Belajar Sejarah

“Masa lampau, masa sekarang dan masa depan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Mengenal masa lampau adalah suatu langkah untuk menentukan diagnosis yang tepat  masa sekarang serta mengatur masa yang akan datang.” M Husein Haikal

yt

Apa itu sejarah?

Kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah yang berarti pohon. Sejarah dalam bahasa Arab disebut taarikh. Sejumlah kata lainnya dipinjam dari bahasa Arab dan sebagian bukan, di antaranya “silsilah”, “riwayat”, dan “hikayat”. Sejarah dalam bahasa Inggris history dan Yunani istoria. Pada awalnya sejarah adalah berupa silsilah raja yang membentuk pohon keluarga. Namun kemudian berkembang aktor sejarah bukan hanya orang-orang besar seperti raja bisa juga orang-orang biasa yang memiliki peran dalam proses perubahan.

Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Atau rentetan peristiwa di masa lalu yang ditulis sejarawan. Membaca sejarah yakni seperti orang naik kereta duduk di belakang melihat ke belakang dan bisa melihat ke kiri atau kanan ia tidak bisa melihat ke depan, tapi kereta tetap melaju ke depan. Kita melihat kepada peristiwa di masa lalu dari masa kini untuk menatap masa depan. Demikian kira-kira kata Kuntowijoyo (1995).

Manfaat Belajar Sejarah

Manfaat intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik, yaitu 1) sejarah sebagai ilmu, 2) sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau, 3) sejarah sebagai pernyataan pendapat, dan 4) sejarah sebagai profesi. Esktrinsik memiliki fungsi pendidikan, di antaranya moral, penalaran, politik, kebijakan, perubahan, masa depan, keindahan, dan ilmu bantu, dan selain itu, sebagai latar belakang, rujukan dan bukti.

Agar kita tidak terjatuh ke lubang yang sama dua kali. Dengan belajar dari sejarah kita tidak terjerumus pada kesalahan yang sama dan dapat menghindari dari kesalahan secara terus menerus. Jika kita terjatuh untuk kedua kali pada lubang yang sama, itu artinya kita tidak belajar pada pengalaman pertama. Untuk pertama kali kita terjatuh di suatu lubang karena kita tidak tahu, mungkin dapat dimaafkan, tapi setelah tahu di situ ada lubang tentu kita harus dapat menghindarinya. Jika kita tetap melangkah padahal tahu di depan ada lubang, maka sama saja dengan bunuh diri.

Memahami Sejarah

Seperti kita memahami berita yang ditulis wartawan, yakni 5 W + 1 H (what, where, when, who, why dan how). Ada peristiwa apa? Dimana peristiwa itu terjadi? Kapan peristiwa itu terjadi? Siapa para pelaku dalam peristiwa itu? Mengapa terjadi peristiwa itu? Dan bagaimana jalan cerita peristiwa itu terjadi?

Contoh: Peristiwa Proklamasi Kemeerdekaan 17 Agustus 1945. Hari kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta, pada 17 Agustus 1945, pelakunya Bung Karno dan Bung Hatta dkk serta bangsa Indonesia, sebab Bangsa Indonesia ingin merdeka dari cengkraman penjajah, dan kronologi peristiwa, berbagai kejadian yang mendahuluinya, ketika kejadiannya dan setelah peristiwa itu ternyata penjajah masih ingin kembali melakukan penjajahan.

Ada yang ditulis secara naratif dan disertai dengan analisis dengan berbagai pendekatan ilmu bantu sejarah dari ilmu-ilmu sosial atau humaniora, seperti sosiologi, antropologi, arkeologi dan sebagainya.

Sejarawan

Sejarawan adalah orang yang menulis sejarah, baik ia sarjana yang belajar ilmu sejarah atau seseorang yang menulis karya sejarah berdasarkan penelitian naskah tertulis dan cerita dari pelaku sejarah. Sejarawan menulis kisah seorang tokoh atau suatu peristiwa berdasarkan naskah tertulis atau lisan. Naskah itu diteliti keasliannya dan dikritik informasinya, apakah mengandung kebenaran atau hanya mitos belaka.

Ia meneliti naskah atau dokumen-dokumen untuk dijadikan bahan menulis sejarah. Ia melakukan kritik sejarah, ekstrinsik dan intrinsik, mengenai keaslian dokumen dan kebenaran informasi yang ada di dalamnya.

