Biografi dan karyanya

Muhammad Mustafa A’zami

MUHAMMAD MUSTAFA AL-A’ZAMI, mulai mengenal lebih jauh tentang A’zami ketika saya banyak membaca buku-buku yang banyak mengutip pemikiran-pemikiran beliau seperti buku-buku tentang Kritik Hadis, Tanggapan-tanggapan terhadap pemikiran hadis Orientalis, serta karya-kraya beliau diantaranya Dirasat Fi Al Hadis al nabawi wa Tarikh Tadwin dan lain-lain.

Beliau adalah salah seorang cendekiawan terkemuka di bidang ilmu Hadith, lahir di Mau, India pada awal tahun tiga puluhan. Pendidikan pertama di Dar al-`Ulum Deoband, India (1952), Universitas al-Azhar, Kairo, (M.A., 1955), Universitas Cambridge (Ph.D., 1966). Guru Besar Emeritus (pensiun) pada Universitas King Sa’ud (Riyad) dan beliau pernah menjabat sebagai kepala jurusan Studi Keislaman, dan memiliki kewarganegaraan Saudi Arabia. Profesor A’zami pernah menjabat sebagai Sekretaris Perpustakaan Nasional, Qatar; Associate Profesor pada Universitas Umm al-Qura (Mekah) ;

Sebagai Cendekiawan tamu pada Universitas Michigan (Ann Arbor); Fellow Kunjungan pada St. Cross College (Universitas Oxford) ; Professor Tamu Yayasan Raja Faisal di bidang Studi Islam pada Universitas Princeton, Cendekiawan Tamu pada Universitas Colorado (Boulder). Beliau juga sebagai Professor kehormatan pada Universitas Wales (Lampeter).

Karya-karyanya antara lain, Studies in Early Hadith Literature, Hadith Methodology dan Literaturnya, On Schacht’s Origin of Muhammadan Jurisprudence, Dirasat fi al-Hadith an-Nabawi, Kuttab an­Nabi, Manhaj an-Naqd `ind al-`Ilal Muhaddithin, dan al-Muhaddithin min al­Yamamah. Beberapa buku yang dieditnya antara lain, al-` Ilah of lbn al-Madini, Kitab at-Tamyiz of Imam Muslim, Maghazi Rasulullah of `Urwah bin Zubayr, Muwatta Imam Malik, Sahih ibn Khuzaimah, dan Sunan ibn Majah. Beberapa karya al-A’zami telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Karya yang akan datang antara lain, The Qur’anic Challenge: A Promise Fulfilled (Tantangan AI-Qur’an: Suatu Janji yang Telah Terpenuhi), dan The Isnad System : Its Origins and Authenticity (Sistem Isnad: Keaslian dan Kesahihan­nya).

Pada tahun 1980 beliau menerima Hadiah Internasional Raja Faisal untuk studi keislaman.

Prof. M Mustafa A’zami . Untuk tujuan meng-counter pendapat mereka A’zami menulis sejarah teks Al-Qur’an dan dibandingkan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia mengatakan bahwa kaum orientalis untuk membuktikan naskah Al-Qur’an mengalami perubahan mereka mencurahkan pada aspek naskah bahasa Arab dengan menyentuh segi-segi kelemahannya. Dan perubahan itu terjadi dalam penyusunan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Mereka menuduh bahwa pada periode tersebut terjadi pemalsuan teks asli.  Padahal pada periode itu selain banyak penghapal Al-Qur’an dan mereka pun memiliki naskah tertulis. Sebenarnya anggapan mereka tentang “naskah yang tidak lengkap” tidaklah berpengaruh terhadap keutuhan Al-Qur’an. Berbeda dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang keasliannya diragukan

A’zami melihat  terdapat beberapa pintu gerbang yang digunakan kaum orientalis sebagai alat penyerang teks Al-Qur’an, yang pertama adalah menghujat tentang penulisan dan kompilasinya. Dengan semangat ini mereka mempertanyakan mengapa, jika Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab khawatir dengan kematian para penghapal (huffaz) pada peperangan Yamamah dan memberitahu Abu Bakar akan kemungkinan lenyapnya Kitab Suci ini. Mengapa bahan-bahan yang telah ditulis tidak disimpan oleh Nabi SAW sendiri? Mengapa pula Zaid bin Tsabit tidak memanfaatkan bahan itu untuk menyiapkan Suhuf itu? Meskipun berita itu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan dianggap sah oleh kaum Muslimin, penjelasan itu oleh mereka bahwa apa yang didiktekan sejak awal dan penulisannya dianggap palsu.

