PENDIDIKAN ISLAM DAN MASA DEPAN BANGSA

 1. Tentang Pendidikan dan tujuannya

Apa itu pendidikan? Para pakar telah banyak mendefinisikan mengenai apa itu pendidikan, di antaranya kata MJ. Langeveld bahwa “Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing yang belum [dewasa] kepada kedewasaan”. (Lihat Hujairi AH. Sanaky, Pemb. Pend. Islam Menujua masyarakat Madani, h. 3).

Tujuan pendidikan nasional menurut UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No 20 Tahun 2003 ialah ” untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia beriman yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Untuk mendukung tujuan tersebut perlu adanya keterlibatan semua unsur dalam sistem pendidikan melakukan sinergi, sehingga dapat terwujud pendidikan yang berkualitas. (Ta’rif, dalam Edukasi, vol. 5, no. 3, 2007, h.151)

Unsur-unsur yang mendukung tersebut di antaranya, pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat.

2. Tinjauan Historis

Pendidikan di Indonesia banyak mengalami perkembangan. Pada masa Belanda pendidikan hanya dinikmati oleh kalangan elit. Kemudian masyarakat berusaha membentuk lembaga pendidikan di luar pemerintah.

Pada masa Belanda pula terjadi dualisme sistem pendidikan, yakni pendidikan umum dan pendidikan agama. Terutama banyak organisasi Islam yang membentuk lembaga pendidika bagi kaum muslimin. Pendidikan Islam terus mengalami perkembangan dan perbaikan, dari metode tradisional ke pendidikan dengan metode klasikal. (Baca Karel A Steenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah, Pend. Islam dalam Kurun Modern, Jkt: LP3ES, h. 102; juga Mahmud Yunus, Sej. Pendidikan Islam; serta Zamkhasyari Dofir, Tradisi Pesantren, LP3ES)

3. Kompetensi Pendidik

UU No 20 Tahun 2003 Sisdiknas, Babl XI pasal 39 (Ayat 2), menyebutkan bahwa ”tenaga pendidik merupakan tenaga profesioal yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan”. Makna kompeten secara bahasa berarti, mampu, ahli, berwenang dan menguasai. (Lihat dalam Edukasi, vol. 5, no. 3, 2007)

Indra Jati Sidi mengatakan, bahwa “Seorang guru profesional dituntut dengan sejumlah persyaratan minimal, antara lain, memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai, memiliki kompetensi keilmuwan sesuai bidang yang ditekuninya, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya,mempunyai jiwa krteatif dan produktif, mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya, dan selalu melakukan pengembangan diri secara terus menerus (continuous improvement ) melaui organisasi profesi, internet, buku, seminar, dan semacamnya.” (dalam Menuju Masyarakat Belajar, Jakarta: Paramadina, 2005, h. 39)

Lebih jauh Sidi menerangkan bahwa guru di masa depan tidak tampil sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, namun beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager). (Ibid.)

4. Sertifikasi Guru (dan beberapa kritik)

Sertifikasi bagi guru adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap kualitas guru. Dengan usaha tersebut diharapkan para guru menjadi profesional dan kompeten, sersuai dengan amanat UU Sistem Pend. Nasional. Namun harapan tersebut untuk lebih baik masih belum terealisasi dengan baik.

Oleh karena itu ada beberapa pakar pendidikan melihat bahwa tujuan sertifikasi telah melenceng.Yang tujuan semula untuk menjadikan guru kompeten berubah ke arah administratif.

5. Tujuan Pendidikan Islam

Apa itu pendidikan Islam? Pendidikan Islam adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan  murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam, dengan mengutip Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Asyraf, dan menurut Abdurraman an-Nahlawi, bahwa pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan yang berpedoman pada syariat Allah. (Lihat Hujairi AH. Sanaky, Pemb. Pend. Islam…, h.3).

Lebih jauh tujuannya adalah untuk membentuk insan kamil (manusia sempurna) yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. (Baca Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1993, terj., h. 27) Namun, pada dasarnya manusia memiliki kecerdasan yang unik, setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda. Sebagai misal, seorang orator seperti Bung Karno dan Agus Salim memiliki kecerdasan bahasa (language), Rudi Hartono memiliki kecerdasan kinestetik (gerak), dan sebagainya. Oleh karena itu pendidik perlu menyadari hal tersebut agar sesuai dengan tujuan pendidikan Islam tersebut.

Pendidikan Islam, yang terlihat pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah (termasuk pesantren) telah memiliki kontribusi yang tidak sedikit bagi bangsa ini. Namun, kemajuan madrasah dibandingkan dengan pendidikan lain masih sangat kurang dan perlu ditingkatkan lagi. (M Din Syamsuddin, Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, Jakarta: Logos, 2000., h. 113)

Praktek pendidikan Islam, seperti di madrasah dan pesantren, bagaimana pendidik mengajarkan kepada peserta didik untuk memahami tauhid dan syariah (hukum Islam) dan sekaligus mempraktekannya (mengamalkan). Keimanan seorang muslim harus terus dipupuk dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan yang ada dalam hati terlihat pada akhlak (etika) dalam kehidupan sosial. Indikasi seseorang cerdas secara spiritual, di antaranya jujur, adil, dan sebagainya.

6. Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan Bangsa

Pendidikan adalah unsur penting dalam pembangunan suatu bangsa. Sebab pendidikan merupakan suatu investasi sangat penting untuk membawa bangsa ke masa depan. Apalah artinya suatu bangsa yang memiliki kekayaan melimpah jika tidak disertai kualitas bangsanya, untuk mengelola kekayaan tersebut, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat. (Soedjatmoko, Dimensi Manusia dalam Pembangunan, Jakarta: LP3ES, 1994, h. 61)

Kita tentu ingat catatan sejarah. Peradaban maju suatu bangsa dimiliki oleh bangsa yang mempunyai pendidikan yang baik. Tanpa pendidikan yang baik akan sulitlah suatu bangsa menjadi maju.

Akan menjadi apakah bangsa ini? Bergantung pada apa yang telah direncanakan dan dilaksanakan oleh bangsa ini. Tentu dengan perncanaan yang baik yang dilaksanakan oleh bangsa ini akan menghasilkan sesuatu yang baik.

7. Catatan Akhir

Mengenai pendidikan, dan khususnya pendidikan Islam adalah suatu investasi bagi bangsa ini untuk melangkah ke masa depan dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Betapa ruginya suatu bangsa yang kurang menekankan dan bahkan mengabaikan aspek pendidikan dalam rencana pembangunannya. Terutama pendidikan Islam harus ditingkatkan kualitasnya. Dengan kualitas yang baik tidak akan ada seorang muslim menjadi ekstrimis (al-ghuluw, berlebih-lebihan dalam beragama) atau hal-hal yang merusak. Wallahu ’alam bishawwab.

luay

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Islam, nasionalisme, Pendidikan Islam, Tauhid dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s