Metodologi penelitian sejarah semakin berkembang oleh karena itu sejarawan dalam menulis karyanya menggunakan berbagai pendekatan dari ilmu bantu sejarah, seperti ilmu-ilmu sosial atau humaniora, agar karya sejarah yang ditulisnya semakin tajam dan kaya.

Historiografi Indonesia

Azra menulis mengenai perkembangan historiografi Indonesia, secara kuantitatif dan kualitatif. Ia mengatakan, bahwa banyak muncul karya sejarah, baik yang ditulis sejarawan Indonesia maupun sejarawan luar. Karya-karya tersebut memberikan sumbangan yang berarti bagi pemahaman yang lebih akurat terhadap sejarah Indonesia. Dari segi kualitas, karya-karya tersebut mengalami peningkatan, dengan penggunaan metodologi yang semakin kompleks, dengan menggunakan ilmu bantu, seperti humaniora dan ilmu-ilmu sosial.

Ilmu-ilmu bantu yang digunakan dalam penulisan sejarah Indonesia telah memperkuat dan mengembangkan corak baru, yang oleh kalangan sejarawan Indonesia, disebut sebagai “sejarah baru”, untuk membedakan dengan sejarah lama. Sejarah lama umumnya bersifat deskriptif-naratif, yang cenderung kepada “sejarah politik”. Namun “sejarah baru” sebagai alternatif dari sejarah lama, dipahami sebagai “sejarah sosial”, yaitu sejarah yang menekankan kepada analisis terhadap berbagai faktor dan bahkan ranah-ranah sosial yang mempengaruhi terjadinya peristiwa sejarah.

Sejarah sosial di Indonesia dikenalkan oleh sejarawan Sartono Kartodirjo pada tahun 1980-an, terutama mendasarkan pada karyanya tentang pemberontakan petani Banten pada 1888 pada zaman kolonial Belanda. Namun, kata Azra, kajian-kajian sejarah yang dilakukan Sartono termasuk ke dalam pengertian lama mengenai “sejarah sosial”, yang mengacu pada arti sejarah tentang masyarakat kelas bawah. Dalam perkembangan selanjutnya, “sejarah sosial” tidak hanya sekedar yang berkaitan dengan gerakan-gerakan sosial, namun adat istiadat dan kehidupan sehari-hari diikutsertakan. Contoh terbaik jenis ini mengacu kepada karya Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin, ( 2 jld.) ((1993) dan Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya,(3 jld.) (1996).

Karya Sejarah dengan Pendekatan Ilmu Sosial

g

Kisah Pemberontakan Cilegon

Sebelum pemberontakan meletus di Cilegon Haji Wasid melakukan kontak dengan H Tubagus Ismail dan para pemimpin pemberontak terkemuka lainnya. Mereka memutuskan bahwa pemberontakan harus dimulai di Cilegon pada hari Senin 9 Juli 1888, dan disusul serangan terhadap Serang. Setelah musyawarah terakhir dengan H Tubagus Ismail dan H Ishak di Saneja pada malam hari Minggu, haji Wasid pergi ke utara untuk melakukan persiapan di distrik Bojonegoro. Pada dini hari mereka bergerak ke Cilegon. Mereka menyerang para pejabat Belanda serta para pembantunya yang pribumi.

Dari Serang Bupati, Kontrolir dan Letnan van der Star sebagai pimpinan pasukan menuju Cilegon untuk memadamkan pemberontakan. Sebelum sampai ke tempat tujuan di Toyomerto mereka bertemu dengan kaum pemberontak, setelah kaum pemberontak menolak menyerah akhirnya diserang pasukan dan beberapa kaum pemberontak tewas. Setelah penumpasan itu semangat kaum pemberontak melemah.

Namun, Haji Wasid masih bergerak dengan para pengikutnya, walau ada sebagian yang memisahkan diri, ke daerah selatan. Kemudian pasukan pemerintah kolonial terus mengejar mereka dan akhirnya terjadi pertempuran di Sumur. Kaum pemberontak mengalami kekalahan dan mereka tewas, di antaranya Haji Wasid, H Tubagus Ismail, H Abdulgani dan H Usman. (Sartono Kartodirdjo tentang Pemberontakan Petani Banten 1888) (edit)

Cibinong, 29 -11-2011

Iklan

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Belajar Sejarah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s