Biografi dan Karyanya

  1. Muhammad Mustafa A’zami

Muhammad Mustafa A’zami, adalah salah seorang cendekiawan terkemuka di bidang ilmu Hadith, lahir di Mau, India pada awal tahun tiga puluhan. Pendidikan pertama di Dar al-`Ulum Deoband, India (1952), Universitas al-Azhar, Kairo, (M.A., 1955), Universitas Cambridge (Ph.D., 1966). Guru Besar Emeritus (pensiun) pada Universitas King Sa’ud (Riyad) dan beliau pernah menjabat sebagai kepala jurusan Studi Keislaman, dan memiliki kewarganegaraan Saudi Arabia. Profesor A’zami pernah menjabat sebagai Sekretaris Perpustakaan Nasional, Qatar; Associate Profesor pada Universitas Umm al-Qura (Mekah) ;

Sebagai Cendekiawan tamu pada Universitas Michigan (Ann Arbor); Fellow Kunjungan pada St. Cross College (Universitas Oxford) ; Professor Tamu Yayasan Raja Faisal di bidang Studi Islam pada Universitas Princeton, Cendekiawan Tamu pada Universitas Colorado (Boulder). Beliau juga sebagai Professor kehormatan pada Universitas Wales (Lampeter).

Karya-karyanya antara lain, Studies in Early Hadith Literature, Hadith Methodology dan Literaturnya, On Schacht’s Origin of Muhammadan Jurisprudence, Dirasat fi al-Hadith an-Nabawi, Kuttab an­Nabi, Manhaj an-Naqd `ind al-`Ilal Muhaddithin, dan al-Muhaddithin min al­Yamamah. Beberapa buku yang dieditnya antara lain, al-` Ilah of lbn al-Madini, Kitab at-Tamyiz of Imam Muslim, Maghazi Rasulullah of `Urwah bin Zubayr, Muwatta Imam Malik, Sahih ibn Khuzaimah, dan Sunan ibn Majah. Beberapa karya al-A’zami telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Karya yang akan datang antara lain, The Qur’anic Challenge: A Promise Fulfilled (Tantangan AI-Qur’an: Suatu Janji yang Telah Terpenuhi), dan The Isnad System : Its Origins and Authenticity (Sistem Isnad: Keaslian dan Kesahihan­nya).

Pada tahun 1980 beliau menerima Hadiah Internasional Raja Faisal untuk studi keislaman.

Prof. M Mustafa A’zami . Untuk tujuan meng-counter pendapat mereka A’zami menulis sejarah teks Al-Qur’an dan dibandingkan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia mengatakan bahwa kaum orientalis untuk membuktikan naskah Al-Qur’an mengalami perubahan mereka mencurahkan pada aspek naskah bahasa Arab dengan menyentuh segi-segi kelemahannya. Dan perubahan itu terjadi dalam penyusunan setelah wafatnya Rasulullah SAW. Mereka menuduh bahwa pada periode tersebut terjadi pemalsuan teks asli.  Padahal pada periode itu selain banyak penghapal Al-Qur’an dan mereka pun memiliki naskah tertulis. Sebenarnya anggapan mereka tentang “naskah yang tidak lengkap” tidaklah berpengaruh terhadap keutuhan Al-Qur’an. Berbeda dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang keasliannya diragukan

A’zami melihat  terdapat beberapa pintu gerbang yang digunakan kaum orientalis sebagai alat penyerang teks Al-Qur’an, yang pertama adalah menghujat tentang penulisan dan kompilasinya. Dengan semangat ini mereka mempertanyakan mengapa, jika Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab khawatir dengan kematian para penghapal (huffaz) pada peperangan Yamamah dan memberitahu Abu Bakar akan kemungkinan lenyapnya Kitab Suci ini. Mengapa bahan-bahan yang telah ditulis tidak disimpan oleh Nabi SAW sendiri? Mengapa pula Zaid bin Tsabit tidak memanfaatkan bahan itu untuk menyiapkan Suhuf itu? Meskipun berita itu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan dianggap sah oleh kaum Muslimin, penjelasan itu oleh mereka bahwa apa yang didiktekan sejak awal dan penulisannya dianggap palsu.

Lalu ia mengatakan, “Mungkin karena kedangkalan ilmu, berlaga tolol (tajahul), atau pengingkaran terhadap kebijakan pendidikan kaum Muslimin merupakan permasalahan sentral yang melingkari pendirian mereka.”

Pintu gerbang kedua, yakni masuknya  serangan terhadap Al-Qur’an adalah melalui perubahan besar-besaran studi keislaman menggunakan peristilahan bahasa Barat, seperti yang dilakukan oleh Schackt dalam menulis tentang hukum Islam dan Wansbrough terhadap Al-Qur’an. Dan pintu gerbang ketiga dalam menyerang Al-Qur’an, yakni tuduhan yang diulang-ulang terhadap Islam sebagai pemalsuan terhadap agama Yahudi dan Kristen.Pintu gerbang terakhir adalah mereka hendak memalsukan Kitab Suci  Al-Qur’an itu sendiri, seperti yang dilakukan Arthur Jeffery mengenai ragam bentuk Al-Qur’an.

___________________________________________________________


2. Syekh Muhammad Nasiruddiin al-Bani

Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Bani, lahir tahun 1333 H/ 1912 M di kota Ashqodar, ibu kota Albania. Ayahnya bernama al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (Istambul). Ketika Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeh Nuh memutuskan untuk berhijrah ke Syam. Keputusan itu diambil untuk menyelamatkan agama dan sekalugus guna menghindari terjadinya fitnah. Keluarga ini menuju Damaskus.

Setiba di kota Damaskus, Syekh al-Bani kecil mulai aktif mempelajari bahasa Arab. Ia masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is-af al-Khairiyah. Usai tamat ia menuntut ilmu langsung kepada para syekh.Dari ayahnya ia belajar Al-Qur’an dan fiqh madzhab hanafi. Selain belajar ilmu-ilmu agama, Al-Bani juga belajar keterampilan untuk memperbaiki jam dari ayahnya. Kelak, karena keahliannya itu, ia dikenal sebagai seorang tukang servis jam yang amat masyhur.

Pada usia 20 tahun, pemuda al-Bani mulai mengonsentrasikan diri pada ilmu hadits. Ia tertarik belajar hadits karena terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, majalah yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min Akhbar. Kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang ada pada kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Kegiatannya dalam bidang ini ditentang oleh ayahnya, dan seraya berkata, ‘”sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan yang orang-orang pailit (bangkrut)”.

Namun, Syekh al-Bani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Oleh karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan al-Dhahiriyah yang berada di pusat kota Damaskus. Hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai ia menutup kios reparasi jamnya. Dalam sehari Syekh al-bani bisa menghabiskan 12 jam membaca buku di perpustakaan al-Dhahiriyah. Tidak pernah beristirahaat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberi memberi sebuah ruangan khusus untuknya. Bahkan kemudia ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Hal ini membuatnya leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pulangnya, ketika orang lain pulang pada waktu dzuhur, al-bani justru pulang setelah shalat isya. Hal ini ia jalani selama bertahun-tahun.

