Neokolonialisme, Mentalitas dan Masa Depan Bangsa

Bung Karno pernah melontarkan istilah neokolonialisme dahulu dan  agaknya masih relevan dengan keadaan Indonesia saat ini. Ia mengatakan itu karena penjajahan yang ia alami bersama kawan-kawannya terlihat secara fisik, perang dengan senjata dan diakhiri dengan diplomasi mudah dikenali. Mereka yang tampil dalam diplomasi telah terdidik dalam bahasa dan cara berpikir kaum penjajah sehingga mereka bisa keluar menjadi pemenang.

Namun, zaman setelah merdeka dan ketika Bung Karno tak lagi berkuasa negara ini jatuh ke tangan belum jelas berjuang pun secara diplomasi. Hasil perjuangan Bung Karno dan kawan-kawan lenyap begitu saja. Inilah keadaan ketika Indonesia jatuh ke dalam cengkraman neokolonialisme. Model penjajahan ini yang dikendalikan adalah mentalitas kaum pribumi.

Bung Karno paham, apapun bentuknya penjajahan itu tujuannya satu, menguasai baik fisik maupun jiwanya. Itu artinya manusianya dan kekayaan alamnya. Oleh karena itu ketika Bung Karno dijebloskan ke penjara oleh kolonial Belanda di Bandung ia mampu melawan dengan pikiran yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan itu sekaligus sebagai pembelaan di depan sidang pengadilan, “Indonesia Menggugat”, (baca Cindy Adam).

Ia membuktikan, bahwa fisik dapat saja dipenjara namun pikiran tak bisa dibunuh. Itulah jiwa seorang pejuang. Perjuangan fisik adalah refleksi dari kekuatan jiwa untuk berontak melawan penindasan kaum kolonial. Ketika fisik telah terbebas, ia mengingatkan, jangan sampai mentalitas kaum pribumi dikuasai mereka.

Merdeka pada awalnya adalah suatu ide dalam pikiran yang kemudian digaungkan untuk menjadi kesadaran bersama. (Asvi W Adam, 2010, h. 54)

Mentalitas Pejabat


Ketika Indonesia terlahir perjuangan harus dilanjutkan. Siapapun ia ketika menjadi pemimpin atau pejabat ia harus memiliki kesadaran sejarah, bahwa bangsa ini terbentuk melalui proses yang panjang. Indonesia sebagai negara muncul bukan hadiah dari bangsa-bangsa asing yang menjajah dulu. Tetapi ia lahir dari perjuangan dan kesepakatan bersama untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Sejarah dari semua bangsa di dunia pada dasarnya adalah perjuangan untuk menjadi manusia merdeka. Begitu juga dengan bangsa Indonesia terbentuk dari usaha untuk mmbebaskan diri dari cengkraman kaum penjajah. Sebagai kaum terjajah harus tunduk, menjadi budak dan menuruti keinginan kaum penjajah. Tenaga dieksploitasi untuk kepentingan mereka dan kekayaan alam juga dikuras untuk kemakmuran negara para penjajah. Sementara kehidupan kaum terjajah sebagai masyarakat kelas dua sangat miskin dan memilukan. (Robert van Niel,2003)

Kemiskinan itu adalah bukan sesuatu yang alami namun diciptakan oleh kaum kolonial. Bagi seorang pribumi yang memiliki jiwa pejuang tentu ia tidak akan menerima keadaan itu, tidak tinggal diam dan ia berpikir bagaimana membebaskan masyarakatnya dari cengkraman kaum penindas. Tapi mereka yang berjiwa budak bukan justru melawan malah untuk ikut menikmati keadaan itu dengan bergabung dengan kaum penjajah, tak perlu susah berjuang dan yang penting dapat menikmati kesenangan.

Bagi kita saat ini kaum pribumi yang telah berjuang membebaskan masyarakatnya dari kekuasaan kaum kolonial kita memberi hormat dengan sebutan pahlawan, namun bagaimana dengan mereka yang menggabungkan diri dengan para penjajah? Atau sebaliknya dari kaum kolonial tetapi ia berbalik membela perjuangan kaum pribumi, seperti Douwes Dekker? Tentu kita mengapresiasi apa yang telah dilakukan Douwes Dekker terhadap bangsa ini dan tidak melihat darimana ia berasal. Ia orang Belanda yang memiliki poin sebagai pahlawan. (Subagio Sastroardoyo, 1983)

Jika saat ini muncul seorang pahlawan, itu artinya bukan pahlawan berjuang dengan senjata, tapi ia yang mampu membebaskan bangsa ini dari cengkraman kekuasaan asing yang menjadikan bangsa ini miskin. Mengapa kekuasaan asing mampu mencengkram bangsa ini? Sebab masih banyak mentalitas pejabat yang belum terbebaskan, atau pikiran merdeka dengan gampang memberikan kewenangan kepada asing untuk menguras habis (merampok) kekayaan alam, dari Aceh sampai Papua. Mereka menganggap orang asing dari ras kulit putih lebih unggul, sehingga kaum pribumi perlu diajari dan dibimbing.

Mereka percaya bahwa kaum pribumi tak rasional dan pemalas. Padahal itu mitos yang ditebarkan oleh kaum kolonial agar mereka bisa mempertahankan penjajahan! (baca, SH Alatas, Mitos Pribumi Malas,1988)

Masa Depan Kesejahteraan Rakyat
Bangsa Indonesia harus bangga bahwa mereka bukan bangsa yang malas dan bodoh, sebab mereka mampu mengusir kaum penjajah dan meraih kemerdekaan. Tinggallah bagaimana bangsa ini menata masa depan.

Masa depan bangsa ini bergantung kepada pemimpinnya. Ia ibarat nahkoda yang membawa para penumpangnya melaju ke masa depan. Jika di depan ada badai atau rintangan apakah ia akan diam saja atau akan mengarahkan laju kapal ke arah yang benar, sehingga tidak oleng dan karam. Jika ia seorang pemimpin yang amanah tentu ia akan mengajak kaum cendikia yang memiliki visi yang sama untuk membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik, terciptanya keadilan dan kesejahteraan.

Keadilan dan kesejahteraan itulah yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini (founding fathers) yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Untuk memastikan cita-cita para pendiri bangsa yang juga menjadi harapan rakyat Indonesia itu terwujud pemimpin harus berusaha membuang rintangan yang menghadang dan ingin membelokan cita-cita itu. Jika rintangan itu telah dihalau maka tinggallah bangsa ini mengonsolidasi diri untuk menjadi bangsa adil dan sejahtera. Jika kendala dari luar dan dari dalam diri belum dihilangkan akan sulit bagi bangsa ini mencapai cita-cita itu.

Cita -cita tersebut akan tercapai dengan kekuatan bersatu bangsa ini sehingga mampu menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera. Sejatinya kaum kolonial baru (neokolonialisme)  sama saja dengan kolonial klasik selalu mencari celah bagaimana mengadu domba antarpribumi dan kemudian menguasainya (devide et impera).

Nusantara, 31 Oktober 2015
Anak bangsa

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Belajar Sejarah, Indonesia dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s