A Teeuw, Sejarah Sastra Indonesia, dan Karya Lainnya

Dalam pengukuhan Doctor Honoraris Causa pada 12 Juli 1975 di Universitas Indonesia A Teeuw mengatakan bahwa ia telah berguru kepada orang Indonesia, walaupun secara lahir tidak pernah menjadi gurunya. Yang pertama adalah W.J.S. Poerwadarminta ahli bidang leksikografi yang menjadi teman bekerja dalam perkamusan, dan kedua Prof. Sutan Takdir Alisjahbana yang menjadi pembimbingnya dalam taman bahasa dan sastra Indonesia ketika ia baru tiba di negeri ini. “Saya tidak akan melupakan persahabatan beliau yang membuka rumah, lemari buku dan hatinya bagi saya ketika persahabatan antara orang Indonesia dan Belanda bukanlah sesuatu yang sewajarnya,”kata A Teeuw (1983).

a teeuw/ bp

Andries Teeuw, lahir di Gorinchem, Belanda, pada tanggal 12 Agustus 1921. Setelah memperoleh gelar Doktor Sastra di Universitas Utrecht tahun 1946, dengan disertasi tentang naskah Jawa kuno berjudul  Bhomakawya, antara tahun 1947 dan 1951 ia bekerja sebagai pegawai bahasa pada Universitas Indonesia. Juga ia bersama W.J.S. Peorwadarminta menulis Indonesisch-Nederlands Woordenboek (1950); melakukan penelitian dialek bahasa Sasak di Pulau Lombok; mengajar sastra Indonesia modern, dan sastra Melayu klasik. Tahun 1951 ia kembali ke Belanda menjadi guru besar Ilmu Bahasa Umum di Universitas Utrecht sampai tahun 1955, dan menjadi guru besar bahasa dan sastra Indonesia/ Melayu di Universitas Leiden. Tahun 1975 mendapat gelar DHC dari Universitas Indonesia. Tahun 1977-1978 mengambil cuti belajar yang dihabiskannya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Karya-karyanya tentang sastra Indonesia telah banyak yang diterjemahkan dan diterbitkan berbagai penerbit di Indonesia.

Dalam bukunya A Teeuw katakan ia semula menulis dalam bahasa Belanda tentang sastra Indonesia modern, karena sudah terlalu lama, ia lalu memperbaiki dengan judul Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Kemudian buku ini diperluas lagi. Lalu KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) di Leiden agar buku itu ditulis dalam bahasa Inggris. Oleh karena buku itu sudah ketinggalan zaman, maka ia susun kembali untuk diterbitkan menjadi Modern Indonesian Literature tahun 1967.

Satu dasawarsa kemudian buku itu diperbarui, terutama buku jilid kedua, yang berisi mengenai sastra lebih kurang tahun 1955 sampai 1978. Di Malaysia ada permintaan untuk menerbitkan buku itu dalam bahasa Malaysia tahun 1970 dengan judul Sastra Baru Indonesia. Buku edisi Malaysia itu kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia jilid 1. Bahasanya disesuaikan dengan bahasa Indonesia.

Sebagai sarjana sastra ia banyak menulis mengenai sastra, terutama mengenai sastra Indonesia. Namun, dua jilid bukunya merekam sejarah sastra Indonesia, jilid pertama termasuk tentang Pujangga Baru, sastra sebelum perang dan sastra sesudah perang, dan jilid kedua sejarah sastra Indonesia modern angkatan 45 tahun 1945 sampai angkatan 66 dan seterusnya. Pada setiap angkatan terdapat tokoh sastrawan dan genre sastranya.

A Teeuw memulai dengan membahas, kapan sastra Indonesia modern lahir. Sastra Indonesia modern lahir pada sekitar tahun 1920. Ketika itulah para pemuda Indonesia menyatakan perasaan dan ide yang berbeda dari masyarakat setempat sebelumnya yang tradisional dan mulai dalam bentuk sastra yang menyimpang dari bentuk-bentuk sastra Melayu, Jawa dan sastra lainnya yang lebih tua, baik lisan maupun tulisan. Tetapi, di bidang keruhanian dan kebudayaan garis pemisah samar, dan kita malah melihat seorang pelopor kesusastraan modern Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, yang pemikiran dan bahasanya kuat dipengaruhi asing (Barat) di Malaka dan Singapura di permulaan abad kesembilan belas. 

