Syair Abul ‘Ala al Ma’arri

Al-Ma'arri - Wikipedia
wp

“Anda saksikan, apakah seorang manusia masih punya secuil kebanggaan setelah tragedi rusaknya jasad ragawi yang hancur lebur? Sebuah tragedi yang membuat gemetar seorang penyair Abul ‘Ala. Terdengarlah bacaan syair ditingkahi nyanyian burung. Ia mengatakan bahwa kepedihan pada saat kematian lebih dahsyat dibandingkan kegembiraan pada saat kelahiran:” (Aisyah Bintu Syati)

Dia berteriak, inilah kubur-kubur kami. Semuanya telah penuh. Manakah kuburan yang kembali sejak zaman dulu.

Ringankanlah bobot injakan kaki, karena aku tak mengira permukaan kulit bumi ini ternyata jasad-jasad manusia.

Alangkah malangnya nasib kami. Meski telah ada perjanjian, penghinaan pada nenek moyang terus terjadi.

Begitu banyak liang lahat yang menjadi kuburan berulang-ulang. Begitu banyak orang yang menertawakan pertentangan yang keras.

Orang mati dikubur di atas kuburan orang mati lainnya, sepanjang zaman dan selamanya. (Saqathuz -Zanadi)

Ketika yang hidup membalutkan kain kafan, maka hancurlah kain itu berikut pemakainya.

Dan kehidupan akan rusak. Ketika datang rahasia suatu masa, maka tiada lagi yang tertawa, dan tiada lagi yang bermuka masam.

Seorang yang terpenjara dalam kuburan sempit, tidak dapat membebaskan diri dari penjara itu.

Dia bertetangga dengan suatu kaum yang pandai memberi nasihat-nasihat, tapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat menggali kuburan sendiri. (al-Luzumiat)

Hai kuburan, setelah kematianku, apakah engkau mendengar panggilan dan suaraku? Hai bumi, engkau tidak mempunyai utang di sisimu, juga tidak punya kewajiban, dititipkan kepadamu harta benda dan engkau mengembalikannya dengan baik, tetapi terhadap karib kerabat engkau memakannya dengan rakus. Ah, andai engkau hanya makan harta benda saja, dan sebaliknya mengembalikan karib kerabat…

Dikatakan kepada bumi dengan lantang: “Hai bumi, terimalah kembali barang-barang gadaianmu dan tolaklah orang yang datang!” Dan bumi lebih memilih harta benda dan melupakan perjanjian serta menghilangkan rasa kesetiaan terhadap manusia, teman lama yang sangat setia.

“Hai keluarga besar kami yang shaleh, kami ini anggota masyarakat yang jahat.” Kami tidak memenuhi kewajiban yang harus kami bayarkan kepadamu. Sepeninggal kalian kami meminum minuman dingin. Kami tidur dengan pakaian tidur, tapi kini kami berselimut dinding dan berkalang tanah yang runtuh. Seandainya kami adalah orang-orang yang memelihara perjanjian niscaya kami dipelihara –setelah hidup bersama kalian di dunia—dari sambaran azab. (al-Fushul wal-Ghayat)

11-7-2021

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot
Pos ini dipublikasikan di Kata-Kata Bijak, Penyair dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Syair Abul ‘Ala al Ma’arri

  1. luaydpk berkata:

    thank you all blogers 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s