Muhammad Asad

Muhammad Asad lahir di Austria pada tahun 1900 dengan nama Leopold Weiss. Ia mempelajari beberapa kitab suci, Yahudi dan Kristen dengan bahasa Ibrani, Armenia, Polandia dan Jerman.

Pada tahun 1912 ia menjadi wartawan United Telegraph di Berlin, Jerman, kemudian Frankfuter Zeiteung dan koresponden di kawasan Arab (1926-1932). Ia mulai meninggalkan negerinya tahun 1922 untuk suatu perjalanan melalui Afrika Utara dan Asia, sebagai koresponden, dan sejak waktu itu ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di Timur Tengah. Perhatiannya semula terhadap bangsa-bangsa yang dihubunginya sekilas, sebagai orang asing. Lalu, ia melihat sesuatu yang secara fundamental berbeda dengan pandangan hidup orang Eropa, yang sejak semula telah tumbuh simpati dalam dirinya tentang kehidupan yang lebih tenang, lebih insani, dan konsepsi hidup lebih lebih damai disbanding dengan tata hidup Eropa yang tergesa-gesa dan mekanis. Rasa simpati itu berangsur-angsur menjadi keinginan untuk menyelidiki sebab-sebabnya dan ia pun tertarik dengan ajaran-ajaran Islam.

Tahun 1926 ia masuk Islam di Berlin dengan nama Muhammad Asad. Ia tinggal di Hijaz dan Najd, Saudi Arabia (1926-1932), Pakistan, Maroko, dan Eropa. Ia menjelajahi wilayah-wilayah negeri Islam antara tahun 1932-1947, kecuali Asia Tenggara (disebut dalam Road to Makkah) dan bersahabat dengan beberapa tokoh Islam. Di Pakistan ia pernah mengepalai Departemen Rekontruksi Islam (1947-1951), Kementerian Luar Negeri, dan duta tatap Pakistan untuk PBB.

Karyanya, antara lain Islam at the Crossroad (1934), The Road to Mecca (1952), dan The Message of the Quran. Yang pertama dan kedua telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Dalam bukunya ia menulis. “Islam pertama-tama mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian permanen kepada Allah dalam segala tindakan yang aneka ragam dari kehidupan manusia adalah maksud sesungguhnya dari hidup ini; dan kedua, bahwa maksud ini mustahil akan tercapai selama kita membagi hidup kita dalam dua bagian, yaitu yang spiritual dan material: keduanya harus terpadu bersama-sama dalam kesadaran dan tindakan kita, ke dalam suatu keseluruhannya yang harmonis. Pengertian kita tentang keesaan Allah harus direfleksikan ke dalam perjuangan kita ke arah koordinasi dan penyeragaman dari berbagai aspek kehidupan kita”. (h. 20)

“Islam tidak mengenal dosa warisan; kita memandang hal ini tidak sesuai dengan gagasan keadilan Allah. Allah tidak membuat seorang anak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan ayahnya, maka betapa Ia akan membuat generasi-generasi umat manusia yang tak terhitung jumlahnya akan bertanggung jawab atas dosa karena pelanggaran yang dilakukan oleh nenek moyangnya yang jauh? Tidaklah diragukan bahwa tidak mungkin menyusun keterangan falsafah tentang anggapan aneh ini; bagi pikiran yang menjangkau jauh, hal itu akan tetap sebagai hal yang dibuat-buat dan tidak akan memuaskan, sebagaimana konsepsi tentang tritunggal itu sendiri. Dan karena tidak ada dosa warisan maka tidak ada pula penebusan universal dalam ajaran Islam. Setiap muslim adalah penebus dosanya sendiri; ia memiliki segala kemungkinan sukses dan kegagalan spiritual dalam dirinya sendiri. (h, 25)

Dikatakan dalam al-Qur’an tentang kepribadian manusia:

Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya “. (QS al-Baqarah 2: 286)

Ayat lain mengatakan:

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ 

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS An-Najm: 39)

“Setiap orang harus berjuang menuju tujuan ruhani itu sebagai individu perorangan.” Dan, “Kewajiban masyarakat ialah mengatur kehidupan lahir dalam cara demikian rupa sehingga individu orang seorang mendapat halangan seminimal mungkin dan mendapat dorongan semaksimal mungkin dalam perjuangan spiritualnya.” (h. 30)

Konsepsi hidup materialisme sekarang ini adalah pembalasan dendam Eropa terhadap ‘kerohanian’ gereja yang telah kesasar dari kebenaran-kebenaran hidup alami”.

