ISRA’ – MI’RAJ DAN PENGOKOHAN KEJIWAAN UMAT

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilinganya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)

Kata subhana di dalam Al-Qur’an seringkali dipakai ketika menyebutkan sesuatu yang memesona, luar biasa, dan merupakan kemu’jizatan. Firman Allah ini merupakan penyucian terhadap Allah. Apa yang dikerjakan-Nya tidak mungkin dikerjakan oleh siapapun, selain oleh Allah Azza Wajalla.

Dan dalam firman-Nya di atas, kata Asy-Sya’rawi, Allah benar-benar menginginkan kita mengetahui bahwa mu’jizat Isra’ dan Mi’raj merupakan perbuatan-Nya. Isra’ dan Mi’raj tidak terjadi oleh kekuatan Muhammad SAW yang manusia. Karenanyasurattersebut diawali dengan: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya.” Hal ini berarti perjalanan Isra’ dan Mi’raj adalah suatu perbuatan Allah Ta’ala yang berada di atas kekuatan akal pikiran. (As-Sya’rawi, hlm. 38)

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata abdihi (yang sepadan dengan ibaad). Hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian kita pada dua hakikat penting, yaitu:

Pertama, peristiwa Isra’ terjadi dengan ruhani dan jasmani, bukan sekedar mimpi dalam tidur. Isra’ merupakan suatu yang dialami oleh Rasulullah SAW secara sadar, terjaga dan dapat diinderanya. Kata abdun dalam istilah bahasa hanya digunakan pada ruhani dan jasmani secara bersamaan.

Kedua, hakikat penting yang tersirat dari kata ‘abdihi adalah Allah Ta’ala ingin menyatakan kepada kita pengabdian kepada-Nya merupakan kelas tertinggi yang bisa dicapai manusia. Seperti penemuan Ibrahim yang berakhir pada Yang Maha Esa adalah melebihi penemuan yang bersifat materi.

Pengabdian kepada Allah dapat mengangkat martabat seseorang di sisi-Nya, tetapi pengabdian terhadap manusia akan menyebabkan suatu kehinaan dan kenistaan. Jika manusia menjadi majikan ia cenderung membuang semua hak-hak hambanya sebagai manusia, sedangkan pengabdian kepada Allah justru akan memberikan rahmat, karunia dan kemuliaan. (Ibid, hlm. 43)

* *  *

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj dalam catatan sejarah terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-11 (621) setelah beliau diangkat menjadi Rasul. Rasulullah SAW telah diisra’kan dari Masjidil Haram dengan ruh dan jasadnya. Ketika Isra’ dan Mi’raj diberitakan kepada kaum muslimin, Abu Bakar termasuk orang pertama yang mempercayai peristiwa itu, maka Rasul menjulukinya “Ashshiddiq.”

Bagi Rasulullah, yang baru ditinggal oleh orang yang sangat dicintainya Abu Thalib (paman) dan Khadijah (istri), sebagai pelindung dan pendukung dalam suka dan duka. Isra’ Mi’raj sebagai suatu pengokohan kejiwaan beliau setelah tahun kesedihan (Aamul Huzn). (Lihat Sejarah Hidup Nabi, Haikal dan Asy-Sya’rawi, hlm. 27) Sedangkan bagi umat Islam peristiwa itu sebagai tantangan, apakah dapat mengokohkan keimanan atau malah berpaling darinya  (murtad). Bahkan, menurut Quraish Shihab bahwa perjalanan malam itu “merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Qur’an disodorkan oleh Tuhan kepada manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) waktu dan ruang.” (Shihab, hlm. 338 )

* *  *

     Apa tujuan diisra’kan Nabi Muhammad SAW? Dalam ayat:

 

“Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari kebesaran dari ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Kami.”

Dalam ayat ini kita dapat mengetahui bahwa tujuan Rasulullah SAW diisra’kan terutama untuk memberi kesempatan kepadanya melihat-lihat ayat dan mu’jizat Allah SWT. Kata “ayat-ayat” umumnya tidak dikatakan pada semua yang ada, namun pada sesuatu yang dipandang menakjubklan dan mempesona, baik dalam hal keindahan, kecendikiaan, kemampuan mencipta dan berkreasi dan sebagainya. Ayat-ayat itu juga pada tanda-tanda alam yang dapat dilihat oleh orang kafir dan orang mukmin, seperti dalam firman-Nya:

ô`ÏBur ÏmÏG»tƒ#uä ã@øŠ©9$# â‘$yg¨Y9$#ur ߧôJ¤±9$#ur ãyJs)ø9$#ur 4

 “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan…” (Fushshilat: 37)

Dan ayat juga dinamakan pada mu’jizat-mu’jizat yang luar biasa, yang diberikan Allah kepada nabi dan Rasul sebagai bukti kenabian dan kerasulan mereka. Ayat-ayat yang dipertontonkan kepada Rasulullah selama dalam Isra’ dan Mi’raj ada dua macam:

Pertama, ayat-ayat ardiyah , yang dilihat Nabi selama dalam perjalanan Isra’. Beliau mengendarai buraq (ada berbagai penafsiran) antara langit dan bumi. Beliau melihat berbagai ayat Allah dengan cermat dan teliti. Ayat-ayat yang mempesona itu tidak pernah dilihat oleh seorang pun, baik sebelum maupun sesudahnya.

