Kritik Prof. Rasyidi kepada Dr. Harun Nasution

Prof. DR. H.M. Rasjidi (1915-2001) | Muslim Obsession
mo

Profil Prof. H M Rasyidi

Muhammad Rasyidi lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915 semula bernama Saridi. Ayahnya Atmosudigdo mengenalkan ia agama Islam dengan mendatangkan guru agama dan juga ia sekolah umum, Ongko Loro. Lalu ia belajar di Sekolah Rakyat Muhammadiyah, dan ia melanjutkan ke Kweekscool Muhammadiyah Yogyakarta. Melalui surat kabar ia mengetahui sekolah Al-Irsyad di Lawang Malang yang dipimpin Ahmad Soorkati. Di al-Irsyad ia cepat menerima pelajaran agama Islam dan termasuk Alfiah Imam Malik telah ia kuasai. Ketika lulus itulah oleh Ahmad Soorkati ia diberi nama Muhammad Rasyidi.

Ayahnya mengirim Rasyidi ke Mesir untuk belajar, tujuannya Universitas al-Azhar. Tapi atas saran teman di Mesir, Kahar Muzakir,  ia masuk Universitas Kairo pada fakultas filsafat. Ia seangkatan dengan Mustafa Abdur Razik. Selama 7 tahun ia belajar di Kairo dan kemudian tahun 1938 ia kembali ke Yogyakarta. Ia mula-mula menjadi guru madrasah Ma’had al-Islami di Kotagede. Ia juga ikut mendirikan Pesantren Luhur di Solo, tapi ketika Jepang datang tahun 1941 lembaga itu berakhir.

Ia mulai aktif politik dengan memasuki Partai Islam Indonesia (PII) dan ia juga aktif menjadi anggota Muhammadiyah, dan di Masjumi ia menjadi fungsionaris.

Ketika Indonesia merdeka dibentuklah Departemen Agama ia diangkat menjadi Menteri Agama pertama umur 36 tahun pada 3 Januari 1946. Saat Belanda kembali datang ibukota RI pindah ke Yogyakarta H Agus Salim dan ia sebagai sekretaris ikut dalam misi diplomatik ke negara-negara Arab. Dan selanjutnya ia menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir dan Arab Saudi yang berkedudukan di Kairo tahun 1949. Tahun 1953 ia dipindahkan ke Teheran dan setahun lebih sebulan ia kembali ke Jakarta.

Tahun 1954 ia melanjutkan belajar atas beasiswa Rockefeller ke Univeritas Sorbone Paris. Dua tahun belajar selesai pada 23 Maret 1956 ia mempertahankan disertasinya L’evolution de l’Islam en Indonesia au consideration critique du livre Tjentini (Perkembangan Islam di Indonesia atas kajian kritis atas serat Centini) dengan berhasil cum laude.

Pulang dari studinya di Paris ia dipercaya menjadi Duta Besar RI di Pakistan. Dua tahun kurang ia menjadi Duta Besar  situasi di negara Indonesia memanas ia mengajukan berhenti dan memilih mengajar di Universitas McGill, Montreal, Canada tahun 1958. Selain mengajar selama 5 tahun ia juga mempelajari dunia orientalisme. Ketika ada ceramah dengan nara sumber tamu di McGill kebetulan orientalis J Schacht yang membahas tentang hukum Islam bahwa Nabi Saw hanya sebagai hakim (abiter) orang bijak dan bukan sebagai qadhi, penentu hukum Islam. Ia tampil mengkritik pernyataannya itu bahwa kata hakim dan qadhi dalam al-Qur’an sinonim dalam beberapa tempat. Hal ini membuat dosen tamu itu marah dan menuduh ia tak tahu masalah. Ia dibela Toshihiko Izutsu bahwa Rasyidi benar. (Azra, 2002) Setelah beberapa lama di Kanada dan Amerika ia pulang kembali ke Indonesia. Tahun 1966 ia mendapat gelar guru besar hukum Islam pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Ia meninggal dunia pada 30 Januari 2001 di Jakarta.

Ia banyak menulis dan menerjemahkan buku, di antara terjemahannya, Persoalan-Persoalan Filsafat, Filsafat Agama (saduran), (Promesses de l’Islam) Janji-Janji Islam dan Otobiografi Garaudy karya Roger Garaudy, Bible Al-Qur’an dan Sain Modern, Humanisme Islam dsb. Sementara bukunya, Empat Kuliah Agama, Islam dan Kebatinan, Koreksi terhadap Dr Harun Nasution tentang Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Koreksi terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekularisasi, menulis dalam Kenneth W Morgan, ed. Islam at Straight Path, dan sebagainya.