Lalu ia mengatakan, “Mungkin karena kedangkalan ilmu, berlaga tolol (tajahul), atau pengingkaran terhadap kebijakan pendidikan kaum Muslimin merupakan permasalahan sentral yang melingkari pendirian mereka.”

Pintu gerbang kedua, yakni masuknya  serangan terhadap Al-Qur’an adalah melalui perubahan besar-besaran studi keislaman menggunakan peristilahan bahasa Barat, seperti yang dilakukan oleh Schackt dalam menulis tentang hukum Islam dan Wansbrough terhadap Al-Qur’an. Dan pintu gerbang ketiga dalam menyerang Al-Qur’an, yakni tuduhan yang diulang-ulang terhadap Islam sebagai pemalsuan terhadap agama Yahudi dan Kristen.Pintu gerbang terakhir adalah mereka hendak memalsukan Kitab Suci  Al-Qur’an itu sendiri, seperti yang dilakukan Arthur Jeffery mengenai ragam bentuk Al-Qur’an.


Syekh Muhammad Nasiruddiin al-Bani

Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Bani, lahir tahun 1333 H/ 1912 M di kota Ashqodar, ibu kota Albania. Ayahnya bernama al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (Istambul). Ketika Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeh Nuh memutuskan untuk berhijrah ke Syam. Keputusan itu diambil untuk menyelamatkan agama dan sekalugus guna menghindari terjadinya fitnah. Keluarga ini menuju Damaskus.

Setiba di kota Damaskus, Syekh al-Bani kecil mulai aktif mempelajari bahasa Arab. Ia masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is-af al-Khairiyah. Usai tamat ia menuntut ilmu langsung kepada para syekh.Dari ayahnya ia belajar Al-Qur’an dan fiqh madzhab hanafi. Selain belajar ilmu-ilmu agama, Al-Bani juga belajar keterampilan untuk memperbaiki jam dari ayahnya. Kelak, karena keahliannya itu, ia dikenal sebagai seorang tukang servis jam yang amat masyhur.

Pada usia 20 tahun, pemuda al-Bani mulai mengonsentrasikan diri pada ilmu hadits. Ia tertarik belajar hadits karena terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, majalah yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min Akhbar. Kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang ada pada kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Kegiatannya dalam bidang ini ditentang oleh ayahnya, dan seraya berkata, ‘”sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan yang orang-orang pailit (bangkrut)”.

Namun, Syekh al-Bani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Oleh karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan al-Dhahiriyah yang berada di pusat kota Damaskus. Hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai ia menutup kios reparasi jamnya. Dalam sehari Syekh al-bani bisa menghabiskan 12 jam membaca buku di perpustakaan al-Dhahiriyah. Tidak pernah beristirahaat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberi memberi sebuah ruangan khusus untuknya. Bahkan kemudia ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Hal ini membuatnya leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pulangnya, ketika orang lain pulang pada waktu dzuhur, al-bani justru pulang setelah shalat isya. Hal ini ia jalani selama bertahun-tahun.

Diceritakan oleh Abu Abdurrahman Muhammad Khatib, pada tahun 1980 Syekh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania), yang kemudia menjadi tempat tinggalnya. Belaiau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia sustu ketika pernah ditawari orang kaya sebidang tanah yang terletak di sekitar kota Amman, namun ditolaknya. Syekh a-bani adalah seorang yang berperangai wara’, selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Ketika beliau menolong orang lalu orang yang ditong memberinya hadiah, Syekh mengutip hadits Rasulullah saw,” Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberika kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti ia telah mendatangi salah satu pintu riba”. Kemudian dibagi-bagikannya hadiah tersebut kepada fakir miskin.

