewajiban suci yang dikenakan kepada seluruh muslim untuk memerangi kaum kafir.[60]

 

1.                   Gerakan Rifaiyah

Gerakan sosial keagamaan ini dipimpin oleh Kiai Hasan Rifa’i yang dimulai di Batang, Pekalongan pada tahun 1850. Pada awalnya ia hendak mengembalikan pengamalan Islam dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunah Rasul. Ia menerjemahkan Al-Quran dan Sunah dan kitab-kitab lainnya ke dalam bahasa Jawa. Dari usaha itu ia menyebarkan Islam dan faham keagamaannya.

Namun, karena keadaan penjajahan yang menghimpit kehidupan rakyat dan banyak bertentangan dengan ajaran Islam, maka KH Hasan Rifai melakukan gerakan protes melawan pemerintah kolonial dan birokrasi tradisional. Sikap protesnya ia tuangkan ke dalam kitab-kitabnya. Di antara isinya, ia mengecam pengusa kafir Belanda dan para penyokongnya. [61]

 

2.                  Gerakan Haji Jenal Ngarip di Kudus

Gerakan Haji Jenal Ngarip muncul di Kudus pada tahun 1847. Gerakan ini protes terhadap terhadap pemerintah yang sewenang-wenang menggusur tanah milik rakyat untuk perkebunan tebu. Akibatnya rakyat resah dan menderita. Atas semua tindakan pemerintah Belanda itu maka Haji Jenal Ngarip tampil memimpin gerakan rakyat Kudus untuk menghancurkan pabrik gula.

Kemudian gerakan ini dapat dipadamkan, namun mereka dapat merusak tebu dan pabrik gula serta membunuh beberapa sebagian pejabat Belanda.

 

3.                   Gerakan Ahmad Ngisa di Karangkobar

Gerakan Ahmad Ngisa ini muncul di desa Karangkobar, lembah Sungai Serayu tahun 1871. Ia memimpin perlawanan terhadap orang-orang kafir Belanda dan meningkatkan ketaatan beragama. Untuk menanamkan pengaruh faham ialah dengan jimat-jimat penangkal dan kekebalan.

Banyak orang berguru kepadanya dan kemudian ia memakai gelar Syekh Jumadilkubro. Untuk persiapan pemberontakan ia mengadakan pengajian-pengajian di berbagai daerah untuk mengobarkan anti Belanda dan tidak menaati pemerintah. Namun, rencana Ahmad Ngisa tercium dan akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda.[62]

 

4.                  Gerakan Kiai Kasan Mukmin dari Sidoarjo

Gerakan ini muncul di desa Sementara, Sidoarjo pada tahun 1903 untuk mengadakan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Ia melakukan khutbah-khutbah untuk membantu rakyat dari pemerasan kolonial Belanda dengan cara melakukan perang jihad.

Pada tanggal 27 Mei 1903 saat peringatan Maulid Nabi mereka menyerbu kabupaten. Di kabupaten telah menunggu pasukan yang dipimpin opsir Belanda. Dalam pertempuran ini pimpinan gerakan dan pengikutnya terbunuh dan yang lainnya ditangkap.[63]

 

5.                   Pemberontakan Bekasi Tahun 1869

Bermula dari tanah milik rakyat yang digusur dan diambil pemerintah, yang berlokasi di antara sungai Citarum dan Cidani. Pada tanggal 14 Maret 1869 setelaj pesta perkawinan dicetuskan gerakan perlawanan. Gerakan ini dipimpin oleh Bapak Rama dengan gelar Pangeran Alibasa. Rakyat berikrar untuk membebaskan tanah itu dan dari kerja paksa serta beban pajak. [64]

Mereka ingin menyerang Meester Cornelis untuk selanjutnya ke Batavia. Namun rencana mereka diketahui oleh Asisten Residen Meester Cornelis bersama Jaksa dan Kepala Polisi dan pasukannya, yang menghadang mereka di daerah Tambun. Pasukan rakyat di bawah komandan Raden Mustafa, yang mendapat perintah Pangeran Alibasa menggempur pasukan Asisten Residen. Terjadi pertempuran. Asisten Residen mengalami kekalahan. Setelah itu rakyat bergerak ke Bekasi. Sesampai di Kali Abang mereka dicegat serdadu Belanda yang jumlahnya lebih banyak dengan senjata lengkap, sehingga terjadi pertempuran tak seimbang. Pasukan rakyat kalah, banyak yang terbunuh dan luka-luka.[65]