Diceritakan oleh Abu Abdurrahman Muhammad Khatib, pada tahun 1980 Syekh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania), yang kemudia menjadi tempat tinggalnya. Belaiau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia sustu ketika pernah ditawari orang kaya sebidang tanah yang terletak di sekitar kota Amman, namun ditolaknya. Syekh a-bani adalah seorang yang berperangai wara’, selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Ketika beliau menolong orang lalu orang yang ditong memberinya hadiah, Syekh mengutip hadits Rasulullah saw,” Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberika kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti ia telah mendatangi salah satu pintu riba”. Kemudian dibagi-bagikannya hadiah tersebut kepada fakir miskin.

Syekh Albani pernah mengajar pada Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, tahun 1381-1383 H, tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah p[ada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkannya memenuhi tugas tersebut. Pada tahun 1395 -1398 H ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai angota majelis Tinggi Jami’ah Islamiyah di sana.Beliau mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi berupa King faisal Foundation pada 14 Dzulqaidah 1419 H.

Karya karyanya:

Di antaranya ada yang sudah dicetak dan masih berupa manuskrip dan ada yang hilang, semau berjumlah 218 judul. Di antaranya ialah: Adabuz –Zifaf fi As-Sunah al-Muthharah; al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid Jami’ah; Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah; Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah; At-Tawasul wa ama’uhu; Ahkam al-Janaiz wabida’uhu.

Di samping karya tulis, juga terdapat kaset-kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Beliau berwasiat agar karya-karya tulisnya diserahkan ke perpustakaan Jami’ah untuk manfaat dakwah. Pada hari Jumat malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniah 1420 H/ 1 Oktober 1999 M di Yordania Syekh Albani meninggal dunia.

Kitab ini Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah membahas mengenai hadfits dha’if dan maudh’u/ lemah dan palsu. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia menjadi 4 jilid.

________________________________________________________________

3. Syekh Muhammad Al-Ghazali

Al-Ghazali lahir di desa Nakhla al-Inab, Itay al-Barud, Buhairah, Mesir (22 September 1917 M). Syekh Al-Ghazali dibesarkan di lingkungan keluarga  agamis yang sibuk di dunia perdagangan. Ayahnya seorang hafidz al-Qur’an dan sang anak menghapal Qur’an sejak usia sepuluh tahun.

Pendidikan dasar hingga perguruan tinggi ditempuhnya di lingkungan Al-Azhar, di Iskandariyah dan Kairo. Pada mulanya al-Ghazali menerima ilmu dari guru-guru di kampungnya. Sekolah dasar sampai menengah atas di Iskandariyah. Kemudian ia melanjutkan pada Fakultas Ushuluddin dan mendapat ijazah pada tahun 1361 H/1943 M. Ia mendapat gelar Magister di bidang Dawah wal Irsyad tahun 1362 H/ 1944 M. Para guru yang paling berpengaruh saat ia belajar di antaranya yaitu, Syekh Abdul Aziz Bilal, Syekh Ibrahim al-Gharbawi, Syekh Abdul ’Azhim az-Zarqani, dll.

Setelah menyelesaikan studi, Syekh Muhammad al-Ghazali menjadi imam dan khatib di masjid al-‘Atabah Al-Khadira. Setelah itu ia banyak mendapat jabatan secara berurutan, Dewan Urusan Masjid, Dewan Penasehat Al-Azhar, Wakil Dewan Urusan Masjid, Direktur Pelatihan, Direktur Dakwah wal Irsyad (Dakwah dan Penyuluhan). Oleh karena aktivitasnya , pada tahun 1944 Syekh Al-Ghazali dijebloskan penjara Ath-Thur selama satu tahun dan penjara Tharah 1965  selama beberapa waktu.

Ia pernah menjadi dosen tamu di Universitas Ummul Qura, Makah , tahun 1971. Tahun 1981 ditunjuk sebagai wakil menteri, dan kemudian ia memegang jabatan ketua Dewan Keilmuwan Universitas Al-Amir Abdul Qadir Al-Jazaairi al-Islamiyah di Aljazair selama lima tahun.

Syekh Muhammad Al-Ghazali berdakwah di berbagai tempat. Perjuangan dakwahnya tidak hanya di kota kelahirannya, Mesir,  namun ia merambah ke berbagai kawasan. Dan bahkan kawasan mulai dari Amerika, Asia Tenggara hingga Australia mengenal aktivitas dakwah dan kejeniusan pemikiran Syekh Al-Ghazali. Kepeduliannya terhadap nasib dan kondisi buruk yang menimpa umat Islam di kawasan Arab, Afrika sampai Asia, tak diragukan lagi. Seluruh hidupnya didekasikan untuk berdakwah membangkitkan umat Islam dari keterpurukannya.

Semasa kuliah, aktivitas pergerakan dakwah Islam mulai memasuki kehidupan Syekh Muhammad al-Ghazali. Ia direkrut oleh Imam Hasan al-Banna menjadi salah seorang anggota, tokoh dan juru bicara Ikhwanul Muslimin. Juga ia pernah menjadi penasehat dan pembimbing di Kementerian Wakaf, ketua Dewan Kontrol Masjid, ketua Dewan dakwah, dan terakhir menjadi wakil kementerian Wakaf dan Urusan Dakwah Mesir. Sebagai akademisi, ia menjadi guru besar di berbagai Negara Islam, seperti Universitas al-Azhar (Mesir), Ummul Qura (Makah), King Abdul Aziz (Jeddah), Qathar, dan Aljazair. Selama hidupnya ia telah menghasilkan lebih dari 60 buah buku, berkaitan dengan pemikiran, syariat maupun akhlak.

Di antara buku-bukunya yang dikenal, antara lain, sebagai berikut: Fiqhu Sirah; Aqidatul Muslim; ‘ilalun wa Adwiyah; Kaifa Nata’amal ma’al Qur’anul karim; Kaifa Nafhamul Islam; Hadza Dinuna; Ath-Thariqu min Huna; Al-Islam wal Audla’ul Iqthisadiyah; Al-Islam wal Manahijul Istirakiyah; Qazaaitul Haqq, dll.

Seluruh pemikiran Syekh Al-Ghazali bermuara pada usaha untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukannya. Sebagai seorang ulama Al-Azhar  yang sangat berkompeten dengan ilmu-ilmu keagamaan ia sangat memahami obat apa untuk umat yang sedang sakit saat ini. Sebagai dai ia memiliki semangat menggelora, keimanan mendalam, perasaan lembut, tekad membaja, lincah, gaya bahasa yang indah, memberi kesan mendalam, pandai bergaul dan pemurah. Sifat seperti ini diketahui setiap orang yang hidup bersamanya, menyertai atau bertemu dengannya. Aktif mengikuti perkembangan sosial dengan segala persoalannya, ikut menyelesaikan problematika umat, mengungkap dan mengingatkan umat tentang bencana yang ditimbulkan oleh setan-setan manusia dan jin, baik di Barat maupun di Timur.

Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan, “Syekh Al-Ghazali salah satu tokoh Islam abad modern. Ia dai yang sulit ditemukan tandingannya di dunia Islam saat ini. Ia jenius dan keindahan katanya menawan hati, hingga saya dapat menghapal beberapa ungkapan, bahkan beberapa lembar tulisannya, lalu mengulang sesuai teks aslinya di beberapa ceramah”.

Pada kesempatan lain, Syekh Muhammad Al-Ghazali pernah berkata di hadapan publik, “Bertanyalah kepada Yusuf Qardhawi, karena ia lebih utama dariku. Dulu ia muridku, tapi sekarang aku muridnya”.

