TENTANG DAKWAH

Muqaddimah

 

Jika Anda sempat membaca karya Husein Haikal atau karya sejenis tentang riwayat Nabi Muhammad Saw Anda akan melihat bahwa sepanjang kehidupan beliau diisi dengan dakwah. Secara aktif ia mengenalkan dan mengajak orang-orang Arab jahiliyah kepada agama Islam. Dalam mengajak beliau amat cerdas, sesuai dengan sifat-sifat Nabi, dengan melihat keadaan psikologi orang-orang yang diseru. Dengan metode yang diterapkannya beliau meraih hasil yang gemilang.

Keberhasilan dakwah Rasulullah Saw itu, tidak hanya direkam oleh para sejarawan Muslim namun para peneliti Barat pun mengakuinya, baik secara terbuka atau tidak langsung. Keberhasilan beliau akan terlihat lebih jelas jika dibandingkan dengan dakwah para utusan Allah pada masa sebelumnya.

Dakwah beliau meliputi banyak aspek kehidupan, mulai dari cara makan, buang air, bertemu dengan kerabat atau seseorang, dalam berdagang, dalam diplomasi dengan negara lain dan sebagainya. Namun, dari semua itu bersumber dari akhlaq beliau yang agung, seperti dikatakan dalam Al-Qur’an (QS Al-Qalam: 4), dan misi beliau pun diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlaq manusia (liutammima makaarimal akllaq).

Sahabat, dimanapun Anda berada, zaman terus bergerak seiring keberadaan dunia ini. Karena itu, tidak ada hal yang tetap, dan kita perlu merenung sejenak untuk memikirkan tentang sifat zaman kini. Hasil renungan itu dapat dituliskan sebagai buah pikiran yang akan terus dibaca oleh orang lain sepanjang dunia ini masih ada. Semoga hasil buah pikiran yang dituliskan disini dapat mencerahkan banyak orang.

PROBLEMATIKA DAKWAH KINI DAN

STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW.

 

Oleh: Dr. H.M. Roem Rowi

(Dosen UIN Sunan AmpelSurabaya)

Makna Dakwah

Dakwah berasal dari kata kerja da’aa- yad’uu, yang berarti mengajak, menyeru atau pun mengundang, bahkan juga menamakan. Kata ini pun digunakan dalam berbagai makna dalam Al-Qur’an, antara lain:

        1. Istighotsah:                                        ﻮﺍﺪﻋﻮﺍﺸﻬﺪﺍﺀﻜﻢﻤﻦﺪﻮﻦﺍﷲﺇﻦﻜﻨﺘﻢﺼﺎﺪﻗﻴﻦ

     2. Ibadah     :                                           ﻠﻦﻨﺪﻋﻮﻤﻦﺪﻮﻨﻪﺍﻠﻬﺎﻮﻻﺘﺪﻉﻤﻊﺍﷲﺍﻠﻬﺎﺁﺨﺮ 

        3. Shalat      :                                  ﻮﺍﺼﺑﺮﻨﻓﺴﻚﻤﻊﺍﻠﺬﻴﻦﻴﺪﻋﻮﻦﺮﺑﻬﻢﺑﺎﻠﻐﺪﺍﺓﻮﺍﻠﻌﺸﻰّ

          4. Nidaa’ dan Tasmiyah:                     ﻻﺗﺠﻌﻠﻮﺍﺪﻋﺎﺀﺍﻠﺮﺴﻮﻞﺒﻴﻨﻜﻢﻜﺪﻋﺎﺀﺒﻌﻀﻜﻢﺑﻌﻀﺎ

5. Do’a        :                                                                   ﺃﺪﻋﻮﻨﻰﺍﺴﺘﺠﺐﻠﻜﻢ

Makna ini semua kita dapatkan, baik dalam keadaan kata transitif atau pun  intransitif.

Bila kata tersebut dikaitkan dengan huruf ilaa ( ﺇﻠﻰ ), maka makna secara umum adalah dorongan dan ajakan untuk mengerjakan sesuatu.

ﻮﺍﷲ ﻴﺪﻋﻮﺇﻠﻰﺪﺍﺮﺍﻠﺴﻼﻢ ﻴﺎﻗﻮﻢ ﻤﺎﻠﻰﺃﺪﻋﻮﻜﻢ ﺇﻠﻰﺍﻠﻨﺠﺎﺓ ﻮﺘﺪﻋﻮﻨﻧﻰﺇﻠﻰﺍﻠﻨﺎﺮﺘﺪﻋﻮﻨﻧﻰﻷﻜﻓﺮﺒﺎﷲ

Dari makna inilah terminology dakwah berasal. Dengan demikian dakwah secara terminologis yakni: dorongan, ajakan dan seruan kepada umat manusia untuk bertauhid kepada Allah dan patuh kepada ajaran-Nya, demi kepentingan dan kemaslahatan hidup mereka secara abadi. 1

Dengan istilah lain sesuai era kini kiranya bisa dikatakan, sebagai ajakan dan dorongan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus kualitas hidup mereka. Karena itu tugas da’i adalah mengajak dan mendorong yang tujuannya mentauhidkan Allah, sedang metode dan tekniknya bisa bervariasi dan berkembang secara fleksibel sesuai kebutuhan.

Fungsi Strategis Dakwah

Pada dasarnya dakwah adalah tugas utama dan terutama bahkan tugas satu-satunya para Nabi danRasulA.S. Oleh karenanya, memikul tugas dakwah berarti mewarisi tugas dan fungsi mulia para Nabi dan Rasul tersebut.

Pada dakwah dipertaruhkan hidup dan matinya seluruh agama, bahkan juga semua ide. Tidak ada kebenaran, al-haq atau kebaikan yang bisa berdiri dan berjalan sendiri, tanpa harus diperjuangkan  dan didakwahkan. Itulah sunnah Ilahi, karena itu para Nabi, Rasul dan Malaikat pun diutus dan dikerahkan-Nya untuk tujuan tersebut.

Tidak ada yang mengira selama ini, bahwa hanya dengan dakwah ternyata banyak sekali potensi yang terabaikan selama ini justru menjadi kekuatan dahsyat yang menakjubkan dan mengagumkan dunia sampai saat ini, dan bahkan tidak ada bandingannya.

Umar yang hanya penggembala unta milik bapaknya, al-Khattab, juga Ali, Khalid, ‘Amr ibn al-‘Ash, Saad, bahkan para budak, seperti Salman, Bilal, Zaid dan lain sebagainya. Mereka semua selama ini hanyalah ibarat bahanbakumentah yang tidak ada harganya. Tetapi, begitu tangan dingin dakwah menyentuh mereka kesemuanya bangkit menggegerkan dunia sebagai negarawan-negarawan yang unik, mengagumkan dan mengesankan. Mereka kemudian menjadi manusia yang tidak butuh pada dunia, sementara dunia yang justru sangat membutuhkan dan mendambakan keberadaan mereka. Betapa sekarang pun kita mendambakan keberadaan mereka, atau setidaknya duplikat mereka. 2

Kategori (maraatib)  Dakwah

Paraulama ada yang membagi dakwah menjadi beberapa kategori, di antaranya sebagai berikut:

1.  Dakwah para nabi dan rasul sebagai kategori tertinggi dengan alas an bahwa merekalah pioneer dakwah, kekuatan jiwa mereka lebih handal dan lebih bersih, karena itu pengaruh dan implikasi mereka pun lebih dalam dalam, tajam dan menukik.

2.  Dakwah ulama sebagai khulafa dan pewaris anbiyaa, sebab dakwah para anbiyaa memiliki dua (2) dimensi pokok, yakni dimensi ilmu dan intelektual dan dimensi qudrah, atau power (kekuasaan) yang bersifat struktural. Dalam segi intelektual itulah para ulama mewarisi para anbiyaa.

3.  Dakwah para muluk dan umara. Mereka mewarisi dimensi kedua dakwah para anbiyaa, sebab mereka memiliki sarana kekuasaan untuk mengamankan dan mempertahankan dakwah serta hasil-hasil yang telah dicapai.

4.  Dakwah internal umat Islam setara dengan kemampuan masing-masing. 3

Elemen-Elemen Dakwah dan Problematikanya 

    Beberapa elemen dakwah setidaknya meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Subyek dakwah atau pelaku dakwah yang sering dikenal dengan istilah         da’i dan lebih popular dengan mubaligh.

2. Obyek dakwah atau sasaran yang menerima dakwah.

3.  Materi dakwah.

4.  Metode dan teknik dakwah.

5.  Takhtit dan mutaba’ah (perencanaan dan pengendaliaan).

6.  Strategi dakwah.

1. Problematika yang menyangkut da’i, yakni:

a. Kemampuan penguasaan materi dakwah secara optimal.

b. Kejelian mendeteksi dan mengidentifikasi permasalahan umat.

c. Diagnosis dan analisis permasalahan serta kemungkinan terapi yang harus    digunakan secara tepat dan akurat.

d. Selektif, penyampaian materi dan tema tepat.

e. Penyajian dengan metode, teknik dan perncanaan yang matang serta    strategi yang benar.

f. Keterbatasan sarana dan kondisi.

Semua problematika tersebut harus ditangan dengan serius, karena itu  perlu keberadaan lembaga dan institusi dakwah yang profesional, yang siap membina dan menyiapkan kader-kader da’i yang qualified dan handal. Yang sangat  dibutuhkan tentu pembinaan dan pelatihan yang intensif dan terarah.

2. Problematika obyek dakwah, yaitu:

a. Hetrogenitas umat, baik secara sosial, ekonomi, kultural maupun politik.

b. Berbagai permasalahan umat yang sangat kompleks.

c. Tingkat kemampuan ekonomi umat yang umumnya relatif rendah,    membuat mereka berkonsentrasi dalam mengejar kebutuhan hidup, sehingga  minim kepeduliannya terhadap nilai-nilai agama.

3. Problematika berkaitan materi dakwah, yakni:

a. Minimnya literature dan pedomanbakuyang benar-benar sistematis, realistik dan mudah diaplikasikan.

b.  banyak literatur yang masih berbahasa Arab atau lainnya yang umumnya belum terjangkau para da’i.

4. Metode dan teknik dakwah

Umumnya metode dan teknik dakwah dilakukan secara monoton, rutin dan    kurang kreatifitas juga inovasi. Karena itu, perencanaan, pengendalian, evaluasi dan strategi dakwah sering terabaikan, dan bahkan nyaris terlupakan sama sekali.

Telaah Sekilas Tentang Strategi Dakwah Rasulullah SAW.

Strategi dakwah meliputi beberapa aspek, sebagai berikut:

1.  Tujuan dan sasaran yang jelas.

2.  Perencanaan yang menyeluruh atau komprehensif.

3.  Pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan, baik diri sendiri maupun masyarakat umum atau sasaran. Dalam ilmu strategi dikenal dengan SWOT (strengths, weakness, opportunities and threats).

4.  Keyakinan yang kuatakan kebenaran perjuangan.

5.  Pengetahuan tentang daerah sasaran yang dipandang dan diyakini paling strategis. Inilah yang dikenal dengan istilah strategic growing point. 4

Bila kita telaah dengan cermat tentang dakwah Rasulullah SAW., maka keseluruhan aspek strategis tersebut akan tampak jelas, dengan bentuk yang  tuntas dan bahkan sempurna. Tujuannya sangat jelas, yakni mewujudkan masyarakat baru dengan tatanan yang Islami, atau disebut sebagai masyarakat madani.

Sasaran, perencanaan dan tahapan yang harus dilalu jelas dan dengan penebaran iman pada benih-benih unggul, melalui pendekatan-pendekatan yang sangat individual, akrab dan manusiawi. Hal itu telah diawali sebelumnya dengan memerankan sosok pribadi yang sempurna dan terpercaya ( al-amin) serta integritas diri yang mengesankan dan teladan yang sempurna.

Perencanaan dengan tahapan-tahapan tertentu terbaca dengan sangat jelas. Metode dan teknik apa yang harus diterapkan pada setiap tahap, baik pada saat kondisi lemah masih menyelimutinyamaupun pada saat kekuataan telah dimiliki dan menyertainya. Beliau mengetahui secara akurat kekuatan dan kelemahan, baik pihak lawan (sasaran) maupun pihak sendiri.

