Cheng Ho dan Islam Nusantara

Oleh: F Lu’ay

Dalam sejarah Indonesia Cheng Ho sudah cukup dikenal perannya, sebagai laksamana dari daratan Cina yang pernah singgah di Nusantara. Dalam catatan sejarah, yang saat ini banyak bermunculan, dikisahkan tentang pelayaran laksamana Cheng Ho, atau dalam bahasa Mandarin Zheng Ze. Ia adalah laksamana laut pada masa Dinasti Ming (1368-1644), yang selama 27 tahun (1405-1433) telah memimpin sebanyak tujuh pelayaran ke wilayah selatan dan mengunjungi banyak negeri, di benua Asia-Afrika. Jejak pelayaran Cheng Ho, ditulis oleh Ma Huan, yang mengikuti tiga dari tujuh pelayaran itu. Ia mencatat banyak hal dan menyusunnya dalam bentuk kronik.

Asal usul Cheng Ho dalam sejarah Dinasti Ming (Ming Shi) tidak dikenal dan hanya diketahui bahwa ia sebagai kasim (budak). Kasim pada umumnya tidak dihargai di daratan Tiongkok pada masa silam. Namun, kelangkaan informasi ini sedikit dapat diatasi dengan adanya catatan silsilah Cheng Ho. Dari batu nisan diketahui ayahnya bernama Ma Hazhi dan ibunya berasal dari marga Wen.[1]

Cheng Ho berasal dari bangsa Hui, salah satu etnis minoritas Tionghoa.  Moyangnya semula tinggal di Xi Yu, kemudian pindah di Tiongkok Barat daya dan ia menetap di provinsi Yunan. Kakek dan ayahnya telah melaksanakan ibadah haji ke Makah. Hal itu pernah diceritakan kepada Cheng Ho ketika ia kecil. Perjalanan menuju kota Makah saat itu sangat sulit dan penuh rintangan.

Cheng Ho lahir pada tahun Hong Wu ke-4 (1371 M), di distrik Kunyang, Provinsi Yunnan pada masa Dinasti Yuan sudah terguling. Provinsi Yunan masih diduduki oleh Raja Liang, sisa kekuatan dari Dinasti Yuan. Ketika Ceng Ho berumur 12 tahun, provinsi Yunan sudah dikuasai oleh tentara Dinasti Ming. Pada masa itu Cheng Ho dan para pemuda lain ditangkap dan dikebiri oleh tentara Ming. Ia dibawa ke kota Nanjing dijadikan kasim di istana. Kemudian kaisar pertama Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang menganugerahkan dia kepada Zhu Di. Cheng Ho memanfaatkan segala pasilitas yang ada dengan banyak membaca dan ikut bertempur.[2]

Pada tahun Hong We ke-31 (1398 M) kaisar Zhu Zhuanzhang mangkat. Oleh karena putra makotanya Zhu Biao masih sangat muda, maka Zhu Yunwen, cucu Zhu Yuanzhang naik tahta. Putra mahkota muda itu dibantu menteri-menteri di antaranya, Qi Tai, Huan Zhicheng dan lain-lain. Masa itu raja-raja di daerah provinsi memiliki angkatan bersenjata cukup kuat, termasuk Zhu Di. Untuk memperkokoh kekuasaannya kaisar Zhu Yunwen dengan dibantu para menteri utamanya mengumumkan titah untuk mengurangi kekuatan raja-raja di daerah. Hal itu menimbulkan ketidakpuasan di kalangan raja-raja, juga Zhu Di sebagai raja terkuat. Maka dengan dalih untuk membunuh menteri-menteri jahat ia melakukan serangan militer terhadap ibukota Dinasti Ming, di Nanjing. Melalui pertempuran yang sangat sengit selama 3 tahun ia berhasil menduduki Nanjing.[3]

Kaisar yang digulingkan itu menghilang. Zhu Di menduduki singgasna raja dan kemudian ia mengubah sistem tahun Lian Wen dengan sistem tahun Yong Le. Cheng Ho selalu mendampingi Zhu Di dalam berbgai pertempuran untuk menggulingkan kaisar  Zhu Yuanwen. Keberanian dan kecerdasan Chang Ho dihargai oleh kaisar Zhu Di. Sejak tanggal 1 Januari Imlek tahun Yong Le ke-2 (1404 M) oleh kaisar Zhu Di ia dianugerahi nama marga Cheng kepada Ma He. Sejak saat itu pula nama Ma He diganti dengan nama baru Cheng Ho. Lalu ia diangkat menjadi kepala kasim di istana.

Pada abad ke-15 kaisar Yong Le (Zhu Di) memerintahkan supaya dilakukan pelayaran-pelayaran ke samudra barat untuk memajukan persahabatan dan memelihara perdamaian di antara negara-negara asing. Cheng Ho dipilih sebagai laksamana untuk memimpin pelayaran ke Samudra Barat itu.[4]

Cheng Ho adalah seorang muslim yang taat. Ia membawa beberapa orang muslim lainnya dalam pelayarannya, di antaranya: Ma Huan dan Guo Chongli, yang pandai berbahasa Arab dan Persia, dan mereka bekerja sebagai penerjemah. Karya Ma Huan yakni Yi Ya Sheng Lan (Pemandangan Indah di Seberang Lautan) sebagai catatan perjalanan Cheng Ho ke negeri-negeri Asia-Afrika pada pertengahan abad ke-15. Hasan, ulama Masjid Yang Shi di kota Yian, provinsi Shan Xi pada pelayaran ke-4 tahun 1413 diajak Cheng Ho. Sebagai ulama ia memainkan peranan penting dalam mempererat hubungan antara Tiongkok dengan negara-negara Asia-Afrika, khususnya negara-negara Islam yang dikunjungi Cheng Ho. Selain itu, Hasan juga memimpin kegiatan-kegiatan agama Islam dalam rombongan Cheng Ho, seperti pemakaman jenazah di laut dan lain sebagainya. Banyak orang muslim lainnya yang diajak Cheng Ho dalam berbagai pelayarannya.

