Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi

Mutawalli Asy-Sya’rawi lahir di desa Daqadus, prov. Daqliyyah, Mesir, 15 April 1911. Ayahnya Syekh Abdullah Al-Anshari mendorong snsknys untuk menjadi ahli agama. Untuk itu ayahnya menyerahkan Mutawalli Asy-Sya’rawi kecil kepada Syekh Abdul Majid Basya, seorang guru penghapal Al-Quran di desanya.

Ketika kecil Syara’wi memiliki hapalan yang kuat. Oleh karena itu guru mengajinya sering menyebut namanya dan menganjurkan teman-temannya untuk menirunya. Umur 11 tahun Al-Quran telah dihapalnya.

Kemudian Syara’wi melanjutkan belajarnya di Aliyah A-Azhar cabang Zaqaziq. Ketika itu ia sempat menjadi ketua organisasi pelajar, dan pada tahun 1934 ia memimpin demontrasi menuntut turunnya sang raja, Muhammad Fuad. Inilah yang membuatnya ditangkap, dengan beberapa temannya, dan dipenjara selama satu bulan.

Setelah menyelesaikan studinya di sekolah tingkat atas, beliau melanjutkan studinya di Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo. Beliau menyelesaikan sarjana pada tahun 1941. Tahun 1943 ia mendapat izin untuk mengajar dan ditunjuk untuk mengajar di sekolah agama yang berada di bawah naungan Al-Azhar.

Pada tahun 1850 ia diutus untuk menjadi dosen di Arab saudi pada Fakultas Syariah Universitas Ummul Qura, Makah. Namun, tahun 1960 ia dan semua pengajar dari Al-Azhar ditarik kembali ke Mesir, karena terjadi perselisihan antara Abdu Naser dan Raja Sa’ud. Sekembali dri Arab Saudi , tahun 1962 ia ditunjuk sebagai direktur dakwah di Departemen Agama dan merangkap sebagai pengawas untuk pengajaran bahasa Arab di Al-Azhar dan menjadi ketua di kantor Syekh Hasan Ma’mun, Syekh masjid Al-Azhar.

Bersama rombongan yang ia pimpin, oleh pihak Al-Azhar Syara’wi diutus ke Al-Jazair untuk berdakwah. Ketika sampai di negara itu ia mendapati fenomena yang tidak baik. Yakni bahasa Arab yang telah bahasa ibu masyarakat akan diganti dengan bahasa Prancis, sebagai bahasa resmi negara. Melihat hal tersebut ia mengingatkan masyarakat kan pentingnya kembali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa salah satu identitas negara Islam. Usaha itu mendapat tanggapan yang baik dari penduduk Al-Jazair.

Setelah kembali ke Mesir beliau ditunjuk menjadi ketua Dept. Agama cabang Provinsi Gharbiyah. Tahun 1970 ia diminta kembali oleh kerajaan Arab Saudi untuk mengajar di Universitas King Abdul Aziz.

Pada tahun 1976 pada masa presiden Anwar Sadat ia ditunuk untuk menjadi menteri Auqaaf (menteri agama).  Ia memprakarsai berdirinya Bank Islam, yang pada tahun sebelumnya 1974 ia salah seorang pencetus berdirinya Bank Dubai Islami. Bank ini kemudian berkembang pesat. Ternyata jabatan sebagai menteri hanya bertahan 2 tahun, karena ia mengundurkan diri ketika menolak usulan undang-undang keluargfa yang bertentangan dengan syari’at Islam dan akan mengakibatkan kehancuran rumah tangga. Karya tulisnya tidak banyak sebab ia lebih banyak berdakwah secara lisan di tengah-tengah umat. Namun, hasil ceramahnya dibukukan dan mendapat sambutan dari masyarakat dab hasilnya ia sumbangkan untuk kegiata-kegiatan sosial.

Pada hari Rabu 17 Juni 1998 Syekh Sya’rawi wafat di usia 87 tahun dan jasadnya dimakamkan di Mesir.

Di antara karyanya yakni tentang Mukjizat Isyra Mi’raj.

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilinganya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)

Kata subhana di dalam Al-Qur’an seringkali dipakai ketika menyebutkan sesuatu yang memesona, luar biasa, dan merupakan kemu’jizatan. Firman Allah ini merupakan penyucian terhadap Allah. Apa yang dikerjakan-Nya tidak mungkin dikerjakan oleh siapapun, selain oleh Allah Azza Wajalla.

Dan dalam firman-Nya di atas, kata Asy-Sya’rawi, Allah benar-benar menginginkan kita mengetahui bahwa mu’jizat Isra’ dan Mi’raj merupakan perbuatan-Nya. Isra’ dan Mi’raj tidak terjadi oleh kekuatan Muhammad SAW yang manusia. Karenanya surat tersebut diawali dengan: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya.” Hal ini berarti perjalanan Isra’ dan Mi’raj adalah suatu perbuatan Allah Ta’ala yang berada di atas kekuatan akal pikiran. (As-Sya’rawi, hlm. 38)

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata abdihi (yang sepadan dengan ibaad). Hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian kita pada dua hakikat penting, yaitu:

Pertama, peristiwa Isra’ terjadi dengan ruhani dan jasmani, bukan sekedar mimpi dalam tidur. Isra’ merupakan suatu yang dialami oleh Rasulullah SAW secara sadar, terjaga dan dapat diinderanya. Kata abdun dalam istilah bahasa hanya digunakan pada ruhani dan jasmani secara bersamaan.

Kedua, hakikat penting yang tersirat dari kata ‘abdihi adalah Allah Ta’ala ingin menyatakan kepada kita pengabdian kepada-Nya merupakan kelas tertinggi yang bisa dicapai manusia. Seperti penemuan Ibrahim yang berakhir pada Yang Maha Esa adalah melebihi penemuan yang bersifat materi.

Pengabdian kepada Allah dapat mengangkat martabat seseorang di sisi-Nya, tetapi pengabdian terhadap manusia akan menyebabkan suatu kehinaan dan kenistaan. Jika manusia menjadi majikan ia cenderung membuang semua hak-hak hambanya sebagai manusia, sedangkan pengabdian kepada Allah justru akan memberikan rahmat, karunia dan kemuliaan. (Ibid, hlm. 43)  7-9-2012

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s