Profil Dr. Harun Nasution

Lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, pada tanggal 23 September 1919. Tahun 1934 ia menyelesaikan belajar di HIS dan tahun 1937 di Moderne Islamietische Kweekscool di Bukitinggi. Lalu ia melanjutkan ke Universitas al-Azhar Kairo tahun 1940 mendapat Ahliyah dan tahun 1942 mendapat Candidat dari Fakultas Ushuluddin. Ia juga belajar di Universitas Amerika Kairo mendapat BA dalam studi Sosial tahun 1952. Pada tahun 1962 ia meneruskan studi ke Universitas McGill Montreal, Canada hingga tahun 1965 mendapat MA dalam studi Islam dan tahun 168 memperoleh Ph.D. dalam bidang yang sama. Ia sempat bekerja di Kairo dan tahun 1947-1958 ia menjadi pegawai Dep. Luar Negeri di Perwakilan RI Kairo, Kedutaan Besar RI Kairo, Kedutaan Besar RI Jeddah dan Kedutaan RI Brussel.

Sejak tahun 1969 ia menjadi pengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di samping itu menjadi dosen di berbagai universitas, tahun 1970 IKIP Jakarta, Universitas Nasional Jakarta, dan tahun 1975 Fak. Sastra Universitas Indonesia. 1973 ia dianggkat menjadi rektor IAIN Jakarta dan 1978 ia memperoleh guru besar dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Karya tulisnya antara lain, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya (2 jid), Perkembangan Pembaruan dalam Islam, Filsafat, Agama, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Teologi Islam (Jkt, UI), Islam Rasional, dan sebagainya.

Beberapa Kritik Prof. HM Rasyidi

Pada zaman Orde Lama yang cenderung kepada partai komunis sebelum tahun 1958 Dr. Rasyidi ketika itu menjabat Duta Besar RI Pakistan ia mengambil cuti dan selanjutnya ia mengajar sebagai associate professor di Institut of Islamic Studies di McGill University, Monteral, Canada. Selama 5 tahun ia mengajar dan belajar, dan selama itu ia banyak mempelajari dunia orientalisme dan Kristen.

Berawal dari sana ia terdorong untuk merintis jalan dan berusaha mengirim para sarjana tamatan IAIN (Institut Agama Islam Negeri, sekarang UIN) dan yang sederajat untuk belajar di dunia orientalisme. Ia terinspirasi oleh al Azhar, yang mengirim para ulama ke Jerman, London atau Paris.

Ternyata maksud itu tidak sesuai harapan. Di antara sarjana yang dikirim untuk belajar di Institut of Islamic Studies memberikan hasil yang tidak memuaskan. Dalam mempelajari dunia orientalisme, mereka bukan menemukan berbagai kekeliruan para sarjana Barat tentang Islam, namun malah mereka menelan mentah yang mereka ucapkan tanpa kritik.

Memang Barat memiliki keuletan dalam  penelitian dan berpikir, namun di celah-celah itu sering terdapat kekeliruan besar, kata Rasyidi.

Yang ia kritik adalah karya Dr. Harun Nasution, yang mendapat MA pada tahun 1965 dan Ph.D. pada tahun 1968 dari McGill University, berjudul Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (2 jilid). Buku ini menjadi buku wajib di seluruh IAIN.

Semula ia menulis laporan rahasia pada tanggal 3 Desember 1975 kepada Menteri Agama dan beberapa staf eselon yang berisi kritik terhadap buku Dr. Harun Nasution. Prof. Rasyidi tulis kritiknya itu perpasal. Namun karena sudah berlalu satu tahun tidak ada jawaban, maka ia berpikir ada dua kemungkinan.

  1. Pihak Departemen Agama setuju dengan isi buku itu dan ingin mencetak sarjana sesuai konsepsi penulisnya.
  2. Pihak-pihak di institusi tersebut tidak dapat menilai isi buku tersebut dan apa bahayanya.

Oleh karena itu laporan yang bersifat rahasia itu ia terbitkan berupa buku “Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya”.

Ada XI bab kritik Prof. Rasyidi terhadap isi buku itu. Di sini tidak akan semuanya ditulis namun bab I dan XI secara singkat, dan jika pembaca ingin mengetahuinya bisa langsung merujuk buku Prof. Rasyidi dan bukunya Dr. Harun Nasution.