“…tiga dari sebab-sebab, mungkin sebab utama, mengapa peradaban Barat itu begitu sempurna antiagama dalam konsepsi dan metode-metodenya: pertama ialah warisan peradaban Romawi dengan sikapnya yang sama sekali materialistis  berhubung dengan kehidupan manusia dan nilai-nilai yang terpadu padanya; yang kedua, pemberontakan alam insani melawan sikap benci pada dunia dari agama Kristen dan sikap Kristen menindas hasrat-hasrat alami dan usaha-usaha yang halal dari manusia (yang diikuti oleh sekutu-sekutu gereja dengan para penguasa politik dan ekonomi dan pengesahannya dengan diam-diam atas setiap eksploitasi yang dapat dirancangkan para penguasa itu); dan yang ketiga, konsepsi ketuhanan yang antropomorfis. Pemberontakan agama ini sepenuhnya berhasil –demikian berhasilnya sehingga berbagai sekte dan gereja Kristen berangsur-angsur terpaksa menyesuaikan dokrin mereka dengan kondisi sosial dan intelektual Eropa. Ketimbang mempengaruhi dan membentuk kehidupan sosial para penganutnya sebagai kewajiban agama yang utama, agama Kristen telah mengundurkan diri dalam peranan sebagai satu konvensi yang ditolelir dan menjadi jubah bagi usaha-usaha politik“. (h, 40)

Berkaitan dengan sejarah ia menulis:

“Dan kekejaman-kekejaman yang tak terpikirkan, penghancuran dan penghinaan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan salib yang ‘suci-suci’ itu pada negeri-negeri Islam, mereka menaklukkannya dan sesudah itu mereka kalah, timbullah bibit-bibit beracun dari permusuhan panjang yang mulai saat itu memahitkan hubungan antara Timur dan Barat.”

Di pihak kaum Muslimin selalu ada harapan ikhlas untuk toleransi dan respek.’ Ketika Harun al-Rasyid mengirimkan dutanya kepada Kaisar Karel, terutama ia terdorong oleh hasrat ini, bukan ingin mengambil keuntungan material dari persahabatan dengan orang-orang Frank. Pada masa itu Eropa terlalu primitif dalam kulturnya untuk dapat menilai kesempatan ini secara penuh, tetapi jelas mereka tidak memperlihatkan rasa tak suka.”

“Tetapi, kemudian, secara tiba-tiba, peperangan salib muncul di cakrawala dan menghancurkan hubungan antara Islam dan Barat. Bukan kerena hal itu lumrah sebagai akibat peperangan: demikian banyak peperangan antara bangsa-bangsa, yang kemudian dilupakan dalam perjalanan sejarah umat manusia, dan sekian banyak permusuhan telah berubah menjadi persaudaraan. Tetapi, setan yang muncul dari peperangan salib tidak terbatas pada gemerincing pedang; setan itu pertama dan terutama berupa setan intelektual. ‘Kejahatan itu berupa peracunan pikiran Barat terhadap dunia Islam melalui penyalahtafsiran yang dilakukan dengan sengaja, yang ditempa oleh gereja terhadap ajaran-ajaran Islam.’ ” (h. 49)

Muhammad Asad

Tentang luaydpk

on history..... "masa kini dan masa lampau akan muncul di masa depan..." ts eliot (the present and the past will appear in the future)
Pos ini dipublikasikan di Agama dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s