Dalam periode Makkah misalnya, tampak dengan jelas sekali betapa kondisi internal umat Islam masih sangat lemah dan sementara kondisi kaum Jahiliyah sebagai sasaran terlihat tangguh dan kuat. Pada saat itulah beliau memilih metode pendekatan individual, rahasia dan door to door. Suatu meetode pendekatan dan dan sekaligus strategi yang tepat, dengan penuh perhitungan dan pertimbangan yang bijak.

Dengan sangat jeli dan arif pula beliau melihat, bahwa dakwah –apalagi dalam kondisi seperti itu— sangat membutuhkan kekuatan yang mampu memberikan perlindungan dan pengayoman dalam  berdakwah. Tentu kekuatan (power) dalam arti yang luas, sehingga tidak terbatas pada kekuatan fisik semata, namun juga meliputi kekuatan moral, spiritual, pengaruh dan juga kekuatan ekonomi sebagai pendudkung.

Sumber utama kekuatan moral dan spiritual, tidak lain adalah keyakinan yang kuat akan kebenaran misi perjuangan dan kepastian akan an-nashr min Allah dengan penuh tawakal. Kekuatan tersebut tercermin dengan jelas dalam sikap beliau yang tidak mengenal kompromi antara yang haq dan bathil.

Dengan sikap berani dan kesatria, serta penuh keyakinan, beliau menolak dengan tegas tipu daya, rayuan dan bujukan serta upaya Quraisyi untuk menukar (barter) dakwah beliau dengan harta, tahta dan wanita. Berkaitan dengan hal itu beliau bersabda: “Demi Allah, seandainya mereka mampu memberikan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya sampai Allah menangkan agamaNya, atau aku yang harus binasa karena membelanya”. 5

Pengaruh Abu Thalib dan Khadijah di kalangan Quraisy, dan khususnya pamannya, meski semata-mata kehendak Allah bukan kehendak atau rekayasa Muhammad, merupakan kekuatan tersendiri yang mampu membuat Quraisyi setidaknya segan untuk segera mengambil keputusan akhir untuk membunuh Muhammad. Prediksi ini terbukti kebenarannya sepeninggal keduanya pada tahun dukacita (aam al-huzn) pada 10 tahun kenabian. 6 Mereka dengan tanpa rasa segan mengambil kesepakatan dan keputusan untuk menghabisi Muhammad dengan cara yang keji. 7

Kekuatan ekonomi Khadijah di samping berpengaruh besar di kalangan suku Quraisyi, juga memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada Rasul untuk berkonsentrasi penuh dalam misi dakwah, tanpa harus terganggu pikiran dan konsentrasi beliau untuk urusan nafkah dan biaya hidup.

Penentuan kotaMakkah dan bangsa Quraisyi sebagai sasaran utama dan pertama dakwah Rasulullah SAW., juga tidak dapat kita pisahkan dengan teori strategic growing point, yakni sasaran strategis yang bila didahulukan diyakini akan membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan dan perkembangan dakwah selanjutnya. Makkah pada saat itu sebagaimana diketahui sebagai Umm Al-Quraa sebagai ibukota iazirah Arab.Sedang suku Quraisy adalah pemimpin dan panuitan yang sangat berpengaruh juga disegani oleh seluruh suku yang berada di semenanjung jazirah Arab. Apapun yang mereka katakan dan lakukan akan diikuti dengan serta merta oleh suku-suku yang lain.

Begitu juga surat-surat dakwah beliau kepada para kepala negara, spertiRomawi,Persia, Habasyah,Mesir,Omandan lain sebagainya sangat terkait dengan teori tersebut. Tidak jauh berbeda dengan hal itu perintah hijrah ke negeri Habasyah (Etiophia), dakwah kepada Bani Tsaqif di Thaif, pemuka suku yang datang pada musim haji dan lain sebagainya.

 

Catatan Akhir dan Saran

Melihat problematika atau persoalan dakwah yang telah dibahas di muka, dan mengamati praktek serta strategi dakwah Rasulullah SAW., agaknya cukup jelas untuk ditengarai bagaimana seharusnya arah serta strategi pengembangan dakwah saat ini.Tantangan dakwah di era informasi di abad XXI ini cukup kompleks, seperti tarikan kepada munkaraat yang dikemas dengan teknologi informasi yang begitu gencar dan efektif.

Oleh karena itu, strategi pengembangan dakwah dan da’i bukan hanya diarahkan kepada hal-hal tersebut di atas. Da’i harus dibekali pula dengan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi informasi, dukungan kekuasaan dengan segala aspeknya, dan kemampuan melakukan pedekatan terhadap obyek dakwah, dengan konsep-konsep yang solutip yang mereka hadapi.

Kita dapat mengacu kepada bukunya Ahmad Salaby, Tarikh al-Manaahij al-Islamiyah, yang melihat bahwa betapa mendesaknya kebutuhan zaman modern ini kepada keberadaan Lembaga Tinggi Dakwah Tingkat Pasca Sarjana yang berkonsentrasi penuh dan secara professional mencetak para da’i yang berkualitas danmampu menghadapi setiap tantangan zaman.8 Hal itu harus direalisasikan saat ini, insya Allah. a

 

Catatan kaki dan Kepustakaan

1.  Jami’ah Islamiyah Madinah, Usus Ad-Dak’wah, tt., hlm. 1

2.  Abd Adhim Abd Aziz, Hadhir al-‘Aalam Al-Islami, At-Taqoddum Cairo, tt., hlm. 53-54

3.  Jami’ah Al-Islamiyah Madinah, hlm. 2

4.  Dr. Zakki Badawi, Musthalahat Al-‘Ulum Al-Ijtimaiyah, Lubnan Beirut, tt., hlm. 411

5.  Muhammad Al-Ghazali, Fiqhu As-Sirah, Al-Ma’arif, Bdng, terj. Abu Laila dan M Tohir, hlm. 255

6.  Ahmad Salaby, Mausuah At-Tarikh Al-Islami, An-Nahdhahcairo, 1987, vol. 1, hlm. 225

7.  Ibid., hlm. 255

8.  Ahmad Salabi, hlm. 180

9.  M. Natsir, Fiqhu Da’wah, Media Da’wah,Jkt., 1988

10. Muhammad Al-Ghazali, Ma’a Allah Dirasaat fi Ad-Da’wah wa Ad-Du’aat, Daar Al-Kutub Al-Haditsah Cairo,

ULAMA,

  ILMU DAN KEPRIBADIAN

(Tinjauan Al-Qur’an dan Hadits)

Oleh: Prof. Dr. Didin Hafiduddin

(Guru Besar IPBBogor)

Pendahuluan

Kata ‘ulama’ secara eksplisit dinyatakan di dalam dua  ayat di dalam Al-Qur’an, yakni:

ﺃﻠﻢﻴﻜﻦﻠﻬﻢﺁﻴﺔﺃﻦﻴﻌﻠﻤﻪﻋﻠﻤﺎﺀﺒﻨﻲﺇﺴﺮﺍﺌﻴﻞ﴿ﺍﻠﺸﻌﺮﺍﺀ׃۱۹۷﴾

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israel mengetahuinya?”  (QS. Asy-Syu’ara: 179)

ﻮﻤﻦﺍﻠﻨﺎﺲﻮﺍﻠﺪﻮﺍﺐﻮﺍﻷﻨﻌﺎﻢﻤﺨﺗﻠﻒﺃﻠﻮﺍﻨﻪﻜﺬﻠﻚﺇﻨﻤﺎﻴﺨﺸﻰﺍﷲﻤﻦﻋﺒﺎﺪﻩﺍﻠﻌﻠﻤﺎﺀﺇﻦﺍﷲﻋﺰﻴﺰﻏﻔﻮﺮ﴿ﻓﺎﻄﺮ׃٢٨﴾

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fatir: 28)

Ayat pertama meskipun berkaitan dengan Bani Israel, menunjukkan bahwa seseorang itu dikatakan sebagai ulama apabila memiliki keluasan dan kedalaman ilmu-ilmu agama, tempat orang bertanya dan meminta fatwa. Dan ayat kedua menunjukkan, bahwa seseorang dikatakan ulama jika memiliki rasa khasysyah ‘takut dan cinta’ yang tinggi kepada Allah SWT, dan senantiasa memelihara hubungan dengan-Nya. Fatwa dan ilmu yang disampaikannya kepada masyarakat mencerminkan tqwanya kepada Allah SWT. Di dalam menafsirkan ayatini, Said Hawwa mengemukakan pendapat Ibnu Masud, bahwasanya ulama itu bukanlah semata-mata orang yang banyak ilmunya, namun juga banyak khasysyahnya. (Said Hawwa, al-Asasu fi al-Tafsir, juz. 8, hlm. 4593)

Sementara itu, di dalam hadits Nabi yang memperbincangkan tentang ulama, hampir seluruhnya menerangkan tentang akhlaq dan kepribadiannya; sikapnya teradap haq dan bathil; sikapnya terhadap umat, dan sikapnya terhadap penguasa. Rasulullah SAW. bersabda:

ﺇﻦﻤﺜﻞﺍﻠﻌﻠﻤﺎﺀﻓﻰﺍﻷﺮﺾﻜﻜﻤﺜﻞﺍﻠﻨﺠﻮﻢﻓﻲﺍﻠﺴﻤﺎﺀﻴﻬﺘﺪﻯﺒﻬﺎﻓﻰﻈﻠﻤﺎﺖﺍﻠﺑﺮﻮﺍﻠﺒﺤﺮ

ﻓﺈﺬﺍﺍﻨﻂﻤﺴﺖﺍﻠﻨﺠﻮﻢﺃﻮﺸﻚﺃﻦﺘﻀﻞﺍﻠﻬﺪﺍﺓ﴿ﺮﻮﺍﻩﺃﺤﻤﺪﺍﻠﺯﻤﺨﺸﺮﻯﻋﻦﺃﻨﺲ﴾

“Gambaran ulama di muka bumi ini, adalah seprti bintang-bintang yang berada di langit, yang memberikan petunjuk dalam kegelapan, di darat maupun di lautan. Apabila bintang-bintang itu terbenam, maka dikhawatirkan orang-orang akan tersesat jalannya.” (HR. Imam Ahmad, az-Zamakhsyari dari Anas)

“Ulama itu adalah panutan dan pemimpin umat. Barang siapa yang senantiasa bergaul dengannya, maka akan bertambah kebaikannya.” (HR. Jama’ah)

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ׃ﺍﻠﻌﻠﻤﺎﺀﺃﻤﻨﺎﺀﺍﻠﺮﺴﻞﻤﺎﻠﻢﻴﺨﺎﻠﻄﻮﺍﺍﻠﺴﻠﻄﺎﻦﻮﻴﺪﺍﺨﻠﻮﺍﺍﻠﺪﻨﻴﺎ

ﻓﺈﺬﺍﺨﺎﻠﻄﻮﺍﺍﻠﺴﻠﻄﺎﻦﻮﺪﺍﺨﻠﻮﺍﺍﻠﺪﻨﻴﺎﻓﻗﺪﺨﺎﻨﻮﺍﺍﻠﺮﺴﻞﻓﺎﺤﺬﺮﻮﻫﻢ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﻌﻗﻴﻠﻰﻋﻦﺃﻨﺲ﴾

“Ulama itu para penerima amanah rasul selama tidak bergelimang dengan kekuasaan (dikendalikan oleh kekuasaan) para penguasa, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Apabila mereka dikendalikan oleh kekuasaan dan menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka sungguh mereka telah berkhianat pada para rasul. Hati-hatilah menghadapi mereka .” (HR. ‘Uqaily dari Anas)

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang keutamaan dan kemuliaan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya dengan orang yang semata-mata melakukan ibadah saja tanpa didukung oleh keluasan ilmunya, maka Rasulullah SAW. bersabda:

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ׃ﻤﻦﺴﻠﻚﻄﺮﻴﻗﺎﻴﺒﺘﻐﻲﻓﻴﻪﻋﻠﻤﺎﺴﻠﻚﺍﷲﺒﻪﻄﺮﻴﻗﺎﺇﻠﻰﺍﻠﺠﻨﺔﻮﺇﻦﺍﻠﻤﻼﺌﻜﺔﻠﺘﻀﻊﺃﺠﻨﺤﺘﻬﺎ

