Perjuangan Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)

gr

Muhammad Rasul (H Abdul Karim Amrullah) bin Syekh Muhammad Amrullah (Haji Kisai) lahir 10 Februari 1879 M di Kepala Kabun, Jorong Betung Panjang, nagari Sungai Batang Maninjau dalam Luak Agam. Pada usia 10 tahun ia dibawa pamannya H Abdussamad belajar Al-Qur’an kepada dua guru Tuanku Haji Hud dan Tuanku Haji Fakih Samnun hingga tamat. Pada usia 13 tahun ia belajar nahwu dan sharaf kepada ayahnya sendiri. Lalu ia diantar ayahnya kepada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf di Sungai Rotan, Pariaman untuk belajar Minhajut al-Thalibin karya Imam Nawawi dan Tafsir Jalalain. (Ayahku, h. 60)

Selesai belajar di Sungai Rotan usianya menginjak 16 tahun Muhammad Rasul dikirim ayahnya ke Makah tahun 1894 M untuk belajar lebih lanjut yang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib. Juga ia belajar kepada guru-guru yang lain. Di kota Makah ia belajar selama 7 tahun. Setelah pulang ke tanah air beberapa lama kemudian ia diminta ayahnya mengantarkan adik-adiknya ke Makah. Ia sendiri di sana mengajar kecuali jika ada hal-hal sulit ia bertanya kepada gurunya, Syekh Ahmad Khatib. Istri dan anaknya meninggal di sana. Tahun 1906 M ia pulang ke kampung halaman. Sepulang dari Makah ia mulai mengajar dan berdatanganlah murid-murid belajar agama kepadanya. Tanggal 15 Februari 1908 M ayahnya meninggal. (h. 72)

Pengaruh gurunya, Syekh Ahmad Khatb, sangat kuat sehingga ia menjadi seorang yang revolusioner terhadap adat Minangkabau dan tarekat-tarekat yang ada di Sumatra Barat khususnya Tarekat Naqsabandiah. Sependirian dengan gurunya ia pun mencoba meluruskan praktek-praktek tarekat yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Oleh karena itu terjadilah pertentangan paham antara yang mempertahankan tarekat dimana ayahnya sebagai syekh dari tarekat Naqsabandiah dan yang menolak dari kalangan muda. Ia bergelar “Tuanku Syekh Nan Mudo”. Selain pengaruh gurunya para pemikir seperti Jamaluddin al-Afgani, Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rasyid Ridha juga membentuk pola pikirnya. (Ensiklopedi Islam, h. 16-17)

Pada tahun 1917 M Abdul Karim Amrullah pergi ke pulau Jawa pertama ia singgah di tanah Betawi bertemu dengan tokoh Minangkabau Datuk Tumenggung, lalu ke Bandung bertemu dengan Abdul Muis dan diteruskan ke Pekalongan bertemu muridnya Fakih Salih. Dari kota itu ia teruskan perjalanan ke Surabaya bertemu muridnya Fakih Hasyim. Selain itu ia menemui HOS Cokroaminoto. Cokroaminoto mengajak Abdul Karim untuk mengembangkan Serikat Islam (SI) di Sumatra Barat. Namun ia tidak menyatakan kesanggupan sebab ia tidak mengerti urusan politik, ia memahami agama dan hidupnya untuk agama. Di Surabaya ia sempat ke Madura. Setelah dari Surabaya ia kembali ke Jakarta namun ia singgah di Yogyakarta dan bertemu KH. Ahmad Dahlan.

Di Stasiun Tugu KH. Ahmad Dahlan sudah menunggu dan mengenalinya ketika ia datang. Selama di Yogyakarta mereka berbincang. Kiai Ahmad Dahlan mengatakan ia ingin membangkitkan Islam dengan cara baru dengan cara sekolah yang teratur. Juga ia minta izin untuk menerjemahkan tulisan-tulisan H Abdul Karim dalam al-Munir ke bahasa Jawa. Setelah pertemuan itu H Abdul Karim kemudian pulang ke Sumatra membawa semangat baru. Di Sumatra ia mendirikan Sumatra Thawalib pada Februari 1918 M yang diketuai Hasyim al-Husni. Semakin lama semakin luas pengaruh Sumatra Thawalib dari Sumatra sampai Malaysia. Namun, di Malaysia banyak yang menolak ajaran-ajarannya, sebagai kaum pembaru. (Lihat Taufik Abdullah, “Adat dan Islam”… dalam Ahmad Ibrahim, h. 193-211)

Murid-muridnnya di antaranya, Abdul Hamid Hakim, Zainuddin Labai el-Yunusi (1890-1924 M), H Abbas Datuk Tunaro, H Yusuf Amrullah, H Ahmad Rasyid Sutan Mansyur, Haji Datuk Batuah, H Jalaluddin Thaib, H Mukhtar Luthfi, Hasim el-Husni, Adam Balai-Balai, Rahmah el-Yunusiyah dan Rasuna Said dan sebagainya.

