P C L (Participant Centered Learning)

Oleh: Rhenald Kasali*

Banyak hal telah berubah, tetapi kita tetap saja melakukan hal yang sama berulang-ulang. Itulah yang terjadi dengan kita dalam berbagai hal. Mulai dari membuat kopi, mengambil jalan menuju tempat bekerja, menulis surat, memimpin rapat, memimpin kantor, melakukan presentasi sampai mengajar (untuk para guru dan dosen). Kita mengulangi segalanya dalam bentuk kebiasaan (habit) dan ketika harus diubah, rasanya sulit sekali. Rasa sulit itu sama seperti seseorang yang mengubah letak jam tangannya dari tangan kiri ke tangan kanan atau sebaliknya. Hal seperti itulah yang juga dialami oleh para guru dan dosen dalam mengajar. Semua orang di sini terbiasa mengajar dengan cara “menyuapi” anak didiknya. Dalam bahasa ilmiah cara itu kita sebut lecturing atau “memberi kuliah”. Murid mendengarkan , guru berbicara. Murid Tak Mendengarkan Tak seorang pun menyadari bahwa cara-cara lama itu sudah tidak efektif lagi. Di berbagai sekolah dan universitas, murid-murid cenderung tidak mendengarkan gurunya. Mereka semakin asyik dengan diri mereka masing-masing. Kalaupun guru atau dosennya galak, mereka hanya bias diam sebentar karena mereka takut. Mereka mencatat, tetapi pikiran mereka ada di tempat lain. Ada di handphone, internet, BlackBarry, Facebook, video game, music, taman, dan sebagainya. Dalam berbagai kesempatan, kita juga pernah menyaksikan pidato-pidato para pejabat dan presiden yang ditinggal oleh audiens. Bukannya apa-apa, mendengarkan itu meletihkan. Apalagi kalau yang berbicara hanya membaca, member pesan yang kurang menarik, nada suaranya datar, wajahnya terlalu serius, dan tak menjalin interaksi. Rasanya ingin sekali kita cepat-cepat meninggalkan ruangan, menuju taman di depan, berbicara dan tertawa dengan teman-teman. Inilah sebuah zaman yang kita sebut sebagai era partisipatif. Di era ini, semua orang ingin berpartisipasi dan terlibat. Ingin berbicara apa saja, yang penting bias ikutan. Celakanya, sedikit sekali guru dan pemimpin yang mau memperhatikan hal ini dan mengubah cara penyampaian mereka. Sekitar tujuh tahun silam, bersama dengan teman-teman yang baru kembali dari Harvard, saya memperkenalkan metode baru dalam pengajaran yang kelak berdampak luas dalam teknik presentasi. Metode itu kita sebut PCL (participant centered learning). Pusat pembelajaran atau presentasi itu ada di kepala para partisipan, audiens, bukan di tangan presenter, pemimpin, guru atau dosen. Belakangan ini kampus-kampus mulai memperkenalkan metode SCL atau student centered learning dan PBL atau problem-based learning. Setelah saya pelajari, ternyata maksud dan tujuan kedua metode itu sebenarnya sama saja dengan PCL, yaitu mendorong keterlibatan audiens. Hanya bedanya di level pendidikan yang lebih tinggi, audiens tidak ingin diperlakukan sebagai student. Mereka ingin diperlakukan sebagai subjek, yaitu partisipan. Monalisa Smile Anda mungkin masih ingat film Monalisa Smile yang dibintangi Julia Robert. Film ini selalu saya pakai dalam membantu memahami metode PCL. Dalam film itu diceritakan tentang seorang guru yang habis dikerjai murid-muridnya yang pintar dan aktif. Saat melakukan presentasi, JR mengalami kegagalan. Semua slide yang ia presentasikan diambil dari buku dan celakanya semua audiensnya sudah membaca isi buku itu. Setiap slide baru