PUASA MENDIDIK JIWA

Menurut mufassir dalam Al-Qur’an jumlah kata shiyaam ada delapan yang semuanya berkaitan dengan hukum syar’i, satu kata perintah, satu kata kerja, dan yang lainnya menunjuk pada para pelaku puasa, seperti shaimiin dan shaimaat. Semuanya bersumber dari akar kata sha- wa- ma, yang dari segi bahasa maknanya berkisar “menahan” dan ”berhenti” serta ”tidak bergerak”.Dan dalam pengertian syariat, yakni menahan makan, minum dan nafsu syahwat ( bagi suami-istri tidak berhubungan) dari fajar hingga terbenam matahari.

Dikatakan dalam sebuah hadits Qudsi : ”Puasa untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberi ganjarannya”. Puasa adalah ibadah yang sifatnya rahasia, hanya dirinya dan Allah yang tahu. Orang lain tidak akan tahu bagaimana kualitas puasa kita.

Jika ditanya mengapa kita berpuasa? Karena ada perintah Allah. Mengapa kita mau untuk berpuasa? Karena kita termasuk orang yang beriman. Allah hanya menyapa orang-orang yang beriman untuk berpuasa, sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 183.”Hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-oreang sebelum kamu, agar kamu sekalian menjadi orang yang bertaqwa”. Yang tujuannya adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Artinya kita dalam menjalani hidup ini harus berhati-hati dan menjaga diri serta selalu menyadari bahwa apapun yang kita lakukan Allah Maha Tahu dan Maha Melihat. Dengan kesadaran ini semoga kita akan menjadi golongan muttaqiin.

Tentu dalam pelaksanaannya hal itu tidak mudah, namun kita harus tetap berikhtiar atau berusaha, dan jangan putus asa. Jangan membiarkan diri kita dikendalikan oleh nafsu kita, yang hanya berorientasi kepada dunia saat ini.

Sebagaimana dikatakan di muka, puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun juga menahan nafsu badani. Puasa sebagai latihan agar kita mempunyai kecerdasan spiritual, atau kecerdasan ruhani. Di antaranya sifat-sifat yang ditekankan pada seorang yang berpuasa, seperti sabar, jujur, adil, tidak berkata kotor atau sia-sia, menggunjing kejelekan orang dsb. Jika sifat-sifat ini menjadi karakter dan melekat dalam kepribadian kita, maka kita menjadi orang yang bertaqwa.

Sifat-sifat itu tidak hanya ada ketika kita berpuasa di bulan Ramadhan, namun juga terus terpelihara sepanjang waktu. Ketika kita menjadi orang tua, maka kita harus bersabar dalam mendidik anak. Ketika seseorang menjadi pejabat, pedagang, petani atau polisi ia harus jujur dan memiliki sifat-sifat tersebut.

Jadi nilai-nilai kebaikan yang ada dalam Al-Qur’an tidak hanya untuk diketahui, namun bagaimana kita mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa pengamalan seperti itu, Al-Qur’an hanya akan menjadi sesuatu yang tidak bermakna dalam kehidupan kita. Dan teladan yang paling baik bagaimana akhlak yang ada dalam Al-Qur’an diamalkan adalah pada diri nabi Muhammad saw. Wallahu ’alam bishawwab.

Depok, 7 Juli 2011

luay

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Islam, puasa, Ramadhan dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke PUASA MENDIDIK JIWA

  1. luaydpk berkata:

    Reblogged this on luaydpk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s