Syekh Albani pernah mengajar pada Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, tahun 1381-1383 H, tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah p[ada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkannya memenuhi tugas tersebut. Pada tahun 1395 -1398 H ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai angota majelis Tinggi Jami’ah Islamiyah di sana.Beliau mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi berupa King faisal Foundation pada 14 Dzulqaidah 1419 H.

Karya karyanya:

Di antaranya ada yang sudah dicetak dan masih berupa manuskrip dan ada yang hilang, semau berjumlah 218 judul. Di antaranya ialah: Adabuz –Zifaf fi As-Sunah al-Muthharah; al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid Jami’ah; Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah; Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah; At-Tawasul wa ama’uhu; Ahkam al-Janaiz wabida’uhu.

Di samping karya tulis, juga terdapat kaset-kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Beliau berwasiat agar karya-karya tulisnya diserahkan ke perpustakaan Jami’ah untuk manfaat dakwah. Pada hari Jumat malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniah 1420 H/ 1 Oktober 1999 M di Yordania Syekh Albani meninggal dunia.

Kitab ini Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah membahas mengenai hadfits dha’if dan maudh’u/ lemah dan palsu. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia menjadi 4 jilid.

Syekh Muhammad Al-Ghazali

Al-Ghazali lahir di desa Nakhla al-Inab, Itay al-Barud, Buhairah, Mesir (22 September 1917 M). Syekh Al-Ghazali dibesarkan di lingkungan keluarga  agamis yang sibuk di dunia perdagangan. Ayahnya seorang hafidz al-Qur’an dan sang anak menghapal Qur’an sejak usia sepuluh tahun.

Pendidikan dasar hingga perguruan tinggi ditempuhnya di lingkungan Al-Azhar, di Iskandariyah dan Kairo. Pada mulanya al-Ghazali menerima ilmu dari guru-guru di kampungnya. Sekolah dasar sampai menengah atas di Iskandariyah. Kemudian ia melanjutkan pada Fakultas Ushuluddin dan mendapat ijazah pada tahun 1361 H/1943 M. Ia mendapat gelar Magister di bidang Dawah wal Irsyad tahun 1362 H/ 1944 M. Para guru yang paling berpengaruh saat ia belajar di antaranya yaitu, Syekh Abdul Aziz Bilal, Syekh Ibrahim al-Gharbawi, Syekh Abdul ’Azhim az-Zarqani, dll.

Setelah menyelesaikan studi, Syekh Muhammad al-Ghazali menjadi imam dan khatib di masjid al-‘Atabah Al-Khadira. Setelah itu ia banyak mendapat jabatan secara berurutan, Dewan Urusan Masjid, Dewan Penasehat Al-Azhar, Wakil Dewan Urusan Masjid, Direktur Pelatihan, Direktur Dakwah wal Irsyad (Dakwah dan Penyuluhan). Oleh karena aktivitasnya , pada tahun 1944 Syekh Al-Ghazali dijebloskan penjara Ath-Thur selama satu tahun dan penjara Tharah 1965  selama beberapa waktu.

Ia pernah menjadi dosen tamu di Universitas Ummul Qura, Makah , tahun 1971. Tahun 1981 ditunjuk sebagai wakil menteri, dan kemudian ia memegang jabatan ketua Dewan Keilmuwan Universitas Al-Amir Abdul Qadir Al-Jazaairi al-Islamiyah di Aljazair selama lima tahun.