Terhadap agama lain Cheng Ho hormat, seperti terhadap agama Budha dan agama Tao.

Singgah di Nusantara

Cheng Ho dalam pelayarannya itu telah lima kali mengunjungi kawasan Nusantara, singgah di pulau Sumatra dan pulau Jawa. Lokasi yang dikunjunginya, antara lain Samudra Pasei (Aceh), Palembang, konon Semarang, dan Cirebon. Misi yang dibawa Cheng Ho tidak hanya memamerkan kekuatan militer kekaisaran Ming, namun ia memperlihatkan keluhuran kebudayaan China, membina hubungan dengan negara-negara di wilayah selatan, yang sempat terputus, dan ia berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di berbagai wilayah yang dikunjunginya itu.

Ia adalah tokoh yang hidup di wilayah Tiongkok yang telah lama didiami oleh bangsa Cina pemeluk Islam. Cheng Ho semula sebagai seorang budak, namun lambat laun karena berhasil menarik tuannya ia menanjak menjadi pejabat tinggi di istana. Lalu karena prestasinya ia diberi tanggung jawab untuk memimpin pelayaran. Kawasan yang disinggahinya, di antaranya Nusantara, seperti disinggung di depan.

Tan Ta Sen mencatat, jejak yang ditinggalkan Cheng Ho di kawasan Nusantara, khusus berkaitan dengan proses akulturasi orang China di Jawa pada abd ke-15 dan abad ke-16, memperlihatkan dua tahap yang berbeda. Gelombang pertama, Islam yang telah mengalami sinisasi diperkenalkan ke Jawa oleh Cheng Ho dan orang-orang China Muslim bermadzhab Hanafi pada awal dan pertengahan abad ke-15. Kedua, penetrasi Sino-Islam di Jawa diprakarsai oleh generasi kedua China Muslim bermadzhab Hanafi pada periode setelah Cheng Ho sejak pertengahan abad ke-15 sampai abad ke-16. Juga, komunitas-komunitas Cina Muslim di pulau Jawa mengalami perubahan struktural secara drastis dari segi kependudukan dan budaya akibat dari jalinan perkawinan di antara orang-orang China lajang yang lahir di China dengan perempuan pribumi Jawa.[5]

Pelayaran Cheng Ho dari negeri Cina sampai ke kepulauan Nusantara ini, juga telah menjadi cerita rakyat Indonesia, dan juga mengenai pelayaran itu dapat dilihat pada peta perjalanan laut Cheng Ho. Peta itu memperlihatkan bahwa jangkauan pelayarannya demikian luas, dan menunjukan kebesaran dinasti Ming.

Dibandingkan dengan para pelaut Eropa, Cheng Ho memiliki armada yang besar dengan awak kapal yang banyak sekitar 27. 000 lebih, dan beberapa kali pelayaran. Buku Kong Yuanzhi adalah hasil penelitiannya baik di Cina, Indonesia maupun di Belanda. [6]

Pelayaran Cheng Ho dan para awaknya ke Nusantara itu juga membuka jaringan perniagaan antara Cina dengan Jawa, atau sebaliknya. Di pulau Jawa peranan masyarakat China dalam perdagangan semakin meningkat. [7]

Dengan ditemukannya berbagai sumber sejarah baik naskah China kuno  maupun jejak arkeologis, maka semakin jelas bahwa terdapat hubungan antara Cina dan Indonesia pada sekitar abad ke-15, yang dibangun oleh kunjungan Cheng Ho ke Nusantara. Kedatangannya itu membawa pengaruh  di kawasan Nusantara sebagai penyebar Islam. Mengenai jejak arkeologis dapat dilihat pada batu-batu nisan dan arsitektur bangunan masjid, atau benda-benda peninggalan dinasti Ming di pulau Jawa.

Depok, 27-11-2010

 

Daftar Pustaka

Tan Ta Sen, Cheng Ho: Penyebar Islam dari Cina ke Nusantara, (Jakarta: Kompas, 2010), terj.
Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (Penyunting HM Hembing Wijayakusuma), (Jakarta: PP Obor, 2005).
HJ. de Graaf dan TH. Pigeaud, Cina Muslim di Jawa pada Abad ke-15 dan ke-16 (Yogyakarta: T Wacana, ), terj.
Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia, Jld. 2 (Jakarta: GPU, 1996), terj.
Ensiklopedi Islam, (Jakarta: van Hoeve, 2005).

[1] Kong Yuanzi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 19

[2] Ibid., h. 31

[3] Ibid., h. 32

[4] Ibid.

[5] Tan Ta Sen, Cheng Ho: Penyebar Islam.. h. 345

[6] Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho; lihat juga HJ. de Graaf dan TH. Pigeaud, Cina Muslim di Jawa..

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Dakwah, Indonesia, Pelayaran, sejarah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s