Kereta

“Pak yang berangkat ekonomi lebih dulu atau AC?”

“Ekonomi.”

“Jakarta, satu.”

Beberapa menit kemudian.

“KRL jurusan Bogor-Jakarta kota berangkat pukul 08.15.”

Para penumpang sudah siap di tempat untuk menjemput kereta datang. Kereta sudah terlihat dan memasuki stasiun secara perlahan. Laki-laki dan perempuan saling berebut memasuki pintu-pintu yang tersedia, yang memang tidak pernah tertutup atau ditutup. Para penumpang yang tadi memenuhi stasiun terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang tak terbawa kereta.

Di dalam gerbong penumpang berjubel. Yang sudah rapih menyisir rambut bisa kusut; yang berbedak menjadi luntur tersapu keringat; jika tangan sudah terangkat maka akan sulit diturunkan dan begitu sebaliknya.

Beberapa menit kemudian kereta melewati stasiun. Ada yang turun satu orang atau dua, tapi yang naik lebih banyak. Di dalam gerbong yang sudah berjubel semakin padat. Bisa jadi jika gerbong itu terbuat dari karet mengembang bagai balon karena pada setiap stasiun tak henti-hentinya penumpang terus bertambah. Kereta itu seperti juga manusia rakus yang tak pernah kenyang walau perut sudah membesar bagai balon udara.

Pemandangan seperti itu terlihat setiap hari. Kecuali hari-hari libur. Penumpang kereta agak longgar.

***

“Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin…” Lewat suara nyanyian itu dengan diiringi musik dari tape recorder. Mereka menyusuri lorong kereta api sambil mengumpulkan uang recehan. Pemandangan hal seperti itu adalah suatu hal yang biasa dilihat jika penumpang kereta agak kosong.

***

Ada komunitas tertentu di kereta listrik. Mereka duduk berkelompok, mengobrol dan kadang mereka tertawa-tawa. Suara mereka terdengar nyaring ke tempat lain di ruang kereta yang penuh sesak.

Jarang terlihat orang membaca buku, hanya ada beberapa orang membaca koran. Mengobrol sesama kenalan, ada yang diam sambil mengamati ke luar jendela kereta sambil curiga jangan-jangan di samping atau di belakang copet mengintai. Penumpang harus waspada pada barang berharga, terutama uang di dompet.

***

Kereta terus menyusuri kota Jakarta. Dari pintu atau jendela, yang terus terbuka, aku melihat pemandangan yang begitu kontras. Nun di kejauhan sana terlihat gedung-gedung tinggi, terlihat agak buram, terhalangi kabut asap kendaraan bermotor. Sementara di beberapa tempat di pinggir rel kereta api tampak perkampungan kota dengan rumah-rumah tambalan dinding triplek dan atap seng butut. Atau rumah-rumahan kecil seperti orang kamping.

Itulah Jakarta. Ibu kota Indonesia.

Di warung-warung kopi aku dengar berbagai perbincangan orang-orang. Mereka membicarakan berbagai isu. Salah satunya tentang kemungkinan ibu kota dipindahkan ke tempat lain. Sebab itu kota sudah penuh sesak. Segala macam tumpah di kota Jakarta. Bukankah Indonesia ini luas? Kata mereka. Kata orang di luar daerah mengingatkan. Indonesia bukan hanya Jakarta.

***

Penumpang terus berkurang. Pedagang asong merangsek masuk untuk berjualan di kereta. Tukang koran, air munum, buah-buahan, mainan anak dan barang-barang lain berjalan menyusuri rongga kereta. “Air bang, yang haus”. Pedagang lewat, penumpang harus minggir jika tak ingin tersenggol. Ada pedagang asong yang lewat sambil meminta maaf dan ada yang tidak, bahwa ia berhak hilir mudik di kereta.

Satu dua yang beli. Mereka turun di stasiun berikutnya. Dan yang lain naik kembali ke tempat semula.

Kereta berhenti. Suaranya medengus berat. Lalu ia menjerit agar orang-orang tidak menghalangi jalannya.

“Yang naik harap bersabar. Yang turun kasih jalan.”

Pukul 08.45 para penumpang berhamburan keluar. Kereta meneruskan perjalanannya menuju stasiun berikutnya. Pada setiap stasiun ada yang turun dan naik, namun semakin mendekati tujuan di stasiun akhir penumpang semakin sedikit.

Luay

Depok, 8-7-2010

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di cerita pendek, kisah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s