‘Idul Qurban dan Teladan Nabi Ibrahim AS

 Oleh: Lu’ay

Pembukaan

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar….

Gemuruh takbir, tahlil dan tahmid bergema di seluruh penjuru bumi. Hari ini, lafadz-lafadz suci itu menggetarkan jagat raya diucapkan oleh kaum muslimin di seluruh pelosok bumi Allah Swt.  Semua manusia beriman  menyambut hari besar ini yang penuh maghfirah dan berkah dengan suka cita.

Sementara di tanah suci kaum muslim hadir untuk menunaikan ibadah haji.  Mereka datang memenuhi panggilan Allah dan menyambut ajakan-Nya dengan mengucapkan:

Kami datang Ya Allah memenuhi panggilan-mu. Kami sambut panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan (kedaulatan) berada di tangan-Mu ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu…”

Menunaikan ibadah haji adalah perjalanan menuju totalitas ibadah dengan penuh keikhlasan. Haji adalah ibadah monumental warisan hamba-hamba Allah yang beriman, yang sukses melaksanakan segala perintah dan kehendak-Nya dengan sempurna. Meskipun untuk penyempurnaan iman dan amalnya itu seorang hamba harus mengorbankan apa saja yang sangat dicintainya. Oleh karena itu, mereka yang melaksanakan ibadah haji selain bertujuan untuk meraih ridha Allah, maka akan mendapat kerugian.

Berkorban apa saja untuk meraih ridha Allah adalah esensi dan hakikat ibdah haji. Oleh karena  itu hari raya Haji disebut juga Idul Adha, hari Raya Qurban. Qurban, itulah kata kunci yang kemudian diabadikan Allah dalam bentuk syariat ibadah haji, satu di antara dua hari raya (‘idain) yang ditetapkan Allah bagi kaum muslimin.

Para jamaah yang Budiman….

Habil putra Adam as dengan tulus mengorbankan dirinya untuk meraih keridhaan Allah. Nbi Zakaria tewas digergaji raja Herodes, karena keteguhan tekadnya melaksanakan perintah dan kehendak allah. Nabi Ayyub as dengan sabar menahan derita suatu penyakit yang menimpanya. Nabi Yusuf as lebih memilih penjara daripada mengikuti godaan nikmat duniawi. Dan masih banyak kisah keteladanan yang lain dalam Al-Quran. Mereka semua didorong oleh satu hal: keinginan hamba-hamba pilihan itu melaksanakan perintah Allah untuk kesempurnaan amal-amal mereka untuk meraih keridhaan Allah. Allah berfirman

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (QS Al-Baqarah: 207)

Tokoh sejarah yang ditampilkan Allah dalam Al-Quran yang berkaitan dengan hari Raya Qurban ini adalah keteladanan keluarga nabi Ibrahim as. Sedemikian sempurnanya amal Nabi Ibrahim as dan keluarganya, sehingga beliau disebut Allah sebagai khalilullah (kekasih Allah). (Sabili)

Nabi Ibrahim as hadir di pentas kehidupan pada suatu masa persimpangan yang menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan. Beliau hadir pada masa ketika perselisihan mengenai boleh tidaknya manusia dijadikan sesajen kepada Tuhan. Ada yang setuju dan ada yang tidak, karena manusia terlalu mulia untuk tujuan tersebut. Dengan amaliah Ibrahim larangan tersebut dikukuhkan. Bukan karena manusia terlalu tinggi nilainya, sehingga tidak wajar untuk dikorbankan namun karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Putranya Ismail as diperintahkan Allah untuk dikurbankan, sebagai pertanda bahwaq apapun –- jika panggilan tiba — wajar dikurbankan demi Allah. Setelah perintah tersebut dilaksanakan sepenuh hati oleh ayah dan anak, Allah dengan kekuasaan-Nya, Ia menghalangi penyembelihan tersebut dan menggantikannya dengan domba, sebagai pertanda bahwa hanya karena kasih sayang-Nya kepada manusia, maka praktek pengorbanan semacam itu tidak diperkenankan.

Ibrahim menemukan dan membina keyakinan melalui pencarian dan pengalaman-pengalaman  keruhanian yang dilaluinya. Hal ini bukan saja dalam penemuannya tentang keesaan Tuhan, sebagaimana dalam surat Al-An’am: 75, tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan.

Keteladanan yang diwujudkan dalam bentuk ibadah tersebut (haji ke Tanah Suci Makkah) dan praktek-praktek ritualnya berkaitan dengan peristiwa yang dilalui beliau dan keluarganya, pada hakikatnya merupakan penegasan kembali dari setiap jamaah haji, mengenai keterikatannya dengan prinsip-prinsip keyakinan yang dianut Ibrahim as, yang intinya adalah:

  1. Pengakuan akan keesaan Allah dan penolakan terhadap segala macam kemusyrikan.
  2. Keyakinan adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini dan akan diperoleh nanti di hari pembalasan.
  3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal, setara tanpa membedakan ras, kulit, bangsa dsb. (Q Syihab, h 133).

Para jamaah yang Budiman….….

Kita sebagai umat Islam saat ini harus meneladani apa yang telah dilakukan nabi Ibrahim as. Apakah kita sebagai pemimpin, pegawai, guru, pedagang, pekerja, atau apapun peran kita, untuk melaksanakan tugas-tugas sebagaimana yang diperankan oleh nabi Ibrahim as, berjuang untuk mencapai ridha Allah Swt. Pengorbanan tersebut semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan tujuan selainnya. Waallah ‘alam….

Jika cinta butuh pengorbanan

Iman pun perlu pengorbanan

Losari, 6 November 2011/10 Dzulhijjah 1432 H

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Aqidah, Dakwah, Islam, Qurban, Tauhid dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s