Syekh Abdul Karim Amrullah adalah pejuang yang gigih menegakkan kebenaran. Setelah Sumatra Thawalib berdiri ia pun kemudian memperjuangkan berdirinya persatuan guru-guru agama Islam tahun 1920 M. 

Ketika tahun 1924 M pergi ke Mesir Syekh Amrullah Ahmad dan Syekh Abdullah Ahmad mendapat gelar doktor kehormatan oleh sebuah panitia dan disaksikan utusan-utusan negara Islam. Mereka sempat bertemu pemimpin Mesir, Sa’ad Zaghlul Pasya memberi motivasi bahwa perjuangan umat Islam di Timur akan maju. (Ayahku, h. 187)

Ketika ia pulang dari pulau Jawa untuk yang kedua kalinya ia tertarik untuk mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1925 M. Ia mendukung gerakannya untuk terus berkembang di Sumatra, namun ia sendiri tidak ikut di dalamnya.

Tahun 1928 M Belanda ingin menerapkan guru ordonansi melalui utusannya Dr. de Vries dari kantor Adviseus Inlandsche Zaken ke Sumatra. Lalu para pemuka agama Islam se-Sumatra Barat berkumpul tanggal 18 Agustus 1928 M sepakat menolak peraturan guru ordonansi. Hal itu terjadi atas gagasan H Abdul Karim Amrullah.

Ia terus berjuang menyiarkan agama Islam. Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika ia ditanggkap penjajah Belanda tanggal 12 Januari 1941 M dan ia diasingkan ke Sukabumi. (Deliar Noer, h. 44)

Tidak lama kemudian Belanda diserang Jepang. Ia pun akhirnya bebas. Di zaman penjajahan Jepang ia dalam suatu rapat menolak untuk melakukan sei keirei (tunduk menghadap kekaisaran Jepang) dan ia membantah tulisan seorang ahli Jepang Wajah Semangat. Buku itu berisi pujian kepada kaisar Jepang dan dikatakan kaisar adalah “tuhan” yang kuasa, yang menganugerahi kehidupan bagi kepulauan Yamato, keturunan dari sang matahari bernama Ameterasu Omikami. Buku itu dibawa Kol. Hori kepada Syekh Karim Amrullah untuk diminta pertimbangan dan perbandingan dengan agama Islam.

Lalu Syekh Karim Amrulah menulis buku Hanya Islam. Yang isinya mengenai ajaran tauhid. Dikatakan bahwa Yang Maha Esa itu hanya milik Allah Swt. dan bukan yang lain. Di antaranya; pertama, Allah Maha Esa pada Dzatnya; kedua, Allah Maha Esa pada diri-Nya, tidak ada sesuatu yang lain sebagaimana Dzat-Nya; ketiga, Allah Maha Esa pada sifat-Nya tidak ada di luar Allah Swt yang menyamai sifat-Nya; keempat, Allah Maha Esa pada perbuatan-Nya, Maha Kuasa atas segala sesuatu; kelima, Allah Maha Esa dalam sifat ketuhanan dan sekali-kali tidak ada pertuhanan yang lain daripada-Nya.

 Selain mengajar dan berceramah ia pun menulis beberapa buku, di antaranya: Amdatul Anam fi ilmi al-Kalam (sifat 20) 1908, Qati’u Riqabil mulhidin (membantah tariqat Naqsabandiyah) 1910, Syamsul Hidayah (syair berisi nasihat dan tasawuf) 1912, Al-Qawulush Shahih (bantahan atas Ahmadiyah) 1923 dan banyak lagi. Setelah pulang dari Mesir ia tulis Cermin Terus (sanggahan amal Muhammadiyah) 1928, Annida 1929, Pelita 2 jilid 1930-31, Pedoman Guru (membela Muhammadiyah) 1930, Al-Faraid 1932, dan sebagainya.

“Seorang guru yang jujur haruslah berniat supaya muridnya lebih pintar daripada dia. Namun, seorang murid yang jujur harus mengakui pula siapa gurunya”. H Abdul Karim Amrullah

Cibinong, 4-3-2021

Sumber:

Hamka, Ayahku, (Depok: GIP, 2019)

Ensiklopedi Islam, Hafidz Dasuki, Ed., (Jkt, 1995)

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942,(Jkt, LP3ES, 1991)

Taufik Abdullah, “Adat dan Islam:..”, dalam Ahmad Ibrahim Ed., dkk., Islam di Asia Tenggara, (Jkt, LP3ES, 1989), terj. AS Abadi

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di sejarah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Perjuangan Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)

  1. luaydpk berkata:

    thank you all blogers and happiness in your life 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s