Penulis Indonesia, Royalti dan Pembacanya

Menjadi penulis di Indonesia tidaklah mudah. Berdasar pengalaman beberapa penulis Indonesia. Kesulitan itu menyangkut royalti yang adil dan mendapatkan pembaca yang lahap terhadap buku, dan banyak hal lainnya.

Menjadi penulis sebagai profesi dan sekaligus memiliki keahlian di bidang tertentu tidaklah mudah. Sebab, untuk menjadi penulis profesional artinya ia tidak mengerjakan pekerjaan lain selain menulis tentu saja di bidang yang dikuasainya, atau terkait dengan yang dikuasainya, mungkin bisa dikatakan mustahil. Oleh karena alasan itu menulis dijadikan pekerjaan ‘sampingan’ untuk mengisi waktu selain pekerjaan utama.

Banyak ahli di bidang ilmu tertentu, tapi ketika mereka menulis buku karyanya kurang dihargai. Bukan saja dari segi keuntungan /royalty, tapi juga ketika buku itu laku, di pasaran banyak karya edisi bajakannya dijual dengan bebas.

Soal royalty untuk penulis ini sangat serius. Dari hasil penjualan buku karyanya sendiri penulis hanya mendapatkan royalty sekitar 10-14 %, distributor 40 %, dan sisanya untuk biaya cetak dan penerbit. (Seperti pernah ditulis penulis buku terkenal) Apakah soal itu ada aturannya yang bisa ditaati oleh semua pihak?

Bahkan ada seorang profesor fisika menulis buku ajar hanya diberi royalty sangat sedikit oleh penerbit besar dari buku yang ia tulis.

Juga ada ketua tim penulis buku berjilid ketika buku itu direvisi nama ketuanya sudah hilang digantikan orang lain. Dengan begitu tentu royaltinya pun hilang. Padahal buku ensiklopedi edisi revisi itu dasarnya dari buku pertama.  

Atas semua problem itu, sepertinya, hal itu menjadi keengganan penulis Indonesia untuk semangat berkarya. Tentu untuk menulis sebuah buku utuh bukanlah perkara ringgan, sebab itu kerja intelektual yang membutuhkan konsentrasi. Butuh waktu, tenaga dan biaya.

Beberapa penulis agaknya menyiasatinya dengan menerbitkan sendiri bukunya. Dan, yang lainnya lebih tertarik menulis makalah untuk seminar atau kolom. Sekali seminar langsung mendapat bayaran kontan. Juga, jika makalah terkumpul dapat dijadikan buku.

Hal itu agaknya berbeda dengan beberapa penulis di negara lain baik fiksi maupun non fiksi, sebut saja Mesir, Amerika atau Inggris atau lainnya. (Dari berbagai sumber)

Kini, zaman telah berubah, siapa mau menulis apa? Media telah tersedia. Tapi, apakah persoalan di atas sudah ada perubahan?…

Bogor, 20-5-2020

Tentang luaydpk

on history.....
Pos ini dipublikasikan di Buku, Penulis dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s