ﺮﻀﺎﺀﻠﻄﺎﻠﺐﺍﻠﻌﻠﻢﻮﺇﻦﺍﻠﻌﺎﻠﻢﻠﻴﺴﺘﻐﻓﺮﻠﻪﻤﻦﻓﻰﺍﻠﺴﻮﺍﺖﻮﻤﻦﻓﻰﺍﻷﺮﺾﺤﺘﻰﺍﻠﺤﻴﺘﺎﻦﻓﻰﺍﻠﻤﺎﺀﻮﻓﻀﻞﺍﻠﻌﻠﻢ

ﻋﻠﻰﺍﻠﻌﺎﺒﺪﻜﻓﻀﻞﺍﻠﻗﻤﺮﻋﻠﻰﺴﺎﺌﺮﺍﻠﻜﻮﺍﻜﺐﺇﻦﺍﻠﻌﻠﻤﺎﺀﻮﺮﺜﺔﺍﻷﻨﺒﻴﺎﺀﻠﻢﻴﻮﺮﺜﻮﺍﺪﻴﻨﺎﺮﺍﻮﻻﺪﺮﻫﻤﺎ

ﺇﻨﻤﺎﻮﺮﺜﻮﺍﺍﻌﻠﻢﻓﻤﻦﺃﺨﺫﺒﻪﺃﺨﺫﺒﺤﻈﻮﺍﻓﺮ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺘﺮﻤﺬﻱ﴾

“Barangsiapa melakukan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan, maka Allah akan (memberikan kemudahan) jalan untuk menuju ke syurga. Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayapnya (dengan memberikan keridhaan serta mendo’akan) pada pencari ilmu. Dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai ikan yang berada di lautan pun ikut mendo’akan orang yang mencari ilmu. Sesungguhnya keutamaan dan kelebihan seorang ‘alim dibandingkan dengan seorang ‘abid (ahli ibadah), adalah laksana bulan dengan bintang-bintang yang bertebaran (di langit). Dan tidak pula dirham. Akan tetapi, sesungguhnya para nabi mewariskan ilmu pengetahuan. Barangsiapa yang mau mengambil (belajar ilmu), maka dia akan memperoleh kebahagiaan dan kebaikan.” (HR. Imam Turmudzi)

Ketinggian dan kemuliaan kedudukan seorang ulama sebagaimana digambarkan dalam hadits-hadits tersebut di atas, karena di samping penguasaannya terhadap ilmu-ilmu agama, juga ia adalah panutan dan pemimpin umat dalam menegakkan agama Allah. Ia sanggup menyatakan bahwa  yang hak adalah hak, dan menegaskan yang bathil itu tetap bathil. Ia memiliki kepribadian yang istiqamah (konsisten), sanggup dan mampu meluruskan penguasa yang dzalim, tidak takut kepada siapa pun, kecuali hanya kepada Allah SWT.

Predikat ulama adalah predikat yang tertinggi, karena ia adalah peewaris para nabi, bahkan Rasulullah SAW. menyatakan dalam sebuah hadits:

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻢ׃ﺃﻜﺮﻤﻮﺍﺍﻠﻌﻠﻤﺎﺀﻓﺈﻨﻬﻢﻮﺮﺜﺔﺍﻷﻨﺒﻴﺎﺀﻓﻣﻦﺃﻜﺮﻤﻬﻢﻓﻗﺪﺃﻜﺮﻢﺍﷲﻮﺮﺴﻮﻠﻪ

﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺨﻄﻴﺐ‚ﻮﺍﻠﺪﻴﻠﻤﻰﻋﻦﺠﺎﺒﺮ﴾

“Muliakanlah oleh kalian para ulama itu, karena sesungguhnya mereka adalah pewaris para nabi. Barangsiapa yang memuliakan mereka, sesungguhnya ia telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Imam Khatib, ad-Daelamy dari Jabir).

Atas dasar itu, maka predikat ulama tidak perlu ditambahkan lagi predikat lain, seperti ulama plus atau cendekiawan yang ulama dan ulama yang cendekiawan. Barangkali jika kiai plus atau cendekiawan plus diterima. Oleh karena kiai itu tidaklah otomatis berhak menyandang gelar ulama, demikian pula seorang cendekiawan. Seorang cendekiawan muslim yang memiliki latar belakang ilmu-ilmu kealaman (natural, science, seperti, kimia, fisika dsb.) dan juga  memahami dengan baik Al-qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu syari’ah lainnya disertai ketaqwaan yang tinggi yang tercermin dari perilakunya, tanggung jawab sosialnya yang tinggi, berani menyatakan yang hak itu hak dan yang bathil itu bathil, maka secara otomatis ia pun adalah ulama. Demikian pula cendekiawan muslim dari latar belakang ilmu-ilmu social lainnya.

Seorang kiai yang menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu syari’at lainnya secara mendalam, juga memahami masalah kontemporer (kekinian), memahami dan mengerti problematika zamannya, serta akhlaknya mulia, yang terrefleksi dalam perilaku kesehariannya, dan senantiasa ia membimbing umat, dan fatwanya disampaikan dengan dasar tanggung jawab kepada Allah SWT. Ia juga tidak dikendalikan oleh penguasa yang dzalim, berani menyatakan yang benar itu benar dan yang bathil itu bathil, berani menyatakan yang halal itu halal, yang haram itu haram, dan yang syubhat itu tetap syubhat, maka otomatis kiai tersebut adalah ulama. Adanya anggapan bahwa setiap kiai itu ulama, menyebabkan nilai ulama itu merosot di kalangan umat, hanya karena fatwa atau kebajikan kiai yang dianggap tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan sunnah, fatwanya yang membingungkan umat, atau hanya sebagai alat legitimasi terhadap kebijakan yang ada.

A.  Ulama AS-Su’u (Jahat)

     Rasulullah SAW. mengemukakan dalam berbagai haditsnya, bahwa tidaklah selamanya orang yang memiliki ilmu yang mendalam juga mengetahui halal dan haram, mengetahui haq dan bathil, mengetahu dan memahami Al-Qur’an dan sunnah, dan juga mempunyai perilaku yang baik dan terpuji. Banyak pula yang dengan kedalaman ilmunya, namun akhlaqnya tercela, berani mencampur adukkan yang haq dan bathil. Itulah yang disebut dengan ulama jahat (ulama syirar, alama as-Su’u, ulama fasik).

 “Rasulullah SAW. pernah ditanya oleh seorang sahabat, amal perbuatan apakah yang paling utama? Ia menjawab, “Teman yang menolongmu jika kamu susah, dan mengingatkanmu jika kamu slah”. Sahabat tadi bertanya lagi, Manusia yang seperti apa yang paling buruk? Ia menjawab, “Yaitu para ulama yang selalu membuat kerusakan.”  (HR. Jamaa’ah)

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ׃ﺁﻓﺔۥﺍﻠﺪﻴﻦﺜﻼﺜﺔ,ﻓﻗﻴﻪﻓﺎﺠﺮ,ﻮﺇﻤﺎﻢﺠﺎﺌﺮ,ﻮﻤﺠﺘﻬﺪﺠﺎﻫﻞ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺪﻴﻠﻤﻰﻋﻦﺍﺒﻦﻋﺑﺎﺲ﴾

“Rusaknya agama itu disebabkan oleh tiga hal: “Faqih (ahli syari’at yang luas ilmu agamanya) yang jahat; pemimpin yang dzalim; dan orang bodoh yang berani melakukan ijtihad.” (HR. Ad-Daelamiey dari Ibnu Abbas)

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ׃ﻴﻜﻮﻦﻓﻰﺁﺨﺮﺍﻠﺰﻤﺎﻦﻋﺑﺎﺪﺠﻬﺎﻞﻮﻗﺮﺍﺀﻓﺴﻗﺔ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺤﺎﻜﻢﻮﺘﻌﻗﺐ,ﻮﺃﺒﻮﻨﻌﻴﻢﻓﻰﺍﻠﺤﻠﻴﺔ,ﻮﺍﺒﻦﺍﻠﻨﺠﺎﺮﻋﻦﺃﻨﺲ﴾

“Di akhir zaman nanti, akan ada orang yang rajin beribadah, tetapi bodoh dan akan ada para ulama yang fasik.” (HR. Jama’ah)

“Ketahuilah, seburuk-buruk orang buruk adalah ulama yang buruk, dan sebaik-baiknya orang yang baik adalah ulama yang baik.” (HR. Jama’ah)

Imam Al-Ghazali rahimahullah, di dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin mengemukakan pula, di samping kedua jenis ulama tersebut, terdapat jenis ulama yang ketiga, yaitu ulama yang membinasakan dirinya. Namun ia menyelamatkan orang lain, yakni ulama yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran untuk orang lain, tetapi secara diam-diam ia sendiri mengejar kedudukan dan harta duniawi. Inilah yang dikemukakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya:

“Seseorang di hari kiamat akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam, lalu berhamburanlah isi perutnya, ia berputar seperti berputarnya keledai pada batu kisaran, ahli jahanam lainnya bertanya kepadanya, Mengapa anda mengalami hal seperti itu? Bukankah Anda menyuruh kami berbuat baik dan mencegah dari yang munkar? Ia menjawab, “Benar, saya menyuruh kalian berbuat baik, akan tetapi saya sengaja melanggarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini pulalah yang diperintahkan Allah SWT. dalam firman-Nya:

ﺃﺘﺄﻤﺮﻮﻦﺍﻠﻨﺎﺲﺒﺎﻠﺒﺮﻮﺘﻨﺴﻮﻦﺃﻨﻓﺴﻜﻢﻮﺃﻨﺘﻢﺘﺘﻠﻮﻦﺍﻠﻜﺘﺎﺐﺃﻓﻼﺘﻌﻗﻠﻭﻦ﴿ﺍﻠﺒﻗﺭﺓ:٤٤﴾

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?.” (QS. Al-Baqarah: 44)

ﻴﺂﺃﻴﻬﺎﺍﻠﺬﻴﻦﺁﻤﻨﻮﺍﻠﻢﺘﻗﻮﻠﻮﻦﻤﺎﻻﺘﻓﻌﻠﻮﻦ,ﻜﺑﺮﻤﻗﺘﺎﻋﻨﺪﺍﷲﺃﺘﻗﻭﻠﻭﺍﻤﺎﻻﺘﻓﻌﻠﻭﻦ﴿ﺍﻠﺼﻒ:٢־٣﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”( QS. Ash-Shaff: 2-3)

Dalam kaitan dengan ilmu dan amal ini, Rasulullah SAW. menyatakan pula dalam sebuah haditsnya,

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ:ﺍﻠﻌﺎﻠﻢﻭﺍﻌﻠﻢﻮﺍﻠﻌﻤﻞﻓﻰﺍﻠﺠﻨﺔ,ﻓﺈﺬﺍﻠﻢﻴﻌﻤﻞﺍﻠﻌﺎﻠﻢﺒﻤﺎﻴﻌﻠﻢﻜﺎﻦﺍﻠﻌﻠﻢﻮﺍﻠﻌﻤﻞﻓﻰﺍﻠﺠﻨﺔ,

ﻮﻜﺎﻦﺍﻠﻌﺎﻠﻢﻓﻰﺍﻠﻨﺎﺮ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺪﻴﻠﻤﻰ﴾

“Orang yang berpengetahuan (alim), ilmu dan amal perbuatannya, kelak nanti akan masuk ke dalam syurga. Jika orang alim tersebut tidak mengamalkan apa yang dia ketahui (ilmu pengetahuannya) maka hanya ilmu dan amalnya saja yang akan masuk ke dalam syurga, sedangkan orang alim tersebut akan masuk ke dalam neraka.” (HR. Ad-Daelamiey)

B.  Niat, Pangkal Awal Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Jahat

     Betapa pun tingginya ilmu yang dimiliki seseorang di dalam pengamalannya, akan sangat bergantung pada niatnya. Bila dengan ilmunya ia berniat untuk mencari ridha Allah SWT., menegakkan kalimah-Nya, membela kaum yang lemah dan teraniaya, mengoreksi dan meluruskan yang salah, baik kesalahan penguasa maupun rakyat biasa, maka ia tetap akan melakukannya, meskipun menghadapi tantangan berat dan dahsyat. Ulama yang berarti bersih, jujur, dan teguh dalam pendirian, ia akan mengutamakan Allah dan Rasul-Nya, di atas segala-galanya. Ia meyakini, jika berpaling dari Allah, maka Ia akan melaknatnya. Allah berfirman dalam kitab-Nya.

