Jalan Pintas

Oleh: Farid Lu’ay

Biasanya jika kita ingin cepat sampai dalam suatu perjalanan maka kita akan mencari jalan pintas. Namanya jalan pintas, yang dilalui pun bukanlah jalan umum yang biasa dilalui orang. Namun, ada ‘jalan pintas’ yang lain yang dapat membahayakan pelakunya. ‘Jalan pintas’ seperti ini dilakukan hanya untuk mencari mudahnya untuk mencapai sesuatu. Jalan pintas yang pertama untuk memperpendek jarak dan waktu tempuh, sedangkan yang kedua untuk tidak mau bersusah payah, sabar menunggu proses dan juga tidak menggunakan nalar.

Oleh karena tidak mau usaha, sabar dan menggunakan nalar maka dapat merugikan diri sendiri. Kita dapat melihat pada contoh yang banyak diberitakan media massa, tv dan koran. Banyak orang datang berduyun-duyun untuk mencari kesembuhan atas penyakitnya kepada, seorang anak yang disebut dukun cilik, Ponari (9 tahun). Ini adalah fakta sosial. Mengapa mereka melakukan hal itu? Bisa jadi karena alasan ekonomi atau lainnya, maka mereka mencari jalan pintas.

Contoh kedua. Beberapa waktu lalu diberitakan mengenai orang-orang yang tergiur oleh sejenis perusahaan yang menawarkan investasi dengan hasil yang besar. Banyak orang yang menanamkan uangnya, mulai dari jutaan hingga puluhan juta. Mereka hanya berorientasi pada apa yang ditawarkan tentang keuntungan sekian persen. Mereka tidak bertanya, mengapa usaha itu menghasilkan sekian persen untuk nasabah? Karena itu, akhirnya mereka tertipu. Modal raib dan apalagi keuntungannya. Uangnya hilang tak dapat kembali.

Kedua peristiwa itu dapat kita pahami bahwa mereka kebanyakan tidak menggunakan nalar. Pada contoh pertama, karena kesulitan ekonomi mereka merelakan kesembuhan penyakit kepada sang dukun. Dan pada contoh kedua, karena alasan ekonomi, ingin cepat kaya, mereka serahkan uang mereka kepada kolektor. Adakah jaminan penyakit akan sembuh di tangan dukun? Dan adakah garansi bagi investor untuk mendapatkan haknya sesuai yang dijanjikan? Tentu jawabannya belum jelas.

Jika belum jelas hasilnya, mengapa mereka merelakan melakukan hal itu? Di sinilah persoalannya. Mereka semua hanya mengikuti ‘jalan pintas’, tanpa memikirkan akibatnya. Dalam segala hal kita seharusnya menggunakan nalar. Atau berpikir logis. Dengan demikian kita harus selalu bertanya. “Apakah ini menuju jalan yang lurus (benar) atau tidak?” Dengan cara itu kita akan selamat.

Depok, 14 Feb. 2009/edit 23-Juni-2012

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Share dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Jalan Pintas

  1. zasseka berkata:

    Jalan pintas memang penuh resiko, bahkan orang berpendidikan saja bisa memakai jalan pintas.
    Karena kurang Iman, stress ekonomi, dan masih banyak tekanan hidup, yang membuat jalan pintas penuh resiko itu ditempuh.🙂

  2. jaka berkata:

    hehe,, tapi g semuanya jalan pintas buruk kan?? hehehehe

  3. Irfan Handi berkata:

    Kudu liat-liat dulu jalan pintas yang akan kita ambil.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s