Ia katakan, tidak mungkin memisahkan antara kesusastraan sebelum perang di Indonesia dari perkembangan-perkembangan sesudah perang, sebagaimana menelaah peristiwa-peristiwa politik pada 17 Agustus 1945 dan sesudahnya tanpa tanpa memberikan perhatian terhadap perkembangan nasionalisme Indonesia tahun antara 1908 sampai 1945. Ciri khusus perkembangan kesusastraan ini sebagian sejalan dengan gerakan nasionalis, sekaligus mencerminkan dan menyuarakan berbagai masalah dan kejayaan gerakan ini. Ini tidak berarti setiap yang ditulis berhubungan langsung dengan perjuangan untuk memperoleh kebebasan politik. Oleh karena itu menelaah zaman ini secara keseluruhan dan memasukkan semua hasil penulisan sebelum perang sebagai bagian penting dari kesustraan Indonesia modern.

“Kriteria utama untuk mengannggap tahun 1920 sebagai titik permulaan bahwa ketika itulah untuk pertama kali ditulis kesusastraan yang ternyata harus diletakkan dalam satu rangka dasar yang bersifat Indonesia,”kata Teeuw. Ini bukan berarti pada mulanya bahwa Indonesia telah dilihat sebagai cita-cita politik yang jelas, atau bahwa konsep bahasa Indonesia, dalam perbandingan dengan bahasa-bahasa daerah, secara sadar ketika itu terwujud daalam pikiran para penulis itu. Tetapi ketika mereka mulai mencari cara untuk menyatakan perasaan dan ide mereka sebagai reaksi dan pengaruh Barat (Belanda) maka mulailah mereka menuju jalan ke arah konsep bahasa Indonesia.

Tahun 1908 Budi Utomo bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu, lalu Sarekat Islam 1911 gerakan massa yang modern dan yang pertama di Indonesia, lalu muncul Jong Java, dan Jong Sumatrnen Bond. Orang Sumatralah yang dididik di Jawa yang melakukan kegiatan sastra untuk menyatakan pikiran, perasaan dan cita-cita baru yang mengalir dalam diri mereka. Yang mula-mula adalah pemuda Sumatra, Muhammad Yamin. (A Teeuw, 1978)

Angkatan 45 tidak berumur panjang. Angkatan ini mulai surut tak lama setelah revolusi fisik berakhir tahun 1949. Beberapa penulis dari kelompok ini telah meninggal, atau oleh lain sebab, telah berhenti menulis. Ada beberapa yang masih menulis di bidang sastra dan seni secara umum, atau mengubah pandangan artistik mereka, sehingga karya-karya mereka tidak sejalan dengan pandangan-pandangan asasi Gelanggang dan humanisme universal.

Di antara angkatan ini yang paling menonjol adalah Chairil Anwar. Ia menjadi sumber ilham dan kekaguman, namun di sisi lain menjadi tonggak loncatan caci maki. Ia mati muda. Kawan-kawan seangkata dengannya, Ripai Avin tak bertahan lama dalam kepengarangannya, begitu juga Asrul Sani, sejak tahun 1950 tidak banyak menulis. Ia malah beralih pada kegiatan lain, drama dan film, dengan menulis skenario film, menyutradarai film, mementaskan lakon-lakon drama, dan mengajar seni drama dan lain-lain.

Kemudian para penulis prosa, seperti Achdiat K Mihardja setelah menulis Atheis tak banyak menghasilkan karya yang sebanding. Tersendat-sendat ia masih menerbitkan cerita pendek. Kemudian Idrus dan Achdiat pergi ke luar negeri. Lalu Muchtar Lubis yang menulis novelnya berkaitan dengan situasi pasang surut politik Indonesia. Ia tampil sebagai juru cerita yang menarik tapi terkesan iseng, sebab ia lebih tampak seorang yang menaruh perhatian terhadap kondisi kehidupan umat manusia, seperti esainya tentang manusia Indonesia (1977).