ﺇﻦﺍﻠﺬﻴﻦﻴﻜﺘﻤﻮﻦﻤﺎﺃﻨﺰﻠﻨﺎﻤﻦﺍﻠﺒﻴﻨﺎﺖﻮﺍﻠﻬﺪﻯﻤﻦﺒﻌﺪﻤﺎﺒﻴﻨﺎﻩﻠﻠﻨﺎﺲﻓﻰﺍﻠﻜﺗﺎﺐ

ﺃﻮﻠﺋﻚﻴﻠﻌﻨﻬﻢﺍﷲﻮﻴﻠﻌﻨﻬﻢﺍﻠﻼﻋﻨﻮﻦ﴿ﺍﻠﺑﻗﺮﺓ:١٥٩﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah: 159)

Rasulullah SAW bersabda:

 “Barangsiapa mengetahui penguasa yang jahat, yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, melanggar janji Allah, menyalahi sunnah Rasulullah SAW, berbuat dosa, aniyaya, dan melakukan permusuhan terhadap hamba Allah, kemudian ia tidak mengubah dan memperbaikinya, baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka Allah SWT. pasti akan memasukannya ke tempat yang telah disediakan.” (HR. Thabrani)

Sebaliknya, jika penguasa ilmu memiliki niat yang tidak jujur, dan bukan ridha Allah dan Rasul-Nya yang dicari, melainkan ridha manusia, maka ia akan gampang menyembunyikan kebenaran. Ia bahkan sanggup meridhai yang munkar dan membenci yang ma’ruf. Bila ia berfatwa, maka fatwanya sesuai dengan keinginan orang yang memintanya. Sejarah telah menunjukkan, bahwa hampir setiap masa, ada ulama yang jujur, bersih, ikhlas, mau dan berani menghadapi resiko, betapapun beratnya. Demi kalimat Allah untuk tetap tegak. Ulama yang seperti inilah yang disebut sebagai Ulama Waratsatul Anbiya.Namun, ada pula ulama yang jahat, yang mempunyai tujuan untuk memperkaya diri sendiri, meskipun dengan mengorbankan harga dirinya dan kredibilitas keulamaannya.

Betapa penting dan menentukan niat suatu perbuatan, sehingga Rasulullah SAW. bersabda:

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ:ﻤﻦﺘﻌﻠﻢﻋﻠﻤﺎﻤﻤﺎﻴﻨﺒﻐﻰﺒﻪﻮﺠﻪﺍﷲﺘﻌﺎﻠﻰﻻﻴﺘﻌﻠﻤﻪﺇﻻﻠﻴﺼﻴﺐﺒﻪﻋﺮﻀﺎﻤﻦﺍﻠﺪﻨﻴﺎ

ﻠﻢﻴﺠﺪﻋﺮﻒﺍﻠﺠﺔﻴﻮﻢﺍﻠﻗﻴﺎﻤﺔ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﺒﻮﺪﺍﻮﺪ﴾

“Barangsiapa yang mencari ilmu, yang seharusnya dengan ilmu tersebut ia bertujuan untuk mencari ridha Allah, tetapi semata-mata hanya ingin mendapatkan harta dunia, maka ia tidak akan pernah merasakan segarnya bau syurga pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Dawud)

ﻗﺎﻞﺮﺴﻮﻞﺍﷲﺼﻠﻢ:ﻤﻦﻂﻠﺐﺍﻠﻌﻠﻢﻠﻴﻤﺎﺮﻱﺒﻪﺍﻠﺴﻓﻬﺎﺀﺃﻮﻴﻜﺎﺜﺮﺒﻪﺍﻠﻌﻠﻤﺎﺀﺃﻮﻴﺼﺮﻒﻮﺠﻮﻩﺍﻠﻨﺎﺇﻠﻴﻪ

ﻓﻠﺘﺒﻮﺃﻤﻗﻌﺪﻩﻤﻦﺍﻠﻨﺎﺮ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺘﺮﻤﺬﻯ﴾

“Rasulullah SAW. bersabda: “barangsiapa yang mencari ilmu (yang dengan ilmunya tersebut) hanya untuk membodohi/ mengelabui orang yang bodoh, untuk pandai mendebat (berargumentasi) dengan para ulama, atau hanya ingin manusia berpaling kepadanya (terkenal), maka siaplah untuk mendapatkan tempat di neraka.” (HR. Tirmidzi).

Wallahu a’lam bissawaab.

Daftar Pustaka

 

1.  Taqiuddin Abi Bakar bin Muhammad al-Husaini, Kifayatul Akhyar, Ma’arif, Bdng, tt.

2.  Ahmad Hasyim Beik, Mukhtar al-Hadits, Sby., tt.

3.  Didin Hafiduddin, Dakwah Aktual, Gema Insani Press, Jkt, 1998.

4.  Said Hawwa, Al-Asasu fi at-Tafsir, Daar Salam, Kairo Mesir, 1965.

DIN AL-ISLAM, DAMPAK ERA GLOBALISASI DAN

PARA PEJUANG DAKWAH

Oleh: Dr. KH. AhmadMukri Aji,MA, MH.

(Ketua MUI kab.Bogor)

Pendahuluan

Suatu hal yang sangat menggembirakan bagi seluruh umat IslamIndonesia, peranan dakwah yang dilakukan para khatib, muballig dan muballighah sudah dapat dirasakan di berbagai bidang aktifitas kehidupan, baik di masjid, mushala, majlis taklim, pesantren, maupun di perkantoran atau di hotel-hotel. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan penyadaran dan pencerahan bagi setiap hamba Allah SWT., untuk selalu mensyukuri berbagai fasilitas kehidupan yang sudah dikaruniakan oleh-Nya, dalam bentuk kesehatan, rizki, profesi dan jabatan.

Manifestasi dan rasa syukur tersebut dapat dilakukan dengan jalan semakin meningkatkan kualitas sumber daya insani (SDI) umat IslamIndonesiauntuk menatap masa depan yang lebih cerah, sekalipun penuh dengan hambatan, persaingan, tantangan, dan godaan sebagai bias dan dampak dari era globalisasi. Globalisasi dapat diibaratkan sebagai gelombang besar yang bergerak tidak ada henti-hentinya, yang dapat menghanyutkan semua yang dilaluinya. Beberapa cirinya adalah adanya dua kekuatan besar yang mendasari proses transformasi global, yakni perdagangan bebas dan kemajuan sains dan teknologi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut sangat diperlukan peran aktif dan pro aktif dari seluruh lapisan umat Islam Indonesiasebagai pelaku utama (subyek) pembangunan sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing, khususnya generasi muda, dan lebih-lebih peran khatib sebagai pejuang dakwah. Mereka memiliki perperan dan potensi strategis dalam mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya di masyarakat, sebagai ‘ilmun nafi’.

Sesuatu yang tepat bila para khatib atau mubaligh diberdayakan dan dimotivasi untuk terus memperjuangkan dakwah Islamiyah di zaman kontemporer yang penuhtantangan ini. Hal itu sesuai dengan sesuai dengan firman Allah, dalamsuratan_Nahl ayat 125:

ﺍﺪﻉ ﺇﻠﻰﺴﺑﻴﻞ ﺮﺑﻚ ﺒﺎﻠﺤﻜﻤﺔ ﻮﺍﻠﻮﻋﻈﺔ ﺍﻠﺤﺴﻨﺔ ﻮﺠﺎﺪﻠﻬﻢ ﺒﺎﻠﺘﻰﻫﻲﺃﺤﺴﻦ ﴿ﺍﻵﻴﺔ﴾

Artinya:”Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

DIN AL-ISLAM MERUPAKAN KENDALI DIRI

Banyak definisi secara terminologis yang dikemukakan oleh para pakar tentang agama (religion) atau disebut juga ad-din; antara lain dinyatakan oleh Jhon Locke, Emil Durkheim, Mercia Eliade, Nimhoff dan sebagainya. Namun, ada seorang pakar yang mendefinisikannya lebih tepat dan luas cakupannya; yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali dan diperkuat oleh Syaikh Mahmud Syaltut, bahwa: “Agama merupakan sistem nilai yang telah ditetapkan langsung oleh Allah SWT., Yang dibawa oleh Nabi dan Rasul-Nya. Ia berfungsi sebagai pengemudi yang membawa proses perjalanan kehidupan manusia, untuk menuju suksesnya hidup di dunia yang sementara ini, serta kebahagiaan di akhirat kelak. Dan –khusus—agama Islam sebagai agama akhir zaman yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW”.

Agama telah menjelaskan tentang proses kehidupan manusia yang dilahirkan tanpa mengetahui sesuatu apapun, dan tidak membawa apapun. Ketika itu yang diketahuinya hanya “Saya tidak tahu” dan “Tidak membawa dan mempunyai apa-apa”. Namun, Allah SWT., dengan segala kekuasaan-Nya, telah memberikan potensi dan skill kepada manusia, baik dalam bentuk pancaindra, akal, maupun jiwa, sehingga mereka dapat berkiprah dan berkarya sesuai dengan bakat dan potensi yang telah diberikan, yang porsi, frekuensi, dan volumenya berbeda satu dengan yang lainnya.

Mengingat keterbatasan daya jangkau yang dihasilkan oleh panca indra dan akal, maka menjadikan manusia tidak dapat menjawab dan memecahkan seluruh persoalan yang terjadi pada diri, lingkungan, masyarakat dan bahkan negaranya. Dengan demikian manusia sangat membutuhkan informasi tentang apa yang tidak diketahuinya itu, khususnya dalam hal-hal yang sangat mendesak atau menjadi syarat bagi kebahagiaannya. Dalam keadaan terdesak seperti ini, manusia sangat membutuhkan informasi dari luar dirinya, yaitu informasi wahyu ilahi melalui rasul-Nya Saat inilah agama sangat dibutuhkan manusia.

Adabeberapa pendekatan yang ditawarkan oleh agama Islam sebagai yang tertuang di dalam kitab suci Al-Qur’an Al-Karim kepada manusia, yakni:

Pertama: Adanya komitmen yang kuat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Ia mesti meyakini akan adanya sesuatu kejadian di balik alam raya yang bisa diindra ini, yaitu: akam metafisik, yang hanya bisa didekati dengan keimanan dan keyakinan. Misalnya, adanya Allah SWT, para malaikatNya, adanya kematian, nasib baik dan buruk, hari akhirat, dan lain sebagainya. Inilah yang menjadikan seseorang selalu merasa terawasi pada setiap tindak dan langkahnyakarena pengawasan itu datang bukan hanya dari atasannya di mana dia bekerja. Namun, pengawasan itu langsung dilakukan dai Maha Pencipta, Allah SWT., sehingga apa yang dilakukannya itu dimotivasi oleh semangat Lillahi ta’ala  yang bernilai ibadah bagi yang melakukannya. Bagian ini secara spesifik disebut dengan term Al-‘Aqidah al-Islamiyah.

 Kedua, adanya seperangkat norma-norma dan aturan-aturan yang mengatur tentang komunikasi langsung secara vertical kepada Allah SWT., yang dikenal dengan istilah ‘ibadah. Dengan ibadah shalat misalnya, baik yang wajib maupun sunnat, seseorang yang melakukannya harus meninggalkan segala identitas yang dimiliki, harta, atau pun jabatan, karena pada hakikatnya itu semua merupakan amanat Allah SWT yang akan diminta pertanggungjawabannya nanti di sisi-Nya. Seseorang yang telah melaksanakan shalat diharapkan hati dan seluruh anggota badannya bersih dari berbagai dosa dan maksiat yang akan merusak dirinya, keluarganya atau pihak lain. Dan dengan melaksanakan puasa, zakat dan haji akan berpengaruh pada watak dan kepribadian seseorang, sehingga –diharapkan—akan tumbuh rasa kasih sayang, dan adanya solidaritas sosial yang tinggi. Yang dapat meminimalisir kesenjangan sosial yang menimbulkan kecemburuan yang berdampak pada gangguan keamanan atau gejolak sosial dan sebagainya.