dipresentasikan, murid-muridnya angkat tangan dan mampu menerangkan isinya sebelum sang guru menyelesaikan penjelasannya. JR benar-benar mati akal, gugup, dan menjadi terlihat bodoh. Bagian film itu selalu kami diskusikan dan saya katakana kepada para mahasiswa, seperti itulah audiens yang saya inginkan. Semua sudah harus membaca dan siap. Sebab, seperti yang pernah dikatakan Plato, guru hanya akan datang kalau murid-muridnya siap. Namun, benarkah mereka membaca sebelum masuk kelas? Bisakah kita memaksa mereka? Anda benar! Tradisi kita memang bukan tradisi membaca. Sudah begitu, kalau ada satu audiens yang kelihatan tahu dan membaca, ia selalu menjadi sasaran olok-olok teman-temannya. Mengapa begitu? Karena sebagian besar orang tidak membaca. Jadi mereka tidak ingin kelihatan bodoh hanya karena ada temannya yang jalan lebih cepat. Kendati demikian, hal ini ternyata bukan hanya merupakan kesalahan audiens (murid). Kesalahan terbesar justru ada di tangan presenter atau guru/ dosen. Mengapa harus membaca kalau semua ini akan diceritakan secara penuh oleh guru atau dosennya? Bahkan, bapak/ ibu guru sudah memilihkan bagian-bagian yang penting dari isi buku. Toh ujian tertulisnya semua bersumber dari catatan kuliah/ kelas, bukan dari buku. Kenyataan ini berbeda benar dengan yang dilakukan di negara-negara barat. Di sana seorang guru atau dosen bukanlah seorang “tukang cekok” yang memaksakan obat ke mulut anak didiknya. Tugas pendidik adalah membuat anak-anak didiknya senang belajar, gemar membaca, dan berpikir kritis. Jadi di kelas, seorang guru tidak memaparkan isi buku, melainkan membentuk pikiran dan menjaga antusiasme audiensnya. Akibatnya, anak-anak didiknya mampu berpikir kritis, terbebas dari belenggu dogmatis dan mampu berpikir out of the box. Dunia Partisipatif Dalam bagian lain dari film Monalisa Smile yang juga saya gunakan, JR telah mengubah cara menyampaikan materi. Kali ini ia yang pegang kendali. Sadar yang dididik siswa-siswa pandai, maka ia menyodorkan bahan-bahan kehidupan. Slide presentasinya itu tidak ada di silabus atau di buku. Semua audiens tercengang dan berkata , “Apa itu?” Ia menjawab, “Kalian yang terangkan kepada saya, apa itu?” Audiens mulai bingung karena selama ini terbiasa berpikir buku teks. Mereka semua ribut, beda pendapat, mencari standar. Itulah saatnya seorang guru membentuk murid-muridnya. Bagian film kedua ini saya tunjukan kepada para pemimpin, guru, dosen, dan calon-calon presenter. Saya selalu mengatakan, inilah guru dan pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini. Guru yang membebaskan anak-anak didiknya dari belenggu-belenggu dan guru yang menumbuhkan antusiasme. Dalam berbagai kesempatan, tampak jelas, masalah terbesar pendidikan bangsa ini bukan berada di tangan para pemimpin, guru-guru, dan para elite yang terlalu asyik dengan pikiran-pikirannya sendiri dan terbiasa mencekoki anak kecil. Mereka lupa bahwa rakyat dan anak-anak didiknya telah berubah. Inilah zaman partisipatif, zaman di mana semua orang sudah terkait satu dengan yang lain, yang menuntut antusiasme, kesetaraan, dan tentu saja pemimpin yang mau mendengarkan. Itulah esensi dari PCL yang artinya participant centered learning. a *dosen, trainer dan penulis buku tentang managemen (Change, Re-Code dll) ****************************************************************