Al-Ghazali memang dikenal temperamental. Kemarahannya cepat meluap seperti ombak lautan yang menghanyutkan, atau seperti letusan gunung berapi yang meluluhlantakkan. Hal ini dikarenakan kebenciannya terhadap, baik pada dirinya atau orang lain, dan ia tidak suka mendzalimi atau didzalimi.

Syekh Al-Ghazali berpulang ke haribaan-Nya pada tanggal 9 Maret 1996 M di riyadh, Arab Saudi dan lalu dipindah ke Madinah al-Munawarah, untuk dimakamkan di al-Baqi’, sebagai penghormatan Amir Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud kepadanya.

Dalam satu karyanya Menjawab 100 Soal Islam ia mengulas mengenai, di antaranya “Sejauh manakah Islam dapat Menerima Asas Negara Modern?” Ia mengatakan, “Tidak ada perbedaan antara keinginan fitrah yang sehat dan ajaran-ajaran agama yang suci. Kadang-kadang saya membenarkan sementara pemikiran keagamaan yang condong kepada pertimbangan fitrah sehat; dan ada kalanya juga, berdasarkan Wahyu Suci saya membenarkan beberapa cara yang dipandang sehat oleh kaum humanis.”

“Apakah Islam dapat membenarkan kalau seorang khalifah dipilih untuk masa jabatan tertentu (terbatas)?” Syekh menjawab.” Tidak ada nash yang melarang hal itu. Jika umat memandang hal itu sebagai cara terbaik untuk menjaga kemaslahatannya, yang paling efektif untuk melindungi kemerdekaannya, yang paling menjauhkan kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan, atau yang paling dapat mendorong penguasa bersikap rendah hati; maka penetapan cara tersebut tidak ada salahnya!”

Syekh AlGhazali mengatakan, bahwa sejarah kekhalifahan setelah berakhirnya zaman para Khulafaurasyidun bukanlah suatu teladan yang baik, dan bahkan patut disesali, serta oknum-oknumnya pun pantas untuk dikecam! Pada masa itu pemilihan khalifah tidak menempuh satu cara. Abu Bakar As-shiddiq ra dipilih oleh ahl hall wal aqd (tokoh-tokoh terkemuka yang saleh dan berilmu) secara langsung. Umar ibn Khatththab ra ditunjuk moleh khalifah yang masih menjabat stelah memperoleh persetujuan umum. Cara ini karena negara dalam keadaan darurat menghadapi perang melawan Romawi dan Persia. Utsman ibn Affan ra dipilih di antara enam sahabat Nabi terkemuka yang ditunjuk oleh khalifah Umar, dan kemudian dibai’at oleh kaum Muslim. Ali ibn Abi Thalib ra dibai’at oleh kaum Muslim secara bebas, beberapa hari kemudian setelah khalifah Utsman gugur akibat pemberontakan.

Cara-cara demikian menunjukan kaum Muslim dibolehkan menempuh berbagai cara pemilihan untuk mencegah timbulnya kekuasaan otoriter. Tidak ada seorang Muslim pun yang berani dan berwenang mengharamkan suatu perbuatan yang tidak diharamkan oleh nash Al-Qur’an dan Sunnah rasul, atau oleh hukum qiyas yang jelas, atau karena pertimbangan akan akibat-akibatnya yang diharamkan oleh syara’. “Sesuatu yang mendatangkan maslahat, disitulah syariat Ilahi diterapkan”.

Adanya partai-partai politik dan kelompok oposisi, untuk menemukan kebenaran dengan tetap menghormati hak mayoritas.  Hal ini agar jangan ada seseorang atau kelompok dapat memaksakan pendapatnya kepada orang lain.

Dalam sejarah Islam bangak contoh parea tokoh Muslim dipenjara dan dilenyapkan oleh penguasa otoriter, yang merasa kekuasaannya terancam.

Ada orang- orang yang memerintah atas nama Islam, mereka terdiri dari beberapa puluh “khalifah” dari tiga atau empat dinasti, dan pemerintahan mereka mlampaui batas. Akhinya, kekuasaan mereka runtuh ditangan bangsa Mongol yang dipimpin Jengis Khan tahun 1258 M. Kehalifahan tersebut dimonopoli oleh Abbasyiah (keturunan Abbas bin Abdul Muthalib), lalu Utsmaniyah (Ottoman). Lalu Syekh bertanya, Apakah hal ini yang dipertahankan Islam? Dan menolak pembatasan masa jabatan dan partai-partai politik?

__________________________________________________________

4. Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi

Mutawalli Asy-Sya’rawi lahir di desa Daqadus, prov. Daqliyyah, Mesir, 15 April 1911. Ayahnya Syekh Abdullah Al-Anshari mendorong snsknys untuk menjadi ahli agama. Untuk itu ayahnya menyerahkan Mutawalli Asy-Sya’rawi kecil kepada Syekh Abdul Majid Basya, seorang guru penghapal Al-Quran di desanya.

Ketika kecil Syara’wi memiliki hapalan yang kuat. Oleh karena itu guru mengajinya sering menyebut namanya dan menganjurkan teman-temannya untuk menirunya. Umur 11 tahun Al-Quran telah dihapalnya.

Kemudian Syara’wi melanjutkan belajarnya di Aliyah A-Azhar cabang Zaqaziq. Ketika itu ia sempat menjadi ketua organisasi pelajar, dan pada tahun 1934 ia memimpin demontrasi menuntut turunnya sang raja, Muhammad Fuad. Inilah yang membuatnya ditangkap, dengan beberapa temannya, dan dipenjara selama satu bulan.

Setelah menyelesaikan studinya di sekolah tingkat atas, beliau melanjutkan studinya di Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar, Kairo. Beliau menyelesaikan sarjana pada tahun 1941. Tahun 1943 ia mendapat izin untuk mengajar dan ditunjuk untuk mengajar di sekolah agama yang berada di bawah naungan Al-Azhar.

Pada tahun 1950 ia diutus untuk menjadi dosen di Arab saudi pada Fakultas Syariah Universitas Ummul Qura, Makah. Namun, tahun 1960 ia dan semua pengajar dari Al-Azhar ditarik kembali ke Mesir, karena terjadi perselisihan antara Abdu Naser dan Raja Sa’ud. Sekembali dri Arab Saudi , tahun 1962 ia ditunjuk sebagai direktur dakwah di Departemen Agama dan merangkap sebagai pengawas untuk pengajaran bahasa Arab di Al-Azhar dan menjadi ketua di kantor Syekh Hasan Ma’mun, Syekh masjid Al-Azhar.

Bersama rombongan yang ia pimpin, oleh pihak Al-Azhar Syara’wi diutus ke Al-Jazair untuk berdakwah. Ketika sampai di negara itu ia mendapati fenomena yang tidak baik. Yakni bahasa Arab yang telah bahasa ibu masyarakat akan diganti dengan bahasa Prancis, sebagai bahasa resmi negara. Melihat hal tersebut ia mengingatkan masyarakat kan pentingnya kembali menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa salah satu identitas negara Islam. Usaha itu mendapat tanggapan yang baik dari penduduk Al-Jazair.

Setelah kembali ke Mesir beliau ditunjuk menjadi ketua Dept. Agama cabang Provinsi Gharbiyah. Tahun 1970 ia diminta kembali oleh kerajaan Arab Saudi untuk mengajar di Universitas King Abdul Aziz.