Di samping itu, terdapat pula seperangkat norma yang mengatur komunikasi secara horizontal antara sesame manusia dengan lingkungaqn secara harmonis, yang dikenal dengan mu’amalah . Dalam mu’amalah tersebut diatur bagaimana melakukan transaksi (‘akad) yang merupakan bagianessensial untuk memperoleh hak milik. Baik untuk memperoleh kebendaan, misalnya jual beli, sewa-menyewa, borg, dan berekonomi secara umum, juga hukum perkawinan dan kewarisan. Pada dasarnya, yang dilindungi itu adalah Hak Asasi Manusia (HAM), agar tidak ada seorang pun yang didzalimi.

Dilarangnya secara keras (al-haram) berjudi dengan berbagai bentuknya, minuman keras dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, hal itu dimaksudkan untuk terciptanya keamanan dan ketertiban. Dan agar tidak merugikan baik individu, masyarakat, bangsa maupun negara. Seperangkat norma-norma inilah yang lebih dikenal dengan dengan Asy-Syari’ah, yang secara sfesifik dibahas dalam studi fiqh.

Ketiga, adanya seperangkat etika atau moral yang membungkus dan menghiasi setiap tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam berkomunikasi langsung kepada Allah, misalnya dalam shalat, puasa, haji, hal itu dilakukan bukan hanya formalitas dengan mencukupi syarat dan rukunnya saja, namun dilakukan dengan tata cara yang tepat dan dengan seperangkat etika (adab) yang dapat mengantarkan ibadahnya itu dilaksanakan secara khusyu dan ikhlas.

Demikian juga dalam bermu’amalah seperti, bagaimana berjalan, makan, minum, beraktivitas ekonomi dan organisasi. Itu semua membutuhkan seperangkat etika, agar tidak merugikan orang lain. Hal ini akan mewujudkan kedamaian dan ketertiban di antara anggota masyarakat. Seperangkat etika atau norma inilah yang disebut dengan akhlaqul mahmudah, yang referensi utamanya adalah akhlaq Rasulullah SAW.

 

FAKTOR TANTANGAN, HAMBATAN DAN GODAAN

     Apabila seseorang telah dapat melaksanakan tiga hal tersebut di atas, maka semua itu akan menjadi pedoman dan kendali yang handal dalam menghadapitantangan, hambatan dan godaan. Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa fungsi semua hal tersebut adalah sebagai ujian  atas keimanan dan ketaqwaan seseorang, untuk mengetahui apakah kualitas dan kadarnya tinggi atau rendah.

Oleh karena itu untuk mengukur kadar iman dan taqwa tersebut, Al-Qur’an telah memberikan informasi tentang type dan watak manusia serta kelemahan-kelemahannya, sehingga ia dapat melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap dirinya. Adapun mengenai godaan, tantangan dan hambatan telah disinggung dalam Al-Qur’an, antara lain: a) Tahta atau jabatan adalah amanat Allah SWT. QS. 6 (Al-An’am): 165, b) Wanita dapat mengajak kepada perbuatan negative atau positif  QS. 3(Al-Imran): 14, dan b) Kecenderungan manusia menimbun harta    QS. 63 (Al-Munafiqun).

Allah telah menegaskan tentang sifat manusia dalam merespons nikmat seperti tahta, wanita dan harta tersebut, sebagai berikut:

1. Nisyan (berasal dari nasiya), lupa terhadap fungsi nikmat dan kepada pemberinya, Allah SWT.

2.  Halu’ (suka berkeluh kesah), QS. 70 (Al-Ma’arij): 19tidak merasa puas terhadap segala fasilitas yang diberikan kepadanya..

3.  Juzu’ (cepat mengeluh atau frustasi), QS. (Al-Ma’arij): 20terutama dalam menghadapi musibah dan kepailitan.

4. Manu’ (sombong dan berbangga hati), QS. 70 (Al-Ma’arij) terutama dalam memperoleh keberuntungan dan kesuksesan, dan lupa pada yang memberikannya.

5. Ya’us, QS. 17 (Al-Imran): 83, sikap putus asa dalam menghadapi godaan dan hambatan, sehingga mengambil jalan pintas, sperti bunuh diri.

6.  Zhalun, QS. 14 (Ibrahim): 34, aniyaya, yakni menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

7.  Kaffar, QS. 14 (Ibrahim): 34, Sikap selalu menolak perintah Allah SWT.

Apabila seseorang terjebak dalam beberapa sikap tersebut di atas, maka ia akan merasakan dampaknya baik di dunia maupun di akherat nanti. Untuk mengantisipasi beberapa sikap negatf itu, Allah SWT. telah memberikan solusi dengan cara:

1. Dzikir, selalu mengingat Allah SWT, seperti dalam shalat, dan mengadukan segala problem hidup kepada-nya.

2. Fikir, dengan melihat ciptaan-Nya berupa alam raya dan fenomena-fenomenanya, manusia akan mengetahui keagungan-Nya, dan ia menyadari bahwa betapa kecilnya ia di hadapan Allah SWT.

3. Syukur atau tasyakur, rasa puas, menerima amanat berupa harta dan jabatan, dan mengembannya dengan sebaik-baiknya.

4. Tawakkal, yaitu berupaya secara maksimal sesuai dengan potensi yang dimiliki,  setelah itu dikembalikan dan diserahkan kepada Allah SWT atas hakikat dan prestasi dan yang didapat.

Dari beberapa penjelasan tersebut di muka dapatlah dipahami bahwa Allah SWT. menghendaki kehidupan seluruh hambanya, dengan kehidupan yang selamat dan bahagia  baik di dunia maupun di akhirat. Demikian pula dalam bentuk masyarakat dan bangsa yang diridhai Allah SWT. dengan baldah thayyibah wa rabbun ghafur. Predikat tersebut dapat diperoleh, jika masing-masing individu dan seluruh masyarakat mengikuti ajaran Allah SWT. dengan semakin memperkuat aqidah kepada Allah, sehingga apa yang dilakukan berdasarkan kesadaran dan kikhlasan, dan bukan keterpaksaan. Di samping itu, semua aktivitas dan profesi yang dilakukan didasarkan kepada kelembutan jiwa, sehingga akan terbentuk individu-individu, masyarakat dan bangsa yang shaleh.

Inilah yang menjadi PR (home work) bagi kita semua, para da’i, muballig dan muballigah bekerjasama dengan para umara (MUSPIKA) untuk menjadikan masyarakat kita agar dapat mengaplikasikan aqidah, syari’ah dan akhlakq Islam. Wallahu a’lam bisshawab. a

Referensi

1. Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddiin.

2. Mahmud Syaltut, Islam, ‘Aqidah wa Syariah.

PERANAN ULAMA DALAM MERESPONS DAN

MENGANTISIPASI ERA GLOBALISASI

Oleh : Prof. Huzaimah T. Yanggo

(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jkt; Ketua MUI Pusat)

     Untuk merespons dan mengantisipasi era gobalisasi yang demikian kompleks diperlukan peran ulama dan kader-kader ulama yang berilmu dan berakhlak mulia serta konsisten berpegang pada Al-Qur-an dan Hadits Nabi SAW. Dan tidak terpengaruh oleh dampak negatif dari globalisasi, namun mereka mampu memilah dan memilih antara yang baik dan yang buruk, mana yang bersifat positif dan yang bersifat negatif. Mereka juga diharapkan mampu mengamalkan ilmu dan mendorong amar ma’ruf dan nahy munkar.

Perkembangan zaman yang demikian pesat termasuk di Indonesiatak terlewatkan, berkembang pula berbagai pemikiran Islam, yang dapat mendangkalkan aqidah umat Islam. Sebagian darinya sudah menyimpang dari syariat Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul SAW. Pemikiran tersebut banyak mengkritik dan menggugat syari’ah serta kaidah-kaidah fiqh yang dicanangkan dalam penetapan hukum Islam. Pemikiran ini muncul dari beberapa orang pintar di Indonesia. Mereka menamakan dirinya sebagai pembaru hukum Islam dengan mengemukakan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan syari’at Islam, yang sangat controversial dan meresahkan masyarakat Islam. Padahal sesungguhnya pendapat dan rumusan mereka itu hanya sebagai bid’ah yang menyesatkan. Dan sebagai penyimpangan, perusakan serta perubahan dari hukum Islam yang asli dan hanya sebagai pembaruan liberal yang tidak mengikuti cara-cara serta kaidah-kaidah yang dicanangkan dalam penetapan hukum Islam. Mereka mengubah pengertian teks-teks Al-Qur’an dengan pemahaman sendiri yang menurut mereka didasarkan pada maqashid al-syari’ah, yakni menegakkan nilai prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta dan kearifan local. Mereka tidak menyadari, bahwa apa yang telah dirumuskan tersebut telah berada di luar koridor pembaruan hukum Islam dan telah merusak ajaran Islam itu sendiri. Mereka mengatakan, bahwa fikih rumusan imam mujtahidin dan para Imam madzhab dahulu, yang hapal Al-Qur’an, ahli Tafsir, ahli Hadits dan syarahnya serta ahli bahasa Arab itu, sebagai fiqh purba, fikihpadang pasir yang sudah kuno dan ketinggalan zaman.

Apakah teks-teks hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah tidak mengandung  prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan dan kearifan, sehingga perlu penafsiran baru yang bertentangan dan diubah dan disimpangkan dari pengertian aslinya? Bila demikian halnya, maka teks-teks tersebut berarti bukan untuk kepentingan manusia. Padahal Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia, dan Sunnah adalah sebagai penafsir atau penjelas dari maksud Al-Qur’an itu. Al-Qur’an dan Sunnah adalah sebagai pedoman bagi umat manusia.  Selama manusia berpegang kepada keduanya tidak akan sesat selama-lamanya. Kecuali dalam hal teks-teks itu bersifat dzannya al-dilalah maka ia dapat melakukan penafsiran baru dengan jalan ijtihad, melalui metode dan syarat ijtihad yang telah ditetapkan dan telah dikenal dunia Islam. Penentu dan penetap kemaslahatan hanya Allah dan Rasul-Nya melalui wahyu, bukan manusia yang logikanya sangat terbatas. Sebab apa yang dipandang baikoleh akal, belum tentu baik pula menurut Al-Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya, apa yang dipandang tidak baik oleh akal, tetapi ia baik menurut Al-Qur’an dan Sunnah tersebut. Kadang-kadang dan bahkan sering yang dianggap baik atau jelek oleh seseorang, tetapi dipandang jelek atau baik olehorang lain.

Adapun visi dan misi yang dibawa pluralisme, demokrasi dan HAM, kesetaraan gender, emansipatoris, humanis, inklusif, dekonstruksi syari’at Islam dan lain-lain. Pendekatan utama yang dilakukan mereka adalah: kesetaraan gender, pluralisme, hak asasi manusia dan demokrasi, tidak melakukan pendekatan metodologi istinbath hukum Islam, yaitu berdasarkan maqashid syari’ah yang bertujuan memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda.

Sehubungan dengan pemikiran liberal ini, ketika terjadi pertentangan antara akal public dengan bunyi harfiah teks ajaran, maka akal public berotoritas untuk mengedit, menyempurnakan dan memodifikasinya. Modifikasi ini terasa sangat dibutuhkan ketika berhadapan dengan ayat-ayat particular, seperti ayat tentang nikah beda agama, iddah, waris beda agama, homoseksual, pluralisme agama, dan sebagainya.

Karena itu, pandangan mereka mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama dari para ulama dan mediamassa, baik cetak maupun elektronik. MUI telah banyak memberikan fatwa dalam berbagai kasus, baik ditetapkan pada acara MUNAS MUI, ijtima komisi fatwa se Indonseia, mampu pada setiap siding komisi fatwa yang tidak menunggu MUNAS atau ijtima tersebut, jika masalah-masalah yang muncul sangat mendesak untuk segera dikeluarkan fatwanya, seperti fatwa tentang hukum pornografi dan pornoaksi, shalat dengan dua bahasa, kasus ajinomoto dab lain-lain.