 

PERTANYAAN LEBIH PENTING DARIPADA JAWABAN

Oleh: Djohansjah Marzoeki

Guru besar (LB) Unair

Saya pernah membaca tulisan Einstein: “pertanyaan lebih penting daripada jawaban. Jawaban itu akan selalu ada di dunia ini kalau kita mau bertanya. Kita tidak akan menemukan apa-apa kalau kita tidak pernah bertanya.” Begitulah kata ilmuwan hebat itu. Tentu pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan yang rasional, yang riil, yang material, atau dengan kata lain yang ilmiah. Karena itu, saya pikir dia bisa begitu hebat karena pertanyaan yang selalu timbul di benaknya adalah pertanyaan hebat. Lalu, saya baca tulisan Louis Pasteur. “Chance favors only prepared mind.” Kesempatan itu hanya untuk pikiran yang siap. Ucapan Einstein dan Pasteur tersebut amat penting bagi kita untuk mengerti bagaimana kita harus melangkah, mencari hari depan, berkarya untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Tapi, apa yang akan Anda tanyakan? Kalau pertanyaannya kecil, jawaban yang bakal ketemu ya yang kecil. Kalau pertanyaannya destruktif, jawaban yang ketemu ya destruktif. Sebaliknya, kalau pertanyaannya besar dan membangun (konstruktif), akan ketemua yang besar dan konstruktif. Lalu, apa itu prepared mind? Pikiran yang siap? Derajat kesiapan pikiran didapat dengan pendidikan, latihan, dan pengalaman lingkungan. Jadi, dengan pendidikan, latihan, serta pengalaman, akan bisa lahir bermacam-macam pertanyaan yang menarik perhatian pikiran kita masing-masing. Pertanyaan sederhana misalnya, bagaimana menjadi kaya secara fair, tidak dengan cara korupsi, tidak ngemplang, dan tidak menjegal orang lain.Parapemimpin akan bertanya apa yang bisa dilakukan untuk warganya, untuk bangsanya. Bagaimana mengurangi kemiskinan, menambah kemampuan bangsanya. Prof. Muhammad Yunus dari Bangladesh yang baru datang ke Bali bertanya seperti itu untuk kepentingan perempuan Bangladesh. Lalu, dia menemukan caranya dan kini dia menyandang hadiah Nobel untuk itu. Kalau kita masing-masing mau bertanya satu pertanyaan saja untuk kesejahteraan sendiri, bakal ada 350 pertanyaan dalam setahun untuk diri sendiri dan satu pertanyaan lain untuk kesejahteraan orang lain atau bangsanya, yang semua konstruktif. Maka, ada 350 pertanyaan untuk bangsanya dalam setahun per orang. Kalau spersepuluh (10 Persen) saja di antara 200 juta bangsa ini berbuat sama, mka akan ada 350 x 20 juta = 6.000 juta atau 6 miliar pertanyaan konstruktif yang timbul untuk bangsa. Angka yang aduhai bagi pembangunan bangsa dan negara. Semakin banyak pertanyaan yang timbul akan semakin banyak pula kemungkinan yang bisa ditemukan, walaupun tidak semua. Namun, kalau pertanyaan yang timbul adalah pertanyaan yang destruktif, merusak, seperti bagaimana menakut-nakuti orang, bagaimana memaksa orang, membatasi orang untuk berpendapat, bagaimana merusak reputasi orang, ngemplang utang, bagaimana korupsi, bagaimana menyembunyikan penyalahgunaan wewenang, bila jawabannya ketemu, kita akan terpuruk. Kita akan terbelakang. Kerusakan saja yang ada. Jangan harap kita bakal keluar dari keterbelakangan, apalagi menjadi leader of the world. Kita paling-paling jadi leader of the criminals. Jadi tokoh penjahat! Waktu dan harta negara habis terkuras, bahkan minta dibantu negara lain untuk memerangi kejahatan yang berkecamuk di negara ini. Untuk kepentingan bangsa, para pemimpin, anggota DPR, bupati, wali kota, gubernur, menteri, dan presiden mempunyai kesempatan lebih mudah daripada orang awam untuk menemukan jawaban pertanyaannya. Karena itu, baik-baiklah memilih mereka. Bisakah menebak, pikiran apa kiranya yang akan mereka Tanya bila mereka menjadi pejabat? Betapa menyedihkannya bila mempunyai pemimpin yang tidak pernah bertanya konstruktif untuk tugas yang diemban, diam seribu bahasa, atau yang timbul justru pertanyaan yang destruktif. Antara pejabat dan massanya pastilah ada pengaruh timbal balik. Kalau prepared mindmassatinggi, mereka akan memilih dengan kualitas lebih tinggi. Begitu pula bila pemimpinnya berkualitas tinggi, dia akan membawamassadalam wewenangnya ke taraf yang tinggi. Seperti lingkaran rantai tertutup antaramassadengan pemimpinnya. Sekali brengsek, terus berputar tambah brengsek. Tapi, sekali bagus akan terus berputar bertambah bagus. Karena itu, jangan salah memilih yang brengsek, yang merendahkan mutu mata rantai. Saya hanya berharap kepada semua orang, apakah pejabat atau bukan, mari kita berlatih bertanya yang konstruktif dan baik bagi diri kita sendiri maupun bangsa. Apa yang disebut konstruktif dan baik? Yang konstruktif itu adalah ikut dalil yang rasional. Benar, berguna, dan peneting. Baik? Itu ikut prinsip perikemanusiaan di bawah HAM (hak asasi manusia), right to live, right of have feedom, serta right to pursue happiness (hak hidup, hak memperoleh kebebasan, dan hak mencari kebahagiaan). Prinsip HAM berada di atas semua prinsip yang ada. Kalau melawan HAM, pasti jelek, pasti tidak baik. Moral? Pakai moral universal, yaitu tidak membuat orang lain atau binatang menderita, tapi justru mengurangi penderitaan. Kalau prinsip itu yang dipakai dalam bertanya untuk mengangkat derajat bangsa, hari depan kita akan cerah, maju, modern, sejahtera, aman, dan damai. Lho kok mimpi? Ya, sesuatu rencana dimulai dengan mimpi, vision. Mimpi yang rasional. Mimpi saja tidak cukup, tapi diteruskan dengan usaha yang ulet dan tidak mudah menyerah. Orang ulet umumnya tidak minta banyak syarat dan tidak cengeng. Nah, di sini lagi prepared mind mengambil peran. Bukan hanya pertanyaan untuk kesejahteraan diri sendiri yang bisa dicari dan dikerjakan oleh diri sendiri, tapi bahkan yang untuk bangsa pun dapat dilakukan seorang diri. Bisa pula bersama teman yang sevisi maupun oleh institusi sampai oleh negara. Nah, pilih tempat Anda dalam membangun bangsa dan negara kita. (Sumber Radar Bogor/Senin15 Sept. 2008/15 Ramadhan 1429 H.) ************************************************************

 

H KEPEKAAN DAN TANGGUNG JAWAB DI USIA DINI
Ratna Megawangi

Dulu Anda aktif membahas masalah jender. Kok sekarang berbelok ke pendidikan?