Pada tahun 1976 pada masa presiden Anwar Sadat ia ditunuk untuk menjadi menteri Auqaaf (menteri agama).  Ia memprakarsai berdirinya Bank Islam, yang pada tahun sebelumnya 1974 ia salah seorang pencetus berdirinya Bank Dubai Islami. Bank ini kemudian berkembang pesat. Ternyata jabatan sebagai menteri hanya bertahan 2 tahun, karena ia mengundurkan diri ketika menolak usulan undang-undang keluargfa yang bertentangan dengan syari’at Islam dan akan mengakibatkan kehancuran rumah tangga. Karya tulisnya tidak banyak sebab ia lebih banyak berdakwah secara lisan di tengah-tengah umat. Namun, hasil ceramahnya dibukukan dan mendapat sambutan dari masyarakat dab hasilnya ia sumbangkan untuk kegiata-kegiatan sosial.

Pada hari Rabu 17 Juni 1998 Syekh Sya’rawi wafat di usia 87 tahun dan jasadnya dimakamkan di Mesir.

Di antara karyanya yakni tentang Mukjizat Isyra Mi’raj.

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilinganya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)

Kata subhana di dalam Al-Qur’an seringkali dipakai ketika menyebutkan sesuatu yang memesona, luar biasa, dan merupakan kemu’jizatan. Firman Allah ini merupakan penyucian terhadap Allah. Apa yang dikerjakan-Nya tidak mungkin dikerjakan oleh siapapun, selain oleh Allah Azza Wajalla.

Dan dalam firman-Nya di atas, kata Asy-Sya’rawi, Allah benar-benar menginginkan kita mengetahui bahwa mu’jizat Isra’ dan Mi’raj merupakan perbuatan-Nya. Isra’ dan Mi’raj tidak terjadi oleh kekuatan Muhammad SAW yang manusia. Karenanya surat tersebut diawali dengan: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya.” Hal ini berarti perjalanan Isra’ dan Mi’raj adalah suatu perbuatan Allah Ta’ala yang berada di atas kekuatan akal pikiran. (As-Sya’rawi, hlm. 38)

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata abdihi (yang sepadan dengan ibaad). Hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian kita pada dua hakikat penting, yaitu:

Pertama, peristiwa Isra’ terjadi dengan ruhani dan jasmani, bukan sekedar mimpi dalam tidur. Isra’ merupakan suatu yang dialami oleh Rasulullah SAW secara sadar, terjaga dan dapat diinderanya. Kata abdun dalam istilah bahasa hanya digunakan pada ruhani dan jasmani secara bersamaan.

Kedua, hakikat penting yang tersirat dari kata ‘abdihi adalah Allah Ta’ala ingin menyatakan kepada kita pengabdian kepada-Nya merupakan kelas tertinggi yang bisa dicapai manusia. Seperti penemuan Ibrahim yang berakhir pada Yang Maha Esa adalah melebihi penemuan yang bersifat materi.

Pengabdian kepada Allah dapat mengangkat martabat seseorang di sisi-Nya, tetapi pengabdian terhadap manusia akan menyebabkan suatu kehinaan dan kenistaan. Jika manusia menjadi majikan ia cenderung membuang semua hak-hak hambanya sebagai manusia, sedangkan pengabdian kepada Allah justru akan memberikan rahmat, karunia dan kemuliaan. (Ibid, hlm. 43)  7-9-2012

____________________________________________________________

5. Sayyid Abu al-Hasan Ali Nadwi

Abu al-Hasan lahir pada 6 Muharram 1333 H (1914 M) di Takia Kala, Raibareily, Uttar Paradesh, India dan wafat pada Jum’at 23 Ramadhan 1440 H (31 Desember 1999 M) di tempat kelahirannya. Ayahnya adalah Syarif al-‘Allamah Abdul Hayy bin Fakhruddin bin Ali, yang nasabnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ayahnya memiliki banyak karya tulis yang sudah dicetak maupun masih dalam tulisan tangan.

Ia memulai belajarnya dengan menghapal al-Quran, di bawah pengawasan ibunya, yang hafal al-Qur’an, ahli menulis dan menggubah syair.  Ia melanjutkan studinya dengan mendalami bahasa Urdu dan Persia berdasarkan tradisi umum di India. Pada usia 12 tahun ia belajar bahasa Arab dan Inggris sekaligus. Gurunya adalah as-Syekh Khalil bin Muhammad al-Yamani. Selama 2 tahun ia belajar sastra Arab, dan ia banyak menelaah buku sastra Arab. Lalu ia melanjutkan belajar di Universitas Lucknow. Di perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum dalam bahasa Inggris itu ia memilih Fak. Sastra Arab. Setelah lulus ia masih belajar kepada Syekh Taqiuddin al-Hilali al-Marakisyi, sebagai Kepala bidang sastra Arab di Nadwat al-Ulama.

Pada usia sekitar 17 tahun Abu al-Hasan sudah menerbitkan karyanya dalam bahasa Arab, tentang biografi Imam Ahmad. Ia terus melanjutkan belajar ilmu-ilmu Islam lainnya dengan pergi ke Lahore. Selesai masa belajar ia kembali ke Lucknow dan mengabdi sebagai pengajar di Darul Ulum, Nadwat al-Ulama selama 10 tahun di samping terus menulis. Di Nadwat Ulama ia menjadi pemimpin redaksi majalah an-Nadwah dalam bahasa Urdu, juga ia diminta menulis buku untuk mahasiswa Universitas Islam Aligarh, dan ia juga menulis buku-buku paket untuk pelajar sekolah-sekolah Arab di India.

Setelah itu Sayyid Abu al-Hasan pindah ke kota Delhi dan ia bertemu dengan Syekh Muhammad Ilyas, seorang da’i pembaru. Dari sinilah ia memulai perjalanan dakwah ke berbagai pelosok mengikuti Syekh Ilyas. Juga ia mendapat pelajaran spiritual dari Syekh Abdul Qadir a-Rai Puri.

Melalui berbagai literatur ia mendalami sejarah Eropa, termasuk faktor politik, sosial, agama, khususnya pergulatan antara ilmu pengetahuan dan agama, penguasa dan gereja, serta sejarah kehidupan dan perkembangan moral di Eropa, juga beberapa faktor yang membawa perubahan besar pada pola kehidupan bangsa-bangsa di Barat dan di Timur.

Ia juga melakukan kajian sejarah negeri-negeri Muslim di Timur, termasuk agama, kepercayaan, filsafat dan kebudayaan mereka, dan khususnya sejarah bangsa Arab, pada masa jahiliyah dan pra Islam.

Ia banyak dipengaruhi oleh kakaknya Dr. Sayyid Abdul Ali al-Hasani, Sekjen Majelis Ulama Lucknow. Ia menjadi sosok panutan dalam pemikiran yang menggabungkan antara keilmuan Islam dan Barat modern. Ia meyakini akan relevansi Islam sebagai konsep kepemimpinan dunia sepanjang masa, serta memperkuat keyakinan penulis, bahwa nabi Muhammad Saw adalah penutup para nabi dan rasul, pemimpin semua umat, dan pelita bagi kehidupan.