Kedua, Al-Ayah Al-Kubra, yakni ayat yang besar yang telah dilihat Rasulullah dalam perjalanan Mi’raj.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa tujuan Isra’ dan Mi’raj adalah untuk mempersaksikan ayat-ayat-Nya yang luar biasa kepada utusan-Nya SAW sehingga kesedihan dan keletihan semangat beliu dapat dipulihkan kembali. Walau pun Rasulullah SAW ditinggal oleh dua orang tercintanya, namun Allah ingin memperlihatkan kepadanya bahwa meskipun penduduk bumi bersekongkol untuk menghalangi dan melenyapkannya, tetapi Allah berada di belakangnya. Allah menyatakan kepadanya: “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Isra’: 1) (Asy-Sya’rawi, hlm. 73)

* * *

    Peristiwa Isra’ tak dapat dilepaskan dengan Mi’raj, karena memang Isra’ dan Mi’raj adalah satu rangkaian peristiwa. Mi’raj Rasulullah ke langit ketujuh dan Sidratul Muntaha adalah peristiwa yang luar biasa di luar kemampuan dan jangkauan akal manusia. Namun, “karena rahmat Allah Ta’ala jualah Dia memberikan kepada kita hal-hal yang bisa diindrakan, yang bisa mendekatkan yang gaib kepada akal kita, sekaligus bisa membantah serangan orang-orang kafir dan yang tidak mau mengakuinya. ” (Ibid, hlm. 79)

Bila mu’jizat Isra’ sebagai suatu tantangan bagi manusia, maka Mi’raj tidaklah demikian. Allah membuat Rasul-Nya dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Dan bahkan Rasulullah selama Mi’rajnya mengunjungi surga dan neraka. Padahal akal tidak bisa menjangkau apa yang ada di surga. Bukankah surga dan neraka tak terbayangkan oleh benak kita? Yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya tamsil.

Tidak seorang manusia pun yang pernah naik ke langit, lalu kembali lagi ke bumi sehingga dapat ditanyai dan diuji kebenaran Mi’rajnya, selain Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan Mi’raj tidak disebutkan waktunya, lain halnya dengan perjalanan Isra’. Pada abad pertengahan astronom Muslim Al-Farghani, yang lahir di Baghdad abad ke sembilan, mencoba menghitung jarak ke ‘Arsy. Ia mendapat angka 120 juta km. Jika dibandingkan dengan pengetahuan sekarang, jarak tersebut masih menempatkan ‘Arsy dalam lingkup Tata Surya. Sebagaimana diketahui, Matahari adalah salah satu bintang dari bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya di dalam galaksi Bimasakti (Milky Way), dimana jarak bintang terdekat dengan Matahari 42 trilyun km. Dengan teknologi observasi yang semakin maju, kini kita dapat menerawang sangat jauh yang tak terbayangkan ketika Isra’ Mi’raj terjadi. Galaksi Bimasakti bergabung dengan ribuan galaksi lainnya membentuk suatu gugus (cluster) galaksi yang ukurannya beberapa Megaparsec dan selanjutnya membentuk super cluster. (1 Megaparsec = 1 juta parsec; 1 parsec = 31 trilyun km; 1 Megaparsec = 31 juta trilyun km). (Prof. Hery Harjono, “Isra’-Mi’raj dalam Perspektif Sains dan Teknologi” 2014, h. 14)

Rasulullah di langit yang berbeda-beda tingkatannya menjumpai dan berbincang-bincang dengan para Rasul Allah. Selain beliau bertemu dengan para Rasul  beliau pun melihat banyak hal. Di antaranya beliau melewati suatu kaum yang sedang bercocok tanam dan menuai pada waktu itu juga. Setiap mereka menuai, saat itu pula tanaman tumbuh kembali seperti semula. Rasulullah bertanya kepada Jibril, “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah kaum mujahidin fisabilillah. Pahala yang diberikan kepada mereka berlipat ganda hingga tujuh ratus kali lipat. Apa-apa yang mereka nafkahkan pun fisabilillah. Karena itu Allah Ta’ala berjanji akan melipatgandakan pahalanya juga untuk mereka.”

Juga Nabi SAW melihat seorang wanita tua. Pada kedua tangannya berderet perhiasan yang mempesona. Rasul bertanya kepada Jibril, dan Jibril menjawabnya,”Ia adalah dunia dengan berbagai perhiasan yang ada padanya!”

