Syekh Muhammad Nasiruddiin al-Bani

Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Bani, lahir tahun 1333 H/ 1912 M di kota Ashqodar, ibu kota Albania. Ayahnya bernama al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (Istambul). Ketika Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeh Nuh memutuskan untuk berhijrah ke Syam. Keputusan itu diambil untuk menyelamatkan agama dan sekalugus guna menghindari terjadinya fitnah. Keluarga ini menuju Damaskus.

Setiba di kota Damaskus, Syekh al-Bani kecil mulai aktif mempelajari bahasa Arab. Ia masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is-af al-Khairiyah. Usai tamat ia menuntut ilmu langsung kepada para syekh.Dari ayahnya ia belajar Al-Qur’an dan fiqh madzhab hanafi. Selain belajar ilmu-ilmu agama, Al-Bani juga belajar keterampilan untuk memperbaiki jam dari ayahnya. Kelak, karena keahliannya itu, ia dikenal sebagai seorang tukang servis jam yang amat masyhur.

Pada usia 20 tahun, pemuda al-Bani mulai mengonsentrasikan diri pada ilmu hadits. Ia tertarik belajar hadits karena terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, majalah yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min Akhbar. Kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang ada pada kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Kegiatannya dalam bidang ini ditentang oleh ayahnya, dan seraya berkata, ‘”sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan yang orang-orang pailit (bangkrut)”.

Namun, Syekh al-Bani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Oleh karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan al-Dhahiriyah yang berada di pusat kota Damaskus. Hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai ia menutup kios reparasi jamnya. Dalam sehari Syekh al-bani bisa menghabiskan 12 jam membaca buku di perpustakaan al-Dhahiriyah. Tidak pernah beristirahaat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberi memberi sebuah ruangan khusus untuknya. Bahkan kemudia ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Hal ini membuatnya leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pulangnya, ketika orang lain pulang pada waktu dzuhur, al-bani justru pulang setelah shalat isya. Hal ini ia jalani selama bertahun-tahun.

Diceritakan oleh Abu Abdurrahman Muhammad Khatib, pada tahun 1980 Syekh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania), yang kemudia menjadi tempat tinggalnya. Belaiau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia sustu ketika pernah ditawari orang kaya sebidang tanah yang terletak di sekitar kota Amman, namun ditolaknya. Syekh a-bani adalah seorang yang berperangai wara’, selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Ketika beliau menolong orang lalu orang yang ditong memberinya hadiah, Syekh mengutip hadits Rasulullah saw,” Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberika kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti ia telah mendatangi salah satu pintu riba”. Kemudian dibagi-bagikannya hadiah tersebut kepada fakir miskin.

Syekh Albani pernah mengajar pada Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, tahun 1381-1383 H, tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah p[ada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkannya memenuhi tugas tersebut. Pada tahun 1395 -1398 H ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai angota majelis Tinggi Jami’ah Islamiyah di sana.Beliau mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi berupa King faisal Foundation pada 14 Dzulqaidah 1419 H.

Karya karyanya:

Di antaranya ada yang sudah dicetak dan masih berupa manuskrip dan ada yang hilang, semau berjumlah 218 judul. Di antaranya ialah: Adabuz –Zifaf fi As-Sunah al-Muthharah; al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid Jami’ah; Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah; Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah; At-Tawasul wa ama’uhu; Ahkam al-Janaiz wabida’uhu.

Di samping karya tulis, juga terdapat kaset-kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Beliau berwasiat agar karya-karya tulisnya diserahkan ke perpustakaan Jami’ah untuk manfaat dakwah. Pada hari Jumat malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniah 1420 H/ 1 Oktober 1999 M di Yordania Syekh Albani meninggal dunia.

Kitab ini Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah membahas mengenai hadfits dha’if dan maudh’u/ lemah dan palsu. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia menjadi 4 jilid.

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Riwayat hidup, Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s