Bab I, Tentang agama dan pengertian agama dalam berbagai bentuknya.

Di antara bahasannya berkaitan dengan kata agama, ad-diin dan religion. Kata agama berasal dari Sankrit, ad-diin dari bahasa Arab dan religion dari Latin. Ada kesulitan untuk menyimpulkan dari definisi-definisi itu, sebab tiap kata memiliki konotasi yang berbeda. Agama dalam bahasa Sangkrit lebih menonjolkan tradisi, religion dalam bahasa Latin menonjolkan ikatan manusia dengan kelompoknya dan dewanya dan kata itu tidak terdapat dalam Injil, sedangkan kata ad-diin terdapat dalam al-Qur’an. Penyamaan ketiga kata itu dalam masyarakat untuk praktisnya dalam komunikasi, namun sebenarnya memiliki hakekat yang berbeda.

Agama Islam memiliki dua pokok ajaran yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan dan hubungan antara manusia dengan manusia. Hubungan antara manusia dengan Tuhan, seperti dalam ibadah shalat. Sementara hubungan dengan masyarakat seperti puasa, zakat dan haji.

Hubungan antara manusia dengan manusia yang terdapat dalam ajaran Islam tentang keluarga, negara, ekonomi, hukum dan hubungan internasional semua itu terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Cara penyajian buku Dr. Harun ini mengikuti para pemikir Barat yang mengatakan bahwa semua agama sama dan merupakan gejala sosial, seperti yang dikatakan Emile Durkheim. Dengan dasar semua agama itu sama, maka unsur agama ada empat:

  1. Kekuatan gaib, manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong.
  2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut.
  3. Respons bersifat emosional dari manusia. Respons ini berupa rasa takut seperti dalam agama-agama primitive dan perasaa cinta dalam agama monoteisme.
  4. Paham adanya yang kudus (sacred) dan suci, dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang berisi ajaran agama bersangkutan dan tempat-tempat tertentu.

Langsung ke Bab XI Membahas tentang aspek pembaruan dalam Islam.

Umat Islam banyak yang tertarik dengan perkataan pembaruan, modernism atau tajdid. Kata lainnya reformasi atau islah dalam bahasa Arab. Dalam buku sejarah, timbulnya reformasi adalah karena adanya gerakan reformasi dari Martin Luther (1483-1546). Orang Barat sering menggunakan kata reformasi atau modernisme sebagai sinonim, sehingga gerakan Muhammad Abduh kadang dinamakan sebagai gerakan reformasi atau modernisasi.

Reformasi atau modernisasi adalah gejala umum, karena ada perubahan masyarakat, maka cara hidup pun ikut berubah. Jika dahulu di perempatan jalan tidak perlu lampu trafik tapi karena perkembangan banyak motor dan tumbuhnya kota-kota diperlukan lampu pengatur lalu lintas itu.

Perubahan masyarakat di Barat karena kemajuan ilmu pengetahuan dengan tokoh-tokohnya bermunculan. Di Eropa Barat berbagai penemuan semakin marak dari kimia, listrik, biologi dan banyak lagi. Di antara negara Eropa, Inggris yang pesat perkembangan industrinya sebab terhindar perang. Mula-mula dari kereta api lalu kapal api 1838. Industry maju, tapi kaum buruh menderita. Karl Marx muncul yang berkata, kaum buruh berhak memerintah. Di samping itu imperialisme juga mulai muncul dengan tujuan keuntungan ekonomi.

Perubahan itu membuat orang tertarik. Penginjil mengatakan itu adalah buah dari agama Kristen, bahwa peradaban Barat adalah peradaban Kristen. Hal itu sering terdengar, namun itu tidak benar. Sebab banyak ilmuwan di Barat ketika itu seperti Bruno dibakar mati oleh gereja karena mengatakan bumi berputar. Agama Kristen tidak mendorong kemajuan tersebut. Kemajuan itu lepas dari agama.

Di samping kemajuan di bidang kimia, listrik, dan teknik juga ada bidang ilmu sosial dan humaniora.

Di Eropa sendiri terjadi perang antarnegara mereka. Bagaimana di dunia Islam sendiri? Napoleon ketika itu sedang jaya ia ingin menguasai Mesir sebagai pintu ke India. Ia mendarat di Elaxanderia tanggal 2 juli 1798 dengan senjata modern dan kaum ilmuwan, fisika, ekonomi, politik dan sastra. Mesir memang tempat pertemuan Barat dan Islam. Dalam aspek hukum untuk pertama kali dipertemukan hukum barat dan hukum Islam (Syariat).