Sebelum menulis ia telah membaca dan mengamati mengenai umat Islam yang ditulis dengan kacamata sejarah dunia, dengan itu ia ingin keluar dari spektrum konvensional. Ia melihat dunia dari kacamata umat Islam. Oleh karena itu ia membuat berbagai analisis, di antaranya, “Kerugian apa yang diderita umat Islam sebab peristiwa A?”, “sebab jatuhnya pemerintahan si B?”, dan “Kerugian apa yang diderita umat Islam akibat jatuhnya sebagian besar wilayah kekuasaan Islam ke tangan bangsa Barat?”, “Kerugian apa yang diderita umat Islam sebab keterpurukan ekonomi, politik dan militer?”.

Itulah metode lama yang biasa dipergunakan dalam melihat mengenai umat Islam. Lalu ia menggunakan kacamata lain, “Kerugian apa yang diderita dunia akibat kemunduran umat Islam?” Dalam kaitan ini, umat Islam berperan sebagai faktor global yang membawa perubahan pada berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ini secara keseluruhan, bukan hanya pada batasan geografis tertentu atau garis teritorial politik terbatas. Dapatkah dibenarkan upaya mengaitkan nasib dunia atau masa depan umat manusia dengan masa depan dan realitas kehidupan umat Islam?

Mula-mula ia agak ragu ketika akan menulis tema itu, dalam bahasa Arab, sebab ia baru dalam dunia tulis menulis. Apalagi dalam bahasa Arab, di mana penulis jauh dari pusat kebudayaan Arab dan dari sumber ilmu pengetahuan Islam yang otentik. Dalam hati ia bertanya, apakah karyanya nanti akan mendapat sambutan di dunia Arab dan dunia Islam? Semula ia mengajukan daftar isi buku kepada Dr. Amin Bek, Ketua Lajnah Penulisan, dan diterima olehnya. Kemudian ia mengirim naskah buku itu.

Ketika ia berkunjung ke negri Hijaz tahun 1950 M (1369 H) ia mendapati naskah buku yang diajukannya beberapa waktu lalu di tangan Prof. Jawwad al-Murabith yang dibawanya dari Mesir. Ia kagum dengan kedalaman dan keaslian pemikiran ulama India.

Dua bulan setelah terbitnya buku itu tahun 1951 M ia berkunjung ke Mesir. Ia tak membayangkan bahwa buku itu dibaca kalangan intelektual dan pemerhati persoalan keumatan, perjuangan dan kebangkitan Islam. Buku Derita Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam diulas dan didiskusikan. Dalam kesempatan itulah ia bertemu dengan berbagai kalangan tokoh dan ulama Mesir, di antaranya Sayyid Qutb, Dr. M Yusuf Musa dan Dr. Ahmad as-Syurbashi, Guru Besar universitas al-Azhar. Buku itu juga disetujuinya untuk mendapat revisi dari ulama al-Azhar. Ia mendapat kunjungan dari Dr. as-Syurbashi untuk mengenal penulis, keluarga dan kerabat serta kehidupan penulis. Dalam edisi kedua buku itu disertakan biografi singkat penulis dengan judul Akhi Abul Hasan tulisan Dr. as-Syurbashi.

Setelah buku itu Sayyid Abul Hasan juga menulis, Qodiyanism a Critical Study (1979), dan karya lainnya.

Dalam buku Madza Khosairal ‘Alam bi inhithati al-Muslimun yang diterjemahkan menjadi Derita Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam dan ada beberapa terjemahan dalam bahasa Indonesia. Buku ini juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Urdu dan Inggris.

Tema buku itu berkaitan dengan sejarah zaman Jahiliyah, era Islam, abad Eropa, derita batin manusia sepanjang era kolonialisme Eropa, dan kepemimpinan dunia Islam.

“Feneomena keterbelakangan umat Islam, kegagalan dan keterasingan mereka dari kepemimpinan bangsa-bangsa yang berakhir dengan mundurnya umat Islam dari kancah kehidupan dan perjuangan, bukan peristiwa biasa yang seringkali terjadi dalam sejarah, atau sama saja dengan keterbelakangan bangsa-bangsa yang ada di muka bumi, atau jatuhnya rezim atau pemerintahan berkuasa, tersingkirnya seorang raja, kekalahan para pejuang di medan perang, sirnanya bayang-bayang peradaban, dan pasang surutnya kehidupan politik. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bangsa-bangsa tersebut tidak terbilang banyaknya, dan demikian pula yang terjadi dalam kehidupan umat manusia! Namun peristiwa yang menyangkut keterbelakangan umat Islam sungguh teramat ganjil dan tidak ada bandingnya dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang penuh keganjilan.”, kata penulis.

“Fenomena tersebut tidak khusus berkenaan dengan dunia Arab, tidak pula terbatas pada bangsa dan negeri-negeri yang tunduk pada Islam, melainkan bahwa keterbelakangan umat Islam merupakan dilema kemanusiaan secara umum, yang paling mengerikan dan paling nestapa sepanjang sejarah!”, lanjutnya, “Akan tetapi fenomena keterbelakangan umat Islam itu tidak terjadi dalam sehari melainkan selama beberapa kurun waktu secara perlahan.” Oleh karena itu mata dunia tidak memberikan perhatian secara seimbang terhadap peristiwa besar itu sebab pada hakikatnya mereka tidak memiliki parameter yang bisa meyakinkan bagi kebahagiaan dan penderitaan umat manusia.

Ia menulis, “Seorang Muslim memandang dunia Arab bukan dengan kacamata yang dipergunakan bangsa Eropa, bukan pula dengan kacamata yang dipergunakan oleh penduduk pribumi Arab, melainkan bahwa umat Islam memandang dunia Arab sebagai bumi kelahiran dan ufuk terbitnya fajar Islam, sebagai tambatan umat manusia dan sebagai poros kepemimpinan dunia.” (h. 308)

Lanjutnya, “Sesungguhnya dunia Arab tidak berdaya menghadapi zionisme, atheism, atau musuh-musuh Islam lainnya, dengan kekuatan materi, atau kekuatan uang yang dikucurkan pemerintah Inggris atau yang dipinjamkan oleh Amerika atau Rusia, atau uang tunai yang diberikan oleh negeri lain sebagai harga dari minyak bumi. Melainkan bahwa umat Islam akan mengalahkan musuh-musuhnya dengan senjata iman dan kekuatan spiritual seperti ketika mereka menundukkan imperium Roma dan Persia dalam satu waktu.”

____________________________________________________________

6. KH. Abdul Wahid Hasyim

Wahid Hasyim, anak KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, yang lahir 1 Juni 1914 di desa Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia adalah anak kelima dari 10 bersaudara pasangan Hadratus Syekh Hasyim As’ari dengan Nafiqah. Sejak kecil ia sudah kelihatan cerdas. Umur 5 tahun belajar Al-Qur’an dibimbing langsung oleh ayahnya. Ia mendapatkan pelajaran sampai 12 tahun. Kitab-kitab klasik yang dipelajari di pesantren telah ia pelajari sejak usia 7 tahun dan lepas usia 12 ia pergi belajar ke berbagai pesantren, seperti Siwalan Panji dan Lirboyo di Kediri. Ia hanya 3 tahun menimba ilmu di luar Tebuireng dan Wahid kembali dibimbing ayahnya. Pada umur 15 tahun ia banyak membaca dan belajar sendiri bahasa Arab, Belanda dan Inggris. Ia berlangganan penerbitan bahasa-bahasa tersebut. Pada tahun 1931 ia sudah mulai mengajar kitab “Ad-Durarul Bahiyah” dan “Kafrawi”, dan tahun 1932 ia pergi haji ke Makkah. Ketika berada di kota suci itu ia mendalami bahasa Arab dialek Quraisy.