Dalam MUNAS yang VII MUI telah memfatwakan bahwa aliran Ahmadiyah sesat dan menyesatkan, karena aliran ini mengikuti ajaran Mirza Gulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad SAW dan mendapat wahyu. Keyakinan aliran Ahmadiyah ini bertentangan dengan ajaran Islam yang qath’i dan disepakati oleh seluruh umat Islam, bahwa Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Fatwa MUI tentang aliran Ahmadiyah ini ditetapkan, karena aliran ini meresahkan masyarakat dan untuk memenuhi permintaan masyarakat, agar ditegaskan kembali fatwa MUI tahun 1980 tentang faham Ahmadiyah sehubungan dengan timbulnya berbagai pendapat dan berbagai reaksi di kalangan masyarakat. Maka, untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan menjaga kemurnian aqidah Islam, MUI memandang perlu menegaskan kembali fatwa tentang aliran Ahmadiyah sebagai aliran yang berada di luar Islam, juga sesat dan menyesatkan. Orang yang mengikutinya dihukumkan murtad.¹ Oleh sebab itu MUI menghimbau kepada mereka agar segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Kepada umat Islam diharapkan tidak melakukan anarkis terhadap mereka yang telah menodai agama, namun hendaklah menyerahkan penyelesaian kepada pemerintah yang berwenang.

Telah banyak fatwa yang ditetapkan oleh MUI, baik masalah-masalah yang berkenaan dengan ibadah, faham keagamaan, social kemasyarakatan, yang berkenaan dengan IPTEK, maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan makanan, obat-obatan dan kosmetika serta masalah ekonomi syari’ah.

Masalah-masalah yang telah difatwakan tersebut, dibutuhkan oleh masyarakat, walaupun ada sebagian kecil dari sebagian masyarakat menyanggah dan mengeritiknya, seperti pada kasus faham Ahmadiyah yang telah disebutkan di atas, kasus ajinomoto yang telah diberikan sertifikat halal karena telah mengubah bahan bakunya dari enzim sapi ke enzim babi, maka MUI memfatwakan tidak halal, dan kemudian menghalalkan kembali setelah bahan bakunya diganti dengan mameno (bahan nabati), kasus shalat dua bahasa (Arab dan Indonesia), kasus aliran Qiyadah Islamiyah yang mempercayai bahwa Ahmad Mushaddeq sebagai nabi baru menggantikan kedudukan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang disepakati oleh seluruh ulama Islam adalah sesat dan menyesatkan karena telah menyimpang dari ajaran Islam.

Kasus shalat dengan dua bahasa dan faham Qiyadah Islamiyah telah difatwakan oleh MUI sebagai ajaran sesat dan menyesatkan. Khusus pada aliran Qiyadah Islamiyah karena telah terbukti mencemari agama Islam, mengajarkan ajaran yang menyimpang dengan mengatasnamakan Islam, MUI merkomendasikan kepada pemerintah untuk melarang penyebaran faham dan ajarannya menutup semua tempat kegiatan serta menindak tegas pemimpin aliran tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tampaknya fatwa dan rekomendasi dari MUI tersebut mendapat respons dari pemerintah. Pada tanggal 9 November 2007 yang alal bertempat di kantor Kejaksaan Agung telah diadakan rapat PAKEM dan telah merekomendasikan kepada pemerintah untuk membubarkan dan melarang aliran Qiyadah Islamiyah serta penyebarab ajarannya, karena dianggap sesat dan menodai agama Islam berdasarkan fatwa dan kriteria sesat yang telah ditetapkan RAKERNAS MUI yang dilaksanakan tanggal 4-6 November 2007 di Jakarta.

Fatwa MUI tentang sesatnya aliran Qiyadah Islamiyah dan aliran Ahmadiyah karena telah menyimpang dari ajaran Islam, maka aliran tersebut harus dibubarkan, dan fatwa itu ditanggapi serta dikritik oleh sebagian masyarakat.  Mereka mengatakan bahwa fatwa MUI tersebut melanggar HAM. Sehubungan dengan ini saya akan menguraikan apa yang dimaksud dengan HAM dan sejauhmana ruang lingkupnya.

Di dunia Islam, Piagam Madinah merupakan naskah tertua yang berkaitan dengan hak-hak asasi manusia (HAM). Piagam tersebut merupakan naskah perjanjian antara umat muslim dan nonmuslim, khususnya umat Yahudi, yang dibuat sekitar tahun 624 M. Dalam piagam tersebut beberapa hak-hak asasi seperti kebebasan beragama yang disertai dengan persamaan hak, sudah ditegaskan, sebagaimana ditegaskan dalam pasal 16: “Kaum Yahudi yang mengikuti kami akan memperoleh pertolongan dan hak persamaan serta akan terhindar dari perbuatan aniyaya dan perbuatan maker yang merugikan”.² Bahkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan disebut dengan jelas dalam pasal 18: “Keikutsertaan wanita dalam berperang dengan kami dilakukan secara bergiliran”.³

Hak-hak asasi manusia dalam Islam bersumber dari suatu kepercayaan bahwa Allah, dan hanya Allah, adalah Pemberi hukum dan sumber dari segala hak-hak asasi manusia (HAM). Karena bersumber dari Tuhan, maka tak seorang manusia pun, juga pemerintah, majelis, atau ahli yang bisa membatasi atau melanggar dengan cara apapun hak-hak asasi manusia (HAM) yang telah dianugerahkan Tuhan. Demikian pula hak-hak tersebut tidak dapat dilepaskan dari manusia.4

Benih-benih hak-hak asasi manusia (HAM) yang terdapat dalam ajaran Islam oleh umat Islam dideklarasikan dalam deklarasi hak-hak asasi manusia Islam sedunia dan telah diproklamirkan oleh Dewan Islam Eropa pada saat konferensi Islam yang diadakan di kota Paris pada bulan September 1981 untuk menandai permulaan abad ke-15 Era Islam.5

Deklarasi tersebut berlandaskan atas kitab suci Al-Qur’an dan as-Sunah serta telah dicanangkan oleh para sarjana muslim, ahli hukum, dan para perwakilan pergerakan Islam di seluruh dunia.6 Ini kemudian semakin membuat Islam berada dalam kondisi yang baik tentang hak-hak asasi manusia, karena bukan hanya kewajiban saja yang dijunjung tinggiAl-Qur’an namun hak-hak umatnya juga diperhatikan.

Diakui dengan sejujurnya bahwa hak-hak asasi manusia memang bersifat universal, tetapi pelaksanaannya tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama. Oleh karena itu terdapat perbedaan antara hak-hak asasi manusia di negara-negara Barat dengan di negara-negara Islam adalah suatu hal yang tidak dapat dielakkan. Sebab, bagaimanapun juga antara keduanya mempunyai nilai-nilai sosial yang berbeda yang tidak lepas dari perbedaan filosofis mereka.

Namun, perbedaan ini tiudak semestinya menjadikan hubungan Barat dan Islam semakin jauh, dan apalagi sampai kepada konflik, melainkan bagaimana mendekatkan kedua peradaban ini, sehingga konflik dapat dihindari, yakni dengan saling mengakui dan memahami keberadaan masing-masing.

Islam adalah agama universal yang dapat menerima berbagai kritikan dari luar. Tetapi semua itu harus didasarkan pada prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Walaupun Islam mengakui adanya hak-hak asasi manusia (HAM), tetapi harus dihubungkan dengan kewajiban-kewajiban manusia sebagai hamba Allah SWT. kepada Tuhannya.Adanya kewajiban itu bukan berarti menghalangi manusia untuk tidak dapat mempunyai hak sebagai hamba dalam kehidupan. Islam memberikan porsi yang sesuai tentang kedua hal ini dengan seimbang dan proporsional.

Keberagamaan adalah hak naluriah manusia yang tidak dapat diganggu gugat olehorang lain.Namun perlu ditegaskan bahwa kebebasan dalam masalah beragama itu, apabila seseorang telah memilih keyakinan maka dia harus masuk secara keseluruhan ke dalamnya dan harus menerima konsekwensi dari sesuatu yang dipilihnya.

Berdasarkan uraian di atas maka aliran Ahmadiyah dan aliran Qiyadah Islamiyah yang mengaku Islam, mereka itu telah sesat dan berada di luar Islam, karena tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi penutup. Kalau Ahmadiyah dan Qiyadah Islamiyah mengatakan bahwa masih ada lagi Nabi yang membawa syari’at setelah Nabi Muhammad, berarti aliran-aliran ini dianggap sesat dan murtad, keluar dari Islam, karena menurut kesepakatan ulama sedunia, bahwa tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi. Ini merupakan bagian dari ajaran dan aqidah Islam yang wajib diikuti oleh umat Islam.

Dari uraian tersebut  di atas dapat disimpulkan bahwa fatwa MUI yang menetapkan aliran Ahmadiyah dan Qiyadah Islamiyah sesat dan menyesatkan dan telah murtad serta berada di luar Islam, juga tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia (HAM). Karena dalam pandangan Islam , hak-hak asasi manusia bukan sesuatu yang tidak ada batasnya, dan bukan berarti bebas menodai agama. Namun, hal itu harus tetap pada prinsip-prinsip  dasar yang ditetapkan Allah dan Rasulnya, menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi Mhammad SAW.

Jika ada yang mengatakan bahwa MUI melanggar HAM karena telah memfatwakan Ahmadiyah dan Qiyadah Islamiyah sesat dan mnyesatkan, maka sebenarnya bukan MUI yang melanggar HAM. Sebenarnya yang melanggar HAM itu adalah aliran-aliran tersebut, karena telah melakukan penyimpangan dan penodaan terhadap aqidah umat Islam yang berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang disepakati oleh seluruh umat Islam.

Fatwa MUI tidak melanggar HAM seperti yang termaktub dalam UUD 1945 BAB X A tentang Hak Asasi Manusia, pada pasal 28 E dan BAB X tentang agama pasal 29, karena kebebasan beragama atau memeluk agama yang diyakini dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu, bukan berarti kebebasan untuk mengubah serta mengacak-ngacak agama dan ajaran agama yang sudah ada dengan seenaknya sesuai dengan keinginan pribadinya, seperti yang dilakukan oleh aliran Ahmadiyah dalam kitab sucinya yang diberi nama “Tazkirah”, yang isinya hanya diadopsi dari Al-Qur’an. Kemudian mereka menambah dan menafsirkan sesuai dengan keinginan mereka.7

Dengan demikian, fatwa MUI yang mengatakan bahwa Ahmadiyah dan Qiyadah Islamiyah sesat tidak bertentangan dengan HAM, dan bahkan tidak bertentangan dengan dengan Undang-Undang Dasar 1946 tentang kebebasan beragama sesuai dengan agama dan kepercayaannya itu. Karena dalam UUD 1945 pasal 28 J disebutkan, bahwa dalam menjalankan kebebasannya setiaporang tunduk kepada pembatasan yang yang dengan Undang-Undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrasi.

Selanjutnya berkenaan dengan masalah era globalisasi ini, telah bermunculan berbagai pemikiran yang dapat mendangkalkan aqidah, bahkan dapat menyesatkan umat Islam yang tidak memahami ajaran Islam dengan baik. Di sini saya sampaikan hasil RAKERNAS MUI tanggal 25 Syawal 1428 H/6 November 2007M tentang kriteria sesat, untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam, terutama dalam merespons dan mengantisipasi berbagai aliran yang dapat mendangkalkan aqidah.

Suatu faham atau aliran keagamaan dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satudari kriteria sebagai berikut:

1.  Mengingkari satu dari rukun iman yang 6 (enam), yakni beriman kepada    Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada hari Akhirat, kepada Qadha dan Qadar dan rukun Islam yang 5 (lima), yakni mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan ibadah Haji.

2.  Meyakini dan mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’I (Al-Qur’an dan as-Sunnah).

3.  Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an.

