Islam dan Kepemimpinan dalam Sejarah

Islam sebagai agama sudah disempurnakan sebagaimana dinyatakan dalam wahyu terakhir al-Quran. (Hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu… )  Umatnya dituntut untuk mempelajarinya (fardhu ‘ain). Setiap Muslim wajib mempelajari, memahami dan mengamalkannya. Sebab dalam Islam tidak ada dominasi pemahaman agama oleh kalangan tertentu. Siapapun bisa menjadi ahli agama (ulama) jika ia mau dan mampu mempelajarinya. Juga tidak ada struktur kekuasaan keagamaan. Semua sejajar, sederajat, mengenai kualitas iman dan taqwa hanya Allah yang Maha Tahu.

Islam yang dipraktekkan oleh nabi Muhammad Saw dan sahabat sangat ideal. Dalam arti, apa yang diwahyukan dipraktekan oleh Nabi Saw. Sahabat patuh mengikuti apa yang dilakukan Nabi Saw walau dalam beberapa hal kadang mengikuti pendapat (ijtihad) sahabat. Umat Islam setelah periode  jauh dari kehidupan Nabi Saw dan para sahabat semakin berkurang pemahaman terhadap agamanya dan juga pelaksanaannya.

Lebih-lebih di zaman sekarang yang jauh dari masa Nabi Saw. Oleh karena jarak yang demikian jauh sekitar 15 abad lalu maka pemahaman dan pelaksanaan agama umat semakin kurang dan jauh dari ideal. Inilah fakta yang harus disadari oleh orang saat ini.

Jika kita lihat sejarah. Ketika khalifah Utsman bin Affan terbunuh oleh sekelompok orang ekstrim dan naiknya Ali ra menjadi khalifah terjadi krisis politik. Krisis politik ini dampaknya sangat jauh, dan mencabik-cabik kedaulatan Islam yang masih baru.

Zaman sahabat Ali bin Abi Thalib ra ada orang-orang yang hapal Qur’an yang disebut qurra, yang hanya hapal, namun pemahamannya sangat kurang. Akibatnya mereka sangat ekstrim dalam menentang Ali. Mereka keluar barisan pendukung Ali, yang kemudian disebut kaum Khawarij. Di samping kaum Khawarij ada Muawiyah, ketika itu gubernur Syam, yang menentang Ali ra. juga. Di sisi lain ada pendukung Ali ra yang disebut syiat. Muawiyah, walaupun dalam beberapa perang telah berjasa, namun ia termasuk kaum tulaqa. Kaum tulaqa ini adalah kaum kafir Quraisy yang setelah Makah dapat dibebaskan (fath) mereka semua bebas menentukan pilihan. Dan kemudian mereka masuk Islam karena sudah terjepit. Mereka masih terikat kepada tradisi Jahiliyah, masih fanatik kesukuan, yang pada masa selanjutnya mempengaruhi sejarah perkembangan Islam.

Di masa Muawiyah bin Abi Sufyan inilah kekuasaa diwariskan kepada anaknya, Yazid. Hingga akhirnya Ali ra terbunuh, maka dimulailah kepemimpinan dalam Islam berubah menjadi kerajaan atau dinasti, yang pergantiannya dilakukan secara turun temurun. Berbeda dengan masa sebelumnya, pergantian kepemimpinan melalui musyawarah (syura).

Depok, 29-8-2019

Rujukan

M Husain Haikal, Sej. Hidup Nabi Saw

Ali Audah, Ali bin Abi Thalib, (2005)

 

 

 

Tentang luaydpk

on history.....
Pos ini dipublikasikan di sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s