INDONESIA

 

    Mungkin aku terlalu gemuk. Sulit bagiku untuk berlari, berlari dari masa lalu ke masa kini. Secara gizi badanku sehat, atau bahkan mungkin kelebihan gizi. Dari segi umur aku sebenarnya sudah tua, namun kelahiranku baru dicatatkan kemudian, sehingga aku terlihat masih muda. Aku terlihat seperti perempuan yang mengandung. Usiakandungan yang sudah tua. Kepribadianku kadang labil. Kataorang aku ramah. Tapi di lain waktu karena suatu hal jadi pemarah, tak sabar, instant, suka mencari jalan pintas, menjauhi nalar dan tidak percaya kepada proses.

Identitasku belum begitu jelas. Aku memang sudah mempunyai nama.Namun nama itu masih belum menyatu dengan karakter sebagai manusia tradisional yang modern.

Aku iniIndonesia. Yang pada awalnya ide, lalu disuarakan dan tuliskan. Dan dikembangkan menjadi aksi nyata yang mewujud secara utuh. Namun kadang keutuhan itu masih rentan jika dihadapkan kepada berbagai hempasan gelombang persoalan. Janji setia yang telah dinyatakan bersama dan telah pula dituliskan pada prasasti seakan dilupakan. Semuanya seperti mengalami amnesia.

Jika aku adalah seorang perempuan yang mengandung, maka aku akan melahirkan anak-anak etnis. Anak-anak itu akan menyuarakan suara-suara yang berlainan satu sama lain. Padahal sebenarnya mereka satu ibu, yakni ibu pertiwi.

“Aku sangat mencintai ibu pertiwi. Karena itu aku pernah mengajak teman-temanku untuk mengumpulkan emas. Lalu emas itu dibelikan pesawat terbang. Pesawat terbang itu kami anggap sebagai kado untuk ibu pertiwi.Namun ibu pertiwi tak peduli kepada kami”, kata Aceh.

“Tidak betul itu…”

“Hai Jawa! Apakah kamu sudah lupa bahwa semua kebutuhan hidup hanya diberikan untukmu? Semua modal diberikan padamu. Kami hanya kebagian sisanya. Apakah ini suatu keadilan bagi anak-anak ibu pertiwi?”

“Betul dia. Kami ini hanya dieksploitasi. Kami tak mendapatkan warisan apapun. Kamu mungkin senang melihat kami menggunakan koteka? Padahal keinginan kami sebagai manusia juga sama dengan yang lainnya, menjadi manusia beradab.Namun kesempatan kami untuk berubah selalu terhambat. Bukan, bukan terhambat, tapi dihambat secara sistematis… oleh kekuasaanmu”.

“Aku?”

“Ya kamu Jawa. Kamu memiliki bahasa yang halus, tapi di balik itu adalah kerakusan. Semua ingin kamu miliki. Bahkan kami ini sepotong baju pun tak punya. Kami hanya menggunakan rumbai-rumbai daun dan selongsong tanduk. Bertahun-tahun, dan bahkan hingga kini di abad 21. Apakah kamu tidak malu mempunyai saudara sepertiku?”

“Sungguh terlalu!”, kata Selebes.

“Sultan kami adalah sultan yang gagah berani mengusir para perampok bule. Walaupunsusah payah kami melakukan perlawanan, akhirnya kami berhasil. Dan agar rempah-rempah yang kami miliki tak diambil mereka untuk dijual ke Eropa.”

“Jawa kamu egois. Kamu dapat bermain-main dengan mobilmu sesuka hati.Namun, pada saat yang sama kami tak dapat bepergian melalui darat dengan lancar. Karena itu kami gunakan sungai. Sungai-sungai kami bagaikan jalan tol. Hanya ada sesekali patroli buaya. Hutan, tempat di mana kami menggantungkan hidup selama ini, mulai berkurang. Siapa yang telah menebangi pohon-pohon itu, yang diharapkan menjadi paru-paru dunia?”

“Selamat tinggal ibu pertiwi… Sejarah kami berbeda.”, kata Timor. Kemudian ia berganti nama dengan tambahan Leste.

Semua anak-anak ibu pertiwi menggugat.

Mereka tak hanya ingin sekedar bertuhan Yang Maha Esa. Namun, mereka menginginkan agar sifat-sifat Tuhan dapat diaplikasikan pada realitas kehidupan, seperti adil, beradab, bijak, dan sebagainya. Lalu mereka bernyanyi bersama, “Indonesia tanah air be ta Pusaka abadi nan jaya…..”

                                                                                 Depok,10 Juli 2011

                                                               farid lu’ay

                                                                       peminat sastra

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di nasionalisme dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s