Sastra pada zaman Kolonial Hindia Belanda (The Literature of the Netherlands Indie Colonial Periode)

Ketika Belanda melakukan penjajahan terhadap wilayah Nusantara pada sekitar abad 18 dalam lapangan kebudayaan dan khususnya sastra yang berkembang adalah sastra Hindia Belanda. Kebanyakan karya itu ditulis dalam bahasa Belanda oleh orang Belanda sendiri dan Indo, dan ada beberapa yang ditulis kaum pribumi namun hanya kecil. Pada zaman ini dalam karya roman banyak dikisahkan mengenai orang Belanda sendiri atau keturunan sebagai tokoh utama, sedangkan kaum pribumi hanya disinggung sekilas atau sebagai figuran.

Dengan membaca karya sastra pada masa Hindia Belanda kita akan mendapatkan gambaran mengenai kehidupan zaman itu. Bagaimana kehidupan kaum Belanda, Eropa, Indo dan kaum pribumi. Juga terlukis mengenai struktur masyarakat pada zaman kekuasaan Belanda itu.

Salah satu karya yang terkenal Max Havelaar karya Multatuli atau Douwes Dekker. Karya ini mengisahkan kehidupan di tanah jajahan yang dilihat oleh penulis sendiri. Ketika karya itu akhirnya diterbitkan menjadi gempar dan banyak diperbincangkan para sastrawan di negeri Belanda. Subagio Sastrowardoyo mengatakan, ada perbedaan sastra yang berkembang di negeri Belnda sendiri dan negeri jajahan, Hindia Belanda. Di negeri Belanda sastra yang berkembang yang ditulis dengan bahasa yang teratur, kaku dan kurang menarik. Kebanyakan ditulis para birokrat, kalangan gereja. Namun, di Hindia Belanda seperti karya Multatuli itu menggunakan bahasa yang bebas, hidup dan lebih ekspresif. (1983, h. 46)

Karya-karya roman zaman ini banyak mengisahkan mengenai kehidupan alam Nusantara yang masih asli tentang kehidpan pedesaan. Di dalam karya Multatuli dikisahkan Saijah dan Adinda, yang mengalami cinta yang terputus akibat keganasan kekuasaan kolonial Belanda.

Dari segi amanat, karya itu melukiskan kehidupan rakyat di Hindia Belanda yang menderita dan pembaca dituntut perhatiannya untuk memperhatikan nasib mereka.

Di negeri Belanda karya itu mendapat tanggapan beragam, ada yang pro dan kontra. Namun, akhirnya karya itu dapat mempengaruhi kebijakan di Hindia Belanda yang dikenal dengan ‘politik etis’. Kebijakan baru itu sebagai pengganti cultuur stelsel (tanam paksa) yang menimbulkan kesengsaraan rakyat di negeri jajahan.

Pengarang-pengarang Indonesia pun banyak mngisahkan mengenai alam Indonesia yang masih asli dan kemudian datang huru-hara dari luar, atau gangguan. (Subagio, h. 194) Roman-roman itu kebanyakan mengisahkan tentang cinta yang terputus, sebut saja Siti Nurbaya, Salah Asuhan dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Depok, 15 Mei 2014 Lu’ay


Sumber Rujukan

Subagio Sastrowardoyo, Sastra Hindia Belanda dan Kita, (Jakarta: BP, 1983)
Multuli, Max Havelaar (Jakarta: Djambatan,), terj. HB Jassin
Ajip Rasidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, (Bandung: Binacipta, 1991)

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di bahasa, Indonesia dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sastra pada zaman Kolonial Hindia Belanda (The Literature of the Netherlands Indie Colonial Periode)

  1. luaydpk berkata:

    Thank you all brothers for liking thid post, this about Multatuli in Hindia Belanda periode, before Indonesia feedom!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s