Waktu saya berkecimpung di dalam jender, saya memang dianggap sebagai sosok yang against the main stream, antifeminis, bahkan ada yang menyebutkan ultra kanan dan macam-macam. Tapi bukan berarti saya tidak pro pada nasib perempuan. Jika membaca buku saya ‘Membiarkan Berbeda’ orang akan melihat bahwa saya menempatkan perempuan pada posisi yang mana akhirnya itu membutuhkan perempuan juga. Saya menulis buku ‘Membiarkan Berbeda’ untuk menuangkan pemikiran tentang apa itu feminisme. Bagaimana, seharusnya seorang perempuan ditempatkan. Pada akkhir bab ‘Berbeda’, saya mulai berpikir bahwa struktur patriarki, hierarkis, itu sebuah sunatullah. Gerakan para feminis yang berpikir struktur itu harus diruntuhkan karena menindas ternyata tidak berhasil. Itu saya paparkan dari sejarah yang saya tulis dalam buku. Itu sudah given, sudah ada dalam alam semesta yang memang sudah hierarkis. Karena di dalam kehidupan itu selalu ada strata-strata. Sekarang pertanyaannya, kalau paradigma feminis mengatakan bahwa sesuatu hierarkis pasti ada penindasan sehingga yang atas menindas yang bawah, yang kaya menindas yang miskin, kapital menindas proletar, dan lelaki menindas perempuan. Itu kansama strainnya. Sekarang pertanyaannya apakah yang egaliter itu bebas dari penindasan. Ternyata tidak juga. Akhirnya saya berpikir dan membuktikan dalam bab terakhir bahwa dalam pola patriarkis bisa ada penindasan, tapi juga bisa merupakan struktur yang sebaliknya yakni keharmonisan dan kedamaian. Jadi, bagaimana struktur yang haierarkis itu, yang tidak bisa kita ubah karena sunatullah, bisa kita ubah menjadi struktur yang Tuhan menginginkannya. Manusia saling menghormati, complementary dari manusia yang berbeda-beda. Maskulin berbeda dengan feminin, tapi bagaimana perbedaan itu menjadi satu kesatuan.

Jadi, apa yang Anda tidak cocok dengan penghapusan pola patriarki oleh para feminis?

Kalau kita mau hilangkan pola patriarki dengan cara feminis yakni semua egaliter, tidak ada kepala keluarga, dan semua harus mandiri, semua harus bertanggung jawab pada dirinya sendiri, menurut saya struktur tidak menjadi efektif untuk terjadinya peran pendidikan, pengasuhan, mentrasfer moral-moral pada anak-anak. Karena itu perlu otoritas. Manusia kalau dididik dengan baik, dengan kasih sayang, dengan akhlak mulia, nggak mungkin ada sosok penindas. Mereka akan jadi seorang pria, suami yang bertanggung jawab, loving, penuh dedikasi. Alih-alih menindas istrinya, lihat kucing kelaparan saja dia tidak akan tega. Jadi di situ saya berpikir, bicara jender itu tidak ke mana-mana, kalau manusianya tidak kita siapkan. Manusianya yang harus dididik karakter, akhlak mulia. Saya menyebut character building. Jadi, tak cukup sampai di isu jender saja, namun harus ada solusinya. Dengan demikian tidak terjadi penindasan. Itu tahun 2000.

Jadi, terjun ke pendidikan ini kelanjutan dari penulisan Membiarkan Berbeda, pemikiran tentang jender?

Begitulah. Saya berpikir membuat model pendidikan berbasis karakter tapi nggak mau bikin sekolah. Model ini bisa diaplikasi di manapun. Jadi filosofinya adalah karena saya berpikir bagaimana menciptakan sebuah tatanan sosial yang harmonis tanpa penindasan. Awalnya tahun 1999 itu kita sedang reformasi. Sepertinya kemarahan di mana-mana. Rakyat kita menjadiorang yang pemarah. Itu karena pendidikan. Saya ingin mendidik manusianya dengan baik. Saya masuk pada pendidikan usia dini, karena usia di bawah tujuh tahun adalah usia golden years. Usia yang paling strategis jika mau membentuk akhlak manusia. Seperti menulis di atas batu, yang akan long lasting. Otak manusia terbentuk 95 persen di bawah tujuh tahun. Fenomena yang lain, karena memang ternyata data pada saat itu hanya 12 persen anak usia empat hingga enam tahun yang punya akses masuk ke TK. Selebihnya tidak bisa. Jika pun anak bisa masuk TK belum tentu pola pendidikannya bagus. Jika kita gagal pada fase ini, dampaknya permanen. Kami membuat sebuah model. Anak yang masuk ke sini terbentuk akhlaknya, kreativitasnya, semangat dan motivasi belajar tinggi. Sekolah menjadi menyenangkan dan berbeda dari sekolah klasik. Banyak sekolah mematikan natural impulse anak-anak untuk menjadi kreatif. Padahal potensi kreativitas itu diberikan oleh Tuhan. Jika kita salah mendidik, pada usiadelapan tahun kreativitasnya tinggal 10 persen, dan jika berlangsung  hingga dewasa tersisa dua persen saja. Itulah mengapa amat bahaya jika sebuah pendidikan salah. Di sini anak dididik dengan menghapal. Jika dia hapal diberi nilai seratus. Meski, tak paham maknanya. Masalah kita amat krusial. Pada masa usia sangat strategis, tidak kita tangani dengan baik. Kemudian pada masuk usia SD , karena input awalnya tidak bagus, tidak akan bagus sampai kesananya.SehinggaSDM kita terus saja di bawah. SDM kita termasuk yang paling rendah, baik diAsiamaupun Asia Tenggara.

Jadi bukan karena pengalaman pribadi membutuhkan sekolah yang baik untuk anak?

Ya itu juga. Saat anak saya mau masuk TK, saya merasa tidak pas dengan hati saya. Jadi anak saya masuk TK cuma dua bulan dan akhirnya home schooling.

Berapa sekolah yang sudah menerapkan model ini?

