Prof. Ismail Raji al-Faruqi tentang Tuhan

“Inti pengalaman keagamaan adalah Tuhan. Kalimah syahadah, atau pengakuan penerimaan Islam, mengucapkan “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Nama Tuhan adalah “Allah”, dan menempati posisi sentral dalam setiap kedudukan, tindakan dan pemikiran setiap Muslim. Kehadiran Tuhan mengisi kesadaran Muslim dalam waktu kapan pun. Bagi kaum Muslimin Tuhan merupakan obsesi yang agung. Apa makna ini?

Para filosof dan teolog Muslim telah memperdebatkan masalah ini selama berabad-abad, dan mencapai puncaknya pada argument al-Ghazali dan Ibnu Sina. Bagi para filosof, masalah tentang Tuhan berarti masalah menyelamatkan ketenteraman alam raya. Dunia, kata mereka, adalah kosmos, yaitu suatu alam tempat tatanan dan hokum berlaku, tempat hal-hal terjadi karena adanya sebab dan tiap sebab membawa serta akibat. Dengan pandangan ini, sadar atau tidak, mereka telah menjadi pewaris khazanah agama dan filsafat Yunani, Mesopotamia dan Mesir Kuno. Penciptaan itu sendiri, bagi tradisi-tradisi ini, adalah peralihan dari kekacauan (chaos) ke teraturan (cosmos). Kaum Muslim memang bisa menerima gagasan-gagasan yang paling tinggi mengenai transendensi dan keagungan Tuhan tetapi tidak dapat membayangkan kalau wujud Tuhan itu konsisten dengan dunia yang kacau.

Di lain pihak, para teolog mencemaskan bahwa penekanan yang demikian rupa pada keteraturan alam raya tersebut akan menjadikan Tuhan sebagai deus otiosus (Tuhan yang pensiun), karena Dia tidak punya pekerjaan lagi, begitu Dia selesai menciptakan alam raya dan mekanisme yang diperlukan alam dan segala isinya bergerak secara teratur dan menuruti hukum sebab-akibat. Kecemasan ini memang abash dan benar! Kerena sebuah dunia yang segala sesuatunya terjadi sesuai dengan sebabnya dan semua sebab adalah alamiah—yakni di dalam alam dan dari alam—adalah dunia yang segala sesuatu terjadi dengan sendirinya, dunia yang tidak membutuhkan Tuhan. Tuhan macam itu tidak memberikan kepuasaan perasaan beragama. Tuhan adalah Dia, oleh Siapa segala sesuatu menjadi ada, karena Siapa segala sesuatu terjadi, kalau tidak, Dia betul-betul bukan Tuhan. Dengan menyodorkan argumen yang rumit, para teolog menunjukkan bahwa Tuhan seperti yang diajarkan para filosof adalah Tuhan yang tidak mengetahui apa yang terjadi, tidak mampu mengontrol dan mengawali kejadian, atau ada Tuhan lain di samping-Nya, penyebab sesungguhnya dan yang menguasai segala sesuatu. Ini berrarti, para teolog menolak pandangan para filosof tersebut dan menciptakan doktrin yang disebut “okasionalisme”, sebuah doktrin yang beranggapan bahwa Tuhan setiap saat mencipta-ulang dunia ini, cipta-ulang yang mengakibatkan terjadinya seluruh kejadian di dalamnya. Mereka menggantikan kemustian kausalitas dengan kepercayaan bahwa Tuhan, sebagai Dzat yang bersifat adil dan bijaksana, tidak akan mengelabui, tetapi akan memastikan bahwa akibat yang tapat akan selalu mengikuti sebab yang tepat. Hasil dari perdebatan ini adalah tegaknya kehadiran Ilahi, dan diakomodasikannya kausalitas kepada kehadiran tersebut. Para teolog menang telak atas para filosof!”

“Dia adalah tujuan akhir dari segala kehendak dan keinginan. Dialah yang membuat setiap kebaikan yang lain menjadi baik; sebab, jika cincin yang terakhir dari serenteng rantai tidak dikaitkan, mata setiap cincin yang lain akan sia-sia. Tujuan akhir adalah dasar aksiologis dari semua mata rantai atau rangkaian tujuan-tujuan.”

Prof. Ismail Raji al-Faruqi

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Agama dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s