SUDAHKAH KITA MERDEKA DAN SEJAHTERA (Sebuah renungan)

 Oleh: Farid Lu’ay*

Sejak kita menyatakan kemerdekaaan 66 tahun yang lalu, kita telah merdeka dari penjajah bangsa asing. Namun, sebenarnya kita belum  menjadi bangsa yang bebas secara mental. Mental bangsa ini masih mengidap mental terjajah (dan sekaligus penjajah). Sebagai bangsa kita membiarkan diri kita dijajah oleh bangsa lain (bangsa industri maju) hanya sedikit melakukan perlawanan. Sementara para elit pemimpin menjajah rakyatnya, sehingga rakyat tidak terbiasa mengekspresikan akal pikiran dan hati nuraninya.

Kita masih terjajah? Secara fisik kita memang telah terbebas dari penjajahan, namun secara mental, ekonomi dan budaya kita masih sebagai bangsa terjajah. Kita sebagai bangsa belum menjadi tuan di negeri sendiri. Kita belum mengatur negeri ini sesuai dengan keinginan bangsa sendiri (rakyat). Banyak kekayaan alam kita, kita biarkan dikeruk oleh bangsa lain. Kita  hanya mendapat bagian sisanya. Kita tidak berusaha bagaimana mengelola kekayaan alam sendiri untuk dinikmati sebanyak-banyaknya oleh kita sendiri, selama bertahun-tahun.

Dan para pemimpin pun hanya pandai memperbudak rakyatnya. Rakyat dibiarkan bodoh, sehingga kita saat ini hanya menjadi seperti “kodok dalam tempurung” di era teknologi informasi. Kita masih menjadi penonton dalam percaturan dunia. Sementara negara-negara lain telah melaju dengan pesat ke depan, karena mereka mempunyai SDM yang handal. Apakah kita ini sebagai bangsa yang malas?

* * *

      Sayyid Hussein Alatas menulis buku Mitos Pribumi Malas.[1] Karyanya ini berisi bantahan mengenai pribumi yang malas, bahwa kemalasan hanyalah mitos yang digambarkan oleh penjajah. Bila mitos itu dapat dipelihara dengan baik, maka penjajahan dapat berlangsung lama, sebab tidak ada perlawanan. Memang argumentasi historis dalam buku itu cukup meyakinkan, sehingga kita sulit untuk menolak argumentasinya. Buku itu tentu saja merekam mengenai situasi zaman penjajahan Belanda dulu di Indonesia dan khususnya di pulau Jawa.

Buku tersebut menepis imagi bahwa kita bukanlah sebagai bangsa yang malas. Tentu kita setuju dengan isi buku itu. Dan kita sekarang seharusnya terus memelihara agar mitos seperti itu tidak berubah menjadi kenyataan.Karena itu, kita saat ini harus melakukan refleksi, setelah kita berlalu dari penjajahan. Masihkah ada penjajahan dalam bentuk lain terhadap bangsa ini? Bila tidak ada, mengapa bangsa ini tidak dapat menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera?

Kita telah merdeka adalah fakta historis. Dan kita pun bukanlah bangsa yang malas, seperti mitos yang ditebarkan penjajah. Hanya saja saat ini kita masih  mengidap mental inferiority terhadap bangsa lain. Dan para elit penguasa  bangsa ini pun mengidap mental yang sama, serta mental penjajah sekaligus. Karena itu  kita harus menyadari, dan  kita harus keluar dari penjajahan para penguasa bangsa sendiri yang ingin selalu membelenggu kebebasan rakyat.[2]

Kita harus selalu menyadari dan berusaha bebas dari dua bentuk penjajahan tersebut. Kita harus terbebas dari mental inferiority, agar segala keputusan mengenai kekayaan alam negeri ini kita yang mengatur, bukan bangsa lain. Dan jangan pula kita biarkan penguasa kita menjajah bangsa sendiri. Bentuk yang pertama kita belum merdeka, tapi penjajahan dalam bentuk yang kedua telah kita lewati, setelah reformasi 1998.

Kita harus merdeka dari segala bentuk penjajahan, baik oleh bangsa lain maupun oleh bangsa (penguasa) sendiri atau penjajahan dalam bentuk apapun. Karena    kemerdekaan adalah hak kita yang harus kita raih, pertahankan dan kembangkan.

Lalu bagaimana kita mengembangkan diri kita sebagai bangsa yang merdeka? Tentu sesuai dengan cita-cita para founding fathers. Semua ciri kita sebagai bangsa yang merdeka akan terrefleksi pada bagaimana kita berbangsa dan bernegara.

Sebagai bangsa kita bangga pada kebangsaan Indonesia dan begitu pula kita cinta pada negeri ini karena rakyatnya sejahtera. Semua kebanggaan dan kesejahteraan adalah sebagai buah dari perjuangan pasca-kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing. Namun, semua itu barulah sebatas cita-cita, karena belum menjadi kenyataan bagi kita saat ini.