Sudah 480 sekolah dari awalnya tiga dulu sebagai pilot project. Namanya Semai Benih Bangsa (SBB) dan ini pendidikan untuk usia dini. Sampai tahun 2000 kami menyusun modulnya dulu. Cari dan padukan model darisana-sini. Tahun 2001 kami buka sekolah. Tahun 2001-2003 dengan satu TK Karakter. Kerja sama dengan perusahaan swasta di Aceh membuat kami percaya diri. Karenaperusahaan Amerika ini mau membantu kita mengadopsi sistem ini. Kemudian dari mulut ke mulut hingga jadi 480 plus sekitar 125 sekolah TK yang mengambil pendidikan holistik berbasis karakter. TK SBB ini pendidikan usia dini nonformal. Berdasarkan UU Sisdiknas terbaru 2003, model pendidikan ada formal, nonformal dan informal.

Apakah pendidikan berbasis karakter ini sudah diusulkan ke Diknas untuk diadopsi jadi kurikulum resmi?

Diknas sebetulnya juga sudah tahu. Namun, sistem ini tak mudah begitu saja dicangkok. Pelatihan gurunya saja 22 hari. Pendidikan character building ini harus diterapkan olehorang-orang yang berpengalaman jadi guru. Jadi tidak sekedar mencangkok , karena ada ruhnya di situ yang harus kita tanamkan. Kami jalan terus dan membuka SBB tiap bulan. Sekarang sedang ada training untuk guru di 17 lokasi. Bulan depan di 30 lokasi.

Apakah sudah mencakup di 33 propinsi?

Belum semua, tapi sudah ada sampai di Papua. Di Papua itu dengan SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu), itu namanya Selamatkan Tunas Bangsa.Adadi 15 lokasi di Papua. Kemudian di Poso danAmbonjuga ada.

Apa yang istimewa dari pendidikan ini, apa sudah ada penelitian bahwa memang hasilnya efektif?

Sudah ada hasil penelitian. Anak-anak itu menjadi caring, loving, and tolerant. Ini penelitian ilmiah yang dilakukan dua penelitian besar. Yang pertama dilakukan Dr. Dwi Hastuti dari IPB yang meneliti 356 anak alumni SBB di sekolah di Jabotabek [Jakarta,Bogor, Tangerang, Bekasi]. Dia meneliti dampak model pendidikan Semai Budi Bangsa Holistik Berbasis Karakter dibanding anak-anak yang tidak masuk ke TK dan anak TK mainstream. Hasilnya menyatakan dari segi income (pendapatan), siswa yang berasal dari TK lebih kaya dari anak SBB. Sekolah di TK biasa butuh uang pangkal hingga Rp. 400 ribu hingga jutaan, uang seragam dan lainnya. Di SBB terserah tergantung negosiasi dan bisa dicicil. Yang jelas tidak gratis. Dari 15 aspek perkembangan anak, siswa lulusan SBB lebih baik. Karakternya terbentuk dan terlihat berbeda. Beberapa bulan lalu Exxon Mobile juga buat penelitianserupa di Aceh. Hasilnya sama. Satu lagi, penelitian oleh Pak Wahono, kandidat doktor di Semarang. Dia yang menyusun PPKN, Pancasila. Dan dia menyimpulkan wajar pendidikan PPKN tak mengubah perilaku karena metode yang diterapkan berbeda. PPKN atau Pancasila hanya mengembangkan aspek knowing (pengetahuan) dan itu pun dengan menghapal. Di SBB tak hanya knowing tapi juga reasoning (alasan). Misalnya anak dilatih jujur dan dijelaskan kalau tidak jujur akan seperti apa. Misalnya tidak disenangi teman, atau kita akan begini… begini. Anak tahu reasoningnya. Termasuk loving dan acting.

Sepertinya dikembangkan di daerah konflik, atau di daerah lain juga?

Sebetulnya di daerah konflik tidak terlalu banyak. Memang kita menghendaki anak yang toleran dan berkarakter lembut, tidak gampang marah-marah. Siapapun, daerah manapun yang membutuhkan modul ini, kami terbuka. Sekarang mulai banyak yang minta untuk dibuka. Tinggal kita match-ing dengan sponsornya saja. Model ini butuh sponsor karena guru perlu ditraining selama 22 hari, butuh mainan, dan buku-buku yang banyak. Ini butuh biaya, sementara masyarakatnya miskin. Yayasan IHF ini nonprofit. Saya sama sekali tidak dibayar. Tapi yang kerja di yayasan itu harus dibayar karena mereka bekerja full time. Yayasan juga harus running.

Kalau ada masyarakat misalnya yang tertarik dengan sistem ini, bagaimana caranya?

Daftar saja. Hubungi yayasan. Nanti kita catat dan jika ada sponsor bisa kita lakukan. Saya percaya selalu ada jalan dari Allah untuk dipertemukan untuk niat ini. Ini dari tangan Tuhan juga. Setiap ada keinginan selalu ada jalan. Kadang malah instan.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk satu unit sekolah ini?