Syekh Muhammad Al-Ghazali berdakwah di berbagai tempat. Perjuangan dakwahnya tidak hanya di kota kelahirannya, Mesir,  namun ia merambah ke berbagai kawasan. Dan bahkan kawasan mulai dari Amerika, Asia Tenggara hingga Australia mengenal aktivitas dakwah dan kejeniusan pemikiran Syekh Al-Ghazali. Kepeduliannya terhadap nasib dan kondisi buruk yang menimpa umat Islam di kawasan Arab, Afrika sampai Asia, tak diragukan lagi. Seluruh hidupnya didekasikan untuk berdakwah membangkitkan umat Islam dari keterpurukannya.

Semasa kuliah, aktivitas pergerakan dakwah Islam mulai memasuki kehidupan Syekh Muhammad al-Ghazali. Ia direkrut oleh Imam Hasan al-Banna menjadi salah seorang anggota, tokoh dan juru bicara Ikhwanul Muslimin. Juga ia pernah menjadi penasehat dan pembimbing di Kementerian Wakaf, ketua Dewan Kontrol Masjid, ketua Dewan dakwah, dan terakhir menjadi wakil kementerian Wakaf dan Urusan Dakwah Mesir. Sebagai akademisi, ia menjadi guru besar di berbagai Negara Islam, seperti Universitas al-Azhar (Mesir), Ummul Qura (Makah), King Abdul Aziz (Jeddah), Qathar, dan Aljazair. Selama hidupnya ia telah menghasilkan lebih dari 60 buah buku, berkaitan dengan pemikiran, syariat maupun akhlak.

Diantara buku-bukunya yang dikenal, antara lain, sebagai berikut: Fiqhu Sirah; Aqidatul Muslim; ‘ilalun wa Adwiyah; Kaifa Nata’amal ma’al Qur’anul karim; Kaifa Nafhamul Islam; Hadza Dinuna; Ath-Thariqu min Huna; Al-Islam wal Audla’ul Iqthisadiyah; Al-Islam wal Manahijul Istirakiyah; Qazaaitul Haqq, dll.

Seluruh pemikiran Syekh Al-Ghazali bermuara pada usaha untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukannya. Sebagai seorang ulama Al-Azhar  yang sangat berkompeten dengan ilmu-ilmu keagamaan ia sangat memahami obat apa untuk umat yang sedang sakit saat ini. Sebagai dai ia memiliki semangat menggelora, keimanan mendalam, perasaan lembut, tekad membaja, lincah, gaya bahasa yang indah, memberi kesan mendalam, pandai bergaul dan pemurah. Sifat seperti ini diketahui setiap orang yang hidup bersamanya, menyertai atau bertemu dengannya. Aktif mengikuti perkembangan sosial dengan segala persoalannya, ikut menyelesaikan problematika umat, mengungkap dan mengingatkan umat tentang bencana yang ditimbulkan oleh setan-setan manusia dan jin, baik di Barat maupun di Timur.

Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan, “Syekh Al-Ghazali salah satu tokoh Islam abad modern. Ia dai yang sulit ditemukan tandingannya di dunia Islam saat ini. Ia jenius dan keindahan katanya menawan hati, hingga saya dapat menghapal beberapa ungkapan, bahkan beberapa lembar tulisannya, lalu mengulang sesuai teks aslinya di beberapa ceramah”.

Pada kesempatan lain, Syekh Muhammad Al-Ghazali pernah berkata di hadapan publik, “Bertanyalah kepada Yusuf Qardhawi, karena ia lebih utama dariku. Dulu ia muridku, tapi sekarang aku muridnya”.

AlGhazali memang dikenal temperamental. Kemarahannya cepat meluap seperti ombak lautan yang menghanyutkan, atau seperti letusan gunung berapi yang meluluhlantakkan. Hal ini dikarenakan kebenciannya terhadap, baik pada dirinya atau orang lain, dan ia tidak suka mendzalimi atau didzalimi.

Syekh Al-Ghazali berpulang ke haribaan-Nya pada tanggal 9 Maret 1996 M di riyadh, Arab Saudi dan lalu dipindah ke Madinah al-Munawarah, untuk dimakamkan di al-Baqi’, sebagai penghormatan Amir Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud kepadanya.