 

6.                  Pemberontakan Ciomas

Bermula dari kesewenangan brupa pemerasan dan kerja paksa oleh tuan tanah terhadap para petani di Ciomas memunculkan rasa dendam, kecewa, dan tekanan ekonomi yang berat dengan dipersatukan semangat jihad mereka melakukan gerakan protes. Munculnya tokoh Arpan dan Muhammad Idris memompa semangat jihad rakyat.

Dengan dipimpin Arpan pada Februari 1886 yang sudah lama menyimpan amarah kepada para pegawai pemerintah kolonial mulai melakukan gerakan protes. Sasara pertama mereka adalah penguasa Ciomas, yakni Camat Ciomas H Abdurrahman. Camat sebagai kaki tangan kolonial berhasil mereka bunuh. Mereka lalu bergerak ke Pasir Paok, untuk menghindari bentrok dengan pasukan pemerintah. Mereka diminta menyerah oleh pihak militer, namun tidak berhasil. Sementara M Idris menghimpun kembali kekuatan.

Puncak pemberontakan terjadi pada Rabu malam tanggal 19 Mei 1886 para pemberontak bergerak dan menguasai Ciomas bagian selatan.  Ketika itu kaum pemberontak secara kebetulan melihat kaki tangan tuan tanah sedah berpesta dan tanpa ampun para pemberontak menyerbu mereka. Dalam kejadian itu empat orang kaki tangan tuan tanah terbunuh dan lainnya luka-luka.[66]

 

7.                   Pemberontakan Cilegon

Sebelum pemberontakan meletus di Cilegon Haji Wasid melakukan kontak dengan H Tubagus Ismail dan para pemimpin pemberontak terkemuka lainnya. Mereka memutuskan bahwa pemberontakan harus dimulai di Cilegon pada hari Senin 9 Juli 1888, dan disusul serangan terhadap Serang. Setelah musyawarah terakhir dengan H Tubagus Ismail dan H Ishak di saneja pada malam hari Minggu, haji Wasid pergi ke utara untuk melakukan persiapan di distrik Bojonegoro.[67]

Pada dini hari mereka bergerak ke Cilegon. Mereka menyerang para pejabat Belanda serta para pembantunya yang pribumi.

Dari Serang Bupati, Kontrolir dan Letnan van der Star sebagai pimpinan pasukan menuju cilegon untuk memadamkan pemberontakan. Sebelum sampai ke tempat tujuan di Toyomerto mereka bertemu dengan kaum pemberontak, setelah kaum pemberontak menolak menyerah akirnya diserang pasukan dan beberapa kaum pemberontak tewas. Setelah penumpasan itu semangat kaum pemberontak melemah.[68]

Namun, Haji Wasid masih bergerak dengan para pengikutnya, walau ada sebagian yang memisahkan diri, ke daerah selatan. Kemudian pasukan pemerintah terus mengejar mereka dan akhirnya terjadi pertempuran di Sumur. Kaum pemberontak mengalami kekalahan dan mereka tewas, di antaranya Haki wasid, H Tubagus Ismail, H Abdulgani dan H Usman.[69]

 

8.                  Pemberontakan Gedangan

Gerakan Gedangan digerakkan oleh seorang Kiai desa Kasan Mukmin pada tahun 1904 dekat Krian Surabaya. Ia adalah putra Kiai pendiri pesantren Binangan di daerah Pakishaji.ia pernah belajar di beberapa pesantren di jawa Timur dan di Kairo. Sepulangnya belajar ia memimpin tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah. Melalui pertemuan tutin ia mulai merencanakan gerakan, karena ia melihat kewenang-wenangan pemerintah kolonial melalui tangan para pegawai bawahannya, berupa penyewaan tanah yang tak wajar, pengerahan tenaga kerjam pungutan pajak dan irigasi.

