Menggagas Paradigma Profetik Islam

Berawal dari diskusi mengenai teologi di Yogyakarta. Dalam diskusi itu terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai teologi. Kelompok satu memaknai dalam pengertian konvensional, yakni ilmu kalam dan yang lain teologi transformatif yakni memaknai teologi sebagai penafsiran terhadap realitas dalam perspektif ketuhanan. Perbedaan itu yang cukup tajam dan sulit dipertmukan. Untuk mengatasi kemacetan itu Kuntowijoyo mengganti istilah teologi dengan ilmu sosial, sehingga teologi transformatif menjadi ilmu sosial transformatif.

Juga pemicu lain adalah Kongres Psikologi Islam di Solo (2003).

Gagasan Kuntowijoyo terinspirasi oleh tokoh pemikir Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy, dan beberapa ilmuwan lain yang tidak disebutkan. Ia lalu mengumpulkan gagasan-gagasan yang masih berserak dan mempublikasikannya. Dikatakan oleh Ahimsa–Putra “Apa yang dilakukan oleh Kuntowijoyo adalah sebuah langkah awal untuk mewujudkan sebuah paradigm Islam dalam sebuah jagad ilmu pengetahuan, yang sampai saat ini umumnya menggunakan basis paradigma dari dunia Barat.” (Ahimsa, h. 4)

Menurut Kuntowijoyo ilmu sosial transformatif adalah ilmu sosial yang didasarkan pada hasil “elaborasi ajaran-ajaran agama ke dalam bentuk suatu teori sosial”. Sasaran utamanya adalah “rekayasa untuk transformasi sosial. Oleh karena itu, ruang lingkupnya bukan pada aspek-aspek yang normatif seperti pada teologi, tetapi pada aspek-aspek yang empiris, historis, dan temporal”.

Ilmu sosial transformatif tidak hanya menjelaskan fenomena sosial namun juga berupaya mentransformasikannya. Ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa? Terhadap beberapa pertanyaan ini ilmu sosial transformatif tidak memberikan penjelasan. Oleh karena itu Kuntowijoyo lalu mengusulkan adanya ilmu-ilmu sosial profetik, yaitu ilmu-ilmu sosial “yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Oleh karena itu ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tetapi mengubah demi cita-cita etik dan profetik tertentu.”

Lalu basis etik dan profetik yang mana yang Kuntowijoyo gunakan? Sebagai seorang muslim ia menengok kepada Islam. Selama ini ilmu pengetahuan telah kehilangan spiritualitas, sebab ilmu pengetahuan yang kita warisi dari Barat tanpa basis agama. Agama yang membicarakan hal gaib bukan lagi sebagai urusan ilmu pengetahuan (sains).

Jika acuannya agama Islam sumber utamanya adalah al-Qur’an. Kuntowijoyo mengatakan “kita perlu memahami al-Qur’an sebagai paradigma”, sebagaimana paradigmanya Kuhn. Lebih lanjut ia katakan, “Dalam pengertian ini, paradigma al-Qur’an berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh al-Qur’an pertama-tama dengan tujuan agar kita memiliki “hikmah” yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif al-Qur’an, baik pada level moral maupun pada level sosial. Akan tetapi, konstruksi pengetahuan ini juga memungkinkan kita untuk merumuskan desain besar mengenai sistem Islam, termasuk dalam hal ini sistem ilmu pengetahuannya. Jadi, di samping memberikan gambaran aksiologis, paradigma al-Qur’an juga dapat berfungsi untuk memberikan wawasan epistemologis…” (h. 6)

Berkaitan dengan itu Roger Garaudy, sebagaimana dikutip Kuntowijoyo mengatakan bahwa filsafat Barat (filsafat kritis) “tidak memuaskan sebab hanya terombang-ambing antara dua kubu, idealis dan materialis, tanpa kesudahan. Filsafat Barat (filsafat kritis} itu lahir dari pertanyaan: bagaimana pengetahuan itu dimungkinkan. Dia menyarankan untuk mengubah pertanyaan itu menjadi: bagaimana wahyu itu dimungkinkan.” Garaudy berpendapat bahwa filsafat Barat sudah “membunuh” Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar “umat manusia memakai filsafat kenabian dari Islam dengan mengakui wahyu.”

Lalu bagaimana unsur-unsur wahyu itu dimasukan ke dalam sistem ilmu pengetahuan profetik? Kuntowijoyo menguraikannya di antaranya: Wahyu: Basis Epistemologis dan Implikasinya; Etika: Humanisme – Teosentris; Tujuan: Humanisasi, Pembebasan, Transedensi.

Ahimsa–Putra menelaah secara kritis beberapa kelemahan gagasan mengenai ilmu sosial profetik yang ingin dibangun oleh Kuntowijoyo yakni terletak pada tidak adanya konsepsi yang jelas tentang paradigma. Kelemahan inilah yang ia coba atasi jika kita ingin melanjutkan langkah Kuntowijoyo dalam membangun ilmu sosial profetik.

Ia paparkan menganai Paradigma dan unsur-unsurnya; Basis epetemologis profetik Islam; ; Etos paradigm profetik; Model paradigma profetik dan Implikasi paradigma profetik.

Ahimsa–Putra berbeda padangan mengenai paradigma profetik dengan Kuntowijoyo walau tidak seluruhnya. Kuntowijoyo lebih menekankan pada pengembangan ilmu sosial profetik sedangkan Ahimsa pada paradigmanya. Ilmu pengetahuan lebih luas daripada paradigma  karena ilmu pengetahuan mencakup objek material (yang dipelajari) dan objek formal (perspektif, paradigma), sedangkan paradigma hanya mencakup objek formal saja.

Ia lebih lanjut mengatakan bahwa pertama inti ilmu pengetahuan adalah paradigma. Kedua, paradigma lebih luwes daripada ilmu pengetahuan karena sebuah paradigma dapat dibawa kepada cabang ilmu pengetahuan manapun, sedangkan ilmu pengetahuan tidak. Ketiga, meskipun para ilmuwan di Indonesia sudah biasa menggunakan konsep paradigma, tetapi menurut Ahimsa belum pernah ada diskusi yang serius mengenai apa yang dimaksud dengan paradigma, sehingga penggunaan konsep paradigm masih simpang siur.

Depok, 26-10-2019

Lu’ay

_____________________

Sumber:

Shri Ahimsa-Putra, Paradigma Profetik Islam, (Yogya: Gama Pres, 2018)

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, (Bdng: Mizan, 1991)

Tentang luaydpk

on history.....
Pos ini dipublikasikan di Humaniora dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s