Dalam satu karyanya Menjawab 100 Soal Islam ia mengulas mengenai, di antaranya “Sejauh manakah Islam dapat Menerima Asas Negara Modern?” Ia mengatakan, “Tidak ada perbedaan antara keinginan fitrah yang sehat dan ajaran-ajaran agama yang suci. Kadang-kadang saya membenarkan sementara pemikiran keagamaan yang condong kepada pertimbangan fitrah sehat; dan ada kalanya juga, berdasarkan Wahyu Suci saya membenarkan beberapa cara yang dipandang sehat oleh kaum humanis.”

“Apakah Islam dapat membenarkan kalau seorang khalifah dipilih untuk masa jabatan tertentu (terbatas)?” Syekh menjawab.” Tidak ada nash yang melarang hal itu. Jika umat memandang hal itu sebagai cara terbaik untuk menjaga kemaslahatannya, yang paling efektif untuk melindungi kemerdekaannya, yang paling menjauhkan kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan, atau yang paling dapat mendorong penguasa bersikap rendah hati; maka penetapan cara tersebut tidak ada salahnya!”

Syekh AlGhazali mengatakan, bahwa sejarah kekhalifahan setelah berakhirnya zaman para Khulafaurasyidun bukanlah suatu teladan yang baik, dan bahkan patut disesali, serta oknum-oknumnya pun pantas untuk dikecam! Pada masa itu pemilihan khalifah tidak menempuh satu cara. Abu Bakar As-shiddiq ra dipilih oleh ahl hall wal aqd (tokoh-tokoh terkemuka yang saleh dan berilmu) secara langsung. Umar ibn Khatththab ra ditunjuk moleh khalifah yang masih menjabat stelah memperoleh persetujuan umum. Cara ini karena negara dalam keadaan darurat menghadapi perang melawan Romawi dan Persia. Utsman ibn Affan ra dipilih di antara enam sahabat Nabi terkemuka yang ditunjuk oleh khalifah Umar, dan kemudian dibai’at oleh kaum Muslim. Ali ibn Abi Thalib ra dibai’at oleh kaum Muslim secara bebas, beberapa hari kemudian setelah khalifah Utsman gugur akibat pemberontakan.

Cara-cara demikian menunjukan kaum Muslim dibolehkan menempuh berbagai cara pemilihan untuk mencegah timbulnya kekuasaan otoriter. Tidak ada seorang Muslim pun yang berani dan berwenang mengharamkan suatu perbuatan yang tidak diharamkan oleh nash Al-Qur’an dan Sunnah rasul, atau oleh hukum qiyas yang jelas, atau karena pertimbangan akan akibat-akibatnya yang diharamkan oleh syara’. “Sesuatu yang mendatangkan maslahat, disitulah syariat Ilahi diterapkan”.

Adanya partai-partai politik dan kelompok oposisi, untuk menemukan kebenaran dengan tetap menghormati hak mayoritas.  Hal ini agar jangan ada seseorang atau kelompok dapat memaksakan pendapatnya kepada orang lain.

Dalam sejarah Islam bangak contoh parea tokoh Muslim dipenjara dan dilenyapkan oleh penguasa otoriter, yang merasa kekuasaannya terancam.

Ada orang- orang yang memerintah atas nama Islam, mereka terdiri dari beberapa puluh “khalifah” dari tiga atau empat dinasti, dan pemerintahan mereka mlampaui batas. Akhinya, kekuasaan mereka runtuh ditangan bangsa Mongol yang dipimpin Jengis Khan tahun 1258 M. Kehalifahan tersebut dimonopoli oleh Abbasyiah (keturunan Abbas bin Abdul Muthalib), lalu Utsmaniyah (Ottoman). Lalu Syekh bertanya, Apakah hal ini yang dipertahankan Islam? Dan menolak pembatasan masa jabatan dan partai-partai politik?