Pada usia 20 tahun Wahid sudah melakukan aktivitas dalam Nahdlatul Ulama yang didirikan, antara lain oleh ayahnya. Di organisasi ini ia merintis dari bawah, dari ranting Tebuireng sampai menjadi Ketua Pendidikan Al-Ma’arif. Ketika NU keluar dari Masyumi dan NU menjadi partai politik tahun 1950, Wahid terpilih sebagai ketua Biro Politik NU.

Karir politik Wahid dimulai sejak tahun 1944 ketika ia membawa pindah keluarganya ke Jakarta. Berawal dari posisinya sebagai Ketua II Majelis Syura Dewan Partai Masyumi tahun 1945, yang sama dengan posisi Ki Bagus Hadikusumo (ketua I) dan Mr. Kasman Singodimejo (ketua III). Ketua umum dijabat oleh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai menteri negara. Lalu pada 20 Desember 1949 Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta. Ketika itu kabinet silih berganti, namun Kiai Wahid tetap memegang jabatan menteri agama, mulai Kabinet Hatta (1949-1950) berakhir, Kabinet Natsir (1950-1951) dan Kabinet Sukiman (1953), hingga ia meninggal pada 19 April 1953, dalam suatu kecelakaan mobil di daerah Cimahi, Bandung.

Kiai Wahid termasuk pejuang yang merumuskan dasar negara ini. Ketika pada 7 Desember 1944 dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wahid termasuk anggotanya. Ia menjadi anggota termuda. Badan ini bersidang dua kali, antara 28 Mei-1 Juni 1945 dan 10-17 Juli 1945. Terjadi perdebatan sengit dalam sidang tersebut, antara kelompok nasionalis dan agama. Dua kelompok tersebut tak dapat dipertemukan dan bersikukuh dengan pendapat masing-masing.

Untuk mencari jalan keluar, maka dibentuklah panitia sembilan, wakil Islam (Agus Salim, Wahid Hasyim, Abikusno dan Aboel Kahar Moezakar) dan pihak nasionalis (Soekarno, Hatta, Achmad Subardjo, M. Yamin dan AA. Maramis). Panitia kecil tersebut berhasil merumuskan pembukaan UUD, yang kemudian disebut sebagai Piagam Jakarta, yang pada sila pertama tercantum kalimat, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Hal itu terjadi pada 22 Juni 1945. Semula semua sepakat, termasuk wakil dari nasrani Maramis. Namun pada Agustus 1945 satu persatu ide Islamis digugurkan, setelah panitia lebih kecil dibentuk PPKI sebagai pengganti BPUPKI.

Dalam sidang-sidang selanjutnya yang pada puncaknya 18 Agustus 1945, akhirnya kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dibuang diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Perubahan itu karena ada utusan dari perwira Jepang yang mengabarkan berita dari wilayah timur yang menolak.

Dengan ilmu dan pengalamannya yang luas KH. Wahid mulai mencoba menerapkan model pengajaran yang baru, yakni penggabungan antara ilmu agama Islam dan pengetahuan umum. Pada tahap awal ia berhasil mendidik dua orang murid, yang satu berkiprah di Nahdlatul Ulama dan satu lagi menjadi guru di Muhammadiyah. Kemudian pada tahun 1935 ia mulai membuka madrasah modern, dengan nama Madrasah Nizamiyah. Semua kritik tak ia hiraukan, namun dengan berjalannya waktu percobaan madrasah modern itu melahirkan hasil yang baik, murid-murid pandai berbahasa Arab, juga lancar bahasa Belanda dan Inggris. Banyak orang kagum dan percaya, yang akhirnya banyak yang mendaftarkan anaknya untuk belajar di sekolah itu.

Ia aktif berorganisasi, berjuang, dan menulis, dan semua yang ia lakukan karena cintanya pada tanah air ini. Ketika ia menulis untuk sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, dalam kongres PUSA di Kutaraja ia mengutip Douwes Dekker (Dr. Setia Budi), “Jika tidak ada agama Islam di Indonesia ini, niscaya akan lenyaplah kebangsaan Indonesia dari kepulauan ini, karena derasnya arus paham kebaratan. Memang kebangsaan Indonesia akan tetap juga di Indonesia, akan tetapi kebangsaan itu tidak asli lagi”.

Hasil suntingan Aboebakar Atjeh,Sejarah Hidup KH. Wahid Hasyim dan Karangan tersiar,( Jakarta: Panitia Perngt. KH W Hasyim, 1957).

____________________________________________________________

7. Prof. H M Rasyidi

Muhammad Rasyidi lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915 semula bernama Saridi. Ayahnya Atmosudigdo mengenalkan ia agama Islam dengan mendatangkan guru agama dan juga ia sekolah umum, Ongko Loro. Lalu ia belajar di Sekolah Rakyat Muhammadiyah, dan ia melanjutkan ke Kweekscool Muhammadiyah Yogyakarta. Melalui surat kabar ia mengetahui sekolah Al-Irsyad di Lawang Malang yang dipimpin Ahmad Soorkati. Di al-Irsyad ia cepat menerima pelajaran agama Islam dan termasuk Alfiah Imam Malik telah ia kuasai. Ketika lulus itulah oleh Ahmad Soorkati ia diberi nama Muhammad Rasyidi.

Ayahnya mengirim Rasyidi ke Mesir untuk belajar, tujuannya Universitas al-Azhar. Tapi atas saran teman di Mesir, Kahar Muzakir,  ia masuk Universitas Kairo pada fakultas filsafat. Ia seangkatan dengan Mustafa Abdur Razik. Selama 7 tahun ia belajar di Kairo dan kemudian tahun 1938 ia kembali ke Yogyakarta. Ia mula-mula menjadi guru madrasah Ma’had al-Islami di Kotagede. Ia juga ikut mendirikan Pesantren Luhur di Solo, tapi ketika Jepang datang tahun 1941 lembaga itu berakhir.

Ia mulai aktif dalam politik dengan memasuki Partai Islam Indonesia (PII) dan ia juga aktif menjadi anggota Muhammadiyah, dan di Masjumi ia menjadi fungsionaris.

Ketika Indonesia merdeka dibentuklah Departemen Agama ia diangkat menjadi Menteri Agama pertama umur 36 tahun pada 3 Januari 1946. Saat Belanda kembali datang ibukota RI pindah ke Yogyakarta H Agus Salim dan ia sebagai sekretaris ikut dalam misi diplomatik ke negara-negara Arab. Dan selanjutnya ia menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir dan Arab Saudi yang berkedudukan di Kairo tahun 1949. Tahun 1953 ia dipindahkan ke Teheran dan setahun lebih sebulan ia kembali ke Jakarta.

Tahun 1954 ia melanjutkan belajar atas beasiswa Rockefeller ke Univeritas Sorbone Paris. Dua tahun belajar selesai pada 23 Maret 1956 ia mempertahankan disertasinya L’evolution de l’Islam en Indonesia au consideration critique du livre Tjentini (Perkembangan Islam di Indonesia atas kajian kritis atas serat Centini) dengan berhasil cum laude.