Setelah mendapatkan banyak pendukung Kasan Mukmin dan para pemimpin lainnya menetapkan tanggal pemberontakan. Malam hari menjelang hari yang ditetapkan merka mengadakan dzikir bersama yang dipimpin H Abdulghani. Pada pagi hari tanggal 27 Mei 1904 para pemberontak itu bergerak menuju Keboan Pasar. Wedana Gedangan dan beberapa anggota polisi berusaha mengamankan kaum perusuh itu. Kemudian didatangkan pasukan militer dari Karesidenan Surabaya ke tempat huru-hara. Kaum perusuh semakin beringas. Namun, akhirnya dalam kerusujan itu kaum pemberontak mengalami kekalahan, yang mati 40, 20 luka-luka dan sisanya 83 orang ditahan.[70]

 

9.                  Perlawanan Kiai Dermaja di Nganjuk

 Semua desa dibangun oleh salah satu murid Kiai Kasan Basari, Bagus Talban sebagai cikal bakal desa. Lalu seorang tampil seorang dermawan dan ingin menolong masyarakat Kiai Dermajaya. Ia selalu membela rakyat. Oleh karena sikapnya itu ia diawasi oleh Bupati Nganjuk.

Pihak pemerintah ingin mengurangi pengaruh dan kekayaan Kiai Dermajaya dengan mengadakan pembatasan tanah, lalu dengan pemungutan pajak penyembelihan hewan kurban. Kiai Dermajaya menolak bahwa hewan itu untuk rakyat miskin dan bukan untuk dijual. Pada tanggal 27 januari 1907 Bupati mengerahkan polisi menyerbu pesantren di Bandung Warijayeng. Tindakan Bupati itu membangkitkan kemarahan rakyat dan melakukan perlawanan. Terjadilah pertempuran antara pasukan Bupati dengan rakyat yang dipimpin kiai dermajaya. Pihak Bupati dapat dipukul mundur dan melarikan diri.

Atas kekalahan itu Bupati meminta bantuan serdadu Belanda dari Surabaya pada tanggal 29 Januari 1907. Dengan kekuatan itu pasukan Bupati dapat mengalahkan Kiai Dermajaya dan para pengikutnya. Pesantren dibakar dan banyak santri yang tewas serta lainnya ditangkap.[71]

 

10.               Peristiwa Cimareme

Peristiwa Cimareme terjadi pada 7 Juli 1919 terkait dengan gerakan sayap radikal Sarekat Islam, Guna Perlayan, yang ingin menghancurkan serdadu Belanda. Gerakan protes ini diawali dari ketidakpuasan H Hasan yang menganggap kebijakan kolonial tidak adil. Yang pada tahun 1918 ia disuruh menanam padi di sawahnya, padahal ia telah menanam tembakau. H Hasan mengirim surat penilakkan kepsds Asisten Residen tanggal 24 April 1919. Penolakan ini menimbulkan Wedana Leles.

Bertepatan dengan kunjungan pejabat pemerintah disertai dengan anggota-anggota polisi ke Cimareme tanggal 4 Juli 1919 yang isinya H Hasan menerima tuntutan pemerintah. Namun, dengan munculnya khabar yang santer bahwa H Hasan akan mengadakan pemberontakan, maka tanggal 7 juli 1919 pejabat pribumi dkawal oleh beberapa anggota pribumi mendatangi rumah H Hasan. Mereka berhasil membujuk H Hasan untuk  diamankan di Garut.

Namun setelah mendengar khabar adanya pasukan militer dengan Residen dan Bupati bergerak menuju desa itu, itu H Hasan dan para pengikutnya panik dan seketika itu mereka menuju ke rumah H Hasan. Akhirnya tanpa perlawanan dari pihak H Hasan, pasukan kolonial menembaki rumah itu, maka gugurlah H Hasan dan para pengikutnya.[72]

 

Gerakan Nasional

   Gerakan politik Sarekat Islam, yang didirikan tahun 1912.[73] Sarekat Islam menjadi gerakan politik yang besar di Indonesia sebelum PD II. Pada masa itu gerakan  Sarekat Islam paling dinamis. Namun, sampai tahun 1915 kegairahan massa mulai memudar, cabang-cabang di daerah bertambah sedikit dan masalah keuangan mulai tak teratasi. Setelah tahun itu sebagai sejarah kemunduran dan hilang pengaruh serta mulai muncul konflik internal.

