MANTRA UANG

Seseorang disebut kaya jika ia memiliki sejumlah harta yang bernilai uang.* Sejumlah uang yang dimilikinya dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya, dan bisa diperluas dan diperluas lagi. Dibuatlah daftar orang-orang kaya mulai dari tingkat lokal, mungkin desa, kecamatan,  nasional dan regional dan seterusnya.

Dalam sejarah, orang-orang kaya mendapat perhatian berkaitan dengan perilaku pemiliknya, ada yang sulit membagikan hartanya untuk masyarakat, ada yang pemurah, dan untuk berpoya-poya dan sebagainya. Semua itu tercatat dan menjadi pelajaran bagi manusia saat ini.

Pada awalnya kebanyakan mereka miskin, lalu mendapat bantuan orang lain atau usaha sendiri. Mereka gigih mengumpulkan uang, sehingga mereka menjadi orang kaya. Namun, tidak semua orang yang kaya cara mengumpulkannya dengan jalan yang tidak merugikan orang lain. Seseorang menjadi pedagang dan usahanya mendapat untung, maka ia memiliki sejumlah uang. Dengan melipatgandakan pengembalian pinjaman, maka ia akan mendapat sejumlah uang. Juga dengan merampok seseorang dengan mudah mendapat uang. Cara tersebut dapat dilakukan oleh individu, kelompok, korporasi dan bahkan oleh negara.

Negeri ini dahulu pernah didatangi orang-orang asing. Mereka mencari harta yang masih tersimpan. Untuk menggalinya mereka memanfaatkan orang-orang pribumi, dan mereka mendapatkannya. Harta itu mereka uangkan untuk kemudian digunakan membangun negara mereka.  Hal itu mereka lakukan dalam waktu lama.

Lambat laun pribumi sadar telah dimanfaatkan mereka. Pribumi bangun, melawan dan mengusir para pendatang itu. Dengan susah payah akhirnya mereka pergi.

Ternyata harta yang pribumi miliki tak dapat segera dimanfaatkan. Dengan terpaksa pinjam uang. Siapa yang mau meminjamkan uang? Orang asing. Pribumi yakin meminjam pada orang asing “yang baik”. Karena kebaikannya pribumi menjadi ketagihan untuk terus meminjam uang, dan ia lupa untuk menghitung uang yang telah dipinjamnya dan juga bunganya. Sang pribumi semakin tua, pikun dan lalu ia meninggal. Ia wariskan hutang itu kepada anak cucunya. Dan anak cucunya tidak jauh berbeda, dengan pendahulunya, selalu meminjam uang.

Pribumi akhirnya terjerat hutang yang tak berkesudahan.

Harta yang ia miliki hanya sedikit dapat ia uangkan, sebab harta itu lebih banyak digunakan oleh orang asing. Orang asing lebih paham bagaimana memanfaatkan harta untuk gaya hidup dan kesenangan. Maka di pusat-pusat kota besar berdiri megah beraneka macam tempat untuk membelanjakan uang.

Untuk kesenangan si kaya menghabiskan uang di meja judi, di diskotik atau untuk menikmati kesenangan yang lain. Gaya hidup seperti itu menyedot kekayaan di wilayah lain.

Wilayah lain ini disebut juga sebagai wilayah pinggiran. Di wilayah ini banyak orang hidup seadanya, alias miskin, tidak memiliki uang. Ada beberapa yang kaya dan banyak uang. Namun, uang yang mereka miliki hasil kerja sama dengan orang asing.

Dan seseorang disebut miskin jika ia tidak memiliki sejumlah harta yang bernilai uang. Tidak memiliki uang dibandingkan dengan masyarakat lain, apakah ia paling sedikit uangnya atau tidak.

Seseorang dapat disebut kaya atau miskin bergantung pada uang yang dimikinya, dan begitupun sebuah negara.

Segalanya membutuhkan uang, namun uang bukan segalanya, kata orang. Uang telah menjadi mantra, yang dapat menghipnotis siapapun. Hanya orang yang cerdas dalam mengelola dan memanfaatkan uang yang akan selamat dengan uangnya, begitulah sejarah mencatat.

Depok, 26 November 2011

Lu’ay

_______

*Dalam sebuah seminar, Tung Desem Waringin mengatakan, bahwa uang adalah konsep, sebab orang dulu dalam transaksi tidak menggunakan uang tapi barter dan kini cukup lewat online.

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di diskusi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s