Keindahan Bahasa Al-Qur’an

Bangsa Arab kehidupannya nomad, keras, bepegang pada adat, bersuku-suku dan gemar berperang dan banyak lagi. Namun, bangsa Arab yang tidak memiliki budaya baca-tulis mempunyai kelebihan dalam bahasa, syair, pepatah dan cerita.[1]

Setelah bangsa Arab menerima Islam kehidupan mereka berubah. Pertama, pengaruh yang datang dari ajaran Islam sendiri yang berbeda jauh dengan keyakinan bangsa Arab. Kedua, pengaruh secara tak langsung. Setelah mereka menerima Islam bangsa Arab dapat menguasai daerah-daerah Persia dan Romawi sebelum kedua bangsa tersebut mencapai kebudayaan yang tinggi. Dengan penaklukan itu memungkinkan bangsa Arab memperhatikan tata pemerintahan maupun kegiatan pengetahuan dan lain-lainnya, yang kemudian merembes ke dalam masyarakat Islam yang akhirnya mempengaruhi pemikiran mereka.[2]

Kitab suci ini diterima oleh bangsa Arab.

Lalu apakah Al-Qur’an itu? “Al-Qur’an adalah kalam (firman) Allah yang sekaligus merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab, yang sampai kepada umat manusia dengan cara al-tawatur (langsung dari nabi Muhammad Saw kepada orang banyak), yang kemudian termaktub dalam bentuk mushaf, dimulai dari surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas.”[3] Oleh karena dalam bahasa Arab maka terjemahannya ke dalam bahasa lain di dunia bukanlah Al-Qur’an, tapi disebut terjemahan Al-Qur’an.

Kitab ini sebagai wahyu yang diterima nabi Saw. “Al-Qur’an secara cermat menamakan apa yang diturunkan Allah ke dalam hati nabi Muhammad Saw sebagai “wahyu”, yaitu suatu lafadz yang mengandung keseragaman makna wahyu yang diturunkan kepada semua nabi dan rasul.”[4] Dalam Al-Qur’an sendiri ditegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu, dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” [5]

 

Bangsa Arab yang memiliki kepandaian bersyair tersentak ketika mereka untuk pertama kali mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh nabi Muhammad Saw. Di antara orang yang terpesona oleh keindahan bahasa Al-Qur’an adalah Umar bin Khattab. Dalam kehidupan awalnya ia mengikuti kehidupan Jahiliah, seperti minum khomer, membunuh dan lainnya, juga ia orang yang sangat keras dan ditakuti. Ketika itu ia ingin berbuat jahat terhadap Muhammad saw. Ia menyelinap di balik kain Ka’bah. Umar ra. mengatakan, “Tidak ada jarak antara diriku dengan Muhammad kecuali hanya dibatasi oleh kain Ka’bah saja. Saat aku mendengar Al-Qur’an maka luluh hatiku sehingga membuat aku menangis. Sejak itu aku masuk Islam.”[6]

Dan dalam kisah yang lain, ketika itu Umar  keluar rumah menghunus pedangnya mencari Rasulullah saw. Ia ditemani para sahabatnya berjumlah 40 orang, laki-laki dan perempuan. Namun, di tengah jalan ia bertemu Naim bin Abdullah dan ia diberitahu bahwa iparnya Zaid bin Amr dan saudarinya Fatimah bin Khattab keluar dari agama mereka. Mendengar berita itu, ia lalu mendatangi mereka berdua di rumahnya. Mereka berdua sedang dibacakan Al-Qur’an oleh seseorang. Umar mencengkram langsung mereka berdua. Lalu ia merebut lembaran itu dan setelah ia membacanya, sepenggal ayat dari surat Thaahaa. Umar berkata,” Betapa indah dan mulianya kalimat ini!” Kemudian ia pergi menemui Nabi Saw dan menyatakan keislamannya.[7]

