Snouck Hurgronje dalam Sejarah Indonesia

Tahun 1889 Snouck Hurgronje[1] berangkat ke Hindia Belanda, untuk masa 2 tahun, mempelajari agama Islam di Indonesia. Atas laporan-laporannya yang baik mengenai alam pikiran orang Jawa dan Islam di Jawa tahun 1891 ia mendapat jabatan penasehat untuk bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam. Tahun itu bulan Juni ia berangkat ke Aceh, dan kurang setahun kemudian kembali di Batavia. Setelah dari Aceh ia menulis De Atjehers (2 jilid, 1893-4). “Karya itu merupakan penerobosan, baik karena artinya untuk pengetahuan tentang Islam di Hindia Belanda, maupun karena pembahasan bangsa Aceh sampai ke sumsum kehidupannya. Pembahasan itu memberi landasan untuk pasifikasi di kemudian hari. Keakraban Snouck dengan Aceh dan bahasa Aceh bermula di Mekah, di mana rumah yang ditempatinya terletak di seberang “hotel” orang Aceh, yang dikunjunginya setiap hari,” kata Wensink.

Pada tahun-tahun selanjutnya ia secara bergantian berada di Batavia dan di Aceh.

Tahun 1906 Snouck mengajukan permohonan cuti ke Eropa yang dikabulkan, karena ia membutuhkan waktu istirahat. Baru samapai di Belanda ia ditawari jabatan guru besar bahasa Arab di Leiden, dan ia menerima jabatan itu.  Tahun 1913 ia memberikan serangkaian ceramah tentang Islam atas undangan American Committee for Lectures on the History of Religions.

Antara tahun 1920-1922 Snouck sibuk menjalankan tugas sebagai sekretaris Senat dan Rektor Universitas di Leiden, dan dalam pengukuhannya ia berpidato dengan judul “De Islam en het rassenprobleem” (Islam dan masalah rasialisme). Dan pada tahun 1927, pada saat ulang tahunnya ia mendapat hadiah sejumlah uang dari kawan-kawannya. Uang itu ia gunakan membangun Lembaga Ketimuran (Oostersch Instituut).

‘Politik Islam’ Hindia Belanda

Snouck menangani masalah kebijaksanaan politik pemerintah Hindia Belanda tentang Islam pada masa kolonialisme. Untuk mempertahankan kekuasaannya pemerintah Hindia Belanda melakukan berbagai cara, di antaranya ide politik Islam dari tokoh kolonialis-orientalis Snouck Hurgronje. Ia banyak meneliti tentang penduduk pribumi dan setelah ia berpengalaman di Timur Tengah,  ia memberikan nasehat-nasehat terhadap pemerintah Hindia Belanda  untuk menangani pribumi dan terutama Aceh.

Yang semula penjajah selalu berdasar rasa takut dan tidak ikut campur dalam melihat Islam. Dengan penerapan Politik Islam di mana  Snouck Hurgronje sebagai peletak dasar, maka pemerintah Hindia Belanda memiliki pola bagaimana menangani Islam. Terhadap urusan ibadah pemerintah kolonial bersikap netral, namun dalam masalah politik umat Islam harus dijaga dan dijauhkan. Para penasehat bekerja di Kantoor voor Inlandsche zaken yang bertugas memberikan nasehat kepada Gubernur Jenderal urusan pribumi.[2]

Snouck Hurgronje dan Islam

Peran Snouck dalam menyokong kolonialisme Belanda di Indonesia sangat besar. Untuk keperluan itu ia meneliti Islam Nusantara dan ia berusaha masuk ke pusat Islam, Makkah. Ia bermukim di sana, selama kurang lebih enam bulan, untuk mengumpulkan informasi mengenai kaum muslim Jawa di kota itu. Ia dibantu Sayyid Usman.