Mesir banyak terpengaruh budaya Prancis. Dalam keadaan politik lemah ia menghadapi Prancis dan Inggris, mulanya diadakan tribunal mixte (al mahkamah al mukhtalat) tahun 1875. Waktu diadakan tribunal mixte naskah-naskah yang akan berlaku dikirim ke Universitas al Azhar untuk dibahas para ulama. Hasilnya para ulama itu mengatakan bahwa hukum-hukum itu dengan artikelnya ada kesamaan dengan salah satu pendapat empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hanbali) dan sebagian tidak bertentangan dengan madzhab tersebut dan sebagian termasuk al masalih mursalah. Laporan itu tertulis tidak dicetak.

Modenisme mendapat halangan bukan dari Islam tapi dari ketakutan dan rasa curiga kalangan mereka. Juga, kata Dr. Harun, tantangan datang dari kalangan ulama, karena zaman itu konfrontasi Kristen dan Islam masih kuat.

Kata-kata itu pengaruh dari kaum oreintalis yang anti Islam tanpa kritik. Jika dalam hukum para ulama al Azhar menyatakan bahwa hukum Barat, kecuali dalam beberapa hal, pada umumnya senafas dengan salah satu madzhab empat atau merupakan maslahah mursalah, yang berarti salah satu sumber hukum dengan ijtihad untuk memelihara masyarakat, maka penentangan terhadap pembaruan itu adalah datang dari rakyat yang menyamakan modernism dengan pihak penjajah yang beragama Kristen tapi karena penjajahannya, dan bukan karena agamanya.

Dr. Harun, mengatakan, waktu itu pertentangan Kristen Islam sangat keras. Kata-kata tersebut kata-kata orientalis yang anti Islam. Umat Islam tidak benci kepada orang Kristen, tapi tidak suka kepada penjajahan. Pertentengan ketika itu masih keras, Prof. Rasyidi mengatakan, hingga kini pun tetap keras, tapi bukan antara Islam dan Kristen sebagai agama, sebabnya karena meraja lelanya kristenisasi di kalangan umat Islam.

Timbul gerakan Jamaluddin al Afgani yang menggugah umat Islam untuk lepas dari penjajahan, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha pelaksana ide Abduh untuk perbaikan pelajaran di al Azhar. Juga Ali Abdul Razik, Prof. Rasydi kenal dengannya. Ia sendiri adalah murid kakaknya, Mustafa Abdul Razik, guru besar filsafat di Univesitas Cairo, pada tahun 1937.

Ali Abdul Razik seorang yang ambisius dan oportunis. Ketika Turki disekulerkan Attaturk banyak yang ingin memberikan gelar khalifah kepada raja Abdul Aziz bin Saud yang merdeka. Tapi tahun 1926 Sultan Fuad ingin mendapat gelar itu juga sementara negaranya diduduki Inggris, maka Ali menulis buku al-Islam wa Usuulul Hukm (Islam dan prinsip-prinsip ketatanegaraan), yang maksudnya agama Islam itu mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan dan tidak mengatur keduniaan. Buku itu tidak logis dan argumentasinya dibuat-buat.

Buku itu tidak ilmiah dari seorang oportunis, tapi ia populer di kalangan kaum orientalis politisi. Untuk memasukan ide Ali Abdul Razik dalam rangkaian ide pembaruan Islam adalah sangat keliru. Pada waktu itu buku itu telah banyak dikritik oleh para ulama besar seperti Rasyid Ridha dan Khadr Husein yang menjadi syekh al Azhar. (Di Indonesia terbit terjemahan karya Dr. Diauddin Rais yang menanggapi buku Ali)

Dibahas pembaruan di Turki, India, dan di Arab khususnya adalah gerakan salaf dan bukan pembaruan. Lalu di Indonesia. Yang termasuk pembaruan adalah al-Irsyad dengan pimpinan Ahmad Surkati, Sarikat Islam HOS Cokroaminoto dan Haji Agus Salim sebagai figure yang menonjol, juga Dr. Harun tidak menyebutkan sebab langsung yang mendorong KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah tersiarnya kristenisasi di kalangan orang Jawa, dan Masyumi, yang di masa Jepang dijadikan alat propaganda pemerintah militer Jepang, sebagai gerakan politik Islam menentang kembalinya penjajah Belanda. (Jkt, BB, 1989)

Depok, 14 April 2012

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Agama dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s