Dua penulis lain, Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Simatupang. Pramoedya terhanyut pada pusaran ideologi yang tak sejalan dengan humanisme universal. Namun dalam pembuangannya di pulau Buru ia menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Sitor tampil sebagai penyair terkemuka setelah Chairil Anwar. Ia banyak terpengaruh eksistenslialisme. Ia akhirnya melibatkan diri dalam perjuangan ideologi, sebagai pengagum dan pembela Soekarno. (A Teeuw, 1993)

Dalam teks pidato hari Ulang Tahun Balai Pustaka yang ke-64, 22 September tahun 1981, yang berjudul Khazanah Sastra Indonesia, Prof. A Teeuw menyinggung soal variasi dalam karya sastra.

“Dalam buku cetakan pun seringkali kita lihat variasi, yang terjadi karena beberapa hal, entah disengaja oleh penulis dalam cetakan yang berikut, entah diadakan oleh penyunting atau korektor, entah oleh badan sensor atau yang berkuasa, atau dengan tujuan penyesuaian untuk pendidikan dan seterusnya. Yang penting ialah karya sastra tidak terjamin mutlak kemantapan ujudnya—dan penelitian harus dan dapat memanfaatkan informasi yang terkandung dalam variasi bentuk untuk lebih baik mengerti arti dan fungsi sebuah karya walaupun hal itu tidak selalu mudah. Contoh yang sederhana saya ambil dari sejarah teks buku yang ikut mengharumkan nama Balai Pustaka, satu di antara bestsellernya, yaitu Siti Nurbaya, karangan Marah Rusli. Dalam edisi ke-12 yang sekarang beredar di pasaran buku Indonesia pada halaman pertama kita membaca tentang Siti Nurbaya dan Samsulbahri yang sama-sama menunggu kedatangan bendi ayahnya. Dalam deskripsi yang panjang lebar mengenai diri, wajah, pakaian Siti Nurbaya yang seperti biasa disajikan menurut konvensi roman jaman itu kita membaca antara lain bahwa rambutnya diikat dengan pita hitam dan bahwa dia memakai kaos kaki dan sepatu yang coklat warnanya. Data yang sama dapat kita baca mulai cetakan kelima atau barangkali sudah lebih awal. Tetapi dalam cetakan pertama buku itu (1922) dapat kita baca bahwa pita rambutnya berwarna merah dan bahwa kaos kaki dan sepatunya berwarna kuning. Saya memang agak terkejut oleh penemuan kecil ini  dan saya pernah bertama kepada Profesor Drewes, yang pada waktu edisi kelima diterbitkan menjadi Direktur Balai Pustaka, “siapa yang mengadakan perubahan semacam ini dalam buku Marah Rusli?”Menurut Profesor Drewes mungkin sekali tukang zet, atau seorang korektor atau sub-editor, yang menganggap tidak pantas lagi, tidak sesuai dengan mode waktu itu, bahwa seorang gadis memakai pita merah dalam rambutnya dan memakai kaos kaki dan sepatu kuning, sehingga dia menyesuaikannya dengan yang dianggap pantas.”(A Teeuw, 1993)

A Teeuw membahas mengenai karya pulau Buru dari Pramoedya Ananta Toer yang empat jilid, di antaranya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

es

Dalam penelitiannya tentang sejarah awal nasionalisme Indonesia ia menemukan tokoh Tirto Adhi Soerjo, sebagai nasionalis angkatan pertama yang kurang dikenal dalam penulisan sejarah nasional. Kisah Tirtolah yang mengilhami Pramoedya menulis roman tetralogi bersejarah.

Dalam buku jilid kesatu dan kedua latar belakang di daerah Jawa Timur pada akhir abad ke-19. Periode ini sebagai pendewasaan fisik dan mental, tokoh protagonisnya. Dalam dua jilid ini Pramoedya menggunakan imajinasi kreatif disebabkan kekurangan data sejarah mengenai masa muda tokoh. Sedangkan jilid ketiga dan keempat dengan latar belakang Betawi pada awal abad ke-20 tokoh utama memainkan peranan yang cukup penting.

