Romusha

bnews

Setiap penjajah memperlakukan kaum pribumi dengan rendah dan kejam, pada zaman kolonial Belanda ada tanam paksa bagi orang Indonesia yang disebut cultuurstelsel, zaman penjajahan Inggris ada perbudakan dan pada masa pendudukan Jepang disebut romusha.

Romusha dalam bahasa Jepang berarti seorang pekerja yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar. Namun dalam sejarah Indonesia kata itu memiliki pengertian khusus karena pengalaman orang-orang yang dipekerjakan selama pemerintahan militer Jepang mengalami kekejaman. Bagi orang Indonesia romusha berarti  seorang pekerja buruh kuli yang dimobilisasi untuk melakukan pekerjaan kasar di bawah kekuasaan penjajah Jepang.

Angkatan Darat ke-16 Jepang menaklukkan Belanda pada tanggal 8 maret 1942 dengan operasi selama seminggu dan kemudian memulai pemerintahan militernya. Jepang masuk pulau Jawa dengan kekuatan tentara sekitar 50.000 dan kemudian jumlah tentara itu berkurang hingga menjadi 10.000. Jumlah semula semakin berkurang, karena kelebihannya dikirim pada pertempuran di Pasifik Selatan. Jumlah seluruh orang Jepang yang ditempatkan di Jawa sekitar 20.000 lebih. Pulau Jawa dikuasai Angkatan Darat ke-16, Sumatra Angkatan Darat ke-25 dan Sulawesi oleh Angkatan Laut.

Untuk menopang pendudukan Jepang memberlakukan romusha, sering disebut juga sebagai “prajurit pekerja” atau “prajurit ekonomi”, di samping ada tentara sukarela dan heiho. Perekrutan romusha diawali dengan propaganda yang masif agar orang-orang tertarik. Pada mulanya banyak orang yang tertarik, tapi setelah banyak tahu perlakuan kejam militer Jepang banyak penduduk yang enggan dan takut. “Siapa berikutnya?”, inilah suara yang menakutkan.      

Pelaksana perekrutan romusha oleh para pemimpin di tingkat bawah mulai dari desa oleh kucho (kepala desa), terdapat juga rukun tetangga (tonarigumi) dan koperasi (kumiai), lalu diteruskan ke atas, hingga karesidenan. Rakyat berhadapan dengan para pemimpin itu dan hal itu menjadi sasaran kebencian orang-orang desa. Para pemimpin desa itu tidak berani menolak perintah, sebab mereka tahu kejamnya kenpeitai (polisi militer). Juga karena kebutuhan tenaga di berbagai wilayah semakin meningkat maka kaum pelajar pun direkrut menjadi romusha, walaupun sesungguhnya hanya untuk menarik minat lebih banyak orang.

Mereka yang direkrut pada umumnya kalangan petani di desa-desa yang kebanyakan buta huruf. Ada yang secara sukarela, tertipu atau ditipu, penculikan dan paksaan, tapi yang disebut sukarela itu sebenarnya ada intimidasi. Umur para pekerja mulai dari usia muda sampai usia tua. Mereka yang dipekerjakan ada yang di wilayah dekat sekitar karesidenan, di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi, Borneo dan di luar negeri di Singapura, Thailand dan Indocina. Ribuan orang diangkut dengan kereta api dan kapal laut untuk luar Jawa dan wilayah Asia Tenggara. Sebelum sampai tujuan banyak juga yang meninggal dalam perjalanan atau mati di kapal dibuang begitu saja ke laut.

Jumlah romusha keseluruhan sekitar 2,5 juta orang, tapi ketika Jepang menyerah pemerintah Indonesia mengatakan 4 jutaan. Ketika perang  usai romusha yang dikirim ke luar Jawa dan negeri tetangga banyak yang belum kembali. Sekitar 270 ribu orang yang di luar Jawa, yang kembali tidak kurang 70 ribu orang.

Pekerja romusha mengerjakan proyek pembangunan seperti jalan, membuat saluran air, lapangan terbang, juga di pabrik. Mereka dapat upah bulanan dan makan, dan dari upah itu disisihkan untuk keluarga di rumah, tapi banyak yang berkurang. Dari pekerja itu banyak yang meninggal karena terlalu capai, kelaparan dan kurang gizi serta terserang penyakit.

Banyak tenaga tersedot untuk romusha sehingga di desa-desa kekurangan tenaga untuk mengolah lahan pertanian. Akibatnya keluarga mereka di desa juga banyak yang menderita.

Eksploitasi kaum pribumi oleh pemerintah militer Jepang itu menimbulkan trauma pada masyarakat Indonesia yang mengalami saat itu, berdasar beberapa orang yang selamat dan memberikan kesaksian. Tenaga manusia dieksploitasi dan kekayaan alam dikuras untuk biaya perang pada masa pendudukan Jepang, seperti juga era sebelumnya. Ketika akhirnya Jepang menyerah, pos-pos di Asia Tenggara diduduki kembali oleh tentara Sekutu.

Cibinong, 17-7-2021

Sumber

Aiko Kurasawa, Mobilisasi dan Kontrol, (Jkt, Grasindo, 1993), terj. Hermawan Sulistiyo

Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Jkt, Serambi, 2004), terj.

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot
Pos ini dipublikasikan di sejarah dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Romusha

  1. luaydpk berkata:

    thank you and good every day for all 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s