Membangun Keluarga Sakinah

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 

Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu”, (QS ad-Dzariat 56)

Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi” (QS: 13)

Bagi seorang muslim semua aspek kehidupan adalah ibadah. Jika ingin melakukan sesuatu ia harus diawali dengan membaca Bismillah.

Apalagi dengan hal yang sangat penting dalam kehidupan seperti pernikahan. Sebab pernikahan tidak hanya soal kesepakatan antara pria dan wanita namun adalah juga sillaturrahim antara dua keluarga dan bahkan kultur.

Pada zaman Jahiliah orang-orang Arab biasa memiliki hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur oleh tradisi. Oleh karena itu ketika Nabi Muhammad Saw diutus secara perlahan tradisi Jahiliah dibuang dan digantikan oleh ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran. Seperti persoalan nikah dalam ayat di bawah ini dan diperkuat dengan hadits Nabi Saw.

  فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۖ  فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً

Maka nikahilah dari perempuan satu, dua, tiga atau empat” (QS an-Nisa: 3)

Dalam membina rumah tangga kaum muslim meneladani kehidupan Nabi Saw dalam berkeluarga. Ketika nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah umur 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. Nabi Saw memberi mahar untuk Khadijah 20 ekor unta. Jika saat ini dihitung jumlah itu sekitar 1 m lebih.

Nabi Saw hidup dalam kesederhanaan dan bahkan kekurangan. Jika dibandingkan pada abad itu ada kerajaan Persia dan Romawi. Raja-raja di wilayah itu hidup mewah di istana, memiliki banyak pengawal, gudang harta dan istri dengan selir-selir. Semua fasilitas itu tidak membuat mereka hidup tenang dan dari waktu ke waktu selalu saja ada intrik dalam istana. Namun, beliau mengatakan ”baiti jannati”, rumahku surgaku. Sebab, Nabi tidak mementingkan materi dan tidak silau dengan kehidupan dunia.

Begitupun para sahabatnya, sepeninggal Nabi mereka hidup dalam kesederhanaan. Nabi Saw sendiri mengatakan bahwa ia diberi kunci kekayaan dunia, namun ia tidak mau mengambilnya, beliau lebih memilih kampung akhirat yang langgeng. Ketika ada beberapa sahabat yang iri dengan pembagian pampasan perang (ghanimah) beliau katakan, untuk apa sejumput sampah itu.

Semua itu fondasinya adalah iman. Perilaku Nabi yang menampilkan kasih dan sayang dalam kehidupan adalah refleksi dari keimanan. Iman yang ada dalam hati harus terpantul dalam kehidupan nyata. Sebagaimana yang tertuang dalam hadits.

Man kaana yu’minu billahi walyaumil akhir fal yaqul khairan au liyasmut…

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam ” (hadits)

If you want to be happiness follow adivice from Rasullulah saw…

2012

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Info dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s