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi

Mutawalli Asy-Sya’rawi lahir di desa Daqadus, prov. Daqliyyah, Mesir, 15 April 1911. Ayahnya Syekh Abdullah Al-Anshari mendorong snsknys untuk menjadi ahli agama. Untuk itu ayahnya menyerahkan Mutawalli Asy-Sya’rawi kecil kepada Syekh Abdul Majid Basya, seorang guru penghapal Al-Quran di desanya.

Ketika kecil Syara’wi memiliki hapalan yang kuat. Oleh karena itu guru mengajinya sering menyebut namanya dan menganjurkan teman-temannya untuk menirunya. Umur 11 tahun Al-Quran telah dihapalnya.

Kemudian Syara’wi melanjutkan belajarnya di Aliyah A-Azhar cabang Zaqaziq. Ketika itu ia sempat menjadi ketua organisasi pelajar, dan pada tahun 1934 ia memimpin demontrasi menuntut turunnya sang raja, Muhammad Fuad. Inilah yang membuatnya ditangkap, dengan beberapa temannya, dan dipenjara selama satu bulan.

Setelah menyelesaikan studinya di sekolah tingkat atas, beliau melanjutkan studinya di Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo. Beliau menyelesaikan sarjana pada tahun 1941. Tahun 1943 ia mendapat izin untuk mengajar dan ditunjuk untuk mengajar di sekolah agama yang berada di bawah naungan Al-Azhar.

Pada tahun 1850 ia diutus untuk menjadi dosen di Arab saudi pada Fakultas Syariah Universitas Ummul Qura, Makah. Namun, tahun 1960 ia dan semua pengajar dari Al-Azhar ditarik kembali ke Mesir, karena terjadi perselisihan antara Abdu Naser dan Raja Sa’ud. Sekembali dri Arab Saudi , tahun 1962 ia ditunjuk sebagai direktur dakwah di Departemen Agama dan merangkap sebagai pengawas untuk pengajaran bahasa Arab di Al-Azhar dan menjadi ketua di kantor Syekh Hasan Ma’mun, Syekh masjid Al-Azhar.

Bersama rombongan yang ia pimpin, oleh pihak Al-Azhar Syara’wi diutus ke Al-Jazair untuk berdakwah. Ketika sampai di negara itu ia mendapati fenomena yang tidak baik. Yakni bahasa Arab yang telah bahasa ibu masyarakat akan diganti dengan bahasa Prancis, sebagai bahasa resmi negara. Melihat hal tersebut ia mengingatkan masyarakat kan pentingnya kembali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa salah satu identitas negara Islam. Usaha itu mendapat tanggapan yang baik dari penduduk Al-Jazair.

Setelah kembali ke Mesir beliau ditunjuk menjadi ketua Dept. Agama cabang Provinsi Gharbiyah. Tahun 1970 ia diminta kembali oleh kerajaan Arab Saudi untuk mengajar di Universitas King Abdul Aziz.

Pada tahun 1976 pada masa presiden Anwar Sadat ia ditunuk untuk menjadi menteri Auqaaf (menteri agama).  Ia memprakarsai berdirinya Bank Islam, yang pada tahun sebelumnya 1974 ia salah seorang pencetus berdirinya Bank Dubai Islami. Bank ini kemudian berkembang pesat. Ternyata jabatan sebagai menteri hanya bertahan 2 tahun, karena ia mengundurkan diri ketika menolak usulan undang-undang keluargfa yang bertentangan dengan syari’at Islam dan akan mengakibatkan kehancuran rumah tangga. Karya tulisnya tidak banyak sebab ia lebih banyak berdakwah secara lisan di tengah-tengah umat. Namun, hasil ceramahnya dibukukan dan mendapat sambutan dari masyarakat dab hasilnya ia sumbangkan untuk kegiata-kegiatan sosial.

Pada hari Rabu 17 Juni 1998 Syekh Sya’rawi wafat di usia 87 tahun dan jasadnya dimakamkan di Mesir.

Di antara karyanya yakni tentang Mukjizat Isyra Mi’raj.