Kalau untuk satu paket, dengan dua orang guru. Sudah training langsung buka, asal sudah ada tempatnya, itu dibutuhkan sekitar Rp 17 juta rupiah. Itu paket yang murah sekali karena kalau kita bandingkan dengan franchise sekolah swasta bisa ratusan juta rupiah. Guru SBB dibayar masyarakat. Saya tidak mau gratis untuk mebentuk responsibilityorang tua. Saya khawatir jika dibuat gratis, kita membentuk masyarakat yang selalu menuntut hak. Artinya, ada orang lain yang harus memenuhinya. Inilah menurut saya salah satu kesalahan paradigma human rights. Karena, yang dikedepankan selalu hak. Jika yang dikedepankan responsibility, kita dilatih bertanggung jawab untuk berbuat sesuatu, sehingga hakorang lain terpenuhi. Seorang responsible mother akan berbuat sesuatu supaya anak-anaknya terpenuhi haknya. Responsibility sesuatu yang abadi. Kalau hak, keduniaan. Jika semua menuntut hak, siapa yang akan memenuhi? Ini kisah di Jakarta Utara yang selalu membuat saya terharu. Seorang ibu pengikatkangkung, datang ke rumah ibu guru jam tujuh pagi hari Ahad. Dia mau bayar uang sekolah anaknya yang Rp 20 ribu. Sang guru bertanya mengapa harus pagi-pagi betul. Si ibu bilang jika kesiangan, uangnya mungkin habis. Ibu itu hanya buruh petik kangkung tapi begitu bertanggung jawabnya dia pada pendidikan anaknya. Sikap ini yang harus kita tumbuh dan kembangkan di masyarakat. Anak-anak harus dilatih berdiri di kaki sendiri dan being responsible paling tidak pada anaknya. Kalau pada anaknya sendiri tidak mau bertanggung jawab, bagaimana kita berharap dia mau bertanggung jawab pada society yang lebih luas. Kisah lain waktu saya ke Pakistan. Adaseorang kaya yang dia selalu setiap hari memberi makan siang 50 orang miskin di sana. Satu ketika orang kaya ini berlibur ke luar negeri selama dua minggu. Dan ketika kembali ke negaranya, orang-orang yang biasa dikasih makan berdemo dan marah-marah. Mereka minta itu yang 14 hari itu diganti uang. Mereka bukan berterima kasih atas berbulan-bulan makan gratis tapi menuntut yang 14 hari tak dapat. Mereka merasa itu haknya. Ini yang saya takutkan. Makanya saya ingin program ini tidak boleh gratis. Jadi ini tidak gratis. Bayarnya seribu rupiah sehari. Sebutir kelapa pun, pokoknya bayar. Jadi ada responsibility. Sehingga tumbuh rasa tanggung jawab.

Model Anda kembangkan sendiri?

Melalui proses ya. Itu dengan perenungan. Karena, dulu juga belajar sufistik. Dan waktu saya di AS, setelah selesai pendidikan S3, suami belum selesai. Jadi saya ambil postdoktoral dalam bidang nutrisi dan keluarga. Di sini saya didukung tim yang luar biasa dan semua kolaborasi. Tapi memang yang mencetuskan ini saya dengan suami saya. Proses hingga ketemu model seperti ini sekitar tiga tahun. Tuhan juga kasih jalan mulus. Semua otodidak. Bahan-bahannyakanbanyak, termasuk dari internet. Semua diujicobakan di pilot project itu.

Model pendidikan kreatif seperti ini bukanlah sudah biasa di Barat?

Ya. Hanya kita tidak biasa. Di sini. TK belum jadi pendidikan wajib. Karena itu pada awalnya concern pemerintah awalnya tidak terlalu ke situ melainkan langsung ke SD. Padahal pendidikan usia dini itu kuncinya.

Model ini apakah terbatas pada TK saja?

Sampai SMP. Kita sudah ada sampai SD Karakter. Untuk SMP kita buka bulan Juli. Ini pilot project dulu. Kami belum membuka karena butuh lokal. Jadi strateginya, kami menawarkan siapa saja sekolah negeri atau swasta yang mau mengadopsi sistem ini. UntukSDnegeri dan madrasah saat ini sudah ada sepuluh yang pakai. a Sumber dari Republika, Rabu, 5 Maret 2008. Wawancara oleh Rachmat Santosa Basarah dan Siti Darojah SW. ***************************************************************

BOBBI DEPORTER

Presiden Quantum Learning Network

Bagaimana Anda melihat sistem pendidikan yang ada kebanyakan?

Pengalaman saya sebagai anak-anak, saya mempunyai kelebihan di satu bidang,dan kekurangan di bidang lain. Saya tertinggal di kelas Bahasa Spanyol, saya tidak bagus belajar bahasa karena saya orang yang sangat visual. Saya punya masalah di kelas, stress, terbebani pikiran bahwa saya tidak pandai, kalah dari teman-teman saya. Seandainya saat itu sudah ada metode belajar yang tidak membuat siswa merasa terbebani pasti hasilnya lebih baik. Dalam sebuah proses belajar, sangat penting bagi orang tua dan guru untuk memahami bagaimana seorang anak memandang dirinya sendiri. Kepercayaan diri, percaya bahwa mereka bias melakukan sesuatu menjadi modal dasar untuk mencapai keberhasilan. Saat mereka mengetahui strateginya dan sukses dalam belajar, mereka akan bangun di pagi hari dan semangat pergi ke sekolah. Mereka akan aktif bertanya, mengangkat tangan. Ini atmosfer yang perlu dibangun, suatu keinginthauan dan semangat belajar yang alami. Sadarkah Anda bahwa dibutuhkan sebuah keberanian untuk mengangkat tangan dan membuka suara. Tidak ada yang mengajari hal itu. Keberhasilan bagi pendidik adalah ketika kita melihat siswa-siswa kita tersenyum saat memasuki ruang kelas, dan mereka terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Bukan sekedar memberinya tes yang terstandarisasi untuk mengetahui mengetahui kemampuan anak didik. Murid-murid bukan belajar untuk lulus tes, namun belajar karena ia ingin tahu dan merasa butuh mempelajari suatu subyek.

