Gerakan 1 Oktober 1965

Mengenai gerakan 1 Oktober 1965, khususnya yang berkaitan dengan pangkalan udara Halim Perdanakusuma. Kisah ini membuka fakta baru berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada masa itu. Selama Presiden Sukarno di PAU Halim pada tanggal 1 Oktober itu ia berada di Markas Koops, didampingi Laksdya Omar Dani. Presiden Sukarno tidak berkumpul dengan DN Aidit, Sjam, Pono, Bono, Letkol Inf. Untung, Kol.Inf. latief, Mayor Udara Sujono dan para pimpinan G 30 S lainnya.

Pada pukul 10.00 WIB Brigjen Supardjo tiba-tiba menemui Presiden Sukarno untuyk meminta restunya untuk memberi dukungan terhadap G 30 S, namun presidden menolak permintaan itu. Lalu Presiden Sukarno pindah ke kediaman Komodor Udara Susanto, dan Presiden memanggil Dr. Leimena, Waperdam II Sutardio, Jakgung, Men/Pangal laksda Laut RE Martadinata, Men/Pangak, Inspektur Jend. Polisi Sutjipoto Yudodihardjo, dan para pejabat lain, untuk mengadakan pembicaraan.

Sementara Aidit, Kusno, Iskandar Subekti, dan Bono disembunyikan di rumah Sersan Udara Suwardi oleh mayor Udara Sujono di komplek PPP dan PAU Jakarta yang ada di kawasan  PAU Halim, sedangkan Sjam, Pono, Brigjen Suparjo, Kol. Inf. Latief, Letkol Udara heru Atmojo, mayor Udara Sujono, mayor Inf. Sukirno dan Mayor Inf. Bambang Supeno berada di Central Komando I, yang menggunakan gedung penas, di Jalan Jakarta Bypass.

Di selatan PAU Halim, terdapat dua lokasi yang berbeda tapi menggunakan nama Lubang Buaya. 1, lapangan Lubang Buaya yang tahun 1964 digunakan sebagai Dropping Zone (DZ) demontrasi dalam terjun payung pada HUT XIX ABRI, terletak di luar pagar Ring I PAU Halim, termasuk kawasan PAU Halim, dan 2, desan Lubang Buaya, yang sekarang dijadikan Museum Pancasila Sakti, yang terletak di luar kawasan dan tanggung jawab PAU Halim. Tempat ini menjadi tempat latihan dan basis pasukan G 30 S.

Untuk melaksanakan aksi mereka mencuri senjata dan juga menggunakan kendaraan yang disimpan di gudang.

Lalu, untuk menghilangkan saling curiga di antara angkatan bersenjata, maka Presiden Sukarno, melalui siaran RRI pukul 01.00 tanggal 4 Oktober 1965 menyampaikan amanat, yang isinya antara lain: pertama, ada beberapa kesalahpahaman yang dapat menimbulkan pertentangan antara pihak-pihak dalam angkatan bersenjata. Untuk menghilangkan keragu-raguan masyarakat serta untuk membina kesatuan dan persatuan nasional, diumumkan bahwa tuduhan terhadap AURI tentang tersangkutnya dalam G 30 S adalah tidak benar. Dua, kepergian Presiden ke PAU Halim tanggal 1 Oktober 1965 adalah atas kehendak sendiri, agar apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, beliau dapat diterbangkan ke tempat yang lebih aman. Ketiga, harus waspada jangan sampai AURI dan AD dapat diadu domba. Keempat, diperintahkan agar semua anggota angkatan bersenjata bersatu padu dengan keselamatan negara dan revolusinya. (Artides Katoppo, dkk. Menyingkap Kabut Halim 1965 (Jakarta: SH, 2000).

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Belajar Sejarah, Indonesia, sejarah dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Gerakan 1 Oktober 1965

  1. Ajaytao2010 berkata:

    Nice reading about you

    Thanks for visiting my blog. Be in touch. Browse through the category sections, I feel you may find something of your interest.

    Happy New Year !!!!!!! and best wishes for you in 2014🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s