Putus Asa

Oleh: Lu’ay*

Diceritakan, seorang pencari ilmu sudah menghabiskan banyak waktu untuk belajar, namun ia merasa belum juga mendapatkan  ilmu. Ia bosan dan ia memutuskan untuk meinggalkan pondok tempat ia belajar. Dalam perjalanan pulang ia beristirahat di bawah sebuah pohon. Ketika itu ia melihat air yang menetes ke atas batu, terus menerus, dan batu itu berlubang. Lalu, ia berpikir, jika batu yang keras saja dapat berlubang oleh tetesan air, bagaimana dengan otak. Ia mengubah keputusan untuk pulang, dan ia kembali ke tempat belajar.

Ia hampir putus asa. Namun, ia menyadari bahwa belajar membutuhkan proses. Ia kini dengan semangat baru, tekun dan terus belajar. Setelah beberapa lama ia berhasil menyelesaikan belajarnya. Ia kemudian menjadi seorang berilmu, dan kepadanya orang bertanya.

Mengapa berputus asa?

Manusia berbeda dengan makhluk lain, seperti hewan yang hanya dibekali insting. Manusia diberi akal untuk berpikir. Dengan kekuatan pikirannya ia mampu mencari solusi dalam menghadapi problem kehidupan. Jika ia mendapati jalan buntu, dan ia terus berusaha.

Kita sering jika menemukan jalan tak berujung dalam menyelesaikan masalah membuat kita putus asa atau frustasi. Adakah masalah hidup tak berujung? Mungkin ada ujungnya, namun kita belum sampai saja. Mungkinkah berbagai persoalan hidup tak berujung? Tak mungkin. Sebab banyak jalan untuk mengurai aneka persoalan tersebut. Kita dituntut terus berusaha, berdoa dan bila perlu minta pertolongan orang lain. Asal jangan minta pertolongan kepada mahluk ghaib, yang tidak kelihatan. Atau kepada orang pinter yang tidak pinter.

Putus asa berarti putus harapan. Jika sudah terjerumus pada perasaan putus harapan, maka tidak ada yang diperbuat. Padahal dengan terus berbuat, mesti akan menemukan jalan. Kita, mungkin ingat bagaimana seekor tikus yang terperangkap pada sebuah gedung. Ia akan terus menyusuri dan mencari di mana ada celah yang dapat ia gunakan untuk keluar. Dan jika perlu ia membuat jalan baru untuk ia lalui. Dengan usahanya ia akan dapat keluar. Mungkin saja kalau ia diam saja ia akan mati terperangkap di dalamnya.

Persoalan kehidupan bukanlah labirin yang tak berujung. Di ujung sana kita akan menemukan sebuah jalan atau banyak jalan keluar.

Sering kita mendengar seseorang yang putus asa akhirnya bunuh diri. Entah ia sebagai seniman, pemikir, atau yang lainnya. Padahal hidup ini adalah anugerah yang harus kita maknai. Jika hidup ini kita warnai, maka akan berwarna, dan bila kita isi dengan warna kegelapan akan gelap pula kehidupan ini. Apakah dengan mengahabisi hidup dengan diam atau bunuh diri persoalan akan habis, atau justru akan beruntun. Jika ia seorang ayah ia akan meningnggalkan keluarganya. Seorang seniman akan terputus karyanya yang ditunggu para pencintanya, atau pemikir atau siapapun. Ia akan meninggalkan luka pada orang yang dekat dengannya. Apakah luka itu yang akan ia wariskan? Tentu tidak.

Hidup adalah anugerah terbesar dari Tuhan, bagi yang mempercayainya.  Kita tidak meminta hidup ini, namun Ia memberinya untuk kita. Kita hanya menjalaninya. Apakah menjalani hidup ini dengan bebas atau dengan tujuan? Di sinilah manusia diberi bekal akal pikiran, seperti Adam yang mengungguli malaikat dan setan. Ia mampu berpikir kreatif.

Manusia adalah makhluk pembelajar yang hebat. Ia mampu belajar menjadi baik dan mampu pula untuk berbuat sebaliknya. Kita tentu ingat catatan sejarah, yang bertaburan dengan tokoh-tokoh bermacam-macam. Bagaimana mereka menyelesaikan persoalan hidup yang mereka hadapi? Ada yang menorehkan catatan yang baik dan ada pula yang sebaliknya.

Bagi seorang muslim akan selalu mengingat bahwa berputus asa dilarang, karena ia termasuk perbuatan orang-orang kafir. Allah sangat pemurah dan jika hambanya meminta pertolongan kepada-Nya, maka  Ia akan menjawab doanya. Allah yang menciptakan alam ini dengan segala isinya. Semuanya berada dalam genggaman-Nya, tak ada sesuatu pun walau sebiji zarah (atom) yang luput dari genggaman-Nya. Oleh karena Ia Maha Pengatur alam ini, maka kita sebagai manusia mestinya meminta pertolongan kepada-Nya.

Ayat di bawah ini mengingatkan kita, bagaimana manusia mencari jalan dan tidak  merasa terputus dari rahmat Allah, yang menggelar kehidupan ini.a

 “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“.(QS Yusuf:87)

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS Al-Ankabut:23)

                             Depok, 14 Nopember 2011

                             *peminat sejarah dan lukis

Bahan Rujukan

Nana Djumhana, Menemukan Makna Hidup (Fictor Frankel), (Jakarta:Paramdina,1998)

Komarudin Hidayat, Memaknai jejak-jejak Kehidupan, (Jakarta: Gramedia, 2009)

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Jiwa dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s