4.  Mengingkari otentisitas dan kebenaran isi Al-Qur’an.

5.  Melakukan penafsiran Al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

6.  Mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagi sumber ajaran Islam.

7.  Menghina, melecehkan dan merndahkan para nabi dan Rasul.

8.  Mengingkari Nabi Muhammad SAW. sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

9.  Mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu dll.

10. Mengafirkan sesame muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.8

Catatan Kaki dan Referensi

 

1.   Lihat MUI, Fatwa Munas VII Majelis Ulama Indonesia, (Jkt: MUI, 2005), hlm. 137-157

2.   Munawir Sadjali, Islam dan Tata Negara, (Jakarta: UI Press, 1990),cet.1, hlm. 12

3.   Ibid, hlm. 12

4.   Jean Claude Vatin, “Hak-hak Asasi Manusia dalam Islam”, dalam Harun Nasution dan Bahtiar

Effendy, (ed), Hak Asasi Manusia Dalam Islam, (Jakarta: YOI, 1987), cet.1, hlm. 15-16

5.   Masykuri Abdillah, Agama dan Hak-Hak Asasi Manusia, Makalah seminar dan lokakarya tentang perubahan Kedua UUD 1945 dalam perspektif hukum, yang diselenggarakan Panitia AD HOC I Badan Pekerja MPR RI, bekerjasama dengan IAIN Jakarta, 23 Maret 2000, hlm. 52- 53

6.   Muhammad Husen al-Thabaththabatai, al-Mizan fi al-Tafsir al-Qur’an, (Thahran: Muassasah Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1396 H), juz II, hlm. 141

7.   Lihat M. Amin Djamaluddin, Ahmadiyah Menodai Islam (Kumpulan Fakta dan Data),Jakarta: LPPI, 2007), cet. II, hlm. ii dan seterusnya.

8.   MUI, Hasil RAKERNAS MUI, Jakarta, anggal 25 Syawal 1428 H/ 6 November 2007, hlm. 5-6

STRATEGI PENYULUH DAN

PENGEMBANGAN DAKWAH ISLAM

Oleh: Prof. H. Dadang Kahmad

(Guru Besar UIN Sunan GunungjatiBandung)

     Berbicara tentang strategi dakwah sebenarnya umat Islam telah melaksanakannya sejak zaman Rasulullah SAW.Namun, sejalan dengan perkembangan masyarakat, maka strategi dakwah yang dikembangkan untuk saat sekarang ini harus sesuai dengan kondisi dan keadaan  masyarakat yang telah berubah menjadi kompleks dan modern. Dakwah pada saat ini tidak cukup hanya melalui jalur tabligh saja, melainkan harus memakai juga jalur kultural (kebudayaan), yaitu dakwah melaui berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, kesejahteraan sosial, politik dan ekonomi. Sehingga dakwah merupakan sosialisasi agama yang memakai dan disesuaikan dengan format budaya. Sedangkan cultur atau kebudayaan adalah semua gagasan, aktifitas maupun hasil karya manusia, dan yang ada di suatu masyarakat tertentu, yang keberadaannya diperoleh dengan cara belajar.

Kebudayaan bukan sesuatu yang diwahyukan atau datang tiba-tiba masuk ke dalam kognisi manusia, tetapi merupakan pengetahuan yang dimiliki manusia melalui sosialisasi, enkulturisasi dan internalisasi.

Kebudayaan masyarkat adalah hasil proses belajar suatu masyarakat yang kemudian diturunkan diturunkan dengan proses yang sama pula kepada generasi selanjutnya, dan ia merupakan hasil proses yang sangat panjang sebagai bentuk adaptasi manusia terhadap perubahan lingkungan hidupnya. Bila hewan beradaptasi secara biologis dengan mengubah tubuhnya, sedangakan manusia beradaptasi secara cultural, yaitu menciptakan nilai, aktivitas atau hasilkarya, yang dapat meresponstantangan yang dihadapinya. Oleh karena itu kebudayaan sebagai alat maunia untuk melindungi dirinya dari kepunahan akibat perubahan-perubahan lingkungan dari waktu ke waktu.

Dengan demikian kebudayaan tidak bisa diabaikan begitu saja, karena masyarakat menilai dan memahami perubahan selalu terjadi dan dapat dikonsultasikan dengan budayanya. Kalau ide perubahan itu sesuai dengan budaya masyarakat maka akan diterimanya, namun bila tidak sesuai ia akan ditolaknya. Begitu pula dengan dakwah Islam sebagai suatu gerakan perubahan. Ketika proses dakwah tidak didasarkan pada kerangkan kultural masyarakat tentu tidak akan diterima oleh masyarakat itu, mak tepatlah apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad SAW.:”khatibinnasa ‘ala qodri uqulihim” (berbicaralah dengan manusia atas kadar akal mereka). Oleh karena itu banyak agama atau aliran agama yang sulit diterima masyarakat.

Kebudayaan merupakan anugrah Allah kepada manusia dan bagian dari ayat kauniyah Allah, sedangkan ajaran Islam yang bersumber dari wahyu yang dikodifikasikan dalam Al-Qur’an sangat tepat bila didakwahkan dengan menggunakan pendekatan kultural. Ketika wahyu Allah disajikan dalam kerangka budaya Arab, maka masyarakat lokal akan memandangnya sebagai kebudayaan asing dan sebagai konsumsi kognisi saja serta tidak terinternalisasi dalam kepribadian dan jiwa manusia.Namun, kalau Islam disajikan dengan kerangka budaya setempat, maka masyarakat lokal menerima Islam akan dipahami sebagai belajar kebudayaan sendiri. Ia akan disosialisasi sebagai konsumsi kognisi dan akan dienkulturasi sebagai pandangan hidupnya serta akan diinternalisasi sebagai bahan pembentukan kepribadiannya, sehingga Islam akan dimiliki manusia secara menyeluruh oleh jiwa raganya.

Di sinilah urgensinya dakwah kultural yang digagas oleh para ahli sejak terjadinya pencerahan di kalangan pemimpin kita. Untuk lebih memberiakan ketegasan mengenai dakwah kultural ini kita perlu merumuskan tentang strategi dakwah kultural itu seperti apa.

Strategi dakwah kultural bermakna sejumlah prinsip dan pikiran yang mengarahkan (atau sepatutnya mengarahkan) tindakan dakwah ke pembentukan masyarakat Islami. Umpamanya dakwah melalui seni, maka harus senibernafaskan Islam. Tentu tidak melulu dalam bentuknya, namun dalam pesan-pesannya. Bila seorang ekonom berdakwah, maka dengan pendekatan ekonomi Islam ia dapat melakukan dakwah. Bagaimana prinsip ekonomi dalam Islam. Maka ia berdakwah dengan jalur ekonomi. Sebab Rasulullah SAW. berdakwah dalam segala aspek kehidupannya.  Inilah yang patut direnungkan oleh kaum muslim.

Strategi dakwah yang diusulkan itu terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tujuan, dasar, dan prioritas dalam tindakan.

1. Tujuan

Islam yang didakwahkan Rasulullah SAW untuk memperbaiki keadaan manusia dan menyempurnakan akhlaqnya. Maka tujuan dakwah kultural adalah untuk mencapai kesempurnaan manusia, sebab ia mencerminkan kesempurnaan agama. Seperti arti firman Allah SWT:” Hari ini aku sempurnakan agamamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku padamu dan rela Islam itu sebagai agamamu”.(QS. 5: 4) dan, “Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia sebab kamu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS. 3: 110). Berdasarkan pada ayat ini dapatlah kita ambil maknanya bahwa tujuan dakwah kultural yang hendak dicapai adalah masyarakat Islami yang, yang secara individual sebagai insan kamil.

a. Pembentukan Insan Saleh

Yang dimaksud insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Pengembangan manusia yang menyembah dan bertaqwa kepada Allah. “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku”, (QS. 51: 56). Manusia yang penuh keimanan dan taqwa berhubungan dengan Allah untuk memelihara dan menghadap kepada-Nya dalam segala yang dilakukannya, pikiran dan perasaannya. Manusia seperti itu adlah mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW. dalam pikiran dan perbuatannya.

Insan shaleh yang sadar bahwa dirinya kahalifah di bumi, sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Aku ciptakan di bumi khalifah” (QS.2: 30). Ia mempunyai risalah ketuhanan yang harus dilaksanakannya, oleh oleh karena itu ia selalu selalu berusaha menuju kesempurnaan, walaupun kesempurnaan itu hanya milik Allah semata. Salah satu aspek kesempurnaan itu adalah akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Rasul SAW., “Sungguh aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia ”.

Di antara akhlak insan yang shaleh dalam Islam adalah harga diri, peri kemanusiaan, kesucian, kasih sayang, kecintaan, kekuatan jasmani dan ruhani menguasai diri, dinamisme, dan tanggung jawab. Ia memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar. Ia juga bersifat benar, jujur, ikhlas, memiliki rasa keindahan dan memiliki rasa keseimbangan:

a. Pada kepribadiannya: jasad, jiwa, akal dan ruh semuanya tumbuh, dan pertumbuhannya terpadu. Rasul bersabda, “Badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu mempunyai hak atas dirimu, maka berilah setiap yang berhak akan haknya”.

b. Ia memakmurkan masyarakat dan mengeluarkan hasilnya. Seperti arti firman Allah SWT: “Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan dari rizki yang baik” (QS. 7: 3). “Kami tempatkan kamu di bumi dan kami jadikan bagimu di satu tempat hidup, sedikit sekali yang kamu syukuri” (QS.2: 10).

c.  Insan shaleh dalam Islam terbuka kepada alam semesta, menyadari bahwa ia bagian yang tak terpisahkan darinya, dan senantiasa mencari rahasia dan hikmahnya.

d.  Ia bekerja, sebab kerja itu pada dasarnya adalah ibadah, dan kerjaannya itu tidak hanya mencari rizki: “Katakanlah, bekerjalah niscaya Allah, Rasul dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu” (QS. 9: 106).

e.  Dalam ibadahnya kepada Allah ia merasa mandiri, kuat dan kukuh, sebab wujudnya bergantung kepada Allah. Kekuatannya tidak tidak bergantung pada keluarga, keturunan, pangkat, atau masyarakat. Ia bergantung pada dirinya yang nota bene mendapat petunjuk dari Allah SWT.

f.  Ia seorang yang memiliki kecenderungan social mencintai dan menyayangiorang lain.

b. Pembentukan Masyarakat Shaleh

Masyarakat shaleh adalah masyarakat yang memiliki keadilan, kebenaran, dan kebaikan, dan mereka tidak terpengaruh oleh factor-faktor waktu dan tempat. Firman Allah: “Kamu adalah ummah terbaik yang pernah diutus bagi umat manusia, sebab kamu mengajarkan kepada kebaikan dan melarang dari kejahatan” (QS.3:110). Masyarakat Islam berusaha sekuat tenaga memikul tanggung jawab yang dibebankan kepadanya kapan dan di mana saja. Tugas mendidik Islam Islam adalah menolong masyarakat mencapai maksud tersebut.

Bertolak daritantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Islam pada hari ini, maka dapat kita simpulkan bahwa tugas-tugas dakwah Islam pada tahap masyarakat adalah sebagai berikut:

a. Menolong masyarakat membina hubungan-hubungan sosial yang serasi, setia kawan, kerja sama independent, dan seimbang sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”(QS. 49: 10).

b. Mengukuhkan hubungan di kalangan kaum muslimin dan menguatkan kesetiakawanan melalui penyatuan pemikiran, sikap, dan nilai-nilai. Ini semua bertujuan menciptakan kesatuan Islam.

c. Menolong masyarakat Islam dalam mengembangkan diri, dari segi perekonomian, yang bermakna:

  • berusaha memperbaiki suasana kehidupan dari segi matrial dengan memerangi kejahilan, kemiskinan, dan berbagai macam penyakit.
  • menolong masyarakat melepaskan diri dari sifat ketergantungan kepadaorang lain dari segi pemikiran, sains dan teknologi. Ini dapat dicapai dengan pembinaan mental yang mandiri yang mengikuti tuntutan-tuntutan dari masyarakat Islam, dan sejalan dengan aqidah Islam.
  • Menyiapkan diri dengan sains dan teknologi modern dan melengkapinya dengan pandangan (paradigma) Islam tentang sistem kehidupa perekonomian.
  • Pembentukan kader-kader dan profesional yang memadai bagi berbagai sektor ekonomi dan sosial.
  • Pengembangan nilai-nilai, sikap, dan tingkah laku pembangunan di kalanganindividu dan kelompok.
  • Melatih pekerja-pekerja dan sector-sektor ekonomi dan semua anggota masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam berbagai aktivitas pembangunan, baik ekonomi, sosial maupun budaya.

d.  Memberi sumbangan dalam masyarakat Islam.