   Perselisihan pertama muncul dalam partai ini tahun 1916 ketika itu pemimpin SI cabang Jawa Timur dan Sumatra Selatan akan memisahkan diri dari bagian yang lain. Upaya itu digagalkan pengurus besar SI, tahun 1921 kaum kiri yang telah bergabung dengan PKI, yang terbentuk tahun 1920, dikeluarkan dari keanggotaan SI. Antara tahun 1921 sampai Perang Dunia II semakin lemah ditambah dengan perginya para pemimpin yang penting, seperti Abdul Moeis, Tjokroaminoto (meninggal 1934), dan Agoes Salim dipecat.

   Pada masa kemunduran SI muncul gerakan Indonesia baru, seperti PNI Soekarno. SI tahun 1930-an berubah nama menjadi PSII.[74]

                Budi Utomo didirikan pada 20 Mei 1908 oleh para siswa STOVIA, yang terinspirasi oleh gagasan Wahidin Sudirohusodo. Bagaimana peran politiknya dalam sejarah pergerakan Indonesia? Berdirinya  Budi Utomo dijadikan sebagai simbol Hari Kebangkitan Nasional. Namun, tidak semua sepakat, seperti Prof. Harsja W. Bakhtiar yang berpendapat, bahwa hari lahirnya Budi Utomo tidak dapat dijadikan dasar Hari Kebangkitan Nasional, sebab Budi Utomo masih terbatas hanya untuk menaikan taraf hidup orang Jawa dan Madura, dan bukan untuk bangsa Indonesia keseluruhan. Memang Budi Utomo masih bersifat kedaerahan.[75]

 

 

9.        Zaman Jepang

Pada tahun 1942 Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia. Berbeda dengan Belanda, Jepang mulai mendekati elit Islam. Hal ini menimbulkan simpati di kalangan umat Islam.

Jepang dapat memahami kelompok-kelompok elit yang bersaing, dan memanipulasikan kelompok-kelompok ini untuk kepentingan pendudukan. Pada masa Jepang, kaum elit priyayi yang mendapatkan hak istimewa pada masa Belanda dikurangi. Kaum priyayi mendapatkan saingan dari kaum nasionalis dan kaum elit Islam Indonesia. Pada masa Belanda, para pemimpin gerakan nasionalis dibuang, namun Jepang mengakui mereka, menempatkan mereka pada pos-pos pemerintahan militer, dan mereka memperoleh prestise sosial. Jepang juga meningkatkan posisi agama Islam, memberikan prestise sosial dan secara implisit prestise politik kepada pemimpinnya di pulau Jawa, dan di seluruh Indonesia.[76]

Berbeda dengan politik Belanda yang memusuhi ulama,  Jepang berusaha mendekati ulama dan bahkan mereka hendak dijadikan alat penetrasi ke alam kehidupan bangsa Indonesia. Snouck memberi nasehat kepada pemerintah kolonial Belanda bahwa gerakan perlawanan rakyat yang dipimpin ulama harus dihadapi dengan kekuatan senjata. Namun, Jepang berbeda, untuk merebut hati bangsa Indonesia ia mendekati ulama.[77]

Wadah untuk berkumpulnya umat Islam dibentuk 22 Nopember 1943, yaitu MASJUMI (Madjlis Syura Muslimin Indonesia). Keanggotaannya terdiri Muhammadiyah dan NU, dan yang menjadi pemimpinnya KH Hasyim Asy’ari.[78]

Di samping itu, pada masa pendudukan Jepang terjadi perdamaian, setidaknya dalam taktik dan strategi perjuangan, antara kaum bertahan (ulama yang berpegang pada pemahaman lama) dan kaum maju (ulama yang berpikiran maju, mengembangkan ijtihad). Memang pada lahirnya perdamaian tersebut atas inisiatif Jepang, namun sesungguhnya mereka telah menyadari bahwa perbedaan hanyalah masalah furu’, sedangkan pada masalah ushul mereka bersepakat.[79]

