Media Massa dan Kita

        Image result for mass media 

Saat ini ketika teknologi komunikasi semakin pesat berkembang, proses komunikasi antarmanusia pun semakin intens dan cepat. Melalui media komunikasi manusia dapat berkomunikasi dari suatu tempat ke tempat lain di ujung dunia, baik komunikasi interpersonal (seperti dalam kuliah, ceramah atau presentasi ) maupun komunikasi massa. Kedua bentuk komunikasi itu dapat menjadi media menyampaikan pesan Islam, dan memang selama ini kita sudah mengenalnya.

Lalu apa arti komunikasi massa? Dari berbagai definisi mengenai komunikasi massa Kang Jalal merangkumnya, yaitu komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan otonom melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. (Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, hlm., 189; lihat juga Oning Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi, hlm., 20)

            Mengutip Elizabeth- Noelle Neuman, Kang Jalal membandingkan sistem komunikasi massa dengan sistem komunikasi interpersonal. Secara teknis komunikasi massa mempunyai empat ciri pokok, yaitu 1) bersifat tak langsung, harus melewati media massa; 2) bersifat satu arah, tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi (para komunikan); 3) bersifat terbuka, ditujukan kepada publik yang tidak terbatas dan anonim; 4) mempunyai publik yang secara geografis tersebar. Dan karena perbedaan teknis itu pula, sistem komunikasi massa mempunyai karakteristik psikologis yang khas dibandingkan dengan sistem komunikasi interpersonal.

             Perbedaan karakteristik itu seperti, arus informasi tak dapat dikendalikan. Bila kita membaca majalah kita hanya dapat mengikuti apa yang ada di majalah tersebut, kita tak bisa protes atau usul. Namun, bila kita mengikuti kuliah di kelas kita bisa bertanya, menegur atau protes. Dan pada komunikasi massa seperti umpan balik (feedback), stimulasi alat indera dan proporsi unsur isi dan hubungan berbeda karakteristik psikologisnya dengan komunikasi interpersonal.

           Dalam komunikasi interpersonal unsur hubungan sangat penting, karena itu yang membuat suatu komunikasi menjadi efektif atau tidak. Tetapi sebaliknya pada komunikasi massa unsur isilah yang penting. (Rakhmat, hlm., 194)

          

Adakah efek komunikasi massa? Kita percaya bahwa media mempunyai efek pada masyarakat, baik itu medianya sendiri maupun informasi yang ada di media. Walaupun tentu efek itu intensitasnya berbeda-beda pada setiap individu dan kelompok atau masyarakat. Media dapat menambah pengetahuan kita, mengubah sikap dan menggerakkan perilaku kita. (ibid., hlm., 217)

          Bila televisi menyebabkan kita lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar, televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif (pikiran). Bila surat kabar memberitakan penderitaan korban bencana tsunami  di Aceh, dan hati kita tergerak untuk menolong mereka, media massa telah menghasilkan efek prososial afektif (emosi). Dan bila suatu majalah membuka dompet bencana alam, menghimbau kita untuk menyumbang, lalu di antara kita tergerak untuk mengirim uang sumbangan melaui rekening yang tertera di majalah itu, maka terjadilah efek prososial behavioral.(ibid., hlm., 230)

             Apa yang diuraikan di muka dapat kita jadikan alat untuk memahami berbagai informasi mengenai Islam di media massa, terutama media massa Barat. Mengapa mengambil contoh Barat? Sebab, dunia Barat saat ini sedang dalam puncak dominasi hampir di segala bidang, setelah kehancuran blok komunis Uni-Soviet. Sebagai contoh, diberitakan seorang teroris Muslim telah meledakkan kereta api di London. Tetapi pada saat yang sama, ketika pelaku pengebom seorang non-Muslim      media hanya menyebut teroris itu saja, tanpa mengaitkan dengan agama pelakunya. Inilah yang disebut oleh Akbar S. Ahmed sebagai standar ganda, bias dan prasangka media Barat. (Islam sebagai Tertuduh, hlm., 117) Kita bisa lihat dan membandingkan bagaimana kebiadaban Zionis di Palestina yang diberitakan di berbagai media. Para mujahid dianggap sebagai teroris, sedangkan pihak Zionis dikesankan sebagai yang tertindas.

             Berita negatif mengenai Islam pada akhirnya akan berimbas pada masyarakat yang menyerap informasi  dari media itu. Lalu, Islam dalam imagi masyarakat Barat identik dengan agama kekerasan dan bisa jadi umat Islam sendiri beranggapan demikian. Inilah yang dapat dijadikan sebagai tantangan bagi kaum Muslim, yakni dengan menampilkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin.

             Dan media, “karena kekuatannya, kemampuannya untuk menenggelamkan realitas, menyederhanakan berbagai isu, dan ini yang mebahayakan, dan mempengaruhi berbagai peristiwa, media bagaikan iblis zaman ini, ada di mana-mana dan berkuasa; sebab dan akibat zeitgeist zaman posmodernis”. (Baca Akbar S. Ahmed, Posmodernisme: Bahaya…, hlm. 231) Hal demikianlah yang perlu juga dipahami oleh kaum Muslim. Sebab, menyampaikan pesan Islam dalam pengertian “konvensional” agaknya sudah tidak memadai lagi di era  teknologi informasi saat ini. Jadi, para penyampai pesan (dai) perlu mempunyai wawasan luas. ( Baca AA Muis, Komunikasi Islami, , hlm., 132)

             Saat ini, setelah berlalu sekitar lima belas abad, Islam dihadapkan pada berbagai tantangan yang kompleks dan sekaligus peluang yang harus segera dijawab dengan tepat oleh kaum Muslim. Agaknya himbauan Ziauddin Sardar dapat kita renungkan: “…kita harus bisa memahami manfaat dan mudharat teknologi informasi, serta secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan-tujuan kita, dan bukan tujuan-tujuan mereka – para pembuat dan pencipta teknologi itu. Secara ideal, kita harus mengembangkan kecakapan khas dalam menciptakan dan memanfaatkan teknologi ini. ”(Baca Tantangan Dunia Islam Abad 21, hlm., 16-17 ) 

                                                          dc

Depok, 30 sept 2013

F Lu’ay

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Dakwah, diskusi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Media Massa dan Kita

  1. luaydpk berkata:

    Thank you all liking!

  2. aftinanurulhusna berkata:

    Kebetulan, saya sedang ikut mata kuliah Psikologi Teknologi, jadi sedikit banyak mengerti sesuatu terkait ini. Kita memang harus cerdas menghadapi teknologi dan media.

    Izin salin himbauan Sardar ya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s