Bagaimana Anda melihat Quan-tum Learning setelah 28 tahun sejak pertama kali dikembangkan?

Pada 1982, kami memulainya dengan sebuah kepercayaan bahwa ini bias mempengaruhi anak-anak di seluruh dunia. Sangat menyenangkan untuk kembali melihat masa itu dan membaca pernyataan awal kami. Kami menciptakannya dan menuliskannya, karena pada awalnya kita tidak tahu bagaimana itu bisa diterapkan. Kami bertemu dengan banyak orang yang berbakat yang akhirnya terlibat dalam Quantum Learning Network. Dan, metodologinya dikembangkan sepanjang waktu. Bukan cuma teorinya, tapi juga program-program prakteknya karena saat kita menerapkan program itu ke murid, kita bias menanyakan feedbacknya ke murid-murid. Pada saat makan siang kita bias menanyakan feedback itu ke murid, dan bias melakukan perubahan hari itu juga di kelas yang sama. Metode dikembangkan setiap saat. Ketika ini diimplementasikan selama bertahun-tahun maka dengan demikian itu menjadi sistem sendiri. Sebagai catatan, Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara nahasa dan perilakudan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif, factor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang. Program-program yang dilakukan QLN antara lain pelatihan dan worksop untuk guru, kepala sekolah, dan orang tua menyelenggarakan Super Camp dan After School Program di seluruh dunia.

Apa Anda percaya sejak awal bahwa ini akan berhasil?

Ya, kami selalu percaya, apapun yang terjadi, bahwa ini akan berhasil. Walaupun dalam menyebarkan konsep ini ada saat naik dan turun. Seperti ekonomi yang ada dinamikanya, kami focus untuk apa yang akan kami lakukan untuk memperbaiki system ini dan apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Bagaimanapun, 28 tahun bukan waktu yang singkat, namun masih banyak yang harus dilakukan.

Bagaimana penerapan metode ini di berbagai sekolah?

Kepala sekolah harus bias memahami apa yang diharapkan dari guru, mereika juga benar-benar harus faham mengenai proses belajar. Pendidikan mesti melihat apa yang menhjadi kekuatan dan kekurangan siswanya, serta memiliki focus, aspek yang ingin diperbaiki. Semacam partnership antara guru dan murid. Biasanya stetelah tiga bulan saat diadakan penilaian, perbaikan sudah bias terlihat. Agar lebih efektif, di antara para guru juga sebaiknya memiliki kelompok studi, yang membahas kekurangan dan kelebihan metode belajar yang mereka terapkan.

Setahu saya di Indonesia, hanya sekolah-sekolah mahal saja yang menggunakan metode Anda?      

Quantum Learning bias diterapkan di mana saja, pada sekolah dengan kondisi apa pun. Pengalaman saya di Republik Dominika, ada sebuah sekolah yang terletak di pinggir hutan, mereka bahkan tidak memiliki papan tulis, sehingga tembok dicat putih untuk papan tulis. Bangunannya terbuat dari lumpur yang dikeringkan. Kami dating untuk member pelatihan pada guru, bahwa semua mata pelajaran bias di ajarkan dengan alam sebagai bahan peraganya. Murid harus diberi tahu manfaat yang mereka dapatkan ketika mereka mempelajari sesuatu. Mereka kemudian mengajarkan berhitung dengan menggunakan lagu. Mereka tidak punya CD player, di desa itu belum ada listrik, alih-alih mereka menggunakan mulut, tepukan tangan dan meja serta senandung untuk belajar. Sebenarnya apapun yang ada di sekeliling kita bias menjadi alat bantu. Dalam system ini, semua panca indera mesti dilibatkan dalam dalam proses belajar, otak akan menyerap pelajaran lebih baik dengan sendirinya. Proses belajar yang menyenangkan  akan mendorong kemampuan otak dalam memahami pelajaran. Di AS, system ini justru kebanyakan diterapkan di sekolah-sekolah negeri, sekolah-sekolah yang populasinya padat, sekolah yang penduduknya kebanyakan berpendapatan rendah dan sebagainya. Meskipun ada juga sekolah swasta yang mengadopsinya.

Apa sekolah-sekolah bias membiayai sendiri pelatihan guru-gurunya?

Tidak selalu, kebanyakan, peme-rintah setempat yang membiayai pelatihan guru dan kepala sekolah. Mereka memanggil kami datang karena melihat hasil yang sudah ada. Saat ini kami sudah bekerja sama dengan ribuan sekolah di AS. Pelatihan ini sudah berjalan selama 20 tahun, melatih guru agar menjadi guru dan kepala sekolah yang efektif.