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilinganya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)

Kata subhana di dalam Al-Qur’an seringkali dipakai ketika menyebutkan sesuatu yang memesona, luar biasa, dan merupakan kemu’jizatan. Firman Allah ini merupakan penyucian terhadap Allah. Apa yang dikerjakan-Nya tidak mungkin dikerjakan oleh siapapun, selain oleh Allah Azza Wajalla.

Dan dalam firman-Nya di atas, kata Asy-Sya’rawi, Allah benar-benar menginginkan kita mengetahui bahwa mu’jizat Isra’ dan Mi’raj merupakan perbuatan-Nya. Isra’ dan Mi’raj tidak terjadi oleh kekuatan Muhammad SAW yang manusia. Karenanya surat tersebut diawali dengan: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya.” Hal ini berarti perjalanan Isra’ dan Mi’raj adalah suatu perbuatan Allah Ta’ala yang berada di atas kekuatan akal pikiran. (As-Sya’rawi, hlm. 38)

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata abdihi (yang sepadan dengan ibaad). Hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian kita pada dua hakikat penting, yaitu:

Pertama, peristiwa Isra’ terjadi dengan ruhani dan jasmani, bukan sekedar mimpi dalam tidur. Isra’ merupakan suatu yang dialami oleh Rasulullah SAW secara sadar, terjaga dan dapat diinderanya. Kata abdun dalam istilah bahasa hanya digunakan pada ruhani dan jasmani secara bersamaan.

Kedua, hakikat penting yang tersirat dari kata ‘abdihi adalah Allah Ta’ala ingin menyatakan kepada kita pengabdian kepada-Nya merupakan kelas tertinggi yang bisa dicapai manusia. Seperti penemuan Ibrahim yang berakhir pada Yang Maha Esa adalah melebihi penemuan yang bersifat materi.

Pengabdian kepada Allah dapat mengangkat martabat seseorang di sisi-Nya, tetapi pengabdian terhadap manusia akan menyebabkan suatu kehinaan dan kenistaan. Jika manusia menjadi majikan ia cenderung membuang semua hak-hak hambanya sebagai manusia, sedangkan pengabdian kepada Allah justru akan memberikan rahmat, karunia dan kemuliaan. (Ibid, hlm. 43)  7-9-2012

KH. Abdul Wahid Hasyim

Wahid Hasyim, anak KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, yang lahir 1 Juni 1914 di desa Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia adalah anak kelima dari 10 bersaudara pasangan Hadratus Syekh Hasyim As’ari dengan Nafiqah. Sejak kecil ia sudah kelihatan cerdas. Umur 5 tahun belajar Al-Qur’an dibimbing langsung oleh ayahnya. Ia mendapatkan pelajaran sampai 12 tahun. Kitab-kitab klasik yang dipelajari di pesantren telah ia pelajari sejak usia 7 tahun dan lepas usia 12 ia pergi belajar ke berbagai pesantren, seperti Siwalan Panji dan Lirboyo di Kediri. Ia hanya 3 tahun menimba ilmu di luar Tebuireng dan Wahid kembali dibimbing ayahnya. Pada umur 15 tahun ia banyak membaca dan belajar sendiri bahasa Arab, Belanda dan Inggris. Ia berlangganan penerbitan bahasa-bahasa tersebut. Pada tahun 1931 ia sudah mulai mengajar kitab “Ad-Durarul Bahiyah” dan “Kafrawi”, dan tahun 1932 ia pergi haji ke Makkah. Ketika berada di kota suci itu ia mendalami bahasa Arab dialek Quraisy.

Pada usia 20 tahun Wahid sudah melakukan aktivitas dalam Nahdlatul Ulama yang didirikan, antara lain oleh ayahnya. Di organisasi ini ia merintis dari bawah, dari ranting Tebuireng sampai menjadi Ketua Pendidikan Al-Ma’arif. Ketika NU keluar dari Masyumi dan NU menjadi partai politik tahun 1950, Wahid terpilih sebagai ketua Biro Politik NU.