Pulang dari studinya di Paris ia dipercaya menjadi Duta Besar RI di Pakistan. Dua tahun kurang ia menjadi Duta Besar  situasi di negara Indonesia memanas ia mengajukan berhenti dan memilih mengajar di Universitas McGill, Montreal, Canada tahun 1958. Selain mengajar selama 5 tahun ia juga mempelajari dunia orientalisme. Ketika ada ceramah dengan nara sumber tamu di McGill kebetulan orientalis J Schacht yang membahas tentang hukum Islam bahwa Nabi Saw hanya sebagai hakim (abiter) orang bijak dan bukan sebagai qadhi, penentu hukum Islam. Ia tampil mengkritik pernyataannya itu bahwa kata hakim dan qadhi dalam al-Qur’an sinonim dalam beberapa tempat. Hal ini membuat dosen tamu itu marah dan menuduh ia tak tahu masalah. Ia dibela Toshihiko Izutsu bahwa Rasyidi benar. (Azra, 2002) Setelah beberapa lama di Kanada dan Amerika ia pulang kembali ke Indonesia. Tahun 1966 ia mendapat gelar guru besar hukum Islam pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Ia meninggal dunia pada 30 Januari 2001 di Jakarta.

Ia banyak menulis dan menerjemahkan buku, di antara terjemahannya, Persoalan-Persoalan Filsafat, Filsafat Agama (saduran), (Promesses de l’Islam) Janji-Janji Islam dan Otobiografi Garaudy karya Roger Garaudy, Bible Al-Qur’an dan Sain Modern, Humanisme Islam dsb. Sementara bukunya, Empat Kuliah Agama, Islam dan Kebatinan, Koreksi terhadap Dr Harun Nasution tentang Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Koreksi terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekularisasi, menulis dalam Kenneth W Morgan, ed. Islam at Straight Path, dan sebagainya.

Dr. Harun Nasution, lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada tanggal 23 September 1919. Tahun 1934 ia menyelesaikan belajar di HIS dan tahun 1937 di Moderne Islamietische Kweekscool di Bukitinggi. Lalu ia melanjutkan ke Universitas al-Azhar Kairo tahun 1940 mendapat Ahliyah dan tahun 1942 mendapat Candidat dari Fakultas Ushuluddin. Ia juga belajar di Universitas Amerika Kairo mendapat BA dalam studi Sosial tahun 1952. Pada tahun 1962 ia meneruskan studi ke Universitas McGill Montreal, Canada hingga tahun 1965 mendapat MA dalam studi Islam dan tahun 168 memperoleh Ph.D. dalam bidang yang sama. Ia sempat bekerja di Kairo dan tahun 1947-1958 ia menjadi pegawai Dep. Luar Negeri di Perwakilan RI Kairo, Kedutaan Besar RI Kairo, Kedutaan Besar RI Jeddah dan Kedutaan RI Brussel.

Sejak tahun 1969 ia menjadi pengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di samping itu menjadi dosen di berbagai universitas, tahun 1970 IKIP Jakarta, Universitas Nasional Jakarta, dan tahun 1975 Fak. Sastra Universitas Indonesia. 1973 ia dianggkat menjadi rektor IAIN Jakarta dan 1978 ia memperoleh guru besar dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karya tulisnya antara lain, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya (2 jid), Perkembangan Pembaruan dalam Islam, Filsafat, Agama, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Teologi Islam (Jkt, UI), Islam Rasional, dan sebagainya.

Beberapa Kritik Prof. HM Rasyidi

Pada zaman Orde Lama yang cenderung kepada partai komunis sebelum tahun 1958 Dr. Rasyidi ketika itu menjabat Duta Besar RI Pakistan ia mengambil cuti dan selanjutnya ia mengajar sebagai associate professor di Institut of Islamic Studies di McGill University, Monteral, Canada. Selama 5 tahun ia mengajar dan belajar, dan selama itu ia banyak mempelajari dunia orientalisme dan Kristen.

Berawal dari sana ia terdorong untuk merintis jalan dan berusaha mengirim para sarjana tamatan IAIN (Institut Agama Islam Negeri, sekarang UIN) dan yang sederajat untuk belajar di dunia orientalisme. Ia terinspirasi oleh al Azhar, yang mengirim para ulama ke Jerman, London atau Paris.

Ternyata maksud itu tidak sesuai harapan. Di antara sarjana yang dikirim untuk belajar di Institut of Islamic Studies memberikan hasil yang tidak memuaskan. Dalam mempelajari dunia orientalisme, mereka bukan menemukan berbagai kekeliruan para sarjana Barat tentang Islam, namun malah mereka menelan mentah yang mereka ucapkan tanpa kritik.

Memang Barat memiliki keuletan dalam  penelitian dan berpikir, namun di celah-celah itu sering terdapat kekeliruan besar, kata Rasyidi.

Yang ia kritik adalah karya Dr. Harun Nasution, yang mendapat MA pada tahun 1965 dan Ph.D. pada tahun 1968 dari McGill University, berjudul Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (2 jilid). Buku ini menjadi buku wajib di seluruh IAIN.

Semula ia menulis laporan rahasia pada tanggal 3 Desember 1975 kepada Menteri Agama dan beberapa staf eselon yang berisi kritik terhadap buku Dr. Harun Nasution. Prof. Rasyidi tulis kritiknya itu perpasal. Namun karena sudah berlalu satu tahun tidak ada jawaban, maka ia berpikir ada dua kemungkinan.

  1. Pihak Departemen Agama setuju dengan isi buku itu dan ingin mencetak sarjana sesuai konsepsi penulisnya.
  2. Pihak-pihak di institusi tersebut tidak dapat menilai isi buku tersebut dan apa bahayanya.

Oleh karena itu laporan yang bersifat rahasia itu ia terbitkan berupa buku “Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya”.

Ada XI bab kritik Prof. Rasyidi terhadap isi buku itu. Di sini tidak akan semuanya ditulis namun bab I dan XI secara singkat, dan jika pembaca ingin mengetahuinya bisa langsung merujuk buku Prof. Rasyidi dan bukunya Dr. Harun Nasution.

Bab I, Tentang agama dan pengertian agama dalam berbagai bentuknya.

Di antara bahasannya berkaitan dengan kata agama, ad-diin dan religion. Kata agama berasal dari Sankrit, ad-diin dari bahasa Arab dan religion dari Latin. Ada kesulitan untuk menyimpulkan dari definisi-definisi itu, sebab tiap kata memiliki konotasi yang berbeda. Agama dalam bahasa Sangkrit lebih menonjolkan tradisi, religion dalam bahasa Latin menonjolkan ikatan manusia dengan kelompoknya dan dewanya dan kata itu tidak terdapat dalam Injil, sedangkan kata ad-diin terdapat dalam al-Qur’an. Penyamaan ketiga kata itu dalam masyarakat untuk praktisnya dalam komunikasi, namun sebenarnya memiliki hakekat yang berbeda.

Agama Islam memiliki dua pokok ajaran yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan antara manusia dengan manusia. Hubungan antara manusia dengan Tuhan, seperti dalam ibadah shalat. Sementara hubungan dengan masyarakat seperti puasa, zakat dan haji.