Yang dimaksud dengan perkembangan adalah penyesuai dengan tuntutan kehidupan modern dengan memelihara identitas Islam, sebab Islam tidak bertentangan dengan perkembangan dan pembaruan. Islam adalah agama yang sesuai untuk segala tempat dan waktu. Peranan dakwah Islam di sini dapat dicatat sebagai memberi kemudahan bagi perkembangan dalam masyarakat Islam. Hal ini dapat dicapai dengan:

  • Menyiapkanindividu-individu dengan kelompok untuk menerima perkembangan dan turut serta di dalamnya.
  • Menyiapkan mereka untuk membimbing perkembangan itu sesuai dengan tuntutan-tuntutan spiritual, syari’at dan akhlak Islam.
  • Salah satu peranan dakwah Islam adalah mempersiapkan individu dan kelompok dengan pemikiran, akhlak, dan spiritual agar sanggup melanjutkan kesinambungan perkembangan itu.

e.  Mengkuhkan identitas budaya Islam.

Hal ini dapat dicari dengan pembentukan kelompok-kelopok terpelajar, pemikir dan ilmuwan, yang:

  • bersemangat Islam dan melaksanakan ajaran agamanya, merasa prihatin dengan peradaban Islam dengan memikirkannya.
  • menguasai sains dan teknologi modern, dan bersifat inklusif terhadap peradaban dan budaya lain.
  • prodduktif dalam mengarang, membuat karya inovatif, dan dapat menyelaraskan potensi-potensi yang ada, dan membimbingorang-orang lain.
  • bebas dari ketergantungan kepadaorang dan budaya lain, juga tidak taqlid buta.

Inilah tujuan-tujuan terpenting yang ingin dicapai oleh dakwah Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut kita harus bertolak dari berbagai dasar dan pokok sebagai berikut:

2. Dasar Dakwah Kultural

a.  Keutuhan (syumuliah)

b.  Keterpaduan

c.  Keaslian

d.  Bersifat Ilmiah

e.  Bersifat praktikal

f.  Kesetia kawanan

3. Prioritas Dalam Tindakan

a.  Mulai dari diri sendiri

b.  Dari kerabat yang terdekat

METODE DAKWAH

Upaya Menyebarluaskan Islam sebagai Jalan Hidup

di Zaman Modern

Hasyim Fanirin

(Pengajar di Ponpes Daarul Muttaqin)

“Serulah manusia ke jalan Tuhanmua dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-nahl: 125)

Islam sebagai Dinullah (agama Allah) merupakan manhaj al-hayah atau way of life, atau ideology yang melahirkan peraturan sebagai acuan kerangka tata nilai kehidupan. Karena itulah Islam diturunkan Allah untuk memberikan solusi segala permasalahan kehidupan. Agar hal itu dapat direalisasikan Islam mesti dipandang bukan hanya dari sisi ritual dan akhlak melainkan dipandang juga sebagai ideologi atau pandangan hidup yang melahirkan peraturan untuk memberi solusi kehidupan dalam segala aspeknya, baik politik, ekonomi, budaya, pendidikan, social dan segi lainnya.

Dalam sejarah keemasan Islam, kaum muslimin baik pada masa Rasulullah maupun sahabat tidak pernah mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin peradaban dunia, karena pada generasi awal ini tetap beregang teguh pada agamanya. Keteguhan generasi awal ini direalisasikan dengan cara menyebarkan Islam atau mendakwahkan Islam di tengah masyarakat Jahiliyah waktu itu, sehingga masyarakat tersebut yang awalnya tidak berperadaban menjadi masyarakat yang tercerahkan dan masyarakat Islam yang berperadaban tinggi.

Namun masa keemasan itu telah berlalu. Karena itu kemunduran umat Islam hari ini di berbagai bidang kehidupan mesti dikembalikan lagi dengan jalan dakwah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Itulah sebabnya kaum muslimin hari ini harus melanjutkan kembali kehidupan Islam agar kebangkitan Islam menjadikenyataan. Kebangkitan Islam tidak mungkin terwujud kecuali kaum muslimin mengemban dakwah Islam.

Tujuan dakwah Islam pada intinya adalah membangkitkan kaum muslimin dengan cara melanjutkan kehidupan yang Islami. Karena hanya Islamlah satu-satunya sistem yang bisa memperbaiki dunia ini. Sebab Islam diturunkan ke dunia untuk kemaslahatan dunia (rahmatan lil ‘alamin), rahmat bagi jagat raya dan semua makhluk yang melingkupinya. Baik manusia, hewan maupun tumbuhan dan bahkan benda mati sekalipun.

Hal penting dalam prinsip dakwah adalah bahwa hendaknya Islam disebarkan sebagai sumber pemikiran sehingga mempengaruhi pandangan hidup seluruh manusia di dunia. Pemikiran Islam (baca: ajaran Islam) sebagai sumber aturan kehidupan pasti akan membawa kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan. Sebab, Islam bersumber dari yang menciptakan manusia, Allah swt.

Dakwah pada masa modern ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama sebagaimana metode yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebab Rasulullah adalah suri tauladan kita. Tidak boleh berpaling dari metode Rasulullah sedikitpun, baik secara rincian maupun keseluruhan, dan tanpa harus terpengaruh oleh perkembangan zaman. Zebab zaman yang dikatakan modern ini, sesungguhnya yang berkembang hanyalah sarana dan bentuk kehidupan. Sementaranilai dan maknanya sama sekali tidak berubah, walaupun zaman terus bergulir.

Ungkapan ‘Islam harus sesuai dengan perkembangan zaman’ adalah ungkapan yang salah. Yang benar adalah zaman harus sesuai dengan Islam. Sebab Islam diturunkan untuk memperbaiki perkembangan zaman yang rusak dengan nilai-nilai jahiliah. Sisa-sisa nilai dan pemikiran jahiliyah yang terus berkembang sampai zaman modern inilah yang harus diberantas habis sampai keakar-akarnya. Dalam konteks inilah Buya Hamka mengingatkan kita untuk mewaspadai jahiliyah modern.

Untuk itu sebagaimana ayat di atas tulisan ini akan memberikan gambaran tentang hikmah, mau’idhah hasanah dan wajadilhum billati hia ahsan sebagai metode dakwah dalam menghapus nilai-nilai jahiliyah modern menuju kehidupan Islam sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah.

Oleh karena itu mengemban dakwah Islam membutuhkan sikap terbuka keberanian, kekuatan dan pemikiran. Menentang semua yang berlawanan dengan Islam. Dan menghadapinya dengan cara menjelaskan kepalsuan dan kesesatannya.

Al-Hikmah

Kata hikmah disebutkan 20 kali dalam Al-Qur’an baik dalam benetuk jama’  maupun nakiroh. Bentuk masdarnya adalah hukman yang diartikan secara aslinya adalah mencegah. Jika dikaitkan dengan hukum berarti mencegah kedzaliman. Dan jika dikaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang kurang relevan dalam melaksanakan tugas dakwah.

Ahmad bin Munir al-Muqri al-Fayumi mengartikan hikmah dengan dapat mencegah dari perbuatan hina. M. Abduh berpendapat bahwa hikmah artinya mengetahui rahasia dan faidah di dalam tiap-tiap hal. Prof. Toha Yahya Umar menyatakan bahwa hikmah berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya dengan berpikir, berusaha menyusun dan mengatur dengan cara yang sesuai  dengan keadaan zaman dan tidak bertentangan dengan larangan Allah swt.

Hikmah juga diartikan sebagai al-‘adl (keadilan). Al-haq (kebenaran), al-hilm (ketabahan), al-ilm (pengetahuan), dan an-nubuwwah (kenabian). Ibnu Qoyyim mengartikan hikmah dengan pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, ketepatan dalam perkataan dan pengamalannya.

Secara umum dapat diartikan bahwa kata hikmah sebagai salah satu cara berdakwah pada zaman jahiliyah modern adalah menempatkan diri dengan cara menyesuaikan perkataan dan sarana sesuai kondisi masyarakat (mad’u).Namun dai harus tetap teguh dalam koridor Islam. Dengan demikian dalam hikmah tersimpan kecakapan manajerial, kecermatan, kejernihan dan ketajaman berpikir dalam berdakwah.

Al-Mauizah al-hasanah

Secara bahasa mauizah hasanah  berasal dari dua kata mau’izah dan hasanah. Mau’izah berasal dari kata wa’azha-ya’izhu-wa’zhan-‘I’zhatan yang berarti: nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan. Secara istilah, menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi berarti perkataan-perkataan yang tidak bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan Al-Qur’an.

Jika demikian dakwah Islam tidak boleh dilakukan dengan sambilan, namun harus dengan kejelasan dan dengan etos yang kuat. Walaupun harus bertentangan dengan kebiasaan umum masyarakat atau adat istiadat yang berlaku. Kebiasaan itu harus disesuaikan dengan nilai Islam. Abd. Hal-Bilali memberi catatan bahwa dalam mau’izah hasanah tersimpan kelemahlembutan. Dai harus mempunyai mental yang tangguh, tidak mudah menyerah dan santun, sebagaimana Rasulullah dahulu ketika umat Islam masih sedikit. Sering beliau ditolak, dicaci, dimusuhi dan bahkan hampir dibunuh, namun beliau tetap istiqamah. Begitupun seorang dai harus mengikuti jejak Rasulullah saw.

Al-Mujadalah bi al-lati hiya ahsan

Secara bahasa kata mujadalah terambil dari kata jadala yang artinya memintal dan melilit. Ditambah dengan alif pada huruf jim mengikuti wazan faa ala, ja dala bermakna berdebat dan mujaadalah bermakna perdebatan.

Dari segi istilah terdapat beberapa pengertian al-mujadalah. Adayang mengartikan sebagai upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa ada permusuhan di antara keduanya. Dr. Sayyid Muhammad Thantawi mengartikan mujadalah sebagai suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat. Dalam Tafsir an-Nasafi mujadalah mesti dengan perkataan yang lembut, lunak, tidak dengan ucapan yang kasar. Yakni menggunakan perkataan yang mampu menyadarkan hati, membanguinkan jiwa dan menerangi akal pikiran.

Dalam mujadalah dai harus menyampaikan ajaran Islam dengan jelas dan menjelaskan bahwa adat kebiasaan, ajaran, atau ide-ide yang bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan. Ia harus mampu memberikan argumentasi yang logis disertai dalil dari Al-Qur’an dan Hadits. Wawasan yang luas dan perilaku yang santun dai akan mampu mengajak seseorang yang telah salah jalan ke jalan yang lurus (siratal mustaqiim).

Penutup

Dalam mengemban dakwah Islam dai harus memiliki tujuan yang jelas pada setiap langkahnya, dan senantiasa memperhatikan tujuan tersebut. Tujuan itu harus selalu diingat agar tidak keluar dari tujuan semula bahwa dakwah Islam adalah mengajak manusia untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya.

Dan ia selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits serta pendapat para ulama. Dengan begitu ia akan lurus baik dalam pemikiran maupun perilakunya.

Ia harus selalu istiqamah dalam mengemban tugas dakwah Islam, dan ia berkaca kepada perjuangan Rasulullah saw ketika memulai dakwahnya hingga berhasil membangun masyarakat Islami, atau masyarakat Madinah (madani). Perjuangan beliau dalam berdakwah adalah contoh yang terbaik bagi pengemban dakwah.

Pengemban dakwah harus mengingat bahwa pada setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya asalkan ia terus istiqamah, dan ia tidak lupa selalu meminta petunjuk dari Allah swt. Wallahu a’lam bishawwab.

Tentang luaydpk

I try to write about history.....
Pos ini dipublikasikan di Dakwah, Islam, Komunikasi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s