Ujian Nasional menjadi bahasan yang amat seru akhir-akhir ini di Indonesia. Apa pandangan Anda mengenai ujian semacam ini?

Kita (di AS) juga punya ujian nasional selama beberapa tahun ini, namanya program No Child Left Behind. Sama seperti di sini, menimbulkan banyak kontroversi, karena guru pada akhirnya hanya menekankan pada subyek yang diujikan, pada materi ujiannya itu sendiri, tapi sering kali mengabaikan prosespembelajarannya. Dan, mereka hanya mengajar agar siswanya lulus tes. Kemudian sekolah diranking berdasarkan hasil ujian nasionalnya. Padahal sekolah kondisinya sangat beragam, ada sekolah di mana bahasa Inggris sebenarnya bahasa kedua bagi siswanya, sekolah yang banyak siswa yang tidak dalam pengawasan orang tua dan sebagainya. Sekolah-sekolah ini diharapkan memiliki standar yang serupa dengan sekolah-sekolah nasional lainnya. Saya percaya akuntabilitas tes tersebut, tapi mengapa kita tidak bekerja untuk tes yang lebih berarti daripada sekedar manipulasi. Di mana guru mengajar hanya untuk lolos tes. Di mana siswa didrill berminggu-minggu untuk menghadapi tes. Fokus dan tujuan akhirnya adalah untuk lulus tes. Menurut saya seandainya mereka tidak terlalu fokus di situ, ujian tetap bis apunya akuntabilitas, tapi harusnya system pendidikan lebih fokus pada proses pembelajaran itu sendiri. Dan nantinya toh murid akan bias mengerjakan ujian, bahkan dengan pemahaman yang lebih baik.

Berapa banyak porsi kegiatan Anda berfokus pada bisnis?

Kami fokus pada pembelajaran yang efektif dan sukses , memang ada hitung-hitungan ekonominya, tapi kami berusaha menmenjangkau sebanyak mungkin siswa, aspek bisnis bukan menjadi yang utama. Makin banyak murid yang bias kami rangkul, maka makin banyak pula murid yang mendapatkan efek ini, makin banyak yang mereka bias perbuat, diturunkan dari generasi ke generasi. Sebanyak 80 persen sekolah yang bekerja sama dengan kami adalah sekolah yang populasinya bukan orang kaya. Kita bekerjasama dengan sekolah itu bertahun-tahun, tidak Cuma workshop lalu selesai, kita kembali lagfi selama tiga tahun. Melatih mereka di kelas. Di beberapa distrik kami melatih guru-guru untuk menjadi quantum learning trainer, jadi mereka bias meningkatkan skillnya, di AS pemerintah setempat ikut membayari program ini.

Apa Anda berusaha memberikan kembali ruh pada sitem pendidikan?

Bila dibilang begitu. Agar siswa tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup, keingintahuan harus terus diasah.  Siswa haur punya hubungan yang baik dengan gurunya. Ada suatu studi yang menunjukkan siswa-siswa sukses di kelas adalah siswa yang didukung penuh orang tuanya, di mana orang tua terlibat secara aktif. Mereka mendengarkan saat anak secara antusias menceritakan apa yang telah dipelajarinya di sekolah. Orang tua memotivasi anak untuk meraih keberhasilan dalam belajar, memotivasi dengan kata-kata positif yang yang menimbulkan kepercayaan diri.

Apakah arti sukses menutut Anda?

Sukses ya… (dengan senyum mengembang)… hal yang saya sukai dari melakukan apa yang kami lakukan saat ini adalah saat mendengarkan siswa atau guru-guru yang kami latih menceritakan kesuksesan mereka. Yang menyentuh hati saya adalah kalau mendengar dari siswa, mereka menulis surat pada kami mengenai apa yang mereka rasakan, apa perubahan dalam hidup mereka, betapa mereka senang berada di sekolah, senang pada guru-guru mereka. Ini ada kaitannya dengan ujian nasional, kami dipanggil untuk memperbaiki kinerja kelas 5 di sebuah sekolah negeri di Texas. Para siswanya rata-rata  hanya bisa mengerjakan 20 persen dari soal ujian matematika. Kepala sekolahnya mengundang kami untuk melatih dan penguasaan soal. Targetnya, naik dari 20 menjadi 80 persen. Kami melatih guru-gurunya, member saran metode pengajaran, bertemu kepala sekolahnya, dan memberikan gambaran secara utuh mengenai proses pembelajaran. Sukses buat saya juga saat siswa-siswa yang dari dalam hatinya memiliki kepercayaan diri bahwa mereka bisa melakukan apa pun, ke sekolah dengan penuh semangat dan senyum yang mengembang di wajah mereka. Saya ingin mereka merasakan bahwa learning is fun, belajar itu sungguh menyenangkan. (Republika, Rabu, 16 Desember 2009)

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di pcl, Pendidikan holistik, Quantum Learning dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke P C L (Participant Centered Learning)

  1. asti tri artanti berkata:

    Mau nnya perbedaaan pcl dan pbl apa yah

    • luaydpk berkata:

      Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapat pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s