Masyarakat Melayu-Indonesia dalam Sorotan Historis Prof. Naquib

Sufi World on Twitter: "To know how to put what knowledge in which ...
sw

Sifat sejarah, menurut orang,

Ibarat pentas bermain wayang;

Cerita lampau diurai dalang,

Pabila tamat segera diulang.

Jika demikian, mustahil pantang

Giliran Islam pula mendatang;

Lakonan lama indah gemilang,

Di layar dunia semula terbentang

Prof. Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai filosof, sejarawan, pendidik Malaysia yang banyak menulis buku. Ia juga mengusahakan berdirinya International Institut of Islamic Thought and Civilization (Institut Antarbangsa Pemikiran dan Tamaddun Muslim) pada 27 Februari 1987 di Malaysia.

Ia meneliti tentang masyarakat di kawasan Melayu-Indonesia sebelum dan setelah datangnya Islam. Dalam penelitiannya itu ia katakan telah ada gambaran umum bahwa agama yang dianut oleh masyarakat adalah Hindu dan Budha yang bercampur dengan agama anak negeri sendiri, yang telah ada sebelum kedua agama itu. Agama itu hanya dianut oleh kalangan raja-raja dan bangsawannya, sedangkan rakyat biasa tidak menghiraukan ajaran-ajaran agama itu.

Naquib sependapat dengan Van Leur yang mengatakan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia secara umum bukanlah masyarakat Hindu tetapi pada hakekatnya hanya golongan bangsawan yang menganut agama itu secara sungguh-sungguh. Itu pun golongan bangsawan tidak memahami betul ajaran-ajaran murni yang terpendam dalam filsafat Hindu, yang diambil hanya berkaitan tata-upacara dan mengagungkan dewa-dewa untuk kepentingan mereka sendiri bahwa mereka adalah penjelmaan dewa-dewa itu. Hal itu justru mengukuhkan kedudukan golongan raja dan bangsawan dalam puncak lapisan struktur masyarakat.

Filsafat agama Hindu tidak banyak mempengaruhi masyarakat Melayu-Indonesia, justru mereka lebih cenderung kepada hal-hal yang berkaitan dengan seni.

Mengenai peranan Islam di kawasan itu beberapa sarjana Belanda dan Inggris mencoba mengecilkan seperti Van Leur yang mengatakan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar dan peradaban yang luhur daripada yang telah ada. Hal itu dibantah oleh Prof. Naquib bahwa peninggalan berupa tugu dan candi dengan pahatan memang hasil peradaban seperti juga Acropolis Yunani, Persepolis Iran, dan Piramid Mesir, tapi itu tidak menyorotkan sinaran budi dan akal. “Dalam menilai peranan dan jejak Islam, ciri-ciri yang harus dicari oleh mereka bukan pada tugu dan candi , atau pada pahatan dan wayang—ciri-ciri yang mudah dipandang oleh mata jasmani—tetapi pada bahasa dan tulisan yang sebenarnya memperlihatkan cara daya budi dan akal merangkum pemikiran.” kata Naquib.

Di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia tak dapat diingkari, kata Nquib, bahwa terdapat banyak sifat risalah-risalah Islam dahulu yang sebagaian besar isinya itu mengandung metafisika ilmu tasawuf yang telah mencapai nilai luhur dalam sejarah pemikiran. Risalah-risalah itu tidak dapat kita dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang terdapat di dalam sastra Melayu-Jawa dalam zaman Hindu-Budha yang hampir-hampir hampa dalam perbendaharaan akal. Jiwa masyarakat Melayu-Indonesia mulai berubah dengan adanya unsur-unsur itu mengalir dalam nadinya.

“Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat kita bayangkan sebagai semangat nan hebat yang menggerakkan proses merevolusikan pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia, memalingkan dari alam seni dan mitos yang khayali, yang sudah mulai gugur dari singgasananya, dan mematuhi serta menetapkannya pada alam akal dan budi yang menuntut cara hidup yang tertib dan teratur. Para penyebar agama Islam mendakwahkan kepercayaan ketuhanan yang Tunggal; yang kodrat-Nya terhukum pada hikmah-Nya; yang iradah-Nya berjalan selaras dengan Akal,” katanya.

Dalam proses sejarah kebudayaan Islam itu bahasa Melayu sebagai pengantar, bukan hanya dalam kesustraan epik dan roman , tetapi dalam pembicaraan filsafat. Dengan begitu menambah dan meninggikan perbendaharaan kata dan istilah-istilah serta tentu saja menjunjung bahasa Melayu ke peringkat bahasa sastra yang rasional dan akhirnya mampu menggantikan bahasa Jawa sebagai bahasa sastra Melayu-Indonesia.

Ia juga membedakan antara Islam dan agama-agama itu dilihat dari sejarahnya di kepulauan ini, dengan rumusan (disingkat) sebagai berikut:

1. Agama Hindu bukan agama Semitik yang berdasarkan ketuhanan yang tunggal, yang mempunyai semangat menyebarkan diri dengan daya tabligh.

2. Agama Hindu itu terkandung dalam perlambang yang estetik serta pembicaraannya ibarat bentuk rupa manusia dan tak diragukan lagi yang demikian itu karena pengaruh bahasanya  yang menjadi pengantar pembicaraannya.

3. Berlainan dengan Islam, agama Hindu dan Budha lahir dari intisari dan tempat asal yang sama.

4. Kunhi dzat (rahasia dzat Allah) semangat keagamaan Islam itu ialah kepercayaan ketuhanan yang tunggal dan ini terkandung dalam konsepsi tauhid.

5. Al-Qur’an sampai di kepulauan Melayu-Indonesia bersama dengan agama Islam.

6. Dapat disimpulkan bahwa Islam berbeda dengan agama Hindu dan Budha adalah suatu agama yang bersifat kebudayaan sastra yang saintifik.

Cibinong, 2-8-2020

Sumber:

Syed M Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung; Mzn, 1990)

————————————, Islam dan Sekularisme, (Bandung: Pustaka, 1981)

Tentang luaydpk

on history.....
Pos ini dipublikasikan di sejarah dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Masyarakat Melayu-Indonesia dalam Sorotan Historis Prof. Naquib

  1. luaydpk berkata:

    thank you all bro for appreciate this writing 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s