Dikisahkan Minke adalah anak priayi tinggi. Pada masa kisah ini berlangsung menjadi anggota keluarga seperti itu memberi hak istimewa di tanah jajahan, asalkan ia dapat menyesuaikan diri dengan dua sistem itu. Pertama, bertingkah laku sesuai dengan norma priayi, dan kedua, tunduk pada kemauna penguasa kolonial yang memanfaatkan golongan priayi Jawa untuk mempertahankan kekuasaan dan kewibawaannya. Atas dasar itu anak priayi berhak masuk sekolah terbaik yang disediakan di wilayah koloni, dan juga karir terhormat menanti dalam jajaran pemerintahan.

Namun, Minke tidak mengikuti jalan itu, melalui pengalaman sedih dan pahit ia mencari alternatif, ia melawan, melakukan protes, dan menjadi sadar akan tanggung jawabnya terhadap bangsa, yang ia menjadi bagian dari padanya. Ia bersedia berkorban sesuai dengan pilihannya itu. Ia melalui jalan pelik ke penyadaran, di mana ia berusaha membebaskan diri dari belenggu rangkap, feodalisme dan kolonialisme.

Minke bermula menjadi murid H.B.S. di Surabaya. Ia satu-satunya anak pribumi di tengah anak-anak Belanda, yang situasinya bersifat rasialis. Ia terlibat hubungan cinta dengan Annelies. Secara cukup keras ia disadarkan dari rasa hormatnya terhadap ilmu pengetahuan Eropa dan hikmat sistem hukum Hindia Belanda, yang merampas istrinya. Lewat kakaknya Annalies, Robert dan Robert lainnya, sebagai orang Indo, ia menjadi paham bahwa ada jurang yang dlam bersifat rasial, antara masyarakat Indo biasa danorang Indonesia seperti dirinya.

Ia belajar menulis, yang mula-mula sukses, namun ia terbentur kenyataan pers kolonial. Setelah lama melawan akhirnya Minke memilih bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, menggantikan bahasa Belanda yang semula dibanggakannya. Melalui pertemuaannya dengan sorang Cina modernis ia mulai memahami perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan di negeri-negeri lain di Asia, dan harga yang harus dibayar untuk itu.

Dalam perjalanan ke pedesaan di Jawa Timur ia mendapat pengalaman dan membuka matanya tentang ketidakberdayaan petani Jawa berhadapan dengan kekuasaan ‘Gula’ dalam sistem feodal-kolonial.

Dalam perjalanan ke Betawi Minke mendapat indoktrinasi ideologi dari wartawan Belanda yang berhaluan kiri, tentang kekuasaan modal, tentang perjuangan kemerdekaan, dan perjuangan bangsa-bangsa lain. juga tentang perlunya didirikan organisasi modern dalam perjuangan itu. Setelah mengalami inisiasi panjang dan penuh kepedihan, Minke menjadi matang jiwanya untuk kenyataan Betawi abad kedua puluh, yang mulai dijejakinya.

Di Betawi Minke masuk menjadi pelajar STOVIA. Ia disndera enam bulan, ia dibuang ke Ambon pada tahun 1913. Tidak diketahui kapan ia akan kembali ke Jawa. Ia kemudian masih hidup beberapa waktu, menjadi miskin dan berpenyakit, sampai tanggal 7 Desember 1918 ia meninggal.

Setelah itu, kisahnya tidak diceritakan oleh Minke. “Seorang aku pencerita baru muncul. Ia mulai dengan uraian singkat tentang ancaman ganda yang dihadapi oleh Gubernemen Hindia pada tahun 1912: Tiongkok baru yang pada 1911 menjelmakan diri dengan revolusi Sun Yat Sen sebagai manifestasi nasionalisme Asia tak terbendung; dan gerakan nasional pribumi yang mulai dilancarkan oleh pengagum revolusi Tiongkok, seorang Raden Mas, siswa STOVIA: wartawan, penerbit, sekaligus pendiri dan pemula organisasi-organiasi nasionalis modern di Hindia Belanda.” (A Teeuw, 1997)

Cibinong, 2-12-2022

———-

Sumber:

A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta, Gmd, 1983)

———, Sastra Baru Indonesia 1, (Ende, N Indah1978)

———, Sastra Indonesia Modern 2, (Jakarta, P Jaya , 1989)

———, Khazanah Sastra Indonesia, (Jakarta, B Pustaka, 1993)

———, Citra Manusia Indonesia, (Jakarta, P Jaya, 1997)

Iklan

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Sastra dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s