Dikatakan, meskipun pendudukan Jepang sangat singkat, namun masa penguasaan Jepang ini sebagai masa traumatik yang secara mendalam mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.[80]

   Jepang di Indonesia, terutama di pulau Jawa selama tahun 1942 – 1945. Selama tahun itu Jepang mengeksploitasi masyarakat pribumi untuk mendapatkan sumberdaya ekonomi dan manusia guna menyokong operasi-operasi militer Jepang. Dengan kebijakan itu Jepang mengontrol produksi dan distribusi panen dan bahan komoditas untuk kepentingan pasukan militer. Semua kebijakan yang diterapkan Jepang itu merupakan perpaduan antara control dan mobilitas, yang mengakibatkan kegoncangan pada masyarakat pribumi, baik secara sosial-ekonomi maupun psikologis. [81]

 

10.               Zaman Revolusi Kemerdekaan

Penjajahan Belanda berakhir tahun 1942, dan Jepang datang pada sekitar 9 Maret 1942 sampai 1945. Masa pendudukan Jepang memang singkat, namun penderitaan yang dialami rakyat sangat berat. Namun begitu, menjadi masaknya perjuangan Indonesia dan peninggalan lain, sukarelawan pembela tanah air (PETA). Para prajurit ini kelak akan menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

   Ketika akhirnya Jepang menyerah tanpa syarat, hal itu memberi peluang kepada para pejuang Indonesia untuk menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Kaum muda menjadi pendobrak yang sangat penting dalam kemerdekaan.[82]  Namun, ternyata setelah bangsa Indonesia  menyatakan merdeka Belanda ingin kembali menjajah Indonesia, karena itu, bangsa Indonesia  masih harus berjuang kembali melawan para serdadu Belanda.

Nasionalisme mulai tumbuh semenjak kedatangan orang Barat (Belanda) zaman VOC, pada permulaan abad ke-16. Pada awalnya mereka untuk berdagang, kemudian memonopoli perdagangan, dan selanjutnya mereka menancapkan kekuasaan politiknya. Pada abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda membangun kekuasaannya dengan melaksanakan kebijakan monopolistik di bidang ekonomi, yang berbentuk cultuurstelsel. Kebijakan itu menyengsarakan rakyat.

Pada awal abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda mulai memperhatikan pendidikan pada rakyat Indonesia. Oleh karena itu mereka mulai menyediakan fasilitas pendidikan untuk orang Indonesia, terutama kaum ningrat. Dengan pendidikan tersebut muncul cikal bakal kelas yang berpendidikan. Dengan pendidikan mereka kemudian menjadi lebih sadar akan posisi mereka di tengah-tengah rakyat yang terbelenggu penjajahan. Mereka semakin sadar politik.[83]

(Depok, Edit 10-9-2013)


[1] Pelurusan Sejarah Indonesia (Yogyakarta: Ombak, 2004), h. 3

[2] Ibid., h.4

[3] Baca Henk Schulte Nordholt, dkk. (Ed.), Perspektif Baru, Penulisan Sejarah Indonesia, (Jakarta: KITLV-YOI, 2008)

[4] Tim Penyusun, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: MUI, 1991), h. 25

[5] Ibid., 26

[6] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, (Jakarta: Serambi, 2005), terj. Tim Serambi, h. 54-7

[7] Ibid., h.57; Baca juga Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya jld. 3, (Jakarta: Grmdia, 1996), terj.,h. 24

[8] G.W.J. Drewes, “Pemahaman Baru tentang Kedatangan Islam di Indonesia?” dalam Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique dan Yasmin Hussain, ed. Islam di Asia Tenggara, Perspektif Sejarah, (Jakarta: LP3ES, 1989), h. 36

[9] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), terj. Rahmani Asrtuti. h. 30-31; Baca juga Thomas  W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, (Jakarta: Widjaya, 1981), terj. Nawawi Rambe, h. 317

[10] Liaw Yock Fang, Sejarah Kesustraan Melayu Klasik, Jilid I dan II (Jakarta: Erlangga, 1991), terj.

