Manusia dalam Pandangan Iqbal

Sekilas Tentang Muhammad Iqbal

            Iqbal dilahirkan dari keturunan orang tua yang shaleh, yang bekerja untuk agama dan kehidupan. Muhammad Iqbal lahir pada 22 Februari 1873  M/ 24 Dzul Hijjah 1289 H di Sialkot, Punjab India (sebelum negara Pakistan lahir).

Ia memulai pendidikan pertamanya pada ayahnya, lalu ia belajar Al-Quran dan menghafalnya. Setelah itu Iqbal dibawa ayahnya belajar pada Mir Hasan. Seorang guru yang sastrawan dan menguasai bahasa Persia serta pandai bahasa Arab. Ia banyak memberi dorongan pada Iqbal. Karena Mir tahu akan kecerdasan dan daya imajinasi muridnya ia menyarankan kepada anak itu untuk menggubah sajak dalam bahasa Urdu.

Tahun 1897  ia menyelesaikan pendidikan BA. Terutama nilai bahasa Arab dan bahasa Inggris terbaik. Setelah itu atas saran gurunya Sir Thomas Arnold, Iqbal berangkat ke Eropa.  Tahun 1905 ia menuju Delhi lalu ke Bombay dan kemudian ia bertolak ke Inggris, dengan diantar oleh para sahabatnya. Namun, sebelum pergi ia menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Nizhamuddin Aulia.

Di Inggris ia masuk Universitas Cambidge untuk belajar filsafat di bawah bimbingan Dr. McTaggart. Dari universitas ini ia memperoleh gelar  di bidang filsafat moral. Lalu ia belajar di Universitas Munich, Jerman. Sebelum memasuki universitas Munich ia belajar bahasa Jerman. Kelak disertasinya mengenai metafisika Persia. Buku itu dihadiahkan kepada gurunya, Thomas Arnold, dan kemudian diterbitkan di London.[1]

Dari pengalaman belajar di Eropa ia menjadi semakin matang sebagai pemikir.[2]

Iqbal tentang Manusia

          Iqbal adalah seorang filosof yang juga penyair. Memang tidak mudah menentukan apakah ia sebagai penyair-filosof atau seorang filosof-penyair.  Dari sekian karyanya hanya dua yang termasuk murni karya filsafat, seperti dikatakan oleh Sharif.[3] Namun, faktanya dapat dikatakan bahwa setiap penyair atau pemikir besar mengekspresikan ide yang sama dalam banyak cara.[4]

          Amir Syakib Arselan menyatakan bahwa Iqbal adalah pemikir terbesar yang pernah dilahirkan Islam. Ia seorang filosof dan penyair, dan keduanya terpadu tak dapat dipisahkan.[5]

Iqbal banyak menuangkan pemikirannya dalam tulisan. Pemikirannya mengalami perkembangan, di suatu saat ia menjadi pengagum salah seorang pemikir seperti ibn Arabi, tetapi pada saat kemudian ia menolak pemikiran tokoh yang dikaguminya tersebut.[6]

          Ia memiliki banyak perhatian, sebagaimana terlihat dalam tulisan-tulisannya atau dalam syair-syairnya. Tulisan ini membatasi pada pemikiran Iqbal mengenai manusia. Pandangan Iqbal tentang manusia tertuang dalam karya Asrari Khudi dan dalam tulisan tentang pemikiran keagamaan. Walaupun ia banyak merambah keilmuan Barat modern, namun ia banyak menyerap inspirasi dari Al-Quran.

          Menurut Iqbal seklipun manusia diberi potensi untuk mengaktualisasikan dirinya dalam ruang dan waktu, namun mereka dengan pilihan bebasnya akan berujung pada jalan bercabang dua: iman dan kafir. Seperti dalam syairnya:

          Tanda seorang kafir ialah bahwa ia larut dalam cakrawala;

Tanda seorang mukmin ialah bahwa cakrawala larut dalam dirinya

 

Seorang muslim tidak akan pernah kehilangan arah dalam menghadapi persoalan kemanusiaan. Ia teguh bagai karang dengan dibimbing iman.[7]

          Tentang manusia ia menekankan pada kepribadian (personal) manusia yang unik, yang berbeda dengan malaikat, bahwa ia menjadi memiliki derajat yang mulia karena kesadarannya untuk berbuat. Namun, perbuatan yang disertai tujuan.[8] Dalam istilah Iqbal pribadi itu khudi atau ego.

