Bangsa Indonesia

 

 

2015-12-06 17.07.58

Karya Muchtar Lubis

Buku ini karya Muchtar Lubis dari bahan ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta pada tanggal 30 Januari 1978.

Siapa bangsa Indonesia? Dalam sejarah bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa pedagang dan pelaut. Jalur perdagangan di masa kuno antara kawasan Asia dan Asia Tengah bahkan sampai Eropa. Disinggung oleh Marco Polo, bahwa ada tiga jalur perdagangan, jalur utara menyusuri Laut Hitam di Asia, sampai Bizantum dan Asia Minor, lalu jalur tengah yang menyeberangi sungai Eufrat mencapai kota-kota di Siria, dan jalur selatan yang mencapai Mesir melaui Laut Merah dan Sungai Nil, Bukhara, Samarkan, Bactra, Smirna, Petra, Antiok, dan Loyang (Tiongkok), sebagai kota yang terkenal dalam perdagangan internasional masa itu.

Peran bangsa Indonesia dalam perdagangan internasional itu muncul bukan hanya dari inisiatif sendiri, namun juga ada pengaruh dari perkembangan di kawasan Asia.

Ketika jalur daratan antara Asia dengan Asia Tengah dan Eropa terganggu karena perang mereka mengikuti jalur perdagangan melalui lautan. Aktivitas orang Indonesia dalam pelayaran dan perdagangan menyeberangi Samudra Hindia sampai pantai timur Afrika.

Mereka berlayar dengan perahu cadik. Barang dagangan yang penting yang dibawa oleh perahu layar Indonesia ke Madagaskar dan timur Afrika, diantaranya kayu manis.

Mereka berlayar ribuan mil jauhnya, menghadang gelombang, topan, badai dan berbagai bahaya lain. Alangkah pemberaninya mereka, besar semangat dan jiwa mereka. Mereka adalah manusia Indonesia yang perkasa dan berjiwa besar dan tak kalah dengan bangsa lain, semisal orang Viking, yang menyeberang lautan Atlantik hingga Amerika Utara.

Pada masa lalu itu, zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buda hingga Islam, berbagai hasil alam Indonesia telah menjadi perhatian bagi para pedagang asing. Diantaranya, rempah-rempah, kapur barus, bahan obat-obatan, jenis-jenis kayu, seperti gaharu.

Sampai kemudian datang para pedagang asing dari Eropa, yang dimulai Portugis, aktivitas perdagangan Indonesia dapat mengimbangi mereka. Dengan teknologi persenjataan dan teknik pertempuran yang mereka bawa perlahan-lahan mereka menggeser peranan orang Indonesia dalam pelayaran dan perdagangan Nusantara. Lebih-lebih ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis dan kemudian direbut Belanda, dan terus silih berganti menambah kemunduran perniagaan dan pelayaran orang Indonesia.

Dengan datangnya para pendatang asing orang Indonesia tidak tinggal diam. Diantara manusia besar Indonesia masa lalu, Trunojoyo, Surapati, yang semula menjadi perwira VOC lalu berbalik melwan Belanda, kemudian ia mendirikan kerajaan di Pasuruan (abad 17), Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong, Ptitimura, Imam Bonjol dan banyak lagi.

Kemudian di zaman perjuangan nasional kita, banyak tokoh pejuang Indonesia yang ditangkap dan dibung kolonialis Belanda ke Boven Digul dan pulau-pulau lain di wilayah Nusantara. Mereka berjuang tanpa lelah hingga akhirnya berhasil mencapai kemerdekaan 1945. Namun setelah mencapai kemerdekaan, generasi kaum nasionalis yang semula memiliki jiwa besar dan semangat juang segera nilai-nilai itu melemah dan mengerdil. Lebih-lebih ketika mereka berkuasa. Semangat yang melemah dan mengerdil itu akibat tamak pada kekuasaan dan nafsu menumpuk kekayaan. Sumber-sumber kerapuhan watak dan kerusakan jiwa generasi kaum nasionalis dapat dicari rujukannya dalam sejarah masa lampau bangsa kita.

Paska Orde Lama giliran kekuasaan baru. Di zaman baru banyak peraturan yang belum dijalankan dan masyarakat menjadi resah sebab kehidupan demikian susah. Menanggapi semua keresahan masyarakat itu penguasa perlu menghadapi dengan jiwa besar dan pikiran yang lapang. Perlu dipahami, perkembangan yang terjadi dalam masyarakat kita juga bagian dari perkembangan umat manusia di seluruh dunia.

Di Asia Tenggara banyak negara yang telah melangkah lebih maju di negara kita, berkaitan dengan sumber daya manusia, tersedianya lapangan kerja, keadilan hukum, kemmakmuran yang adil dan merata. Itulah ancaman terhadap Pancasila dan UUD 1945, jika kita belum mampu melaksanakannya secara baik dan jujur.

Di wilayah yang lebih luas lagi, yakni di negara-negara industri maju. Di negara-negara itu telah terjadi proses peralihan dari masa perindustrian ke masa setelah perindustrian (post-industrialism). Ciri dari masa ini diantaranya majunya peranan pengetahuan dan informasi yang menggunakan komputer untuk mengumpulkan, menyimpan, mengirim, memilih kembali dan memakai pengetahuan. Untuk kebutuhan itu membutuhkan tenaga manusia yang handal.

Di sisi lain, negara-negara industri seperti Amerika masyarakatnya sangat konsumtif. Mereka hidup sangat boros. Penduduk Amerika yang jumlahnya enam persen dari jumlah penduduk dunia menghabiskan lebih dari separuh bahan mentah yang dipergunakan seluruh dunia tiap tahunnya. Ditambah biaya untuk binatang peliharaan mereka. Sementara penduduk di belahan dunia lain, seperti Indonesia sangat kekurangan dan miskin, dibiarkan menonton pertunjukkan kemewahan gaya hidup mereka sampai kiamat?

Kembali ke masalah yang terjadi di Indonesia. “…kita memerlukan manusia-manusia berjiwa besar untuk dapat memahami dan mencari jalan keluar dari pelbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Kita harus dapat merasakan, bahwa keresahan, kritik, dan hasrat-hasrat yang dicetuskan mahasiswa di seluruh Indonesia dewasa ini didorong oleh kenyataan-kenyataan sebenarnya. Berdosalah kita semua jika kita menutup mata, pikiran dan hati kita terhadap kenyataan-kenyataan hidup di tanah air kita.” (h. 36)

Di negara kita ini, terutama berkaitan dengan kebijakan ekonomi sangat jauh dari berorientasi kepada rakyat. Sebab yang diberlakukan sistem ekonomi kapitalis yang memberi peluang kepada kaum pemodal kuat untuk lebih kuat dan besar, sementara rakyat banyak semakin terpinggirkan.

Di akhir tulisannya Muchtar Lubis mengatakan, “Persoalan hakiki yang dihadapi bangsa kita sekarang ialah seluruh hari depan bangsa kita”.

Lalu lanjutnya, alangkah baik jika bangsa kita mengurangi ketergantungan pada pinjaman-pinjaman luar negeri dari tahun ke tahun. “Tidakkah telah tiba waktunya kita belajar mengelola sumber-sumber manusia, sumber-sumber alam, dan sumber-sumber keuangan kita lebih efisien, lebih hemat dan lebih tepat mengenai sasaran-sasaran? ”

 Nusantara, 12-12-2015

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Humaniora, Indonesia dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bangsa Indonesia

  1. luaydpk berkata:

    All, Terima kasih telah mampir di laman ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s