[11] Ibid., h.

[12]Azra., h. 31;  Baca juga Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, (Jakarta: KPG, 2009), h. 36

[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2003), h.205; Baca jugaRoss E Dunn, Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke-14, (Jakarta: SH, 1995), terj. Buku yang ditulis (ulang) oleh Dunn ini mengisahkan petualangan Ibnu Battuta, musafir asal Maroko, ke berbagai negeri mulai dari Afrika Utara, India, Sumatra, Malaka dan Cina. Pada perjalanan ke dunia timur itu ia sempat singgah di Sumatra. Di pulau ujung Sumatra itu hidup Al-Malik Al-Zahir (anak Malikul Saleh, pendiri dinasti Samudra Pasei), pangeran dan keturunan ketiga dari penguasa-penguasa Muslim yang telah ada beberapa tahun sebelum tahun 1297. Ia dengan hangat menghibur Ibnu Battuta dan rombongannya.

[14] Ibid., h. 207-8

[15] Ibid., h. 208; Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: MUI, 1991), h. 56

[16] Sejarah Umat Islam, h. 62

[17] Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), (Jakarta: B Pustaka, 1991), terj. h. 95

[18] Ibid., h. 247-8

[19] HJ. de Graaf dan TH Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, (KITLV-Grafiti, Jkt. ) Terj. PUG dan KITLV, h. 30; Lihat juga Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, (Jakarta, Gramedia, 1992), h 29

[20] Widji Saksono,Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo, (Bandung: Mizan, 1996). Wali Songo berperan mengembangkan Islam di pulau Jawa, sampai kemudian muncul kerajaan Islam pertama Demak pada akhir abad ke-15 M. Kota ini menjadi pusat pengembangan Islam. Raja pertamanya Raden  Patah, yang diangkat oleh para Wali di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta.

[21] Badri Yatim, h. 211

[22] HJ. de Graaf dan, h. 50

[23] Badri Yatim, h. 212

[24] HJ. de Graaf dan, h. 252

[25] Ibid., h. 255

[26] Sejarah Umat Islam, (Jakarta: MUI, 1991),h. 72

[27] HJ. de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, (Jakarta: Grafiti, 1990). Terj. h. 22

[28] Ibid., h. 73

[29] Ibid., h. 156

[30] Ibid., h. 75

[31] Sejarah Umat Islam, h. 78

[32] Ibid., h. 79

[33] Ibid., h. 80

[34] Ibid., h. 81

[35] Ibid., h. 82

[36] Yatim, h. 220

[37] Ibid., h. 222

[38] J Nooduyn, Islamisasi Makassar (Jakarta: Bhratara, 1972), terj. S Gunawan

[39] Sejarah Umat Islam, h. 89

[40] Subagio IN, Pahlawan Nasional Sultan Hasanudin: Ayam Jantan dari Ufuk Timur, (Jakarta: BP, 2001).

[41] M.C. Ricklefs, h. 70; lihat juga Yatim., h. 224

[42] Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, h 70-1

[43] Ibid., h. 71; Lihat juga Adrian B lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara, (Depok: Komunitas Bambu, 2008, h. 91

[44] H Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1986), h. 17-18

[45] Ong Hok Ham, Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara, (Jakarta:Kmpas, 2002 ),h. 23

[46] Baca PS. van Koningsveld, Snouck Hurgronje dan Islam, (Jakarta: Girimukti P, 1989), terj.

[47] H Aqib., h 11

[48]Robert  van Niel, Sistem Tanam Paksa di Jawa, (Jakarta: LP3ES, 2003), terj. h. 289

[49] Ibid., h. 290

[50]  Baca Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah: Perang Aceh, 1873-1912 (Jakarta: SH, 1987); juga Paul van Veer, Perang Aceh (Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje), (Jakarta: Grafiti, 1979), terj. Penulis mengisahkan heroisme rakyat Aceh ketika melawan penjajah Belanda. Dan ia mencoba mengangkat keruwetan proses sejarah di dalam peristiwa itu, juga mengenai pergulatan tokoh-tokohnya yang berlangsung di antara dan pada kedua belah pihak. Ia menulis bahwa perang Aceh terjadi empat kali, yakni pertama antara tahun 1873; kedua 1874-1880; ketiga 1884-1896 dan perang Aceh keempat 1898-1942. Aceh merupakan wilayah terakhir yang ditaklukan dan yang paling awal bebas dari cengkraman kolonial Belanda. Perang Aceh termasuk perang yang besar.