Dan banyak lagi peristiwa yang beliau saksikan sebagai tamsil perilaku manusia.(Asy-Sya’rawi, hlm. 90)

* *  *

     Sampai dimanakah Rasulullah SAW dalam Mi’rajnya? Beliau dan Jibril terbang hingga ke Sidratul Muntaha. Sebagaimana dalam firman-Nya :

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga Al-Ma’wa.” (An-Najm: 13-15)

Para mufassirin mengatakan bahwa Rasulullah SAW melihat Jibril dalam bentuk asli yakni pada waktu membawa wahyu pertama di gua Hira. Beliau melihatnya kembali ketika berada di Sidratul Muntaha. (Ibid, hlm. 99)

Dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj Jibril selalu menyertai Rasulullah SAW. Namun, ketika memasuki kawasan ayat besar itu (An-Najm: 18), tidak seorang malaikat pun yang paling dekat dengan Allah SWT, termasuk juga Jibril, yang diperbolehkan memasukinya. Kawasan itu hanya diperkenankan dilalui dan dilihat oleh Rasulullah SAW sendiri. Jibril sebagai pemandu (guide) hanya sampai di Sidratul Muntaha, tidak dapat maju lagi menyertai perjalanan Mi’raj Rasulullah SAW. Beliau masih berharap Jibril menyertainya seperti sebelumnya. Namun, Jibril menolak dan berkata, “Aku hanya sampai disini saja mengantarmu. Kalau aku maju selangkah lagi, maka aku akan terbakar. Majulah engkau, ya Rasulullah!” (Ibid, hlm. 104)

Rasulullah SAW telah mencapai derajat yang tak dapat disanggupi oleh malaikat Jibril Alaihissalam, maka beliau sendirilah yang maju dan melintasi kawasan terlarang itu.

Di sinilah Rasulullah SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT. “Semua rukun Islam dan hukum-hukumnya datang melalui wahyu, kecuali shalat. Shalat diwajibkan dengan perintah langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala karena memang, shalat merupakan alat penghubung langsung antara bumi dan langit, dan merupakan kontak antara hamba dengan Robbnya. Shalat sekaligus juga sebagai simbol dari pengabdian manusia kepada penciptanya yang Maha Agung, ” kata As-Syara’wi. (Isra’ Mi’raj, Mu’jizat Terbesar, hlm.106-7)

* *  *

     Atas saran Nabi Musa AS Rasulullah kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan dalam shalat. Akhirnya jumlah  shalat yang beliau terima hanyalimawaktu. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan umat Rasul-Rasul terdhulu, agar umat pada masa Nabi Muhammad SAW tak terbebani.

Memang kata Quraish, dalam kelompok ayat yang mengisahkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat. Di antaranya ialah:

Pertama, petunjuk untuk melaksanakan shalatlima waktu (Al-Isra’: 78). Shalat ini merupakan inti dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, karena shalat pada hakikatnya adalah kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa shalat adalah tiang agama.

Dan agama dapat menjadikan kokoh suatu bangunan masyarakat. Tanpa agama dan nilai-nilainya yang sakral akan hancurlah suatu masyarakat, sebagaimana umat manusia pada zaman dahulu yang menentang perintah Allah. “Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.” (An-Nahl: 26)

Kedua, petunjuk lain dari ayat yang menjelaskan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur. Difirmankan Allah dalam Al-Qur’an ,”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka dalam negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. ” (Membumikan Al-Qur’an, hlm. 343-5)

* * *

     Dalam Isra’ Rasulullah SAW diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian dilanjutkan Mi’raj  ke Sidratul Muntaha untuk melihat ayat-ayatnya yang besar.

Peristiwa ini adalah suatu mu’jizat, yang tak terjangkau oleh akal manusia. Namun demikian kita harus menyadarinya bahwa inilah pekerjaan Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha Kuasa. Tak ada sesuatu yang mustahil bagi-Nya.

Ketika mengomentari peristiwa Isra’ dan Mi’raj sang sufi berkata, seandainya saya ke langit bertemu dengan Allah seperti Nabi Muhammad, saya tidak akan kembali ke bumi, seperti dikatakan Muhammad Iqbal, filosof – penyair asal Pakistan. Bagi Sang Nabi, kenikmatan bertemu dengan Sang Khalik tidak membuat lupa pada misi dan nasib umatnya kelak, maka beliau pun mengajak umatnya ke jalan yang lurus, Islam. Kita sebagai muslim saat ini hendaknya memahaminya sebagai pengokohan kejiwaan kita, sebagaimana Rasul SAW,   agar kita sebagai bangsa Indonesia yang banyak didera berbagai masalah dapat menjalaninya dengan sabar, tawakal dan optimistik. Walllahu a’lam bishawwab.     

dc

Depok, 17 – 4 – 2007

Farid Lu’ay

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Islam, Isra'-Mi'raj, Nabi Muhammad SAW dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke ISRA’ – MI’RAJ DAN PENGOKOHAN KEJIWAAN UMAT

  1. yisha berkata:

    makasih setuju saling follow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s