Mengapa Snouck berhasil masuk ke Makkah? Koningsveld mengungkapkan bahwa Snouck dengan keahliannya dapat mengecoh ulama-ulama Makkah, bahwa ia seorang muslim, dengan nama samaran Abdul Gaffar. Hasil penelitiannya itu, dan di Aceh kemudian, ia gunakan untuk bahan nasehat-nasehat tentang bagaimana menangani kaum muslimin kepada pemerintah Hindia Belanda.[3

Polemik tentang Peran Snouck Hurgronje

Oleh generasi sesudah perang para tokoh yang memiliki peran penting dalam politik kolonial Belanda disorot, di antaranya Snouck Hurgronje. Sarjana yang yang melancarkan kritik terhandap Snouck ialah PS. van Koningsveld. Ia seorang peneliti ahli dalam sejarah Islam pada Fakultas Theologis, Universitas Leiden, Belanda. Ia memberikan ceramahnya mengenai Snouck Hurgronje tentang perannya dalam politik kolonial, dengan mengajukan beberapa pertanyaan: 1) apakah tujuan SH pergi ke Makah untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam ataukah menjalankan tugas pemerintah kolonial serta menjalankan penelitiannya?; 2) apakah motivasi SH masuk agama Islam (dengan nama Abdul Gafur)?; 3) bagaimana pendirian SH terhadap Islam di Indonesia, melindungi atau memerangi?; 4) bagaimana sikap SH terhadap pribumi?

Dalam ceramahnya yang kemudian disiarkan Koningsveld mengatakan bahwa SH selama di Tanah Suci Makah untuk menyelidiki gerak-gerik para haji pribumi dari Hindia Belanda. Penyelidikannya itu membantu penyusunan laporannya mengenai Aceh, yang kemudian menjadi buku De Atjehers. Dalam jilid kedua dipersoalkan Koningsveld karena SH tidak mnyebutkan sumber datanya.

Ia didatangkan ke Hindia Belanda setelah terjadi pemberontakan di Cilegon, Banten (Juli 1888). Pendirian SH, kata Sartono Kartodirdjo, ada relevansinya dengan peristiwa itu. Di kalangan pemerintah Belanda sendiri penuh Islamo-phobia serta kiai-phobia.[4]

Menurut Koningsveld masuk Islamnya SH untuk tujuan memasuki kota Makah, untuk menyelidiki jamaah haji Hindia Belanda. Di samping tujuan itu, SH mengikuti cara Ignaz Goldziher yang mempelajari Islam dari dalam.[5]

Pandangan SH mengenai pribumi bahwa kaum pribumi perlu diemansipasi dari keterbelakangan, yang dikenal dengan “politik asosiasi”. Namun, dengan munculnya pergerakan nasional, politik asosiasi mengalami kegagalan. [6]

Depok, 3 Agustus 2013


[1]Snouck Hurgronje, lahir di Oosterhont 8 Februari 1857 dan meninggal dunia di Leiden 26 Juni 1936. Ia orientalis dan penasehat pemerintah Hindia Belanda, mengikuti kuliah teologi dan kesusastraan Semitis dengan disertasi berjudul Het Mekkaansche Feest (Perayaan Mekah) 24 November 1880, dengan promotor De Goeje.

[2] H Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda,(Jakarta:LP3ES, 1985), h. 11

[3]Snouck Hurgronje dan Islam, (Jakarta: Girimukti P, 1989), terj.

[4] Sejak Indische sampai Indonesia, h.232; Sartono Kartodirdjo menulis distertasi mengenai “Pemberontakan Petani Banten 1888”.

[5]Snouck Hurgronje dan, h. 130

[6] Sejak…, h. 234

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Indonesia, Islam, Kolonialisme, orientalisme, sejarah dan tag , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Snouck Hurgronje dalam Sejarah Indonesia

  1. yisha berkata:

    postingan keren, terlalu keren untuk otak yisha…….. :mrgreen:

  2. yudi berkata:

    Artikelnya bagus, pak. Perkenalkan saya yudi dari penerbit dastanbooks. Apakah mungkin bapak memperpanjang artikel ini menjadi sebuah buku? Kalau mungkin, kami mau menerbitkannya.
    Mohon nomor hp atau pin bbm atau whatsapp atau emailnya pak biar kita bisa komunikasi lebih lanjut.

    Terimakasih
    Yudi
    081990913737

  3. abyan berkata:

    apik karyane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s