“Agama dan Ilmu…

“Manusia berenang di lautan ketidaktahuan. Sehingga, ia tak mengetahui saat ini apa yang terjadi dalam bangunan dirinya sendiri, apalagi apa yang terjadi di sekelilingnya, di seluruh alam semesta.”  (Sayyid Qutb, jl.4)

Manusia adalah makhluk spiritual. Ia membutuhkan suatu agama atau keyakinan akan sesuatu yang bersifat transenden. Manusia pada tingkat sederhana membutuhkan sesuatu untuk diyakini, semisal benda mati atau benda hidup. Pada manusia yang sudah maju peradabannya pun polanya hampir sama, hanya pemikirannya lebih rumit. Tetapi motifnya hampir sama.

Agama diyakini pemeluknya untuk menguatkan jiwanya. Ketika seseorang menghadapi masalah duniawi ia akan kembali kepada agama. Jika ia tidak meyakini agama, ia akan memilih antara beragama mengambang atau ateis. Namun, sesungguhnya antara agama dengan ilmu ada perbedaan kita cara memandangnya. Agama diyakini dan ilmu dengan cara meragukannya untuk kemudian mempercayai kebenarannya.

Namun, bagaimana dengan sesuatu benda yang tak dapat dilihat oleh mata, seperti atom, virus atau yang ukurannya nano sebelum kita menyaksikannya? Bagaimana pula dengan sesuatu yang tak dapat diindera, seperti malaikat dan setan? Untuk mengetahui benda fisik yang sangat kecil seperti atom manusia membutuhkan alat berupa teropong pembesar. Sesuatu yang ghaib (tak dapat diindera) manusia dapat informasi dari kitab suci dan perkataan utusan-Nya. Untuk meneliti validitas pesan (wahyu) dari penyampai atau informan (hadits), sehingga kaum beriman menjadi pada posisi yakin. Bahwa sesuatu itu ada bukan karena mampu diindera tapi apa yang dapat diindera adalah hasil kreasi Sang Pencipta yang Sempurna, yang tak mungkin diikuti oleh manusia dan apalagi hewan.

Alam semesta yang terbentang memiliki sistem integral. Semua yang ada mengikuti sistem itu dan tak ada yang keluar darinya. Jika ada salah satu saja yang menyimpang maka akan terjadi kekacauan. Lalu siapa yang menciptakan sisitem tata surya itu? Tentu Yang Maha Tunggal, sebab jika banyak yang menciptakan sistem akan kacau pula alam semesta. Itu artinya alam semesta patuh pada sistem yang diciptakan-Nya.

Salah satu planet dalam tata surya adalah bumi, dimana manusia hidup. Apakah manusia memiliki kepatuhan sebagaimana alam semesta ciptaan-Nya? Manusia memiliki kehendak bebas (free will). Ia bebas memilih jalan hidup mana yang akan ditempuh. Namun, agaknya Tuhan tidak tinggal diam. Oleh karena itu pada setiap masa ada utusan (rasul) yang membawa petunjuk (wahyu) dari-Nya. Wahyu itu setiap beberapa masa di-update, sebab mengalami kerusakan.

Sang Pencipta memiliki nama pribadi disebut Allah, (kata itu menurut sejarawan Agama berasal dari bahasa Aram). Kata ini unik, tak berjenis kelamin, dan tidak seperti kata dalam bahasa lain untuk menyebut Tuhan. Tidak ada kata jamaknya. Tuhan secara logis tak mungkin sama dengan ciptaan-Nya, dan jika sama itu adalah bukan Pencipta. Manusia sebagai ciptaan-Nya tak mungkin menjangkau hakekat-Nya, sebab alam semesta sebagai ciptaan-Nya saja demikian rumit dan misterius.

Banyak hal dari alam semesta yang demikian luas belum terkuak. Manusia hanya mampu menguak sedikit dengan teori-teori yang ia temukan dan kadang ia hanya mengira-ngira.

Agama memberitakan mengenai siapa Pencipta alam semesta, dan ilmu pengetahuan menerangkan apa dan bagaimana alam semesta. Agama meliputi banyak hal, bukan hanya tentang hal yang terlihat juga yang tidak terlihat (ghaib). Ilmu pengetahuan hanya memasuki ranah realitas fisik. Ilmuwan yang sudah mencapai pada kesimpulan bahwa alam semesta ini suatu sistem yang sempurna yang tidak mungkin tercipta dengan sendirinya adalah ilmuwan yang menapaki tangga menuju Tuhan. 

Ilmuwan yang sudah tercerahkan akan memahami dan meyakini adanya Tuhan dan lalu bersyukur kepada-Nya dalam bentuk penyembahan hanya kepadanya Yang Maha Esa (ahad). Ialah Pencipta yang Tunggal. Penyembahan kepada selain-Nya sama saja melecehkan sifatnya Yang Tunggal. 

Ranah agama dan ilmu berbeda,  bukan untuk dipertentangkan, kata orang, tetapi untuk saling melengkapi.

“Ilmu tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu buta”, Einstein

Cibinong, 11-9-2012

luay

Tentang luaydpk

on history.....
Pos ini dipublikasikan di Agama dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke “Agama dan Ilmu…

  1. yisha berkata:

    hmmmmmmm………….
    yisha ngga ngomen ah…….. 😛

  2. mrfzx berkata:

    dalam iman ada perenungan, pencarian itu biasa kata ibnu sina. salam damai, mampir mas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s