[51]  Ibid., h. 6

[52]  Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia 1596-1942 (Bandung: Mizan, 1996), terj.164

[53]Azra dalam Kawan dalam Pertikaian., h.xxvii

[54] Claude Guillot,Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa (Jakarta: Grafiti, 1985), diterj. Asvi W Adam.

[55] Ibid., h.

[56] Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda (Jakarta: Gramedia, 1987); Berbagai organisasi pergerakan dengan berbagai corak muncul awal abad ke-20, seperti SI, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, NU dan lain sebagainya. Baca Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1994); Juga Martin van Bruinessen,  NU, Tradisi, Relasi-relasi Kuasa: Pencarian Wacana Baru (Yogyakarta: LKiS, 1994).

[57] GJ Resink, Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850-1910, (Jakarta: Djambatan, 1987), terj.

[58] Sejarah umat Islam, h. 194

[59] Ibid., h. 195

[60] Ibid., h. 196

[61] Ibid., h. 198

[62] Ibid., h. 201

[63] Ibid.

[64] Ibid., h. 201

[65] Ibid., h. 202

[66] Ibid., h. 204

[67] Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta:P Jaya, 1984), h. 301

[68] Ibid., h. 342

[69] Ibid., h. 366

[70] Sejarah Umat Islam, h. 208

[71] Ibid.

[72] Ibid., 210

[73] Firdaus menulis, bahwa dari fakta sejarah Syarikat Islam lahir (16 Oktober) tahun 1905, sedangkan Budi Utomo (20 Mei) tahun 1908, jadi dilihat dari waktu yang lebih dulu adalah SI. SI bersifat nasional dan anti pemerintah kolonial Belanda, namun Budi Utomo tidak, dan BU menjalin hubungan dengannya. Oleh karena itu hari kebangkitan Nasional yang semula dilangsungkan setiap 20 Mei harus diubah menjadi tanggal 16 Oktober, sesuai dengan hari lahirnya Syarikat Islam pada 16 Oktober (tahun 1905). Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa, (Jakarta: Gatayasa, 1997).

[74] APE. Korver, Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil? (Jakarta: Grafiti, 1985), terj. h. 1-2

[75]Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908 – 1918, (Jakarta: Grafiti, 1989), terj. h. 62

 

[76] HJ. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945, (Jakarta: P Jaya, 1980), terj. h.

[77] Nouruzaman As-Shidiqi,  “Islam pada Masa Pendudukan Jepang: Sebuah tinjauan tentang peranan Ulama dan Pergerakan Muslim Indonesia” dalam Muin Umar (ed, dkk.), Penulisan Sejarah Islam di Indonesia dalam Sorotan, (Yogyakarta: Dua Dimensi, 1985). h. ; Baca juga Aiko Kurasawa, Mobilitas dan Kontrol: Studi tentang perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945 (Jakarta: Grasindo, 1993), terj. h. 274. Jepang sebelum menjajah telah mempelajari mengenai Islam dan mereka pun menjalin kerjasama dengan umat Islam serta bagaimana memanfaatkannya untuk kepentingan mereka.

[78] HJ. Benda, h.

[79] Nouruzaman, h.

[80] HJ. Benda, h.

[81] Aiko Kurasawa, Mobilitas dan, h. 495-6

[82] Benedict Anderson,”Revolusi Pemuda” , dalam Mencari Demokrasi, (Jakarta: ISAI, 1999)., h. 12

[83] George McT Kahin, Repleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Revolusi dan Nasionalisme Indonesia, (Surakarta-Jakarta: Sebelas Maret University Press dan PS Harapan, 1995), terj. h. pendahuluan

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Indonesia, Islam, Kolonialisme, sejarah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s