Kisah kedua bertolak belakang dengan Umar ra., al-Walid ibnul Mughirah. Ia mendengar beberapa ayat Al-Qur’an yang membuat hatinya hampir luluh. Lalu kaum Quraisy berkata, jika Walid keluar dari keyakinan kita maka semua kaum Quraisy akan keluar dari keyakinannya. Oleh karena itu kaum Quraisy mengirim Abu Jahl kepada Walid untuk mengingatkannya. Abu Jahl meminta kepadanya untuk mengomentari Al-Qur-an sehingga kaum Quraisy mengerti bahwa Walid benci terhadap Al-Qur-an. Kemudia ia berkata, “Apa yang harus aku komentari? Demi Allah, tidak seorang pun di antara kamu yang lebih mengerti tentang syair daripada aku. Juga tentang susunannya, lantunannya, dan juga tentang syair-syair jin. Demi Allah, tidak ada perkataan pun yang menyerupainya. Demi Allah, ucapan dalam Al-Qur-an amat manis dan indah. Bacaan tersebut bisa mengalahkan semua yang di bawahnya. Dan ia mampu mengungguli segalanya.” Kemudian Abu Jahl berkata, “Demi Allah, kaummu tidak akan puas sehingga engkau berkomentar tentang Al-Qur-an.” “Kalau begitu, biarkan aku berpikir sejenak”, kata Walid. Ketika ia berpikir ia berujar, “in hadza illa sihrun yu’tsar (Al-Qur-an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari).[8]

“Sihir yang dipelajari, yang mampu memisahkan seorang suami dari istrinya, anaknya dan keluarganya… itulah ucapan orang yang mundur dan berpaling dari Islam. Seorang yang angkuh dan tidak mau masuk Islam bersama nabi Muhammad. Merasa bangga dengan nasab, harta dan anaknya’” kata Quthb. Lalu katanya lagi, “Di sinilah bertemu kisah kekufuran dan kisah keimanan dalam pengakuan terhadap daya magis yang dimiliki Al-Qur-an.[9] Dada Umar menjadi lapang untuk menerima kebenaran Islam, sedangkan Walid tertutup oleh kesombongan yang ia miliki. Mereka sama-sama mengakui kebenaran dan kekuatan daya magis Al-Qur-an, namun jalan yang ditempuh keduanya berbeda.

Quraish Syihab mengatakan, bahwa Al-Qur-an dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, namun juga kandungannya yang tersurat dan tersirat dan bahkan kesan yang ditimbulkannya. Ia memberi contoh. Dalam Al-Qur-an terdapat kata hayat terulang 145 kali sebanyak lawannya maut, kata akhirat terulang 115 kali sebanyak kata dunya, kata malaikat terulang 88 kali sebanyak kata setan, kata thuma’ninah (ketenangan) terulang 13 kali sebanyak kata dhiya (kecemasan) dan kata panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin, dan seterusnya.[10]

Wallahu ‘alam bishawwab.

Tambahan: Seorang ahli musik klasik, Romario, pernah meneliti pengaruh suara bacaan Al-Qur’an pada manusia di Andalusia (Spanyol) dan setelah beberapa lama ia mendapatkan hasil bahwa bacaan Al-Qur’an dapat menenangkan jiwa. Setelah diteliti lebih lanjut menggunakan alat canggih suara bacaan Al-Qur’an itu membentuk not-not yang sangat sempurna. Lalu ia menyimpulkan bahwa Al-Qur’an tak mungkin hasil ciptaan manusia.

 

Depok, 22 Ramadhan 1434 H/ 31-7-2013 M


[1] Ahmad Amin, Fajar Islam, terj. h. 65

[2] Ibid., h. 93

[3] Azyumardi Azra, Ed. Sejarah dan Ulumul Qur’an, h.39

[4] Subhi Shaleh, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Quran, terj. h.17

[5] QS An-Nisa: 163-164. Allah berbicara langsung dengan nabi Musa a.s. merupakan keistimewaan nabi Musa a.s., dan Karena nabi Musa a.s. disebut: Kalimullah sedang rasul-rasul yang lain mendapat wahyu dari Allah dengan perantaraan Jibril. dalam pada itu nabi Muhammad s.a.w. pernah berbicara secara langsung dengan Allah pada malam hari di waktu Mi’raj.

[6]  Sayyid Qutb, Indahnya Al-Qur’an Berkisah, terj. h. 7

[7] Ibid., h. 8

[8] Ibid., 9

[9] Ibid., 10

[10] Wawasan Al-Qur-an, h. 4

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Al-Quran, bahasa, Islam dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Keindahan Bahasa Al-Qur’an

  1. yisha berkata:

    kaka bisa merasakannya?

  2. luaydpk berkata:

    Thank you all for liking this article, semoga bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s