Hubungan antara manusia dengan manusia yang terdapat dalam ajaran Islam tentang keluarga, negara, ekonomi, hukum dan hubungan internasional semua itu terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Cara penyajian buku Dr. Harun ini mengikuti para pemikir Barat yang mengatakan bahwa semua agama sama dan merupakan gejala sosial, seperti yang dikatakan Emile Durkheim. Dengan dasar semua agama itu sama, maka unsur agama ada empat:

  1. Kekuatan gaib, manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong.
  2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut.
  3. Respons bersifat emosional dari manusia. Respons ini berupa rasa takut seperti dalam agama-agama primitive dan perasaa cinta dalam agama monoteisme.
  4. Paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang berisi ajaran agama bersangkutan dan tempat-tempat tertentu.

Langsung ke Bab XI Membahas tentang aspek pembaruan dalam Islam.

Umat Islam banyak yang tertarik dengan perkataan pembaruan, modernism atau tajdid. Kata lainnya reformasi atau islah dalam bahasa Arab. Dalam buku sejarah, timbulnya reformasi adalah karena adanya gerakan reformasi dari Martin Luther (1483-1546). Orang Barat sering menggunakan kata reformasi atau modernisme sebagai sinonim, sehingga gerakan Muhammad Abduh kadang dinamakan sebagai gerakan reformasi atau modernisasi.

Reformasi atau modernisasi adalah gejala umum, karena ada perubahan masyarakat, maka cara hidup pun ikut berubah. Jika dahulu di perempatan jalan tidak perlu lampu trafik tapi karena perkembangan banyak motor dan tumbuhnya kota-kota diperlukan lampu pengatur lalu lintas itu.

Perubahan masyarakat di Barat karena kemajuan ilmu pengetahuan dengan tokoh-tokohnya bermunculan. Di Eropa Barat berbagai penemuan semakin marak dari kimia, listrik, biologi dan banyak lagi. Di antara negara Eropa, Inggris yang pesat perkembangan industrinya sebab terhindar perang. Mula-mula dari kereta api lalu kapal api 1838. Industry maju, tapi kaum buruh menderita. Karl Marx muncul yang berkata, kaum buruh berhak memerintah. Di samping itu imperialisme juga mulai muncul dengan tujuan keuntungan ekonomi.

Perubahan itu membuat orang tertarik. Penginjil mengatakan itu adalah buah dari agama Kristen, bahwa peradaban Barat adalah peradaban Kristen. Hal itu sering terdengar, namun itu tidak benar. Sebab banyak ilmuwan di Barat ketika itu seperti Bruno dibakar mati oleh gereja karena mengatakan bumi berputar. Agama Kristen tidak mendorong kemajuan tersebut. Kemajuan itu lepas dari agama.

Di samping kemajuan di bidang kimia, listrik, dan teknik juga ada bidang ilmu sosial dan humaniora.

Di Eropa sendiri terjadi perang antarnegara mereka. Bagaimana di dunia Islam sendiri? Napoleon ketika itu sedang jaya ia ingin menguasai Mesir sebagai pintu ke India. Ia mendarat di Elaxanderia tanggal 2 juli 1798 dengan senjata modern dan kaum ilmuwan, fisika, ekonomi, politik dan sastra. Mesir memang tempat pertemuan Barat dan Islam. Dalam aspek hukum untuk pertama kali dipertemukan hukum barat dan hukum Islam (Syariat).

Mesir banyak terpengaruh budaya Prancis. Dalam keadaan politik lemah ia menghadapi Prancis dan Inggris, mulanya diadakan tribunal mixte (al mahkamah al mukhtalat) tahun 1875. Waktu diadakan tribunal mixte naskah-naskah yang akan berlaku dikirim ke Universitas al Azhar untuk dibahas para ulama. Hasilnya para ulama itu mengatakan bahwa hukum-hukum itu dengan artikelnya ada kesamaan dengan salah satu pendapat empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali) dan sebagian tidak bertentangan dengan madzhab tersebut dan sebagian termasuk al masalih mursalah. Laporan itu tertulis tidak dicetak.

Modenisme mendapat halangan bukan dari Islam tapi dari ketakutan dan rasa curiga kalangan mereka. Juga, kata Dr. Harun, tantangan datang dari kalangan ulama, karena zaman itu konfrontasi Kristen dan Islam masih kuat.

Kata-kata itu pengaruh dari kaum oreintalis yang anti Islam tanpa kritik. Jika dalam hukum para ulama al Azhar menyatakan bahwa hukum Barat, kecuali dalam beberapa hal, pada umumnya senafas dengan salah satu madzhab empat atau merupakan maslahah mursalah, yang berarti salah satu sumber hukum dengan ijtihad untuk memelihara masyarakat, maka penentangan terhadap pembaruan itu adalah datang dari rakyat yang menyamakan modernism dengan pihak penjajah yang beragama Kristen tapi karena penjajahannya, dan bukan karena agamanya.

Dr. Harun, mengatakan, waktu itu pertentangan Kristen Islam sangat keras. Kata-kata tersebut kata-kata orientalis yang anti Islam. Umat Islam tidak benci kepada orang Kristen, tapi tidak suka kepada penjajahan. Pertentengan ketika itu masih keras, Prof. Rasyidi mengatakan, hingga kini pun tetap keras, tapi bukan antara Islam dan Kristen sebagai agama, sebabnya karena meraja lelanya kristenisasi di kalangan umat Islam.

Timbul gerakan Jamaluddin al Afgani yang menggugah umat Islam untuk lepas dari penjajahan, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha pelaksana ide Abduh untuk perbaikan pelajaran di al Azhar. Juga Ali Abdul Razik, Prof. Rasydi kenal dengannya. Ia sendiri adalah murid kakaknya, Mustafa Abdul Razik, guru besar filsafat di Univesitas Cairo, pada tahun 1937.

Ali Abdul Raziq seorang yang ambisius dan oportunis. Ketika Turki disekulerkan Attaturk banyak yang ingin memberikan gelar khalifah kepada raja Abdul Aziz bin Saud yang merdeka. Tapi tahun 1926 Sultan Fuad ingin mendapat gelar itu juga sementara negaranya diduduki Inggris, maka Ali menulis buku al-Islam wa Usuulul Hukm (Islam dan prinsip-prinsip ketatanegaraan), yang maksudnya agama Islam itu mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan dan tidak mengatur keduniaan. Buku itu tidak logis dan argumentasinya dibuat-buat.

Buku itu tidak ilmiah dari seorang oportunis, tapi ia populer di kalangan kaum orientalis politisi. Untuk memasukan ide Ali Abdul Razik dalam rangkaian ide pembaruan Islam adalah sangat keliru. Pada waktu itu buku itu telah banyak dikritik oleh para ulama besar seperti Rasyid Ridha dan Khadr Husein yang menjadi syekh al Azhar. (Di Indonesia terbit terjemahan karya Dr. Diauddin Rais yang menanggapi buku Ali)

Dibahas tentang pembaruan di Turki, India, dan di Arab khususnya adalah gerakan salaf dan bukan pembaruan. Lalu di Indonesia. Yang termasuk pembaruan adalah al-Irsyad dengan pimpinan Ahmad Surkati, Sarikat Islam HOS Cokroaminoto dan Haji Agus Salim sebagai figure yang menonjol, juga Dr. Harun tidak menyebutkan sebab langsung yang mendorong KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah tersiarnya kristenisasi di kalangan orang Jawa, dan Masyumi, yang di masa Jepang dijadikan alat propaganda pemerintah militer Jepang, sebagai gerakan politik Islam menentang kembalinya penjajah Belanda. (Jkt, BB, 1989)

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Riwayat hidup, Tokoh dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s