Saat ini pasca tumbangnya otoritarianisme kita harus merekonstruksi makna kemerdekaan bagi bangsa ini.  Reformasi yang kita  raih saat ini adalah semacam buah dari perjuangan untuk menolak dijajah oleh kekuasan otoriter, yang nyata telah meninabobokan rakyat dalam kebodohan. Rakyat merasa telah merdeka, tapi setelah kita kritisi dan sadari, ternyata kita masih dibelenggu oleh penguasa bangsa sendiri, karena itu kita setuju dengan reformasi. Walaupun hingga saat ini reformasi belum membuahkan hasil yang memuaskan bagi kita.

Reformasi adalah buah dari perjuangan rakyat yang ingin terbebas dari belenggu penguasa otoriter. Karena itu, reformasi adalah agenda kita bersama. Bagaimana kita mengisinya agar reformasi tidak keluar dari tujuan yang ingin kita capai. Jangan sampai kita tergoda oleh hanya tujuan sesaat, jangka pendek, tanpa melihat jauh ke depan, bahwa bangsa ini akan diwariskan kepada generasi muda. Agar generasi muda nanti bangga mewarisi bangsa yang besar ini, yang mempunyai sejarah dan mimpi besar tentang masa depan.

Karena itu kita saat ini harus belajar bagaimana berbangsa dan bernegara berdasarkan kesepakatan bersama yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Antara apa yang tertulis di dalamnya dan apa yang kita lakukan harus diselaraskan, sehingga tidak ada lagi “lubang-lubang” yang akan dimanfaatkan oleh para oportunis politik yang bergentayangan di negeri ini, yang justru akan menjauhkan kita dari cita-cita para founding fathers.[3]

* * *

      Sebagai bangsa kita telah 66 tahun merdeka, namun mengapa bangsa ini belum juga menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera? Bisa jadi kita baru mampu mengamalkan sila pertama dari Pancasila, tetapi belum lulus untuk pelajaran sila selanjutnya. Kita hanya berhenti pada sila pertama, maka wajar bila bangsa ini masih tetap belum sejahtera.  Karena sila-sila selanjutnya, mulai dari “Kemanusiaan yang adil dan beradab” hingga “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”  belum kita amalkan dengan baik dan benar. Mengamalkannya dengan benar berarti kita bersyukur kepada Allah SWT atas kemerdekaan yang telah kita raih dan sumber alam yang melimpah. Kita harus mengisi kemerdekasan dengan bernegara yang benar dan berjuang  mengolah kekayaan alam kita untuk kemakmuran bangsa sendiri. Untuk itu kita butuh pemimpin yang cerdas, berani, adil dan jujur agar mampu memimpin Indonesia yang besar ini. Terutama pemimpin yang berani membebaskan Indonesia dari hutang luar negeri yang mencekik kehidupan rakyat dan mengembalikan pengelolaan sumber alam kepada negara untuk kesejahteraan rakyat! Siapapun pemimpin bangsa ini ia harus mempunyai visi jauh ke depan, tentang bagaimana Indonesia di tahun 2030 nanti.

Adalah saat yang  tepat bagi kita untuk melakukan refleksi tentang perjalanan sejarah bangsa ini, ketika kita merayakan HUT RI ke-66,  untuk melihat apa yang telah kita lakukan,  sehingga kita dapat merekayasa masa depan kita lebih baik.

Dan kita masih harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah betul-betul kita telah merdeka lahir dan batin, raga dan jiwa, ataukah penjajahan kini telah mengubah wujudnya dalam bentuk yang lain, tapi tujuannya sama saja dengan pada masa dahulu, yaitu dominasi atas negeri ini? Hanya pemimpin yang mempunyai hatinuranilah yang mampu membebaskan segala dominasi dan membawa bangsa Indonesia jauh ke depan. Sebab pemimpin seperti ini tahu bahwa bangsa ini akan diwariskan kepada generasi terbaik bangsa ini nanti! Menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera! Yes Merdeka! Yes sejahtera!

dc

Depok, 1 – 7 – 2010

*Alumi jur. Sejarah IAIN

Sunan kalijaga, Yogyakarta.


[1] (Jakarta: LP3ES, 1988), terj.

[2] Asvi Warman Adam, Membongkar Manipulasi Sejarah,(Jakarta: Kompas, 2008), h. 49

[3] Para perintis negeri ini seperti Soekarno, Hatta, M. Natsir, Soedjatmoko, dsb. adalah kebanyakan pemikir,  orator dan penulis,  serta apa yang yang diucapkan dan dituliskan mereka praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita dapat membaca pemikiran mereka dan bagaimana mereka bernegara dan menjalani kehidupan sehari-hari. Cita-cita mereka jelas tertulis. Lihat Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1992), h. 97

Tentang luaydpk

I learn about history and art......
Tulisan ini dipublikasikan di diskusi, Indonesia, merdeka, nasionalisme, sejarah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s