          Ketika ia mengulas mengenai manusia ia menggunakan pendekatan psikologi dan juga filsafat. Ia menulis: “Pengalaman batin adalah ego yang sedang bekerja. Kita menghargai ego itu sendiri di dalam kemampuannya mempersepsikan, membuat pertimbangan dan berkemauan. Kehidupan ego adalah semacam tegangan yang disebabkan oleh menyerbunya ego ke dalam suatu lingkungan dan menyerbunya lingkungan ke dalam ego. Ego tidak berdiri di luar arena pertempuran itu. Ego hadir di dalamnya sebagai suatu tenaga yang memberi pimpinan dan ia dibentuk serta mendapat disiplin karena pengalamannya sendiri. Mengenai fungsi ego yang memberi arah itu dipaparkan dengan jelas oleh Al-Quran: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh: jawblah, ruh itu berada di bawah Amr (perintah) Tuhanku, dan pengetahuan yang diberikan kepada kalian hanya sedikit sekali”.(QS Al-Isra: 85)[9]

          Amr di atas, kata Iqbal, memiliki arti bahwa kodrat esensial jiwa bersifat ‘memimpin’. Karena ia bertolak dari tenaga Tuhan yang bersifat ‘memimpin’.[10] Pengalaman manusia hanyalah rentetan tindakan-tindakan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan, dan seluruhnya diikat oleh satu tujuan yang bersifat memimpin, katanya lebih lanjut.[11]

          Iqbal banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat, seperti Nietzsche, Bergson dll, dan juga para pemikir Muslim mulai ibn Arabi, Rumi dan Jili mengenai manusia sempurna atau insan kamil.  Namun, tentu saja ia tidak serta merta mengikuti pemikiran mereka secara tidak kritis. Malahan dari hasil pengembaraan intelektualnya yang luas ia memperoleh suatu sintesa baru, seperti manusia Iqbal sendiri.[12]

          Mengenai manusia sempurna atau insan kamil yang diidealkan oleh Iqbal, yang telah banyak diungkap oleh banyak pemikir, adalah manusia yang eksistensi spiritualnya mengacu pada dan dibimbing oleh Al-Quran. Ia seperti Muslim pada umumnya, namun ia memiliki pandangan yang luas dan setia pada kebenaran-kebenaran yang abadi. Ia hidup untuk tujuan yang abadi.[13]

          Berkaitan dengan pemikirannya. “Pada hakikatnya filsafat Iqbal adalah filsafat ego. Menurut pendapatnya ego itu merupakan suatu realitas yang terang benderang.”[14]

Catatan Akhir

        Dari pembahasan di atas kita dapat memberikan catatan, bahwa pemikiran Iqbal bertumpu pada, apa yang disebut dengan, ‘filsafat ego’. Manusia menjadi berharga karena perjuangannya. Ego manusia harus berjuang menggapai masa depan yang menjadi cita-citanya. Oleh karena itu ia menolak tasawuf yang bersifat pasif, tanpa melakukan apapun dalam realitas ruang dan waktu.

Depok, 29-4-2011/19

Lu’ay

Rujukan

[1]  Abdul Wahhab Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, (Bandung: Pustaka, 2001), terj. h. 25
[2]  Khalifah Abdul Halim,”Muhammad Iqbal” dalam Dimensi Manusia Menurut Iqbal, (Surabaya: Usaha Nasional, tt.). terj. h.25
[3]  Iqbal as a Thinker, Essays by Eminent Scolars, (Lahore: S Ashraf, 1952), h. 107; lihat juga tulisan MM. Sharif, Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan, (Bandung: Mizan, 1984), terj. h. 26
[4]  Iqbal as.,h.131
[5]  SA. Vahid, “Iqbal seorang Pemikir” dalam Dimensi Manusia Menurut Iqbal, (Surabaya:   Usaha Nasional, tt.). terj. h. 31
[6]  M. Iqbal, Metafisika Persia, (Bandung: Mizan, 1990), terj. h. 14-15
[7]  A. Syafii Ma’arif. Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1993), h. 72
[8]  Ibid., 73
[9]  M. Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, (Jakarta: Tintamas, 191982). Terj. (Ali Audah, T Ismail, G Mohamad), h. 113; lihat juga Sir M Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Sh Ashraf, 1954), h. 103
[10]  Ibid., 113
[11]  Ibid., 114
[12]  John L Esposito (ed.), Dinamika Kebangunan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1987), terj.
[13] Abul Hasan Ali al-Husni al-Nadwi, Percikan Kegeniusan Muhammad Iqbal, (Bandung: Intergrita Press, 1984), trj. h.84-85
[14] SA. Vahid, “Iqbal seorang Pemikir” h. 31; baca juga Dr. M Iqbal Asrari Khudi, Rahasia-Rahasia Pribadi, (Jakarta: BBintang, 1976), uraian dan terjemahan Bahrum Rangkuti, h. 25

Tentang luaydpk

on history.....
Pos ini dipublikasikan di Tokoh dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Manusia dalam Pandangan Iqbal

  1. luaydpk berkata:

    Thank you all for liking this post

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s