Karir politik Wahid dimulai sejak tahun 1944 ketika ia membawa pindah keluarganya ke Jakarta. Berawal dari posisinya sebagai Ketua II Majelis Syura Dewan Partai Masyumi tahun 1945, yang sama dengan posisi Ki Bagus Hadikusumo (ketua I) dan Mr. Kasman Singodimejo (ketua III). Ketua umum dijabat oleh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai menteri negara. Lalu pada 20 Desember 1949 Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta. Ketika itu kabinet silih berganti, namun Kiai Wahid tetap memegang jabatan menteri agama, mulai Kabinet Hatta (1949-1950) berakhir, Kabinet Natsir (1950-1951) dan Kabinet Sukiman (1953), hingga ia meninggal pada 19 April 1953, dalam suatu kecelakaan mobil di daerah Cimahi, Bandung.

Kiai Wahid termasuk pejuang yang merumuskan dasar negara ini. Ketika pada 7 Desember 1944 dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wahid termasuk anggotanya. Ia menjadi anggota termuda. Badan ini bersidang dua kali, antara 28 Mei-1 Juni 1945 dan 10-17 Juli 1945. Terjadi perdebatan sengit dalam sidang tersebut, antara kelompok nasionalis dan agama. Dua kelompok tersebut tak dapat dipertemukan dan bersikukuh dengan pendapat masing-masing.

Untuk mencari jalan keluar, maka dibentuklah panitia sembilan, wakil Islam (Agus Salim, Wahid Hasyim, Abikusno dan Aboel Kahar Moezakar) dan pihak nasionalis (Soekarno, Hatta, Achmad Subardjo, M. Yamin dan AA. Maramis). Panitia kecil tersebut berhasil merumuskan pembukaan UUD, yang kemudian disebut sebagai Piagam Jakarta, yang pada sila pertama tercantum kalimat, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Hal itu terjadi pada 22 Juni 1945. Semula semua sepakat, termasuk wakil dari nasrani Maramis. Namun pada Agustus 1945 satu persatu ide Islamis digugurkan, setelah panitia lebih kecil dibentuk PPKI sebagai pengganti BPUPKI.

Dalam sidang-sidang selanjutnya yang pada puncaknya 18 Agustus 1945, akhirnya kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dibuang diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Perubahan itu karena ada utusan dari perwira Jepang yang mengabarkan berita dari wilayah timur yang menolak.

Dengan ilmu dan pengalamannya yang luas KH. Wahid mulai mencoba menerapkan model pengajaran yang baru, yakni penggabungan antara ilmu agama Islam dan pengetahuan umum. Pada tahap awal ia berhasil mendidik dua orang murid, yang satu berkiprah di Nahdlatul Ulama dan satu lagi menjadi guru di Muhammadiyah. Kemudian pada tahun 1935 ia mulai membuka madrasah modern, dengan nama Madrasah Nizamiyah. Semua kritik tak ia hiraukan, namun dengan berjalannya waktu percobaan madrasah modern itu melahirkan hasil yang baik, murid-murid pandai berbahasa Arab, juga lancar bahasa Belanda dan Inggris. Banyak orang kagum dan percaya, yang akhirnya banyak yang mendaftarkan anaknya untuk belajar di sekolah itu.

Ia aktif berorganisasi, berjuang, dan menulis, dan semua yang ia lakukan karena cintanya pada tanah air ini. Ketika ia menulis untuk sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dalam kongres PUSA di Kutaraja ia mengutip Douwes Dekker (Dr. Setia Budi), “Jika tidak ada agama Islam di Indonesia ini, niscaya akan lenyaplah kebangsaan Indonesia dari kepulauan ini, karena derasnya arus paham kebaratan. Memang kebangsaan Indonesia akan tetap juga di Indonesia, akan tetapi kebangsaan itu tidak asli lagi”.

Hasil suntingan Aboebakar Atjeh,Sejarah Hidup KH. Wahid Hasyim dan Karangan tersiar,( Jakarta: Panitia Perngt. KH W Hasyim, 1957).

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Riwayat hidup dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s